BAB IV UNSUR INTRINSIK DAN NILAI PENDIDIKAN PADA NOVEL
4.2 Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel KAdSAM Karya Tere Liye. 32
4.2.4 Nilai Pendidikan Budaya
Menurut Rosyadi (dalam Yusanfri, 2013:15) nilai pendidikan budaya merupakan sesuatu yang dianggap baik dan berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nilai budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada suatu masyarakat dan kebudayaannya.
Dalam novel KAdSAM terdapat nilai budaya yaitu toleransi antar adat.
Toleransi antar adat dalam novel KAdSAM yaitu Suku Melayu, Suku Tionghoa, Suku Dayak, Suku Bugis, dan Suku Batak yang saling menjalankan hidup bersama di tepian sungai Kapuas. Toleransi antar adat merupakan satu sikap yang saling menghargai dan menghormati adat dalam hidup masyarakat.
Baiklah. Mereka bertemu di acara besar Istana Kadariah lima belas tahun silam, waktu itu ada kendurian kesultanan. Dalam sebuah momen penting, yang konon katanya waktu mendadak berhenti, dunia membeku, bertataplah Bang Togar dan Kak Unai yang masih sama-sama belia, menonton keramaian. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.
Keluarga Kak Unai datang dari hulu Kapuas. Dua hari perjalanan dengan perahu ke sana. Bisa ditebak, jalan cinta mereka tidak mudah. Kak Unai adalah anak kedua suku Dayak pedalaman. Lantas siapalah Bang Togar?
Keluarga Kak Unai menolak mentah-mentah. Mereka tidak akan membiarkan anak gadis tercinta dibawa pergi “orang asing”. Demi cinta, Bang Togar memutuskan tinggal di pedalaman Kalimantan.(240)
Bang Togar. Dari nama tersebut sudah jelas diketahui bahwa Bang Togar berasal dari Suku Batak dan menikah dengan Kak Unai yang berasal dari Suku Dayak. Itu menandakan adanya toleransi adat.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada novel KAdSAM karya Tere Liye, dapat disimpulkan:
1. Unsur intrinsik pada noevel KAdSAM karya Tere Liye meliputi tema, alur (plot), latar (setting), dan tokoh dan penokohan. Tema utama novel tersebut adalah perjuangan cinta, dan tema tambahan novel tersebut adalah pengorbanan, kerja sama, kepedulian, perjuangan hidup, dan saling membantu. Adapun alur yang digunakan yaitu progesif atau alur maju dan alur regresif atau alur mundur, dengan tokoh utama yaitu Borno dan tokoh tambahan yaitu Mei, Ibu Borno, Pak Tua, Andi, Bang Togar, Daeng, Acong, Cik Tulani, Jauhari, Petugas Timer, Bibi, dan Sarah. Latar yang paling banyak digunakan dalam novel tersebut yaitu di tepian sungai Kapuas, tempat Borno bekerja dan tinggal.
2. Nilai pendidikan yang terdapat dalam novel KAdSAM karya Tere Liye meliputi nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan religius, dan nilai pendidikan budaya. Nilai pendidikan moral meliputi kerja keras, bertanggung jawab, pantang menyerah dan bersungguh-sungguh, dan mandiri; nilai pendidikan sosial meliputi peduli kepada sesama, kerja sama dan saling membantu, dan ramah kepada orang-orang di sekitar; nilai pendidikan religius terlihat takut
akan dosa dan berdoa; nilai pendidikan budaya yang terdapat dalam novel tersebut yaitu toleransi antar adat.
5.2 Saran
Melalui hasil penelitian ini, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Semoga penelitian ini dapat menambah wawasan pembaca tentang unsur intrinsik novel.
2. Semoga penelitian ini dapat memberikan pemahaman kepada pembaca tentang nilai pendidikan yang terdapat dalam novel KAdSAM karya Tere Liye.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Anwar. 2012. “Analisis Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi.” Skripsi (Online). eprints.uny.ac.id
Budiyono, Kabul. 2007. Nilai-nilai Kepribadian dan Kejuangan Bangsa Indonesia Cetakan-1. Bandung: Alfabeta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Cetakan-3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dwiloka, Bambang dan Rati Riana. 2005. Teknik Menulis Karya Ilmiah Cetakan-1. Jakarta: Rineka Cipta.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra Cetakan-4.
Yogyakarta: MedPress.
Jabrohim (ed). 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.
Liye, Tere. 2013. Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Cetakan-4. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Nofalinda, Nola. 2014. “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Bidadari-Bidadari Surga Karya Tere Liye.” Jurnal (Online). http://jurnal umsb.ac.id.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi Cetakan-1. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Khuta. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra Cetakan-1. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Satria, Wahyudi Eka. 2015. “Konflik Psikologis Tokoh Utama dalam Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye.” Skripsi (Online) eprints.uny.ac.id.
Suryaningrum, Sumarah. 2014. “Kajian Psikologi Sastra Dan Nilai Pendidikan Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye Serta Relevansinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah Menengah Atas.” Skripsi (Online).https://digilib.uns.ac.id.
Tantawi, Isma. 2014. Bahasa Indonesia Akademik Cetakan-1. Bandung: Cipta
Wicaksono, Andri. 2014. Pengkajian Prosa Fiksi Cetakan-1. Bandar Lampung:
Garudhawaca.
Yusanfri, Yosefinus. 2013.”Analisis Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Sang
Pemimpi Karya Andrea Hirata.” Skripsi (Online)
http://griyawardani.wordpress.com
Zaidan, Abdul Rozak dkk. 2007. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.
http://berbagybersama.blogspot.com/heuristik-dan-hermeneutik dalam apresiasi prosa. Diakses pada tanggal 23 Februari 2017.
http://griyawardani.wordpress.com/2011/05/19/nilai-nilai-pendidikan
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran I
Sinopsis novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah menceriterakan tentang seorang pemuda yang bernama Borno yang tinggal di Pontianak, tepatnya di tepian sungai Kapuas. Kisah dimulai dengan peristiwa yang dialami oleh ayah Borno ketika Borno berusia dua belas tahun. Ayah Borno yang tersengat ubur-ubur saat melaut memilih untuk mendonorkan jantungnya kepada seorang pasien yang gagal jantung. Pilihan ayah Borno membuat berakhirnya hidup ayahnya.
Borno sesak, bukan karena kepergian ayahnya yang tiba-tiba, namun karena keputusan ayahnya mendonorkan jantungnya. Saat itu Borno tidak tahu apakah sengatan ubur-ubur atau pisau bedah dokterlah yang membuat ayahnya pergi.
Beberapa tahun kemudian setelah Borno lulus SMA, ia menjalani hidupnya dengan berganta-ganti pekerjaan. Pertama ia bekerja di sebuah pengolahan karet. Saat ia bekerja di sana, banyak yang menjauh dari Borno karena bau yang melekat di badan Borno. Ia bertahan kerja di pengolahan karet selama 6 bulan. Ia dipecat bersama ratusan karyawan lain.
Setelah dipecat dari pengolahan karet, Borno melamar ke Kantor Syahbandar Pontianak dan lamarannya ditolak karena jumlah pekerja sudah terlalu banyak. Setelah dari syahbandar, Borno mencari pekerjaan ke Dermaga Feri Pontianak dan ia diterima sebagai pemungut karcis masuk penumpang.
Ketika ia bekerja di sana, Bang Togar, saudaranya sendiri sekaligus ketua PPSKT
(Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta), marah kepada Borno karena kakek Borno meninggal ditabrak oleh feri yang ada di sungai Kapuas. Selain itu juga dengan adanya feri di sungai Kapuas rejeki tukang sepit jadi berkurang. Bang Togar marah besar kepada Borno. Bang Togar sampai membuat pengumuman untuk semua pengemudi sepit dilarang untuk membawa Borno. Kemarahan bang Togar rasa-rasanya cukup untuk menelan bulan purnama. Bang Togar bahkan membawa semboyan Bung Karno yang terkenal itu dalam marahnya, Jasmerah, Jangan Suka Melupakan Sejarah. Bang Togar dan para pengemudi sepit menganggap Borno berkhianat karena di dermaga feri. Akibat pertentangan itu Bang Togar tidak memperbolehkan para pengemudi sepit mengantarkan Borno kemanapun, padahal untuk ke dermaga feri, Borno harus naik sepit.
Tidak lama kemudian Borno berhenti bekerja dari pemungut karcis masuk penumpang kapal feri tersebut karena ulah Bang Togar. Ia ditawarkan bekerja untuk mengurus burung walet tetapi Borno menolaknya karena merasa alergi dengan ludah dan kotoran walet. Akhirnya Borno mendapat pekerjaan sebagai pengemudi sepit di sungai Kapuas setelah melakukan pembicaraan dengan Pak Tua dan Ibunya.
Menjadi pengemudi sepit ternyata tidaklah mudah. Borno harus belajar terlebih dahulu sebelum ia benar-benar siap mengemudikan sepit. Pekerjaan itu adalah pekerjaan ayah Borno dulu. Profesi itu juga yang menjadi pembuka pintu gerbang bagi kisah cintanya. Sepit baru dihadiahkan oleh pengemudi sepit yang lain untuknya.
Pada suatu hari, gadis berbaju kurung kuning, mengembangkan payung merah, menaiki sepit Borno. Meninggalkan pesona dan surat bersampul merah yang dilem rapi tanpa nama. Surat itu menjadi perbinjangan antara Borno dengan sahabatnya yaitu Andi. Andi ingin sekali melihat isi dari surat itu, tetapi Borno melotot dan berkata “ Mana bolehlah tangan kotor kau pegang surat ini.” Setelah mendapat surat merah tersebut, Borno selalu mencari gadis yang berkurung kuning itu. Suatu ketika Borno pun berjumpa dengan gadis tersebut dan ingin mengembalikan surat temuannya itu. Ternyata surat itu hanya angpau yang dibagikan kepada orang-orang.
Seminggu berlalu, Borno tidak mengetahui nama gadis itu. Yang Borno ketahui adalah aktivitas gadis itu yaitu tiba di dermaga kayu pukul 07.15 dan menyeberang.
Suatu hari, Borno yang belum mengetahui nama si gadis itu berniat untuk menanyakan namanya, supaya terkesan sok kenal. Borno memulai perbincangan dengan lelucon nama orang. Saat itu Borno menertawakan nama orang yang berasal dari nama-nama bulan. Si gadis hanya tersenyum simpul menanggapinya.
Saat akan turun dari sepit, si gadis menyebutkan nama yang membuat Borno terkejut. Nama gadis itu Mei. Seketika itu Borno merasa malu dan bersalah.
Sejak mengetahui nama gadis itu, Borno mulai berani menyapa dan mendekati Mei, bahkan ia sempat mengajari Mei mengemudi sepit. Sebelum Borno berhasil mengajari Mei mengemudi sepit untuk kedua kalinya sesuai janjinya, Borno harus rela ditinggal Mei. Mei harus kembali ke tempat tinggalnya di Surabaya karena tugasnya di Pontianak sudah selesai. Mengetahui itu, Borno sangat kecewa.
Semenjak kepergian Mei, Borno merasa hidupnya ada yang kurang. Borno menjadi tidak bersemangat. Tidak ada lagi antrean no 13. Borno merindukan Mei.
Enam bulan kepergian Mei, Pak Tua, kerabat Borno jatuh sakit dan harus melakukan terapi di Surabaya. Mendengar kabar itu Borno tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia bersedia menemani Pak Tua terapi. Ternyata nasib berpihak baik kepada Borno. Di hari kedua pengobatan Pak Tua, takdir mempertemukannya dengan Mei melalui jalan yang tak terduga. Mei mengajak Borno dan Pak Tua jalan-jalan di kota Surabaya. Malam harinya setelah Pak Tua terlebih dahulu kembali ke penginapan, Borno mengantar Mei ke rumahnya. Di sana Borno bertemu dengan ayah Mei. Secara terang-terangan ayah Mei memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Borno. Borno menjadi gelisah.
Kegelisahan Borno tidak terhenti sampai di Surabaya, Bahkan setelah kembali ke Pontianak Borno masih gelisah memikirkan apa yang ia perbuat sampai-sampai ayah Mei tidak menyukainya. Tidak lama kemudian Borno yang merindukan Mei akhirnya terbayar ketika suatu hari Mei kembali ke Potianak.
Setelah menemukan waktu yang tepat Borno akhirnya meninggalkan pekerjaan sebagai pengemudi sepit dan memulai membeli sebuah bengkel yang bekerja sama dengan ayah Andi. Ketika mereka membeli bengkel tersebut, ayah Andi sangat kecewa dan lama bersedih karena bengkel yang mereka beli tidak sesuai dengan perjanjian awal. Bengkelnya dibeli mahal tetapi isi bengkel tidak dilengkapi dengan alat-alat bengkel. Mereka ditipu. Walaupun begitu, Borno tetap membuka bengkel tersebut dengan peralatan yang ada. Lama kemudian bengkel tersebut pun mulai maju dan terkenal.
Mei sering berkunjung ke bengkel Borno semenjak bengkelnya dibuka.
Borno sangat bahagia akan hal itu. Sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja Mei meminta Borno menjauhinya. Mei sama sekali tidak ingin bertemu Borno. Alasanya tidak jelas. Borno berusaha mencari penjelasan dari Mei, tapi Borno malah bertemu dengan ayah Mei untuk yang kedua kalinya dan meminta supaya Borno tidak mendekati Mei.
Ketika Mei mendadak menjauhinya, muncullah gadis lain di hidupnya yaitu Sarah, sang dokter gigi yang ceria. Kehadirannya mau tak mau mengusik kehidupannya. Sarah yang begitu cemerlang juga tak mampu menggantikan Mei di hati Borno.
Borno masih saja berusaha menemui Mei walaupun Mei tak ingin sedikit pun menemui Borno. Akhirnya Borno hanya bisa berkomunikasi dengan Mei melalui surat perantara Bibi. Suatu ketika, saat final lomba sepit, tiba-tiba saja Bibi memberikan surat dari Mei yang isinya membuat hati Borno kecewa: Mei kembali ke Surabaya.
Mei menghilang dari hidup Borno untuk kesekian kalinya. Borno berusaha menjadi bujang dengan hati yang paling lurus di tepian sungai Kapuas, seperti keinginan Mei di surat terakhirnya.
Enam bulan berlalu, satu tahun terlewati. Rahasia akhirnya terungkap.
Sepulang dari liburannya ke negeri seberang, Borno mendapat kabar kalau Mei sakit keras di Surabaya. Sebelum menyusul ke Surabaya, Bibi meminta Borno untuk membaca amplop merah yang ditemukan Borno saat pertemuan pertamanya dengan Mei dulu. Di situlah rahasia terungkap. Amplop itu bukan sekedar amplop biasa, apalagi angpau. Amplop itu ternyata menyimpan teka-teki mengapa Mei
menjauhinya, juga alasan-alasan ayah Mei meminta Borno untuk tidak mendekati Mei. Itu bukan angpau biasa yang terjatuh dari penumpang. Isi dari angpau itu menjelaskan bahwa ibu Mei adalah dokter yang membedah ayah Borno. Dalam surat itu juga keluarga Mei minta maaf atas apa yang dilakukan oleh ibunya.
Borno berangkat ke Surabaya dengan penerbangan pertamanya. Ia menjumpai Mei yang masih terbaring sakit. Tubuh Mei kurus, wajahnya pucat, rambutnya rontok.
Lampiran II
Biografi Tere Liye
Tere Liye lahir dan tumbuh dewasa di pedalaman Sumatera Selatan. Ia lahir pada tanggal 21 mei 1979. Ia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Kehidupan masa kecil dilalui dengan penuh kesederhanaan membuatnya menjadi orang yang tetap sederhana pula hingga saat ini. Tere Liye meyelesaikan masa pendidikan dasar sampai SMP di SDN2 dan SMN 2 Kikim Timur, Sumatera Selatan. Kemudian melanjutkan ke SMUN 9 bandar lampung. Setelah selesai di Bandar lampung, ia meneruskan ke Universitas Indonesia dengan mengambil fakultas Ekonomi.
Tentang kehidupan asmaranya tidak terlalu banyak diketahui. Namun, saat ini ia telah menikah dengan seorang perempuan cantik bernama Riski Amelia dan dikaruniai dua orang anak, yaitu seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdullah Pasai dan seorang anak perempuan bernama Faizah Azkia.
Fakta yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang adalah bahwa nama Tere Liye bukanlah nama asli, melainkan hanya nama pena yang selalu disematkan dalam setiap novelnya. Nama aslinya diketahui dengan panggilan Darwis.
Saat ini ia diketahui bekerja sebagai karyawan kantoran dan berprofesi sebagai akuntan. Dengan tampilan khas yang sering menggunakan kupluk dan baju casual, Tere Liye mengatakan bahwa menulis baginya adalah hobi.
Hingga saat ini Tere Liye telah menghasilkan 21 karya yang keseluruhan novelnya mendapat sambutan hangat dari masyarakat. bahkan beberapa novel
telah diangkat ke layar lebar dan menarik minat masyarakat Indonesia untuk menontonnya.
Karya Tere yang sudah diterbitkan adalah sebagai berikut:
1. Moga Bunda Disayang Allah (Penerbit Republika, 2005) 2. Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (Penerbit AddPrint, 2005)
3. The Gogons Series: James & Incridible Incodents (Gramedia Pustaka Umum, Hafalan Shalat Delisa (Penerbit Republika, 2005)
4. 2006)
5. Cintaku Antara Jakarta dan Kualal Lumpur (Penerbit AddPrint, 2006) 6. Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Grafindo 2006 & Republika 2009) 7. Sang Penandai (Penerbit Serambi, 2007)
8. Bidadari-Bidadari Surga (Penerbit Republika, 2008) 9. Senja Bersama Rosie (Penerbit Grafindo, 2008) 10. Burlian (Penerbit Republika, 2009)
11. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka Umum, 2010)
12. Pukat (Penerbit Republika, 2010)
13. Eliana, Serial Anak-Anak Mamak, (Republika, 2011)
14. Ayahku (Bukan) Pembohong, (Gramedia Pustaka Utama, 2011) 15. Sepotong Hati Yang Baru, (Penerbit Mahaka, 2012)
16. Negeri Para Bedebah, (Gramedia Pustaka Utama, 2012)
17. Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah, (Gramedia Pustaka Utama, 2012) 18. Berjuta Rasanya (Penerbit Mahaka, 2012)
19. Negeri Di Ujung Tanduk, (Gramedia Pustaka Utama, 2013) 20. Amelia, Serial Anak-Anak Mamak 1, (Republika, 2013) 21. Bumi, (Gramedia Pustaka Utama, 2014)
Sumber: http://www.biografiku.com/2016/09/biografi-dan-profil-tere-liye-penulis-novel-terkenal-asal-indonesia.html