BAB IV UNSUR INTRINSIK DAN NILAI PENDIDIKAN PADA NOVEL
4.2 Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel KAdSAM Karya Tere Liye. 32
4.2.2 Nilai Pendidikan Sosial
Menurut Wicaksono (2014:273) sosial adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum dan suka menolong sesama.
Rosyadi (dalam Yusanfri, 2013:14), kata “sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat atau kepentingan umum. Nilai pendidikan sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial. Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial masyarakat antar individu. Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai pendidikan sosial yang terdapat dalam novel KAdSAM yaitu:
1. Peduli kepada sesama
Masyarakat sekitar sungai Kapuas memiliki kepedulian kepada tokoh Borno, Borno juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang ada di sekitar tepian sungai Kapuas, dan masyarakat penghuni tepian sungai Kapuas juga saling peduli.
“Buat si kecil, Bang.” Aku menjulurkan kantong plastik. “dibuat jus, atau dimakan mentah, katanya mujarab sekali biar demam berdarah si kecil cepat sembuh.”
Jauhari diam sejenak, ragu-ragu.
“Benar sekali Jau,” pengemudi lain berkata meyakinkan, menyenggol lengan Jauhari. “Jus jambu biji merah bagus buat penyakit demam berdarah. Kau jenius Borno.”(86)
“Bagaimana kabar Saijah? Sehat?” Pak Tua bertanya. Aku mengangguk.
“Kabar baik, Pak. Ibu bahkan menitipkan ini.” Aku menjulurkan kantong plastik. Ini malam kesekian jadwal kunujunganku ke rumah Pak Tua.
Berkunjung ke rumahnya selalu menyenangkan.(120)
“Bagaimana kabar Pak Tua, Koh?” Aku berpapasan dengan Koh Acong yang melangkah keluar.
“Sudah siuman, kau tengok saja di dalam.”
Aku menghela nafas lega. Syukurlah, kupikir hariku akan bertambah muram.
Pak Tua tersenyum tipis melihatku, dia berbaring di dipan. Ada Cik Tulani, Bang Togar, dan beberapa tetangga menemani.(130)
“Kau sudah dua hari pendiam sekali, Borno?”
Aku masih asyik melambaikan tangan.
“Apa sebenarnya yang terjadi waktu kau mengantar Mei pulang?”
“Tidak ada apa-apa,” aku menjawab malas.
“Satpamnya galak?” Pak Tua menyikut bahuku.
Aku menoleh. “Satpam? Aku tidak bertemu satpam di rumahnya.”
“Bukan satpam itu, bodoh. Satpam yang lain. Bapak Mei misalnya. Galak sekali, ya?” Pak Tua tertawa.
“Ah, cinta, selalu saja klise.” Pak Tua menghela nafas panjan, sekarang ikut melambaikan tangan.(233)
“Ah, esok lusa juga mereka bosan memboikot kau, Borno,” Andi membesarkan hatiku.(38)
2. Kerja sama dan saling membantu
Dalam novel KAdSAM, masyarakat penghuni tepian sungai Kapuas tidak lepas dengan yang namanya kerja sama dan saling membantu. Kerja sama dan saling membantu yang terlihat yaitu ketika Bang Togar dan pengemudi sepit lainnya mengumpulkan uang untuk membeli sepit dan sepit tersebut diberikan kepada Borno. Saling membantu juga terlihat ketika Pak Tua jatuh pingsan.
Teman dekat dan tetangga ikut membawa Pak Tua ke Rumah Sakit Umum.
“Ini sepit kau, Borno.” Bang Togar membentangkan tangannya, berkata
untuk membantu pengemudi sepit gang ini bertahan hidup. Pagi ini, ksmi tidak akan membiarkan cucu kakek kau tidak punya sepit. Ini perahu dari kayu terbaik, Borno, dengan mesin paling canggih, tukang paling mahir.
Lihat, sudah kami berikan nama di lambungnya.”
Aku masih kehilangan kata-kata, menatap silih berganti sekitar, setengah tidak percaya. Benarkah itu sepit milikku? Ini mimpi?
“Ini rencana Togar,” Pak Tua berbisik di tengah keramaian seruan-seruan antusias. “Togar yang meminta pengemudi, penghuni gang, bahkan para penumpang mengumpulkan sumbangan. Bedanya, dia tidak sampai membuat surat permohonan berlaminating.(70)
Tiba di rumah Pak Tua, sudah ada Koh Acong. Dia terlihat menggelengkan kepala, sama cemasnya. “Tidak akan sempat, kita akan terlambat kalau menunggu dokter. Kau bawa sepit, Borno?”
Au mengangguk.
“Kita bawa segera ke rumah sakit umum.” Koh Acong membuat keputusan.
Cik Tulani dan Bang Togar yang datang beberapa detik kemudian ikut membopong tubuh tinggi kurus itu ke atas perahu kayu. Wajah Pak Tua terlihat lemah, tubuhnya dingin.
Dalam hitungan detik, sepit meluncur cepat ke dermaga terdekat dari rumah sakit. Setiba di dermaga, aku meloncat lebih dulu, berlari ke jalanan yang masih remang, mencoba memberhentikan kendaraan yang lewat.
Mobil sayuran Pasar Induk berbaik hati memberi tumpangan. Tig puluh menit dari ditemukan tergeletak pingsan, menumpang mobil penuh kol, kacang panjang, dan aneka sayur lain, Pak Tua dibawa secepat mungkin ke rumah sakit, harapan yang tersisa.(137)
3. Ramah kepada orang-orang di sekitar
Dalam novel KAdSAM masyarakat penghuni tepian sungai Kapuas memiliki keramahan yang patut diteladani. Setiap kali tokoh Borno lewat dari depan rumah masyarakat, Borno selalu disapa dan Borno membalas balik sapaan tersebut.
“Berangkat kerja, Borno?”
Aku menyengir, mengiyakan.
“Mana seragam keren kau itu, Borno?”
Aku tertawa kecut.
“Gagah sekali kau, Borno. Belum mandi saja sudah segagah ini.”
Tetangga bermulut usil lain, yang pagi-pagi sambil mengopi asyik duduk di depan rumah kayunya, ikut menyapa.
“Berangkat kerja, Borno? Dua belas langkah berikutnya, suara khas itu menyapa. Andi teman baikku, sepagi ini sudah berkutat oli dan jelaga mesin.(18)
“Pagi, Borno.” Pak Tua mengabaikan keributan kecil di dermaga, menyeringai menyapaku.
Aku balas menyapa, menguap. “Pagi, Pak Tua.”
Pak Tua menyeringai. Tidak seperti biasanya, dengan santai dia kemudian bertanya, “Nah, kau hendak ke mana pagi ini, Borno? Dermaga pelampung? Kantor syahbandar? Pabrik karet? Mau kuantar sekalian?”
Karena aku memang tidak akan ke mana-mana pagi ini. Dermaga ini tujuanku.(50)