• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

2. Nilai-nilai Karakter Mata Pelajaran Akuntansi

Pemberian dan pembentukan nilai-nilai karakter pada para siswa

dapat diinternalisasikan pada pusat-pusat pendidikan karakter yaitu

lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan

masyarakat.Menurut Zubaedi (2012:42) pendidikan karakter adalah

perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dengan pendidikan karakter,

seseorang akan menjadi cerdas emosinya.

Menurut Kurniawan (2013:40-41) nilai-nilai yang dikembangkan

dalam pendidikan karakter diidentifikasi berasal dari empat sumber

diantaranya adalah agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan

nasional. Berdasarkan kempat sumber nilai tersebut, teridentifikasi

sejumlah nilai untuk pendidikan karakter yaitu,

Tabel 2.1

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter

No Nilai Deskripsi

1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan.

5 Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

No Nilai Deskripsi

7 Mandiri Sikap dan perillaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8 Demokrasi Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9 Rasa ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, atau didengar. 10 Semangat kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan

berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya. 11 Cinta tanah air Cara berpikir, bertindak, dan

berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya. 12 Menghargai prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong

dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

13 Bersahabat/komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.

14 Cinta damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15 Gemar membaca Kebiasan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. 16 Peduli lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu

berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17 Peduli social Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

No Nilai Deskripsi

18 Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan YME.

Harmin dan Simon (Adisusilo, 2014:59) mengatakan bahwa “values are general yo behavior which tend to give direction to life”. Dalam pandangan Harmin dan Simon, nilai itu merupakan panduan umum untuk membimbing tingkah laku dalam rangka mencapai tujuan hidup seseorang. Pendapat ini selaras dengan Kalven mengenai peranan nilai dalam kehidupan manusia. Kalven (Adisusilo, 2014:59) menyatakan bahwa “Values play e key role in guiding action, resolving conflicts, giving direction and coherence to life. Values are motivators, not only in daily actions, but over the long haul. . . . Values are important as guides in a bewildering world, but even if we lived in a more stable and that tranquil moment of history, values would still have prime importance because of their profound relation both to vitality and to the processes of human maturing.” Jadi, menurut Kalven nilai mempunyai peranan begitu penting dan banyak di dalam hidup manusia, sebab nilai selain sebagai pegangan hidup, menjadi pedoman penyelesaian konflik, memotivasi dan mengarahkan hidup manusia. Nilai itu bila ditanggapi positif akan membantu manusia hidup lebih baik. Sedangkan bila dorongan itu tidak ditanggapi dengan positif, maka orang akan merasa kurang bernilai dan bahkan kurang bahagian sebagai manusia.

Berdasarkan pengertian nilai dari para ahli dapat disimpulkan

bahwa nilai merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan yang menjadi

dasar bagi seseorang atau sekelompok orang untuk memilih tindakannya,

atau menilai sesuatu yang bermakna atau tidak bermakna bagi

Adisusilo (2014:70) mengatakan bahwa seseorang yang berhasil

menyerap nilai-nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta

digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya maka orang tersebut

adalah manusia yang berkarakter atau berwatak. Aristoteles (Lickona,

2013:71) mengatakan bahwa karakter yang baik sebagai hidup dengan

tingkah laku yang benar, tingkah laku benar dalam berhubungan dengan

orang lain dan berhubungan dengan diri sendiri. Sedangkan menurut

Lickona (2013:72) karakter yang baik terdiri atas mengetahui kebaikan,

menginginkan kebaikan, dan melakukan kebaikan.

a. Komponen-komponen karakter yang baik

Menurut Lickona (2013:74) karakter terbentuk dari tiga macam

bagian yang saling berkaitan diantaranya adalah :

1) Pengetahuan moral

Ada beragam pengetahuan moral yang dapat dimanfaatkan ketika berhadapan dengan tantangan-tantangan moral. Enam pengetahuan moral yang dapat menjadi tujuan pendidikan karakter :

a) Kesadaran moral

Tanggung jawab kesadaran moral adalah menggunakan pemikiran untuk melihat suatu situasi yang memerlukan penilaian moral dan kemudian untuk memikirkan dengan cermat tentang apa yang dimaksud dengan arah tindakan yang benar. Selain itu, tanggung jawab kesadaran moral adalah memahami informasi dari permasalahan yang bersangkutan.

b) Mengetahui nilai-nilai moral

Nilai moral seperti menghormati kehidupan, kemerdekaan, bertanggungjawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, sopan santun, disiplin diri, integritas, belas kasih, kedermawanan, dan keberanian adalah faktor penentu membentuk karakter yang baik.Seluruh faktor tersebut

menjadi warisan moral yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Mengetahui sebuah nilai moral berarti memahami bagaimana menerapkannya dalam berbagai situasi.

c) Pengambilan perspektif

Pengambilan perspektif adalah kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat situasi dari sudut pandang orang lain, membayangkan bagaimana mereka akan berpikir, bereaksi dan merasa. Hal ini merupakan prasayarat bagi pertimbangan moral.

d) Penalaran moral

Penalaran moral adalah memahami makna sebagai orang yang bermoral dan mengapa harus bermoral. Pada tingkatan tertinggi, penalaran moral akan melibatkan pemahaman terhadap prinsip moral klasik seperti : hormatilah martabat setiap individu, perbanyak berbuat baik. Prinsip-prinsip semacam ini menuntun perbuatan moral dalam berbagai situasi.

e) Pengambilan keputusan

Mampu memikirkan cara seseorang bertindak melalui permasalahan moral dengan cara ini merupakan keahlian pengambilan keputusan reflektif.

f) Pengetahuan diri

Memahami diri sendiri merupakan pengetahuan moral yang paling sulit untuk dikuasai, tetapi penting bagi pengembangan karakter. Untuk menjadi orang yang bermoral diperlukan kemampuan mengulas perilaku diri sendiri dan mengevaluasinya secara kritis. Membangun pemahaman diri berarti sadar terhadap kekuatan dan kelemahan karakter pada diri sendiri dan mengetahui cara untuk memperbaiki kelemahan tersebut.

Kesadaran moral, pengetahuan terhadap nilai-nilai moral, pengambilan perspektif, penalaran moral, pembuatan keputusan, dan memahami diri sendiri semua ini merupakan kualitas-kualitas pikiran yang membentuk pengetahuan moral. Seluruhnya memberikan kontribusi yang sama terhadap sisi kognitif karakter.

2) Perasaan moral a) Hati nurani

Hati nurani memiliki dua sisi yaitu sisi kognitif dan sisi emosional. Sisi kognitif menuntun seseorang menentukan hal yang benar, sedangkan sisi emosional menjadikan

seseorang merasa berkewajiban untuk melakukan hal yang benar. Bagi seseorang yang berpegang pada hati nurani, moralitas merupakan hal penting. Hal ini disebabkan karena, ada komitmen untuk menegakkan nilai-nilai moral orang tersebut.

b) Penghargaan diri

Memiliki penghargaan diri yang sehat berarti mampu menghargai diri sendiri. Mampu menghargai diri sendiri maka akan menghormati diri sendiri. Penghargaan diri yang tinggi tidak menjamin terbentuknya karakter yang baik karena penghargaan diri yang tinggi bisa muncul dari hal-hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan karakter yang baik.

c) Empati

Empati adalah kemampuan mengenali, atau merasakan, keadaan yang tengah dialami orang lain. Empati merupakan sisi emosional dari pengambilan perspektif. Perbedaan tingkat empati pada diri seseorang telah ada pada usia dini.

d) Menyukai kebaikan

Ciri lain dari bentuk karakter yang tertinggi adalah ketertarikan murni, yang tidak di buat-buat pada kebaikan. Seseorang mencintai kebaikan, mereka akan senang melakukan kebaikan.

e) Kontrol diri

Kontrol diri merupakan pekerti moral yang penting karena kontrol diri dapat membantu seseorang untuk bersikap etis ketika sedang tidak menginginkannya. Selain itu, kontrol diri juga penting untuk mengekang keterlenaan diri. Hanya dengan memperkuat kontrol diri, masalah-masalah pribadi maupun kelompok dapat dikurangi secara signifikan. f) Kerendahan hati

Kerendahan hati merupakan bagian penting dari karakter yang baik. Kerendahan hati adalah bagian dari pemahaman diri. Dengan kerendahan hati, dapat membantu kesombongan seseorang dan pelindung terbaik dari perbuatan kejahatan.

Hati nurani, penghargaan diri, empati, mencintai kebaikan, kontrol diri, dan kerendahan hati adalah komponen-komponen yang membentuk sisi emosional moral seseorang.

3)Tindakan moral

Tindakan moral adalah produk dari pengetahuan moral dan perasaan moral. Jika seseorang memiliki kualitas intelektual dan emosional maka, mereka akan melalukan tindakan yang menurut pengetahuan dan perasaan mereka adalah tindakan yang benar. Tiga aspek karakter dalam tindakan moral adalah :

a) Kompetensi

Kompetensi moral adalah kemampuan mengubah pertimbangan dan perasaan moral ke dalam tindakan moral yang efektif. Kompetensi berperan dalam situasi-situasi oral lainnya.

b) Kehendak

Kehendak dibutuhkan untuk menjaga emosi agar tetap terkendali oleh akal, untuk dapat melihat dan memikirkan suatu keadaan melalui seluruh dimensi moral, untuk mendahulukan kewajiban bukan kesenangan, dan kehendak dibutuhkan untuk menahan godaan, bertahan dari tekanan teman sebaya, dan melawan gelombang. Kehendak merupakan inti keberanian moral.

c) Kebiasaan

Kebiasaan merupakan faktor pembentuk perilaku moral. Untuk membentuk anak memiliki karakter jujur, bersikap santun dan adil, dan menolong orang lain maka dibutuhkan kesempatan untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baik tersebut.

Seseorang yang berkarakter baik, pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral bekerja secara bersama- sama untuk saling mendukung. Membangun karakter merupakan proses seumur hidup. Kehidupan moral yang dijalani secara bertahap akan dapat memadukan pertimbangan, perasaan, dan pol-pola tingkah laku yang benar.

Menurut Zubaedi (2012:116) mengatakan bahwa fungsi dan peran sekolah menjadi strategi dalam membangun karakter agar peserta didik memiliki pemahaman, penghayatan, komitmen, dan loyalitas terhadap standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti yang terdiri dari nilai kepedulian,kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Karenanya, pendekatan holistis dalam

pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral.

Pengembangan nilai-nilai karakter yang baik dapat

diimplementasikan dalam setiap pokok bahasan dan setiap mata

pelajaran.Nilai-nilai karakter tersebut tercantum dalam silabus dan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilakukan oleh guru yang

professional.Di dalam RPP, nilai-nilai karakter berdasarkan kurikulum

2013 dicantumkan didalam kompetensi inti.Kompetensi nilai-nilai

karakter terdapat pada kopetensi inti 1 (KI-1) dan kompetensi 2 (KI-

2).Komptensi initi 1 (KI-1) merupakan kompetensi inti yang berisikan

nilai-nilai karakter mengenai sikap spiritual. Sedangkan kompetensi inti 2

(KI-2) berisikan nilai-nilai karakter mengenai sikap sosial. Melalui RPP,

guru dengan cermat dan professional mengintegrasikan nilai-nilai karakter

dalam pembelajaran yang dilakukan didalam kelas, sehingga RPP yang

telah disiapkan oleh guru dapat dilaksanakan dengan baik dan nilai-nilai

karakter dapat diimplenmentasikan kepada peserta didik.

Tabel 2.2

Kompetensi Dasar Pengantar AkuntansiKelas X

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan

mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1 Menunjukkan keimanan sebagai rasa syukur dan keyakinan terhadap kebesaran Sang Pencipta karena menyadari keteraturan dan

kompleksitas alam dan jagad raya yang diatur oleh Sang Pencipta. 1.2 Menyadari kebesaran Tuhan yang

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR menciptakan alam semesta dan semua unsur di dalamnya. 2. Menghayati dan

Mengamalkan perilaku jujur, disiplin,

tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktifdan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

2.1 Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami

pengetahuan dasar tentang ilmu yang dipelajarinya.

2.2 Menunjukkan perilaku ilmiah (disiplin, jujur, teliti, tanggung jawab, obyektif, kritis, kreatif, inovatif, santun, peduli dan ramah lingkungan) dalam melakukan pekerjaan sebagai bagian dari sikap ilmiah.

2.3 Menghargai kerja individu dan kelompok dalam pembelajaran sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap kerja 3. Memahami, menerapkan

dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan

humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah.

3.1 Menjelaskan pengertian, fungsi dan jenis uang

3.2 Menjelaskan tujuan, fungsi dan peranan keuangan dalam perusahaan 3.3 Menjelaskan posisi bidang keuangan

dalam struktur organisasi perusahaan

3.4 Menjelaskan jabatan/karier dalam bidang keuangan perusahaan 3.5 Menjelaskan bentuk-bentuk

alternatif organisasi bisnis 3.6 Menjelaskan sumber-sumber

keuangan perusahaan

3.7 Menjelaskan sistem dan prosedur penggunaan dana perusahaan 3.8 Menjelaskan pasar uang dan pasar

modal

3.9 Menjelaskan penganggaran modal melalui pembiayaan tunai, kredit dan sewa (leasing)

3.10Menjelaskan nilai waktu dari uang 4. Mengolah, menalar, dan

menyaji dalam ranah

4.1 Mengidentifikasi jenis-jenis uang 4.2 Mengevaluasi fungsi dan peran

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR konkret dan ranah abstrak

terkait dengan

pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu melaksanakan tugas

spesifik di bawah pengawasan langsung.

keuangan di berbagai perusahaan 4.3 Mengidentifikasi posisi bidang

keuangan dalam struktur organisasi perusahaan

4.4 Mengklasifikasi berbagai jabatan/karier dalam bidang keuangan perusahaan

4.5 Mengklasifikasi bentuk-bentuk badan usaha berdasarkan kepemilikan modal

4.6 Mengklasifikasi sumber-sumber keuangan perusahaan

4.7 Mengidentifikasi sistem dan prosedur dalam penggunaan dana 4.8 Mengidentifikasi lembaga-lembaga

pasar uang dan pasar modal

4.9 Mengevaluasi penganggaran modal melalui pembiayaan tunai, kredit dan sewa (leasing)

4.10Menghitung nilai uang sekarang dan nilai uang masa depan

b. Pembentukan Karakter Dalam Diri Manusia

Menurut Zubaedi (2014:192:193) mengatakan bahwa

pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari

seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan

psikomotorik) dalam kontek interaksi sosial kultural (dalam keluarga,

sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat.

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas psikologi dan

sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam olah hati

development), olahraga dan kinestetik (physical and kinesthetic

development)¸dan olah rasa dan karsa (affective and creativity

development).

Tabel 2.3

Kofigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologi dan sosial-kultural

Olah Pikir

cerdas

Olah Hati

Jujur

Bertanggung Jawab

Olah Raga (Kinestetik)

Bersih, sehat, menarik

Olah Rasa dan Karsa

Peduli dan kreatif

Keempat kelompok konfigurasi karakter tersebut memiiki

unsur-unsur karakter inti sebagai berikut:

Tabel 2.4

Unsur-unsur Karakter Inti Dalam Konfigurasi Karakter

No Kelompok Konfigurasi Karakter

Karakter Inti (Core

Characters)

1 Olah Hati • Religius

• Jujur

• Tanggung jawab

• Peduli sosial

• Peduli lingkungan 2 Olah Pikir •Cerdas

• Kreatif

• Gemar membaca

• Rasa ingin tahu 3 Olahraga • Sehat

• Bersih 4 Olah Rasa dan Karsa •Peduli

• Kerja sama (gotong royong)

c. Cara-cara menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta

didik

Menurut Lickona (2012:112) guru memiliki kekuatan untuk

menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik melalui tiga

cara yaitu,

1) Guru dapat menjadi seorang yang penyayang yang efektif, menyayangi dan menghormati murid-murid, membantu mereka meraih sukses disekolah, membangun kepercayaan diri siswa, dan membuat peserta didik mengerti apa itu moral dengan melihat cara guru memperlakukan peserta didik dengan etika yang baik.

2) Guru dapat menjadi seorang model, yaitu orang-orang yang beretika yang menunjukkan rasa hormat dan tanggung jawabnya yang tinggi, baik didalam maupun diluar kelas. Guru pun dapat memberi contoh dalam hal-hal yang berkaitan dengan moral beserta alasannya, yaitu dengan cara menunjukkan etikanya dalam bertindak disekolah dan lingkungannya.

3) Guru dapat menjadi mentor yang beretika, memberikan intruksi moral dan bimbingan melalui penjelasan, diskusi kelas, bercerita, pemberian motivasi personal, dan memberikan umpan balik yang korektif ketika ada siswa menyakiti temannya atau menyakiti dirinya sendiri.

d. Alasan sekolah mengajarkan nilai-nilai karakter dan

membangun karakter yang baik

Menurut Lickona (2013: 25-28) ada sepuluh alasan mengapa

sekolah mengajarkan nilai-nilai karakter dan membangun karakter

yang baik pada para siswa, diantaranya adalah:

1)Ada kebutuhan yang jelas dan mendesak.

2)Menyampaikan nilai-nilai adalahselalu menjadi tugas peradaban. 3)Peran sekolah sebagai pendidik moral menjadi semakin vital

moral dari orangtua mereka dan ketika pengaruh dari tempat- tempat yang menjadi pusat nilai seperti rumah ibadah juga tidak hadir dalam hidup mereka.

4) Landasan etis umum tetap ada, bahkan di dalam masyarakatdengan konflik nilai seperti kita.

5) Demokrasi punya kebutuhan khusus terhadap pendidikan moral, karena demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat.

6) Pendidikan bebas nilai itu tidak ada.

7) Pertanyaan-pertanyaan moral adalah salah satu dari sejumlah pertanyaan besar yang harus dihadapi manusia individual dan bangsa manusia.

8) Ada dukungan secara luas yang semakin kuat untuk memberikan pendidikan nilai di sekolah.

9) Komitmen yang tak malu-malu terhadap pendidikan moral jika kita ingin menarik dan mempertahankan guru-guru yang baik. 10) Pendidikan nilai adalah sebuah pekerjaan yang bisa dilakukan.

e. Strategi mengajarakan nilai-nilai melalui kurikulum

Menurut Lickona (2013:230-231) Terdapat 9 (sembilan) strategi

yang dapat dilakukan untuk mengajarkan nilai-nilai karakter melalui

kurikulum, diantaranya adalah:

1) Melibatkan siswa dalam proyek-proyek yang dapat menumbuhkan kepedulian aktif untuk melindungi alam

2) Mengajari siswa menghormati dan bertanggung jawab terhadap binatang.

3) Menganalisis setiap subyek dan mengajukan pertanyaan. 4) Menentukan target nilai untuk tingkat sekolah

5) Cari atau buat bahan-bahan mengajar yang baik. 6) Merancang metodologi mengajar yang efektif.

7) Mengembangkan tema etis yang dapat menyatukan kurikulum sekolah, mendorong guru mengolah tema dengan berbagai cara. 8) Mendatangkan pembicara tamu untuk menyoroti nilai tertentu. 9) Melakukan pendidikan multikultural untuk membangun

pemahaman anak-anak mengenai dan menghormati orang dari yang berbeda.

Dokumen terkait