• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Penanaman Nilai-nilai Nasionalisme

1. Nilai-nilai Nasionalisme

Kata value, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi nilai, berasal dari bahasa latin valere atau bahasa Prancis Kuno valuoir. Sebatas arti denotatifnya, valere,valoir, value, atau nilai dapat dimaknai sebagai harga. Definisi nilai sering dirumuskan dalam konsep yang berbeda-beda. Seperti dinyatakan Kurt Bailer (UIA, 2003), seorang sosiolog menafsirkan nilai dari klijhgjkuygjuhjuyh7uhy76gtsudut pandangnya sendiri tentang keinginan, kebutuhan, kesenangan seseorang sampai sanksi dan tekanan dari masyarakat. Seorang psikolog menafsirkan nilai sebagai suatu kecenderungan perilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, seperti hasrat, motif, sikap, kebutuhan, dan keyakinan yang dimiliki secara individual sampai pada wujud tingkah lakunya yang unik. Seorang antropolog melihat nilai sebagai “harga” yang melekat pada pola budaya masyarakat seperti dalam bahasa, adat kebiasaan, keyakinan, hukum dan bentuk2 organisasi sosial yang dikembangkan manusia. Lain lagi dengan seorang ekonom yang melihat nilai sebagai “harga” suatu produk dan pelayanan yang dapat

Perbedaan cara pandang mereka dalam memahami telah telah berikmplementasi pada perumusan definisi nilai. Berikut ini dikemukakan empat definisi nilai yang masing-masing memiliki tekanan yang berbeda. Gordon Allport (1964) seorang ahli psikologis kepribadian mengemukakan bahwa definisi nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Bagi Allport, nilai terjadi pada wilayah psikologis yang disebut keyakinan. Sebagai psikolog poada umumnya, keyakinan ditempatkan sebagai wilayah psikologis yang lebih tinggi dari wilayah lainnya seperti hasrat, motif, sikap, keinginan, dan kebutuhan. Karena itu, keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-tidak indah pada wilayah ini merupakan hasil dari serentetan proses psikologi yang kemudian mengarahkan individu sesuai dengan nilai pilihannya.

Kupperman (1983) mengemukakan definisi nilai adalah patokan patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif. Definisi ini menekankan pada norma sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi manusia. Hans Jonas (Bertens, 1999) menyatakan nilai adalah alamat sebuah kata “ya” (value is address of a yes), atau kalau diterjemahkan secara kontekstual, nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan dengan kata “ya”. Kluckhohn (Brameld, 1957) mendifinisikan nilai sebagai konsepsi (tersirat atau tersurat,yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang

mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan. Definisi nilai di atas merupakan empat dari sekian banyak definisi nilai yang dapat dirujuk. (Mulyana, 2004: 8-11).

2. Nasionalisme

Istilah nasionalisme secara estimologi berasal dari kata Latin “nation”(kata benda “natio” dari kata kerja “nasci” yang berati dilahikan) artinya “bangsa yang dipersatukan karena kelahiran”. Namun arti dan hakikat yang melekat pada kata tersebut sudah berubah-ubah menurut ruang dan waktu serta disesuaikan dengan ideologi penafsirannya. Nasionalisme merupakan gejala sosio-politik yang berkembang secara dialektik, berakar di masa silam dakam hidup berbangsa serta tumbuhg dan berkembang yang akhirnya terwujud semangat persatuan dengan dasar cita-cita hidup bersama dalam satu negara nasional. Nasionalisme bagi bangsa Indonesia merupakan suatu paham yang menyatukan berbagai suku bangsa dan berbagai keturunan bangsa lain dalam wadah Negara Kesatuan Republilk Indonesia (NKRI). Dalam konsep ini berarti tinjauannya adalah formal, yaitu kesatuaan dalam arti satu kesatuan rakyat yang menjadi warga negara Indonesia (Bakry, 2010: 141).

Mengenai nasionalisme ini, terdapat beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Nasionalisme merupakan sikap dan tindakan untuk mengatasi, mengusir dan melenyapkan kolonialisme (Kartodirjo, 1992: 32). Jadi pengertian ini dalam arti perlawanan

terhadap bangsa lain dalam bentuk fisik. Nasionalisme adalah suatu gejala psikologis berupa rasa persamaan dari sekelompok manusia yang menimbulkan kesadran sebagai suatu bangsa. Nasionalisme merupakan hasil dari pengaruh faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual yang terjadi dalam lingkungan kebudayaan melalui proses sejarah (Rochmadi, 2007: 23). Dengan demikian pengertian nasionalisme dapat disimpulkan bahwa nasionalisme adalah suatu paham kebangsaan yang mempersatukan rakyat dan bercita-cita mendirikan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang berdaulat penuh, serta berusaha memperjuangkan kepentingan-kepentingan nasional.

3. Bentuk Nasionalisme

Beberapa bentuk nasionalisme dan gerakannya yang terjadi di Indonesia adalah :

1) Nasionalisme Kemandirian bangsa, di mana semangat bernegara di bangun untuk mewujudkan kejayaan bangsanya, contoh: Zaman Sriwijaya, Majapahit dan Samudera Pasai. 2) Nasionalisme Agama, yaitu gerakan yang berupaya

memperoleh kemerdekaan melalui semangat keagamaan, contoh: upaya yang dipelopori oleh Serikat Islam (SI) sejak tahun 1911, dalam melawan kolonialisme Belanda.

3) Nasionalisme Sekuler, gerakan yang berupaya memperoleh kemerdekaan dengan tidak menyebutkan agama sebagai Inspirasi gerakan, walaupun tidak menentang adanya peran agama dalam kegiatan pilitik, contoh: gerakan yang dilakukan oleh Soekarno tahun 1927, melalui Partai Nasional Indonesia.

4) Nasionalisme Anti Agama (komunis), sebenarnya ciri nasionalisme ini lebih mengarah pada Internasionalisme, berbeda dengan bentuk gerakan kedua yang menjadikan agama sebagai spirit gerakannya, nasionalisme anti agama

tidak memberikan peran agama bahkan agama tidak berperan dalam gerakan dan harus dijauhi (Budiono, 2007: 209-210).

4. Perwujudan Nasionalisme

Perwujudan nasionalisme disesuaikan dengan keadaan atau kondisi suatu negara, artinya nasionalisme pada zaman dahulu, sekarang dan yang akan datang tentunya akan berbeda. Ketika pada masa penjajahan perwujudannya adalah berupa perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan dan mendirikan negara sekaligus menentang penjajahan. Berbeda halnya ketika ketika negara ini sudah berdiri, karena sudah merasa bersatu, perwujudan nasionalisme adalah dengan mengisi dan mempertahankan kemerdekaan negara untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Nasionalisme bangsa Indonesia merupakan jiwa kebangsaan yang memang mutlak harus ada mengingat bangsa Indonesia terdiri atas berbagai macam suku, berbagai agama, berbagai kebudayaan maupun bahasa.

Perwujudan nasionalisme ada dua hal, yang keduanya merupakan rangkaian peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia, baik masa jaya maupun masa derita:

a. Kenangan masa lampau dalam hidup berbangsa. b. Kehendak untuk bersatu dalam hidup bernegara.

Nasionalisme mempunyai akar-akar yang dalam di masa lampau, dan berkembang di suatu saat tertentu sebagai kesatuan. Aspirasi pertama nasionalisme adalah perjuangan nasional dalam

bidang politik. Serta tumbuh dan berkembang di suatu saat dalam bentuk negara nasional sebagai perwujudan semangat nasionalisme,disebut “bangsa menegara”. Bangsa menegara adalah persatuan sekelompok manusia yang memiliki kesadaran hidup bersama dalam satu ikatan politis kenegaraan dengan cita-cita yang sama.

Corak nasionalisme tiap-tiap bangsa tergantung pada faktor-faktor apa yang dominan. Bangsa Indonesia yang dominan adalah adanya adanya cita-cita hidup bernegara, di tuangkan dalam sila kelima, sebagai tujuan negara, dengan dilandasi dasar negara, yaitu persatuan dari sila ketiga.

a. Kenangan Masa Lampau

Proses berbangsa yang merupakan kenangan masa lampau dengan menganjurkan jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena dalam sejarah terkandung kenangan masa lampau dalam hidup berbangsa. Baik kenangan kejayaan bersama di masa kencana kerajaan-kerajaan besar maupun penderitaan bersama di kala di bawah penjajahan asing. Keduanya merupakan pembentukan dalam berbangsa yang akhirnya menjadi dasar pembentukan dalam bernegara.

1) Prasasti Kedukan Bukit, dikaki bukit Siguntang dekat Palembang yang bertarikh syaka 605 atau 683 masehi dalam bahasa melayu kuno dan berhuruf pallawa tentang

pembentukan Kedatuan Sriwijaya kekuasaan Wangsa Syailendra (600-1400).

2) Keprabuan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur di bawah pimpinan Dinasti Rajasa terkenal untuk nama raja-rajanya ialah Brawijaya (1293-1525).

3) Kebangkitan akan kesadaran berbangsa dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo, sebagai penggerak organisasi kebangkitan nasional yang kemunginan juga memberi inspirasi mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran pribumi dipimpin oleh Sutomo, yang saat itu untuk mendirikan organisasi pergerakan.

4) Hari sumpah pemuda yang diikrarkan oleh para pemuda dalam Kongres pelopor persatuan bangsa Indonesia dalam kongres Pemuda di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berisi:

5) Pertama: kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

6) Kedua: kami putera dan puteri Indonesai mengaku bertanah-air satu, tumpah darah Indonesia.

7) Ketiga: kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Proses bernegara merupakan kehendak untuk bersatu dalam persyarikatan hidup bersama. Kehendak untuk bersatu adalah syarat mutlak adanya negara kesatuan Republik Indonesia, apa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, dalam taraf keinginan bangsa Indonesia, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk negara proklamasi.

Bangsa Indonesia adalah bangsa kesatuan dari berbagai suku bangsa dengan Bhineka Tunggal Ika, dan negara Indonesia dalah negara kesatuan dengan sebutan Negara Kesatuan Repiblik Indonesia (Bakry, 2010: 132-137).

Jadi perwujudan nasionalisme bangsa Indonesia tercermin dalam rangkaian peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada masa lampau. Selain itu, perwujudan rasa nasionalisme juga tumbuh dalam jiwa seseorang, yaitu dengan loyalitas, kecintaan dan penghormatan kepada negara. Pembinaan nasionalisme secara tepat dan efektif mutlak diperlukan agar supaya nyala nasionalisme tetap berkobar di dalam jiwa para generasi muda bangsa Indonesia yang hidup jauh setelah perjuangan kemerdekaan berlalu.

Jiwa nasionalisme terdapat pada setiap bangsa di seluruh dunia. Menurut Abdulgani dalam Yudohusodo dkk (1994: 35), “Jiwa Nasionalisme dan Patriotisme menyatu dalam

sumber enrji untuk menjayakan bangsa, mengolah Tanah-air demi kemajuan dan kemakmuran bersama”.

Nasionalisme Indonesia, secara khusus dipertegas sebagai Nasionalisme Pancasila, yaitu nasionalisme yang:

1) ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

2) ber-Perikemanusiaan yang berorientasi internasionalisme.

3) ber-Perikemanusiaan Indonesia yang patriotik. 4) ber-Kerakyatan atau demokratis.

5) ber-Keadilan sosial untuk seluruh rakyat (Abdulgani dalam Yudohusodo dkk, 1994: 35).

Nasionalisme Indonesia sudah jelas dan tegas yang disebut nasionalisme Pancasila, yang merupakan salah satu bentuk nasionalisme dengan ciri khusus ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan ciri khusus demikian, maka nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang menerima bangsa lain menjadi rakyat Indonesia sebagai kesatuan, dan menghargai bangsa lain sebagai sesama makhluk Tuhan, serta menghargai karya bangsa lain.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif.

1. Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme a. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.

b. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.

c. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

2. Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme a. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.

b. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.

c. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

d. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa. e. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan

ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa (http://www.wikimu.com, 15 Maret 2012).

B. Penanaman Nilai-nilai Nasionalisme

1. Nilai-nilai Nasionalisme

Nilai adalah segala sesuatu yang disenangi atau diinginkan, dicita-citakan dan di sepakati yang dianggap sangat penting dan berharga (Djojomartono, 1989: 61). Dengan demikian niali-nilai nasionalisme Indonesia adalah nilai-nilai yang bersumber pada semangat kebangsaan Indonesia yang diharapkan dapat menjadi standar perilaku warga negara negara Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai nasionalisme adalah sebagai berikut: 1) Nilai Rela Berkorban

Nilai rela berkorban merupakan aturan jiwa atau semangat bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan baik dari dalam maupun luar.

2) Nilai Persatuan dan Kesatuan

Nilai ini mencakup pengertian disatukannya beraneka corak yang bermacam-macam menjadi suatu kebulatan. Bermacam agama, suku bangsa yang dipeluk dan bahasa yang dipergunakan mudah memberi kesempatan timbulnya kekerasan. Kekerasan ini ditiadakan bilamana semua pihakl mempunyai rasa persatuan dan kesatuan yang tebal. Dengan demikian semboyan negara kita yang berbuyi “Bhinika Tunggal Ika” benar

bangsa Indonesia untuk berinteraksi dan mampu mengayomi dari seluruh wilayah Indonesia.

3) Nilai Harga Menghargai

Sebagai Bangsa yang berbudaya, bangsa Indonesia sejak lama telah menjalin hubungan dengan bangsa lain atas dasar semangat harga menghargai. Jalinan persahabatan dengan bangsa merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. 4) Nilai Kerjasama

Nilai kerjasama ini merupakan aktivitas bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari suka bekerja sama atas dasar semangat kekeluargaan. Pancaran dari semangat kerjasama ini adalah bangsa Indonesia telah terbiasa menghadapi suatu persoalan terlebih dahulu dibicarakan bersama dan dikerjakan bersama. Nilai kerjasama ini masih tetap diperlukan bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan.

5) Nilai Bangga Menjadi Bangsa Indonesia

Nilai ini sangat diperlukan dalam melestarikan negara Republik Indonesia, perasaan bangga ini harus tumbuh secara wajar dan jangan dipaksakan. Sejarah perjuangan sangat menunjukkan bangsa Indonesia pernah menjadi bangsa yang jaya dan tinggi. Tetapi karena penjajahan itu menjadi bangsa yang menderita dan kekurangan. Pengalaman yang diperoleh sejarahini harus menjadi cambuk bangsa Indonesia untuk bekerja lebih keras agar dapat keluar dari suasana serba kekurangan (Djojomartono, 1989: 5-7).

Konsep nilai-nilai nasionalisme ini merupakan butir-butir objektif terpilih, dan secara kulikuler pedagogis yang diyakini dan dapat diterima sebagi muatan utama penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam penelitian ini.

Dokumen terkait