• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Nilai-nilai Kebudayaan dalam Umpasa Adat Pernikahan Batak Toba

4.2.1 Nilai-nilai Kebudayaan Secara Universal

4.2.1.12 Nilai Gotong Royong

Secara etimologi istilah gotong-royong merupakan istilah asli Indonesia yang berasal dari kata gotong yang artinya “bekerja” dan royong yang atinya

“bersama-sama” sehingga para ahli berpendapat bahwa pengertian nilai-gotong royong ini adalah bekerja bersama-sama untuk mendapatkan suatu hasil yang diinginkan. Nilai gotong-royong yang terdapat dalam umpasa adat pernikahan Batak Toba adalah sebagai berikut:

1. Pege sakarimbang

(Jahe satu segerombol) Halas sa hadang-hadangan

(Lengkuas satu bakul) Rap mangangkat bere tu ginjang

(Sama-sama melompat bere ke atas) Rap manimbung marsipasangapan

(Sama-sama turun saling menghargai)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai royong. Nilai gotong-royong dalam umpasa di atas dinyatakan oleh isi umpasa “rap mangangkat bere

tu ginjang, rap manimbung marsipasangapan”, merupakan suatu wujud kekompakan diantara sesama anggota keluarga sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan, dan kata rap yang mengandung arti bersama merupakan lambang dari rasa saling tolong-menolong.

4.2.1.13 Nilai Pengelolaan Gender.

Nilai pengelolaan gender merupakan nilai pembagian peran kedudukan antara tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat yang dianggap sesuai dengan adat-istiadat, norma, kepercayaan bahkan kebiasaan masyarakat tertentu. Nilai pengelolaan gender yang terdapat dalam umpasa adat pernikahan Batak Toba adalah sebagai berikut:

1. Eme piniar-piar

(Padi yang ditampi) Na jomurni pardegean

(Dijemur dengan diinjak) Sorang ma di hamu anak na pistar

(Hadirlah dikalian anak yang pintar) Dohot boru boi pangalualuan

(Dengan perempuan tempat pengaduan)

Pada data umpasa ini mengandung nilai pengelolaan gender. Umpasa di atas disampaikan kepada pengantin sebagai doa dan pengharapan agar keluarga mempelai memiliki anak yang pintar-pintar. Sorang ma di hamu anak na pistar, artinya lahirlah di kalian seorang anak laki-laki yang pintar dan bijaksana, Dohot boru boi pangalualuan, artinya lahirlah juga anak perempuan yang menjadi tempat pengaduan dan bertukar pikiran.

2. Bogot na marijuk

(Aren yang berijuk)

Bogot ni Purbatua

(Aren dari Purbatua)

Dilehon Tuhan ma di hamu anak na bisuk (Tuhan akan mengaruniakan anak pintar) Dohot boru si boan tua

(dan putri pembawa damai)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai pengelolaan gender. Umpasa di atas disampaikan kepada pengantin sebagai bentuk doa dan harapan kepada Tuhan agar dikaruniakan anak. Nilai pengelolaan gender pada umpasa di atas dinyatakan pada umpasa “dilehon Tuhan” artinya semoga diberikan Tuhan-lah kalian anak yang bisuk (cerdas). Dilehon Tuhan ma hamu anak na bisuk, dohot boru si boan tua yang maknanya semoga mereka dikaruniakan Tuhan anak laki-laki yang pintar dan anak perempuan pembawa damai dan kebahagiaan.

2. Simbora na gukguk (Timalah penuh) Rerak dohot di amak

(Berserak di atas tikar) Sai mamora ma hita luhut

(Semoga kayalah kita) Sai torop ma dohot anak

(Dan banyaklah anak)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai pengelolaan gender. Umpasa di atas disampaikan kepada pengantin sebagai bentuk doa dan harapan kepada Tuhan agar dengan harapan mereka memiliki banyak keturunan. Nilai pengelolaan gender dalam umpasa di atas dinyatakan oleh isi umpasa “sai torop ma dohot anak” yang makna dari umpasa di atas semoga mereka memiliki banyak anak. Anak yang dimaksud dalam umpasa ini adalah anak yang berjenis

kelamin laki-laki, karena anak laki-laki adalah anak yang sangat berharga, ahli waris, memelihara dan melaksanakan hukum adat serta penyambung silsilah dalam budaya Batak Toba.

3. Tubuma hariara

(Tumbuhlah pohon) Di partukkoan ni huta

(Di tengah-tengah desa) Tubuma anak na marsangap

(Tumbuhlah anak laki-laki yang terhormat) Dohot boru na martua

(Dengan anak perempuan yang bahagia)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai pengelolaan gender. Umpasa di atas disampaikan kepada pengantin sebagai bentuk doa dan harapan kepada Tuhan agar dikaruniakan anak. Nilai pengelolaan gender pada umpasa di atas dinyatakan pada umpasa “tubuma anak na marsangap, dohot boru na martua”

yang artinya lahirlah anak laki-laki yang terhormat dan anak perempuan yang bahagia. Pengharapan pada umpasa di atas merujuk pada kata tubuma yang artinya lahirlah serta tumbuhlah seorang anak laki-laki yang (marsangap) bijaksana, terhormat dan terpandang begitupula dengan anak perempuan yang (namartua) bahagia. Namartua dalam umpasa di atas adalah anak perempuan yang lahir adalah anak yang selalu berbahagia dan membawa kebahagiaan serta kedamaian dalam keluarga tersebut.

3.2.1.14 Nilai Pelestarian.

Pelestarian merupakan suatu usaha atau kegiatan untuk merawat, melindungi dan mengembangkan objek pelestarian yang memiliki nilai guna untuk dilestarikan. Nilai-nilai pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia

untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting bagi generasi selanjutnya. Nilai pelestarian yang terdapat dalam umpasa adat pernikahan Batak Toba adalah sebagai berikut:

1. Didurung ma dengke (Ditangguk ikan) Dapot ma dengke pora-pora

(Dapatlah ikan pora-pora) Tamba ni na gabe

(Tambahnya memiliki keturunan) Sai tibuma hamu mamora

Semoga cepatlah kalian menjadi kaya)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai pelestarian. Nilai pelestarian dinyatakan pada umpasa “didurung ma dengke, dapot ma dengke pora-pora”.

Hal yang ingin dilestarikan adalah jenis ikan yang terkenal dari masyarakat Batak Toba. Ikan pora-pora merupakan ikan kecil yang rasanya nikmat dan banyak dijumpai di air tawar atau danau. Ikan pora-pora yang dimaksud dalam umpasa saat penyampaiannya terhadap kedua mempelai bertujuan sebagai salah satu pelestarian budaya agar hal yang dimaksud tetap hidup dan bertahan dalam ingatan si penyampai dan pendengar umpasa.

2. Ruma ijuk

(Rumah adat beratap ijuk) Tu ruma gorga

(Menjadi rumah adat yang penuh ukiran) Sai tubuma anak na bisuk

(Semoga lahirlah putra kalian yang pintar) Dohot boru na lambok marroha

(Dan perempuan yang lembut hatinya)

Pada data umpasa di atas mengandung pelestarian. Nilai pelestarian budaya dinyatakan oleh isi umpasa “ruma ijuk, tu ruma gorga” merupakan hasil ciptaan masyarakat Batak Toba sebagai warisan budayanya dan hanya ditemukan pada budaya Batak Toba. Hal yang ingin dilestarikan adalah rumah adat Batak Toba yaitu ruma ijuk dan ruma gorga. Ruma ijuk adalah rumah adat Batak Toba yang atapnya terbuat dari ijuk yang bersifat dingin dan mampu menyejukkan, sedangkan ruma gorga adalah rumah adat Batak Toba yang memiliki banyak ukiran, bersifat mewah dan kemakmuran.

3. Tangkas jabu suhat

(Nyatanya bagian kiri rumah adat) Laos tangkas do jabu bona

(Serta nyata bagian kanan rumah adat) Sai tangkas ma hamu maduma

(Semoga benarlah kalian makmur) Laos tangkas ma nang mamora

(Serta benarlah kalian kaya)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai pelestarian. Nilai pelestarian budaya dinyatakan dalam isi umpasa “Tangkas jabu suhat, laos tangkas do jabu bona” adalah hasil ciptaan masyarakat Batak Toba sebagai warisan budayanya dan hanya ditemukan pada rumah adat budaya Batak Toba. Hal yang ingin dilestarikan adalah jabu suhat dan jabu bona. Kedua hal tersebut merupakan bagian dalam rumah adat Batak Toba. Jabu suhat adalah bagian kiri rumah adat Batak Toba yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya keluarga sedangkan jabu bona adalah bagian kanan rumah adat Batak Toba yang berfungsi sebagai tempat tidur dan tempat penyimpanan barang berharga.

4.2.1.15 Nilai Kreativitas Budaya.

Nilai kreativitas budaya merupakan daya cipta mewujudkan suatu budaya yang belum pernah ada atau budaya yang sudah ada dengan kreasi baru yang tentunya dianggap menarik perhatian karena berbeda dengen budaya lain, dan umpasa yang mengandung nilai kreativitas budaya. Nilai kreativitas budaya yang terdapat dalam umpasa adat pernikahan Batak Toba adalah sebagai berikut:

1. Ruma ijuk

(Rumah adat beratap ijuk) Tu ruma gorga

(Menjadi rumah adat yang penuh ukiran) Sai tubuma anak na bisuk

(Semoga lahirlah putra kalian yang pintar) Dohot boru na lambok marroha

(Dan perempuan yang lembut hatinya)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai kreativitas budaya. Nilai kreativitas budaya dinyatakan oleh isi umpasa “ruma ijuk, tu ruma gorga”

merupakan hasil ciptaan masyarakat Batak Toba sebagai warisan budayanya dan hanya ditemukan pada budaya Batak Toba.

2. Tangkas jabu suhat

(Nyatanya bagian kiri rumah adat) Laos tangkas do jabu bona

(Serta nyata bagian kanan rumah adat) Sai tangkas ma hamu maduma

(Semoga benarlah kalian makmur) Laos tangkas ma nang mamora

(Serta benarlah kalian kaya)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai kreativitas budaya. Nilai kreativitas budaya dinyatakan dalam isi umpasa“Tangkas jabu suhat, laos

tangkas do jabu bona” adalah hasil ciptaan masyarakat Batak Toba sebagai warisan budayanya dan hanya ditemukan pada rumah adat budaya Batak Toba

4.2.2 Nilai-nilai Kebudayaan pada Umpasa Secara Khusus dikebudayaan Adat Pernikahan Batak Toba.

Adapun nilai kebudayaan secara khusus dikebudayaan Batak Toba dalam Siahaan, Harahap (1987) memunyai sembilan nilai kebudayaan, yaitu: Nilai kekerabatan, religi, hagabeon, hasangapon, hamoraon, hamajuon, hukum (patik dohot uhum), pengayoman, dan konflik. Dari kesembilan nilai budaya Batak di atas, terdapat tiga nilai utama yang dipandang sebagai misi budaya orang Batak, yaitu: Hagabeon,Hasangapon, Hamoraon yang juga disebut misi budaya 3H.

Tiga cita-cita yang merupakan misi budaya Batak dikenal dengan 3H yakni:

1. Nilai Hagabeon (Banyak keturunan dan panjang umur) 2. Nilai Hamoraon (Kaya raya)

3. Nilai Hasangapon (Kehormatan dan kemuliaan)

Umpasa dalam acara adat pernikahan Batak Toba hanya memiliki nilai-nilai yang baik bagi kehidupan manusia kedepannya. Berikut dijabarkan nilai-nilai kebudayaan secara khusus dikebudayaan adat Batak Toba:

4.2.2.1 Nilai Hagabeon (Banyak keturunan dan panjang umur)

Nilai Hagabeon merupakan kebahagian apabila mempunyai keturunan atau anak baoa (laki-laki) dan boru (perempuan) dan memiliki cucu dari anak-anaknya tersebut. Saat ia memiliki anak yang sudah menghidupi keluarganya sendiri serta memiliki cucu maka ia akan disebut gabe. Hagabeon menjadi puncak

saat cucu bahkan cicit bisa ia lihat saat ia masih hidup dan masih bisa berkumpul dengan keluarga.

1. Sahat-sahat ni solu

(Sampai-sampainya sampan) Sahat ma tu bontean

(Sampai ke dermaga) Leleng hita mangolu

(Lama kita hidup) Sai sahat tu panggabean

(Semoga sampai ke panggabean)

Pada data umpasa di atas, isi umpasa “leleng hita mangolu” memunyai nilai hagabeon yang mendoakan agar kelak semua keluarga kedua belah pihak akan panjang umur di dunia ini agar dapat melihat cucu/cicit dari anak-anaknya.

2. Giring-giring gosta-gosta (Lonceng-lonceng kecil) Binoan tu onan Sarulla

(dibawa ke pasar Sarulla)

Hatop ma hamu mangiring-iring jala marompa-ompa (Cepatlah kalian menatah serta menggendong anak) Dongan saur matua

(Teman hingga hari tua nanti)

Pada data umpasa di atas, mengandung nilai hagabeon. Nilai hagabeon dinyatakan pada isi umpasa “hatop ma hamu mangiring-iring jala marompa-ompa, dongan saur matua” menjelaskan bahwa harapan untuk cepat-cepat memunyai anak, agar kelak anak tersebut yang menjadi teman orang tua sampai hari tua orang tua.

3. Bintang na rumiris

Tu ombun na sumorop

(Di embun pagi yang berjejer) Anak pe antong riris

(Anak laki-laki pun berderet) Boru pe torop

(Anak perempuan pun banyak)

Pada data umpasa di atas menggambarkan nilai hagabeon. Nilai hagabeon dinyatakan pada isi umpasa“anak pe antong riris, boru pe torop” menjelaskan bahwa harapan agar hadirnya akan banyak keturunan anak laki-laki dan anak perempuan.

4. Eme piniar piar

(Padi yang dijemur) Na jomurni pardegean

(Dijemur dengan diinjak) Sorang ma di hamu anak na pistar

(Hadirlah dikalian anak yang pintar) Dohot boru boi pangalualuan

(Dengan perempuan tempat pengaduan)

Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hagabeon. Nilai hagabeon dinyatakan dalam isi umpasa“sorang ma hamu anak na pistar, dohot boru boi pangalualuan” menjelaskan bahwa harapan akan hadirnya anak laki-laki yang pintar dan anak perempuan yang baik hatinya.

4.2.2.2 Nilai Hasangapon (Kehormatan dan Kemuliaan)

Nilai hasangapon mencakup, kemuliaan, kewibawaan, karisma, dan suatu bentuk kehormatan serta menjadi suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan dan cita-cita bagi setiap individu. Nilai ini memberi

dorongan kuat pada orang Toba pada zaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan, kewibawaan, karisma dan kekuasaan.

1. Tinaba hau toras

(Ditebang kayu tua) Mambaen sopo di balian

(Membuat gubuk di ladang) Burju ma hamu na matoras

(Berbaik hatilah kalian kepada orang tua) Asa dapotan parsaulian

(Biar dapat berkat)

Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hasangapon. Nilai hasangapon dalam umpasa tersebut dinyatakan pada isi umpasa “burju ma hamu na matoras, asa dapotan parsaulian” menjelaskan bahwa seorang anak yang nantinya akan hadir di tengah-tengah keluarga haruslah berbuat baik kepada orang tua agar kelak seorang anak mendapatkan berkat dan doa restu dari orang tua.

Seorang anak yang baik dan murah hati pada orang tua tentunya akan lebih mudah untuk mendapatkan berkat “parsaulian” serta mudah dalam mencapai segala yang dicita-citakan sehingga membuat anak tersebut mulia dan keluarga tersebut menjadi terhormat dan terpandang.

2. Tubuma hariara

(Tumbuhlah pohon) Di partukkoan ni huta

(Di tengah-tengah desa) Tubuma anak na marsangap

(Tumbuhlah anak laki-laki yang terhormat) Dohot boru na martua

(Dengan anak perempuan yang bahagia)

Pada data umpasa di atas mengandung nilai hasangapon. Nilai hasangapon pada umpasa di atas dinyatakan pada isi umpasa “na marsangap”

yang artinya terhormat. Na marsangap dalam umpasa di atas adalah hadirnya anak yang terhormat di tengah-tengah keluarga akan menjadikan keluarga tersebut terhormat.

4.2.2.3 Nilai Hamoraon (Kaya Raya)

Nilai hamoraon (kaya raya) adalah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak khususnya orang Batak Toba, untuk bekerja keras mencari harta benda yang banyak hingga tercapai hamoraon (kaya raya).

1. Binuat ma hau toras

(Diambillah kayu yang sudah tua) Bahen tiang sopo dibalian

(Untuk membuat tiang gubuk di ladang) Sai gabe ma hamu jala horas-horas

(Semoga sukseslah kalian serta sehat selalu) Tiur-tiur ma hamu nang pansarian

(Murah rejeki juga)

Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hamoraon. Nilai hamoraon dinyatakan pada isi umpasa “sai gabe ma hamu jala horas-horas, tiur-tiur ma hamu nang pansarian” menjelaskan harapan semoga di dalam berkeluarga sehat, sukses dalam segala keinginan yang dicapai agar murah rejeki serta menjadi kaya raya.

2. Andor ras ma andor ris

(Tumbuhan rambat yang merambat ke mana-mana) Andor ni Lumban Tonga-tonga

(Tumbuhan rambat yang berasal dari daerah Lumban Tonga-tonga)

Sai horas ma hamujala torhis-torhis

(Selalu sehat dan begerak dengan leluasa) Hatop jala mamora

(Cepat mendapat kekayaan)

Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hamoraon. Nilai hamoraon dinyatakan pada isi umpasa ”sai horas ma hamu jala torhis-torhis, hatop jala mamora” menjelaskan harapan di dalam berkeluarga harus selalu dalam keadaan sehat selalu agar bisa bebas melakukan pekerjaan apapun itu agar mencapai kekayaan.

1. Simbora na gukguk

(Timah yang penuh) Rerak dohot di amak

(Berserak di atas tikar) Sai mamora ma hita luhut

(Semoga kayalah kita) Sai torop ma dohot anak

(Dan banyaklah anak)

Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hamoraon. Nilai hamoraon dinyatakan pada isi umpasa“sai mamora” menjelaskan harapan agar di masa yang akan datang akan menjadi kaya raya.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 SIMPULAN

Masyarakat suku Batak Toba merupakan masyarakat yang kaya akan budaya dan pesta adat. Walaupun demikian, pada setiap pesta adat yang dilakukan baik itu pesta adat pernikahan, kematian dan kelahiran tidak akan terlepas dari yang namanya umpasa. Umpasa berisi permohonan yang menjadi cita-cita hidup setiap masyarakat Batak Toba yaitu, hagabeon, hamoraon, hasangapon dan saur matua. Umpasa merupakan media komunikasi terhadap Tuhan Yang Maha Esa untuk memberikan nasehat yang berisi falsafah hidup kepada setiap orang baik dalam suka atau duka.

Adapun yang menjadi simpulan dari penelitian ini adalah:

1. Dalam data umpasa pernikahan Adat Batak Toba terdapat tiga makna umpasa yaitu:

1. Makna membandingkan 2. Makna menasihati

3. Makna mengharapkan sesuatu

2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap makna umpasa dalam adat pernikahan Batak Toba dapat disimpulkan adanya nilai-nilai budaya secara universal yang terdapat pada masyarakat Batak Toba yang bernilai baik bagi kehidupan seperti: nilai religi, kesopansantunan, kesetiakwanan sosial, kerukunan, komitmen, pikiran positif, rasa syukur, nilai kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong-royong, pengelolaan gender,

pelestarian, dan kreativitas budaya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap makna umpasa dalam adat pernikahan Batak Toba dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya secara khususyang terdapat pada masyarakat Batak Toba yaitu nilai hagabeon, nilai hamoraon, dan nilai hasangapon. Melalui umpasa-umpasa yang ada di dalam budaya Batak Toba, dapat disimpulkan bahwa umpasa merupakan cerminan atau menjadi ciri khas nilai budaya Batak Toba sebab umpasa adalah suatu bentuk ekspresi pikiran dan perasaan orang Batak Toba yang selalu muncul dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat meliputi peristiwa suka atau duka dan peristiwa besar atau kecil serta umpasa lebih cenderung berisi permohonan yang menjadi cita-cita hidup setiap masyarakat Batak Toba.

5.2 SARAN

Peranan bahasa sangat penting dalam memahami kebudayaan, dan peranan kebudayaan juga sangat penting dalam memahami bahasa. Komunikasi dalam bahasa akan mencapai sasaran apabila peserta komunikasi menempatkan bahasa di dalam konteks budayanya. Antropolinguistik adalah ilmu yang meneliti seluk beluk hubungan aneka pemakaian bahasa dengan pola kebudayaan dalam masyarakat tertentu atau ilmu yang mencoba mencari hubungan antara bahasa, penggunaan bahasa dan kebudayaan pada umumnya. Pengaruh globalisai atau pengaruh budaya luar juga memengaruhi akan identitas suatu budaya sehingga banyaknya generasi muda sekarang yang lupa akan budayanya sendiri. Untuk itu peneliti berharap agar peneliti-peneliti lain melakukan penelitian tentang kajian

Antropolinguistik dalam suku/etnik yang lain, khusunya untuk masyarakat Batak Toba agar tetap memakai dan mempertahankan umpasa dengan cara sering mengucapkan umpasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar keunikan dari umpasa yang merupakan ciri khas budaya Batak Toba tidak pudar ataupun punah.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Aminunddin. 1981. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Bangun, Payung. 1982. “Kebudayaan Batak” (dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Koentjaraningrat, editor, Jakarta: Djambatan, hlm. 94-116).

Basaria, Ida. 2012. Hipotesis Sapir-Whorf Pada Umpasa Batak Toba. Medan:

Fakultas Ilmu Budaya USU.

Basaria, Ida. 2012. Umpasa Batak Toba: Kajian Semiotik Budaya. Medan:

Fakultas Ilmu Budaya USU.

Bonvillian, Nancy. 1977. Language, Culture and Communication: The Meaning of Message. New Jersey; Prentice-Hall, Inc.

Debora, Maria. 2014. ”Makna Simbolik Upacara Adat Mangulosi (Memberi Ulos) Pada Siklus Kehidupan Masyarakat Pangunguran Kabupaten Samosir”.

(Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

Foley, William A. 1997. Antrophological Linguistics: An Introduction. New York: Blackwell.

Gibb, R. W. 1994. The Poetics of Mind Cambridge: Cambridge University Press.

Harahap, B. H dan Hotman M. Siahaan. 1987. Orientasi Nilai-nilai Budaya Batak. Jakarta: Sanggar Willem Iskandar.

KBBI. Edisi keempat. 2011. Jakarta: Balai Pustaka.

Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Nainggolan, Melisa. 2015. “Makna Ucapan dalam Pemberian Ulos pada

Perkawinan Adat Batak Toba: Kajian Antropolinguistik” (Skripsi).

Medan: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Panggabean, H.P. 2007.Adat Batak. Medan: CV Tulus Jaya.

Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta:Rineka Cipta.

Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: Poda.

Simbolon, dkk. 1986. Peranan Umpasa dalam Masyarakat Batak Toba. Jakarta:

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Simorangkir, Sumurung. 1998. Kajian Peribahasa Batak Toba. Medan:Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara.

Sinaga, Johandi. 2016. “Makna dan Arti Umpasa Batak Toba: Suatu Tinjauan Resepsi Sastra” (Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosda Karya.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana Univesity Press.

Tjiptada, B. 1984. Tata Bahasa Indonesia Cetakan II. Jakarta: Yudistira.

LAMPIRAN

DATA INFORMAN

Informan 1

Nama : Patman Simamora

Umur : 52 tahun

Pekerjaan : Petani

Alamat : Simangarongsang

Lama menjabat sebagai Raja Adat : ± 15 Tahun

Lama berdomisili : 52 tahun (sejak lahir) Poto diri

Informan 2

Nama : Hermat Simamora

Umur : 57 tahun

Pekerjaan : Petani

Alamat : Simangarongsang

Lama menjabat sebagai Raja Adat : ± 20 Tahun

Lama berdomisili : 57 Tahun (sejak lahir) Poto diri

Informan 3

Nama : Mangatas Simamora

Umur : 42 tahun

Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil

Alamat : Simangarongsang

Lama menjabat sebagai Raja Hata : ± 10 Tahun

Lama berdomisili : 42 Tahun (sejak lahir) Poto diri

LAMPIRAN FOTO

1. Wawancara dengan Bapak Patman Simamora

2. Wawancara dengan Bapak Hemat Simamora

3. Wawancara dengan Bapak Mangatas Simamora

Dokumen terkait