BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Nilai-nilai Sosial dalam Novel Selembar Itu Berarti
Menurut Robert M.Z Lawang (1985:20) nilai sosial adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga dan mempengaruhi perilaku orang yang memiliki nilai itu.
Ada beberapa jenis-jenis nilai sosial yang disebutkan oleh Robert M.Z Lawang, yaitu:
1. Kesediaan Bertanggung Jawab
Kesediaan bertanggung jawab adalah sikap atau perilaku seseorang untuk melakukan tugas dengan baik. Sikap kesediaan bertanggung jawab ini ditunjukkan oleh tokoh Hera, Diaz, Putri dan Pak Azwar. Hera adalah Ibu kandung dari Diaz dan Putri. Hera merupakan orang tua tunggal untuk kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak suaminya meninggal, Hera harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari termasuk kebutuhan sekolah Diaz dan Putri.
Hera bekerja serabutan. Apapun dia lakukan untuk mendapatkan uang termasuk sebagai buruh cuci dengan upah gaji Rp.30.000 per hari dan harus pulang terlambat ke rumah karena harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Meskipun keadaan Hera tidak baik-baik saja disebabkan penyakit kanker hati karena virus hepatitis yang telah menggerogoti hatinya yang
20
menyebabkan Hera sering mimisan, muntah darah, dan pusing. Penyakit yang diderita Hera lantas tidak membuatnya menyerah untuk mencari rezeki. Dia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai orang tua yang harus memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sikap tanggung jawab yang dimiliki oleh Hera yang telah dijelaskan di atas dapat dibuktikan dengan melihat contoh kutipan berikut ini
“Kok lama pulangnya, Bu?” tanya putranya menghampiri. Dielusnya rambut anaknya itu. Jemarinya lalu menari di antara lekuk rambut Diaz.
“Tadi ada banyak cucian di rumah Bu Zaitun. Anak pertamanya baru pulang dari Medan. Dari asrama tempatnya kuliah”. Pelan-pelan Hera menjawab. Kedua tangannya mendekap anaknya yang merapat.
“Tapi kan, Ibu masih sakit. Itu aja kelihatan pucat”, timpal Putri. Hera terlihat gugup ditanya begitu. Dia menghela napas.
“Putri, yang paling penting bagi Ibu adalah kebahagiaan kalian berdua.
Biarkan Ibu terus berjuang karena sudah tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya. Kalian mengertikan?” Hera menatap kedua buah hatinya bergantian, sebagai bukti limpahan kasih sayang yang tak tergantikan (Amipriono, 2019:9).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Hera sangat bertanggung jawab atas pekerjaannya dan bertanggung jawab atas kebahagiaan kedua anaknya.
Meskipun sedang dalam keadaan sakit, Hera tetap menyelesaikan pekerjaannya demi memperoleh uang untuk kebutuhan hidup mereka. Selain Hera, sikap tanggung jawab juga ditunjukkan oleh Diaz dan Putri. Penyakit kanker hati yang diderita oleh Hera tidak mampu membuatnya bertahan hidup lebih lama.
Hera meninggal dunia setelah memuntahkan darah kental yang banyak.
Sebelum meninggal Hera sempat menggenggam tangan kedua buah hatinya dan menyebut doa “Laa Ilaaha Illallah’ sebelum akhirnya ia terkulai, lemas, dan tak tampak denyut nadi dari urat lehernya. Hera meninggal tepat di
21
genggaman kedua bocah yang masih kecil itu. Meninggalnya Hera memaksa Diaz dan Putri untuk Dewasa lebih cepat dan berdamai dengan keadaan. Saat ini Diaz dan Putri sudah tidak memiliki orang tua lagi, yang membuat seluruh tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan oleh Hera ditanggung oleh Putri dan Diaz. Sikap tanggung jawab yang dimiliki oleh Putri dan Diaz dapat dibuktikan dari kutipan teks berikut ini
Sepeninggal Ibu, Diaz dan Putri harus mampu beradaptasi. Mereka berada dalam kondisi hidup yang baru sekarang. Melakukan segala hal berdua. Mencuci pakaian, menyetrika, menyapu rumah, membersihkan pekarangan. Termasuk untuk urusan merakit lembaran kertas menjadi buku. Belum lagi untuk urusan makan. Memasak. Menyiapkan makanan.
Dan yang terpenting mencari uang untuk makan. Padahal mereka masih bocah, masih usia sekolah. Belum bekerja, dan tidak memiliki penghasilan tetap (Amipriono, 2019:53).
Sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Diaz, menjadikan Putri harus bisa mengambil peran ganda untuk adik laki-lakinya itu. Putri harus berperan menjadi seorang Ayah, Ibu, dan Kakak sekaligus untuk Diaz.
Keadaan ekonomi yang sulit, memaksa Putri untuk terus berjuang agar Diaz bisa tetap sekolah.
Selain mengumpulkan kertas dan buku-buku bekas di tempat pembuangan akhir untuk mengurangi biaya membeli buku, Putri juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka agar mereka bisa tetap makan dan bertahan hidup, sekali pun hanya makan dengan lauk seadanya.
Tidak tega melihat adiknya makan hanya sekali sehari, membuat Putri memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja karena Diaz merupakan tanggung jawab Putri sekarang, baik pendidikan Diaz dan
22
kelangsungan hidup Diaz. Putri berhenti sekolah supaya waktunya untuk mencari uang bisa lebih banyak. Namun, keputusan ini dirahasiakan putri dari Diaz. Putri berangkat dari rumah dengan menggunakan seragam sekolah, namun tujuannya bukanlah ke sekolah. Hal ini dilakukan agar Diaz, adik kesayangannya itu tidak merasa sedih. Sikap tanggung jawab yang dimiliki oleh Putri ini, dapat dibuktikan dari kutipan berikut ini
Sempitnya lorong di atas jembatan. Membuat Putri tak bisa menghindar. Ia terjebak. Lantas berjalan pelan menepi.
“Putri, kamu kemana aja?” tanya Atri ngos-ngosan. Matanya melirik sekolah,” dia memohon. Telapak tangannya yang lembap menggenggam lengan Atri (Amipriono, 2019:86).
Kutipan di atas, menjelaskan bahwa dalam diri Putri terdapat nilai tanggung jawab yang besar. Demi memenuhi kebutuhan Diaz, baik sekolah dan kebutuhan sehari-hari, Putri rela berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja demi mencari uang supaya Diaz bisa menggapai cita-citanya menjadi seorang Presiden. Putri yang memiliki tanggung jawab penuh atas diri Diaz, selalu melakukan yang terbaik untuk Diaz.
Selain itu, dalam novel Selembar Itu Berarti, sikap kesediaan bertanggung jawab juga dimiliki oleh Pak Azwar Siregar yang merupakan orang tua asuh Diaz. Dijelaskan bahwa Pak Azwar merupakan seorang pengusaha bidang konstruksi. Dia memiliki tanggung jawab atas semua yang dikerjakan termasuk urusan klien.
23
“Sudah, Bun. Maaf ya, Ayah agak telat pulangnya. Tadi keluar sebentar. Jumpai klien Ayah. Dia mengeluh karena barang kirimannya terhambat di ekspedisi”. Pak Azwar Siregar menarik napas panjang. Ia melepas sepatu dan kaos kaki yang membalut sepasang kakinya (Amipriono, 2019: 140).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Pak Azwar Siregar bertanggung jawab atas pekerjaannya. Pak Azwar rela pulang lebih lama ke rumah hanya untuk menyelesaikan masalah pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Pak Azwar tidak mau membebankan permasalahan tersebut kepada karyawannya karena itu merupakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan tersebut.
2. Kerendahan Hati
Kerendahan hati merupakan kekuatan batin untuk melihat dirinya sesuai kemampuan dan kenyataan (Suseno, 1997:148). Seseorang dengan kerendahan hati sadar bahwa kekuatannya dan kebaikannya terbatas. Kerendahan hati juga dapat diartikan sebagai karakter positif yang melekat pada diri seseorang.
Orang yang rendah hati dapat dilihat dari sikapnya yang tidak angkuh dan tidak sombong.
Sikap kerendahan hati dimiliki oleh tokoh Bu Imah. Bu Imah merupakan satu-satunya tetangga Diaz dan Putri yang selalu membantu mereka. Bahkan ketika Hera Ibu dari Diaz dan Putri masih hidup, Bu Imah sering menjenguk Hera dan membantu Hera menjaga Putri dan Diaz. Bu Ima juga rela pergi ke Medan untuk berjualan ikan agar Hera memiliki uang untuk biaya berobat.
Setelah Hera meninggal, Bu Imah masih sering mengunjungi Putri dan Diaz. Bu Imah masih sering membantu Diaz membersihkan rumah, bahkan
24
memberi dan mengantarkan makanan kepada Putri dan Diaz. Kerendahan hati yang dimiliki oleh Bu Imah dapat dibuktikan dari kutipan berikut
“Hera takut Bu”. Mata Hera yang nanar mulai berbulir. Bu Imah, satu-satunya tetangga yang rumahnya paling dekat, yang kebaikan dan kepeduliannya sudah melebihi saudara sendiri.
“Kamu kenapa? Apa yang kamu takutkan Hera...”, tanya Bu Imah. Air mata Hera membuatnya tampak khawatir. Bibirnya gemetar menahan tangis.
Bu Imah merupakan sosok yang paling tulus bagi keluarga Hera.
Suaminya sudah lama meninggal. Profesinya sebagai buruh penjemur ikan pada seorang tengkulak tambak, membuat kehidupannya tak lebih baik,
“Besok Ibu ke Medan. Doakan ikan Ibu cepat laku, ya. Biar ada uang buat berobat. Biar kamu bisa cepat normal dan merawat anak mu lagi”.
Mata bening Bu Imah menatap. Hera merespon dengan beberapa anggukan kecil (Amipriono, 2019:38-39).
Selain Bu Imah, tokoh lain yang memiliki kerendahan hati adalah Nisa.
Nisa merupakan seorang anak yang berasal dari keluarga yang broken home.
Dia adalah anak orang kaya, namun tidak bersekolah. Nisa adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan Diaz. Diaz dan Nisa bertemu di pinggir sebuah sungai saat Diaz sedang mencari dan mengumpulkan buku-buku bekas.
Nisa menjadi teman yang paling baik untuk Diaz. Meskipun berasal dari keluarga kaya, Nisa tidak malu berteman dengan Diaz. Bahkan Nisa selalu ada untuk Diaz dan menemani serta membantu Diaz saat dalam keadaan sulit.
Ketika guru di sekolah mengumumkan seluruh siswa untuk memakai sepatu yang berwarna hitam, Nisa yang membantu Diaz mewarnai sepatu Diaz dengan membeli cat semprot agar Diaz tidak dihukum dan tidak dimarahi oleh guru di sekolah, karena sepatu Diaz berwarna putih dan Diaz tidak punya uang untuk
25
membeli sepatu baru yang berwarna hitam. Penjelasan dari kerendahan hati yang dimiliki oleh Nisa dibuktikan dari kutipan berikut ini
“Kalau dunia ini menjadikan pendidikan sebagai salah satu simbol kehidupan, Kakak yakin dunia tidak akan menutup matanya untuk kamu, Diaz”, hibur Nisa. Tangan kanannya menari-nari dengan kaleng berisi koloid berwarna hitam.
“Mulai sekarang kamu harus yakin dan tetap menjaga semangat. Bahwa kamu bisa melanjutkan sekolah hingga SMA”.
“Naaah. Sudah selesai. Sekarang sepatu kamu sudah berwarna hitam, kan? Nisa menyerahkan sepatu ‘baru’ Diaz. Gembira dia. Bibirnya menyunggingkan senyum.
“Baiklah. Setelah ini, kamu mau kemana? Kalau mau langsung pulang ke rumah, Kakak ikut ya?” tanya Nisa meminta izin (Amipriono, 2019:60).
Atri yang merupakan anak Kepala Sekolah di sekolah Putri dan Diaz, sekaligus sebagai sahabat baik Putri juga digambarkan memiliki sifat rendah hati. Tokoh Atri yang lugu dan pendiam ini sangat perhatian kepada Putri. Saat Putri memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja mencari uang, supaya Diaz bisa tetap bersekolah dan kebutuhan hidupnya terpenuhi, Atri justru melarang Putri melakukannya.
Atri tidak ingin Putri berhenti sekolah. Atri bakan menawarkan bahkan menjanjikan kepada Putri untuk memberikan tabungannya kepada Putri, asalkan Putri tetap bisa bersekolah. Hal itu dilakukan Atri agar dapat sedikit membantu beratnya beban hidup Putri. Kerendahan hati yang dimiliki oleh Atri dapat dibuktikan dari kutipan berikut
“Putri, Atri masih punya tabungan. Kalau kamu mau, besok Atri bawa ya. Kamu boleh pake buat apa aja. Buat beli beras. Buat beli buku.
Yang penting kamu masih bisa sekolah”. Langkah Putri terhenti.
26
“Jangan, Atri. Jangan, ya. Terima kasih. Putri nggak mau buat orang lain repot. Putri ingat betul pesan Ayah: ‘Jangan karena ingin membuat kita bahagia orang lain malas menjadi sedih’”. Kenangnya.
“Nggak kok Putri, nggak. Atri malah senang bisa membantu kamu. Atri bahagia bisa melihat kamu tetap sekolah”, bujuk Atri. Wajahnya memelas. Ia tahu bahwa sahabatnya itu berada dalam pilihan yang sulit:
bertahan hidup atau tetap sekolah (Amipriono, 2019:72).
Sikap Atri yang tidak ingin melihat Putri berhenti sekolah menunjukkan bahwa Atri merupakan orang yang rendah hati. Ia tetap mau berteman dengan Putri dan mau membantu Putri meskipun Putri berasal dari keluarga miskin.
Atri tidak sombong dan tidak memiliki sifat angkuh meskipun dia seorang anak dari Kepala Sekolah.
Pak Lingga juga merupakan salah satu tokoh yang memiliki sikap kerendahan hati. Selain tegas dan jujur Pak Lingga juga dikenal ramah dan suka menolong rakyatnya. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan berikut
“Pak Lingga... Pak Lingga. Heran saya lihat Bapak. Usaha saya maju pesat hingga seperti sekarang ini. Juga berkat bantuan Bapak. Jadi ? Salah kalau saya sekarang membalas budi baik itu?” kilah Pak Udin, yang mengenakan kemeja lengan pendek biru muda, dengan celana panjang katun berwarna krem (Amipriono, 2019: 100).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa suksesnya Pak Udin menjalankan bisnisnya tidak lepas dari bantuan sosok kepala desa yang dikenal masyarakat sebagai pimpinan yang rendah hati. Pak Lingga membantu Pak Udin mensukseskan usahanya tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Kalimat yang dilontarkan oleh Pak Udin tersebut membuktikan bahwa Pak Lingga benar-benar merupakan kepada desa yang rendah hati, yang mau membantu masyarakatnya yang kesusahan.
27
Sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh Pak Lingga juga dibuktikan dari kutipan yang dikatakan oleh Bu Imah kepada Putri, bahwa Pak Lingga ingin membantu meringankan beban Putri dengan mencarikan orang tua asuh untuk Diaz. Pak Lingga tidak ingin melihat rakyatnya itu kesusahan. Hal ini dibuktikan dari kutipan berikut
“B-beliau menawarkan orangtua asuh bagi D-diaaaazz. Kebetulan, ada saudaranya yang ingin mengadopsi anak laki-laki. Karena anak mereka satu-satunya perempuan”. Air wajah Bu Imah menyiratkan kesedihan.
Mungkin ia ragu dan takut-takut. Terdengar jelas dari intonasi dan vokalnya yang mulai tak beraturan (Amipriono, 2019: 104).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Bu Imah terlihat memberitahukan sebuah kabar kepada Putri bahwa Pak Lingga berhasil menemukan orang tua asuh untuk Diaz. Pak Lingga melakukan hal ini agar beban Putri berkurang, dan Diaz bisa tetap melanjutkan sekolahnya tanpa harus mengumpulkan lembaran-lembaran kertas lagi.
Tidak hanya membantu Pak Udin dalam mensukseskan usahanya, Pak Lingga juga berusaha membantu Diaz dan Putri, dua orang anak miskin yatim piatu yang hidup dan pendidikannya terancam karena faktor ekonomi. Sikap rendah hati yang dimiliki oleh Pak Lingga tersebut dapat terlihat jelas dari kutipan teks di atas.
3. Keberanian Moral
Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekad untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban meskipun tidak disetujui oleh lingkungan. Keberanian moral diartikan juga sebagai kesediaan
28
terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam kesedihan untuk mengambil resiko konflik. Dalam novel Selembar Itu Berarti, tokoh Diaz digambarkan sebagai seorang anak yang memiliki sikap keberanian moral.
Hal ini terlihat ketika Diaz sedang mencari dan mengumpulkan buku tulis bekas agar bisa digunakan kembali saat belajar di sekolah. Mandor lokasi pembuangan sampah yang baru mengusir Diaz dan menyuruhnya untuk pulang. Mandor tersebut memarahi Diaz karena dia berpikir Diaz sedang bermain-main di tempat pembuangan sampah. Namun Diaz tidak ingin pergi dari sana.
Diaz menjelaskan kepada mandor tersebut bahwa keberadaannya di sana bukan untuk bermain-main, melainkan dia sedang mencari buku-buku tulis bekas supaya dia bisa tetap sekolah karena bagi Diaz, selembar yang dia temukan di tempat pembuangan sampah tersebut sangatlah berarti. Diaz tetap mencari buku tulis bekas di sana. Dia berani mengambil resiko apa pun dan bahaya apa pun asalkan dia bisa mendapat apa yang sedang dia cari, termasuk terkena buldoser. Keberanian moral yang dimiliki oleh Diaz dibuktikan dari kutipan berikut ini
“Heeeiii... Sana, pulang! Nanti kegaruk buldoser baru tahu rasa kamu,”
hardik Abah Syaiful. Dia mandor lapangan lokasi pembuangan sampah yang baru.
“Ma... maaf, Pak. Saya bukan mau main-main”, jawab Diaz setengah ketakutan. Beberapa pemulung menoleh melihatnya.
“Jadi, mau ngapain? Pulang sekolah bukannya ke rumah. Malah ke tempat sampah! Kayak nggak ada kerjaan aja”, hardiknya lagi.
Tangannya berkacak di pinggang. Badannya yang tinggi besar membuat nyali Diaz agak ciut.
“S... s... saya kemari untuk mencari buku tulis bekas, Pak. Siapa tahu masih ada halaman kosong. Buku tulis saya yang lama sudah habis”, jawab Diaz. Tubuhnya gemetaran melihat tubuh kekar Abah Syaiful,
29
yang tampilannya sekilas mirip Jean-Claude Van Damme (Amipriono, 2019:25).
Selain Diaz, kemandirian moral juga dimiliki oleh tokoh Nisa. Nisa yang sejak perceraian orang tuanya memutuskan untuk berhenti sekolah berani mengambil sebuah keputusan. Keputusan tersebut diambil oleh Nisa dan berani menerima resikonya termasuk resiko yang akan diterima dari orang tuanya.
Nisa bertekad untuk melanjutkan sekolahnya lagi. Nisa memilih untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang anak yang harus tetap bersekolah apa pun resikonya.
Keputusan Nisa untuk melanjutkan sekolahnya kembali karena Nisa terinspirasi dari Diaz. Semangat Diaz yang tidak pernah lelah mencari buku-buku tulis untuk tetap bisa belajar, berhasil membuat Nisa mengambil keputusan dan tindakan yang sebelumnya sudah tidak pernah terpikirkan olehnya lagi. Nisa bertekad untuk memberitahukan kepada Ibunya soal keputusannya untuk melanjutkan sekolah lagi. Penjelasan ini dapat dibuktikan dari kutipan berikut ini
“Oh iya, Ma. Kiriman Papa bulan ini kayaknya telat. Kalau boleh, Nisa minta ditransferin duit. Karena Nisa kepikiran mau sekolah lagi”.
“Benar itu, Sayang? Alhamdulillah kalau memang iya. Kapan rencana mau daftar sekolah?”
“Nanti lah, Ma. Begitu semester baru dimulai. Nomor rekening Nisa masih mama simpan kan?”
“Masih, Sayang. Ya sudah. Siang ini Mama transfer ya. Nanti Mama kirim bukti transfernya” (Amipriono, 2019:69).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Nisa yang terlihat begitu antusias dan bertekad untuk kembali bersekolah. Ia tetap mempertahankan sikapnya dan meyakinkan dirinya bahwa dia harus melanjutkan sekolah, apa pun resikonya.
30
Keberanian moral juga dimiliki oleh tokoh Bu Imah. Saat Bu Imah kehilangan pekerjaannya, dia sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kebutuhan hidup Putri dan Diaz. Bu Imah takut, kalau seandainya tidak ada yang bisa membantu Diaz dan Putri lagi. Oleh karena itu, Bu Imah memutuskan untuk pergi menemui Pak Lingga selaku pimpinan dan menyampaikan keluh kesahnya tentang kedua anak itu, meskipun besar kemungkinan Pak Lingga menolak permintaannya tersebut. Ini dapat dibuktikan dari kutipan berikut
“Tapi mereka masih anak-anak, Pak. Kasihan mereka. Kita harus bertindak cepat untuk menyelamatkan mereka, Paaak...”, Bu Imah mememelas. Berharap ada tindak nyata dari pimpinan tertinggi di desanya.
“Ya sudah. Kalau Ibu sanggup, bantulah. Saya kepala desa bagi seluruh warga di sini. Bukan hanya bagi mereka”. Pak Lingga mulai tak sabar.
Tangannya sudah terlepas dari lipatan. Tangannya menunjuk-nunjuk meja.
“Sudah, Pak. Sudah. Saya sudah membantu mereka sebisa mungkin, Pak. Saya tak punya banyak uang. Makanya saya minta tolong Bapak.
Kasihaaan mereka, Paaak” (Amipriono, 2019:75).
Dapat dilihat dari kutipan di atas bahwa Bu Imah tetap kekeh meyakinkan Pak Lingga agar sesegera mungkin membantu Putri dan Diaz. Bu Ima tidak peduli meskipun Pak Lingga menolak bahkan memarahinya. Satu-satunya yang dia perlukan adalah tindakan nyata dari pimpinan desa itu untuk
31
menyelamatkan kehidupan Putri dan Diaz. Keberanian moral yang ada dalam diri Bu Imah diperjelas lagi pada kutipan berikut ini
Semangat yang ditunjukkan Diaz, membuat hati Bu Imah ikut tergerak.
Ia merasa harus terus memperjuangkan nasib anak tersebut.
Karena itulah dia kembali menjumpai Pak Lingga di kantornya.
“Saya paham, Bu. Saya mengerti perasaan Ibu”, jawab Pak Lingga lebih lunak. Maklum dia karena sudah melihat langsung bagaimana perjuangan berat Diaz.
Bu Imah kemudian bercerita tentang kondisi ekonominya yang terus terpuruk. Omzet usaha ikan majikannya terus merosot. Membuatnya kehilangan pekerjaan hingga terpaksa harus menjadi buruh cuci (Amipriono, 2019:90).
Meskipun sebelumnya Pak Lingga sudah menolak permintaan Bu Imah untuk membantu Diaz dan Putri, namun Bu Imah tidak mau menyerah. Tekad Bu Imah untuk membantu kehidupan Putri dan Diaz tetap dipertahankan. Bu Imah tidak ingin Putri dan Diaz menjadi anak-anak terlantar. Tekad tersebut membuat Bu Imah tetap pergi menemui Pak Lingga, untuk mendapatkan jawaban pasti tentang permohonannya membantu kehidupan Putri dan Diaz agar mereka tidak hidup sengsara.
Selain itu, tokoh Bu Reni yang merupakan wali kelas Putri juga digambarkan memiliki sikap keberanian moral. Mendengar kabar bahwa salah satu anak didiknya yaitu Putri berhenti sekolah, dikarenakan biaya yang tidak cukup. Tanpa berpikir panjang Bu Reni langsung menemui kepala sekolah untuk meminta bantuan. Hal ini dijelaskan dalam kutipan berikut
“Kita harus menyelamatkan sekolahnya, Pak. Dia sudah di kelas 6 sekarang. Selain itu, Putri anak yang sangat rajin. Pekerja keras. Dan begitu peduli dengan teman-teman sekelasnya”.
32
“jadi tolong, Pak. Kita harus bantu dia. Kita harus menyelamatkan sekolah Putri”. Bu Reni nanar menatap (Amipriono, 2019: 155).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Bu Reni selaku wali kelas Putri tidak
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Bu Reni selaku wali kelas Putri tidak