IV.2 Pembahasan
IV.2.1 Pembahasan Penilaian Parameter Geopark (Kubalikova, 2013)
IV.2.1.3 Nilai Ekonomi
Objek – objek di kawasan Geosite Singkapan Granit, Air Terjun Sangkiamo, dan Air Terjun Kajai dapat menciptakan nilai ekonimi lokal melalui kegiatan
40 pariwista berbasi geologi atau geowisata. Hal – hal yang dapat menunjang nilai ekonomi tersebut terdiri dari aksesibilitas, infrastrukturm dan produk lokal.
a) Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan cara untuk menyediakan sarana transportasi bagi pengunjung yang berpengaruh terhadap nilai ekonomi berupa biaya, waktu, dan jarak tempuh ketika mengunjungi suatu geowisata. Jarak dan ketersediaan akses sarana dan prasarana ke geosite merupakan hal penting yang akan berpengaruh dengan jumlah kedatangan pengunjung. Maka kenyamanan selama perjalanan menuju daerah wisata dan kawasan harus lebih diperhatikan.
Geosite Singkapan Granit dapat dijangkau dengan mudah dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti mobiil, sepeda motor, ataupun jalan kaki tetapi belum memiliki kendaraan umum khusus untuk mengunjungi Kawasan Geopark. Dari Geopark Information Center (GIC) menuju geosite Geopark Silokek membutuhkan waktu kuran lebih 30 menit. Akses jalan menuju geosite sudah beraspal tetapi terdapat sedikit kerusakan jalan dan jembatan ketika menuju gerbang depan kawasan Geopark Silokek, selain itu akses jalan sudah cukup bagus. Pada kawasan geosite Geopark Silokek belum memiliki tempat parkir khusus bagi pengunjung yang datang. Pada parameter ini Singkapan Granit mendapatkan nilai 0,5 dari 1 karena lokasi parkir berjarak kurang dari 1 km dengan tempat parkir masih di dekat perumahan warga (Gambar IV.19).
Gambar IV.19. Lokasi parkir pengunjung Singkapan Granit
41 Pada geosite Air Terjun Sangkiamo mendapatkan nilai 0,5 dari 1 karena lokasi parkir kurang dari 1 km dari geosite, tetapi sama seperti geosite Singkapan Granit, lokasi parkir Air Terjun Sangkiamo juga belum memiliki tempat parkir khusus. Selain itu akses jalan menuju air terjun sangat sempit yang hanya memungkinkan motor untuk melewati jalan tersebut, jika ada mobil yang ingin masuk mereka harus parkir di tempat parkir Singkapan Granit karena lokasi Air Terjun Sangkiamo berdekatan dengan Singakapan Granit (Gambar IV.18).
Berbeda dengan geosite Air Terjun Sangkiamo, geosite Air Terjun Kajai sudah memiliki lokasi parkir untuk kendaraan pengunjung yang datang. Nilai geosite Air Terjun Kajai pada parameter ini adalah 0,5 dari 1 karena lokasi parkir kurang dari 1 km dari geosite (Gambar IV.19). Akses jalan dari parkiran menuju geosite juga tidak terlalu sulit daripada akses jalan Air Terjun Sangkiamo yang terjal, akses jalan Air Terjun Kajai merupakan dataran (Gambar IV.20;21).
Gambar IV.20.Akses jalan menuju Air Terjun Sangkiamo
42 Gambar IV. 21.Lokasi Parkir Air Terjun Kajai
Adapun upaya – upaya yang dapat meningkatkan aksesibilitas pada ketiga geosite ini antara lain :
1. Meminta bantuan pengelola Geopark Silokek untuk memberi papan petunjuk arah agar memudahkan pengunjung untuk mengunjungi geosite.
2. Memperbaiki akses jalan menuju geosite.
3. Memberdayakan masyarakat lokal untuk menyediakan transportasi umum agar memudahkan pengunjung berpindah tempat antar geosite satu dengan geosite lain, mengingat lokasi antar geosite tidak semuanya berdekatan.
b) Infrastruktur
Parameter selanjutnya adalah infrastruktur yang berperan sangat penting dalam pengembangan sektor pariwisata. Pengunjung akan merasa nyaman jika memiliki sarana prasarana serta fasilitas yang memadai. Pada parameter infrastruktur, Singkapan Granit mendapatkan nilai 1 dari 1 dimana Singkapan berada kurang dari 5 km dari fasilitas pariwisata yang telah ada. Pada Singkapan Granit hanya memiliki petunjuk informasi berupa barcode, selain itu fasilitas seperti toilet, gazebo, dll cukup jauh dimana fasilitas tersebut terletak di geosite Ngalau Basurek (Gambar IV.22).
43 Gambar IV. 22. Fasilitas yang meiliki jarak kurang dari 5 km dari geosite
Singkapan Granit
Pada geosite Air Terjun Sangkiamo memiliki nilai 1 dari 1 karena berada kurang dari 5 km dari fasilitas terdekat yaitu fasilitas yang terletak pada Ngalau Basurek. Sedangkan pada Air Terjun Kajai memiliki fasilitas berupa tempat teduh yang terletak kurang dari 5 km dari geosite Air Terjun Kajai, sehingga mendapat penilaian pada parameter infrastruktur yaitu 1 dari 1 (Gambar IV.23).
Gambar IV. 23.Fasilitas yang disediakan pada Air Terjun Kajai, yaitu (a) tempat teduh, (b) tempat sampah
44 Upaya – upaya yang dapat meningkatkan infrastruktur di Kawasan Geopark Silokek :
1. Menambahkan fasilitas berupa tempat sampah ditempat yang belum memiliki tempat sampah dan menyediakan toilet di setiap geosite.
2. Membuat sarana ibadah agar pengunjung tida harus keluar ketika ingin beribadah.
3. Menyediakan kantin untuk para pengunjung yang ingin mencari makan.
4. Pengadaan jaringan telekomunikasi, internet, dan listrik yang sangat dibutuhkan dala area geosite guna kenyamanan untuk mendapatkan informasi maupun mengirimkan informasi secara cepat.
c) Produk Lokal
Selain mengembangkan keragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya, mendorong pertumbuhan ekonomi warga lokal dan daerah juga merupakan pemberdayaan masyarakat. Sebagai geosite, Singkapan Granit, Air Terjun Sangkiamo, dan Air Terjun Kajai belum memiliki produk lokal yang diproduksi disekitar masing-masing kawasan geosite, tetapi memiliki produk lokal khas Geopark Silokek secara keseluruhan. Sehingga hasil penilaian untuk parameter produk lokal pada ketiga geosite tersebut adalah 0,5 dari 1 karena memiliki produk lokal terkait dengan kawasan geopark meskipun tidak dijual di sekitar kawasan geosite. Produk lokal yang ada di Geopark Information Center (GIC) diantaranya ikat kepala dan masker dengan motif songket(Gambar IV.22 (a)), cenderamata yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitar Kawasan Geopark Silokek(Gambar IV.22 (c-d), dan teh daun gaharu (Gambar IV.22 (d)).
45 Gambar IV.24. Produk lokal yang disediakan di GIC diantaranya (a)ikat kepala
dan masker motif songket, (b-c) cenderamata ramah lingkungan, (d) teh daun gaharu
Upaya –upaya yang dapat meningkatkan pengeololaan produk lokal, yaitu :
1. Menentukan produk-produk lokal yang memiliki potensi ekonomi yang dapat membantu perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan bahan – bahan yang berasal dari alam setempat.
2. Branding nama geosite dengan produk lokal yang akan dipromosikan sehingga munculnya timbal balik positif sehingga dapat meningkatkan permintaan pasar jika sampai ke masyarakat lain di seluruh indonesia maupun luar.
3. Pengadaan tempat – tempat penjualan produl lokal di setiap kawasan geosite.
46 IV.2.1.4 Nilai Konservasi
Kegiatan konservasi sumberdaya alam geologi sangat diperlukan untuk pencegahan kerusakan yang nantinya akan menurunkan arti dan fungsi dari warisan geologi yang ada. Dengan perbedaan tatanan geologi di setiap tempat, menjadikan kawasan daerah memilik potensi bencana maupun sumberdaya alam yang berbeda – beda. Dengan adanya potensi bencana, memungkinkan kawasan geopark untuk meningkatkan upaya mitigasi bencana guna melindungi setiap warisan geologi yang ada.
a) Risiko Nyata
Risiko nyata merupakan risiko bencana yang telah terjadi atau yang sudah pasti terjadi di kawasan geosite. Pada geosite Singkapan Granit memiliki nilai 0 dari 1 karena memiliki risiko tinggi baik alami maupun buatan. Risiko pada Singkapan Granit tersebut berupa banjir bandang. Menurut warga sekitar, banjir bandang dengan skala besar terjadi setiap 1 tahun sekali, dimana banjir bandang tersebut dapat menutupi akses Desa Silokek atau tertutupnya akses jalan menuju kawasan Geopark Silokek sehingga masyarakat yang ingin masuk harus melewati jalan lain karena akses jalan biasa dilewati telah tertutup banjir bandang akibat hujan lebat (Gambar IV.25).
Gambar IV. 25.Risiko nyata berupa banjir bandang pada kawasan Singkapan Granit
47 Pada geosite Air Terjun Sangkiamo memiliki penilaian 0,5 dari 1 karena memiliki risiko yang dapat mengganggu. Risiko nyata yang dapat mengganggu tersebut berupa banjir bandang, hal itu tidak terlalu mengganggu masyarakat karena lokasi geosite itu sendiri tidak dekat dengan perkampungan warga dan banjir bandang yang terjadi tidak sebesar Singkapan Granit karena sungai yang ada pada Air Terjun tidak terlalu besar (Gambar IV.26).
Gambar IV. 26.Risiko Nyata pada Air Terjun Sangkiamo yaitu banjir bandang Pada geosite Air Terjun Kajai mendapatkan penilaian 0,5 dari 1 karena risiko bersifat mengganggu. Risiko nyata tersebut berupa banjir bandang, tetapi karena lokasi berada cukup jauh dari perumahan warga jadi tidak terlalu berisiko tinggi seperti pada Singkapan Granit (Gambar IV.27).
Gambar IV.27.Risiko nyata Air Terjun Kajai yaitu banjir bandang
48 b) Risiko Berpotensial
Risiko berpotensial merupakan ancaman bencana yang masih bersifat potensi atau belum tentu terjadi. Pada Singkapan Granit memiliki risiko berpotensial berupa longsor karena ada beberapa lereng – lereng yang cukup terjal jika harus turun melihat geosite Singkapan Granit itu sendiri. Penilaian yang didapatkan Singkapan Granit pada parameter ini adalah 0,5 dari 1 yaitu adanya risiko yang dapat mengganggu. Kemudian geosite Air Terjun Sangkiamo memiliki potensi longsor akibat lereng yang cukup terjal sehingga memungkinkan adanya bencana longsor sehingga mendapatkan nilai 0,5 dari 1. (Gambar IV.28)
Gambar IV.28.Risiko berpotensial pada kawasan Air Terjun Sangkiamo Pada geosite Air Terjun Kajai memiliki risiko berpotensial berupa longsor karena lereng – lereng di sekitar kawasan cukup terjal sehingga adanya potensi longsor pada geosite sehingga pengunjung yang datang harus waspada meskipun potensi yang tidak terlalu besar. Penilaian yang didapatkan Air Terjun Kajai pada risiko berpotensial ini sebesar 0,5 dari 1.
Adapu upaya – upaya yang dapat mengurangi risiko nyata maupun berpotensial pada kawasan geopark, diantaranya :
1. Membentuk tim keamanan bencana di Kawasan Geopark Silokek.
49 2. Pembuatan poster dan banner atau papan informasi mengenai adanya
potensi bahaya pada kawasan geowisata.
3. Pembuatan Early warning system, seperti pemasangan pemantau tinggi muka air otomatis.
4. Tindak tegas apabila adanya penebangan pohon secara ilegal pada lereng – lereng disekitar kawasan geosite.
c) Status Site
Situs geologi merupakan komponen – komponen geologi yang memiliki fungsin sebagai jejak rekaman penting sejarah bumi. Begitu juga dengan geosite Singkapan Granit, Air Terjun Sangkiamo, dan Air Terjun Kajai memiliki warisan geologi yang harus dijaga kelestariannya. Singkapan Granit memiliki nilai 0,5 dari 1 karena kemungkinan site untuk rusak ada tapi ada management untuk mencegahnya. Masih banyak hal yang harus ditinjau dan diperbaiki agar status site tetap terjaga. Ketika hujan,masih banyak ditemukan sampah disekitar sungai maupun pinggiran sungai maupun pertambangan liar. Akan tetapi, pihak pengelola Geopark Silokek telah mengambil langkah untuk menjaga agar geosite tersebut tetap terjaga.
Geosite Air Terjun Sangkiamo mendapatkan nilai 0,5 dari 1 karena adanya kemungkinan kerusakan tapi pihak pengelola sudah ada management untuk mencegahnya. Adanya proses pemindahan kayu dari atas air terjun, memungkinkan singkapan – singkapan tersebut akan rusak akibat terkikis secara terus - menerus. Pihak pengelola Geopark Silokek juga belum bisa melarang karena itu sudah menjadi rutinitas mereka dan untuk membantuk perekonomian mereka. Geosite Air Terjun Kajai mendapatkan nilai 1 dari 1 karena tidak adanya kerusakan yang ditimbulkan manusia, tidak adanya penambangan liar, jadi geosite ini kemungkinan bisa terjaga tanpa adanya kerusakan.
Adapun upaya – upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar geosite tetap terjaga :
1. Membuat peraturan khusus mengenai larangan untuk merusak geosite dan sanksi yang tegas apabila ada yang melanggar.
2. Memasang papan peringatan agar tidak merusak kelestarian geosite.
50 3. Memaksimalkan seluruh upaya konservasi.
d) Peraturan Daerah
Penilaian mengenai parameter peraturan daerah pada ketiga geosite ini memiliki nilai 1 dari 1 karena telah memiliki peraturan daerah yang mengatur kawasan Geopark Silokek. Situs – situs geologi di kawasan Geopark Silokek secara otomatis memperoleh perlindungan tingkat nasional melalui SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK.603/menlhk/setjen/PLA.2/8/2016 Tentang Penetapan Fungsi Pokok Kawasan Suaka Alam Kawasan Pelestarian Alam Sebagai Taman Wisata Alam Batang Pangia I di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung Provinsi Sumatera Barat yang menetapkan kawasan menjadi konservasi seluas lebih dari 14.288 Ha. Pada tingkat Kabupaten untuk perlindungan Kawasan Geopark Silokek dikukuhkan melalui Perda Kabupaten Sijunjung No. 5 tahun 2012tentang rencana tata ruang Kabupaten Wilayah Sijunjung tahun 2011 – 203.
(Silokek, Masterplan Geopark Silokek, 2019)Selain itu juga telah dibuat Master Plan untuk pengembangan Kawasan Geopark Silokek dan Detail Design Engineering (DED) yang telah disiapkan untuk beberapa objek pengembangan setiap situs geologi. Selain itu adanya Perbup No. 10 tahun 2019, Peraturan Bupati (PERBUP) tentang Konservasi Lingkungan Hidup di Kawasan Geopark Silokek.
Adapun beberapa masukan terhadap pemerintah daerah mengenai kelestarian geosite :
1. Pemerintah harus melakukan kajian yang lebih dalam pada aspek yuridis, teoritis, dan normatif untuk perlindungan hukum geopark demi perkembangan geopark.
2. Pemerintah daerah dapat mengoptimalkan atraksi wisata yang ada pada kawasan geowisata.
3. Menyusun standar prosedur manajemen pariwisata.
IV.2.1.5 Nilai Tambahan
Nilai tambah merupakan nilai – nilai yang dapat mendukung daya tarik suatu kawasan geowisata yang mencangkup kebudayaan sekitar, ekologi, estetika,
51 jumlah pola dan struktur ruang sebagai penunjang daya tarik wisatawan lewat media visualisasi.
a) Budaya
Cerita sejarah, budaya, tradisi, dan seni bisa menjadi daya tarik untuk menarik kedatangan para wisatawan. Terkait budaya langsung di geosite Singkapan Granit, Air Terjun Sangkiamo, dan Air Terjun Kajai itu masih belum ada sehingga nilai yang didapatkan adalah 0 karena tidak memiliki unsur budaya.
Adapun kebudayaan – kebudayaan yang berkembang di sekitar Kawasan Geopark Silokek adalah :
Budaya merupakan sebuah kepribadian dan jati diri suatu daerah. Di Kabupaten Sijunjung, salah satu cara melestarikan dan memperthanakna seni budaya Minang kepada generasi muda dengan membentuk kegiatan kesenian anak nagari yang kini sudah jarang ditemui di daerah lain. Salah satu budaya nya adalah randai. Randai tidak hanya sekedar tarian yang diiringi musik dan nyanyian saja, akan tetapi ada kisah yang diceritakan yang memiliki makna dan petuah tentang tata cara dan norma adat yang di junjung tinggi dalam hidup bermasyarakat di Minangkabau, berisikan nasehat tentang hal – hal yang harus dan tabu untuk dilakukan dalam keseharian. Randai memiliki ciri khas sorakan (gorai) dan tepukan celana yang berukuran lebar (galembong). Setiap gerakan dan kata – kata yang dituturkan memiliki makna dan maksud tertentu dalam penyampaian kepada penonton. Terdapat nilai yang dikiaskan dalam lantunan nyanyian dan kisah dengen tujuan agar pendengar bisa mengambil hikmah dan mengimplementasikan dalam kehidupan. Pada umumnya randai diadakan pada saat perayaan HUT Kabupaten Sijunjung.( (Silokek, Dosier Geopark Silokek, Sumatera Barat, 2018) (Gambar IV.29).
52 Gambar IV.29.kesenian randai dari Ranah Minang (sumber foto : pinhome)
Tari Mandulang Ameh berawal dari sebuah kegiatan Mandulang Ameh disungai yang disebut Batang Palangki, sebagaimana diketahui pekerjaan seperti itu membutuhkan fisik maupun mental dan dukungan solidaritas antar pekerja. Alat untuk Mandulang Ameh seperti kuali atau nampan besi yang digunakan masyarakat palangki yang disebut “JAE” yang dijadikan sebagai properti dalam tari Mandulang Ameh. properti JAE tersebut terbuat dari kayu yang dibentuk menyerupai kuali atau nampan besi. Properti lainnya yaitu “LAWAK” terbuat dari tanduk kerbau asli yang digunakan untuk meletakkan emas yang sudah didapat. Dari sisi penari tidak ditentukan jumlahnya. Kostum yang digunakan dalam tari Mandulang Ameh yaitu bagi wanita memakai aksesoris dikepala yaitu kain sarung bugis yang dililit sedangkan kostumnya memakai baju kurung dengan bawahan kain sampian, serta ikat pinggang dari kain. Untuk laki – laki memakai aksesoris kepala deta sedangkan kostumnya memakan baju silat biasa dengan sarawa galembong untuk bawahanny (Gambar IV.30).
53 Gambar IV. 30.Tari Mandulang Ameh yang diperagakan oleh anak sd di Daerah
Silokek b) Ekologi
Ekologi memiliki peran penting dalam pengembangan geosite. Kekayaan alam yang ada di kawasan Geopark Silokek cukup banyak untuk dilestarikan, karena memiliki nilai ekologi yang tinggi. Pada geosite Singkapan Granit, Air Terjun Sangkiamo, dan Air Terjun Kajai mendapatkan nilai 1 dari 1 karena pentingnya pengaruh aspek geomorfik terhadap ekologi di sekitarnya. ketiga geosite tersebut memiliki sungai dan pada sungai tersebut terdapat ikan gariang.
Ikan gariang tersebut merupakan ikan larangan, karena budidaya ikan tersebut sangat susah karena mereka hidup di sungai yang memiliki arus yang cukup deras sehingga hanya bisa dipanen setiap 1 tahun sekali. Tempat konservasi dari ikan gariang ini disebut “Lubuk Larangan” dimana masyarakat dilarang menangkap dan memancing di zona ini. Sebagai penanda bagi pengunjung biasanya dibuatkan papan penanda bahwa kawasan tersebut adalah terlarang. Ada mitos dari masyarakat langsung bahwa orang yang menangkap atau memancing ikan tersebut akan mengalami kutukan berupa sakit perut yang hebat dan masyarakat mempercayai hal tersebut (Gambar IV.31).
54 Gambar IV. 31.Ikan Gariang di Sumatera Barat( sumber foto : detik travel) Adapun tumbuhan pandan hutan yang cukup banyak persebarannya di sekitar Air Terjun Kajai yang menambah keindahan Kawasan Air Terjun Kajai (Gambar IV.32).
Gambar .IV .32.Tumbuhan Pandan Hutan yang memiliki persebaran cukup banyak di Kawasan Geopark Silokek
Upaya – upaya yang dapat membantu melestarikan ekologi diantaranya adalah : 1. Membuat papan peringatan untuk tidak membuang limbah ke sungai dan
mengadakan sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang limbah ke sungai.
2. Mengadakan sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan di setiap geosite.
c) Estetika
55 Estetika merupakan sesuatu yang berhubungan dengan keindahan, seni, rasa yang muncul ketika adapnya penciptaan dan apresiasi terhadap keindahan tersebut. berbagai pemandangan alam seperti pegunungan, laut, pantai, danau, hutan, sungai, dan berbagai fitur geografis lainnya masing – masing meiliki nilai estetika atau keindahan yang akan menjadikan daya tarik tersendiri sebagai geowisata. Pada geosite Singkapan Granit mendapatkan penilaian 1 dari 1 dari parameter estetika ini. Pemandangan sungai dikuti dengan jembatan, Singkapan Granit, bukit karst, dan tumbuhan sekitar menambah estetika yang nantinya menambah daya tarik pengunjung sehingga pengunjung tertarik mengunjungi geosite tersebut (Gambar IV.33).
Gambar IV. 33.Estetika Kawasan Singkapan Granit yang menambah estetika geosite
Pada geosite Air Terjun Sangkiamo dan Air Terjun Kajai memiliki estetika yang hampir sama, dimana terdapat lereng – lereng dengan pemandangan air terjun yang diikuti dengan sungai yang menambah keestetikan geosite tersebut(Gambar IV.34;Gambar IV.35)
56 Gambar IV. 34.Pemandangan Air Terjun Sangkiamo
Gambar IV. 35.Pemandangan Air Terjun Kajai d) Jumlah Pola
Selain estetika, jumlah pola juga berperan penting dalam menarik pengunjung untuk hadir. Dengan pola – pola unik akan memunculkan karakteristik dari geosite tersebut sehingga pengunjung yang mendatangi tempat tersebut merasa antusias saat berkunjung. Singkapan Granit memiliki nilai 0,5 dari 1 pada parameter jumlah pola karena memiliki 2 atau 3 pola yang dapat dibedakan yaitu pola tidak beraturan, pola persegi panjang, serta pola tinggi dan menjulang untuk pepohonan (Gambar IV.36).
57 Gambar IV.36.Pola yang Tersedia pada kawasan Singkapan Granit
Pada geosite Air Terjun Sangkiamo memiliki nilai 0,5 dimana memiliki jumlah pola 2 – 3 pola yaitu daun – daun, pohon, singkapan batuan yang menambah daya tarik ketika mengunjungi geosite tersebut. Pada geosite Air Terjun Kajai mendapatkan nilai 0,5 pada parameter jumlah pola. Pola – pola tersebut diantaranya adalah pepohonan, singkapan(Gambar IV.37;Gambar IV.38).
Gambar IV. 37.Jumlah Pola pada Air Terjun Sangkiamo
58 Gambar IV. 38.Pola - pola yang ada di Air Terjun Kajai
e) Struktur Ruang dan Pemandangan
Struktur ruang adalah parameter penilaian terakhir yang penting untuk mengundang wisatawan untuk mengunjungi suatu geowisata. Struktur ruang adalah kesatuan jaringan yang lengkap yang terdiri dari elemen – elemen yang saling mempengaruhi pada perkembangan geosite, struktur ruang berguna bagi pengunjung karena mereka akan mencari tempat foto yang bagus yang memperlihatkan struktur ruang dari masing – masing geosite. Struktur ruang pada Singkapan Granit cukup unik karena memperlihatkan pemandangan granit, bukit bukit karst, dan tumbuh - tumbuhan yang jarang ditemui di tempat lain.
Pengunjung dapat mengambil foto melalui jembatan granit sehingga kedua struktur ruang tersebut dapat terlihat dengan jelas. Nilai dari parameter struktur ruang untuk Singkapan Granit ini adalah 1 dari 1(Gambar IV.39;Gambar IV.40;Gambar IV.41).
59 Gambar IV.39.Pemandangan Singkapan Granit pada bagian Utara
Gambar IV. 40. Pemandangan Singkapan Granit pada bagian Selatan
Gambar IV. 41.Pemandangan Singkapan Granit dari Jembatan Sangkiamo
60 Pada Struktur ruang geosite Air Terjun Sangkiamo memiliki berbagai struktur ruang diantarnya singkapan dengan bentuk yang tidak beraturan, Sungai, vegetasi, dan air terjun yang memanjang. Penilaian yang didapatkan pada geosite ini adalah 0,5 dari 1 (Gambar IV.42).
Gambar IV.42.Pemandangan Air Terjun Sangkiamo dari bagian timur Pada Struktur ruang geosite Air Terjun Kajai memiliki berbagai struktur ruang diantarnya singkapan dengan bentuk yang tidak beraturan, Sungai, vegetasi, dan air terjun yang memanjang. Penilaian yang didapatkan pada geosite ini adalah 0,5 dari 1 untuk parameter struktur ruang (Gambar IV.43;Gambar IV.44).
Gambar IV. 43.Pemandangan Air Terjun Kajai dari bagian Selatan
61 Gambar IV. 44.Pemandangan Air Terjun Kajai dari bagian Timur
62
BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut :
1. Penelitian dilakukan pada 3 geosite Geopark Silokek, geosite tersebut adalah Singkapan Granit, Air Terjun Sangkiamo, dan Air Terjun Kajai.
Dimana aspek penilaian mengacu kepada Kubalikova, 2013 dan Pusat Survei Geologi, 2017. Aspek penilaian Kuablikova, 2013 antara lain nilai pendekatan ilmiah, nilai pendidikan, nilai ekonomi, nilai konservasi, dan nilai tambahan. Sedangkan pada Pusat Survei Geologi, 2017 aspek penilaian berupa nilai sains, nilai edukasi, nilai pariwisata, dan nilai degradasi.
2. Berdasarkan penilaian Pusat Survei Geologi 2017, Singkapan Granit mendapatkan total nilai 284,25 (penilaian scientific sedang), Air Terjun Sangkiamo mendapatkan total nilai 273 (penilaian scientific sedang), dan Air Terjun Kajai mendapatkan total nilai 284,25 (penilaian scientific sedang).
3. Untuk mencapai tujuan dari geopark itu sendiri diperlukan evaluasi secara berkala untuk menguatkan aspek – aspek pembangunan dengan memberikan
3. Untuk mencapai tujuan dari geopark itu sendiri diperlukan evaluasi secara berkala untuk menguatkan aspek – aspek pembangunan dengan memberikan