BAB IV PEMBAHASAN
4.2 Nilai-nilai Kebudayaan dalam Umpasa Adat Pernikahan Batak Toba
4.2.2 Nilai-nilai Kebudayaan pada Umpasa
4.2.2.3 Nilai Hamoraon
Nilai hamoraon (kaya raya) adalah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak khususnya orang Batak Toba, untuk bekerja keras mencari harta benda yang banyak hingga tercapai hamoraon (kaya raya).
1. Binuat ma hau toras
(Diambillah kayu yang sudah tua) Bahen tiang sopo dibalian
(Untuk membuat tiang gubuk di ladang) Sai gabe ma hamu jala horas-horas
(Semoga sukseslah kalian serta sehat selalu) Tiur-tiur ma hamu nang pansarian
(Murah rejeki juga)
Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hamoraon. Nilai hamoraon dinyatakan pada isi umpasa “sai gabe ma hamu jala horas-horas, tiur-tiur ma hamu nang pansarian” menjelaskan harapan semoga di dalam berkeluarga sehat, sukses dalam segala keinginan yang dicapai agar murah rejeki serta menjadi kaya raya.
2. Andor ras ma andor ris
(Tumbuhan rambat yang merambat ke mana-mana) Andor ni Lumban Tonga-tonga
(Tumbuhan rambat yang berasal dari daerah Lumban Tonga-tonga)
Sai horas ma hamujala torhis-torhis
(Selalu sehat dan begerak dengan leluasa) Hatop jala mamora
(Cepat mendapat kekayaan)
Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hamoraon. Nilai hamoraon dinyatakan pada isi umpasa ”sai horas ma hamu jala torhis-torhis, hatop jala mamora” menjelaskan harapan di dalam berkeluarga harus selalu dalam keadaan sehat selalu agar bisa bebas melakukan pekerjaan apapun itu agar mencapai kekayaan.
1. Simbora na gukguk
(Timah yang penuh) Rerak dohot di amak
(Berserak di atas tikar) Sai mamora ma hita luhut
(Semoga kayalah kita) Sai torop ma dohot anak
(Dan banyaklah anak)
Pada data umpasa di atas menjelaskan nilai hamoraon. Nilai hamoraon dinyatakan pada isi umpasa“sai mamora” menjelaskan harapan agar di masa yang akan datang akan menjadi kaya raya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 SIMPULAN
Masyarakat suku Batak Toba merupakan masyarakat yang kaya akan budaya dan pesta adat. Walaupun demikian, pada setiap pesta adat yang dilakukan baik itu pesta adat pernikahan, kematian dan kelahiran tidak akan terlepas dari yang namanya umpasa. Umpasa berisi permohonan yang menjadi cita-cita hidup setiap masyarakat Batak Toba yaitu, hagabeon, hamoraon, hasangapon dan saur matua. Umpasa merupakan media komunikasi terhadap Tuhan Yang Maha Esa untuk memberikan nasehat yang berisi falsafah hidup kepada setiap orang baik dalam suka atau duka.
Adapun yang menjadi simpulan dari penelitian ini adalah:
1. Dalam data umpasa pernikahan Adat Batak Toba terdapat tiga makna umpasa yaitu:
1. Makna membandingkan 2. Makna menasihati
3. Makna mengharapkan sesuatu
2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap makna umpasa dalam adat pernikahan Batak Toba dapat disimpulkan adanya nilai-nilai budaya secara universal yang terdapat pada masyarakat Batak Toba yang bernilai baik bagi kehidupan seperti: nilai religi, kesopansantunan, kesetiakwanan sosial, kerukunan, komitmen, pikiran positif, rasa syukur, nilai kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong-royong, pengelolaan gender,
pelestarian, dan kreativitas budaya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap makna umpasa dalam adat pernikahan Batak Toba dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya secara khususyang terdapat pada masyarakat Batak Toba yaitu nilai hagabeon, nilai hamoraon, dan nilai hasangapon. Melalui umpasa-umpasa yang ada di dalam budaya Batak Toba, dapat disimpulkan bahwa umpasa merupakan cerminan atau menjadi ciri khas nilai budaya Batak Toba sebab umpasa adalah suatu bentuk ekspresi pikiran dan perasaan orang Batak Toba yang selalu muncul dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat meliputi peristiwa suka atau duka dan peristiwa besar atau kecil serta umpasa lebih cenderung berisi permohonan yang menjadi cita-cita hidup setiap masyarakat Batak Toba.
5.2 SARAN
Peranan bahasa sangat penting dalam memahami kebudayaan, dan peranan kebudayaan juga sangat penting dalam memahami bahasa. Komunikasi dalam bahasa akan mencapai sasaran apabila peserta komunikasi menempatkan bahasa di dalam konteks budayanya. Antropolinguistik adalah ilmu yang meneliti seluk beluk hubungan aneka pemakaian bahasa dengan pola kebudayaan dalam masyarakat tertentu atau ilmu yang mencoba mencari hubungan antara bahasa, penggunaan bahasa dan kebudayaan pada umumnya. Pengaruh globalisai atau pengaruh budaya luar juga memengaruhi akan identitas suatu budaya sehingga banyaknya generasi muda sekarang yang lupa akan budayanya sendiri. Untuk itu peneliti berharap agar peneliti-peneliti lain melakukan penelitian tentang kajian
Antropolinguistik dalam suku/etnik yang lain, khusunya untuk masyarakat Batak Toba agar tetap memakai dan mempertahankan umpasa dengan cara sering mengucapkan umpasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar keunikan dari umpasa yang merupakan ciri khas budaya Batak Toba tidak pudar ataupun punah.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Aminunddin. 1981. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Bangun, Payung. 1982. “Kebudayaan Batak” (dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Koentjaraningrat, editor, Jakarta: Djambatan, hlm. 94-116).
Basaria, Ida. 2012. Hipotesis Sapir-Whorf Pada Umpasa Batak Toba. Medan:
Fakultas Ilmu Budaya USU.
Basaria, Ida. 2012. Umpasa Batak Toba: Kajian Semiotik Budaya. Medan:
Fakultas Ilmu Budaya USU.
Bonvillian, Nancy. 1977. Language, Culture and Communication: The Meaning of Message. New Jersey; Prentice-Hall, Inc.
Debora, Maria. 2014. ”Makna Simbolik Upacara Adat Mangulosi (Memberi Ulos) Pada Siklus Kehidupan Masyarakat Pangunguran Kabupaten Samosir”.
(Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.
Foley, William A. 1997. Antrophological Linguistics: An Introduction. New York: Blackwell.
Gibb, R. W. 1994. The Poetics of Mind Cambridge: Cambridge University Press.
Harahap, B. H dan Hotman M. Siahaan. 1987. Orientasi Nilai-nilai Budaya Batak. Jakarta: Sanggar Willem Iskandar.
KBBI. Edisi keempat. 2011. Jakarta: Balai Pustaka.
Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Nainggolan, Melisa. 2015. “Makna Ucapan dalam Pemberian Ulos pada
Perkawinan Adat Batak Toba: Kajian Antropolinguistik” (Skripsi).
Medan: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Panggabean, H.P. 2007.Adat Batak. Medan: CV Tulus Jaya.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta:Rineka Cipta.
Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: Poda.
Simbolon, dkk. 1986. Peranan Umpasa dalam Masyarakat Batak Toba. Jakarta:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Simorangkir, Sumurung. 1998. Kajian Peribahasa Batak Toba. Medan:Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara.
Sinaga, Johandi. 2016. “Makna dan Arti Umpasa Batak Toba: Suatu Tinjauan Resepsi Sastra” (Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosda Karya.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana Univesity Press.
Tjiptada, B. 1984. Tata Bahasa Indonesia Cetakan II. Jakarta: Yudistira.
LAMPIRAN
DATA INFORMAN
Informan 1
Nama : Patman Simamora
Umur : 52 tahun
Pekerjaan : Petani
Alamat : Simangarongsang
Lama menjabat sebagai Raja Adat : ± 15 Tahun
Lama berdomisili : 52 tahun (sejak lahir) Poto diri
Informan 2
Nama : Hermat Simamora
Umur : 57 tahun
Pekerjaan : Petani
Alamat : Simangarongsang
Lama menjabat sebagai Raja Adat : ± 20 Tahun
Lama berdomisili : 57 Tahun (sejak lahir) Poto diri
Informan 3
Nama : Mangatas Simamora
Umur : 42 tahun
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
Alamat : Simangarongsang
Lama menjabat sebagai Raja Hata : ± 10 Tahun
Lama berdomisili : 42 Tahun (sejak lahir) Poto diri
LAMPIRAN FOTO
1. Wawancara dengan Bapak Patman Simamora
2. Wawancara dengan Bapak Hemat Simamora
3. Wawancara dengan Bapak Mangatas Simamora