V. POTENSI SUMBERDAYA ALAM TAHURA BUKIT SOEHARTO
6.1. Nilai Ekonomi Manfaat Langsung (Direct Use Value)
6.1.3. Nilai Ekonomi Satwa
Satwa merupakan juga hasil hutan ikutan yang memiliki manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat sekitar Tahura Bukit Soeharto, adapun jenis satwa yang sering mereka buru atau tangkap adalah sebagaimana pada Tabel 6.9 berikut : Tabel 6.9. Jenis Binatang Buruan di Tahura Bukit Soeharto
No. Nama Keterangan
1. Babi hutan (Babyrusa babyrusa) -
2. Rusa Sambar (Cervus unicolor) /Payau Dilindungi
3. Kijang (Muntiacus muntjak) -
4. Pelanduk/Kancil -
5. Macan dahan (Neofelis nebulosa) Dilindungi
6. Landak (Hystrix brachyuran) -
7. Owa-owa (Hylobates) Dilindungi
8. Burung enggang (Barenicarnus comatus) Dilindungi
9. Kera (Macaca fascicularis) Dilindungi
10. Tupai (Gallasciurus notatus) -
11. Musang (Cynogale sp) -
12. Burung cucak rawa (Pynonotus zeylanicus) -
13. Ular Sanca (Phyton reticulates) Dilindungi
14. Beruang Madu (Helarctos malayanus) Dilindungi
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat dapat di bagi 2 kelompok satwa buruan yaitu satwa konsumsi (jual dalam kondisi hidup/mati) dan satwa untuk peliharaan/koleksi (jual hidup), hal ini sesuai dengan pendapat King (1966) dalam Bailey (1984) menyatakan bahwa nilai komersial dari satwa liar merupakan nilai kapital yang diperoleh dari penjualan individu beserta produk-produk yang dihasilkan termasuk produk wisata (jasa). Kelompok satwa konsumsi seperti tertera pada Tabel 6.9, dimana rata-rata mendapatkan 5 ekor babi pada saat musim buah di hutan dengan waktu berburu 2-3 kali dalam sebulan. Sedangkan kijang atau rusa sering dipergunakan sebagai bahan suguhan saat ada acara pernikahan/khitanan, tetapi bila untuk kebutuhan sehari-hari hanya 2 ekor per sekali berburu (sebulan 6 kali pergi berburu). Dengan harga jual daging babi Rp. 20.000,00 /kg, daging rusa dan kijang Rp. 30.000,00 /kg, serta pelanduk Rp. 150.000,00 /ekor (berat + 5 kg). Sedangkan rata-rata berat babi hasil buruan adalah 50 kg - 60 kg, rusa rata-rata 80 kg dan kijang 50-an kg. Sehingga nilai ekonomi yang didapat dari binatang buruan adalah seperti pada Tabel 6.10 berikut.
Tabel 6.10. Nilai Ekonomi Satwa Konsumsi
Jenis Hewan Potensi berat atau
ekor (kg/ekor) Harga
)
(Rp/kg) Jumlah ekor/bulan Nilai Total (Rp.)
Rusa 80 30.000 12 28.200.000,-
Babi 50 20.000 15 15.000.000,-
Kijang 50 30.000 12 18.000.000,-
Pelanduk 1 150.000 12 1.800.000,-
Jumlah Nilai Ekonomi Satwa Konsumsi 63.000.000,-
Asumsi :
1) Manfaat yang di gunakan hanya sebatas daging saja.
2) Harga rata-rata daging babi Rp. 20.000,-/kg, daging rusa dan kijang Rp. 30.000,-/kg dan pelanduk Rp. 150.000,-/ekor.
3) Waktu berburu adalah 6 kali/bulan.
Dari perhitungan di atas, nilai ekonomi satwa konsumsi di Tahura Bukit Soeharto dalam per bulan adalah Rp. 63.000.000,00. Walaupun telah ada himbauan bahwa kijang dan rusa merupakan satwa yang dilindungi, namun masyarakat tetap melakukan perburuan karena untuk kebutuhan lauk pada saat pelaksanaan acara-acara adat ataupun untuk dijual. Menurut Semiadi (2002) di wilayah Kalimantan Timur diperkirakan 5,000 individu setiap tahunnya rusa sambar diburu secara liar, karena cukup tingginya permintaan masyarakat luar akan daging hewan tersebut yang dikenal nikmat dan rendah kadar kolesterol, sehingga tidak heran banyak rumah makan yang menyediakan menu masakan yang berbahan daging rusa atau kijang.
Untuk kelompok satwa untuk peliharaan/koleksi dengan rata-rata perolehan 1 ekor pada saat musim buah di hutan dengan waktu berburu 1 kali sebulan. Sehingga nilai ekonomi yang didapat seperti pada Tabel 6.11 di bawah ini.
Tabel 6.11. Nilai Ekonomi Satwa untuk Peliharaan/Koleksi
Jenis Hewan Harga
(Rp/per ekor)
Jumlah ekor/bulan
Nilai Total (Rp.)
Macan dahan (Neofelis nebulosa) 5.000.000,- 1 5.000.000,-
Landak (Hystrix brachyuran) 750.000,- 5 3.750.000,-
Owa-owa (Hylobates) 1.500.000,- 2 3.000.000,-
Burung enggang (Barenicarnus comatus) 2.000.000,- 1 2.000.000,-
Kera (Macaca fascicularis) 500.000,- 5 2.500.000,-
Tupai (Gallasciurus notatus) 75.000,- 10 750.000,-
Musang (Cynogale sp) 250.000,- 1 250.000,-
Burung cucak rawa (Pynonotus zeylanicus) 250.000,- 10 2.500.000,-
Ular Sanca (Phyton reticulates) 1.000.000,- 1 1.000.000,-
Beruang Madu (Helarctos malayanus 2.500.000,- 1 2.500.000,-
Jumlah Nilai Ekonomi Satwa Peliharaan/Koleksi 23.250,000.-
Asumsi :
1) Harga Berdasarkan harga jual illegal
2) Manfaat yang di gunakan untuk peliharaan/koleksi ataupun untuk diambil organ tubuhnya sebagai obat/hiasan
3) Waktu berburu rata adalah 1 kali/bulan.
Dari perhitungan yang ada, nilai ekonomi satwa untuk peliharaan/koleksi di Tahura Bukit Soeharto dalam sebulan adalah Rp. 23.250.000,00 sehingga nilai ekonomi satwa per bulan adalah Rp. 86.250.000,00 selama 1 tahun adalah Rp. 1.035.000.000,00, sehingga bila manfaat ini dirasakan selama 50 tahun dengan tingkat diskonto 10% potensi satwa total adalah sebesar Rp. 10.261.832.994,26
Apabila satwa-satwa ini dibiarkan untuk terus diburu suatu saat akan berkurang jumlahnya, ditambah lagi dengan terdesaknya kehidupan satwa akibat terganggunya habitat dari satwa akibat dari okupasi lahan dari pertambangan batubara, perambahan kawasan oleh masyarakat. Perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia, termasuk satwa liar, memperoleh perhatian besar pemerintah, sebagaimana tertuang dalam UU no. 5 Th 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP No. 13 Th 1994 tentang Perburuan Satwa Buru, yang berkaitan dengan perlindungan, perdagangan marga satwa langka.
Namun masih belum bisa menjamin akan perlindungan akan satwa yang dilindungi dari perburuan di Tahura Bukit Seoharto yang disebabkan oleh ketidak tahuan masyarakat sekitar akan jenis-jenis satwa apa saja yang dilindungi oleh pemerintah. Hal ini tidak terlepas dari usaha pemerintah dalam mensosialisasika n dan menginformasikan tentang satwa-satwa yang dilindungi kepada masyarakat luas. Disamping itu masih belum optimalnya penegakan hukum terhadap pelaku perburuan dan pembeli dari satwa langka yang dikarenakan terbatasnya pengetahuan aparat penegak hukum terhadap masalah perdagangan illegal tersebut, termasuk perundangan-undangan yang relevan yang dapat digunakan dalam proses peradilan. Sehingga para pelaku pemburu dan penjual satwa langka
illegal dapat melakukan melanggar hukum dengan bebas tanpa bisa dijerat dengan
hukum sanksi yang sesuai, untuk itu perlu dukungan keahlian dan pertukaran informasi di bidang konservasi dan di bidang peradilan serta penegakan hukum. 6.1.4. Nilai Ekonomi Rotan
Rotan berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekump ulan jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut "Lepidocaryodidae".
Lepidocaryodidae berasal dari bahasa Yunani yang berarti mencakup ukuran buah.
Kata rotan dalam bahasa Melayu diturunkan dari kata "raut" yang berarti mengupas (menguliti), menghaluskan (Menon, 1979 dalam Kalima, 1996).
Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Puak
Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran
di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke dalam puak ini termasuk pula marga
Salacca ( misalnya salak), Metroxylon (misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang
tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai rotan.
Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5 cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.
Rotan merupakan salah satu sumber hayati Indonesia, penghasil devisa negara yang cukup besar. Sebagai negara penghasil rotan terbesar, Indonesia telah memberikan sumbangan sebesar 80% kebutuhan rotan dunia. Dari jumlah tersebut 90% rotan dihasilkan dari hutan alam yang terdapat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan sekitar 10% dihasilkan dari budidaya rotan. Nilai ekspor rotan Indonesia pada tahun 1992 mencapai US$ 208.183 juta (Kalima, 1996).Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Malesia, seperti Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Indonesia memasok 70% kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh.
Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, karena orang lebih suka memanen rotan daripada kayu, sehingga banyak masyarakat sekitar kawasan yang mengambil rotan. Namun hanya untuk beberapa jenis saja yang mereka mau manfaatkan dengan alasan jumlahnya yang cukup banyak di bandingkan dengan jenis rotan lain sehingga dapat di kumpulkan untuk dijual seperti pada Tabel 6.12.
Tabel 6.12. Potensi Rotan Rata-Rata per Hektar di Tahura Bukit Soeharto
No Nama lokal Nama Ilmiah Potensi (Kg/ha)
1. R pait (jelayan) Calamus ornatus 717,63
2. R lingan (seletup) Calamus optimus 63,40
Berdasarkan harga yang berlaku di Samarinda, rotan pait/jelayan adalah Rp. 9.615,00/kg, rotan lingan/seletup Rp. 2.250,00/kg, dan rotan dera/jahab Rp. 3.500,00/kg. Secara lengkap potensi dan nilai ekonomi rotan di Tahura Bukit Soeharto terlihat seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 6.13. Nilai Ekonomi Rotan di Tahura Bukit Soeharto
Jenis Rotan Potensi (Kg/ha) Harga (Rp./kg) Nilai Total (Rp.)
R piat/jelayan 717,63 9.615,- 6.900.012
R. lingan/seletup 63,40 2.250,- 142.650
R. dera/jahab 0,50 3.500,- 1.750
Asumsi :
1) Pemanenan rotan sekali/tahun.
2) Berdasar harga yang berlaku di Samarinda3
Nilai ekonomi rotan untuk semua jenis di Tahura Bukit Soeharto adalah Rp. 7.044.412,45/ha sehingga nilai total ekonomi rotan Rp.147.157.776.080,50. Dengan demikian nilai ekonomi rotan selama 50 tahun dengan tingkat diskonto 10% adalah Rp.1.458.320.115.627,83.
Potensi Rotan yang ada tidak sebanyak potensi rotan sebelum tahun 1983 atau 1997 karena pada tahun tersebut telah terjadi kebakaran hutan di kawasan sehingga banyak menghilangkan potensi rotan. Rotan yang ada di Tahura Bukit Soeharto pada umumnya hanya sebagian masyarakat yang mau memanfaatkannya mengingat tumbuhan rotan sendiri yang berduri dan belum mengerti cara mengolah atau memanfaatkannya.
6.1.5. Potensi Batubara
Tahura Bukit Soeharto sangat kaya akan sumberdaya alam termasuk sumberdaya alam tambang batubara sebanyak 122.168.118 ton batubara. (Sumaatmadja dan Pujobroto, 2000).
Sumberdaya alam batubara yang terdapat di Tahura Bukit Soeharto jika akan dilakukan penambangan dengan asumsi produksi tambang 1,200,000 ton per tahun dengan biaya reklamasi lahan $25.000.000,00 USA, sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2008, dengan asumsi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) harga jual rata-rata batubara mencapai US$ 70 per ton dengan asumsi $1 = Rp. 10.000,00, maka nilai ekonomi dari potensi batubara Bukit Soeharto adalah sebagai berikut :
3
Tabel 6.14. Data Batubara di Tahura Bukit Soeharto
Variabel Data Satuan
Produksi Tambang Batu Bara 1.200.000 Ton/tahun
Harga Batubara 70 US$/ton
Biaya Reklamasi Lahan 25.000.000 US$/
Luas Lahan Reklamasi 1.600 Ha/tahun
Tabel 6.15. Nilai Ekonomi Batubara di Tahura Bukit Soeharto
Komponen Perhitungan Nilai
Pendapatan dari penjualan batubara
Prediksi produksi batubara x harga batubara
Rp. 840.000.000.000/ tahun Biaya reklamasi lahan Biaya Reklamasi x luas
reklamasi
Rp.12.622.857.142.857,10/ tahun Kentungan Per Tahun Penjulan - Reklamasi Rp.11.782.857.142.857.1/ tahun
NPV Selama 50 tahun tingkat
diskon 10 %
Rp. 116.824.842.700.666,00
Nilai batubara dalam Tahura Bukit Soeharto diprediksi untuk 1 perusahaan tambang dengan masa konsesi 35 tahun tambang sedangkan potensi sebenarnya akan habis sesuai dengan konsesi lebih kurang 100 tahun pengelolaan atau di bagi menjadi 3 perusahaan tambang dengan masing-masing konsesi 35 tahun. Sehingga NPV yang ada untuk masa 50 tahun dengan diskoto 10% dikalikan dengan 3 perusahaan tambang atau setara dengan Rp. 116.824.842.700.666,00
Melihat potensi yang ada Departemen ESDM mengajukan sebuah inisiatif untuk melakukan penambangan underground maining di Tahura Bukit Soeharto sebagaimana yang tertulis pada surat yang ditujukan ke Dirjen Planologi Kehutanan bernomor 2550/30/DJB/2009 tertanggal 3 September 2009, tentang pemanfaatan potensi batu bara di Tahura dimana dasar dari permohonan tersebut adalah Pasal 26 ayat 1 dan 2 serta pasal 38 ayat 1 sampai 4 UU 41/1999. Namun dasar hukum untuk underground mining yaitu UU 41/1999 tentang Kehutanan yang dipakai Departemen ESDM melalui Dirjen Minerbapabum justru tidak tepat, karena yang tercantum dalam UU 41/1999 itu hanya berlaku untuk hutan produksi dan hutan lindung bukan pada hutan konservasi, sedangkan Tahura Bukit Soeharto merupakan hutan konservasi
Aktivitas pertambangan di sekeliling Tahura dipastikan berpengaruh terhadap ekosistem sehingga dengan alasan apapun dan metode apapun (Wardhana4, 2010), Tahura Bukit Soeharto tidak boleh ditambang termasuk juga untuk underground mining tambang bawah tanah. Selain itu menurut Rustam5 (2010), lapisan batubara di Tahura
4
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim)
5
Kepala Bagian Pengembangan dan Perencanaan Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda
sangat dekat dengan permukaan tanah sehingga tidak mungkin ditambang underground dengan membuat terowongan, tanah bisa runtuh (subsidence) dan ekosistemnya rusak serta ada 7 sub-daerah aliran sungai di Tahura yang terancam kualitas airnya oleh aktivitas pertambangan, sejauh ini belum ada studi soal dampaknya terhadap kualitas air sebagaimana yang tercantum pada pasal 18 ayat 1 dan 2 UU 41/1999.
Bila ditinjau dari sisi siklus pengelolaan tambang batubara hampir sama dengan pegelolaan kayu namun bedanya kayu meupakan renewable resources sedangkan batubara non renewable resources sehingga akan habis stock/ketersediaannya. Selain itu kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan itu akan tetap berlangsung selamanya hal ini dikarenakan tidak imbangnya lahan yang digali dan bahan yang akan ditimbunkan dalam proses reklamasi lahan eks tambang, sehingga tidak jarang akan menimbulkan lubang-lubang raksasa pada permukaan tanah dimana akan menjadi danau-danau yang dalam. Hartono dkk (2000) dalam Sumaatmadja dan Pujobroto (2000) menyatakan perbandingan pengupasan lahan untuk memperoleh tambang di Kalimantan Timur adalah 1 ton meter kubik batubara harus mengupas 11 ton meter kubik lapisan tanah. Dari perbandingan itu dapat dirasakan bagaimana hebatnya kerusakan yang ditimbulkan akibat tambang batubara tersebut.