• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HIKAYAT JAYA LENGKARA DAN

C. Nilai-nilai Moral Hikayat Jaya Lengkara

1. Nilai Moral Positif

Di dalam Hikayat Jaya Lengkara terdapat nilai moral yang positif yaitu nilai moral yang baik. Nilai moral positif yaitu perbuatan yang dapat membantu atau meringankan beban orang lain. Nilai moral positif dapat dijadikan suatu perbuatan yang perlu dicontoh atau diikuti oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.

a. Kasih Sayang

“Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi, tak harap kembali.

Bagai sang surya menyinari dunia”

Demikianlah lirik lagu yang menggambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Kasih sayang merupakan suatu sikap saling mengasihi antara sesama makhluk tuhan. Salah satu kasih sayang yang terdahsyat di dunia ini adalah kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya itu terlihat mulai dari prosesi mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, dan membesarkan anaknya dengan tulus, ikhlas, dan limpahan kasih sayang. Bahkan seorang ibu pun rela mati untuk anaknya sebagaimana yang terdapat dalam kutipan Hikayat Jaya Lengkara berikut ini:

maka sembah bunda Jaya Lengkara “Ya Tuanku, adapun jikalau anak hamba ini dibunuh maka baiklah bunuh dengan hamba sekali-kali” maka kata raja “Hai adinda, mengapakah adinda berkata demikian itu?” maka kata bunda Jaya Lengkara “Ya Tuan ku, hamba tiada sampai hati hamba melihat anak hamba dibunuh itu karena baik dan jahatnya anak hamba ini sahaja hamba turut akan.”.52

52

Kutipan di atas menceritakan tentang pembelaan ibu Jaya Lengkara kepada anaknya yang ingin dibunuh oleh ayahnya sendiri karena dianggap jahat dan sangat berbahaya, ibunya pun rela mati demi membela anak satu-satunya dan kesayangannya.

b. Adil

Salah satu pengertian adil adalah tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Sikap tersebut merupakan sikap terpuji yang harus dimiliki oleh manusia terutama bagi seorang penguasa atau pemimpin. Seorang penguasa atau pemimpin harus adil kepada seluruh rakyatnya atau bawahannya, ia tidak boleh bertindak sewenang-wenang, tebang pilih, mengutamakan pribadi dan golongannya.

Sikap adil ini secara tersurat terdapat dalam Hikayat Jaya Lengkara yaitu pada kutipan berikut ini:

…negeri sangat adil hukumnya dan daripada fakir dan miskin.53

Kutipan di atas menunjukan bahwa Raja Saiful Muluk yang merupakan Raja dari negeri Ajam Saukat sangat adil, terutama kepada rakyat yang fakir dan miskin. Sejatinya harta dan jabatan hanyalah titipan serta amanah yang harus dilaksanakan dengan adil, amanah dan penuh tanggung jawab.

c. Tanggung Jawab

Tanggung jawab merupakan suatu sikap terpuji yang harus dimiliki oleh manusia. Dengan sikap ini manusia dituntut untuk menghormati hak dan melaksanakan kewajibannya. Salah satu indikator orang yang bertanggung jawab adalah melakukan segala sesuatu terutama yang menyangkut kewajibannya dengan totalitas dan kesungguhan.

53

Adapun salah satu sikap tanggung jawab yang terdapat dalam Hikayat Jaya Lengkara terdapat dalam kutipan berikut:

maka kata tuan putri Ratna Kasina “Hai niniku mangkubumi, jika demikian baiklah tuanku pulanglah, adapun aku ini tiadalah aku mau kan pulang jikalau belum aku beroleh kembang kuma-kuma putih itu tiada ku balik.”54

Kutipan di atas bercerita tentang kesungguhan seorang anak dalam mencari obat untuk ayahnya yang sedang sakit parah. Bahkan ia pantang menyerah ketika harus ditinggalkan oleh pengawal serta pengikutnya sendirian di perjalanan yang penuh dengan aral dan rintangan demi mendapatkan obat untuk ayahnya yang belum ia dapatkan. Kesungguhan ini merupakan bentuk tanggung jawab seorang anak kepada ayahnya yang sedang kesusahan.

d. Tolong Menolong

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Ada kalanya senang dan ada kalanya susah, adakalanya menolong dan ada kalanya ditolong, oleh karena itu manusia harus saling tolong menolong antara satu sama lainnya, tentunya tolong menolong dalam kebaikan bukan kejahatan. Sebagaimana firman Allah Swt:

ّﹺﺮﹺﺒﻟﹾﺍ ﻰﹶﻠﻋ ﺍﻮﻧﻭﺎﻌﺗﻭ

ﻯﻮﹾﻘﺘﻟﺍﻭ

ِﻹﹾﺍ ﻰﹶﻠﻋ ﺍﻮﻧﻭﺎﻌﺗ ﹶﻻﻭ

ﹾﺛﹺﻢ

ﺍﻭﺪﻌﻟﹾﺍﻭ

ﻥ

“Dan tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah:2)

54

Adapun contoh perbuatan tolong menolong dalam Hikayat Jaya Lengkara terdapat dalam kutipan berikut ini:

maka ujar Makdam dan Makdim “Hai orang muda jika tuan hamba diam di dalam hutan ini mintalah air, hamba ini telalu dahaga” maka kata Jaya Lengkara “Marilah kita pada tempat hamba diam” maka ia pun masuklah ke dalam goa itu mengambil air di dalam kendi, maka [maka] Makdam dan Makdim pun heranlah melihat goa itu. Maka Jaya Lengkara pun keluarlah serta memberikan kendi itu/23/kepada Makdam dan Makdim, maka disambut oleh Makdam dan Makdim kendi itu lalu diminumnya oleh Makdam dan Makdim. 55

maka kata Makdim “Adapun dalam kira-kira kakanda kedua, jikalau lain daripada adinda mencari kembang itu, tiada dapat mengambil kembang itu” maka kata Jaya Lengkara “Marilah kita mencari kembang kuma-kuma putih itu!”56

Kutipan di atas bercerita tentang Jaya Lengkara yang menolong saudaranya yang sedang kesusahan di hutan serta menolongnya mencari kembang kumakuma untuk obat ayahnya yang sedang sakit.

e. Bersyukur

Bersyukur merupakan bentuk atau cara berterimakasih seorang hamba kepada Tuhannya atas nikmat dan karunia yang telah diberikan kepadanya Dengan bersyukur berarti dia sudah

55

Ibid., h. 22-23.

56

menghormati Tuhannya. Ada banyak cara bersyukur bersyukur salah satunya dengan mengucapkan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam) ini menyatakan dan mengingatkan kepada kita bahwa segala puji-pujian itu hanya pantas disematkan kepada Tuhan bukan kepada manusia, oleh karena itu manusia tidak boleh sombong dan congkak.

Adapun sikap bersyukur yang ada dalam Hikayat Jaya Lengkara terdapat dalam kutipan berikut:

maka semuanya mengucap syukur “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin segala puji-puji bagi Allah subhanahu wata’ala juga memberi hambanya kebesaran dan kemuliaan atas hambanya yang di dalam dunia ini.57

maka tuan kadi pun terus-terus serta mengucap syukur Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.58

maka kata Jaya Lengkara “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin”59

Kutipan di atas berisikan tentang bersyukurnya hulubalang, ahli nujum, dan kadi kepada Allah SWT karena telah diberikan karunia berupa kebesaran, kemuliaan dan pengetahuan.

f. Sabar

Sabar merupakan sikap terpuji lagi mulia yang tidak semua orang dapat mengamalkannya. Terkadang manusia terlalu mudah kecewa dan putus asa apabila menghadapi kegagalan dalam hidupnya. Pada dasarnya kegagalan itu merupakan ujian dari Tuhan

57 Ibid., h. 5. 58 Ibid., h. 8. 59 Ibid., h. 25.

kepadanya karena apabila ia berhasil menghadapi ujian tersebut niscaya Allah telah menyiapkan hadiah indah untuknya dan Allah juga beserta orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah SWT:

ﻦﻳﹺﺮﹺﺑ ﺎﺼﻟﺍ ﻊﻣ َﷲﺍ ﱠﻥﹺﺇ ﺓﹶﻼﺼﻟﺍﻭ ﹺﺮﺒﺼﻟﺎﹺﺑ ﺍﻮﻨﻴﻌﺘﺳﺍﺍﻮﻨﻣﹶﺍ ﻦﻳﺬﱠﻟﺍﹶﺎﻬﻳﹶﺍ ﺎﻳ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabr dan sholat menjadi penolongmu. Karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (QS: Al-Baqarah: 153)

Adapun sikap sabar yang ada dalam Hikayat Jaya Lengkara terdapat dalam kutipan berikut:

dan istri baginda yang lama itu tiada dikasihani seperti dahulu kala <la>gi, maka tuan putri pun pikir dalam hatinya Tuan Putri Sa<ka>nda Cahaya Rum tahulah akan dirinya sebab tiada beranak maka tiada lagi dikasihani baginda seperti dahulu, maka tuan putri Sakanda Cahaya bermohon do’a kepada Allah subhanahu wata’ala demikian bunyinya “Ya Rabbi Yaa Sayyidi Ya Maulaaya Tuhanku berapalah kiranya hambamu beranak barang seorang saja”, demikianlah pintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka tiada juga beberapa lamanya tuan putri minta do’a dia kepada Allah subhanahu /3/ wata’ala, dia pun hamillah. Setelah genap bulannya, tuan putri Sakanda Cahaya Rum beranak pula seorang laki-laki yang elo<k> rupanya gemang gemilang seperti bulan purnama empat belas hari.60

60

Kutipan di atas bercerita tentang kesabaran Putri Sakanda Cahaya istri Raja Saiful Muluk yang sudah lama menikah akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak, sampai-sampai ia pun dimadu oleh suaminya itu. Akan tetapi dengan kesabarannya dan terus berdoa kepada sang pencipta, akhirnya ia dikaruniai seorang putra yang kelak akan menjadi raja.

”Hai ibuku, apalah mulanya maka kita ke dalam hutan ini?” maka kata ibunya pun diam tiada mau berkata lagi karena takut akan Jaya Lengkara marah akan saudaranya Makdam dan Makdim..61

“Hai ibuku, siapakah orang ini?” kata ibunya “Hai anakku, inilah saudaramu yang bernama Makdam yang muda inilah saudaramu yang bernama Makdam yang muda inilah bernama Makdim, anak raja Ajam Saukat da<ri> istrinya yang muda, karena ia hendak mencari kembang kuma-kuma putih akan obat ayahanda mu sakit” maka kata Jaya Lengkara “Jikalau demikian hai kakanda Makdam dan Makdim, dimanakah tempat kembang itu?” maka kata Makdam dan Makdim “Hai saudaraku, karena kakanda pun tiada juga tahu akan tempat kembang kuma-kuma putih/25/itu” maka kata Makdim “Adapun dalam kira-kira kakanda kedua, jikalau lain daripada adinda mencari kembang itu, tiada dapat mengambil kembang itu” maka

61

kata Jaya Lengkara “Marilah kita mencari kembang kuma-kuma putih itu!” 62

Kutipan di atas bercerita tentang kesabaran ibunda Jaya Lengkara kepada anak tiri yang telah memfitnah dan menghasudnya serta anaknya sehingga ia harus terusir dari kerajaan. Dan juga kesabaran Jaya Lengkara ketika mengetahui bahwa orang yang ditolongnya adalah orang yang menyebabkannya hendak dibunuh dan diusir bersama bundanya, tetapi sedikitpun dia tidak marah, malah berniat menolong saudaranya itu untuk mencari obat buat ayahnya yang sedang sakit parah, dan ia juga sangat sabar dalam menghadapi orang yang jelas-jelas ingin mencuri kembang kumakuma itu yang telah susah payah dia dapatkan dengan mengampuninya.

Kisah ini mengajarkan bahwa selain harus sabar dalam menghadapi kegagalan, manusia juga harus sabar dalam menyimpan rahasia dan sabar dalam menahan amarah, sebagaimana sabda Rasulallah SAW

ﹺﺐﻀﻐﻟﹾﺍ ﺪﻨﻋ ﻪﺴﹾﻔﻧ ﻚﻠﻤﻳ ﻱﺬﱠﻟﺍ ﺪﻳﺪﺸﻟﺍ ﺎﻤﻧﺍ ﺔﻋﺮﺼﻟﺎﹺﺑ ﺪﻳﺪﺸﻟﺍ ﺲﻴﹶﻟ

Orang kuat itu bukanlah orang yang kuat bergulat, tetapi orang yang dapat menahan amarahnya”. (HR. Bukhari Muslim)63

g. Hormat

Sikap hormat merupakan salah satu sikap terpuji dan penting dalam kehidupan sosial manusia. Apabila yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda maka akan terciptalah kedamaian di dunia. Selain kepada yang lebih tua, sikap hormat dan takzim juga layak disematkan kepada orang yang berjasa seperti orangtua, guru, dokter, dan lain sebagainya. Dan ada pula sikap hormat yang diajarkan oleh Rasulallah SAW demi terciptanya kerukukan dan kedamaian dalam membina hubungan

62

Ibid., h. 25.

63

Muhammad Said, 101 Hadits Tentang Budi Luhur, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986), cet. 37, h. 10.

sosial antar manusia yaitu hormat kepada tetangga dan kepada tamunya. Sebagaimana sabdanya:

ﻪﹶﻔﻴﺿ ﻡﹺﺮﹾﻜﻴﻟﹾﺎﹶﻓ ﹺﺮﺧَﻷﹾﺍ ﹺﻡﻮﻴﻟﹾﺍﻭ ِﷲﺎﹺﺑ ﻦﻣﺆﻳ ﹶﻥﺎﹶﻛ ﻦﻣ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya Ia menghormati tamunya.” (HR. Muslim)64

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Nabi Ibrahim As setiap hari menyembelih seekor domba untuk dimasak untuk menjamu tamu-tamunya, dan banyak lagi cerita-cerita lainnya yang mengisahkan tentang penghormatan kepada tamu termasuk yang terdapat dalam Hikayat Jaya Lengkara dalam kutipan berikut:

Makdam dan Makdim serta dia bawa oleh kadi ke rumahnya diarakan [oleh] seperti adat anak raja-raja65

maka kata Jaya Lengkara “Hai kakanda <ben>tar juga dahulu karena ibu hamba lagi hendak menjamu kakanda makan dan minum tujuh hari tujuh malam” maka Makdam dan Makdim pun menanti jua beberapa lamanya makan dan minum yang amatlah nimat jua rasanya, maka Makdam dan Makdim pun terlalu suka hatinya dijamu oleh saudaranya itu.66

Kutipan di atas menceritakan tentang penghormatan seorang kadi kepada anak raja yang ingin berkunjung ke rumahnya dan penghormatan seorang ibu kepada anak tirinya yang telah menghasudnya sampai ia dikeluarkan dari kerajaan. Hal ini

64

Ibid., h. 19.

65

Hikayat Jaya Lengkara., h. 6.

66

mengajarkan manusia bahwa jangankan kepada teman, kepada lawanpun harus bersikap hormat.

h. Berani

Berani merupakan suatu sikap hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, masalah, dan sebagainya. Berani di sini tentunya berani dalam melakukan kebaikan bukan kejahatan.

Adapun sikap berani yang ada dalam Hikayat Jaya Lengkara terdapat dalam kutipan berikut:

maka <kata> Jaya Lengkara “Hai kakanda, janganlah takut karena sudah adad kita anak laki-laki”67

kata Jaya Lengkara “Marilah kita masuk ke dalam goa itu!” maka kata Makdam dan Makdim “Hai adinda, janganlah kita masuk ke dalam goa ini karena sangat takut cahaya ini karena siapa tahu barangkali ada harimau dan raksa atau <ul>ar dan kala [kah]” maka Jaya Lengkara pun masuk juga seorang ke dalam goa itu dengan seorang dirinya..68

Kutipan di atas menceritakan tentang Jaya Lengkara yang pemberani dan berusaha untuk menenangkan saudaranya yang penakut. Sejatinya seorang hamba selagi ia benar harus berani kepada apapun dan siapapun, dan yang pantas ditakuti hanyalah Tuhan sang pencipta bukan makhluk ciptaanNya yang fana.

Dokumen terkait