BAB II LANDASAN TEORI
B. TABUIK
5. Nilai-nilai Teologi yang terdapat di Acara Batabuik
Unsur-unsur utama tabuik, seperti; bungo salapan, tonggak atam, tonggak serak, jantuang-jantuang, pasu-pasu, dan ula gerang yang berjumlah delapan merupakan gambaran perpaduan antara adat dan agama, sehingga nilai-nilai adat yang terkandung dalam tabuik tidak jauh dari nilai-nilai agama. Berikut ini penjelasan dari unsur-unsur utama tabuik.
1. Bungo salapan
bungo salapan ini mengandung arti yaitu empat bungo salapan yang berada diatas melambangkan arti 4 jenis pimpinan dalam agama yaitu (imam, khatib, labai dan pegawai) kemudian empat bungo salapan yang berada di bawah melambangkan juga 4 jenis pimpinan dalam adat yaitu ( panghulu, manti, malin, dan dubalang). 35
2. Tonggak atam
Tonggak atam merupakan tiang penyangga utama dari konstruksi tabuik nagian pangkek ateh. Tonggak atam berjumlah delapan buah yang menggambarkan adat dan agama saling bersatu.36
3. Tonggak Serak
Tiang penyangga utama konstruksi tabuik bagian bangkek bawah.
Tonggak serak seperti kaki dari tabuik. Tonggak serak akan menyatu dengan tonggak atam pada saat tabuik naiak pangkek. Unsur utama
35 Bapak Masyuribo, ( Ketua Komite Seni Rupa Karya dan Kriya), wawancara pribadi, Rabu 11 November 2020 jam 15.32 WIB
36 Asril Muchtar, “Sejarah tabuik”, (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman:pariaman,2016)h.68
yang terletak pada tonggak serak adalah burak. Jumlah tonggak serak juga delapan, yang juga menggambarkan perpaduan adat dan agama.37 4. Jantuang-jantuang
Berbentuk jantuang pisang yang terbuat dari bamboo yang dilapisi dengan kertas warna-warni. Jantuang-jantuang ini berfungsi sebagai pengimbang dan penghias pada Gomaik dan biliak-biliak bagian bawah.
5. Pasu-pasu
Berbentuk seperti atap masjid. Pasu- pasu ini berjumlah dua buah yang terletak di bawah gomaik dan terletak di atas burak. Pada setiap sudut miring pasu-pasu dipasangkan bungo salapan
Adapun kaitannya dengan ajaran agama Islam nilai-nilai adat yang ada pada tabuik yaitu, aturan adat nanampek mencakup perilaku bertutur kata dalam masyarakat yang sangat dijunjung tinggi masyarakat Pariaman seperti; kato mandata, kato mandaki, kato malereang, dan kato manurun. Oleh karena itu, dalam setiap pelaksanaan pesta tabuik unsur-unsur yang terlibat dalam upacara ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai (cerdik pandai), unsur tokoh masyarakat lainnya, pemuda, urang sumando, dan anakanak sehingga diperlukan mempedomani kato nan ampek.
Kata yang empat (kato nan ampek) dimaksud pada agama dapat dikaitkan dengan beberapa hal yaitu berpedoman pada dasar hukum yang empat; Al-Quran, Hadist, Ijma’,dan Qias (wajib, sunat, mubah, dan makruh). Bahkan bisa dikaitkan
37 Asril Muchtar, “Sejarah tabuik”,….h68
dengan empat pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad S.A.W, yang disebut dengan Khulafaurrasyidin yaitu; Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Kemudian empat mazhab yaitu Hanafi, Hanbali, Syafi’i dan Maliki. Selain prinsip-prinsip diatas, adalagi prinsip yang ditekankan alam beribadah yaitu syariat, tarikat hakikat, dan makrifat.38
Hubungan Teologi dengan Batabuik disini tentang proses Ritual nya adalah :
a. Mengambil Tanah
Maambiak Tanah merupakan prosesi ritual pengambilan segumpal tanah ke sungai yang dilakukan pada tanggal 1 Muharram. Prosesi ini dilakukan bersamaan oleh Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Pengambilan dilakukan pada sungai yang berbeda. Tabuik Pasa mengambil tanah di sungai kecil di Galombang, sedangkan Tabuik Subarang mengambil tanah di sungai batang piaman di daerah Pauh. Sebelum melakukan prosesi ini kedua kelompok Tabuik terlebih dahulu membuat daraga. Daraga adalah sebuah tempat yang dilingkari dengan pagar bambu berbentuk segi empat yang memiliki luas kurang lebih 5 meter, dikelilingi kain putih. Daraga ini diibaratkan seperti makam. Prosesi maambiak tanah diiringi dengan gandang tansa Iring-iringan berjalan kaki dari daraga ke lokasi pengambilan tanah yang dimulai dengan do’a bersama. Pengambilan tanah
38 Bahri, S., & Gibran, M. K. (2015). Tradisi Tabuik di Kota Pariaman....
dilakukan oleh Tuo Tabuik dengan menggunakan kain putih, waktu pengambilan adalah sebelum shalat maghrib.39
Tanah yang diambil kemudian diletak kan di belanga dan ditutup kain putih, kemudian diletakkan dalam daraga. Pengambilan tanah menggambarkan pengambilan mayat Husein di sungai Eufrat di Karbala. Pada kenyataannya tidak semua masyarakat Pariaman yang mengikuti ritual tabuik memahami ini. Pada umumnya tidak memiliki pemaknaan terhadap prosesi ini, yang diketahui adalah bahwa prosesi ini merupakan salah satu tahapan dalam batabuik. Pada tahun ini pelaksanaan maambiak tanah dilakukan pada tanggal 1 Muharram 1437 H.
b. Menebang Batang Pisang
Manabang batang pisang merupakan prosesi memancung beberapa batang
pisang yang kemudian batang pisang tersebut diletakkan dalam daraga.
Pelaksanaan prosesi ini dilakukan bersamaan oleh kelompok Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Biasanya prosesi ini diakhiri perseteruan (bacakak/berkelahi)
antar kedua kelompok Tabuik, perseteruan terjadi ketika kedua kelompok ini berselisih jalan dan masing-masing masih diiringi gandang tansa. Lokasi penebangan batang pisang ini juga berbeda antar kedua kelompok Tabuik, pelaksanaan dilakukan sebelum shalat maghrib. Batang pisang harus putus dalam satu kali tebasan. penebangan batang pisang diibaratkan presentasi simbolik tentara Yazid yang merampas harta keluarga Husain. Pada pelaksanaannya
39M.A. Dalmenda1, Novi Elian, “Makna Tradisi Tabuik Oleh Masyarakat Kota Pariama”,JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2016 Vol. 18 (2): 135-151,h. 145
perseteruan antar kedua kelompok Tabuik inilah yang dinanti oleh anak tabuik.
Menurut informan ini merupakan representasi simbolik perang Karbala.
Perselisihan tersebut kemudian akan berakhir disana, tidak berlanjut ke hari hari berikutnya karena hanya merupakan simbol. Prosesi ini dilakukan pada tanggal 5 Muharram.
c. Maatam/ Menatapi
Maatam adalah prosesi yang menggambarkan kesedihan atas penderitaan
yang dialami Husain pada saat perang Karbala. Prosesi dilakukan pada tanggal 7 Muharram setelah shalat dzuhur oleh keturunan Rumah Tabuik yang perempuan.
Berdasarkan penuturan informan, maatam ini memiliki makna meratapi kepergian orang yang telah meninggal. Pada prosesi maatam, keturunan Rumah Tabuik yang melakukan prosesi ini memiliki pantangan selama prosesi Tabuik, apabila dilanggar maka akan ada kejadian-kejadian yang tidak diharap kan terjadi pada Rumah Tabuik dan keturunannya.
d. Mengarak jari-jari
Maarak jari-jari dilakukan pada hari yang saman dengan maatam yakni tanggal 7 Muharram sebagai kelanjutan acara maatam. Pada tahun 2016 ini maarak jari-jari diselenggarakan sete lah sholat maghrib. Maatam dapat diartikan
sebagai kegiatan arak-rakan yang dilakukan oleh kelompok Tabuik Prosesi dilakukan oleh kedua kelompok Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang dengan mengambil lokasi di daerah sendiri dan daerah kelompok Tabuik lainnya.
Kegiatan arak-arakan dilaku kan dengan membawa panja, yakni sebuah kubah yang terbuat dari kertas kaca dan bambu serta diberikan lilin, kertas tersebut
berisikan gambar tangan dengan jari-jari yang putus. Penuturan informan mengungkapkan maarak jari-jari ini melambangkan jarijari Husain yang dipotong oleh musuh. Kegiatan Maarak jari-jari ini diiringi dengan tansa.
e. Mengarak Sorban
Ritual Maarak saroban atau mengarak sorban (turban) berlangsung tanggal 9 Muharram. Ritual dilaksanakan pada malam hari tepatnya setelah shalat maghrib. Kegiatan arak-arakan juga diiringi oleh musik gandang tansa, tidak jarang pada saat arak-arakan terjadi perselisihan antara kelopok Tabuik Pasa dangan Tabuik Subarang. Ritual ini memiliki makna mendorong semangat membela kebenaran, pesan yang disampaikan adalah agar menggunakan logika rasional dalam bertindak.
f. Tabuik Naik Pangkat
Tabuik naiak pangkek adalah prosesi penggabungan pangkek bawah
(tabuik bagian bawah) dengan pangkek ateh (tabuik bagian ateh). Idealnya sesuai dengan nilai-nilai sakral prosesi tabuik itu sendiri ritual ini berlangsung pada tanggal 10 Muhharam, namun pada penelitian ini Tabuik Naiak Pangkek berlangsung pada tanggal 16 Muharram. Berdasarkan tersebut, dapat dikatakan telah terjadi desakralisasi nilai tabuik. Hal ini dikarenakan tanggal 16 Muharram bertepatan dengan hari Minggu sehingga diprediksi akan banyak wisatawan yang datang dibanding jika dilaksanakan pada hari kerja/sekolah (Senin-Sabtu).
Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah dengan belanja wisatawan pada saat acara tabuik berlangsung. Setelah tabuik naiak pangkek maka
selanjutnya adalah mengarak tabuik-tabuik tersebut. Tabuik tersebut ada dua kelompok,yaitu tabuik berkepala wanita dan tabuik berkepala pria.40
40 M.A. Dalmenda1, Novi Elian, “Makna Tradisi Tabuik,…h. 148
39 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian lapangan dengan metode deskriptif kualitatif.41 Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang berprinsip tentang pengelaborasian dan pengolahan gejala yang terjadi atau menemukan unsur-unsur atau pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku. Disinilah kedalaman dan keluasan serta holistik penelitian aspek ruang lingkup dan fokus penelitian harus dijaga.42
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan interdispliner adalah pendekatan yang cocok digunakan mengingat penelitian lintas disiplin ilmu diantaranya filasafat, sosial, keagamaan.
Supaya tidak tidak terkesan mencampur adukkan metode ilmu yang telah baku, prinsip pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah landasan filosofis sosioligis.