BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Informasi
2.3.3 Nilai dan Kualitas Informasi
Berdasarkan pendapat Sutanta (2003) yang mengutip pendapat Davis, nilai informasi dikatakan sempurna apabila perbedaan antara kebijakan optimal tanpa informasi yang sempurna dan kebijakan optimal menggunakan informasi yang sempurna dapat dinyatakan dengan jelas.
Nilai suatu informasi dapat ditentukan berdasarkan sifatnya. Ada sepuluh sifat yang dapat menentukan nilai informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Kemudahan dalam memperoleh
Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila dapat diperoleh secara mudah. Infrormasi dapat diperoleh dengan mudah jika sistem dilengkapi oleh basis data dan bagian pengolah yang mampu mengolah data dengan baik untuk memenuhi segala kebutuhan informasi secara mudah.
2. Sifat luas dan kelengkapannya
Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila mempunyai lingkup atau cakupan yang luas dan lengkap. Sifat luas dan lengkap tersebut memerlukan dukungan basis data yang cukup lengkap dan terstruktur dengan baik.
3. Ketelitian (accuracy)
Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila mempunyai ketelitian yang tinggi atau akurat. Informasi yang akurat dapat diperoleh jika basis data yang tersedia sebagai sumber informasi memuat data yang valid, baik tipe, bentuk, maupun format datanya.
4. Kecocokan dengan pengguna
Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
5. Ketepatan waktu
Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila dapat diterima oleh pengguna pada saat yang tepat. Penggunaan sistem komputer dalam sistem informasi akan memberikan dukungan yang sangat berarti untuk memperoleh
data tepat waktu, karena komputer mampu mengolah data dengan kecepatan yang sangat tinggi.
6. Kejelasan
Informasi yang jelas akan meningkatkan kesempurnaan nilai informasi.
Penggunaan sistem komputer akan membantu memenuhi kebutuhan tersebut, karena kemampuan teknologi komputer yang berkembang saat ini telah memungkinkan untuk menampilkan informasi dalam berbagai macam bentuk dan format secara mudah, termasuk tabel dan grafis.
7. Fleksibilitas atau keluwesannya
Nilai informasi semakin sempurna apabila memiliki fleksibilitas tinggi.
Fleksibilitas informasi diperlukan oleh para manajer pimpinan pada saat pengambilan keputusan. Fleksibilitas informasi berhubungan dengan bentuk dan format tampilan infomasi dan dengan mudah apabila memanfaatkan teknologi komputer.
8. Dapat dibuktikan
Nilai informasi semakin sempurna apabila informasi tersebut dapat dibuktikan kebenarannya. Kebenaran informasi bergantung pada validitas data sumber yang diolah.
9. Tidak ada prasangka
Nilai informasi semakin sempurna apabila informasi tersebut tidak menimbulkan prasangka dan keraguan adnaya kesalahan informasi.
Kesalahan tersebut dapat terjadi akibat kesalahan data atau prosedur pengolahan. Informasi dapat menimbulkan keraguan jika tidak wajar.
10. Dapat diukur
Informasi untuk pengambilan keputusan seharusnya dapat diukur agar dapat nilai yang smepurna. Pengukuran informasi umumnya dimaksudkan untuk mengukur dan melacak kembali validitas data sumber yang digunakan.
Menurut Sutabri (2005), kualitas suatu informasi tergantung dari tiga hal yaitu, informasi harus akurat, tepat waktu, dan relevan. Penjelasan tentang kualitas informasi tersebut adalah :
1. Akurat
Informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau menyesatkan. Akurat uga berarti informasi harus jelas mencerminkan maksudnya.
2. Tepat Waktu
Informasi yang datang pada si penerima tidak boleh terlambat. Informasi yang sudah usang tidak akan mempunyai nilai lagi karena informasi merupakan landasan dalam pengambilan keputusan.
3. Relevan
Informasi tersebut mempunyai nilai manfaat untuk pemakainya 2.4 Sistem Informasi
Sistem Informasi adalah sebuah sistem dalam satu organisasi yang menyediakan dan mendukung informasi bersifat manajerial dan kegiatan strategik dari suatu organisasi (Sutabri, 2005).
Adapun fungsi utama dari sistem informasi adalah mengambil sebagai masukan atau merupakan data yang artinya adalah perekaman data dari suatu
peristiwa di dalam beberapa formulir seperti bukti tindakan medis dan bukti pelayanan penunjang, mengolah, mengtranformasi, dan mengkonversi data menjadi informasi, mendistribusikan informasi kepada para pemakai.
Transformasi informasi adalah komponen proses dalam pengelolaan sistem informasi yang berfungsi memproses data menjadi informasi sehingga dapat dihasilkan produk informasi yang diperlukan bagi para pemakai informasi.
Terdiri dari:
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilaksanakan sesuai dengan jenis data, objek dan sumber data serta persiapan pengumpulan data. Cara memperoleh data ialah bisa secara langsung ataupun tidak langsung.
2. Pengolahan Data
Pengolahan data dapat dilakukan secara manual ataupun dengan bantuan komputer. Hasil pengolahan data berupa keterangan-keterangan.
3. Penyajian dan penyebarluasan data dan informasi
Penyajian data dan informasi dilakukan baik secara visual maupun dalam bentuk publikasi dengan metode komunikasi langsung atau tidak langsung.
4. Penataan dokumentasi
Pendokumentasian dapat dilakukan dengan cara yang lama (file) dan cara baru (komputerisasi). Contohnya perpustakaan bertalian dengan upaya pengumpulan, pemeliharaan, penyimpanan, pengaturan dan pendayagunaan informasi.
(Sutabri, 2005).
2.5 Sistem Informasi Kesehatan (SIK)
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi, dan sumber daya manusia yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan kesehatan (Permenkes, 2014).
Menurut Barsasella (2012) yang mengutip pendapat Siregar, SIK adalah kumpulan komponen dan prosedur yang terorganisir dan bertujuan untuk menghasilkan informasi yang dapat memperbaiki keputusan yang berkaitan dengan manajemen pelayanan kesehatan disetiap tingkatnya.
Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu bentuk pokok Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang dipergunakan sebagai dasar dan acuan dalam penyusunan berbagai kebijakan, pedoman dan arahan penyelenggaraan pembangunan kesehatan serta pembangunan berwawasan kesehatan. Sistem informasi kesehatan nasional dikembangkan dengan memadukan sistem informasi kesehatan daerah dan sistem informasi lain yang terkait (PP, 2012).
Pada tatanan Sistem Ksehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari subsistem ke enam yaitu pada sub sistem manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan. Subsistem menajemen, informasi, dan regulasi kesehatan merupakan subsistem yang mengelola fungsi-fungsi kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, informasi kesehatan, dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan nasional agar berhasil guna,
berdaya guna, dan mendukung penyelenggaraan ke enam subsitem lain di dalam SKN sebagai satu kesatuan yang terpadu.
Menurut Kusumadewi et al (2009), secara umum, SIK yang dikembangkan bertujuan untuk :
1. Mengurangi redundasi data
2. Menyediakan data yang berkualitas 3. Memelihara integritas data
4. Melindungi keamanan data
5. Memudahkan antarmuka dengan kemajuan teknologi 6. Memudahkan akses ke data yang terintegrasi.
Dalam pengembangan sistem informasi kesehatan diperlukan pengembangan jejaring. Inisiasi global untuk membangun networking ini dikenal dengan Health Matriks Network (HMN). Tujuan yang ingin dicapai HMN adalah untuk memperbaiki validitas, kualitas data, dan ketersediaan data kesehatan sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Dalam kerangka HMN, ada 6 komponen sistem informasi kesehatan yang saling berinteraksi untuk menghasilkan informasi yang lebih baik. Enam komponen sistem informasi kesehatan tersebut adalah :
1. Sumber Daya Sistem Informasi (Health Information System) (HIS) Resources (termasuk didalamnya kebijakan informasi, sumber daya finansial, sumber daya manusia, infrastruktur komunikasi, koordinasi dan kepemimpinan.
2. Indikator (Indicators) yang berhubungan dengan tiga domain utama informasi kesehatan, meliputi determinan kesehatan, sistem kesehatan dan status kesehatan.
3. Sumber Data (Data Sources) dapat dibagi ke dalam dua kategori, pendekatan berbasis populasi dan berbasis institusi.
4. Manajemen Data (Data Management) meliputi penyimpanan data, kualitas data dan proses data.
5. Produk Informasi (Information Products) berupa proses perubahan data menjadi informasi.
6. Diseminasi dan Penggunaan Informasi Kesehatan (Dissemination and Use) yaitu penyebaran dan pemanfaatan informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan. (WHO, 2008)
Menurut WHO (2008) dalam suatu sistem kesehatan sebagai faktor input adalah kebijakan, pendanaan, sumber daya manusia serta organisasi dan manajemen. Untuk outputnya adalah informasi dan kemampuan, dan kualitas layanan. Adapun skema dari pengukutan SIK adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Domain dari pengukuran Sistem Informasi Kesehatan
Sistem Informasi kesehatan pada hakikatnya harus dapat mengupayakan dihaslkannya informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan berbagai tingkat sistem kesehatan. Sesuai dengan pembagian wilayah di Indonesia yang berlaku saat ini, tingkat-tingkat sistem kesehatan dibagi menjadi :
1. Tingkat kecamatan, dimana terdapat puskesmas dan pelayanan kesehatan dasar.
2. Tingkat kabupaten/kotamadya, dimana terdapat dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit kabupaten/kota dan rujukan primer lain.
3. Tingkat provinsi, dimana terdapat dinas kesehatan provinsi, rumah sakit provinsi dan rujukan sekunder lainnya.
4. Tingkat pusat, dimana terdapat kementerian kesehatan, rumah sakit pusat dan pelayanan kesehatan rujuka tersier lainnya.
Prinsipnya sistem informasi kesehatan merupakan sistem informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan di setiap bagian administrasi kesehatan. Selain itu beberapa aspek penting dalam informasi kesehatan adalah akurasi dan ketepatan penyajian informasi, pengelolaan informasi kesehatan yang harus memadukan pengumpulan data.
Sistem Informasi Kesehatan di puskesmas memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan- kegiatan:
1. Mencatat dan mengumpulkan data, baik kegiatan dalam gedung maupun luar gedung.
2. Mengolah data.
3. Membuat laporan berkala ke dinas kesehatan kabupaten/kota.
4. Memelihara bank data.
5. Memberikan pelayanan data dan informassi kepada masyarakat dan pihak- pihak yang berkepentingan lainnya (stakeholders) di wilayah kerjanya.
2.6 Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah sebagai kumpulan subsistem yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama anatara bagian satu dengan yang lainnya dengan cara-cara tertentu untuk melakukan fungsi pengolahan data, menerima masukan (input) berupa data-data, kemudian mengolahnya (proccesing), dan menghasilkan keluaran (ouput) berupa informasi sebagai dasar bagi pengambilan keputusan yang berguna dan mempunyai nilai nyata yang dapat dirasakan akibatnya baik pada saat itu juga maupun di masa mendatang, mendukung kegiatan operasional, manajerial, dan strategis organisasi, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan tersedia bagi fungsi tersebut guna mencapai tujuan (Sutanta, 2003).
Sistem Informasi Manajemen juga didefenisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa (McLeod, 2001).
Agar SIM dalam suatu organisasi dapat beroperasi secara efektif, maka perlu diperhatikan tentang beberapa unsur penting berikut :
1. Data yang dibutuhkan.
2. Kapan data dibutuhkan.
3. Siapa yang membutuhkan.
4. Dimana data dibutuhkan.
5. Dalam bentuk apa data dibutuhkan.
6. Prioritas yang diberikan dari bermacam data.
7. Prosedur atau mekanisme yang digunakan untuk memproses data.
8. Bagaimana pengaturan umpan balik.
9. Mekanisme evaluasi yang digunakan.
Unsur-unsur tersebut harus diperhatikan sebagai bagian penting pada saat pengembangan SIM untuk organisasi.
2.7 Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)
Menurut Permenkes No.75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, SIMPUS adalah suatu tatanan yang menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan dan melaksanakan manajemen puskesmas dalam mencapai sasaran kegiatannya.
Sistem Informasi Manajemen Puskesmas juga merupakan suatu program aplikasi yang memberikan informasi baik untuk administrasi dan pengelolaan sebuah puskesmas demi meningkatkan kinerja dan menangani keseluruhan proses manajemen di puskesmas (Barsasella, 2012). Sistem Informasi Manajemen Puskesmas dikembangkan dengan berpedoman pada mekanisme kerja pelayanan pasien di puskesmas. Menurut Barsasella (2012) yang mengutip pendapat Eryando, Program SIMPUS berupa program database (database software language/SQL) memakai peranngkat lunak Microsoft Visual Foxro untuk dapat dioperasikan dalam Windows Operating System. Dilengkapi juga dengan username dan password demi menjaga keamanan data.
Sumber data SIMPUS adalah Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP), survey lapangan, laporan lintas sektor, dan laporan sarana kesehatan swasta.
Menurut Barsasella (2012), maksud dan tujuan SIMPUS antara lain
1. Mengumpulkan data dari tiap puskesmas baik data orang sakit, bayi lahir, ibu hamil, ketersediaan obat, penyuluhan kesehatan masyarakat dan lain-lain.
2. Menghasilkan informasi up to date tentang kondisi kesehatan di suatu puskesmas dari jumlah orang sakit sampai ketersediaan obat sehingga dapat digunakan sebagai data awal dalam pengambilan kebijaksanaan bagi pimpinan.
3. Membantu kelancaran administrasi dan manajemen puskesmas dalam penyusunan laporan mengenai kondisi kesehatan puskesmas masing-masing.
4. Memudahkan pekerjaan administrasi puskesmas dalam membuat laporan harian dan bulanan.
2.8 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) 2.8.1 Pengertian
SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga, dan upaya pelayanan kesehatan di puskesmas. Sistem didefinisikan sebagai tatanan dimana terjadi satu kesatuan usaha dari berbagi unsur yang saling berkaitan, secara teratur menuju pencapaian dalam suatu batas lingkungan tertentu, sedangkan terpadu merupakan gabungan berbagai macam kegiatan upaya pelayanan kesehatan puskesmas, sehingga dapat dihindarkan adanya pencatatan
dan pelaporan yang tumpang tindih, yang dapat menambah beban kerja pelaksana Puskesmas.
Barasasella (2012) yang mengutip pendapat Yusran, SP2TP merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan puskesmas secara menyeluruh (terpadu) dengan konsep wilayah kerjanya puskesmas. Sistem pelaporan ini diharapkan mampu memberikan informasi baik bagi puskesmas maupun untuk jenajang administrasi yang lebih tinggi, guna mendukung manajemen kesehatan.
2.8.2 Ruang Lingkup SP2TP
SP2TP menganut konsep wilayah kerja Puskesmas, sehingga mencakup semua kegiatan yang dilakukan oleh puskesmas (puskesmas pembantu, pukesmas keliling, termasuk bidan desa). Jenis data yang dikumpulkan dan dicatat dalam SP2TP adalah seluruh kegiatan di puskesmas yang meliputi data : 1) Umum dan demografi di wilayah kerja puskesmas, 2) Ketenagaan di Puskesmas, 3) Sarana yang dimiliki puskesmas, 4) Kegiatan pokok puskesmas yang dilakukan didalam dan diluar gedung puskesmas. (Barsasella, 2012).
2.8.3 Tujuan SP2TP
Tujuan SP2TP adalah agar semua data hasil kegiatan puskesmas dapat dicatat serta dilaporkan ke jenjang diatasnya sesuai kebutuhan secara benar, berkala, dan teratur, guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat (Barsasella, 2012).
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas manajemen puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang.
2. Tujuan Khusus
a. Sebagai dasar penyusunan perencanaan tingkat puskesmas.
b. Sebagai dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (Lokakarya Mini).
c. Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas.
d. Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas.
2.8.4 Manfaat SP2TP
Manfaat pencatatan dan pelaporan antara lain :
1. Memudahkan dalam mengelola informasi kegiatan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
2. Memudahkan dalam memperoleh data untuk perencanaan dalam rangka pengembangan tenaga kesehatan.
3. Memudahkan dalam melakukan pembinaan tenaga kesehatan.
4. Memudahkan dalam melakukan evaluasi hasil.
2.8.5 Pencatatan
Pencatatan kegiatan harian puskesmas dapat dilakukan di dalam gedung
(kegiatan program harian puskesmas seperti tekanan darah, laboratorium, KB, dan lain-lain) dalam hal ini loket memegang peranan penting bagi seseorang pasien yang berkunjung pertama kali atau melakukan kunjungan ulang, sedangkan kagiatan di luar gedung puskesmas (data yang dibuat berdasarkan catatan harian yang dilaksanakan di luar gedung puskesmas, seprti kegiatan posyandu, UKS dan lain-lain), puskesmas tempat tidur dan puskesmas pembantu serta bidan di desa juga harus di catat (Barsasella, 2012).
Agar pencatatan dapat ditata dengan baik maka diperlukan sebuah mekanisme yang mengaturnya dengan baik. Semua itu telah diatur dalam sebuah formulir standar yang ditetapkan SP2TP digunakan untuk memudahkan pencatatan, jenis formulir tersebut adalah :
1. Rekam Kesehatan Keluarga (RKK)
Disebut juga family folder adalah himpunan kartu individu suatu keluarga yang memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas.
2. Kartu rawat jalan
Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien rawat jalan.
3. Kartu indeks penyakit
Kartu indeks penyakit merupakan alat bantu mencatat identitas pasien, riwayat, dan perkembangan penyakit, khusus penderita penyakit TBC paru dan kusta.
4. Kartu ibu
Kartu ibu merupakan alat bantu untuk mengetahui identitas, status kesehatan, dan riwayat kehamilan sampai kelahiran.
5. Kartu anak
Kartu anak adalah alat bantu untuk mencatat identitas, status kesehatan, pelayanan preventif-promotif-kuratif-rehabilitatif yang diberikan kepada balita dan anak prasekolah.
6. KMS balita, anak sekolah
Alat bantu untuk mencatat identitas, pelayanan, dan pertumbuhan yang telah diperoleh balita dan anak sekolah.
7. KMS ibu hamil
Alat untuk mengetahui identitas dan mencatat perkembagan kesehatan ibu hamil dan pelayanan kesehatan yang diterima ibu hamil.
8. KMS usia lanjut
Alat untuk mencatat kesehatan usia lanjut secara pribadi baik fisik maupun psikososial, dan digunakan untuk memantau keehatan, deteksi dini penyakit, dan evaluasi kemajuan kesehatan usia lanjut.
9. Register
Merupakan formulir untuk mencatat atau merekap data kegiatan didalam dan di luar gedung puskesmas, yang telah dicatat di kartu dan catatan lainnya.
Ada beberapa jenis register sebagai berikut : a. Nomor indeks pengunjung puskesmas
b. Rawat jalan
c. Register kunjungan d. Register rawat inap e. Register KIA dan KB
f. Register kohort ibu dan balita
g. Register deteksi dini tumbh kembang dan gizi h. Register penimbangan balita
i. Register imunisasi j. Register gizi
k. Register kapsul beryodium l. Register anak sekolah
m. Sensus harian : kunjungan, kegiatan KIA, imunisasi, dan penyakit.
(Barsasella, 2012).
2.8.6 Pelaporan
2.8.6.1 Jenis Pelaporan
Pelaporan terpadu puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu dari bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama. Pada tahun 1996 tentang Penyederhanaan SP2TP, formulir laporan telah disederhanakan dalam upaya untuk mengurangi beban kerja bagi petugas puskesmas, jadi diharapkan tidak adanya laporan lain dari puskesmas selain SP2TP, dan data atau variabel yang dilaporkan trsedia dalam formulir pencatatan. Dengan demikian data atau variabel yang dilaporkan diharapkan dapat dipercaya serta dapat diterima tepat waktu.
Adapun format pelaporan yang tersedia di dalam SP2TP meliputi : 1. Laporan puskesmas bulanan, meliputi jenis pelaporan sebagai berikut : a. Laporan bulanan data kesakitan (LB-1) : kasus lama dan kasus baru.
b. Laporan bulanan obat-obatan (LB-2) atau LPLPO.
c. Laporan bulanan (LB-3) : gizi, imunisasi, KIA, pengamatan penyakit menular seperti : diare, malaria, DBD, TB paru, kusta, filaria, ISPA, rabies dan lain-lain.
d. Laporan bulanan (LB-4) : Laboratorium, kunjungan puskesmas, rawat tinggal, perawatan kesehatan masyarakat, pelayanan medik dasar, kesehatan gigi, pelayanan JPKM, kesehatan sekolah, kesehatan olahraga, PKM, kesehatan lingkungan.
2. Laporan puskesmas bulanan sentinel, meliputi jenis pelaporan sebagai berikut:
a. Laporan bulanan sentinel (LB-1S) : laporan yang memuat data saluran pernafasan akut (ISPA), dan diare menurut umur dan status imunisasi.
Puskesmas yang ditunjuk yaitu satu puskesmas dari setiap Dati II dengan periode laporan bulanan serta dialaporkan ke dinas kesehatan Dati II, dinas kesehatan Dati I dan pusat.
b. Laporan bulanan sentinel (LB-2S) : laporan yang memuat data KIA, gizi, tetanus, neonatorum, dan penyakit akibat kerja. Laporan bulanan senitnel hanya diperuntukkan bagi puskesmas rawat inap. Laporan ini dilaporkan ke dinas kesehatan.
3. Laporan Puskesmas tahunan, meliputi jenis pelaporan sebagai berikut :
a. Laporan tahunan data dasar Puskesmas (LT-1) : data kependudukan, fasilitas pendidikan, kesehatan, lingkungan, lingkungan dan peran peserta.
b. Laporan tahunan data kepegawaian (LT-2) : tenaga Pegawai Negeri Sipil (PNS) di puskesmas, tenaga PTT di puskesmas, tenaga PNS di puskesmas pembantu.
c. Laporan tahunan data peralatan (LT-3) : linen, peralatan laboratorium, peralatan untuk kesehatn gigi, perlatan untuk penyuluhan peralatan untuk tindakan medis dan non medis.
Bagian yang paling penting adalah bagaimana memanfaatkan semua jenis data yang telah dibuat dalam sebuah laporan sebagai bahan masukan yang nantinya dijadikan sebagai sumber untuk menyusun rencana program-program di puskesmas atau yang sering disebut dengan Lokakarya Mini Puskesmas (LKMP).
2.8.6.2 Alur Laporan
Laporan Dati II dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati I dan Kantor Wilayah Dinas Kesehatan Provinsi serta Pusat dalam bentuk rekapitulasi dari laporan SP2TP. Laporan tersebut meliputi :
1. Laporan Triwulan
a. Hasil entri data atau rekapitulasi laporan LB-1 b. Hasil entri data atau rekapitulasi laporan LB-2 c. Hasil entri data atau rekapitulasi laporan LB-3 d. Hasil entri data atau rekapitulasi laporan LB-4 2. Laporan Tahunan
a. Hasil entri data atau rekapitulasi laporan LT-1 b. Hasil entri data atau rekapitulasi laporan LT-2 c. Hasil entri data atau rekapitulasi laporan LB-4
Laporan Tahunan dikirim paling lambat akhir bulan Februari di tahun berikutnya dan diberikan kepada dinas-dinas terkait.
Laporan triwulan dikirim paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya dari triwulan yang dimaksud. Laporan ini diberikan kepada dinas-dinas terkait dibawah ini :
1. Kepala Dinas Kesehatan Dati I
2. Kepala Kantor Wilayah Dinas Kesehatan Provinsi
3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Cq Direktorat Jendral Pembinaan 4. Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas).
Berikut merupakan skema alur laporan di Kesehatan PUSAT
KETERANGAN Garis Laporan SP2TP Garis Umpan Balik Lampuran Tembusan Koreksi Data Hasil Olahan Rekap Garis Pembina Gambar 2.2 Alur Laporan di Kesehatan
2.8.6.3 Mekanisme Pelaporan 1. Tingkat Puskesmas
a. Laporan dari tingkat puskesmas pembantu dan bidan di desa disampaikan ke pelaksana kegiatan di puskesmas.
b. Pelaksana merakapitulasi yang dicatat baik di dalam maupun diluar gedung serta laporan yang diterima dari puskesmas pembantu dan bidan desa.
c. Hasil rekapitulasi pelaksana kegiatan dimasukkan ke formulir laporan sebanyak dua rangkap, untuk disampaikan kepada koordinator SP2TP.
d. Hasil rekapitulasi pelaksanaan kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk tindak lanjut yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja kegiatan.
2. Tingkat Dati II
a. Pengelolaan data SP2TP di Dati II menggunakan perangkat lunak yang ditetapkan oleh kementrian kesehatan.
b. Laporan SP2TP dari puskesmas yang diterima dinas kesehatan Dati II disampaikan kepada pelaksana SP2TP untuk direkapitulasi atau entri data.
c. Hasil rekapitulasi dikoreksi, diolah, serta dimanfaatkan sebagai bahan untuk umpan balik, bimbingan teknis ke puskesmas dan tindak lanjut untuk meningkatkan kinerja program.
d. Hasil rekapitulasi data setiap 3 bulan dibuat dalam rangkap 3 (dalam bentuk soft file) untuk dikirmkan ke dinas kesehatan Dati I, Kanwil Dinas Kesehatan Provinsi dan Kementrian Kesehatan.
3. Tingkat Dati I
a. Pengolahan dan pemanfaatan data SP2TP di Dati I mempergunakan perangkat lunak sama dengan Dati II.
a. Pengolahan dan pemanfaatan data SP2TP di Dati I mempergunakan perangkat lunak sama dengan Dati II.