• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. POTENSI SUMBERDAYA ALAM TAHURA BUKIT SOEHARTO

6.1. Nilai Ekonomi Manfaat Langsung (Direct Use Value)

6.1.1. Nilai Ekonomi Kayu

Kayu merupakan hasil hutan yang utama, dimana kayu merupakan sumberdaya alam yang renewable resources yang hingga kini masih menjadi primadona dalam kehidupan manusia sehingga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Namun dalam mengeskploitasinya sering kali melupakan akan ketersediaan kayu yang ada dalam hutan serta tanpa melihat dampak kerusakan hutan yang diakibatkan oleh eksploitasi hasil hutan berupa kayu yang efek dominonya mengenai segala sektor ekologi dan fungsi dari hutan tersebut, untuk itu diperlukan suatu sistem perlidungan terhadap sumberdaya alam dengan cara penetapan kawasan hutan konservasi.

Tahura Bukit Soeharto yang merupakan kawasan konservasi memiliki ketersediaan sumberdaya alam berupa kayu cukup besar yang dalam hal ini sengaja untuk dikonservasi, namun demikian perlu kiranya untuk diketahui berapa besar potensi dan nilai ekonomi kayu yang ada agar dijadikan tolok ukur bahwa kawasan tersebut memiliki stok potensi kayu sehingga nantinya dapat dikuantitatifkan guna memperoleh nilai manfaat dari sumberdaya tersebut dengan pendekatan secara ekonomi. Adapun nilai ekonomi kayu yang ada di Tahura Bukit Soeharto sebesar Rp. 541.097.399.182,00, yang terdiri dari 2 komoditi hasil hutan yaitu kayu komersil dan kayu bakar.

a. Nilai Ekonomi Kayu Komersil

Dari hasil survey potensi yang dilakukan maka diperoleh informasi rekapitulasi potensi pohon berdiri (standing stock) jenis komersil, namun agar mudah dalam pengelompokannya di bagi atas 4 (empat) kelompok jenis kayu yaitu kelompok jenis kayu meranti, kelompok jenis kayu rimba campuran, kelompok kayu jenis indah 2 yaitu kayu Ulin (Eusyderoxylon zwageri) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 163/Kpts-II/2003 tanggal 26 Mei 2003 tentang Pengelompokan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan serta kelompok kayu tanaman (reboisasi) berdasarkan sebagaimana tercantum dalam Tabel 6.1. berikut :

Tabel 6.1. Potensi Kayu (Jenis Komersial) Rata-Rata Per Hektar

Jenis 20 – 49 cm 50 cm

N V N V

Dipterocarpaceae (Meranti) 1 0,83 17 16,60

Ulin (Eusyderoxylon zwageri) 1 0,78 11 2,90

Non Dipterocarpaceae (Rimba Campuran) 135 12,89 82 62,25

Sengon dan Accasia Mangium (Reboisasi) 277 452,74

Keterangan : N = jumlah pohon (batang/ha) V = volume pohon (m3/ha)

Perhitungan nilai ekonomi kayu berdasarkan harga i ndustri adalah sebagai berikut :

Tabel 6.2. Nilai Ekonomi Kayu Komersil Kelompok Dipterocarpaceae

Komponen Diameter (cm) Potensi (M3/ha) Harga/m3 (Rp. 000) Biaya/m3 (Rp. 000) Keuntungan (Rp. 000) Nilai Ekonomi (Rp.000) Potensi kayu 20-49 0,83 1.800,00 1.200,00 600 498 ≥ 50 16,6 1.800,00 1.200,00 600 9.960,00

Nilai Ekonomi Kayu Komersil Dipterocarpaceae Per Hektar 10.458,00

Nilai Ekonomi Kayu Komersil Dipterocarpaceae Total (20.890 Ha) 218.467.620,00

Nilai Ekonomi Kayu Komersil Dipterocarpaceae Per Tahun (25 Tahun) 8.738.704,80

Nilai Jual Per Ha 17,43 1.800,00 31.374,00

Nilai Jual Kayu Komersil Dipterocarpaceae (20.890 Ha) 655.402.860,00

Nilai Jual Kayu Komersil Dipterocarpaceae Per Tahun (25 Tahun) 26.216.114,40

Biaya Produksi Per Ha 17,43 1.200,00 20.916,00

Biaya Produksi Kayu Komersil Dipterocarpaceae (20.890 Ha) 436.935.240,00

Biaya Produksi Kayu Komersil Dipterocarpaceae Per Tahuan (25 Tahun) 17.477.409,60

Asumsi :

1) Harga kayu Rp. 1.800.000,00/m3.

2) Biaya pemanenan Rp. 1.200.000,00/m3 terdiri dari biaya logging Rp. 800.000,00/m3, Pajak Rp. 218.000,00/m3 (setoran PSDH Rp. 60.000,00 berdasarkan Permendagri Nomor 08/M-DAG/PER/2/2007 dan setoran DR Rp 160.000,00 berdasarkan PP Nomor 92/1999, entertainment Rp. 100.000,00/m3 dan biaya lain-lain.1

Nilai ekonomi kayu kelompok komersil Dipterocarpaceae di kawasan Tahura Bukit Soeharto pada kawasan berhutan seluas 20.890 Ha, berdasarkan perhitungan di atas menunjukkan nilai yang sangat besar yaitu Rp. 218.467.620.000,00, atau dengan nilai Rp. 10.458.000,00 per hektar dan apabila diberikan kesempatan untuk melakukan eksploitasi selama 25 tahun sesuai lama Izin Konsesi Pengusahaan Hutan maka diperoleh nilai ekonomi per tahun sebesar Rp. 8.738.704.800,00. Selain itu nilai ekonomi kayu komersil non Dipterocarpaceae adalah seperti Tabel 6.3 berikut.

Nilai ekonomi kayu kelompok non Dipterocarpaceae di Tahura Bukit Soeharto seluas 20.890 Ha dan kayu tanaman/reboisasi (Sengon dan Accasia mangium) 5.449 Ha, berdasarkan perhitungan di atas menunjukkan nilai ekonomi kayu non Dipterocarpaceae sebesar Rp. 686.279.859.000,00 atau sebesar Rp. 83.049.000,00 per hektar, apabila diberikan kesempatan untuk melakukan eksploitasi selama 25

1

Berdasarkan komunikasi pribadi dengan Ir. Dedi dan Ir. Riefky Bachtiar dari staf produksi salah satu perusahaan HPH di Kaltim.

tahun sesuai lama Izin Konsesi Pengusahaan Hutan maka diperoleh nilai ekonomi per tahun sebesar Rp. 27.451.194.360,00.

Tabel 6.3. Nilai Ekonomi Kayu Komersil Non Dipterocarpaceae

Komponen Diameter (cm) Potensi (M3/ha) Harga/m3 (Rp. 000) Biaya/m3 (Rp. 000) Keuntungan (Rp. 000) Nilai Ekonomi (Rp.000)

Potensi kayu hutan 20-49 62,25 1.100,00 950 150,00 9.337,50

> 50 12,89 1.400,00 950 450,00 5.800,50

Nilai Ekonomi Kayu Hutan Komersil Non Dipterocarpaceae Per Hektar 15.138,00

Nilai Ekonomi Kayu Hutan Komersil Non Dipterocarpaceae Total (20.890 Ha) 316.232.820,00

Nilai Ekonomi Kayu Hutan Komersil Non Dipterocarpaseae per tahun (25 Tahun) 12.649.312,80

Nilai Jual Per Ha 20-49 62,25 1.100.00 68.475,00

> 50 12,89 1.400.00 18.046,00

Nilai Jual Kayu Hutan Komersil Non Dipterocarpaceae (20.890 Ha) 1.807.423.690,00

Nilai Jual Kayu Hutan Komersil Non Dipterocarpaceae Per Tahun (25 Tahun) 72.296.947,60

Biaya Produksi Per Ha 75,14 950 71.383,00

Total Biaya Produksi Kayu Hutan Komersil Non Dipterocarpaceae (20,890 Ha) 1.491.190.870,00

Biaya Produksi Kayu Hutan Komersil Non Dipterocarpaceae Per Tahuan (25 Thn) 59.647.634,80

Tanaman Reboasasi > 50 452,74 400,00 250 150 67.911,00

Nilai Ekonomi Kayu Tanaman Reboasasi Per Hektar 67.911,00

Nilai Ekonomi Kayu Tanaman Reboasasi (5,449 Ha) 370.047.039,00

Nilai Ekonomi Kayu Tanaman Reboasasi Pertahun (25 Tahun) 14.801.881,56

Nilai Jual Per Ha > 50 452,74 400,00 51.238.849,5

Nilai Jual Kayu Tanaman Komersil Non Dipterocarpaceae (5.449 Ha) 986.792.104,00

Nilai Jual Kayu Tanaman Komersil Non Dipterocarpaceae per Tahun (25 Tahun) 39.471.684,16

Biaya Produksi Kayu Tanaman Reboasasi (5.449 Ha) 616.745.065,00

Biaya Produksi Kayu Tanaman Reboasasi Per Tahuan (25 Tahun) 24.669.802,60

Nilai Jual Kayu Tanaman Komersil Non Dipterocarpaceae Per Ha 267.617,00

Nilai Jual Kayu Tanaman Komersil Non Dipterocarpaceae 2.477.982.974,00

Nilai Jual Kayu Tanaman Komersil Non Dipterocarpaceae per Tahun (25 Tahun) 111.768.631,76

Total Biaya Produksi Kayu Non Dipterocarpaceae Per Hektar 184.568,00

Total Biaya Produksi Kayu Tanaman Reboasasi 2.107.935.935,00

Total Biaya Produksi Kayu Non Dipterocarpaceae Per Tahun 84.317.437,40

Nilai Ekonomi Kayu Non Dipterocarpaceae per Hektar 83.049,00

Nilai Ekonomi Kayu Non Dipterocarpaceae (Kayu Hutan dan Tanaman) 686.279.859,00

Nilai Ekonomi Kayu Non Dipterocarpaceae Per Tahun (Selama 25 Tahun) 27.451.194,36

Asumsi :

1) Harga kayu Rp. 1.100.000,00/m3 (diameter 20-49 cm), Rp. 1.400.000,00/m3 (diameter >50 cm), Rp 400.000,00/m3 (Pohon Tanaman Reboasasi/Accasia Mangium dan Sengon) 2) Biaya terdiri dari Biaya Logging, Pajak dan entertainment2

Selanjutnya adalah nilai ekonomi kayu ulin yang merupakan jenis kayu yang sudah cukup sulit ditemui dalam kawasan karena potesinya berkurang a kibat penebangan liar adalah seperti Tabel 6.4.

2

Berdasarkan komunikasi pribadi dengan Ir. Dedi dan Ir. Riefky Bachtiar dari staf produksi salah satu perusahaan HPH di Kaltim.

Nilai ekonomi kayu kelompok ulin di Tahura Bukit Soeharto seluas 20.890 Ha, berdasarkan perhitungan menunjukkan nilai yang cukup besar yaitu sebesar Rp. 169.125.440.000,00 atau sebesar Rp. 8.096.000,00 per hektar dan apabila diberikan kesempatan untuk melakukan eksploitasi selama 25 tahun sesuai lama Izin Konsesi Pengusahaan Hutan maka diperoleh nilai ekonomi per tahun sebesar Rp. 6.765.017.600,00

Tabel 6.4. Nilai Ekonomi Komersil Kayu Ulin

Komponen Diameter (cm) Potensi (M3/ha) Harga/m3 (Rp. 000) Biaya/m3 (Rp. 000) Keuntungan (Rp. 000) Nilai Ekonomi (Rp.000) Potensi kayu 20-49 0,78 4.000.00 1.800,00 2.200,00 1.716,00 > 50 2,9 4.000.00 1.800,00 2.200,00 6.380,00

Nilai Ekonomi Kayu Ulin Per Hektar 8.096,00

Nilai Ekonomi Kayu Komersil Ulin (20.890 Ha) 169.125.440,00

Nilai Ekonomi Kayu Komersil Ulin Pertahun (25 Tahun) 6.765.017,60

Nilai Jual Per Ha 3,68 4.000,00 14.720,00

Nilai Jual Kayu Komersil Ulin (20.890 Ha) 307.500.800,00

Nilai Jual Kayu Komersil Ulin Per Tahuan (25 Tahun) 12.300.032,00

Biaya Produksi Per Ha 3,68 1.800,00 6.624,00

Biaya Produksi Kayu Komersil Ulin (20.890 Ha) 138.375.360,00

Biaya Produksi Kayu Komersil Ulin Per Tahun (25 Tahun) 5.535.014,40

Asumsi :

1) Harga kayu Rp. 4.000.000,00/m3. (kayu olahan)

2) Biaya pemanenan Rp. 1.200.000,00/m3 terdiri dari biaya logging Rp. 800.000,00/m3, Pajak Rp. 289.000,00/m3, biaya olah dan entertainment Rp. 800.000,00/m3 dan biaya lain-lain.

Tabel 6.5. Nilai Ekonomi Total Kayu Komersil di Tahura Bukit Soeharto

Jens Nilai Ekonomi Nilai Ekonomi

(Rp. 000) Nilai Jual Kayu Komersil Dipterocarpaceae Per Tahun (25 Tahun) 26.216.114,40 Nilai Jual Kayu Tanaman Komersil Non Dipterocarpaceae per Tahun (25 Tahun) 111.768.631,76 Nilai Jual Kayu Komersil Ulin Per Tahuan (25 Tahun) 12.300.032,00

Total Nilai Jual Kayu Per Tahun (25 Tahun) 150.284.778,16

Biaya Produksi Kayu Komersil Dipterocarpaceae Per Tahuan (25 Tahun) 17.477.409,60 Biaya Produksi Kayu Non Dipterocarpaceae Per Tahun 84.317.437,40 Biaya Produksi Kayu Komersil Ulin Per Tahuan (25 Tahun) 5.535.014,40

Total Biaya Produksi Per Tahun (25 Tahun) 107.329.861,40

Nilai Ekonomi Kayu Komersil Dipterocarpaceae Per Tahun (25 Tahun) 8.738.704,80 Nilai Ekonomi Kayu Non Dipterocarpaceae Per Tahun (Selama 25 Tahun) 27.451.194,36 Nilai Ekonomi Kayu Komersil Ulin Pertahun (25 Tahun) 6.765.017,60

Total Nilai Ekonomi Kayu Komersil Per Tahun (25 Tahun) 42.954.916,76

Maka secara keseluruhan potensi pohon di Tahura Bukit Soeharto dapat dilihat pada Tabel 6.5, apabila diberikan kesempatan untuk melakukan eksploitasi selama

25 tahun sesuai lama Izin Konsesi Pengusahaan Hutan maka diperoleh nilai ekonomi per tahun sebesar Rp. 42.954.916.760,00 per tahun.

Jika dihitung dengan asumsi pengelolaan dilakukan 2 (dua) kali periode dari lama konsesi pengusahaan hutan selama 25 tahun daur masa tebang, maka selama 50 tahun tersebut memiliki nilai net present value (NPV) sebesar Rp 425.890.030.988,73 dengan tingkat diskonto sebesar 10%,

Melihat nilai ekonomi yang ada menggambarkan besarnya potensi kayu Tahura Bukit Soeharto sehingga banyak investor yang tertarik untuk mengelolanya, sekalipun kawasan Tahura Bukit Soeharto bukan hutan perawan (Virgin Forest) atau hutan primer. Status kawasan konservasi juga membuat hutan ini tidak dapat dieksploitasi kayunya sesuai pasal 26 ayat 1 Undang-undang Kehutanan nomor 41 tahun 1999 sehingga banyak investor yang tidak bisa untuk melakukan kegiatan penebangan dalam kawasan mengingat pentingnya Tahura Bukit Soeharto sebagai daerah tangkapan serapan air bagi daerah sekitar karena terdapat 7 sub DAS yang berada dalam kawasan tersebut serta terdapatnya beberapa jenis flora dan fauna yang dilindungi.

Namun demikian illegal logging masih saja terjadi dalam kawasan dan ini menyebabkan berkurangnya atau hilangnya potensi kayu sehingga akan menurunkan nilai ekonomi dari potensi kayu yang ada. Disamping itu bila dicermati nilai ekonomi yang ada pada kegiatan eksploitasi lebih besar biaya produksi daripada keuntungan yang diperoleh, hal ini menandakan bahwa bisnis perkayuan bukanlah satu-satunya bisnis yang menghasilkan keuntungan besar dan ini belum dilihat dari dampak kerusakan atau bencana yang ditimbulkan akibat dari proses pemungutan hasil kayu tersebut.

Pemerintah telah menetapkan cara dan besaran biaya pungutan terhadap hasil hutan berupa pungutan di sektor kehutanan sebagai bagian dari penerimaan negara bukan pajak (UU No.20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak), khususnya DR (Dana Reboasasi) yang ditetapkan Tarif DR berdasarkan PP No 92/1999 dan PSDH (Provisi Sumber Daya Hutan) yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor : 8/M-DAG/PER/2/2007 Tanggal: 7 Pebruari 2007 ditambah dengan pungutan Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH) yang peruntukkannya untuk kegiatan reboasasi dan rehabilitasi hutan, namun kenyataannya hingga kini belum dapat mengembalikan hutan kepada kondisi yang

semula. Hal ini disebabkan masih rendahnya nilai standart atau tarif dasar pungutan yang ditetapkan sehingga perlu ditinjau ulang agar dapat dinaikan dengan menghitung dampak kerusakan yang ditimbulkan dari usaha tersebut. Disamping itu pula sering terjadi pungutan liar yang dilakukan oleh oknum aparat pemerintah sehingga memaksa pengusaha berfikir untuk mencari dana taktis melalui cara-cara yang melanggar aturan yang ditetapkan (governmentality), selain itu pula dalam pengelolaan dana pungutan yang semestinya dikembalikan kepada hutan untuk membangun hutan tetapi dialihkan penggunaannya untuk pembangunan yang lain misalnya aset operasional maupun bangunan infrastruktur.

b. Nilai Ekonomi Kayu Bakar

Berdasarkan hasil survey dan wawancara dengan anggota masyarakat sekitar kawasan, dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari untuk memasak adalah sebagian menggunakan kayu bakar selain menggunkan minyak tanah dan gas (program subsidi pemerintah). Namun masyarakat lebih menyukai menggunakan kayu bakat dengan pemakaian kayu bakar rata-rata 10 ikat kayu bakar per bulan per KK atau kurang lebih setara dengan 0,5 m3 kayu bakar.

Dengan demikian, kayu bakar yang diambil dari hutan, maka akan terjadi pengurangan pengeluaran rumah tangga untuk minyak tanah dan gas yang merupakan keuntungan yang dapat dialihkan untuk pemakaian yang lain.

Tabel 6.6. Nilai Ekonomi Kayu Bakar Tahura Bukit Soeharto

Komponen Nilai Satuan

Pemakaian Kayu Bakar 10 Ikat/Bln/KK

Nilai ekonomi kayu bakar l 32.277 KK 968.310.000,00 Rp./bln Nilai ekonomi kayu bakar l 32.277 KK 116,197.200,00 Rp./thn.

Asumsi :

1). Harga jual kayu bakar per ikat Rp. 3.000,00.

2). Penduduk yang memanfaatkan hasil hutan sebagai kayu bakar adalah + 75% dari 43.036 KK atau 32.277 KK.

Nilai ekonomi kayu bakar di Tahura Bukit Soeharto selama 1 tahun adalah Rp. 11.619.720.000,00, dan bila di NPV kan selama 50 tahun dengan tingkat diskonto 10% adalah Rp. 115.207.368.193,27.

Nilai ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ketergantungan hidup terhadap hutan khususnya kayu bakar untuk melakukan aktifitas hidupnya (memasak). Namun masyarakat yang ada disekitar Tahura Bukit Soeharto saat ini tidak memanfaatkan

minyak tanah sebagai pemicu awal dalam pembuatan api untuk memasak dengan kayu bakar melainkan dengan memanfaatkan buah kelapa sawit yang telah dikeringkan, sedangkan minyak tanah hanya dipergunakan untuk lampu minyak atau penerangan. Walapun dari segi waktu, kebersihan dan kesehatan memasak dengan kayu relatif kurang baik dan tidak praktis dibandingkan dengan memasak dengan bahan bakar minyak tanah atau gas masyarakat tetap memilih kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak, hal ini disebabkan banyak tersedianya bahan baku di sekitar mereka sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kayu bakar, selain itu kenyataan yang ada dilapangan masyarakat sering enggan menggunakan gas program pemerintah yang disebabkan oleh ada rasa ketakutan dalam penggunaannya sehingga mereka jual kembali untuk kebutuhan hidup, disamping itu stok minyak tanah dan gas sering kosong untuk tingkat pengecer di wilayah tersebut serta jauhnya jarak penjual minyak tanah dan gas dengan pemukiman mereka.

Kayu bakar yang di manfaatkan oleh masyarakat adalah kayu dahan, ranting atau batang pohon yang telah tumbang sehingga dalam pemungutannya masyarakat tidak menebang pohon yang berdiri berdiri.

Dokumen terkait