Menurut UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN, yaitu ASN mampu mengaktualisasikan Nilai nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti korupsi dalam menjalankan tugas jabatan ASN secara profesional. ASN sebagai pelayan masyarakat yang meliputi kemampuan berakuntabilitas, mengedepankan kepentingan nasional, menjunjung tinggi standar etika publik, berinovasi untuk peningkatan mutu pelaksanaan tugas jabatannya, dan tidak korupsi dan mendorong percepatan pemberantasan korupsi di lingkungan instansinya. Adapun nilai-nilainya adalah sebagai berikut:
1. Akuntabilitas
Tujuan utama dari akuntabilitas adalah untuk memperbaiki kinerja PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Arti akuntabilitas sendiri adalah kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab dan amanahnya. Amanah seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik. Akuntabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang berlaku pada setiap level/unit organisasi sebagai suatu kewajiban jabatan dalam memberikan pertanggungjawaban laporan kegaitan kepada atasannya (Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2015). Adapun indikator akuntabilitias antara lain:
tanggung jawab, jujur, netral, kejelasan target, adil, transparan, konsisten, partisipatif, dan mendahulukan kepentingan publik. PNS yang akuntabel adalah PNS yang mampu mengambil pilihan yang tepat ketika kerjadi konflik kepentingan, tidak terlibat dalam politik praktis, melayani warga secara adil dan konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
2. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN. Setiap pegawai ASN wajib memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa, dan negara (Lembaga Administrasi Negara
Republik Indonesia, 2015). Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa:
a. Menempatkan persatuan dan kesatuan;
b. Kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan;
c. Menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara;
d. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri;
e. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa;
f. Menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia;
g. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
Adapun indikator nasionalisme antara lain: religius, hormat menghormati, kerjasama, tidak memaksakan kehendak, jujur, amanah, adil, persamaan derajat, tidak diskriminatif, mencintai sesama manusia, tenggang rasa, membela kebenaran, persatuan, rela berkorban, cinta tanah air, memelihara ketertiban, disiplin, musyawarah, kekeluargaan, menghormati keputusan, tanggung jawab, kepentingan bersama, gotong royong, sosial, tidak menggunakan hak yang bukan miliknya, hidup sederhana, kerja keras, dan menghargai karya orang lain.
Dari penjelasan di atas, maka PNS yang baik adalah yang senantiasa menjunjung tinggi martabatnya serta mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan diri sendiri, seseorang dan golongan. Seorang PNS wajib menjaga persatuan dan kesatuan agar keutuhan bangsa dapat terjaga.
3. Etika Publik
Etika merupakan refleksi atas standar norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah tindakan keputusan, perilaku untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik (Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2015). Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik, yakni:
a. Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
b. Sisi dimensi reflektif, etika publik berfungsi sebagai bantuan dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi.
c. Modalitas etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan faktual.
Adapun indikator etika publik antara lain: jujur, bertanggung jawab, integritas tinggi, cermat, disiplin, hormat, sopan, taat pada peraturan perundang-undangan, taat perintah, dan menjaga rahasia. Aturan etika PNS diatur dalam kode etik PNS. Kode etik adalah rumusan eksplisit tentang kaidah-kaidah atau norma yang harus ditaati secara sukarela oleh para pegawai di dalam organisasi publik. Para pegawai dan jabatan perlu terus diingatkan akan rujukan kode etik PNS yang tersedia. Adapun kode etik profesi dimaksudkan untuk mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok professional tertentu.
4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu merupakan pelaksanaan pelayanan publik dengan berorientasi pada nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan (customer) sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Apabila setiap lembaga pemerintah dapat memberikan layanan prima kepada masyarakat maka akan menimbulkan kepuasan bagi pihak yang dilayani. Maka dari itu, seorang ASN harus memiliki pemikiran kritis tentang konsep efektivitas, efisiensi, inovasi dan mutu demi tercapainya pelayanan yang prima (Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2015). Untuk menciptakan mutu pelayanan prima juga diperlukan perubahan orientasi, sikap, dan cara kerja sebagai berikut:
a. Dari orientasi kepada peraturan menjadi orientasi kepada masyarakat.
b. Dari cara kerja “asal bapak senang” dan asal-asalan menjadi berorientasi kepada mutu.
c. Dari sikap pasif menjadi proaktif dan inovatif.
d. Dari cara kerja individualis dan egosentris (bekerja sendiri dan berorientasi melayani pimpinan) menjadi cara kerja tim (kolektif).
Indikator komitmen mutu antara lain: efektif, efisien, berorientasi mutu, dan inovasi. Aktualisasi nilai-nilai dasar komitmen mutu dalam pelaksanaan tugas aparatur akan mendorong terciptanya iklim atau budaya kerja unggul yang dapat menumbuhkan keberanian untuk menampilkan kreativitas dan inovasi.
5. Anti Korupsi
Menurut Undang-Undang No. 31 Tahun 1999, tindak pidana korupsi terdiri dari kerugian keuangan negara, suap menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi. Jadi, anti korupsi berarti tindakan atau gerakan yang dilakukan untuk memberantas segala tingkah atau tindakan yang berhubungan dengan korupsi (Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2015). Oleh karena itu ASN perlu dibekali nilai dasar Anti korupsi agar bisa menghindari dan mencegah terjadinya tindak pidana korupsi sehingga tidak merusak kehidupan ASN. Adapun indikator anti korupsi antara lain: jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, mandiri, adil, berani, dan peduli.