• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V.1.2. Nilai Guna Tidak Langsung

Kondisi penutupan lahan pada saat sebelum dilakukan rehabilitasi pada umunya adalah lahan kosong, atau ada sedikit tanaman dengan jumlah kurang dari 100 batang per ha. Perubahan penutupan lahan setelah dilakukan rehabilitasi mempengaruhi laju erosi menjadi lebih rendah dari pada sebelumnya. Menurut

75

hasil penilaian dampak lingkungan kegiatan rehabilitasi, dampak proyek hutan rakyat terhadap erosi tanah sudah nampak sejak 5 tahun pertama dan setelah 5 tahun pertama (Nawir et al., 2008). Dalam penelitian ini dampak pengurangan erosi dihitung setelah tahun ke -5 dari kegiatan rehabilitasi.

Pengurangan erosi dihitung dengan menggunakan rumus USLE (Wischmeir dan Smith 1978 dalam Asdak, 2004) dengan merubah nilai faktor C dan P nya. Penilaian dampak on- site akibat rehabilitasi dilakukan dengan menghitung kandungan hara yang tidak jadi tererosi pada lahan yang dikonversikan dengan jumlah pupuk (Urea, SP36, KCL). Di Sub DAS Tirto terdapat 3 jenis utama tanah (Litosol, Mediteran, dan Grumusol), berdasarkan analisis kimia tanah kandungan hara makro (N, P, dan K) masing-masing jenis tanah tersebut dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23. Kandungan Unsur Hara Makro pada Masing- Masing Jenis Tanah di Sub DAS Tirto

No

Jenis Tanah Utama

Kandungan Unsur Hara Pupuk Pengganti per ton tanah tererosi (kg) N (%) P (ppm) K (ppm) Urea (N:46%) SP36 (P:36%) KCL (K:60%) 1 Litosol 0.051 10.411 12.70 1.109 0.029 0.021 2 Mediteran 0.073 11.085 9.68 1.587 0.031 0.016 3 Grumusol 0.025 16.315 12.60 0.543 0.045 0.021 Sumber : Laboratorium Tanah Fakultas Geografi UGM, 2009 dan Analisis data

Harga pupuk non subsidi untuk Urea Rp 3.500 per kg; SP36 Rp 2.400 per kg; dan KCL Rp 6.500 per kg. Prediksi pengurangan erosi sebelum dan sesudah dilakukannnya kegiatan rehabilitasi, jumlah pupuk pengganti atas pengurangan erosi serta nilai dari pengurangan erosi adalah sebagaimana Tabel 24.

Tabel 24. Nilai Pengurangan Erosi On-plot per Tahun

No Lokasi tahun tanam

Luas (ha)

Laju Erosi (ton/th) Jumlah Pupuk Pengganti (kg)

Nilai pengurangan

erosi per tahun Sebelum Sesudah

Pengu-rangan Urea SP36 KCL 1 2003 113 4631,7 1157,9 3473,8 3851 91 74 14.176.170 2 2004 350 7804,8 1951,2 5853,6 6318 162 122 17.316.583 3 2005 200 5425,9 1356,5 4069,4 4512 108 86 10.953.036 4 2006 25 2003,0 500,8 1502,3 1666 43 32 5.833.472 5 2007 700 21122,4 5280,6 15841,8 16880, 482 333 63.069.466 6 2008 75 6312,9 1578,2 4734,7 5249 137 100 13.212.137 Sumber : Hasil analisis data

Erosi menghasilkan sedimen yang mengendap di badan–badan air/sungai yang dapat menyebabkan berkurangnya kapasitas tampung sungai yang pada gilirannya dapat menyebabkan air limpasan (banjir). Penilaian dampak off plot

pengurangan erosi didekati dengan pengurangan biaya untuk

normalisasi/pengerukan sungai agar sungai dapat berfungsi normal kembali menampung aliran. Besarnya pengurangan sedimentasi diperoleh dari jumlah pengurangan erosi hasil rehabilitasi dikalikan dengan besarnya nisbah pelepasan sedimen (Sediment Delivery Ratio/SDR) yang besarnya ditentukan berdasarkan luas DAS (Roehl,1962 dalam Asdak, 2004). Dengan luas Sub DAS ±15.937,44 Ha diperoleh angka SDR 0,12.

Pekerjaan pengerukan sedimentasi berdasarkan hasil perhitungan menurut PT. Sota Mitra Utama tahun 2009 diketahui besarnya biaya alat (jenis excavator)

Rp 38.280,94 /jam, kapasitas kerja alat 30 m3/jam sehingga biaya pengerukan

sedimen dengan menggunakan alat berat adalah Rp 1.276/m3. Hasil perhitungan

nilai pengurangan erosi dan sedimentasi disampaikan pada Tabel 25.

Tabel 25. Nilai Pengurangan Sedimentasi dari Masing- Masing Lokasi Tanaman

No Lokasi Tahun Tanam Luas (Ha) Pengurangan Sedimentasi (m3/tahun) Nilai pengurangan sedimentasi (Rp/tahun) 1 2003 113 342 436.344 2 2004 350 576 735.269 3 2005 200 401 511.155 4 2006 25 48 188.701 5 2007 700 1559 1989.879 6 2008 75 466 406.018 Sumber : Hasil analisis data

Nilai kini jasa pengendalian erosi dengan pendekatan biaya pengganti diperoleh nilai sebesar Rp 603.591.798 atau Rp 27.505/ha/th, rendahnya nilai ini dapat dipahami mengingat kondisi kesuburan tanah di Sub DAS Tirto pada umumnya kurang subur yang ditunjukkan dari hasil analisis kadar unsur hara dalam tanah (Tabel 23).

Pendugaan nilai pengurangan erosi dan sedimentasi dari hasil rehabilitasi dengan periode analisis setelah tahun ke-5 sampai tanaman kayu dipanen (umur 15 th) secara ringkas disampaikan dalam Tabel 26.

77

Tabel 26. Prediksi Nilai Pengurangan Erosi dan Sedimentasi di Sub DAS Tirto

1 2009 113 14.176.170 436.344 14.612.514 2 2010 463 31.492.753 1.171.612 32.664.365 3 2011 663 42.445.789 1.682.767 44.128.556 6 2014 688 48.279.261 1.871.468 50.150.729 7 2015 1388 111.348.727 3.861.347 115.210.074 8 2016 1463 124.560.864 4.267.365 128.828.229 9 2017 1463 124.560.864 4.267.365 128.828.229 10 2018 1350 110.384.694 3.831.022 114.215.715 11 2019 1000 93.068.110 3.095.753 96.163.864 12 2020 800 82.115.075 2.584.598 84.699.673 13 2021 775 76.281.602 2.395.897 78.677.499 14 2022 75 13.212.137 406.018 13.618.155 15 2023 - - - -Nilai Pengurangan sedimentasi (Rp) Total (Rp)

No Tahun Luas rehabilitasi yang berdampak (Ha) Nilai Pengurangan Erosi on-site (Rp)

Sumber data : Hasil analisis data

Hasil pengurangan erosi dan sedimentasi dari masing-masing lokasi yang direhabilitasi secara rinci disampaikan pada Lampiran 12.

V.1.2.2. Nilai Hasil Air

Keberadaan vegetatasi tanaman dapat memberbaiki watak fisik tanah sehingga dapat meningkatkan laju infiltrasi dengan demikian cadangan air tanah juga meningkat. Cadangan air tanah ini nantinya akan keluar melalui mata air dan mengalir ke sungai serta dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Dampak kegiatan rehabilitasi terhadap peningkatan cadangan air tanah sangat sulit untuk diukur. Untuk itu dampak kegiatan rehabilitasi GERHAN terhadap hasil air dapat dilihat dari dampak berkurangnya aliran permukaan oleh keberadaan vegetasi dengan asumsi bahwa dengan berkurangnya aliran permukaan maka akan lebih banyak air hujan yang terserap ke dalam tanah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan rehabilitasi secara tidak langsung akan berdampak pada hasil air. Menurut penelitian dampak lingkungan dari proyek hutan rakyat dampak terhadap kualitas dan kuantitas air dirasakan setelah 5 tahun pertama (Nawir et al. 2008).

Berkaitan dengan aliran permukaan, parameter yang biasa digunakan adalah koefisien aliran permukaan (C). Koefisien aliran permukaan atau sering disingkat

C adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan antara besarnya aliran permukaan terhadap besarnya curah hujan (Lee, 1998). Angka C berkisar antara 0 sampai dengan 1. Angka C = 0 menunjukkan bahwa semua air hujan terdistribusi menjadi air intersepsi dan terutama infiltrasi. Sedang angka C = 1 menunjukkan bahwa semua air hujan mengalir sebagai aliran permukaan. Sebagai gambaran mengenai koefisien aliran permukaan untuk berbagai tataguna lahan dapat dilihat dalam Tabel 27.

Tabel 27. Nilai Koefisien Aliran Permukaan Pada Berbagai Tata Guna Lahan

No Tataguna Lahan C

1 Tanah pertanian kosong 0,3 – 0,6 2 Ladang garapan dengan vegetasi 0,1 – 0,25 3 Ladang garapan tanpa vegetasi 0,2 – 0,25

4 Padang rumput 0,15 – 0,25

5 Hutan/bervegetasi 0,05 – 0,15 sumber : US Forest service, 1980 dalam PT Centra Multicon Jaya 2007

Dengan mengacu pada Tabel 27, kegiatan rehabilitasi dengan penanaman vegetasi dapat memperbaiki koefisien aliran dari lahan kritis semula mempunyai nilai C = 0,25 menjadi berhutan/bervegetasi dengan nilai C = 0,05-0,15, artinya semula 25% air hujan menjadi aliran permukaan berubah menjadi hanya 5-15 % dari air hujan akan menjadi aliran permukaan. Atau dengan kata lain, perubahan tataguna lahan dari rumput alang-alang menjadi tataguna lahan berhutan terjadi penurunan jumlah aliran permukaan sebanyak 3-5 kalinya.

Untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat memanfaatkan mata air dan sumur dengan kedalaman air tanah sampai 15 m atau lebih. Di lokasi penelitian terdapat cukup banyak mata air yang dimanfaatkan secara berkelompok untuk kepentingan bersama dengan menyalurkan melalui selang/pipa paralon ke rumah masing-masing warga. Data keberadaan mata air di Sub DAS Tirto disampaikan dalam Tabel 28.

79

Tabel 28. Keberadaan Mata Air di Sub DAS Tirto

No Kab./ Kec. /Desa Nama Mata air Kondisi Aliran Penggunaan

1 2 4 5 5

I Grobogan 1 Kec. Wirosari

Ds. Tegalrejo Sd. Wedok Sepanjang tahun RT & usaha tani Sd. Tlonok Sepanjang tahun RT & usaha tani 2 Kec. Tawangharjo

Ds. Kemadohbatur Gedong Sepanjang tahun RT & usaha tani Madoh Sepanjang tahun RT & usaha tani Carikan Sepanjang tahun RT & usaha tani Widuri Sepanjang tahun RT & usaha tani Tapan Blabag Sepanjang tahun RT & usaha tani Sribening Sepanjang tahun RT & usaha tani 3 Kec. Ngaringan

Ds. Sumberagung Kembangkuning Sepanjang tahun RT & usaha tani Pondok Sepanjang tahun RT & usaha tani Sumberagung Sepanjang tahun RT & usaha tani Grantil Sepanjang tahun RT & usaha tani Kluter Sepanjang tahun RT & usaha tani Jaringan Sepanjang tahun RT & usaha tani Mojolumut Sepanjang tahun RT & usaha tani Jlono Sepanjang tahun RT & usaha tani Ds. Pendem Geneng Sepanjang tahun RT & usaha tani Ds. Tanjungharjo Sumberagung Sepanjang tahun RT & usaha tani Taman Sepanjang tahun RT & usaha tani Ds. Bandungsari Sono Sepanjang tahun RT & usaha tani II Kab. Pati

4 Kec. Tambakromo

Ds. Maitan Sendang Budek Sepanjang tahun RT & usaha tani Klumpit Sepanjang tahun RT & usaha tani Ds. Pakis Sendangpakis Sepanjang tahun RT & usaha tani Guntur Sepanjang tahun RT & usaha tani Coran Sepanjang tahun RT & usaha tani Kaman Sepanjang tahun RT & usaha tani Sendang Doyo Sepanjang tahun RT & usaha tani Sumber : Inventarisasi Mata Air Kabupaten Grobogan, Kabupaten Pati (BPDAS Pemali

Jratun, 2007)

Sebagian besar responden menggunakan mata air (76%) sebagai sumber air. Sebagian masyarakat khususnya yang jauh dari mata air secara berkelompok mengadakan sarana untuk menyalurkan air dari mata air ke rumah-rumah warga dan tiap bulannnya mengumpulkan iuran untuk koperasi lingkungan, selain itu juga ada warga yang mengambil air secara langsung dari mata air. Bagi masyarakat yang di daerahnya tidak terdapat mata air mereka harus membuat sumur untuk memperoleh air bersih. Karena biayanya mahal tidak semua warga

bisa membuat sumur, pembuatan sumur dilakukan dengan gotong royong beberapa kepala keluarga.

Penilaian hasil air untuk keperluan rumah tangga dilakukan dengan pendekatan biaya pengadaan yang menunjukkan kesediaan membayar untuk memperoleh manfaat air. Biaya pengadaan digunakan untuk menduga kurva permintaan masyarakat terhadap hasil air rumah tangga. Dari hasil perhitungan (lampiran 13) diperoleh model permintaan air Y =65,6- 0.00138 X1 - 5X3, dimana

Y= komsumsi air per kapita per tahun, X1 = biaya pengadaan air (Rp/m3), dan X3

= jumlah angggota keluarga dengan koefisien determinasi (R2) 58,1%.

Dari model tersebut dapat dijelaskan bahwa biaya pengadaan air berkorelasi negatif dengan konsumsi air per kapita sebesar 0,00138 yang artinya jika faktor yang lain tetap setiap kenaikan biaya pengadaan Rp 1 akan menyebabkan

penurunan konsumsi air per kapita sebesar 0,00138 m3/th. Jumlah anggota

keluarga juga berkorelasi negatif terhadap konsumsi air per kapita sebesar 5 yang artinya setiap kenaikan jumlah anggota keluarga 1 orang maka konsumsi per

kapitanya akan menurun 5 m3/tahun. Pendugaan nilai ekonomi hasil air untuk

keperluan rumah tangga menggunakan model tersebut dilakukan pada variabel biaya pengadaan air, variabel yang lainnya dianggap tetap dengan menggunakan nilai rata-rata. Sehingga terbentuk persamaan baru menjadi Y = 42.5 – 0.00183X1. Selanjutnya persamaan tersebut diinversi untuk membentuk suatu fungsi harga

menjadi X1 = 23224,04-546,558Y. Besarnya kesediaan membayar diperoleh dari

hasil integral fungsi harga tersebut yang secara matematis dapat dituliskan dengan

persamaan U =

y

(

Y

)

y

0 23224.04 546.558 δ dengan batas bawah pada saat Y=0 dan batas atas Y= rata-ratanya.

Dari hasil perhitungan sebagaimana Lampiran 13 diperoleh kesediaan

membayar terhadap manfaat air untuk kebutuhan rumah tangga adalah sebesar Rp 490.559/kapita/tahun. Nilai yang dibayarkan Rp 70.041/kapita/tahun dan

surplus konsumen Rp 420.145/kapita/tahun. Dengan rata-rata konsumsi air per

kapita 39,214 m3/tahun maka rata-rata kesediaan membayar sebesar

81

Rp 10.714/m3 Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kesediaan membayar

masyarakat untuk memperoleh manfaat air ternyata jauh lebih besar daripada nilai yang dibayarkan. Ini menunjukkan bahwa air mempunyai nilai yang sangat penting apalagi daerah penelitian merupakan daerah yang rawan kekeringan.

Dengan jumlah penduduk ± 87.969 jiwa yang mendiami wilayah Sub DAS Tirto, maka nilai untuk keperluan rumah tangga secara keseluruhan adalah sebesar Rp 6.194.214.650/tahun. Nilai air untuk kebutuhan rumah tangga dari lokasi kegiatan GERHAN sesuai dengan proporsi terhadap penutupan total hutan seluas ± 10,301.14 Ha (hutan negara, hutan rakyat swadaya maupun hutan hasil rehabilitasi) yaitu Rp 879.721.970/tahun. Kegiatan rehabilitasi dapat menurunkan aliran permukaan 3 – 5 kali dari sebelumnya dengan asumsi penurunan aliran permukaan menyebabkan jumlah air hujan yang masuk lebih banyak, maka nilai air untuk keperluan rumah tangga yang merupakan dampak dari kegiatan rehabilitasi di Sub DAS Tirto seluas 1463 ha adalah antara Rp. 103.495.702/tahun sampai Rp 185.204.625/tahun.

Nilai hasil air untuk kebutuhan irigasi pertanian diduga dengan menggunakan metode kontingensi untuk mengetahui besarnya kesediaan membayar dari petani sawah untuk melindungi dan mempertahankan tanaman hasil rehabilitasi guna memperoleh manfaat kontinuitas hasil air untuk irigasi sawahnya. Hasil perhitungan rata-rata kesediaan membayar dar i responden adalah Rp 311.290/petani/tahun. Luas sawah irigasi di Sub DAS Tirto adalah ± 1.949 ha dengan jumlah petani sawah di Sub DAS Tirto ± 11.555 orang maka nilai ekonomi hasil air untuk kebutuhan irigasi secara total dalam satu Sub DAS adalah Rp 3.596.959.677/tahun. Dari nilai tersebut yang merupakan dampak dari kegiatan rehabilitasi (GERHAN) seluas 1463 ha adalah Rp 59.244.041 sampai Rp 106.015.653/tahun.

Pendugaan nilai air untuk keperluan rumah tangga dan irigasi dari hasil GERHAN di Sub DAS Tirto adalah sebagaimana Tabel 29.

Tabel 29. Nilai Air untuk Keperluan Rumah Tangga dan Pengairan Sawah dari Hasil Rehabilitasi (GERHAN) di Sub DAS Tirto

Nilai air untuk keperluan pengairan sawah Total (Rp) (Rp) 1 2009 113 7.993.935 4.642.051 12.635.987 2 2010 463 32.753.912 25.010.935 57.764.847 3 2011 663 46.902.470 231.506.910 278.409.380 4 2012 688 48.671.040 34.253.958 82.924.997 5 2013 1388 101.521.799 64.944.217 166.466.016 6 2014 1463 117.144.166 89.530.674 206.674.839 7 2015 1463 123.039.398 92.954.016 215.993.414 8 2016 1463 120.861.265 94.370.955 215.232.220 9 2017 1463 147.008.172 90.949.002 237.957.174 10 2018 1350 119.200.050 35.627.942 154.827.993 11 2019 1000 85.519.656 18.398.624 103.918.280 12 2020 800 99.295.884 66.250.492 165.546.375 13 2021 775 98.109.080 12.089.622 110.198.702 14 2022 75 9.494.427 6.576.240 16.070.667

No Tahun Luas lahan rehabilitasi

yang berdampak

(Ha)

Nilai air untuk keperluan rumah

tangga (Rp)

Sumber : Hasil analisis data

V.1.2.3. Nilai Jasa Penyerapan Karbon

Nilai jasa penyerapan karbon diduga dengan pendekatan harga pasar karena di dunia internasional sudah ada pasarnya. Jasa penyerapan karbon oleh tanaman selama pertumbuhan sampai tanaman tersebut dipanen dihitung berdasarkan biomassa kering yang diduga persamaan allometrik (persamaan 23 dan 24). Kemudian dari berat biomassa kering dikonversikan dalam bentuk karbon. Berdasarkan perhitungan, dari hasil rehabilitasi di Sub DAS Tirto rata-rata penyerapan karbon sampai umur dipanen (15 tahun) adalah 10.46 ton/ha. Harga karbon yang digunakan berdasarkan asumsi Kementer ian Lingkungan Hidup (KLH) batas minimal harga karbon US$ 4 per ton.

Secara ringkas hasil perhitungan nilai jasa penyerapan karbon sampai satu daur penebangan dari kegiatan Rehabilitasi (GERHAN) dari masing-masing lokasi tanaman di Sub DAS Tirto disampaik an dalam Tabel 30.

83

Tabel 30. Jumlah dan Nilai Penyerapan Karbon Tanaman Rehabilitasi (GERHAN) di Sub DAS Tirto

Luas Jumlah Nilai karbon

Lahan karbon tersimpan (Rp)

(ha) (ton) 1 2006 113 41 1.646.974 2 2007 463 198 7.912.181 3 2008 663 417 16.626.397 4 2009 688 708 28.231.828 5 2010 1.388 1.268 50.597.089 6 2011 1.463 1.884 75.170.731 7 2012 1.463 2.676 106.739.737 8 2013 1.463 3.613 144.119.648 9 2014 1.463 4.709 187.843.354 10 2015 1.463 5.973 238.274.375 11 2016 1.463 7.41 295.600.481 12 2017 1.463 9.024 359.997.522 13 2018 1.463 10.82 431.631.428 14 2019 1.350 11.123 443.724.236 15 2020 1.000 8.074 322.072.115 16 2021 800 6.447 257.190.182 17 2022 775 7.116 283.877.579 18 2023 75 867 34.607.120 No Tahun

Keterangan : kurs 1 US$ = Rp 9973

Sumber : Hasil analisis data

Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa hutan di lahan milik rakyat juga dapat memberikan nilai tambah dari jasa penyerapan karbon selain dari hasil tanaman kayu dan MPTS. Dalam perdagangan karbon, hutan rakyat berpeluang melalui pasar karbon sukarela, mengingat mekanisme REDD dan CDM nampaknya belum siap diimplementasikan di Indonesia.

V.1.3. Nilai Bukan Guna

Dokumen terkait