• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.2 Saran

Adapun saran-saran yang dapat diberikan adalah:

1. Keakuratan data dalam pembahasan “Maneki Neko” dalam pandangan Jepang ini sangat perlu sehingga penulis merekomendasikan agar penelitian yang akan dilakukan berikutnya pada masalah yang terkait dengan ini agar lebih aktif dalam pengumpulan data baik berupa buku maupun data dari internet sehingga menunjang kelengkapan data, paling tidak mewakili data yang dibutuhkan.

2. Kebenaran atau tidak benarnya mitos dalam penulisan ini tergantung keyakinan masing-masing. Penulis tidak memaksa untuk meyakininya 100%, penulis menyarankan agar lebih dalam untuk mencari kebenaranya.

3. Sebelum melakukan penelitian pengumpulan data sebaiknya dilakukan beberapa bulan sebbelum menentukan bahasan (judul) sehingga dapat ditentukan poin-poin yang akan dibahas dan batasan-batasanya.

Daftar Pustaka

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

B.Malinoswki. 1967. Sex, Culture and Myth. London:hlm 305

____________1954. Magic, Science and Religion. New York.hlm 85 ____________ 1954. Magic, Science and Religion. New York.hlm 88

Crownia, Elsya. 2003. Mitologi Jepang. (htt//en.Wikipedia.org/wiki/Mitologi) Danandjaja, Jammes. 1984. Folklere Indonesia;Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain.

Jakarta: Grafik Pers.

__________1997. Folklor Jepang Dilihat Dari Kacamata Indonesia.Jakarta: Garafik Pres. Dhavamony, Mariasusai. 2007. Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius

Eliade, Mircea. 1969. “Myth” sebuah artikel dalam Encylopedia Britannica.xv. Hlm.1134-5.

Fabelwesen, Kinderbuch dkk. 1996. Makhluk Dalam Legenda. Jakarta: Kencana Press. Frazer, James. 1963. The Golden Bough ( A Studi in Magic and Religion ). London:

Abridged Edition.

Kiyoshi Sonobe dkk. 1965. Japanese Toys Playing With History. Tokyo: Bijutsu Shuppan-shi.

Koentjaraningrat. 1998. Pengantar Antropologi II. Jakarta. PT Rineka Cipta. Matsubara, Saburo, dkk. 1987. Sejarah Kebudayaan Jepang: Sebuah Perspektif ( terj. Oleh Siti Dahsiar Anwar). Kementrian Luar Negeri.

Minsarwati, Wisnu. 2002. Mitos Merapi dan Kearifan Ekologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Mulyadi. 2004. ‘Prosedor dalam Penelitian Bahasa’ dalam studi Kultura. USU Press. Nio Joe Lan. 1878. Djepang Sepanjang Masa. Jakarta :PT.Kinta.

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

Pustaka Pelajar.

Ross. Catries. 2007. Mistik Jepang. Yogyakarta. Pinus Book Publisher.

Sayidiman, Suryohadiprojo. 1982. Manusia dan Masyarakat Jepang Dalam Perjuangan Hidup. Jakarta : Pustaka Bradja Guna.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yawato, Aoi. 1953. Nihon no Ayumi to Sekai ( Perjalanan Jepang dan Dunia ). Tokyo : Chukyosuihan Kapushiki Kaisha.

Htt://Wikipedia About The Cat. Htt://Wikipedia.Maneki Neko. Htt://Wikipedia.org/Wiki/kucing www. Wikipedia.or.id

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

“MANEKI NEKO” DALAM PANDANGAN JEPANG

Bagi orang Jepang kucing adalah hewan teramat istimewa. Bahkan katanya orang Jepang lebih suka memelihara kucing dari pada anjing. Kebiasaan memelihara kucing sudah ada sejak zaman dahulu. Awalnya sejak kucing membantu mengusir tikus dari pertania mereka.

Para kaisar yang pernah menduduki tahta pemerintahan Jepang katanya dahulu juga suka memelihara kucing. Ini sebabkan karena adanya mitos turun-temurun yang mengatakan bahwa kucing adalah hewan kesayangan Dewa Amaterasu, dewa matahari. Sebagai hewan kesayangan dewa, barangsiapa yang memelihara kucing dengan baik, maka akan mendapat balasan yang baik pula dari dewa. Sebaliknya, barangsiapa yang menyakiti atau berlaku buruk terhadap kucing, maka akan mendapat kesialan dan keburukan.

Itulah sebabnya, masyarakat Jepang suka memelihara kucing. Selain karena hewan ini lucu, kucing juga dijadikan sebagai hewan pembawa keberuntungan. Karena sangat mengagungkan kucing, katanya orang Jepang tidak akan memperlakukan jenazah kucing sembarangan. Tradisi ini tetap berlaku sampai sekarang. Apabila ada kucing peliharaan mereka mati, orang Jepang akan menguburkan jenazah kucing di pemakaman khusus hewan seperti layaknya manusia. Mereka memasang dupa di kuburan kucingnya dan mendoakan supaya arwah sang kucing diterima dikerajaan dewa.

Mitos yang mengatakan kucing sebagai hewan keberuntungan ada banyak. Salah satunya mengatakan, barang siapa yang memelihara dan merawat kucing dengan baik, maka akan mendapat balasan rahmat berupa rejeki dari dewa kemakmuran. Dan orang

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

Jepang mempercayai ini. Dari mitos inilah lahir boneka “Maneki Neko”, yaitu boneka atau patung kucing yang duduk dan melambaikan satu kaki depanya. Kita sering melihat patung seperti ini di toko-toko. Patung ini adalah simbol rejeki atau kemakmuran.

Ada beberapa legenda atau cerita awal munculnya kucing “Maneki Neko”. Seperti Legenda Kuil Goutokuji, Legenda Usugumo dari Yoshiwara, dan Legenda Tua Wanita Imado. Inti dari legenda ini menceritakan seekor kucing yang menolong seseorang sehingga dapat terhidar dari marabahaya. Kucing tersebut memberi isyarat dengan tangannya untuk menyelamatkan seseorang dari bahaya. Dari cerita inilah lahir boneka “Maneki Neko”.

Maneki Neko bagi masyarakat Jepang diyakini sebagai simbol keberuntungan. Bagi yang membelinya, menghapkan keberuntung akan datang kedalam kehidupannya. Selain itu, Maneki Neko dibuat dengan karakter yang berbeda-beda. Dari segi warna, bentuk kaki, dan ornamen, menjadikan Maneki Neko lebih diminati oleh orang Jepang. Setiap warna Maneki Neko memiliki nilai mitos tersendiri. Misalnya, hitam sebagai warna pelindung dari arwah jahat, dan penyakit. Kuning keemasan sebagai simbol kemakmuran, dan Maneki Neko warna belang (putih, hitam, oranye) sebagai simbol keberuntungan.

Oleh karena itu, masyarakat Jepang menjadikan Maneki Neko sebagai suatu simbol keberuntungan, kemakmuran, pelindung dan sebagainya. Namun ini semua adalah mitos. Mitos yang sudah ada dari dahulu hingga sekarang. Mitos yang diceritaka dari mulut kemulut dan masyarakat Jepang mempercayainya. Tidak semua orang Jepang bisa memelihara kucing, karena alasan yang berbeda-beda, maka dibuatlah boneka atau patung kucing “Maneki Neko” sebagai simbol keberuntungan.

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

LAMPIRAN

Maneki Neko Warna Hitam

Keterangan : Maneki Neko hitam ini diyakini sebagai pelindung dari setan dan mencegah datangnya setan.

( Sumber gambar: htt://www.Maneki Neko.or.jp/org.bri.html )

Maneki Neko Memegang Palu

Keterangan: Maneki Neko dengan ornament sedang memegang palu ( sumber: htt://www.Maneki Neko.or.jp/org.bri.html )

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

Maneki Neko Memakai Kimono

Keterangan: Maneki Neko ini dibuat untuk menarik pelanggan, dengan keunikan memakai kimono baju khas Jepang.

( sumber: htt://www.Maneki Neko.or.jp/org.bri.html )

Maneki Neko dengan enam ekor anak Keterangan : karakter ini di yakini sebagai pembawa keberuntungan. ( sumber: htt://www.Maneki Neko.or.jp/org.bri.html

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

Maneki Neko sedang Mengangkat tangan kanan dan kiri Keterangan: sebagai pelaris, dilihat dari tangan mana yang di angkat. ( sumber: htt://www.Maneki Neko.or.jp/org.bri.html

Maneki Neko Tiga bersaudara Keterangan : melambangkan kekempakan antara sesama manusia ( sumber: htt://www.Maneki Neko.or.jp/org.bri.html

M. Mubarak Hasibuan : “Maneki Neko” Dalam Pandangan Jepang Nihon No Siso Kara Miru “Maneki Neko”, 2009. USU Repository © 2009

Dokumen terkait