• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Valuasi Ekonomi Konversi Lahan Pertanian ke Non Pertanian

Valuasi ekonomi konversi lahan pertanian ke non pertanian dilakukan dengan pendekatan nilai manfaat multifungsi lahan pertanian yang hilang akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian. Nilai manfaat multifungsi lahan pertanian yang dianalisis dalam penelitian ini terbatas pada : (1) nilai manfaat sebagai penghasil produksi pertanian, (2) nilai manfaat sebagai penyedia lapangan kerja, (3) nilai manfaat sebagai pencegah erosi dan sedimentasi, serta (4) nilai manfaat sebagai pengendali tata air. Besarnya nilai manfaat untuk masing-masing fungsi tersebut adalah :

a. Nilai Manfaat Sebagai Penghasil Produksi Pertanian

Lahan pertanian di Sub DAS Keduang yang dikonversi menjadi lahan non pertanian terdiri atas lahan sawah, sawah tadah hujan, ladang/tegalan dan lahan perkebunan. Potensi kehilangan produksi pertanian apabila lahan sawah dikonversi menjadi lahan non pertanian setiap hektarnya

adalah padi sebesar 114 kw/tahun dan jagung 62 kuintal/tahun. Nilai ekonomi dari komoditas tersebut sekitar Rp 40 juta per tahun. Nilai manfaat multifungsi lahan sawah sebagai penghasil produksi pertanian yang telah hilang sebesar Rp 720 juta per tahun.

Apabila lahan sawah tadah hujan yang dikonversi menjadi lahan non pertanian, maka setiap hektar lahan yang dikonversi akan kehilangan potensi produksi padi sebesar 90,5 kuintal/tahun dan jagung 62 kuintal per tahun. Nilai ekonomi kedua komoditas tersebut sekitar Rp 35 juta per tahun. Nilai manfaat multifungsi lahan sawah tadah hujan sebagai penghasil produksi pertanian yang telah hilang sebesar Rp 1.540 juta per tahun.

Dari analisis di atas dapat disusun model nilai ekonomi produksi pertanian yang hilang akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian, yang diagram alirnya dapat dilihat pada Gambar 32.

FKLP Luas_Konversi_LP Luas_Sub_DAS Harga_Jagung Nilai_Jagung Produktivitas_Padi Harga_Padi Nilai_SI Harga_PKC Produktivitas_PKC Nilai_PKC Produktivitas_TL Harga_TL Nilai_TL Nilai_Padi_SI Produktivitas_Jagung Produksi_Padi_STH Harga_Padi_STH Nilai_Padi_STH Nilai_STH Laju_KLP Nilai_STH_Hilang Nilai_TL_HilangNilai_PKC_Hilang Laju_Nilai_PP_Hilang Nilai_SI_Hilang Nilai_PP_Hilang

Gambar 32. Diagram Alir Model Nilai Produksi Pertanian Yang Hilang Akibat Konversi Lahan Pertanian ke Non Pertanian

Nilai ekonomi produksi pertanian yang hilang apabila ladang/tegalan yang dikonversi ke lahan non pertanian, adalah Rp 7 juta per hektar per

tahun. Lahan ladang/tegalan di Sub DAS Keduang yang telah dikonversi ke non pertanian seluas 66 hektar, dengan demikian nilai manfaat multifungsi lahan sebagai penghasil produksi pertanian yang telah hilang sebesar Rp 462 juta per tahun. Untuk lahan perkebunan dengan tanaman utamanya adalah jambu mete, maka nilai ekonomi produksi pertanian yang hilang sekitar Rp 6 juta per hektar per tahun. Nilai manfaat multifungsi lahan perkebunan sebagai penghasil produksi pertanian yang telah hilang sebesar Rp 1.014 juta per tahun.

Berdasarkan hasil analisis di atas, maka rata-rata nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai penghasil produksi pertanian yang telah hilang akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian sebesar Rp 22 juta per hektar/tahun. Secara akumulatif nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai penghasil produksi pertanian yang telah hilang akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian sebesar Rp 3,7 milyar per tahun.

Hasil prediksi nilai produksi pertanian yang hilang akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian seperti digambarkan pada Gambar 33.

Tahun Ke

Nilai Produksi Pertanian Yang Hilang

(milyar rupiah) Nilai_PP_Hilang 1 0 5 10 15 20 25 30 0 100 200 300 400 500 1 1 1 1 1 1 1

Gambar 33. Grafik Kecenderungan Nilai Produksi Pertanian Yang Hilang Akibat Konversi Lahan Pertanian Ke Non Pertanian

b. Nilai Ekonomi Lahan Non Pertanian

Pada tahun 2008 harga lahan sawah berkisar antara Rp 30 – 50 ribu per m2dan lahan kering (tegal/kebun) berkisar antara Rp 25 – 40 ribu per m2tergantung lokasi lahannya. Apabila lahan pertanian tersebut dikonversi menjadi lahan non pertanian (pemukiman) maka harga lahan akan berubah menjadi antara Rp 50 – 300 ribu per m2. Dengan demikian, adanya konversi lahan pertanian ke non pertanian akan terjadi peningkatan harga lahan sebesar Rp 25 – 275 ribu per m2atau rata-rata meningkat sebesar Rp 150 ribu per m2atau Rp 1,5 milyar per hektar

Meningkatnya harga lahan yang cepat tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Randall (1987), yaitu perkembangan harga lahan pertanian akan berjalan lambat, namun apabila pada suatu waktu lahan tersebut diubah ke penggunaan non pertanian, maka harganya akan meningkat dengan cepat, jauh melebihi apabila lahan tersebut tetap dipergunakan untuk pertanian (lihat Gambar 7 Terdahulu).

c. Nilai Manfaat Sebagai Penyedia Lapangan Kerja

Pada setiap musim tanam usahatani padi sawah menyerap tenaga kerja 270 hari kerja pria (HKP), untuk padi gogo menyerap tenaga kerja 180 HKP, palawija (jagung) 70 HKP, ubi kayu 40 HKP dan tanaman perkebunan (jambu mete) sebesar 25 HKP. Adanya konversi lahan pertanian ke non pertanian, maka potensi sebagai penyedia lapangan kerja sesuai komoditas yang ditanam tersebut akan hilang. Upah tenaga kerja pria pada saat penelitian sebesar Rp 30 ribu per HKP, maka nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai penyedia lapangan kerja yang hilang untuk masing-masing komoditas sebesar Rp 8,1 juta untuk padi sawah, Rp 5,4 juta untuk padi gogo, Rp 2,1 juta untuk jagung, Rp 1,2 juta untuk ubi kayu dan Rp 0,75 juta untuk tanaman perkebunan (jambu mete).

Nilai manfaat multifungsi yang hilang dari lahan sawah sebagai penyedia lapangan kerja apabila lahan sawah dikonversi menjadi lahan non pertanian setiap hektarnya adalah sebesar Rp 18,3 juta per tahun. Apabila lahan sawah tadah hujan yang dikonversi menjadi lahan non pertanian, maka setiap hektar lahan yang dikonversi akan kehilangan

potensi sebagai penyedia lapangan kerja dengan nilai manfaat sebesar Rp 15,6 juta per tahun. Nilai manfaat multifungsi lahan pertanian penyedia lapangan kerja yang hilang apabila ladang/tegalan yang dikonversi ke lahan non pertanian, adalah Rp 1,2 juta per hektar per tahun. Untuk lahan perkebunan dengan tanaman utamanya adalah jambu mete, maka nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai penyedia lapangan kerja yang hilang sekitar Rp 0,75 juta per hektar per tahun.

Dari keempat jenis lahan pertanian tersebut, maka rata-rata nilai manfaat multi fungsi lahan pertanian sebagai penyedia lapangan kerja adalah sebesar Rp 9 juta per hektar per tahun. Konversi lahan pertanian ke non pertanian di Sub DAS Keduang yang telah terjadi menyebabkan hilangnya nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai penyedia lapangan kerja setiap tahun sebesar Rp 1,2 milyar, dengan rincian Rp 329,4 juta untuk lahan sawah, Rp 686,4 juta untuk lahan sawah tadah hujan, Rp 79,2 juta untuk lahan ladang/tegalan dan lahan perkebunan sebesar Rp 126,75 juta. Luas_Konversi_LP Harga_Naker Naker_PKC Nilai_Naker_Hilang Laju_Nina_Hilang Nina_SI_Hilang Nina_STH_Hilang Naker_Jagung Naker_Padi_SI Naker_Padi_STH FKLP Luas_Sub_DAS Laju_KLP Naker_TL Nina_TL_HilangNina_PKC_Hilang

Gambar 34. Diagram Alir Model Nilai Ekonomi Penyedia Lapangan Kerja Yang Hilang Akibat Konversi Lahan Pertanian ke Non Pertanian

d. Nilai Manfaat Sebagai Pencegah Erosi dan Sedimentasi

Adanya erosi akan menyebabkan kerugian, baik di bagian hulu maupun di hilir DAS. Untuk Sub DAS Keduang adanya erosi akan menyebabkan sedimentasi waduk Wonogiri. Nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai pencegah erosi didekati melalui nilai kerugian yang timbul akibat adanya erosi, baik di hulu maupun di hilir Sub DAS. Metode valuasi ekonomi yang digunakan terdiri atas 2 cara :

1) Penilaian di hulu (on-site)

Metode valuasi ekonomi yang digunakan untuk melakukan penilaian di hulu adalah dengan biaya pengganti (replacement cost) kehilangan tanah dan unsur hara yang hilang akibat erosi.

a) Biaya Ganti Kehilangan Tanah

Banyaknya kehilangan tanah akibat erosi dapat diganti dengan menghitung biaya sewa truk dan upah tenaga kerja untuk meratakan tanah dengan anggapan bahwa tanah yang tererosi dan terendap di waduk dapat dikembalikan ke daerah semula dan diratakan sesuai dengan keadaan sebelum erosi. Besarnya biaya ganti atas kehilangan tanah pada daerah penelitian adalah Rp. 37,9 milyar per tahun atau Rp. 900.000 per hektar per tahun.

b) Biaya Ganti Kehilangan Unsur Hara

Proses erosi tanah selain menyebabkan perpindahan partikel tanah juga mengakibatkan hilangnya unsur hara yang ada dalam tanah. Kandungan unsur hara N, P, K, dan bahan organik tanah di Sub DAS Keduang disajikan pada Tabel 38.

Tabel 38. Hasil Analisis Tanah di Sub DAS Keduang

No. Parameter Analisis Nilai Harkat 1. N-Total (%) 0,24 Sedang 2. P-tersedia (ppm) 16,26 Sedang 3. K-dapat ditukar (me/100g) 0,39 Sedang 4. Bahan organik (%) 5,04 Tinggi Sumber : Nippon Koei Co Ltd & PPLH Lemlit UNS (2002)

Besarnya unsur hara yang hilang karena erosi merupakan perkalian antara besarnya jumlah tanah yang tererosi dengan proporsi kandungan unsur hara dari satu ton tanah yang tererosi

tersebut. Adapun besarnya kehilangan unsur hara N, P, K, dan bahan organik akibat terjadinya erosi di Sub DAS Keduang disajikan pada Tabel 39.

Tabel 39. Jumlah unsur hara yang hilang tiap hektar lahan No. Unsur Hara yang Jenis

Hilang

Jumlah unsur hara

setiap 1 ton tanah Jumlah unsur hara yang hilang tiap hektar lahan

1. N (Kg) 2,4 105,2

2. P (g) 16,26 712,5

3. K (g) 39 1.710,0

4. Bahan organik (Kg) 50,4 2.210,0 Sumber: Analisis Data Sekunder

Erosi tanah menyebabkan unsur hara dalam tanah ikut terbawa, sehingga produktivitas tanah berkurang. Unsur hara dalam tanah yang hilang diperhitungkan dengan menggunakan biaya pembelian pupuk untuk mengembalikan kesuburan tanah. Unsur hara yang dianalisis adalah unsur N, P, K dan bahan organik. Biaya ganti kehilangan unsur hara N, P, K, dan bahan organik didekati dengan biaya ganti pembelian pupuk Urea, SP36, KCl, dan pupuk kandang, dengan menggunakan harga non subsidi. Besarnya biaya ganti kehilangan unsur hara pada daerah penelitian disajikan dalam Tabel 40.

Tabel 40. Biaya Ganti Kehilangan Unsur Hara di Sub DAS Keduang Unsur Hara Yang

Hilang Biaya Ganti per Hektar (Rp/ha) Biaya Ganti per Luas Area Keseluruhan (juta rupiah) Unsur N 1.250.000 51.870 Unsur P 9.000 350 Unsur K 20.000 850 Bahan Organik 1.105.000 46.700 Jumlah 2.384.000 99.770 Sumber : Analisis Data Sekunder

Dari Tabel 40 dapat diketahui bahwa besarnya biaya ganti kehilangan unsur hara per luas area Sub DAS Keduang secara keseluruhan adalah sebesar Rp. 99,8 milyar per tahun, yang terdiri

dari biaya ganti unsur N sebesar Rp. 51,9 milyar, biaya ganti unsur P sebesar Rp. 350 juta, biaya ganti unsur K sebesar Rp. 850 juta dan biaya ganti bahan organik sebesar Rp. 46,7 milyar. Biaya ganti kehilangan unsur hara per hektar tanah di Sub DAS Keduang adalah sebesar Rp. 2,4 juta/ha/tahun, yang terdiri dari biaya ganti unsur N sebesar Rp. 1,25 juta, biaya ganti unsur P sebesar Rp. 9 ribu, biaya ganti unsur K sebesar Rp. 20 ribu dan biaya ganti bahan organik sebesar Rp. 1,1 juta. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa biaya ganti unsur N dan bahan organik merupakan biaya ganti terbesar dibandingkan dengan unsur-unsur hara lainnya.

c) Nilai Ekonomi Erosi di Hulu

Nilai ekonomi erosi di hulu Sub DAS Keduang merupakan penjumlahan dari biaya ganti tanah dan biaya unsur hara yang hilang akibat proses erosi. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa nilai ekonomi erosi di Sub DAS Keduang adalah sebesar Rp. 137,7 milyar/tahun atau Rp. 3,3 juta/ha/tahun.

Ada kemungkinan masyarakat tidak mengetahui bahwa secara ekonomi kerugian yang diakibatkan oleh erosi adalah sangat besar. Nilai ekonomi erosi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi masyarakat di daerah penelitian dan Pemerintah setempat agar lebih serius dalam melakukan tindakan-tindakan konservasi DAS. Pengelolaan DAS yang lebih serius melalui pengendalian faktor-faktor penyebab erosi perlu terus dilakukan agar tercipta kelestarian sumberdaya lahan, sehingga keberlanjutan usahatani dapat terjaga.

2) Penilaian di Hilir (Off-site)dengan biaya pengerukan sedimen

Sedimentasi terus menerus mengancam keberadaan Waduk Wonogiri. Adanya sedimentasi dapat mengurangi umur ekonomis waduk. Dampak konversi lahan pertanian terhadap umur ekonomis waduk dihitung berdasarkan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan pengerukan. Metode valuasi yang digunakan dengan pendekatan biaya perbaikan/biaya pengerukan sedimen. Dari hasil perhitungan prediksi

erosi dan Sediment Delivery Ratio (SDR) diketahui jumlah sedimen yang masuk ke Waduk Wonogiri yang berasal dari Sungai Keduang sebesar 160 ribu ton per tahun. Biaya yang diperlukan untuk melakukan pengerukan setiap m3 adalah Rp 15 ribu. Untuk melakukan pengerukan sedimen yang berasal dari Sungai Keduang dibutuhkan biaya sebesar 1,65 milyar per tahun atau Rp 40 ribu per hektar/tahun.

Dari hasil penilaian di hulu dan di hilir tersebut dapat diketahui besarnya kerugian setiap tahun akibat erosi di Sub DAS Keduang adalah sebesar Rp 140 milyaratauRp 3,34 juta per hektar.

e. Nilai Manfaat Pengendali Tata Air

Analisis nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai pengendali tata air dilakukan dengan pendekatan nilai ekonomi air di Sub DAS Keduang, baik di bagian hulu maupun hilir DAS.

1) Nilai Ekonomi Air di Hulu (on-site)

Nilai ekonomi air di hulu dihitung berdasarkan nilai pemanfaatan air di hulu DAS Waduk, yaitu digunakan untuk keperluan air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya serta untuk air irigasi. Besarnya nilai ekonomi air di hulu adalah Rp 5 milyar, yang terdiri dari nilai ekonomi air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya di hulu adalah Rp 4,5 milyar dan nilai ekonomi irigasi nilainya adalah Rp 0,5 milyar. Rincian perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11.

2) Nilai Ekonomi Air di Hilir (off-site)

Penilaian dilakukan dengan pendekatan manfaat yang hilang akibat kurangnya pasokan air.

NEA = NEPL + NEAM + NEAKI + NEI + NEP + NER NEA = nilai ekonomi air (Rp)

NEPL = nilai ekonomi produksi listrik (Rp) NEAM = nilai ekonomi air minum (Rp)

NEAKI = nilai ekonomi air untuk kebutuhan industri (Rp) NEI = nilai ekonomi air untuk irigasi (Rp)

NEP = nilai ekonomi perikanan (Rp) NER = nilai ekonomi rekreasi (Rp)

Dari hasil perhitungan diketahui nilai ekonomi air di hilir DAS Waduk Keduang adalah Rp 760 milyar. Rincian nilai ekonomi air di hilir dari berbagai pemanfaatannya dapat dilihat pada Lampiran 12, 13,14, 15, 16 dan 17.

Dari hasil analisis tersebut, maka nilai manfaat multifungsi lahan pertanian sebagai pengendali tata air di Sub DAS Keduang sebesar Rp 765 milyar per tahun atau Rp 24,5 juta per hektar/tahun. Lahan pertanian di Sub DAS Keduang yang telah dikonversi ke non pertanian seluas 297 hektar, dengan demikian nilai manfaat multifungsi lahan pertanian yang telah hilang sebesar Rp 7,3 milyar per tahun.

Nilai manfaat multifungsi lahan pertanian yang telah hilang akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian secara akumulatif sebesar Rp 13,2 milyar per tahun atau sebesar Rp 44,5 juta per hektar per tahun. Nilai manfaat tersebut akan hilang selamanya, karena konversi lahan pertanian ke non pertanian bersifat tidak dapat pulih (irreversible).

Tabel 41. Perubahan Penggunaan Lahan di DAS Waduk Wonogiri No. Jenis Penggunaan

Lahan Satuan 1993 2003 (1993 vs 2003)Neraca 1. Sawah ha 49.330 48.415 -915 2. Hutan/Perkebunan ha 24.680 18.640 -6.040 3. Tegalan/Ladang ha 22.380 29.290 6.910 4. Permukiman ha 26.380 27.280 900 5. Lain-lain ha 10.555 9.700 -855 Jumlah ha 133.325 133.325 Sumber : Saido (2004)

Perubahan penggunaan lahan di DAS Waduk Wonogiri antara tahun 1993 dan tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 41. Dari Tabel 41 dapat diketahui bahwa lahan sawah di DAS Waduk Wonogiri telah berkurang seluas 915 hektar atau sekitar 91,5 hektar per tahun dan lahan hutan/perkebunan telah berkurang 6.040 hektar atau sekitar 600 hektar per tahun. Lahan permukiman meningkat 900 hektar atau 0,68% dari luas DAS Waduk Wonogiri. Rata-rata laju pertumbuhan lahan pemukiman per tahun 0,07%. Jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan pemukiman di Sub DAS Keduang pada tahun 1993-2005 (0,04% per tahun), nilai tersebut jauh lebih besar.

Berdasarkan hasil analisis nilai manfaat multifungsi lahan pertanian di Sub DAS Keduang, maka nilai manfaat multifungsi lahan pertanian di DAS Waduk Wonogiri yang telah hilang sebesar Rp 310 milyar per tahun. Nilai tersebut akan lebih besar lagi seiring dengan meningkatnya konversi lahan pertanian ke non pertanian di wilayah DAS Waduk Wonogiri.