• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan hasil penilitian ini, penulis mencoba memberi saran sebagai berikut.

1. Diharapkan Hikayat Jaya Lengkara ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, diharapkan bagi pendidik untuk dapat memanfaatkan hikayat ini sebagai media pembelajaran sastra nantinya.

2. Pembelajaran nilai-nilai moral yang telah didapatkan dalam novel tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai bekal dan pegangan dalam perjalanan hidup peserta didik sehingga peserta didik lebih bijaksana dalam menghadapi kehidupan yang kompleks dan multidimensi seperti sekarang ini.

3. Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan muncul usaha-usaha baru dalam penelitian filologi di masa yang akan datang, terutama di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta agar dapat menjaga dan melestarikan khazanah sastra lama.

87

Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985.

Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Cet. 11, 2011.

Budiningsih, C. Asri. Pembelajaran Moral. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Daradjat, Zakiah. Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang,

1975.

Dewan Bahasa dan Pustaka. Kamus Bahasa Melayu Nusantara. Brunei Darussalam:

Dewan Bahasa, 2003.

Djamaris, Edwar. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Ikram, Achdiati. Filologia Nusantara. Jakarta: Pustaka Jaya, 1997.

Kosasih, E. Khazanah Sastra Melayu Klasik. Jakarta: Nobel Edumedia, 2008.

Lubis, Nabilah. Naskah, Teks, dan Metodologi Penelitian Filologi. Jakarta: Yayasan

Media Alo Indonesia, 2001.

Mulyati, Yeti. Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Berorienatasikan

Fungsi Komunikatif Bahasa untuk Siswa Sekolah Dasar, dalam

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESI

A/196008099 86012 diakses pada hari Kamis, 12 Desember 2013 pukul 19.19 WIB.

Nurgiantoro, Burhan. Teori Pengakajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University

Press, 1994.

Said, Muhammad. 101 Hadits Tentang Budi Luhur. Bandung: Al-Ma’arif, Cet. 37,

1986.

Sjarkawi. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Stanton, Robert. Teori Fiksi, Terjemahan dari An Introduction to Fiction oleh

Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I,

2007.

Sudardi, Bani. Dasar-dasar Teori Filologi. Surakarta: Penerbit Sastra Indonesia,

2001.

Sudjiman, Panuti. Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya, 1994.

---. Adat Raja Raja Melayu. Jakarta: UI Press, 1996.

Sunardjo, Nikmah. dkk, Telaah Susastra Melayu Betawi,. Jakarta: Depdikbud, 1991.

Suryani, Elis. Filologi. Bogor: Ghalia Indonesia, 2012.

Suseno, Magnis. Etika Dasar, Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta:

Penerbit Kanisius, 1987.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi

Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa. 2008.

Vaughn, Lewis. Doing Ethics. New York: W.W. Norton & Company, 2008.

Wellek, Rene. dan Austin Warren. Teori Kesusatraan. Jakarta: Gramedia, 1989.

Kata-kata sulit yang ditemukan dalam teks Hikayat Jaya Lengkara diartikan menurut Kamus Bahasa Melayu Nusantara. Kata-kata sulit yang terdapat dalam teks Hikayat Jaya Lengkara sebagai berikut:

1. Hulubalang = kepala laskar; pemimpin pasukan;

2. Kadi = Hakim yang mengurus atau mengadili perkara-perkara yang bersangkut-paut dengan Agama Islam (seperti, perceraian, dan pelanggaran hukum Islam)

3. Hatta = kemudian dari itu; lalu; maka; sudah itu lalu… 4. Masygul = bersusah hati karena suatu sebab; sedih; murung 5. Barakat = karena; akibat dari;--

6. Hikmat = kebijakan; kearifan; kesaktian (kekuatan gaib)

7. Isyarat = segala sesuatu (gerakan tangan, anggukan kepala, dsb) yang dipakai sebagai tanda atau alamat

8. Duli = kaki, pergi, kata hormat yang digunakan apabila berkata kepada raja atau berbicara tentang raja (huruf

pertamanya ditulis dengan huruf besar ataukapital) 9. Maulaya = (1) gelar kehormatan untuk ulama besar atau sufi, (2)

tuan ku, (3) gelar kehormatan untuk Allah SWT (sebagai pelindung atau penolong, gelar kehormatan untuk para nabi (sebagai pembimbing umat).

10. Sayid = Tuan

11. Rabbi = Tuhanku (digunakan dalam doa)

12. Sembah = 1. Pernyataan hormat dan khidmat di hadapan raja dsb dengan menangkupkan kedua belah telapak tangan serta menyusun jari sepuluh, lalu mengangkatnya hingga ke paras dagu atau dahi. 2. Kata-kata yang diucapkan atau ditujukan kepada raja (orang yang dimuliakan dsb)

15. Kuma-kuma = 1. BM stigma (daripada crocus berbunga ungu) yang berwarna jingga, berbau kuat, dan dikeringkan, digunakan untuk mewarnai dan memberi perisai kepada makanan 2. Kunyit.

16. Patik = sl saya (dipakai sewaktu bercakap dengan raja); hamba 17. Jadi = lahir, dilahirkan.

Cover Hikayat Jaya Lengkara

Bagian Depan Hikayat Jaya Lengkara

dipanggil Zain merupakan anak keempat dari enam bersaudara ini lahir di Tangerang, 15 Januari 1990. Ia telah berhasil menuntaskan pendidikannya di MI Hidayaturrahman (2001), SMP Negeri 1 Teluknaga (2004), dan MA Qotrun Nada (2008). Setelah itu ia memilih melanjutkan pendidikannya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan memilih Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pria manis berlesung pipit, berkumis tipis, berbadan atletis, berkulit tropis ini suka sekali menulis, cenderung melankolis, sedikit apatis namun selalu optimis. Olahraga terutama sepakbola adalah kekasih keduanya, berpetualang adalah kegemarannya, coklat adalah makanan kesukaannya dan bermain game PES adalah hobinya. Pemilik tempat pencucian motor “Zain Motor Steam” ini suka sekali berwirausaha. Sedari kecil ia sudah berani berjualan berbagai macam komoditas seperti: es, pempek, pastel, jajanan, dan sebagainya. Bahkan selagi kuliah pun ia pernah jualan keripik singkong bersama Tita, Arif, dan Fitri. Menjadi pengusaha sukses merupakan idamannya.

Pemeran utama “Jenny” dalam drama “Waria KM 25” ini mempunyai pengalaman menarik ketika awal pertama masuk kuliah yaitu ia sampai tiga kali keluar masuk kelas yang sama karena salah melihat jadwal kuliah yang harusnya Selasa malah dilihat Senin dan akhirnya ia pun menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Selasa, 1 September 2009 merupakan awal mulanya ia bergulat dan berkutat di Ciputat.

Selama kuliah, penerima Beasiswa BUMN Peduli Pendidikan PT. Angkasa Pura II ini pernah menjadi delegasi untuk mengikuti berbagai macam kegiatan diantaranya: Debat Bahasa Mahasiswa Se-JABODETABEK di Pusat Bahasa Jakarta, Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Jakarta Convention Center, Pelatihan Da’i Muda Lazuardi Birru di Jakarta, dan lain sebagainya. Mahasiswa yang lebih dominan menggunakan otak kirinya ini sangat menyukai filologi dan Alhamdulillah telah berhasil menyusun skripsi dengan kajian filologi berbahasa Indonesia pertama di almamaternya.

Dokumen terkait