• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KARAKTERISTIK DAN MITOS “MANEKI NEKO”

3.3 Nilai Mitos “Maneki Neko”

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

Orang Jepang meyakini Maneki Neko memiliki nilai mitos pembawa keberuntungan, kemakmuran, pelindung, dan selamat datang. Nilai mitos ini dapat dilihat dari ciri-ciri warna dan tempat dimana Maneki Neko itu diletakkan. Warna dan tempat diletaknya Maneki Neko tersebut menjadi pedoman untuk mengaetahui nilai mitos yang terkandung didalam Maneki Neko. Berikut penjelasanya:

3.3.1 Pembawa Keberuntungan

Nilai-nilai mitos Maneki Neko dipercaya terus dalam masyarakat Jepang. Tetapi sulit untuk diungkapkan kebenarannya secara rasional. Karena ini menyangkut nilai tradisi dalam kehidupan masyarakat Jepang yang mudah yakin terhadap hal-hal gaib. Nilai-nilai yang terdapat dalam Maneki Neko bisa juga dikatakan tahayul, suatu hal yang belum dapat diungkapkan kebenaranya.

Di Jepang ada yang dikenal dengan “Hatsuri” atau penjualan diawal tahun. Seperti biasa setiap awal tahun masyarakat Jepang pergi ke tempat-tempat ibadah untuk meminta berkah dan peruntungan. Di kota sendai ada yang dikenal dengan sendai shiro yaitu tokoh karismatik yang diangkat secara akalamasi oleh masyarakat sendai sebagai

“fuku no kami sama” atau dewa keberuntungan (kekayaan). Menurut orang sendai,

sendai shiro ini hidup pada zaman Meiji dan sering berkeliaran di daerah perdagangan di pusat sendai (Basho no Tsuji). Orang-orang mengatakan dia agak punya kalainan mental, tetapi ramah dan sering membuat orang terhibur. Jadi ketika masuk ke toko-toko para pedagan di sendai tak lama kemudian toko-toko yang disinggahinya mendapat keuntungan yang berlipat-lipat. Dia hanya senyum-senyum dan sedikit bicara. Orang- orang menganggap dia membawa berkah, sehingga sendai shiro sering diundang ke sana

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

kemari sebagai pelaris. Legenda ini membuat masyarakat sendai menganggapnya “dewa” dan menjadikanya symbol keberuntungaan. Efeknya foto, patung maupun hiasan-hiasan lain sendai shiro banyak dipasang di toko, dan warung-warung di sendai. Selain sendai

shiro yang dianggap sebagai dewa keberutungan ada juga tujuh dewa pembawa

keberuntungan (shichi fukujin) yang terkenal di Jepang. Tujuh dewa ini diadopsi dari tiga aliran, Budha, Tao, dan Shinto, serta diambil dari tiga Negara berbeda, India, China dan Jepang. Bishamonten (dewa penyelamat dari setan dan pelindung kekayaan) diambil dari ajaran Budha di India. Hoteison diambil dari ajaran Budha di China untuk kekayaan.

Daikokuten diambil dari India untuk kekayaan dan kemajuan dagang. Fukurokuju

(kekayaan, kebahagiaan, panjang umur) diambil dari ajaran Tao di China. Ebisu adalah dewa asli Jepang utuk pertanian, perikanan dan perdagangan. Jurojin (panjang umur) diambil dari ajaran Tao. Terakhir Benzaiten (untuk bakat seni, ilmu, dan kecantikan, satu- satunya wanita) diambil dari India.

Untuk derajad hewan kucing (neko), sejenis musang (tanuki) dan rubah (kitsune) adalah hewan-hewan yang dianggap membawa keberuntungan juga. Musang (tanuki) dijadikan lambing kesuburan dengan menggambarkan buah kemaluanya yang menjuntai besar dan sufat mudah berhadaptasinya. Mirip dengan cerita di Indonesia bahwa musang itu suka teh atau kopi, maka di Jepang musang juga suka sake, patungnya digambarkan sedang menenteng botol sake, sama seperti yang terdapat pada Maneki Neko.

Di Jepang hewan yang paling populer sebagai hewan pembawa keberutungan adalah “Maneki Neko”. Keutamanya karena karakternya yang lucu dan familier dengan manusia. Tangan kucing itu awalnya adalah kucing yang membasuh mukanya. Orang Jepang mempercayai bila kucing membasuh mukanya maka tanda hari akan hujan, ini

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

berarti akan dating keberkahan. Tapi lambat laun, tangan kucing yang menggaruk-garuk seperti membasuh mukanya berubah menjadi sebagai tanda kucing dengan tangan melambai-lambai, menarik pangunjung datang. Oleh karena itu dibuatlah Maneki Neko dengan karakter tangan yang bergerak melambai-lambai, untuk menarik palanggan agar masuk ke toko atau kios-kios.

Maneki Neko yang mengandung nilai mitos keberuntungan, ciri-cirinya adalah warnanya tiga warna (kucing belang), warna dasar putih dengan pola warna hitam dan oranye yang acak. Pola ini sangat terkenal. Di Indonesia warna kucing seperti ini di kenal denga nama candramawat, juga sebagai simbol keberuntungan. Kemudian tangan Maneki Neko ini dapat bergerak melambai-lambai, tangannya agak tinggi diangkat, dan dipajangkan ditoko-toko. Maksudnya agar para pembeli sudi mampir untuk membeli dan keuntungan barang-barang yang habis terjual. Dengan demikian nilai keberuntungan yang di yakini orang Jepang terhadap Maneki Neko harus dilihat dari karakter fisik Maneki Neko dan tempat di mana Maneki Neki itu diletakan. Karena karakter Maneki Neko yang seperti ini jarang di letakkan didalam rumah atau di kantor-kantor.

Berikut ini beberapa mitos kucing pembawa keberuntungan:

a. Kucing membawa keberuntungan bila berada di belakang panggung, sebaliknya dapat membawa sial bila berada di atas panggung

b. Disarankan memelihara kucing berbulu hitam yang di keningnya terdapat beberapa lembar bulu putih, bermakna akan membawa pengaruh baik dalam mencari nafkah

c. Suatu ketika kucing peliharan anda beranak kucing belang tiga, bermakna pemilik rumah akan dapat rejeki dalam waktu dekat dan lain-lain

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

3.3.2 Kemakmuran

Nilai mitos Maneki Neko yang mengandung kemakmuran mampunyai cirri-ciri warnya kuning keemasan. Maneki Nekonya biasa dibuat sedang memegang koin atau koban (uanga emas kuno). Orang Jepang selalu meletakkan Maneki Neko yang seperti ini di dalam toko, perusahaan, dan di rumah. Karena berhubungan dengan kemakmuran biasanya Maneki Neko itu dibuat dalam bentuk celengan. Sebagai tempat untuk menabung uang.

Orang Jepang yang membeli Maneki Neko yang berwarna emas ini berharap kemakmuran akan datang dalam rumah mereka. Begitu juga dalam perusahan dan bisnis mereka, selalu mengharap akan selalu makmur dan sejahtera.

Zaman dahulu hingga sekarang, negara Jepang terkenal dengan pengahasil beras yang terbaik di dunia. Masyarakat Jepang dahulu menafkahi hidup mereka dengan menanam padi. Ketika padi mulai menguning ini suatu tanda pertanian mereka akan makmur dan panen akan berhasil. Sejak saat itu hingga sekarang orang Jepang menyakini warna kuning adalah suatu simbol kemakmuran. Selain itu, bagi orang yang mempunyai banyak emas di rumahnya atau menyinpan emas, ini menunjukka keluarga itu, keluarga yang makmur. Oleh karena itulah Maneki Neko yang warna kuning keemasan mempunyai nilai mitos kemakmuran.

Mitos kemakmuran hampir sama dengan mitos keberuntungan, berikuti ini contoh mitos kemakmuran di Jepang:

a. Suatu ketika ฀ating kucing tak bertuan dan betah tinggal di rumah tersebut, maknanya pemilik rumah tersebut akan mengalami nasib mujur

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

b. Ketika kucing peliharan melahirkan anak kucing belang empat, makanya pemilik rumah akan selamat sejahtera.

c. Kalau kucing peliharaan beranak tujuh bermakna bahwa pemiliknya akan kaya.

d. Ketika kucing peliharaan melahirkan anak kucing belang tiga, maknanya pemilik rumah aka dapat rejeki dalam waktu dekat.

e. Barang siapa yang memelihara kucing belang putih dan bercorak kuning, maka kehidupan pemilik rumah akan makmur dan sejahtera.

Mitos-mitos seperti tidak hanya ada di Jepang, namun di Indonesia juga ada tidak jauh beda makna dan maksudnya.

3.3.3 Pelindung

Maneki Neko yang mengandung nilai mitos pelindung ada dua yaitu warna hitam dan warna merah. Warna hitam dipercaya dapat menjaga kesehatan pemiliknya dan mencegah datangnya setan. Mengenai kucing hitam, dahulu para penyihir di Eropa selalu memelihara kucing hitam. Orang-orang menganggap kucing hitam itu pembawa sial karena kucing hitam adalah peliharaan para penyihir. Padahal, keberadaan kucing hitam di tengah-tengah para penyihir adalah untuk menjaga para penyihir dari bala atau hal-hal jahat yang selalu mengincar. Dengan kata lain, kucing hitam dipelihara para penyihir untuk menolak musibah.

Mitos kucing hitam kebanyakan bersifat negatif, berikut mitosnya :

a. Berpapasan dengan kucing hitam (tanpa bulu putih sama sekali) ketika sedang berjalan, akan mendapat sial

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

c. Jika ada kucing melompat ke tempat tidur orang terbaring sakit, dipercaya kematian akan ฀amper dan lain-lain

Namun di Jepang Maneki Neko berwarna hitam dijadikan ฀amper pelindung bagi pemiliknya, sama seperti para penyihir abad pertengahan di Eropa, menjadikan kucing hitam sebagai pelindung. Orang Jepang meyakini Maneki Neko hitam dapat melindungi dari setan dan mencegah dari penyakit.

Selain itu Maneki Neko berwarna merah juga diyakini sebagai pelindung dari arwah jahat dan melindungi dari bahaya penyakit. Baik yang hitam maupun yang merah

฀amper tidak ada bedanya keduanya biasa dijadikan sebagai jimat bagi pemiliknya. Warna merah biasanya sering dihadiyahkan kepada yang sakit. Maneki Neko berwarna seperti ini biasa disimpan didalam rumah agar orang seisi rumah tersebut akan terlindungi dari berbagai penyakit dan gangguan arwah-arwah jahat.

Berikut ini beberapa mitos kucing pembawa perlindungan:

a. Kucing dipercaya mampu melihat hal-hal gaib. Oleh karena itu sering digunakan sebagai jimat, ฀ellet, obat perangsang dan dipercaya dapat membawa keberuntungan b. Banyak bagian tubuh kucing digunakan untuk penyembuhan. Salah satu yang banyak digunakan adalah ekornya

c. Kucing dipercaya dapat meramal dan mempengaruhi cuaca. Bahkan kalau melempar kucing ke gelagak kapal laut dipercaya dapat mendatangkan badai di laut

d. Disarankan untuk menyimpan atau mengantungi bulu kucing yang sudah dikeringkan, bermakna untuk ajimat dalam berjudi dan lain-lain

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

Mitos mengenai nilai selamat datang ini tidak banyak, tetapi hampir semua Maneki Neko menujukan nilai selamt datang bagi yang melihatnya. Karena dari namanya saja sudah menunjukka memanggil untuk datang. Maneki ( ) dalam bahasa Jepang artinya memanggil, mengundang, atau mengajak. Sedangkan Neko ( ) artinnya kucing. Jadi Maneki Neko aritnya kucing memanggil untuk datang. Bagi pemiliknya mereka sangat senang apabila ada yang datang dan mengucapkan selamat datang.

Ciri-ciri Maneki Neko yang seperti ini adalah dari segi warna biasanya warna belang tiga warna yang terkenal itu. Ada juga yang berwarna kuning keemasan. Ciri yang paling menonjol dari Maneki Neko seperti ini adalah tangan selalu dibuat bergerak-gerak seperti sedang memanggil. Maneki Neko tersebut dilengkapi dengan baterai atau sel tenaga surya agar dapat menggerakkan kaki depangnya. Oleh sebab itu Maneki Neko ini cocok diletakkan di restoran-restoran, toko, hotel dan lain sebagainya.

Dari beberapa nilai mitos-mitos di atas, kebenaranya belum bisa diuji dengan akal dan pikiran serta belum tentu ada benarnya. Ini semua adalah mitos, dan tahayul bisa benar atau tidak, tergantung siapa yang mempercayainya. Bagi orang Jepang ini sudah menjadi suatu keyakinan atau budaya yang tidak mungkin bisa untuk ditinggalkan dalam masyarakat Jepang.

Dokumen terkait