• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Ada beberapa saran yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini, antara lain:

1. Penelitian ini khusus membahas nilai-nilai sosial yang ada dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono. Oleh sebab itu, penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya yang akan meneliti novel Selembar Itu Berarti dalam ruang lingkup yang lebih lagi. Hal ini bertujuan agar penelitian selanjutnya dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan yang lebih dalam lagi, baik bagi peneliti maupun pembaca.

2. Dalam penelitian ini sebaiknya tidak bertumpu pada satu pendapat ahli, melainkan diperlukan beberapa pendapat ahli. Hal ini bertujuan agar peneliti tersebut memiliki banyak referensi yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya.

43

DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko. 2002. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.

Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Citapustaka Media.

Faruk. 2015. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Febriana, Tryya. 2020. Nilai perjuangan Tokoh Putri dan Diaz Pada Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono Sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA. Magelang: Universitas Tidar.

Goldman. 1977. “Sosiologi Suatu Pengantar”. Jakarta: Rajawali.

Herman, Salvina. 2020. Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono. Makassar: Universitas Muhammadiyah.

Jabrohim. 2000. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jabrohim. 2001. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha.

Lawang, Robert M.Z. 1985. Buku Materi Pokok: Pengantar Sosiologi. Jakarta:

Karunika Universitas Terbuka.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ririn, Patnawati. 2021. Nilai-nilai Pendidikan pada Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono dan Implementasi dalam Pembelajaran Sastra di SMA. Klaten: Universitas Widya Dharma.

Roucek dan Warren. 2009. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Angkasa: Universitas Michigan.

44

Semi, M. Atar. 2012. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Tantawi, Isma. 2014. Bahasa Indonesia Akademik. Bandung: Citapustaka Media.

45

Lampiran 1 Sinopsis Novel Selembar Itu Berarti

Novel Selembar Itu Berarti karangan Suryaman Amipriono yang diangkat dari film karya Dedy Arliansyah Siregar yang menceritakan tentang perjalanan penuh liku kehidupan dua kakak adik yang berasal dari keluarga miskin. Mereka adalah Putri dan Diaz. Putri dan Diaz masih duduk di bangku sekolah dasar dan tinggal di sebuah desa di Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono, diceritakan bahwa Putri dan Diaz harus mengumpulkan lembar demi lembar kertas bekas setiap hari. Kertas-kertas bekas tersebut mereka gunakan untuk meringankan biaya sekolah.

Kertas yang kosong mereka gunakan untuk menulis ilmu-ilmu yang mereka peroleh di sekolah, karena mereka tidak mempunyai uang untuk membeli buku baru. Sementara kertas sudah berisi mereka jadikan sebagai referensi untuk

46

menambah pengetahuan mereka. Perjalanan mereka dari rumah menuju ke sekolah pun butuh perjuangan, karena jarak rumah ke sekolah terbilang cukup jauh. Setiap hari mereka harus berjalan kaki ke sekolah dan bangun lebih awal agar tidak terlambat tiba di sekolah. Putri dan Diaz tinggal bersama Ibu mereka.

Ayah mereka sudah meninggal satu tahun yang lalu. Ibunya bekerja serabutan, terkadang bekerja sebagai buruh cuci dengan upah Rp.30.000 per hari.

Sejak Ayah mereka meninggal, kehidupan mereka tidak sebaik dulu.

Ibunya sakit-sakitan dan kondisinya semakin hari semakin memburuk. Hidup Putri dan Diaz semakin berat ketika ditinggal kedua orang tuanya. Ibunya meninggal karena menderita penyakit kanker hati karena virus hepatitis yang menggerogoti hatinya. Putri dipaksa dewasa oleh keadaan. Dia harus berperan sebagai Ayah, Ibu dan Kakak untuk adiknya, yaitu Diaz.

Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Putri mengalami berbagai macam kesulitan hidup. Terkadang mereka harus makan sekali sehari karena tidak memiliki uang untuk membeli beras dan lauk pauk. Penderitaan Putri semakin bertambah ketika kebutuhan dan perlengkapan sekolah tidak sudah tidak ada. Dia terpaksa berhenti sekolah.

Putri berhenti sekolah bukan karena malas atau tidak punya keinginan untuk sekolah. Semuanya terpaksa dia lakukan agar dia mempunyai lebih banyak waktu untuk bekerja sebagai penjual koran eceran di pasar dan di terminal. Uang hasil berjualan akan dia gunakan untuk membeli beras, lauk, dan membeli

47

kebutuhan sekolah Diaz. Putri tidak mau melihat adiknya itu berhenti sekolah hanya karena keterbatasan ekonomi.

Melihat penderitaan yang dialami oleh Diaz dan Putri, Bu Imah yang merupakan tetangga dan satu-satunya orang yang sudah dianggap keluarga oleh kedua bocah tersebut, membuatnya tidak tega membiarkan Putri dan Diaz hidup dalam kesengsaraan. Bu Imah dibantu Pak Lingga, pimpinan tertinggi desa Kelantan mencari orang tua asuh untuk Diaz.

Diaz yang dibawa oleh orang tua asuhnya ke Tarutung membuat Putri merasakan kesepian yang sangat mendalam. Namun putri harus rela agar Diaz bisa hidup dengan layak dan melanjutkan sekolah tanpa harus memulung dan mengumpulkan kertas-kertas bekas lagi untuk dirakit dan dijadikan buku. Putri dan Diaz terpaksa harus berpisah demi kehidupan yang lebih baik.

Kepergian Diaz ke Tarutung membuat hati Putri sedikit lega, setidaknya adiknya itu tidak lagi merasakan lapar, lelah, dan lain sebagainya. Di Tarutung Diaz dirawat dengan baik oleh orang tua asuhnya. Bahkan Diaz berhasil menjadi siswa berprestasi sekabupaten Tapanuli Utara. Di sisi lain, Putri yang sempat berhenti sekolah karena harus bekerja mencari uang , pada akhirnya juga dapat kembali bersekolah berkat bantuan teman-temannya, wali kelasnya, dan kepala sekolahnya. Putri mendapat beasiswa sampai ia selesai sekolah. Putri juga mendapat peringkat kedua di kelas.

48

Lampiran 2 Unsur-unsur Intrinsik dalam Novel Selembar Itu Berarti

1. Tema

Aminuddin (1995:91) mengemukakan bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptanya.

Tema yang dapat diambil dari novel Selembar Itu Berarti adalah perjuangan hidup dalam meraih pendidikan.

2. Tokoh dan Penokohan

Menurut Aminudin dalam Siswanto (2002:142) tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.

Menurut Nurgiyantoro (1995:176) berdasarkan peranan dan tingkat pentingnya, tokoh terdiri atas tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh tambahan kejadiannya lebih sedikit dibandingkan tokoh utama. Kejadiannya hanya ada jika berkaitan dengan tokoh utama secara langsung.

Menurut Jones dalam Nurgiyantoro (1995:165) penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

Dalam novel Selembar Itu Berarti, ditemukan tokoh-tokoh sebagai berikut Tokoh utama :

49 1. Putri

Tokoh Putri digambarkan sebagai seorang anak yang pengertian dan penyayang. Dalam novel Selembar Itu Berarti, tokoh Putri juga digambar sebagai sosok seorang Kakak yang bertanggung jawab dan perhatian. Hal ini terlihat dari kutipan berikut

“Kamu mandi dulu sana, badan kamu bau acem asem. Lagian udah sore, udah mau magrib. Biar kakak aja yang nyapu rumah dan pekarangan”.

Jelas Putri (Amipriono, 2019 : 8).

2. Diaz

Dalam novel Selembar Itu Berarti, tokoh Diaz digambarkan sebagai seorang anak laki-laki yang memiliki sikap pantang menyerah, tidak mudah putus asa, dan memiliki semangat yang tinggi. Hal ini terlihat dari kutipan berikut

“Diaz kamu kenapa? Diaz capek ya?”Punggung tangan Diaz menyapu keningnya.

“Nggak kok, kak. Diaz gak akan menyerah. Tapi Diaz kepikiran dengan sakitnya Ibu. Harusnya kita sudah ada di rumah untuk menjaganya”. Putri mendengarkan keluh kesah adiknya. Mungkin ada benarnya (Amipriono, 2019 : 43).

Tokoh tambahan :

1. Hera (Ibu Putri dan Diaz)

Dalam novel Selembar Itu Berarti, tokoh Hera digambarkan sebagai sosok seorang Ibu yang penyayang, lemah lembut, dan bertanggung jawab. Hera juga digambarkan sebagai seorang Ibu yang pekerja keras namun sakit-sakitan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut

“Putri, yang paling penting bagi Ibu adalah kebahagiaan kalian berdua.

Biarkan Ibu terus berjuang karena sudah tanggung jawab orangtua terhadap anak-anaknya. Kalian mengerti kan?” Hera menatap kedua buah

50

hatinya bergantian, sebagai bukti limpahan kasih sayang yang tak tergantikan (Amipriono, 2019 : 9).

“Cobaan apa lagi yang engkau berikan Ya Rabb”. Hera menangis. Mataya ditutup dengan jemari kiri.

“Kuatkanlah hamba untuk melawan sakit kanker hati ini, Ya Rabb”.

Tangisnya makin tersedu-sedu. Badannya berguncang. Tatapan mata ke arah Diaz dan Putri membuatnya semakin sedih (Amipriono, 2019 : 13).

2. Arya

Tokoh Arya dalam novel Selembar Itu Berarti digambarkan sebagai seorang anak kecil yang ramah, suka berbagi dan menolong. Arya merupakan seorang tokoh yang digambarkan memiliki kepribadian yang santun dan tidak memilih-milih dalam hal pertemanan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut

“Kenapa gak bilang dari tadi, Arya bawa buku yang masih baru, lebih kok.

Kamu pilih mana yang kamu suka”. Tawar Arya ramah. Tiga buku tulis berisi 50 halaman dikeluarkan dari tasnya (Amipriono, 2019 : 21).

3. Bu Imah

Tokoh Bu Imah yang merupakan tetangga Hera adalah seorang janda yang digambarkan sebagai seorang Ibu yang penyayang, ramah, suka membantu, dan perhatian. Bu Imah juga digambarkan sebagai sosok yang menjadi penyemangat Hera yang selalu membantu saat Hera berada dalam keadaan tersulit dalam hidupnya. Hal ini dijelaskan dalam kutipan berikut

“Kamu harus tetap kuat Her. Jangan menyerah begini. Ingat, anak-anakmu yang masih kecil itu. Mereka masih butuh kasih sayang mu. Kamu yang semangat ya!” Hibur Bu Imah. Tangannya mengepal jemari Hera.

“Besok Ibu ke Medan. Doakan ikan Ibu cepat laku, ya. Biar ada uang buatmu berobat. Biar kamu bisa cepat normal dan merawat anakmu lagi”.

Mata bening Bu Imah menatap. Hera merespon dengan beberapa anggukan kecil (Amipriono, 2019:39).

51 4. Pak Lingga

Dalam novel Selembar Itu Berarti tokoh Pak Lingga digambarkan sebagai seorang pimpinan desa yang jujur dan tegas. Pak Lingga tidak mau menerima sogokan apa pun yang dapat merugikan Desa mereka. Pak Lingga juga tidak mau menggunakan uang Desa untuk kepentingan pribadinya. Hal ini terbukti dari kutipan berikut

“Pak, ini kantor saya. Tolong yang sopan. Anda boleh punya banyak uang.

Tapi tak semua bisa Anda beli. Apalagi kejujuran”. Sergap Pak Lingga saat ia digoda dengan uang rasuah. Ia naik pitam.

“Ingat, ya. Saya bukannya mempersulit. Saya akan bantu Anda jika semua berkas sudah memenuhi syarat”. Dengan tegas, ia berdiri. Kemudian mempersilahkan orang tersebut untuk pergi dari ruangannya (Amipriono, 2019 : 45-46).

5. Nisa

Tokoh Nisa dalam novel Selembar Itu Berarti digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang memiliki masalah dalam keluarganya, atau lebih dikenal dengan sebutan broken home.Ayah dan Ibunya bercerai sudah sejak lama. Nisa digambarkan sebagai seorang gadis yang baik hati dan suka menolong. Nisa juga merupakan sosok seorang teman yang setia. Hal ini dapat dijelaskan dari kutipan berikut

“Yah.. mana peduli mereka, Yang penting dirinya happy. Gimana nasib Kakak juga nggak ngaruh. Masa bodoh. Karena papa Kakak itu lebih senang dengan bisnisnya. Sedangkan Mama, sudah bahagia dengan keluarga barunya”. Jawab Nisa sebagian. Satu pertanyaan sinis Diaz tak dijawabnya (Amipriono, 2019:29).

“Ini, Dik. Pegang ranting ini, biar Kakak tarik kamu ke atas”. Seru Nisa.

Kayu itu ditarik perlahan setelah berhasil dijangkau Diaz (Amipriono, 2019 : 27)

52 6. Pak Udin

Tokoh Pak Udin dalam novel Selembar Itu Berarti digambarkan sebagai seorang pengusaha yang kaya raya tetapi rendah hati, suka menolong dan tidak sombong.

Pak Udin suka membantu orang-orang yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Hal ini dapat dilihat dari teks berikut

“Baaaah. Pak Linggaaaa... Pak Linggaaaa. Kalau cuma itu keperluan Bapak.

Ngapain kereta itu Bapak jual. Bapak tinggal bilang perlu berapa. Insyaallah saya pinjamkan”.

“Lagian. Pak Lingga nggak usah pala pening mikirin bayarannya. Kapan aja boleh. Kalau memang udah ada duitnya. Gak usah dipaksakan”. Otot silindris Pak Udin mulai mengendur. Kadar konsentrasinya mulai berkurang setelah inti masalah diketahui (Amipriono, 2019 : 99).

7. Bu Lina

Dalam novel Selembar Itu Berarti Bu Lina yang berperan sebagai Ibu yang mengadopsi Diaz digambarkan sebagai seorang Ibu yang anggun dan ramah. Ini dapat dilihat dari teks berikut

“Waalaikumsalam. Eh, Ayah. Udah pulang”. Jawab Bu Lina. Sosok anggunnya langsung muncul dari balik pintu. Satu sunggingan senyum dari bibir manis berkelir merah muda dilempar untuk suaminya (Amipriono, 2019 : 140).

8. Pak Azwar Siregar

Dalam novel Selembar Itu Berarti Pak Azwar yang merupakan suami Bu Lina digambarkan sebagai seorang Ayah yang penyayang, baik hati dan tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Dia menyayangi Diaz sebagaimana dia menyayangi anak kandungnya sendiri. Pernyataan ini dibuktikan dari kutipan berikut

“Wah... wah... wah...udah pada ngumpul di sini rupanya anak Ayah. Diaz, kamu makan apa?” tanya Pak Azwar. Diusap-usapnya rambut Diaz.

53

Matanya melirik ke piring kaca yang sudah tersaji di depannya (Amipriono, 2019 : 141).

9. Atri

Dalam novel Selembar Itu Berarti Atri yang merupakan anak kepala sekolah sekaligus sebagai sahabat baik Putri digambarkan sebagai seorang teman yang pengertian dan cukup dewasa dalam bersikap. Dia selalu membantu Putri dan Diaz saat mereka dalam keadaan susah. Hal ini dibuktikan dari kutipan berikut

“Kenapa nggak boleh, belajar kan hak kamu, Putri. Hak setiap orang.

Bukankah Bu guru pernah bilang, kalau setiap orang adalah guru. Dan setiap rumah itu sekolah”.

“Jadi, walaupun saat ini kamu belum sekolah lagi, Putri tetap bisa belajar dari rumah, melalui buku Atri. Iya, kan?” terang Atri. Tatapan matanya ke Putri membuat teduh (Amipriono, 2019 : 149).

10. Adam, Pak Wildan, Bu Reni, Kumolo, Pak Nikson, Sela, Bu Reni dan Abah Syaiful

Dalam novel Selembar Itu Berarti, tokoh-tokoh tersebut tidak dijelaskan secara rinci mengenai penokohannya. Namun, nama-nama tersebut muncul beberapa kali dalam sebuah kutipan percakapan yang begitu singkat.

3. Alur

Chatman (1980:20) mengatakan bahwa alur adalah tata urutan pemunculan peristiwa-peristiwa dalam cerita.

Alur dari novel Selembar Itu Berarti merupakan alur maju, karena menceritakan kehidupan Putri dan Diaz secara runtut dari awal hingga akhir tanpa mengulas kembali cerita sebelumnya.

4. Latar

54

Mido (dalam Sehandi, 2016:56) mengemukakan bahwa latar adalah gambaran tentang tempat, waktu, dan situasi terjadinya peristiwa.

Dalam novel Selembar Itu Berarti, ditemukan latar kejadian sebagai berikut Latar Tempat

1. Desa Kelantan

Desa Kelantan merupakan kawasan yang kaya. Memiliki potensi. Terutama untuk sektor perikanan. Maka tak heran banyak investor dari luar daerah. Rata-rata mereka ingin membuka perusahaan di desa ini (Amipriono, 2019 : 44).

2. Sekolah

Lonceng sekolah meraung-raung. Gemanya membawa kabar hingga penjuru kompleks sekolah: waktu belajar akan dimulai. Tepat pukul 07.30 Putri dan Diaz baru saja tiba (Amipriono, 2019 : 20).

3. Tempat Pembuangan Akhir

Diaz kembali menjalani rutinitasnya sepulang sekolah: mencari lembaran kertas di tempat pembuangan sampah. Bedanya, beban pikirannya sudah bertambah. Galau karena mikirin sepatu putihnya itu (Amipriono, 2019 : 56).

4. Sungai

“Byuuuurr!” Diaz tercebur. Tubuhnya tenggelam ke permukaan sungai.

Tangan nya terlihat mengayun-ayun memercik air. Karena masih agak di tepi, bagian itu tak begitu dalam (Amipriono, 2019 : 27).

5. Pekarangan

Bu Imah datang menjenguk. Hera mengajaknya ke saung kecil di pekarangan samping ( Amipriono, 2019 : 38).

55 6. Rumah Diaz

“Assalamualaikum. Putriii...”

“Diaz...” teriak Bu Imah. Matanya celingukan mencari keberadaan dua bocah itu, sembari mengetuk daun pintu yang bahannya dibuat dari kayu damar (Amipriono, 2019 : 74).

7. Pasar

“Ayoo..ayo.Cari apa, Kak? Mari–mari. Dipilih...dipilihh”. Teriakan para pedagang terdengar saling sahut. Mata mereka menyapu dan menggoda siapa saja yang lewat untuk membeli barang dagangannya (Amipriono, 2019 : 83).

8. Terminal

Mulai hari ini, Putri menapaki dunia baru. Berjualan koran di terminal angkutan tanpa sepengetahuan Diaz (Amipriono, 2019 : 86).

9. Pemakaman

Putri memelankan ayunan langkahnya saat memasuki sepetak tanah kosong yang sunyi. Jauh dari pemukiman warga. Tak ada bangunan apa pun. Kecuali beberapa patok kayu dan onggokan batu nisan yang disusun persegi. Di tempat itu, ayah dan ibunya dimakamkan (Amipriono, 2019 : 117).

10. Kota Tarutung

“Raihan Firza Valendiaz, dari SD negeri di kota Tarutung”. Mata Diaz membulat. Mulutnya membentuk vokal O. Dia terperanjat mematung saat mendengar pengumuman tersebut (Amipriono, 2019 : 170).

Latar Waktu 1. Pagi hari

56

Jarum jam menunjukkan setengah tujuh pagi. Hera pun mengambil nasi dan gorengan telur dari dalam tudung saji (Amipriono, 2019 : 18).

2. Sore hari

Matahari kian tenggelam. Kepergiannya disambut dengan embusan angin sore.

Tiupannya yang lembut, dengan segera mengusir hawa panas pada tiap-tiap sudut rumah berdinding tepas itu (Amipriono, 2019 : 7).

3. Malam hari

“Ya sudah, ini sudah malam. Selesai makan kita salat, ya. Karena calon Presiden seperti kalian ini harus taat terhadap Allah. Biar negaranya adil, makmur dan sentosa”, ajak Hera. Kedua malaikat kecilnya itu pun nurut (Amipriono, 2019 : 12).

Latar Suasana

1. “Kamu kenapa? Apa yang kamu takutkan Hera?” tanya Bu Imah. Air mata Hera membuatnya tampak khawatir. Bibirnya gemetar menahan tangis (Amipriono, 2019 : 38). Dalam kutipan teks tersebut terlihat jelas suasana yang sedih. Terlihat tokoh Hera yang menangis menitikkan air mata.

2. “Eh, tapi kok Kakak perhatiin kamu sekarang agak gemukan yah” canda Putri.

Telunjuk dan jempolnya menjepit lagi pipi bakpau Diaz. Rambut Diaz berantakan karena diacak-acak Putri. “Hehehe. Alhamdulillah, Kak. Diaz bahagia dirawat Bu Lina” (Amipriono, 2019 : 181). Dari kutipan teks tersebut bahwa suasana bahagia menyelimuti Putri dan Diaz.

57 5. Sudut Pandang

Menurut Aminuddin (1995:90) sudut pandang merupakan cara seorang pengarang menampilkan para tokoh atau pelaku dalam cerita yang disampaikan atau bisa dipaparkan.

Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam Novel Selembar Itu Berarti adalah sudut pandang persona ketiga karena dalam novel tersebut, penulis menggunakan nama tokoh untuk mendeskripsikan atau menceritakan si tokoh tersebut.

6. Amanat

Menurut Rusiana (1982:74) amanat adalah sebuah ajaran moral atau pesan yang mau disampaikan oleh pengarang kepada pembaca.

Amanat atau pesan yang dapat diambil dan dijadikan pelajaran dalam novel ini adalah seberat apa pun cobaan hidup yang datang menerpa, kita tidak boleh putus asa dan harus tetap berjuang, bekerja keras, dan berdoa kepada Tuhan, Niscaya Tuhan akan membukakan jalan.

58 Lampiran 3 Biografi Suryaman Amipriono

Suryaman Amipriono lahir di Labuhan Batu, 3 Agustus 1982. Suryaman Amipriono merupakan seorang guru produktif dengan golonga III/c di SMK Negeri 2 Binjai. Masih terbilang baru karena menghabiskan awal karirnya di perusahaan multinasional PT Astra International Tbk-Isuzu, cabang Medan sebagai karyawan divisi service sejak tahun 2005.

Suryaman Amipriono mengawali karirnya sebagai guru pada awal tahun 2011.

Dia memulai pengalaman jurnalistiknya ketika mendirikan sebuah media online bertema pendidikan vokasi. Media online itu pula yang menjadi awal untuk mendirikan sebuah tabloid dwi mingguan bertema pendidikan.

Hingga kini, Suryaman Amipriono tetap aktif menggoreskan penanya untuk memperluas cakrawala berpikir dan memberikan bahan bacaan yang berkualitas bagi pembaca melalui beberapa situs yang dikelola, antara lain : suryamaniskan.blogspot.com dan banyakcakap.com. buku ini merupakan buku kedua yang diluncurkan oleh Suryaman Amipriono. Buku pertamanya berjudul Guru Vokasi Zaman Milenial terbit pada akhir tahun 2018.

Dokumen terkait