3 8. Pengulangan Gerak A
3. Nilai Patriotisme yang Tertanam pada Peserta Didik
Penelitian ini mengambil subjek siswa kelas 8 di MTS Sunan Ampel. Pemilihan subjek kelas 8 merupakan hasil observasi peneliti dengan berkonsultasi dengan guru mata pelajaran seni budaya, Ibu Nurin, pada hari minggu 31 Januari 2016, dan juga dengan wali kelas 8, Ibu Umul, pada hari kamis tanggal 28 Januari 2016. Beberapa pertimbangan pemilihan subjek adalah kelas ini adalah kelas yang aktif, kelas 9 tidak dapat digunakan sebagai subjek karena sedang mempersiapkan ujian akhir nasional. Kelas 8 dianggap merupakan kelas yang aktif berinteraksi, menurut beberapa guru, keaktifan siswa seringkali tidak pada tempatnya. Misalnya, membuat kegaduhan ketika mata pelajaran berlangsung. Namun, hal ini lah yang menjadi kelas ini sangat menarik. Para siswa di usia remaja 13-15 tahun sebenarnya ingin dihargai dan didengarkan pendapat mereka.
Ketika peneliti berada di lapangan selama 1 bulan, peneliti sering melakukan diskusi dari hati ke hati dengan siswa, siswa menceritakan bahwa mereka sering dibandingkan dengan kelas lainnya. Namun, para siswa memberontak dengan cara menganggap masa bodoh atau angin lalu saja. Hal inilah yang perlu dipahami oleh para guru dan orang dewasa di sekitar mereka bahwa usia mereka yang sedang menginjak masa pubertas atau remaja memiliki penanganan yang berbeda
dengan anak-anak di usia sekolah dasar. Menurut Desmita (2012, hlm. 36) psikologi perkembangan peserta didik pada usia remaja sangat fluktuatif. Mereka memiliki kecenderungan ambivelansi yang tinggi, antara keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan orang tua. Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa dan mulai mengembangkan standar dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang sesuai dengan dunia sosial.
Hal ini lah yang terjadi selama proses berlangsung. Para siswa cenderung melakukan hal-hal yang telah tertulis dalam pendapat para ahli tentang psikologi perkembangan peserta didik usia remaja. Maka diperlukanlah kepercayaan para dewasa kepada mereka bahwa mereka dapat melakukan segala hal sendiri dan bertanggung jawab, namun tetap di bawah bimbingan kita. Para siswa cenderung lebih bertanggung jawab akan tugas dan kewajiban yang ada ketika mereka diberikan kepercayaan. Dalam situasi seperti itu penanaman nilai patriotisme yang memiliki beberapa indikator sangat diperlukan untuk menyiapkan ketangguhan diri dalam menghadapi masa depan. Seperti pendapat Mamik Suharti (2010, hlm 122) bahwa upaya peningkatan kualitas keutuhan manusia ditentukan dengan pendidikan yang berimbang dan terpadu, yakni antara kemampuan unsur logika, etika dan estetika. Melalui keseimbangan ketiga unsur tersebut, masyarakat diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa kini dan mendatang.
Nilai patriotisme yang ditanamkan tidak melalui kegiatan yang mendoktrin atau menuntut para siswa dengan kegiatan yang tidak mereka sukai. Pendekatan dalam metode pembelajaran menjadi kunci penting bagi peneliti untuk dapat menginternalisasi nilai-nilai patriotisme pada mereka. Unsur-unsur yang membuat siswa kurang semangat dalam pembelajaran harus diantisipasi salah satunya adalah model pembelajaran yang tepat , hal ini diperkuat dengan pendapat Rahayuningtyas dkk, (2011, hlm. 38) bahwa rendahnya kualitas ketrampilan dimungkinkan sebagai akibat penggunaan metode pembelajaran yang salah, pengorganisasian materi belajar yang tidak tepat atau bahkan media pembelajaran yang kurang tepat. Metode kreatif yang digunakan dengan media Tari Reog Bulkiyo merupakan pendekatan yang sangat sesuai untuk menanamkan nilai
positif dalam diri mereka. Mereka dapat berkreasi dengan sebebas mungkin namun tetap terbimbing oleh peneliti. Satu hal yang menjadi poin penting dalam keberhasilan metode ini adalah ketika peneliti memberikan kepercayaan kepada para siswa bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang mereka senangi dan membawa dampak positif bagi mereka dan lingkungan. Ketika mereka dibiarkan berkreasi ide-ide segar yang tak terduga muncul dan menjadi menarik saat dilakukan. Seperti ketika siswa melihat video Tari Reog Bulkiyo yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, respon pertama adalah tari ini sangat lama dan cenderung membosankan. Namun, saat kegiatan eksplorasi mulai dilakukan mereka memiliki ide untuk menggunakan gerak-gerak jaranan yang lebih familiar bagi mereka dan dikemas secara apik dalam gerak tari kreasi baru yang bersumber dari Tari Reog Bulkiyo. Tari merupakan salah satu media komunikasi dan penanaman karakter pada siswa-siswa di sekolah. Seperti pendapat Nanik Sri Sumani (2001,hlm. 38) yang dapat menjadi penguat pertunjukan seni (wayang purwa) bukan hanya sebagai media hiburan melainkan sarana komunikasi, penyuluhan dan pendidikan (Sujatmo dalam Sumani,2001, hlm.38).
Nilai-nilai ini tertanam melaui proses kreatif dengan materi Tari Reog Bulkiyo,
1. Keberanian, kekuatan emosional yang meliputi penggunaan kehendak untuk mencapai tujuan-tujuan yang berhadapan dengan tantangan baik eksternal maupun internal, contohnya keberanian melawan bahaya, keteguhan hati, kejujuran.
Para siswa mulai berani menyampaikan pendapat mereka tentang apa yang mereka ketahui dan rasakan ketika melihat sesuatu yang menarik hati. Seperti ketika berpendapat tentang kesenian yang dikenalkan oleh peneliti. Kemudian mereka memiliki keteguhan hati yang kuat ketika selama proses ada beberapa siswa yang tidak mengikuti proses dengan rajin dan membolos sekolah
dengan tegas mereka berkata bahwa “kulo mboten ngoten niku bu.. mesakne wong tuwo lek kulo melu-melu nakal” (kami tidak seperti itu ibu, kasihan
orang tau apabila kami ikut-ikutan nakal seperti itu). Para siswa dapat menunjukan dan melakukan gerak-gerak dalam tari yang mengandung nilai keberanian.
2. Keadilan, daya-daya kekuatan sipil yang mendasari komunitas-komunitas masyarakat yang sehat, contohnya sportivitas, kepemimpinan.
Beberapa siswa memiliki jiwa pemimpin yang sangat baik. Pada proses kreatif yang dilakukan oleh siswa-siswa, dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok penari dan pemusik. Kelompok penari berdiskusi tentang gerak-gerak yang mereka lakukan, ketika mengalami kesulitan beberapa siswa mencoba menengahi dan memberikan solusi bagi teman lainnya. Begitu pula dalam kelompok laki-laki, beberapa siswa sangat bertanggung jawab dalam mengambil dan mengembalikan alat musik. hal ini tanpa mereka sadari adalah bentuk-bentuk tanggung jawab seorang pemimpin dalam kelompok. Sikap ini merek tunjukan dalam gerak-gerak penokohan sebagai pemimpin ketika harus memimpin pasukan mereka.
3. Kemanusiaan, daya-daya kekuatan interpersonal yang meliputi rasa cinta dan persahabatan.
Nilai ini terlihat ketika beberapa teman mereka memiliki masalah di sekolah yang riskan diikuti oleh teman-teman lainnya (membolos, minggat (pergi dari rumah)). Mereka saling melindungi dan mengingatkan bahwa hal seperti itu tidak patut ditiru, sehingga teman-teman lain jangan terpengaruh. Ketika mereka pulang sekolah dan ada teman yang belum dijemput maka mereka akan menunggu, bahkan ada beberapa yang diantar oleh teman lainnya. Siswa memahami sikap ini dari kisah Tari Reog Bulkiyo dimana pemimpin dan prajurit memiliki keterikatan batin sehingga menimbulkan sikap setia terhadap pemimpin.
4. Kesetiaan dalam arti memiliki rasa setia kawan dan saling membantu serta bekerja sama dengan baik dalam kelompok.
Kerja sama yang baik sangat diperlukan dalam sebuah kelompok dan telah dibuktikan oleh para siswa. Proses membuat musik, hanya ada satu anak yang pernah bermain terbang. Teman yang lain belum pernah memainkan alat musik itu. Seketika beberapa teman yang pernah belajar dengan telaten mengejari mereka yang masih pemula.
Kisah Reog Bulkiyo menjadi salah satu pembelajaran tentang kesetiaan yang dipahami oleh siswa. Tari berkelompok dengan gerak yang saling terkait anatar penari satu dengan yang lain.
5. Kerja keras dan bela negara
Kerja keras ini terlihat dalam proses penelitian. Para siswa menambah jam untuk tetap berlatih di sekolah. Siswa yang sebelumnya jarang masuk sekolah sudah lebih giat. Kerja keras yang mereka lakukan dalam memperoleh pendidikan merupakan salah satu sikap bela negara. Sedari dini siswa mempersiapkan ilmu untuk bekal di kemudian hari membela negara. Bukan dengan berperang fisik namun menggunakan pola pikir mereka yang telah tertanam nilai-nilai patriotisme.
Kisah kerja keras dan bela negara terdapat dalam Tari Reog Bulkiyo dan dipahami dengan baik oleh para siswa.