II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Nilai Ekonomi Sumberdaya Lahan
Dalam ekonomi sumberdaya lahan dikenal istilah rent. Pada suatu bidang lahan sekurang-kurangnya terdapat 4 jenis rent, yaitu : (1) Richardian Rent; yang menyangkut fungsi kualitas dan kelangkaan lahan; (2) Locational Rent; yang menyangkut fungsi aksesibilitas lahan; (3) Ecological Rent; yang menyangkut fungsi ekologi lahan; dan (4) Sociological Rent; yang menyangkut fungsi sosial dari lahan (Nasoetion dan Rustiadi, 1990).
Sewa lahan merupakan konsep penting dalam teori ekonomi sumberdaya lahan (Suparmoko, 1997), yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Sewa (contract rent),adalah pembayaran dari penyewa kepada pemilik lahan, dimana pemilik melakukan kontrak sewa dalam jangka waktu tertentu.
b. Keuntungan usaha (economic rent atau land rent), merupakan surplus pendapatan di atas biaya produksi atau harga inputlahan yang memungkinkan faktor produksi lahan dapat dimanfaatkan dalam proses produksi.
Contract rent dan land rent, merupakan dua konsep sewa penting yang digunakan dalam ekonomi sumberdaya lahan. Kedua konsep tersebut hanya berbeda dalam satu hal, yaitu pada contract rent termasuk pembayaran yang sebenarnya kepada pemilik lahan. Pembayaran ini dapat lebih tinggi dan dapat juga lebih rendah dari surplus pendapatan (land rent) yang seharusnya diterima oleh pemilik. Kekurangan maupun kelebihan dari surplus pendapatan merupakan hak dari penyewa. Dalam pembahasan mengenai sewa lahan, maka konsep kedua
(land rent)yang lebih penting.
Teori sewa lahan model klasik yang banyak digunakan adalah konsep sewa yang dikemukakan oleh David Ricardo dan Von Thunen (Ritson, 1978). Ricardo menguraikan konsep sewa atas dasar perbedaan dalam kesuburan tanah, terutama pada masalah sewa di sektor pertanian. Sewa lahan akan meningkat apabila lahan semakin subur. Hal ini terjadi karena dengan meningkatnya tingkat kesuburan tanah maka produksi yang dihasilkan juga akan meningkat. Pendapat Ricardo dirumuskan sebagai berikut (Randall, 1987) :
Qi = ai f(L,h,F) ………...… (1)
dimana :
Qi = produksi tanaman i
ai = proporsi tanaman i pada suatu areal
L = jumlah tenaga kerja h = luas lahan
F = tingkat kesuburan
Untuk satu satuan luas lahan, misal satu hektar (h = 1), maka tingkat produksi tanaman i adalah :
qi = ai f(l,F)
qi = Qi/h = tingkat produksi per satu satuan luas lahan
l = L/h = jumlah tenaga kerja per satu satuan luas lahan
Apabila jumlah tenaga kerja per hektar yang diperlukan dalam pengelolaan lahan yang subur sama dengan lahan yang kurang subur, maka meningkatnya tingkat kesuburan akan meningkatkan produksi.
Selanjutnya Ricardo menguraikan :
= Piai f(l,F) - wl - ph(F) ………...………(2)
dimana :
= tingkat keuntungan per satuan luas lahan Pi = harga per unit output
w = upah tenaga kerja
ph = land rentlahan berdasar tingkat kesuburan
Pada saat tingkat keuntungan sama dengan nol, maka besarnya land rent
adalah :
ph(F) = P
iai f(l,F) – wl ……… (3)
= Piqi - wl
Apabila harga output, upah tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja per satu satuan luas lahan tetap, maka peningkatan produksi (sebagai akibat meningkatnya kesuburan) akan menyebabkan peningkatanland rent.
Teori sewa tanah model klasik yang kedua adalah teori sewa tanah menurut Von Thunen yang berpendapat bahwa faktor lokasi menentukan besar kecilnya
land rent. Perbedaan land rent tersebut berkaitan dengan perlunya biaya transport dari daerah yang jauh ke pusat pasar. Pengaruh biaya transport kaitannya dengan perpindahan produk dari berbagai lokasi ke pasar terhadap land rent disajikan pada Gambar 3.
Dalam Gambar 3.a dilukiskan bahwa semakin jauh jarak lokasi lahan dari pasar akan menyebabkan semakin tingginya biaya transportasi. Misalnya pada jarak 0 (tepat di lokasi pasar), biaya transportasi nol dan biaya total setinggi OC, besarnya land rent adalah CP. Pada jarak OK, biaya total menjadi KT, karena biaya transport meningkat menjadi UT, sehingga pada jarak OK tidak lagi terdapat
lahan dengan pasar, semakin jauh dari pasar land rentsemakin murah, seperti yang digambarkan pada Gambar 3.b.
Rp Land T rent P Land rent Biaya Transport C U O K L M Jarak ke pasar Jarak ke pasar (a) (b)
Gambar 3 : Pengaruh Biaya Transport Produk Dari Berbagai Lokasi ke Pasar Terhadap Land Rent (Barlowe, 1986, hal.141;
Suparmoko, 1997, hal. 177)
Besarnya land rent tersebut dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Randall, 1987 dan Koestoer, 1994) :
R = (P-td)Y – C ………...….. (4) dimana,
R = land rent($/km2)
Y = jumlah produksi (tons/km2)
P = harga pasar dari produk ($/ton) C = biaya produksi ($/ton)
t = biaya transport ($/ton/km) d = jarak ke pasar (km)
Pendapat Von Thunen didasari oleh hasil pengamatannya, yang melihat berbagai tanaman yang dihasilkan oleh daerah-daerah subur dekat pusat pasar dan ditemukan bahwa land rent lebih tinggi dari daerah-daerah yang lebih jauh dari pusat pasar. Perbedaan tersebut menimbulkan perbedaan jenis tanaman yang ditanam mulai dari yang dekat dengan pasar sampai yang jauh dari pasar, seperti terlihat pada Gambar 4.
Land Rent RA (a) . . RB RC
M Jarak dari pasar
Jarak dari pasar
Tanam- Tanaman Tanaman an A B C M
Jarak dari pasar (b)
Jarak dari pasar
Gambar 4 : Penentuan Jenis Tanaman Berdasarkan Hubungan Land Rent Dengan Jarak Dari Pusat Pasar (Ritson, 1978, hal.203)
Gambar 4.a menggambarkan perbedaan land rent terhadap jarak untuk berbagai jenis tanaman. Garis-garis tersebut mempunyai kemiringan (slope) yang negatif yang berarti semakin jauh lokasi lahan dari pusat pasar maka biaya
pengangkutan yang dibutuhkan semakin besar. Karena biaya pengangkutan semakin besar, maka land rent-nya semakin kecil, sehingga garisnya menurun. Tanaman A merupakan jenis tanaman yang mudah rusak, sehingga butuh biaya pengangkutan yang besar karena harus segera sampai di pasar. Kondisi ini digambarkan dengan slopenya paling tajam dibandingkan dengan tanaman B dan C.
Dalam penentuan lokasi tanaman, maka tanaman A harus ditanam di daerah yang dekat dengan pusat pasar. Tanaman B dan C ditanam di daerah yang lebih jauh dari pasar, seperti yang disajikan pada Gambar 4.b. Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa :
RA> RB> RC
dimana,
R = land rent
A,B dan C = jenis-jenis tanaman
Ada beberapa keterbatasan teori Von Thunen tersebut, sehingga sukar untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk land rent pada keadaan yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang tidak konstan, seperti jumlah pasar berubah setiap saat, faktor-faktor produktivitas dan fisik yang berbeda-beda untuk daerah satu dengan daerah lainnya. Teori Von Thunen hanya khusus digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan land rent berdasarkan faktor lokasi saja (Koestoer, 1994).
Selanjutnya land rent ini pulalah yang menentukan tinggi rendahnya harga lahan yang bersangkutan. Lahan-lahan yang lokasinya dekat pasar oleh masyarakat digunakan untuk daerah pusat kegiatan ekonomi, yang akan memberikan pendapatan dan nilai sewa yang tinggi untuk berbagai alternatif penggunaan lahan, seperti untuk industri dan kegiatan lain yang lebih menguntungkan (Suparmoko, 1997).
Land rentsesungguhnya merupakan cermin dari harga yang terbentuk melalui mekanisme pasar. Namun dalam kenyataan land rent yang mencerminkan mekanisme pasar selama ini hanya menyangkut Richardian Rent dan Locational Rent, sementara Ecological Rent dan Sociological Rent tidak sepenuhnya terjangkau oleh mekanisme pasar. Dengan demikian mekanisme pasar dari sumberdaya lahan tidak selalu mencerminkan kelangkaan sumberdaya tersebut.
Dalam jangka panjang, apabila keadaan tersebut tetap dipertahankan maka akan terjadi percepatan konversi lahan pertanian ke non pertanian.