C. Berdasarkan Waktu Pelaksanaan
5.2. Nilai House Index dan Angka Bebas Jentik Berdasarkan Warna Media Ovitrap ( Diberi Warna Hitam dan tidak Diberi Warna) terhadap
Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti pada Kelompok Botol Berukruan 200 ml, 600ml dan 1500 ml
Penelitian ini menggunakan air botol mineral yang berukuran 200 ml, 600 ml dan 1500 ml yang telah dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok botol yang telah diberi warna hitam dan kelompok botol yang tidak diberi warna. Ovitrap ini
diletakkan di dalam dan diluar rumah yang gelap dan lembab karena nyamuk menyukai tempat – tempat tersebut untuk bertelur. Beradasarkan uji statistik diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara House Index dan Angka Bebas Jentik pada kelompok botol yang di beri warna hitam kelompok botol yang tidak diberi warna. House Index kelompok botol berukuran 200 ml yang diberi warna hitam lebih tinggi (63,33) dibandingkan dengan House Index pada kelompok botol yang tidak diberi warna (46,67) pada minggu pertama pelaksanan kegiatan percobaan. Namun pada minggu terakhir diketahui bahwa HI kelompok botol yang tidak diberi warna lebih tinggi (33,33) dibandingkan dengan kelompok botol yang diberi warna (26,67). Hal ini dikarenakan pada botol yang diberi warna hitam lebih menarik perhatian nyamuk Aedes Aegypti untuk meletakkan telurnya sehingga pada minggu pertama pelaksanaan percobaan HI pada botol yang diberi warna hitam baik pada botol berukuran 200 ml, 600 ml dan 1500 ml lebih tinggi dibandingkan dengan botol yang tidak diberi warna. Namun pada minggu ketiga pelaksanaan percobaan jentik nyamuk pada ovitrap yang diberi warna hitam yang diletakkan dirumah responden semakin menurun jumlahnya dilihat dari nilai House Index. Hal ini dikarenakan banyaknya jentik nyamuk yang terperangkap sehingga daur hidup jentik nyamuk untuk menjadi dewasa terputus sehingga tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya.
Tingginya nilai HI pada kelompok botol yang diberi warna hitam pada awal pelaksanaan kegiatan menyebabkan rendahnya ABJ pada kelompok botol tersebut baik yang berukuran 200 l, 600 ml dan 1500 ml. naum setelah beberapa minggu
penelitian semakin menurunnya nilai HI maka ABJ juga semakin meningkat baik pada botol berukuran 200 ml, 600ml dan 1500 ml. Misalnya pada botol berukuran 200 ml yang diberi warna hitam diketahui pada minggu pertama nilai HI (63,33) dan nilai ABJ (36,67) tetapi pada minggu ketiga diketahui bahwa HI turun menjadi (26,67) dan niali ABJ meningkat menjadi (73,33). Jadi, bila dibandingkan penurunan House Index maupun peningkatan Angka Bebas jentik maka kelompok yang diberi
warna hitam memiliki penurunan maupun peningkatan paling besar dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi warna hitam.
Berdasarkan hasil pengamatan diatas diketahui bahwa jentik nyamuk Aedes Aegypti lebih banyak terperangkap pada botol yang diberi warna dibandingkan dengan botol yang tidak diberi warna. Meskipun terjadi fluktuasi jumlah jentik nyamuk Aedes Aegypti yang terperangkap, namun rerata jentik nyamuk yang terperangkap di botol yang telah diberi warna selalu lebih banyak dibandingkan dengan botol yang tidak diberi warna.Banyaknya jentik nyamuk Aedes Aegypti yang terperangkap menunjukkan banyaknya nyamuk dewasa yang meletakkan telurnya sehingga menetas menjadi jentik yang kemudian menjadi pupa dan berkembang menjadi nyamuk dewasa. Dengan kata lain media ovitrap dalam hal ini botol yang telah diberi warna hitam memiliki daya tarik yang lebih kuat dibandingkan dengan botol yang tidak diberi warna sama sekali. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh wahyuningsih et al (2009) aedes aegypty cenderung akan memilih ruangan yang gelap dan lembab untuk bertelur. Selain itu Aedes Aeypti mempunyai kebiasaan meletakkan telurnya pada waktu senja hari atau gelap dari jam 6 sampai 7 petang dimana lebih dari 50% nyamuk meletakkan telur sebelum jam 8 malam
(Macfie dalam sayono, 2008). Oleh sebab itu pemberian warna gelap pada media ovitrap (cat warna hitam) merupakan salah satu cara agar aedes aegypti mau bertelur di media ovitrap yang telah disediakan.
Hasyrini tahun 2009 juga mengatakan bahwa apabila ditinjau dari segi warna tempat perkembangbiakannya, ternyata warna yang paling disukai sebagai tempat perkembangbiakan Aedes Aegypti adalah warna hitam dan biru. Tahun 2010 Budiyanto juga melakukan penelitian bahwa dari lima warna yang dipakai dalam percobaan terdapat dua warna yang mempunyai perbedaan yang signifikan atau yang paling disukai nyamuk Aedes Aegypti yaitu warna hitam dan merah bila dibandingkan dengan warna kuning,
biru dan putih. Melalui hasil ini diketahui bahwa ovitrap yang diberi warna hitam memengaruhi kepadatan nyamuk sedangkan yang tidak diberi warna tidak mempengaruhi kepadatan nyamuk.
5.3. Nilai House Index dan Angka Bebas Jentik Berdasarkan Waktu Pelaksanaan (Minggu 1, Minggu 2, Minggu 3) pada Kelompok Botol Berukuran 200 ml, 600 ml dan 1500 yang Diberi Warna Hitam Maupun tidak Diberi Warna
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 minggu, yaitu minggu 1, minggu 2 dan minggu 3. Kemudian setiap minggu selama 3 minggu peneliti memeriksa ada/tidaknya telur atau jentik didalam ovitrap tersebut. untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk yang nantinya dapat digunakan untuk melakukan pencegahan dan pengendalian nyamuk Aedes Aegypti dengan menggunakan ukuran House Index dan Angka Bebas Jentik.
Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai HI mengalami penurunan setiap minggunya. Hal ini diketahui dari hasil pengamatan yang dilakukan pada botol –
botol yang digunakan sebagai media ovitrap atau perangkap jentik nyamuk.
Percobaan dengan menggunakan media botol yang dicat berukuran 200 ml pada minggu pertama diketahui bahwa nilai HI sebesar 63,33 dan pada minggu ketiga menurun menjadi 26,67. Begitu juga pada botol 600 ml pada minggu pertama HI sebesar 83,33 namun pada minggu ketiga menjadi 20. Hal ini juga terjadi pada botol berukuran 1500 ml yang diberi warna maupun tidak diberi warna. Nilai HI yang semakin menurun setiap minggunya menyebabkan ABJ semakin meninhkat setiap minggunya seperti pada botol yang berukuran 200 ml diketahui bahwa pada minggu pertama nilai ABJ 36,67 dan mengalami peningkatan pada minggu ketiga menajdi 73,33.
Penggunaan ovitrap diharapkan dapat menurunkan indeks aedes di wilayah intervensi. Beberapa indeks aedes yang digunakan adalah House Index dan Angka Bebas Jentik. House Index adalah banyaknya rumah yang ditemukan jentik dibandingkan dengan jumlah seluruh rumah yang diperiksa. Penurunan HI yang terjadi mengindikasikan bahwa penerapan Ovitrap dapat mempengaruhi indeks aedes (Perich MJ dalam Sayono, 2008). Hal ini dikarenakan semakin banyak nyamuk yang mau meletakkan telurnya dan berkembang biak di media ovitrap yang telah dibuat sehingga populasi nyamuk aedes aegypti semakin lama akan berkurang.
Bila setiap ovitrap dapat membunuh sekitar 100 jentik per minggu dan setiap minggu dipasang 1 ovitrap per rumah yang dilakukan di 30 rumah dalam 1 lingkungan, maka jumlah nyamuk generasi baru yang mati setiap minggunya adalah 3000 ekor, dan penerapan ovitrap selama 3 minggu berturut – turut dapat membunuh 12.000 ekor
nyamuk. Artinya, ratusan ribu butir telur pada generasi berikutnya sudah dimusnahkan sebelum diproduksi oleh nyamuk – nyamuk Aedes baru karena terperangkap dan mati di dalam ovitrap. Oleh sebab itu, media ovitrap yang digunakan dapat memutus daur hidup nyamuk aedes aegypti dengan menangkap telur nyamuk tersebut sehingga telur yang berubah menjadi jentik tersebut tidak dapat berubah menjadi nyamuk dewasa
Pada percobaan ini walaupun nilai House Index terus mengalami penurunan dan ABJ mengalami peningkatan setiap minggunya seperti pada botol yang diberi warna berukuran 600 ml diketahui bahawa pada minggu pertama rata – rata HI = 83,33 dan ABJ = 20, minggu kedua rata – rata HI = 40 dan ABJ = 60 dan minggu ketiga HI = 20 dan ABJ = 80. Namun nilai House Index dan ABJ belum mencapai target yang telah ditetapkan Depkes RI melalui Ditjen PP&PL yang menunjukkan bahwa angka House Index yang dianggap aman untuk penularan penyakit DBD adalah < 5% dan target ABJ sebesar 95% (Ditjen PP&PL, 2009). Hal ini dimungkinkan karena singkatnya waktu pemberian perlakuan yaitu hanya 3 minggu sehingga tidak terjadi pemutusan siklus perkembangan nyamuk secara sempurna.
Menurut Foster (2002) penggunaan ovitrap selama empat minggu berturut-turut menyebabkan proses regenerasi nyamuk Aedes sp selama dua kali siklus terputus. Hal ini terjadi karena satu siklus regenerasi nyamuk dari telur menjadi larva, lalu pupa dan muncul nyamuk muda membutuhkan waktu sekitar 14 hari atau dua minggu Seekor nyamuk betina dapat bertahan hidup hingga 8 minggu, dan mengalami 4 – 6 kali masa bertelur.
66 6.1. Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian ini antara lain ;
1. Ada perbedaan kepadatan jentik yang dilihat dari Ovitrep Index terhadap warna botol dengan nilai p = 0,04. Hal ini menunjukkan bahwasannya ada pengaruh antara warna botol dengan penurunan ovitrap index
2. Ada perbedaan kepadatan jentik yang dilihat dari Ovitrep Index terhadap ukuran botol dengan nilai p = 0,03. Hal ini menunjukkan bahwasannya ada pengaruh antara ukuran botol dengan penurunan ovitrap index.
3. Penurunan House Index terbesar terjadi pada kelompok ovitrap yang diberi warna dan berukuran paling besar yaitu botol dengan ukuran 1500 ml dengan penurunana sebesar 17,62
4. Peningakatan Angka Bebas Jentik paling tinggi terjadi pada kelompok media ovitrap yang diberi warna atau cat dan berukuran paling besar yaitu 1500 ml dengan peningkatan sebesar 53,90%.
4.2. Saran
Saran dalam penelitian ini antara lain ;
1. Puskesmas harus mensosialisasikan cara pembuatan ovitrap yang diberi warna dengan ukuran 1500 ml kepada masyarakat agar masyarakat mau membuat ovitrap di rumah
2. Puskesmas harus mengadvokasi ke tingkat kelurahan agar seluruh lurah menganjurkan dan membuat kebijakan pemakaian ovitrap di setiap rumah warga.
68 116.http://repositorv.searo.who.int/bitstream/123456789/15821/l/dbv24p 110.pdf. 7-11-2014
Anies.2006. Manajemen Berbasis Lingkungan: Solusi Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Menular. Elex Mdedia Komputindi. Jakarta.
Breslow, L. 2002. Encyclopedia of Public Health: Vector-Borne Disease, vol.4.
p!276-1278. Macmillan ReferenceUSA. New York.
http://caliistolQ.ggirng.comy/imgsn7//FastPDF//UBERl//RangeFetch=:cont en tSet=UBERl=prefix=eph 04 =startPage=Q 1339=suffix=-p=npages=3=dl=Vector-Borne Diseases=PDF.pdf?dl=Vector-Borne Diseases.PDF, 11-11-2014
Crosskey, 1993 Classification. http://wwwmiiseiims.org.za/bio/insects,flies/
index.htm. 28-11-2014
Cunningham, M. & Cunningham, W. 2004.Principles of Environmental Science:
Inquiry and Applications. Ed. II. The McGraw-Hill Companies. New York.
Ginanjar, G. 2008. Demam Berdarah: A Survival Guide. Bentang Pustaka. Jakarta Kementrian Kesehata RI. 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta ______. 2014. Data Base Kesehatan per Kabupaten Kementrian Kesehatan RI.
http://www.bankdata.depkes.go.id/propinsi/public/report/createtablepti, 3-12-2014
______. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.
Moeller, D., W. 2005. Environmental Health. Edisi III. Persident4nd Fellows Of Harvard College. United States og America.
Silver, J., B. 2007.Mosquito Ecology: Field Sampling Methods. Ed.IIT. Springer , Science & Business Media.
Siti. A., D. 2010. Stop Demam Berdarah Dengue. Bogor Publishing. Bogor.
Susanna, D., Sembiring, T., U. 2011. Entomologi Kesehatan: Athropoda Pengganggu Kesehatan dan Parasit Yang Dikandungnya. Ul-Press. Jakarta.
Sukowati, S. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi: Demam Berdarah Dengue.Vol.2.
Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian Kesehatan RI.http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/buleti n/buletin-dbd.pdf, 15-1-2015
WHO. 2009. DENGUE: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. WHO Press. Switzerland.
WHO.2005. Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam BerOdarah Dengue.
Panduan Lengkap. Alih bahasa: Palupi Widyastuti. Editor Bahasa Indonesia: Salmiyatun. Cetakan I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Zhang. Y. 2008. Encyclopedia of Global Health: Dengue. Vol.2. p485-486. Sage Public, Inc.
Thousand Oaks, CA. http://callisto 10. ggimg. com/imgsrv/
FastPDFAJBER1/RangeFetch=contentSet=UBERl=prefix=eglh 0001 0
002_0_=startPage=00528=suffix=-p-npages=2=dl=Dengue=PDF.pdf?dl=Dengue.PDF. 11-11=2014
Lampiran .
Hasil Output pengolahan data penelitian
1. Gambaran deskriptif botol yang diberi warna berukuran 200 ml Statistics
HI200CATPRA HI200CATPOST1 HI200CATPOST2
N Valid 3 3 3
Missing 17 17 17
Mean 63.3333 50.0000 26.6667
Std. Deviation 5.77350 .00000 5.77350
Variance 33.333 .000 33.333
Std. Deviation 5.77350 .00000 5.77350
Variance 33.333 .000 33.333
Skewness -1.732 1.732
Std. Error of Skewness 1.225 1.225 1.225
Minimum 30.00 50.00 70.00
Maximum 40.00 50.00 80.00
2. Gambaran Deskritif botol yang diberi warna berukuran 600ml
Statistics
HI600CATPRA HI600CATPOST2 HI600CATPOT3
N Valid 3 3 3
Missing 17 17 17
Mean 83.3333 40.0000 20.0000
Std. Deviation 5.77350 .00000 .00000
Variance 33.333 .000 .000
Std. Deviation 10.00000 .00000 .00000
Variance 100.000 .000 .000
Skewness .000
Std. Error of Skewness 1.225 1.225 1.225
Minimum 10.00 60.00 80.00
Maximum 30.00 60.00 80.00
3. Gambaran deskriptif botol yang diberi warna berukuran 1500 ml
Std. Deviation .00000 5.77350 5.77350
Variance .000 33.333 33.333
Std. Deviation .00000 5.77350 5.77350
Variance .000 33.333 33.333
Std. Error of Skewness 1.225 1.225 1.225
Minimum .00 70.00 90.00
Maximum .00 80.00 100.00
Skewness -1.732 -1.732
4. Gambaran deskriptif botol yang diberi Tidak warna berukuran 200 ml
Statistics
Std. Deviation 5.77350 5.77350 5.77350
Variance 33.333 33.333 33.333
Std. Deviation 5.77350 5.77350 5.77350
Variance 33.333 33.333 33.333
Skewness 1.732 1.732 -1.732
Std. Error of Skewness 1.225 1.225 1.225
Minimum 50.00 60.00 60.00
Maximum 60.00 70.00 70.00
5. Gambaran Deskritif botol yang diberi tidak warna berukuran 600ml
Std. Deviation 5.77350 .00000 5.77350
Variance 33.333 .000 33.333
Std. Deviation .00000 5.77350 5.77350
Variance .000 33.333 33.333
Std. Error of Skewness 1.225 1.225 1.225
Minimum 50.00 30.00 60.00
Maximum 50.00 40.00 70.00
Skewness 1.732 -1.732
6. Gambaran deskriptif botol yang diberi tidak warna berukuran 1500 ml
Statistics
Std. Deviation 5.77350 5.77350 .00000
Variance 33.333 33.333 .000
Std. Deviation 5.77350 5.77350 .00000
Variance 33.333 33.333 .000
Skewness 1.732 1.732
Std. Error of Skewness 1.225 1.225 1.225
Minimum 40.00 40.00 80.00
Maximum 50.00 50.00 80.00
7. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG DIBERI WARNA
8. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG DIBERI WARNA (POSTTEST 1)
9. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG DIBERI WARNA (POSTTEST 2)
10. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG DIBERI WARNA (PTRATEST)
HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG DIBERI WARNA
11. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG DIBERI WARNA (POSTTEST 2)
12. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG TIDAK DIBERI WARNA (PTRATEST)
13. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG TIDAK DIBERI WARNA (POSTTEST 1)
14. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG TIDAK DIBERI WARNA (POSTTEST 2)
15. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG TIDAK DIBERI
16. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG TIDAK DIBERI WARNA (POSTTEST 1)
17. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN UKURAN BOTOL PADA KELOMPOK BOTOL YANG TIDAK DIBERI WARNA (POSTTEST 2)
18. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 200 ML (PRATEST)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
19. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 200
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
Not corrected for ties.Grouping Variable: WARNA
20. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 200 ML (POSTTEST 2)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
Not corrected for ties.
Grouping Variable: WARNA
21. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 200 ML (PRATEST)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .200a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
22. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 200 ML (POSTETST 1)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
23. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 200 ML (POSTTEST 2)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
24. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 600
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
25. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 600 ML (OSTETST 1)
26. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 600 ML (POSTTEST 2)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
27. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 600 ML (PRATEST)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
28. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 600
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a Not corrected for ties.
Grouping Variable: WARNA
29. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 600 ML (POSTTEST 2)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
30. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 1500 ML (PRATEST)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
31. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 1500 ML (OSTETST 1)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
Not corrected for ties.
Grouping Variable: WARNA
32. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 1500
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
33. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 1500 ML (PRATEST)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
34. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN 1500 ML (OSTETST 1)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
35. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN WARNA PADA KELOMPOK BOTOL PADA KELOMPOK UKURAN
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: WARNA
36. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL warna ukuran 200 ML
Test Statisticsa
37. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL warna ukuran 600 ML
Test Statisticsa
38. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL warna ukuran 1500 ML
39. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL warna ukuran 200 ML
Test Statisticsa
40. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL warna ukuran 600 ML
41. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL warna ukuran 1500 ML
42. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL TDK warna ukuran 200 ML
43. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL TDK warna ukuran 600 ML
44. HASIL ANALISIS PERBEDAAN HI BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL TDK warna ukuran
45. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL TDK warna ukuran 200 ML
46. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL TDK warna ukuran 600 ML
47. HASIL ANALISIS PERBEDAAN ABJ BERDASARKAN waktu PADA KELOMPOK BOTOL TDK warna ukuran 1500 ML