Pembimbing : Nelmaya, M.Ag
Pembahasan dalam laporan penelitian ini terbatas mengenai : Bagaimana Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman. Penelitian ini merupakan studi kasus dan studi lapangan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Berdasarkan batasan masalah yang disebut diatas maka penulis juga melakukan wawancara atau tanya jawab mengenai hal-hal yang berhubungan dengan batasan masasala tersebut. Adapun yang menjadi sumber data yaitu wawancara dengan beberapa orang dari bagian pengurus Tabuik. setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan data dengan teknik analisis kualitatif.
Dari hasil penelitian ini membahas tentang makna Teologi dari Batabuik ini dan mengakaji bahawasanya sebagaian mengatakan bahwa Tradisi di Pariaman ini termasuk ajaran Syi’ah. Upacara ini terinspirasi dari peristiwa kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib cucu Nabi Muhammad SAW. Ia meninggal dalam peperangan dengan Yazid bin Muawiyah di Karbala Irak, tahun 680 M.
Masyarakat Pariaman bukanlah penganut Islam Syi’ah karna perang Tabuik tidak termasuk unsur Islam yang dipimpin oleh yazid yang ingin memusnahkan dan menghancurkan keturunan Islam, Husein sebagai tokoh utama yang diagungkan dalam tabuik dan menjadi penyebab diagungkan oleh umat Islam dipandang menjadi bagian pelengkap kesejarahan Tabuik.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan harapan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat terlaksana berkat bimbingan serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
menyadari bahwa keberhasilan penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Rektor dan Wakil Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, yang telah memberikan fasilitas, sarana dan prasarana, dan segala kebutuhan perkuliahan, sehingga penulis dapat meminta ilmu di kampus tercinta ini.
2. Bapak Dr. H. Nunu Burhanudin,Lc,M.Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah, bapak Dr. Zulfan Taufik, M.Hum selaku ketua Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.
3. Ibu Nelmaya M.A selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar dan bijak terus membimbing, menasehati dan mengarahkan penulis untuk menghasilkan penuli untuk menghasilkan karya terbaik yang penulis miliki.
4. Segenap dosen dan staf pengajar di Prodi Aqidah dan Filsafat islam dan seluruh civitas akademika Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi yang memberikan seumbangsih besar selama masa proses belajar-mengajar, sehingga memudahkan bagi penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Seluruh teman-teman angkatan 2015 yang selalu memberikan masukan dan motivasi disela-sela berproses, berdiskusi dan bertukar ilmu. Terimakasih kepada kalian semua, semoga dapat berjumpa kembali.
hormat dan terimakasih, semoga Allah menerimanya sebagai amal shaleh. Amin
Wassalamualaikum wr.wb
Bukittinggi, 28 januari 2021 Penulis
Mike Delfia Andany 4515012
ABSTRAK ... ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah dan Rumusan Masalah a. Batasan Masalah ... 5
b. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6
D. Penjelasan Judul ... 7
E. Sistematika Penulisan ... 8
BAB II LANDASAN TEORI ... 9
A. Teologi 1. Pengertian Teologi ... 9
2. Macam-macam Teologi ... 11
B. TABUIK 1. Sejarah Tabuik ... 25
2. Nilai-nilai Yang Terdapat dalam Batabuik di Pariaman ... 26
3. Arti penting Batabuik ... 29
4. Alasan Melaksanakan Tabuik ... 31
5. Nilai-nilai Teologi yang terdapat di Acara Batabuik ... 32
b. Pendekatan Penlitian ... 39
B. Lokasi Penelitian ... 39
C. Informan Penelitian ... 40
D. Teknik Pengambila Data 1. Observasi ... 40
2. Wawancara ... 41
3. Dokumentasi ... 42
E. Teknik Analisis Data ... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN... 44
A. Teologi Batabuik Di Kurai Taji Pariaman ... 44
BAB V ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Saran ... 73
DAFTAR KEPUSTAKAAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam sendiri pada awal perkembangannya banyak dipeluk oleh orang-orang yang bukan merupakan golongan elit di masyarakat. Muhammad sebagai pembawa risalah juga berasal dari keluarga Quraisy yang walaupun cukup terpandang, tidak tergolong sebagai keluarga yang kaya dan memiliki status social yang tinggi. Pada saat itu Islam menjadi tantangan yang membahayakan para saudagar kaya Mekah, sehingga kemudian mereka menolak ajarannya.
Bukan semata-mata karena mereka menolak risalah tauhid, tetapi lebih kepada ketakutan mereka terhadap Islam yang akan membawa perubahan sosial, khususnya pada tingkatan kekuasaan, baik politik maupun ekonomi.
Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menyinggung masalah-masalah sosial, yang bersifat kolektif (umat) dan personal. Salah satu hal yang ditegaskan disana adalah konsep keimanan.1Konsep revolusi Islam yang konsisten dengan cara menafsirkan ulang ajaran Al Qur’an, sunnah Nabi.
Teologi secara istilah di ambil dari khazanah dan tradisi skolastik Kristen. Sedangkan Teologi dari segi terminologi adalah berasal dari kata theos yang artinya “Tuhan” dan logos yang diartikan sebagai “Ilmu”Maka teologi berarti “Ilmu tentang Tuhan” atau “Ilmu Ketuhanan” atau ilmu yang membicarakan tentang zat Tuhan dari segala aspeknya dan koneksitas-Nya dengan alam. Karena itu, kata teologi selalu berarti discourse atau pembicaraan tentang Tuhan. Menurut Kuntowijoyo, mereka yang berlatar belakang tradisi ilmu keislaman konvensional memahami
1 Firdawati, R. (2004). “Islam dan Teologi Pembebasan”. Yogyakarta Pustaka Pelajar.h. 2-3
wujud Tuhan (Allah) sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang tidak ada pada-Nya dan sifatsifat yang mungkin ada pada-Nya dan membicarakan tentang rasul-rasul Tuhan.2
Indonesia adalah suatu negara yang berpenduduk yang plural terdiri dari
berbagai suku, agama, adat istiadat dan budaya dapat hidup berdampingan dan memiliki ruang negosiasi yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu penduduknya di kenal religius, santun dan ramah-tamah, namun itu
semua telah dinodai oleh sejarah lembaran-lembaran hitam, noda-noda lembaran
hitam itu ialah telah menjadi konflik sosial yang bernuansa syara’ diberbagai wilayah Indonesia yang mempunyai falsafah hidup Pancasila.3
Teologi keberadaannya tentu sudah mengandaikan satu lompatan pemikiran teologis yang lebih terbuka dan moderat, dari sekadar teologi eksklusif. Patut dimaklumi, bahwa teologi selama ini, seperti sudah di-set up dalam kerangka teologi eksklusif, yang menganggap bahwa kebenaran (truth) dan keselamatan (salvation) suatu agama, menjadi monopoli agama tertentu.
Sementara pada agama lain, diberlakukan dan bahkan ditetapkan standar lain yang sama sekali berbeda: “salah dan karenanya tersesat di tengah jalan”. Hal ini sudah merusak ke wilayah state of mind, cara pandang suatu komunitas agama (religious
community) terhadap agama lain, dengan menggunakan cara pandang agamanya sendiri (teologi
eksklusif), tanpa sedikit pun menyisakan ruang toleransi untuk bersimpati, apalagi empati:
“bagaimana orang lain memandang agamanya sendiri”.4
2 A. Hanafi, Pengantar Theologi Islam, (Jakarta, Al-Husna, 1980), Hlm. 11.
3Abdul Hakim, Teologi Inklusif Nurcholish Madjid Dan Relevansinya Dengan Pluralitas Agama Di Indonesia, (Lampung ; Uin Raden Intan Lampung, 2017), Hlm. 2.
tepatnya pada bidang teologi. Tanpa menyisakan ruang toleransi untuk berempati, apalagi simpati, bagaimana orang lain memandang agamanya sendiri. Seperti sudah taken for granted kita sering kali menilai bahkan menghakimi agama orang
lain dengan memakai standar teologi agama kita sendiri. Sebaliknya, orang lain menilai bahkan menghakimi kita, dengan memakai standar teolog agamanya sendiri. Jelas ini suatu mission impossible untuk bisa saling bertemu, apalagi sekedar toleran. Hasilnya justru perbandingan
terbalik, masing-masing agama bahkan menyodorkan proposal klaim kebenaran (claim of truth) dan klaim keselamatan (claim of salvation) yang hanya ada dan berada pada agama nya sendiri- sendiri, sementara pada agama lain disalahkan, dianggap menyimpang bahkan menyesatkan.
Masing-masing pemeluk agama berada pada situasi kritikal dengan menempatkan kelompok lain sebagai representasi kekafiran.5
Dan bila dicermati secara reflektif dan kontemplatif diketahui bahwa indonesia mayoritas memeluk agama islam, terdiri dari banyak suku dan budaya, serta bahasa. Namun demikian teologi pluralisme merupaka paham yang menganggap bahwa kebenaran tidak hanya terdapat pada kelompok sendiri, melainkan juga ada dikelompok lain, termasuk dalam komunitas agama dan disatu
padukan dalam suatu kesatuan atau Bhineka Tunggal Ika serta dalam falsafah pancasila. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh maka peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses.
4Zain Abidin, Islam Inklusif: Telaah Atas Doktrin Dan Sejarah (Jakarta, Binus University, Humaniora Vol.4 No.2 Oktober 2013), Hlm. 1274.
5Catur Widiat Moko, Dalam JurnalPluralisme Agama Menurut Nurcholis Madjid (1939- 2005) Dalam Konteks Keindonesiaan,h.63
Berakar pada nilai-nilai religi untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein. Peringatan ini sejatinya berlang sung setiap tanggal 10 Muharram penanggalan Hijriyah.6
Pelaksanaan Tabuik dari tahun ke tahun mulai mengalami pergeseran. Pe nelitian Dalmenda dan Elian menyebutkan adakalanya Tabuik menjadi kebanggan masyarakat karena difungsikan untuk menyalurkan ekpresi kultural dan ritual, pada sisi lain menjadi media publikmasi dan tunggangan politik bagi kelompok tertentu, dan terburuk menjadi “kambing hitam” atas instabilitas yang terjadi dalam masyarakat hingga ketidaksepahaman antara pemerintah dengan masyarakat pemilik. Selain berada pada posisi kontras itu, Tabuik juga kadang- kadang dihadapkan pada situasi ambiguitas, yaitu berada pada kondisi antara disukai dan tidak disukai. Sebagian masyarakat Pariaman yang melestarikan budaya ini, banyak bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan mengandung unsur syirik. Sehingga wajib bagi kaum muslimin untuk memperbaikinya.7
Berdasarkan wawancara dengan Ketua Organisasi Batabuik daerah Kurai Taji Kota Pariaman tentang perkembangan tabuik dan pandangan Islam tentang hal dari Tradisi Tabuik di Pariaman dan bentuk-bentuk cara dari Tradisi Tabuik di Pariaman.
Tradisi tabuik ini merupakan bentuk memperingati kematian Husein Hasan. dan kota Pariaman ini dikenal sebagai Kota Tabuik, dan menurut pandangan dari orang lain kalau dari Tradisi Tabuik ini adalah termasuk yang syirik dan mubazir. Karena syirik nya disini orang
6 M.A. Dalmenda, Novi Elian, “Makna Tradisi Tabuik Oleh Masyarakat Kota Pariaman (Studi Deskriptif Interaksionisme Simbolik)”, Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Des Vol. 18, No. 2, 2016, h.136
7 M.A. Dalmenda, Novi Elian, “Makna Tradisi Tabuik…, h.137
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dengan judul “ Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman”.
B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah
Batasan masalah yang akan diteliti adalah: Bagaimana Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman?
2. Rumusan masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah yang akan diteliti dapat diuraikan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut :
a. Bagaimana Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman?
b. Bagaimana Hubungan Teologi dengan Batabuik di Pariaman itu?
C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan batasan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Mengetahui Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman b. Mengetahui hubungan Teologi dengan batabuik di Pariaman 2. Kegunaan penelitian
8 Abdul Muluk, warga dari Kota Pariaman, Minggu 9 Desember 2020
Dan Dakwah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.
b. Sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman
c. Untuk bahan informasi belajar bagi peneliti dan pembaca D. Penjelasan Judul
Agar tidak adanya kesalahpahaman dalam memahami judul, maka di sini penulis akan menjelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan judul, yaitu:
Teologi : Ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajiban- kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut.9
Batabuik : Merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan setiap tahunnya di Kota Pariaman. Berakar pada nilai-nilai religi untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein. Peringatan ini sejatinya berlangsung setiap tanggal 10 Muharram penanggalan Hijriyah.10
Kurai Taji Pariaman : Nagari Kurai Taji berada do kecamatan Nan Sabaris, Kabupatan Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Luas
9 Harun Nasution, “Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan”, (UI Press :Jakarta 1986),h. 81
10 Dalmenda, M. A., & Ellan, N. (2016). Makna Tradisi Tabuik oleh Masyarakat Kota Pariaman (Studi Deskriptif Interaksionisme Simbolik). Jurnal Antropologi, 18(2), 135-151. Dalmenda, M. A., & Ellan, N. (2016).
Makna Tradisi Tabuik oleh Masyarakat Kota Pariaman (Studi Deskriptif Interaksionisme Simbolik). Jurnal Antropologi, 18(2),hal. 135
kabupaten dan 48 kilometer dari ibu kota provinsi.11
E. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran dari masing-masing bab yang akan di bahas, maka dalam sistematika penulisan skripsi ini dapat dibagai menjadi lima bab, yaitu:
Bab I : Merupakan pendahuluan dan pada bab ini penulis akan mengemukakan latar belakang, rumusan dan batasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan judul dan sistematika penulisan.
Bab II : Merupakan landasan teori yang didalamnya mencakup pengertian Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman.
Bab III : Merupakan metodologi penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sample, teknik pengumpulan data dan teknik pengolahan data.
Bab IV : Merupakan deskripsi hasil penelitian yang meliputi tentang bentuk Teologi Batabuik di Kurai Taji Pariaman.
Bab V : Merupakan bab penutup yang di dalamnya kesimpulan dan saran.
11 https://langgam.id/nagari-kurai-taji-nan-sabaris-kabupaten-padang-pariaman/
9 BAB II
LANDASAN TEORI A. Teologi
1. Pengertian Teologi
Teologi, sebagaimana yang diketahui membahas mengenai ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Kata teologi sendiri diambil dari kata “Theos” yang artinya Tuhan, dan “Logos” yang artinya ilmu. Jadi, teologi adalah suatu ilmu yang membahas tentang ketuhanan.1 Demikian terjadi karena setiap orang ingin mengetahui seluk-beluk agamanya secara mendalam dan perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya, dan hal ini harus dilakukan agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh peredaran zaman. 12
Dalam istilah Arab, ajaran-ajaran dasar itu disebut Ushul al Din, oleh karena itu buku-buku yang membahas soal teologi dalam Islam selalu diberi nama Kitab Ushul al Din oleh pengarangnya. Ajaran-ajaran dasar itu juga sering disebut
sebagai ‘aqa’id, credos atau keyakinan-keyakinan. Sedangka buku-buku yang mengupas tentang keyakinan-keyakinan itu diberi judul al-aqa’id seperti Al- Aqa’id al- Nasafiyah dan Al-Aqa’id al-‘Adudiah.
Teologi dalam Islam juga disebut dengan ‘Ilm al-tauhid. Kata Tauhid mengandung arti satu atau esa dan keesaan dalam pandangan Islam, sebagai agama monoteisme, yakni sifat yang terpenting diantara segala sifat-sifat Tuhan.
Selanjutnya, jika pembahasan teologi berkenaan dengan agama Islam, maka teologi di sini disebut dengan Ilmu kalam. Sebagaimana yang diketahui, ilmu
12A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1995), 58.
kalam memiliki dua penafsiran, yakni kalam Allah atau sabda Tuhan (Al-Qur’an) dan kalam manusia. Di sebut juga kalam manusia sebab kaum teolog Islam bersilat lidah dalam mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing.
Sedangkan orang yang berteolog disebut juga mutakallim, yakni ahli debat yang pintar akan memainkan kata-kata.
Teologi banyak lapangannya, namun pengertiannya yang umum adalah ilmu yang membicarakan tentang kenyataan-kenyataan dan gejala-gejala agama dan membicarakan hubungan Tuhan dan manusia, baik dengan jalan penyelidikan maupun pemikiran murni atau dengan jalan wahyu.
Apabila kita meninjau ilmu kalam sendiri, maka kita akan mendapati lapangan yang sama dengan lapangan-lapangan teologi yang disebutkan tadi, yaitu sekitar Tuhan, adanya keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya dari segala hubungan Tuhan dengan manusia dan alam, berupa keadilan dan kebijaksanaan, takdir, pengutusan rasul-rasul sebagai penghubung dan soal-soal yang bertalian dengan kenabian. Kemudian lagi tentang kehari akhiran dan hal-hal yang bertalian dengan kekehidupanan di sana. Sehingga hal inilah yang disebut teologi. Hanya saja bila yang dibicarakan mengenai perinsip-prinsip dan ajaran-ajaran agama Islam, maka dinamakan teologi Islam (ilmu kalam).13
Dengan memperhatikan berbagai pemaparan mengenai teologi, baik dari segi istilah maupun bahasa, maka penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan teologi adalah suatu ilmu yang membicarakan mengenai persoalan-
13 A. Hanafi, Theology Islam: Ilmu Kalam (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), 6.
persoalan yang berhubungan antara Tuhan dan manusia, baik melalui jalan pemikiran murni, atau dengan jalan wahyu.
Teologi Islam merupakan ilmu yang membahas sesuatu yang fundamental dalam bangunan keislaman. Hal tersebut tidak lain karena teologi Islam sangat bersentuhan dengan aspek-aspek akidah atau pokok-pokok keimanan manusia.
Posisi dalam akidah sendiri sangat urgen dalam membentuk perilaku keberagamaan dan kehidupan setiap orang. Selain itu, teologi juga sebagai landasan pembaharuan pemahaman dan pembinaan umat Islam. Posisi strategis yang dimiliki teologi Islam inilah yang mendorong upaya aktualisasi wujud elan vital-nya dalam merespon berbagai persoalan kekinian.
Adanya kesadaran bahwa telogi Islam sebagai aspek tauhid yang menyempurnakan ruang dan waktu, karena tauhid dalam kehidupan sehari-sehari merupakan pegangan pokok yang membimbing dan mengarahkan manusia bertindak benar, dalam hubunganya dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Prakteknya tauhid juga harus tampak sebagai pencerahan, pembebasan manusia, dan keadilan bagi umat manusia.14
2. Macam-macam Teologi
Adapun macam-macam Teologi ada 2 yaitu : a. Teologi Rasional
Kata Rasional berasal dari bahasa Inggris ratio yang berarti akal atau pikiran. Ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang akar katanya dari ratio ini, misalnya rasional, rasionalisasi, rasionalisme. Kata rasional makna sifat, kata
14 Luthfi Maulana, “Teologi Pembebasan Perempuan Dalam Islam”, Teologi Pembebasan, Hak Perempuan, Islam dan maslahat.h.85
rasionalisasi mengandung arti proses dan kata rasionalisme mengandung arti paham. Dalam ilmu Kalam, kelompok yang termasuk dalam akal adalah kelompok yang bersikukuh pada pemikiran teologis, dan pemikiran ini sangat bergantung pada kekuatan akal. Mereka mengatakan bahwa akal memiliki kekuatan yang kuat untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran dan Sunnah secara lebih luas, yaitu ayat-ayat Alquran atau Sunnah tidak dapat diartikan selain sebagai makna tekstual.
Rincian teologi Rasional adalah sebagai berikut:
1) Mengakui kemampuan yang tinggi dari akal manusia untuk mengetahui sesuatu
2) Mengakui kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat
3) Mengakui bahwa Tuhan dalam mengatur al;am semesta dan makhluk-Nya ini melalui Sunag-Nya dan hukum sebab akibat yang jelas. 15
Kata akal berasal dari bahasa Arab yaitu ‘aqala yang berarti mengikat dan menahan. Pada zaman Jahiliyah, orang yang berakal (‘âqil) adalah orang-orang yang dapat menahan amarahnya dan mengendalikan hawa nafsunya, sehingga memiliki sikap dan tindakan yang bijaksana dalam menghadapi segala persoalan.
Disiplin ilmu yang membicarakan tentang tolak ukur dan karakteristik sesuatu itu dapat dikatakan masuk akal atau rasional adalah ilmu logika atau mantik.
Menurut ahli logika (mantik), tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai sesuatu itu dapat disebut rasional (masuk akal) adalah jika ia absah
15A. Athaillah, Rasyid Ridha Konsep Teologi Rasional Dalam Tafsir al-Manar, (Jakarta, Penertbit Erlangga, 2006), h. 370-371
(valid) dan benar (shahîh). Menentukan validitas bergantung kepada prosedur penyimpulan apakah sesuai dengan patokan berpikir atau tidak. Prosedur penyimpulan tersebut ada dua, yaitu induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Seperti ‘besi dipanaskan memuai, seng dipanaskan memuai, emas dipanaskan memuai, platina dipanaskan memuai, maka semua logam jika dipanaskan memuai’. Sementara deduksi adalah kegiatan berpikir dari pernyataan yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus. Seperti ‘semua logam bila dipanaskan memuai, tembaga adalah logam, maka tembaga bila dipanaskan memuai.16
Teologi Rasional itu akal kuat, manusia mempunyai kebebasan, ilmu pengetahuan diakui dan hukum alam diakui. Ini yang membawa kepada kemajuan, tetapi kalau Teologi Tradisional yang kuat berpegang pada tradisi kita tidak maju, karna terikat pada tradisitradisi dan adat istiadat dan pikiran lama.17
Adapun ciri teologi rasional adalah:
1) Akal mempunyai kedudukan yang lebih tinggi, karenanya dalam memahami wahyu, aliran ini cenderung mengambil arti majazi.
2) Manusia bebas berbuat dan berkehendak. Karena akal kuat, manusia mampu berdiri sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan dan kehendak serta mampu berpikir secara mendalam
16Salamuddin, TEOLOGI RASIONAL PADA PESANTREN TRADISIONAL: Telaah Konsep Teologi pada Buku Daras Teologi di Pesantren Musthafawiyah,h.50
17M. Baharudin, “ Paham Teologi Rasional Mu'tazilah Di Indonesia”, Al- AdYaN/Vol.V, N0.1/Januari-Juni/2010,h. 102
3) Keadilan Tuhan, menurut paham ini, terletak pada adanya hukum alam (sunatullah) yang mengatur perjalanan alam ini. 18
Bagi Teologi Rasional dalam hal ini Mu'tazilah berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan dan baik-buruk dapat diperoleh dengan daya akal.
Karena itu, berterima kasih kepada tuhan sebelum turunnya wahyu adalah wajib.
Di samping itu, karena akal juga dapat mengetahui soal baik baik dan buruk, maka setiap orang wajib mengerjakan yang baik seperti sikap jujur, berbuat adil dan meninggalkan yang buruk semisal berdusta dan berbuta zalim.19
Menurut Harun Nasution, yang tergolong teologi rasional adalah aliran Muktazilah dengan karakteristik sebagai berikut :
1) penghargaan yang tinggi terhadap akal
2) manusia memiliki kebebasan dalam kehendak dan perbuatan 3) kebebasan berpikir hanya pada ajaran-ajaran dasar dalam al-Qur’an
dan hadis, yang jumlahnya sangat sedikit
4) percaya pada adanya sunnah Allah dan kausalitas 5) mengambil arti metaforis atas teks wahyu20
Tokoh aliran Mu’tazilah ini adalah Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ary dan Imam Abu MansurAl-Maturidy. Aliran ini pada dasarnya aturan esensial berfikir ini terdiri dari tiga komponen. Pertama adalah pengakuan bahwa masing-masing
18 Abd.Rahman, “Tradisiobalisme dan rasionalisme dalam pemikian Teologi islam,”
JPIK Vol.2. No.2, September 2019,h.511
19 Abd.Rahman, “Tradisiobalisme dan rasionalisme,…h.521
20 Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1996), h. 116
lapisan realitas memiliki logika berfikir yang sesuai dengan kodrat sendiri. Kedua adalah pengakuan bahwa kebenaran dari lapisan lain dapat diterima melalui keyakinan atas dasar otoritas aturan berfikir dan unsur ketiga adalah pengakuan bahwa lapisan realitas tersebut merupakan kesatuan dasar Tuhan yang diterima dalam Islam. Jadi aliran ini tidak menetapkan hukum kafir bagi pelaku dosa besar.
Kaum Mu‟tazilah mempunyai lima doktrin pokok yang popular yaitu:
1. Al-Tauhid, yaitu mengesakan Tuhan.
2. Al’Adlu, yaitu keadilan Tuhan
3. Al-Wa’d wa al-Wa’id, yaitu janji dan ancaman.
4. Al-Manzilah bain al-Manzilatain, yaitu tempat di antara dua tempat.
5. Al-Amr bi al-ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-munkar., yaitu perintah melaksanakan perbuatan baik dan larangan perbuatan munkar.
Demikianlah, perselisihan ini menjadi perselisihan keagamaan setelah pada mulanya merupakan perselisihan politik sehingga menjadi salah satu pembahasan ilmu tauhid yang penting, sebagaimana masalah jabatan Khalifah juga menjadi bidang kajian ilmu ini, meskipun lebih tepat untuk di bab ilmu Fiqih karena menyangkut hukum amaliah bukan masalah keyakinan.
Hal ini dikarenakan masalah pemimpin pemerintahan pada garis besarnya merupakan kemaslahatan yang berkaitan dengan orang yang pantas untuk mengatur urusan-urusan kaum Muslimin, bukan masalah kepercayaan yang berkaitan dengan salah satu dasar agama. Tetapi berhubungan dengan sebagian kelompok mengajukan beberapa pendapat yang hampir-hampir membawa kepada penolakan terhadap banyak kaidah Islam, maka para tokoh ilmu tauhid menjadi
masalah jabatan khalifah itu sebagai salah satu bidang kajian mereka, untuk dibahas secara objektif, jauh dari fanatisme dan hawa nafsu, dengan tujuan untuk memperoleh kebenaran tentang masalah tersebut, demi menjaga akidah-akidah agama yang benar karena banyaknya masalah-masalah lain yang masuk di dalam ilmu tauhid.21
Peta konsep Teologi Rasional
MT = Mengetahui Tuhan
KMT = Kewajiban Mengetahui Tuhan MBJ = Mengetahui Baik dan Jahat
KMBJ = Kewajiban Mengerjakan Baik dan Menjauhi Jahat
21Sabli, M. (2015). Aliran-aliran Teologi dalam Islam (Perang Shifn dan Implikasinya Bagi Kemunculan Kelompok Khawarij dan Murjiah). Nur El-Islam, 2(1), 105-112.
b. Teologi Tradisional
Teologi tradsional, merupakan salah satu paham ke Islaman yang telah membudaya atau hal ini sudah menjadi kebiasaan dan melekat pada sebuah kelompok tertentu yang menganggap bahwa paham yang dianutnya merupakan paham yang paling benar diantara paham-paham yang lainnya. Berbicara mengenai Teologi tradisional, dalam konteks Teologi berarti mengambil sikap terikat, tidak hanya kepada dogma yang jelas dan tegas di dalam Al-Qur’an dan hadits, tetap juga pada ayat-ayat yang mempunyai Zhanni, yaitu ayat-ayat yang mempunyai arti harfiah dan teks-teks ayat Al-Qur’an dan kurang menggunakan logika. Adapun rincian Teologi Tradisional sebagai berikut :
1) Mengakui kelemahan akal untuk mengetahui sesuatu.
2) Mengakui ketidakbebasan dan ketidakberdayaan manusia dalam berkehendak dan berbuat.
3) Mengakui ketidak pastian sunatullah dan hukum kausalitas sebab semua yang terjadi di alam semesta ini adalah menurut kehendak muthlak ;
Allah yang tidak diketahui oleh manusia.22
Menurut Harun Nasution, Teologi tradisional memiliki bebrapa ciri : 1) Kedudukan akal yang rendah
2) Ketidak bebasan manusia dalam kemauan dan perbuatannya 3) Kebebasan berpikir yang diikat dengan banyak dogma 4) Ketidak percayaan kepada sunnatullah dan kausalitas
22A. Athaillah, Rasyid Ridha Konsep,…..h. 370-371
5) Terikat kepada arti tekstual dari Al-Qur'an dan Hadis 6) Statis dalam sikap dan berpikir23
Teologi tradisional, merupakan salah satu corak paham keislaman yang telah membudaya atau hal ini sudah menjadi kebiasaan dan melekat pada sebuah kelompok tertentu yang menganggap bahwa paham yang dianutnya merupakan paham yang paling benar diantara paham-paham yang lainnya. Berbicara mengenai teologi tradisional, dalam konteks teologi berarti mengambil sikap terikat, tidak hanya kepada dogma yang jelas dan tegas di dalam Alquran dan Hadist, tetap juga pada ayat-ayat yang mempunyai zhanni, yaitu ayat-ayat yang mempunyai arti harfiah dari teksteks ayat Alquran dan kurang menggunakan logika.24
Paham tradisional ini merupakan paham yang paling populer dan banyak dianut oleh masyarakat Indonesia, seperti mazhab Syafi„i yang sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi. Paham keislaman ini sering dikonfrontasikan dengan teologi modernis, yang menklaim teologi tradisional sebagai penghambat kemajuan dan membawa kemunduran umat Islam. Berbagai pemikiran yang dilakukan kaum modernis untuk membawa umat Islam kepada kemajuan, salah satunya yaitu mengajak untuk meninggalkan sikap atau paham tradisionalnya.25
Karekteristik teologi tradisional di atas, dapat disederhakana bahwa wahyu selalu dianggap sebagai patokan dasar dan sumber kebenaran par excellence,
23 Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1996), h. 116
24 Henna,Marlina, “Pemikiran Islam Rasional dan Studi Tradisional di Indonesia”,(2018,Tangerang selatan:pustaka pedia),h.27
25 Henna,Marlina, “Pemikiran Islam Rasional,..h.28
sedangkan akal adalah sumber yang membuka kemungkinan bagi pemberontakan atas wahyu, oleh karena itu harus dikendalikan.26
Teologi tradisional berpendapat bahwa akal manusia tidak memiliki kemampuan apa-apa kecuali mengetahuan Tuhan an-sich. Sedangkan tiga hal lainnya hanya dapat diketahui melalui informasi wahyu. Karena itu, masalah nilai baik atau buruk dari suatu tindakan tak dapat ditetapkan oleh akal melainkan mesti dengan pemberitahuan wahyu. Berdusta, misalnya merupakan perbuatan buruk karena wahyu menyatakannya demikian. Andai saja wahyu menetapkan bahwa berdusta itu adalah baik, maka pastilah berdusta merupakan pekerjaan yang baik dan jika sekiranya Tuhan mewajibkan hamba-Nya untuk berdusta, maka tidak ada alasan apa-pun bagi manusia untuk menolak melakukannya. Dengan kata lain, nilai baik dan buruk itu tergantung sepenuhnya pada perintah dan larangan dari Tuhan, dalam hal ini wahyu.27
Didalam Teologi tradisional ada membahas aliran Asya’riyah . Adapun pokok-pokok ajaran al-Asy‟ary adalah sebagai berikut:
1. Zat dan sifat-sifat Tuhan
Menurut al-Asy‟ari, Allah mempunyai ilmu karena alam yang diciptakan demikian teratur, alam tidak aka nada kecuali diciptakan oleh Allah yang memiliki ilmu.
Allah mengetahui dengan zat-Nya, maka zat-Nya itu merupakan pengetahuan. Dan mustahil al-‘ilm (pengetahuan) merupaka ‘Alim (Yang Mengetahui), atau al’Alim (Yang Mengetahui) merupakan al-‘ilm
26 Abd.Rahman, “Tradisiobalisme dan rasionalisme,…h.511
27 Abd.Rahman, “Tradisiobalisme dan rasionalisme,…h.516
(pengetahuan) atau zat Allah diartikan sebagai sifat-sifatnya. Oleh karena mustahil Allah mengetahui dengan zat-Nya sendiri, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Allah sendiri adalah pengeathuan. Allah bukan pengetehuan („ilm) tetapi yang Mengetahui („Alim) . Dengan demikian menurut al-Asy28ari, Allah mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuanNya bukanlah zat-Nya.
Kaum Asy‟ariyah juga meyakini akan sifat-sifat Allah yang bersifat khabariyah, seperti Allah punya wajah, tangan, kaki, betis dan seterusnya.
Dalam hal ini al-Asya‟ariyah mengartikannya secara sombolis serta tidak melakukan takyif (menanyakan bagaimana rupa wajah, tangan dan kaki Allah), ta'til (menolak bahwa Allah punya wajah, tangan dan kaki ), tams\il (menyerupakan wajah, tangan dan kaki Allah dengan sesuatu) serta tahrif (menyimpangkan makna wajah, tangan dan kaki Allah dengan makna lainnya).
2. Kebebasan dalam berkehendak
Pada dasarnya al-Asy'ari, menggambarkan manusia sebagai seorang yang lemah, tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak.53 Karena manusia dipandang lemah, maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan.
28 Henna,Marlina, “Pemikiran Islam Rasional,..h.40
Jadi dalam paham al-Asy'ari, perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. Dan tidak ada pembuat (agen) bagi kasb kecuali Allah.
Dengan perkataan lain, yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut al-Asy'ari, sebenarnya adalah Tuhan sendiri.
Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah, dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Tidak satupun di alam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki sesuatu, ia pasti ada, dan jika Allah tidak menghendakinya niscaya ia tiada.
3. Akal dan wahyu
Pada dasarnya golongan Asy‟ary dan Mu‟tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu. Namun mereka berbeda pendapat dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al- Asy‟ari mengutamakan wahyu sementara Mu‟tazilah mengutamakan akal.
Mu‟tazilah memandang bahwa mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui baik dan buruk, kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah dapat diketahui lewat akal tanpa membutuhkan wahyu.
Sementara dalam pandangan al-Asya‟ariyah semua kewajiban agama manusia hanya dapat diketahui melalui informasi wahyu. Akal menurut alAsya‟ariyah tidak mampu menjadikan sesuatu menjadi wajib dan tak dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah
wajib bagi manusia. Wajib mengenal Allah ditetapkan melalui wahyu hanyalah sebagai alat untuk mengenal, sedangkan yang mewajibkan mengenal Allah ditetapkan melalui wahyu. Bahkan dengan wahyu pulalah untuk dapat mengetahui ganjaran kebaikan dari Tuhan bagi yang berbuat ketaatan, serta ganjaran keburukan bagi yang tidak melakukan ketaatan.29
4. Qadimnya kalam Allah (al-Qur’an)
Pemikiran kalam al-Asy‟ari tentang Kalam Allah (al-Qur‟an) ini dibedakannya menjadi dua, Kalam Nafsi yakni firman Allah yang bersifat abstrak tidak berbentuk yang ada pada Zat (Diri) Tuhan, Ia bersifat Qadim dan Azali serta tidak berubah oleh adanya perubahan ruang, waktu dan tempat.
Maka al-Qur‟an sebagai kalam Tuhan dalam artian ini bukanlah makhluk.
Sedangkan kalam Lafzi adalah kalam Allah yang diturunkan kepada para Rasul yang dalam bentuk huruf atau kata-kata yang dapat ditulis, dibaca atau disuarakan oleh makhluk-Nya, yakni berupa al-Qur‟an yang dapat dibaca sehari-hari. Maka kalam dalam artian ini bersifat hadis (baru) dan termasuk makhluk.
5. Melihat Allah
Al-Asy‟ari berpendapat bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak digambarkan. Karena boleh saja itu terjadi bila Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat sesuai kehendaknya.
29 Henna,Marlina, “Pemikiran Islam Rasional,..h. 41
6. Keadilan
Keadilan dalam pandangan al-Asy‟ariyah sebagaimana dikutip alSyahrastani, adalah menempatkan ssuatu pada tempat yang sebenarnya.
Oleh karena alam dan segala yang ada di dalamnya adalah milik Allah, maka Dia dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya meskipun dalam pandangan manusia tidak adil. Dengan demikian, jika Allah menambah beban yang telah ada pada manusia, atau menguranginya, dalam pandangan alAsya‟ariyah, Allah tetap adil. Bahkan Dia tetap adil walaupun memasukkan semua orang ke dalam surga atau nerakanya, baik yang jahat maupun yang taat dan banyak amalnya. Dan hal ini tidak memberi kesan bahwa Allah berlaku zalim pada hamba-Nya, karena yang dinamakan zalim ialah mempergunakan sesuatu yang bukan haknya atau meletakkkan sesuatu bukan pada tempatnya.
7. Kedudukan orang yang berbuat dosa
Al-Asy‟ari mengatakan bahwa orang mukmin yang mengesakan Tuhan tetapi fasik, terserah kepada Tuhan, apakah akan diampuni-Nya dan langsung masuk syurga atau akan dijatuhi siksa karena kefasikannya, tetapi dimasukkan-Nya kedalam surga. Dalam hal ini, al-Asy‟ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasiq, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur. Berdasarkan pokok-pokok ajaran Asy‟ariyah, maka ciri-ciri orang yang menganut aliran Asy‟ariyah adalah sebagai berikut:
a. Mereka berpikir sesuai dengan Undang-undang alam dan mereka juga mempelajari ajaran itu.
b. Iman adalah membenarkan dengan hati, amal perbuatan adalah kewajiban untuk berbaut baik dan terbaik bagi manusia. dan mereka tidak mengkafirkan orang yang berdosa besar.
c. Kehadiran Tuhan dalam konsep Asy‟ariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya.30
Peta konsep Teologi Tradisional
MT = Mengetahui Tuhan
KMT = Kewajiban Mengetahui Tuhan MBJ = Mengetahui Baik dan Jahat
KMBJ = Kewajiban Mengerjakan Baik dan Menjauhi Jahat
30 Henna,Marlina, “Pemikiran Islam Rasional”,..,h52
B. BATABUIK 1. Sejarah Batabuik
Batabuik , adalah suatu warisan budaya berbentuk ritual upacara yang
berkembang di Pariaman sejak sekitar dua abad yang lalu. Tabuik merupakan upacara atau perayaan mengenang kematian Husain, tetapi kemudian berkembang menjadi pertunjukan budaya khas Pariaman setelah masuknya unsur-unsur budaya Minangkabau.31
Bagi masyarakat Pariaman upacara ini tidak menjadi akidah (kepercayaan yang menyangkut dengan ketuhanan atau yang dipuja), pelaksanaanya hanya semata-mata merupakan upacara memperingati kematian Husain. Bahkan, Tabuik sudah dijadikan sebagai peristiwa budaya dan pesta budaya Anak Nagari Piaman (Pariaman).
Masyarakat Pariaman adalah penganut Islam Sunni. Bagi penganut Sunni, mencintai keluarga Rasulullah bukan saja menjadi hak para penganut Syi’ah, tetapi juga berlaku bagi semua umat Islam, tanpa kecuali, hanya saja cara untuk melakukannya tidak sama. Dengan demikian, masyarakat Pariaman tidak mempermasalahkan mengenai asal muasal Tabuik Piaman dari kalangan Islam Syi’ah. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana Tabuik dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya.
Tradisi ritual ini sudah diwarisi secara turun menurun oleh masyarakat Pariaman sejak sekitar dua abad yang lalu. Perayaan atau pesta Tabuik dilakukan
31 Haidarkhotir.blogspot.com
secara meriah dan kolosal yang melibatkan ratusan bahkan ribuan orang.
Kemegahan upacara ini seperti menghipnotis dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung untuk menyaksikannya. Para pengunjung datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat dan luar Sumatera Barat, dan tentu saja tidak ketinggalan pula masyarakat Pariaman di perantauan. Dalam setiap pelaksanaan pesta budaya Tabuik selalu dikunjungi oleh puluhan hingga ratusan ribu orang.
2. Nilai-nilai Yang Terdapat dalam Batabuik di Pariaman
Ritual "Batabuik" di Pariaman masih diadakan seperti sedia kala.
Pelaksanaan ritual masih mempertahankan nilai-nilai luhur yang ada dengan apresiasi dan emosi yang mendalam. Pengaruh modernisasi, pembangunan dan masuknya unsur budaya asing tampaknya tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan baik dalam bentuk, isi dan fungsi. Nilai-nilai budaya dalam ritual
"Batabuik" masih ada dalam masyarakat lokal meskipun telah mengalami perubahan akibat kemajuan teknologi. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman bagi mereka dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Ada beberapa nilai-nilai yang terdapat dalam Batabuik di Pariaman:
a. Nilai Moral
Masyarakat yang mendukungnya masih mempertahankan nilai-nilai tersebut, dimana ketika mereka mulai atau menyelesaikan suatu kegiatan, biasanya diikuti dengan berdoa atau membaca mantra.
b. Nilai Sosial
Ini berarti aturan, norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari seseorang pastilah membutuhkan orang lain.
c. Nilai Seni
Nilai-nilai seni yang tercermin dalam upacara Tabuik adalah musik dan lukisan.
d. Ritual
Ada beberapa aspek dalam acara ritual pada tabauik ini yaitu:
1) Waktu sakral yaitu upacara Tabuik dilaksanakan hanya pada sejak awal hingga paroh pertama bulan Muharram
2) Tempat yang disakralkan yaitu tempat pelaksanaan upacara tabuik yang terdiri dari lokasi daraga (areal mistis), kandang tabuik rumah tabuik, menebang batang pisang,dll
3) Benda-benda yang disakralkan seperti, panja atau jari, turban atau sorban dan pedang jinawi.
4) Pelaku upacara adalah masyarakar di Nagari pasar pariaman dan Nagari V Koto Air pampan.
5) Semua pelasanaan upacara tabuik di pariaman dapat dikatakan sebagai fungsi ritual bagi masyarakat pariaman.
e. Seremonial
Fungsi tabuik yang bersifat seremonial dapat dilihat pada pelaksanaan hoyak tabuik yang dilakukan oleh masyarakat PKDP di perantauan.
Tujuannya mengedepankan aspek suka cita atas kematian husan dan Husein.
f. Penguatan identitas budaya
Berbagai budaya dan etnik di Indonesia berupaya memunculkan identitas kedaerahannya melalui aspek budaya, pariwisata, ekonomi, pertanian, pertambangan pendidikan dan agama.
g. Pendidikan
Dapat dilihat dari sikap para pendukung tabuik dari sikap para pendukung tabuik dari kedua belah pihak ketika mereka melakukan upacara tabuik yang berdimensi keras seperti, menebang batang pisang, dan mengarak jari-jari yang menyajikan perkelahian antara kedua belah pihak.
Batabuik memiliki 3 makna penting bagi penduduk setempat:
a. Makna Sosial
Terjalinnya interaksi antar masyarakat selama festival "Tabuik" terutama dalam prosesi puncak "Tabuik".
b. Makna Budaya
Tabuik adalah kegiatan budaya yang menjadi tradisi turun-temurun sejak diperkenalkan.
c. Makna Ekonomi
Keberadaan festival "Tabuik" meningkatkan perekonomian penduduk setempat secara dramatis. Pengunjung yang menghadiri prosesi puncak
"Tabuik" bisa mencapai 500 ribu orang dan miliaran transaksi dilakukan.
Pada saat ini, warga Pariaman memiliki kesempatan untuk meningkatkan perekonomian mereka.32
3. Arti Penting Batabuik
Tabuik adalah tradisi budaya yang dilakukan oleh masyarakat Pariaman untuk memperingati meninggalnya cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Hasan dan Husein di Padang Karbala. Kata Tabuik atau Tabot atau Tabut merujuk pada upaya yang dilakukan oleh kaum Syiah dulu untuk mengumpulkan potongan tubuh kedua cucu Rasulullah dan memakamkannya setelah terbunuh di Padang Karbala. Prosesi Festival Tabuik di Pariaman dilakukan setiap tahun mengikuti kalender Hijriah setiap bulan Muharram mulai tanggal 1 sampai puncaknya pada tanggal 10. Pada Tanggal 10 Muharram Tabuik diarak keliling Kota dan dibuang ke laut.
Tabuik sendiri berbentuk seperti kuda, memiliki sayap namun berkepala manusia. Konon bentuk ini adalah perwujudan Buraq yang dipercaya membawa tubuh Husein ke langit. Tabuik memiliki tinggi 12 meter dan pada saat pembuatannya dibuat dalam dua bagian. Bagian atas menyimbolkan beranda berbentuk menara yang dihias sedemikian rupa, sedangkan bagian bawah berbentuk Buraq.
32 Ekasari, R. (2012). Budaya Sumatera Barat Dan Pariwisata: Bisakah Festival “Tabuik”
Di Pariaman Menjadi Daya Tarik Wisata Internasional?. Sumber, 640, 263.
Festival Tabuik sendiri memiliki sejarah panjang di Pariaman. Mengenai masuknya Tabuik sendiri ada beberapa versi. Selain itu keterkaitan Tabuik dengan Syiah sampai saat ini juga menjadi kontroversi di tengah masyarakat. Dulunya Tabuik merupakan acara rakyat masyarakat Pariaman. Baru kemudian pada tahun 1970- an, Tabuik diangkat menjadi Festival Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman saat itu agar bisa mendatangkan wisatawan ke Pariaman. Saat ini Tabuik di Pariaman telah menjadi Festival Budaya yang banyak menarik wisatawan, tidak hanya lokal tapi juga mancanegara.
Upacara Tabuik mewakili cerminan sikap dan pola hidup masyarakat Pariaman. Bahkan Tabuik dijadikan sebuah tradisi bagi masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warga Pariaman. Kemudian, Tabuik dilaksanakan oleh Anak Nagari dalam bentuk Tabuik Budaya
Eksistensi Tabuik di tengah-tengah masyarakat telah terkontaminasi dan terganggu oleh desakan daerah, pariwisata, dan otoriter pemerintahan. Pesta budya Tabuik adalah salah satu target utama pariwisata Indonesia yang ditawarkan Propinsi Sumatera Barat. Seiring perkembangan zaman, upacara Tabuik ini pelaksanaannya tidak lepas dari event pariwisata yang dijadikan sebuah atraksi kebudayaan.
Upacara Tabuik ini merupakan suatu simbol bentuk ekspresi rasa duka mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi
Muhammad SAW yang tewas secara tidak wajar pada peperangan di Pada Karbala.33
4. Alasan Melaksanakan Tabuik
Alasan batabuik disini yaitu mengenang perjuangan yang telah dilakukan oleh Husein dalam membela agama dan sebagai upacara yang sakral dan mengandung nilai agama yang tinggi, bagi para pelaku tabuik mempersiapkan acara tabuik sebagaimana merayakan hari besar agama juga menyangkut kepercayaan mengenai masalah kehidupan dan kematian serta peristiwa alam dan makhluknya atau konsep tradisi itu berkaitan dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan pola serta cara berfikir masyarakat.
Tradisi ritual batabuik sudah diwarisi secara turun menurun oleh masyarakat Pariaman sejak sekitar dua abad yang lalu. Perayaan atau pesta Tabuik dilakukan secara meriah dan kolosal yang melibatkan ratusan bahkan ribuan orang.
Kemegahan upacara ini seperti menghipnotis dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung untuk menyaksikannya. Para pengunjung datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat dan luar Sumatera Barat, dan tentu saja tidak ketinggalan pula masyarakat Pariaman di perantauan. Dalam setiap pelaksanaan pesta budaya Tabuik selalu dikunjungi oleh puluhan hingga ratusan ribu orang.
Untuk mengetahui perubahan tradisi tabuik dan yang telah mengalami perubahan akibat perkembangan zaman. 34
33 Dalmenda, M. A., & Ellan, N. (2016). Makna Tradisi Tabuik oleh Masyarakat Kota Pariaman (Studi Deskriptif Interaksionisme Simbolik). Jurnal Antropologi, 18(2), 135-151.
34Bahri, S., & Gibran, M. K. (2015). Tradisi Tabuik di Kota Pariaman (Doctoral dissertation, Riau University).
5. Nilai-nilai Teologi yang terdapat di Acara Batabuik
Unsur-unsur utama tabuik, seperti; bungo salapan, tonggak atam, tonggak serak, jantuang-jantuang, pasu-pasu, dan ula gerang yang berjumlah delapan merupakan gambaran perpaduan antara adat dan agama, sehingga nilai-nilai adat yang terkandung dalam tabuik tidak jauh dari nilai-nilai agama. Berikut ini penjelasan dari unsur-unsur utama tabuik.
1. Bungo salapan
bungo salapan ini mengandung arti yaitu empat bungo salapan yang berada diatas melambangkan arti 4 jenis pimpinan dalam agama yaitu (imam, khatib, labai dan pegawai) kemudian empat bungo salapan yang berada di bawah melambangkan juga 4 jenis pimpinan dalam adat yaitu ( panghulu, manti, malin, dan dubalang). 35
2. Tonggak atam
Tonggak atam merupakan tiang penyangga utama dari konstruksi tabuik nagian pangkek ateh. Tonggak atam berjumlah delapan buah yang menggambarkan adat dan agama saling bersatu.36
3. Tonggak Serak
Tiang penyangga utama konstruksi tabuik bagian bangkek bawah.
Tonggak serak seperti kaki dari tabuik. Tonggak serak akan menyatu dengan tonggak atam pada saat tabuik naiak pangkek. Unsur utama
35 Bapak Masyuribo, ( Ketua Komite Seni Rupa Karya dan Kriya), wawancara pribadi, Rabu 11 November 2020 jam 15.32 WIB
36 Asril Muchtar, “Sejarah tabuik”, (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman:pariaman,2016)h.68
yang terletak pada tonggak serak adalah burak. Jumlah tonggak serak juga delapan, yang juga menggambarkan perpaduan adat dan agama.37 4. Jantuang-jantuang
Berbentuk jantuang pisang yang terbuat dari bamboo yang dilapisi dengan kertas warna-warni. Jantuang-jantuang ini berfungsi sebagai pengimbang dan penghias pada Gomaik dan biliak-biliak bagian bawah.
5. Pasu-pasu
Berbentuk seperti atap masjid. Pasu- pasu ini berjumlah dua buah yang terletak di bawah gomaik dan terletak di atas burak. Pada setiap sudut miring pasu-pasu dipasangkan bungo salapan
Adapun kaitannya dengan ajaran agama Islam nilai-nilai adat yang ada pada tabuik yaitu, aturan adat nanampek mencakup perilaku bertutur kata dalam masyarakat yang sangat dijunjung tinggi masyarakat Pariaman seperti; kato mandata, kato mandaki, kato malereang, dan kato manurun. Oleh karena itu, dalam setiap pelaksanaan pesta tabuik unsur-unsur yang terlibat dalam upacara ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai (cerdik pandai), unsur tokoh masyarakat lainnya, pemuda, urang sumando, dan anakanak sehingga diperlukan mempedomani kato nan ampek.
Kata yang empat (kato nan ampek) dimaksud pada agama dapat dikaitkan dengan beberapa hal yaitu berpedoman pada dasar hukum yang empat; Al-Quran, Hadist, Ijma’,dan Qias (wajib, sunat, mubah, dan makruh). Bahkan bisa dikaitkan
37 Asril Muchtar, “Sejarah tabuik”,….h68
dengan empat pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad S.A.W, yang disebut dengan Khulafaurrasyidin yaitu; Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Kemudian empat mazhab yaitu Hanafi, Hanbali, Syafi’i dan Maliki. Selain prinsip-prinsip diatas, adalagi prinsip yang ditekankan alam beribadah yaitu syariat, tarikat hakikat, dan makrifat.38
Hubungan Teologi dengan Batabuik disini tentang proses Ritual nya adalah :
a. Mengambil Tanah
Maambiak Tanah merupakan prosesi ritual pengambilan segumpal tanah ke sungai yang dilakukan pada tanggal 1 Muharram. Prosesi ini dilakukan bersamaan oleh Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Pengambilan dilakukan pada sungai yang berbeda. Tabuik Pasa mengambil tanah di sungai kecil di Galombang, sedangkan Tabuik Subarang mengambil tanah di sungai batang piaman di daerah Pauh. Sebelum melakukan prosesi ini kedua kelompok Tabuik terlebih dahulu membuat daraga. Daraga adalah sebuah tempat yang dilingkari dengan pagar bambu berbentuk segi empat yang memiliki luas kurang lebih 5 meter, dikelilingi kain putih. Daraga ini diibaratkan seperti makam. Prosesi maambiak tanah diiringi dengan gandang tansa Iring-iringan berjalan kaki dari daraga ke lokasi pengambilan tanah yang dimulai dengan do’a bersama. Pengambilan tanah
38 Bahri, S., & Gibran, M. K. (2015). Tradisi Tabuik di Kota Pariaman....
dilakukan oleh Tuo Tabuik dengan menggunakan kain putih, waktu pengambilan adalah sebelum shalat maghrib.39
Tanah yang diambil kemudian diletak kan di belanga dan ditutup kain putih, kemudian diletakkan dalam daraga. Pengambilan tanah menggambarkan pengambilan mayat Husein di sungai Eufrat di Karbala. Pada kenyataannya tidak semua masyarakat Pariaman yang mengikuti ritual tabuik memahami ini. Pada umumnya tidak memiliki pemaknaan terhadap prosesi ini, yang diketahui adalah bahwa prosesi ini merupakan salah satu tahapan dalam batabuik. Pada tahun ini pelaksanaan maambiak tanah dilakukan pada tanggal 1 Muharram 1437 H.
b. Menebang Batang Pisang
Manabang batang pisang merupakan prosesi memancung beberapa batang
pisang yang kemudian batang pisang tersebut diletakkan dalam daraga.
Pelaksanaan prosesi ini dilakukan bersamaan oleh kelompok Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Biasanya prosesi ini diakhiri perseteruan (bacakak/berkelahi)
antar kedua kelompok Tabuik, perseteruan terjadi ketika kedua kelompok ini berselisih jalan dan masing-masing masih diiringi gandang tansa. Lokasi penebangan batang pisang ini juga berbeda antar kedua kelompok Tabuik, pelaksanaan dilakukan sebelum shalat maghrib. Batang pisang harus putus dalam satu kali tebasan. penebangan batang pisang diibaratkan presentasi simbolik tentara Yazid yang merampas harta keluarga Husain. Pada pelaksanaannya
39M.A. Dalmenda1, Novi Elian, “Makna Tradisi Tabuik Oleh Masyarakat Kota Pariama”,JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2016 Vol. 18 (2): 135- 151,h. 145
perseteruan antar kedua kelompok Tabuik inilah yang dinanti oleh anak tabuik.
Menurut informan ini merupakan representasi simbolik perang Karbala.
Perselisihan tersebut kemudian akan berakhir disana, tidak berlanjut ke hari hari berikutnya karena hanya merupakan simbol. Prosesi ini dilakukan pada tanggal 5 Muharram.
c. Maatam/ Menatapi
Maatam adalah prosesi yang menggambarkan kesedihan atas penderitaan
yang dialami Husain pada saat perang Karbala. Prosesi dilakukan pada tanggal 7 Muharram setelah shalat dzuhur oleh keturunan Rumah Tabuik yang perempuan.
Berdasarkan penuturan informan, maatam ini memiliki makna meratapi kepergian orang yang telah meninggal. Pada prosesi maatam, keturunan Rumah Tabuik yang melakukan prosesi ini memiliki pantangan selama prosesi Tabuik, apabila dilanggar maka akan ada kejadian-kejadian yang tidak diharap kan terjadi pada Rumah Tabuik dan keturunannya.
d. Mengarak jari-jari
Maarak jari-jari dilakukan pada hari yang saman dengan maatam yakni tanggal 7 Muharram sebagai kelanjutan acara maatam. Pada tahun 2016 ini maarak jari-jari diselenggarakan sete lah sholat maghrib. Maatam dapat diartikan
sebagai kegiatan arak-rakan yang dilakukan oleh kelompok Tabuik Prosesi dilakukan oleh kedua kelompok Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang dengan mengambil lokasi di daerah sendiri dan daerah kelompok Tabuik lainnya.
Kegiatan arak-arakan dilaku kan dengan membawa panja, yakni sebuah kubah yang terbuat dari kertas kaca dan bambu serta diberikan lilin, kertas tersebut
berisikan gambar tangan dengan jari-jari yang putus. Penuturan informan mengungkapkan maarak jari-jari ini melambangkan jarijari Husain yang dipotong oleh musuh. Kegiatan Maarak jari-jari ini diiringi dengan tansa.
e. Mengarak Sorban
Ritual Maarak saroban atau mengarak sorban (turban) berlangsung tanggal 9 Muharram. Ritual dilaksanakan pada malam hari tepatnya setelah shalat maghrib. Kegiatan arak-arakan juga diiringi oleh musik gandang tansa, tidak jarang pada saat arak-arakan terjadi perselisihan antara kelopok Tabuik Pasa dangan Tabuik Subarang. Ritual ini memiliki makna mendorong semangat membela kebenaran, pesan yang disampaikan adalah agar menggunakan logika rasional dalam bertindak.
f. Tabuik Naik Pangkat
Tabuik naiak pangkek adalah prosesi penggabungan pangkek bawah
(tabuik bagian bawah) dengan pangkek ateh (tabuik bagian ateh). Idealnya sesuai dengan nilai-nilai sakral prosesi tabuik itu sendiri ritual ini berlangsung pada tanggal 10 Muhharam, namun pada penelitian ini Tabuik Naiak Pangkek berlangsung pada tanggal 16 Muharram. Berdasarkan tersebut, dapat dikatakan telah terjadi desakralisasi nilai tabuik. Hal ini dikarenakan tanggal 16 Muharram bertepatan dengan hari Minggu sehingga diprediksi akan banyak wisatawan yang datang dibanding jika dilaksanakan pada hari kerja/sekolah (Senin-Sabtu).
Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah dengan belanja wisatawan pada saat acara tabuik berlangsung. Setelah tabuik naiak pangkek maka
selanjutnya adalah mengarak tabuik-tabuik tersebut. Tabuik tersebut ada dua kelompok,yaitu tabuik berkepala wanita dan tabuik berkepala pria.40
40 M.A. Dalmenda1, Novi Elian, “Makna Tradisi Tabuik,…h. 148
39 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian lapangan dengan metode deskriptif kualitatif.41 Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang berprinsip tentang pengelaborasian dan pengolahan gejala yang terjadi atau menemukan unsur-unsur atau pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku. Disinilah kedalaman dan keluasan serta holistik penelitian aspek ruang lingkup dan fokus penelitian harus dijaga.42
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan interdispliner adalah pendekatan yang cocok digunakan mengingat penelitian lintas disiplin ilmu diantaranya filasafat, sosial, keagamaan.
Supaya tidak tidak terkesan mencampur adukkan metode ilmu yang telah baku, prinsip pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah landasan filosofis sosioligis.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini di laksanakan di Kurai Taji Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Adapun alasan penulis memilih lokasi penelitian di Kota Pariaman ialah karena penulis menemukan suatu permasalahan yang perlu penulis teliti dan pecahkan.
41Nola Emelia Sari, Skripsi “Pelaksanaan Layanan Di Pengadilan Agama Lubuk Basung”, (Bukittinggi: 2017), h. 46
42Syafwan Rozi, Metodologi Penelitian Agama, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat IAIN Bukittinggi, 2017, h. 33
C. Informan Penelitian
Informan dipilih secara purpose (dengan memiliki criteria) dan key person.
Key person digunakan apabila peneliti sudah memahami informasi awal tentang
objek penelitian maupun informan penelitian, sehingga membutuhkan key person untuk melakukan wawancara mendalam. key person untuk melakukan wawancara mendalam. key person ini adalah tokoh masyarakat, tokoh agama yaitu:
1. Informan kunci yaitu Ketua Organisasi Batabuik di daerah Kurai Taji Kota Pariaman yang memberikan informasi tentang makna tradisi Tabuik dan serta memberitahukan informan kunci yang akn membantu peneliti dalam mendapatkan informasi yang mendalam
2. Informan pendukung yaitu Anggota Organisasi Batabuik dan Tokoh masyarakat di daerah kurai Taji kota Pariaman yang mengetahui informasi yang akan menjadi permasalahan dalam penelitian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian yang dilakukan adalah penelitian lapangan, yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan untuk mengamati dan mengumpulkan data yang dapat menunjang serta berkaitan dengan masalag yang penulis teliti. Untuk memperoleh data-data lapangan ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. metode observasi menurut Mardalis, adalah
hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya suatu rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan gejalagejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat. Data yang telah dikumpulkan diolah dan dianalisis secara deskriptif-kualitatif, yaitu menyajikan data secara rinci serta melakukan interpretasi teoritis sehingga dapat diperoleh gambaran akan suatu penjelasan dan kesimpulan yang memadai.43
Observasi juga bersumber dari catatan peristiwa. Berguna untuk mencek keraguan validitas data untuk situasi yang rumit dan prilaku yang kompleks. Pada saat-saat tertentu jika metode lain tidak memungkinkan maka observasi lebih memungkinkan untuk dilakukan.44
2. Wawancara
Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang berbentuk pertanyaan secara lisan. Melalui wawancara penulis akan dapat mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginteroretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, yang mana hal ini tidak bisa ditemukan hanya dengan observasi saja.45
Wawancara berbeda dengan interview yaitu metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab terstruktur dengan sistematis walaupun pada kesempatan tertentu wawancara terstruktur juga mirip dengan interview. Adapun jenis wawancara, yaitunya:
43M. Muhsim, digilib.unisby.ac.id/8350/3/BAB%20LL.PDF, Bab III Metodologi Penelitian, h. 69
44 Syafwan Rozi, Metodologi Penelitian Agama..., h. 71
45 Nola Emelia Sari, Skripsi “Pelaksanaan Layanan..., h. 47
Pertama, wawancara terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan dengan
terlebih dahulu membuat daftar pertanyaan yang kadangkala disertai jawaban alternatif. Betujuan untuk mengumpulkan data dengan lebih terarah kepada tujuan penelitian.
Kedua, wawancara tidak berstruktur yaitu wawancara yang dilakukan
dengan tidak menyusun daftar pertanyaan lebih dahulu tetapi merencanakan aspek yang akan ditanyakan supaya lebih mengarah. Dalam hal ini pewawancara bebas mengajukan pertanyaan dan mengorek informasi sepuasnya dari sumber informasi.46
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang bersumber dari data-data dokumentasi yang dapat berupa foto-fotomaupun tulisan yang dapat menxsdukung penelitian.
E. Teknik Analisis Data
1. Reduksi data, yaitu merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah penulis untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.47
46 Syafwan Rozi, Metodologi Penelitian Agama..., h. 76-77
47Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, dan R & D, (Bandung: Alfabfaba) , h. 341
2. Editing, yaitu meneliti data atau catatan-catatan untuk dipersiapkan sebelum dituangkan kedalam laporan penelitian kedalam bahasa yang baik.48
48 Nola Emelia Sari, Skripsi “Pelaksanaan Layanan..., h. 48
44 BAB IV
HASIL PENELITIAN
Pada bab ini penulis akan menjelaskan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dengan kurun waktu yang cukup lama untuk menemukan hasil yang diusahakan objektif serta mengacu kepada realita yang sebenarnya, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif perihal Teologi Batabuik di Kurai Taji Kota pariaman agar mendapatkan hasil dan data-data dalam penelitian tersebut maka penulis melakukan metode wawancara dan observasi langsung dengan Masyarakat Kurai Taji Kota Pariaman dan Ketua Pengurus Tabuik. Agar lebih jelasnya penulis akan menguraikan penelitian sebagai berikut.
A. TEOLOGI BATABUIK DI KURAI TAJI PARIAMAN
Perayaan atau pesta Budaya Tabuik secara umum sudah diketahui oleh masyarakat di Sumatera Barat, khususnya masyarakat Pariaman. Akan tetapi, pengetahuan tentang Tabuik lebih banyak mereka peroleh melalui cerita dari mulut ke mulut dan pengalaman orang orang yang telah menyaksikan perayaan Tabuik yang kadang-kadang masih terpotong-potong di sana-sini.
Dalam hal ini Pemerintah Kota Pariaman melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman berperan dalam memuat berbagai informasi tentang mengenai sejarah tabuik, pengertian Tabuik, dan fungsinya bagi masyarakat Pariaman. Pemahaman masyarakat yang selama ini mungkiin masih ada yang simpang siur tentang apa itu Tabuik, dan khususnya bagi wisatawan yang belum memiliki pengetahuan mengenai Tabuik.