• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adapun yang termasuk dalam Nilai-Nilai Pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

1. Aqidah Islam

Aqidah Islam adalah bentuk seorang hamba yang percaya penuh kepada Tuhannya, ditunjukkan dengan kepatuhan untuk senantiasa melaksanakan perintah serta berkomitmen untuk menjauhi larangan-Nya. Dengan kata lain, orang beraqidah adalah orang yang beriman. Muhaimin (2003:148) berpendapat bahwa, iman juga bisa diartikan sebagai sebuah

potensi rohani atau fitrah manusia, yang harus diaktualisasikan, dikembangkan, dan ditingkatkan secara terus menerus dengan cara melakukan amal saleh, sehingga dapat dicapai prestasi rohani (iman) dalam bentuk taqwa.

Percaya kepada aqidah adalah bingkai terbesar manusia dalam mengembangkan makna aqidah itu sendiri dengan makna Islam. Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya seorang yang beriman, maka tentunya ia harus meyakini pokok-pokok keimanan, yang diantaranya adalah: beriman kepada Allah swt, beriman kepada Malaikat-malaikat Allah, beriman kepada Kitab-kitab Allah, beriman kepada Rasul-rasul Allah, beriman kepada Qadla dan Qodarnya Allah, dan beriman kepada hari akhirnya Allah. (Labib, 1993:7).

a. Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah Adalah suatu usaha yang dilakukan oleh manusia untuk mempercayai segala hal tentang Allah SWT dan meyakini semua yang ada di bumi berasal dari Allah yang diikrarkan dalam kalimat syahadat “aku bersaksi tiada tuhan selain Allah”.

Kata “aku bersaksi tiada tuhan selain Allah” dalam Islam kita kenal dengan istilah Tauhid yang secara etimologi berarti pengakuan keesaan Allah (Ensiklopedia Islam, 1992:933). Secara teologi pengakuan tersebut mengandung kesempurnaan kepercayaan kepada-Nya dari dua aspek: pertama, tauhid rububiyyah ialah pengakuan keesaan Allah sebagai zat yang Maha Pencipta, Pemelihara, dan

xxxiii

memiliki semua sifat kesempurnaan. Kedua, tauhid uluhiyyah ialah komitmen manusia kepada Allah sebagai satu-satunya zat yang dipuja dan disembah, yang mendedikasikan seluruh amal perbuatan bahkan hidupnya hanya semata-mata untuk Allah SWT. Iman kepada Allah dapat di wujudkan dengan sikap:

1) Berserah Diri Kepada Allah

Berserah diri atau tawakal adalah salah satu cermin manusia yang percaya kepada Allah yang didalamnya ada nilai-nilai ibadah. Ibadah dalam konteks pendidikan adalah adanya manfaat yang diperoleh dari proses tersebut, baik bagi pendidik maupun peserta didik yang berujung pada bertambahnya rasa iman kepada Allah. Mastna (2008:41) menjelaskan tentang ibadah bahwasanya ibadah merupakan bentuk pengabdian seorang hamba kepada sang pencipta yaitu Allah SWT, dan juga sebagai bentuk terimakasih terhadap segala nikmat yang telah diterimanya. Berdasar pendapat diatas, sesungguhnya ibadah yang dilakukan oleh manusia adalah untuk kebaikannya sendiri dan harus dijadikan menjadi sebuah kebutuhan batin yang harus dipenuhi.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al An‟am 162-163:

                   

162. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

163. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".

Dalam Ayat di atas mengingatkan akan tujuan manusia hidup di dunia ini, yaitu untuk benar-benar beribadah dan menyerahkan segala urusan kepada allah demi untuk mencari ridho-Nya.

Ibadah yang walaupun sedikit tetapi dilakukan secara sungguh-sunnguh dan Istiqamah akan membawa kebahagiaan di dunia bagi pelakunya dan sebagai penyelamat kelak di akhirat. 2) Ikhlas

Ikhlas secara bahasa dari bahasa/kata arab akhlasa yang berarti murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Maksud bersih disini ialah bersihnya suatu pekerjaan dari campuran motif-motif yang selain Allah, seperti ingin dipuji orang lain, mendapat nama, dan sebagainya (Tatapangarsa 1980:151). Secara umum ikhlas berarti melakukan suatu usaha atau amal perbuatan baik yang ditujukan semata-mata hanya kepada Allah dan tidak mengharap balasan dari orang lain.Karena ketika suatu kebaikan sudah bercampur dengan syahwat dunia maka akan mengurangi kadar pahala dari Allah. b. Iman kepada qadha dan qadar

Faridi (1982:73) memberikan penjelasan secara ringkas bahwa qodo yaitu ketetapan Allah, sedangkan qodar yaitu takdir seperti ukuran atau ketetapan Allah. Iman kepada qadha dan qodhar yaitu

xxxv

beriman bahwasanya setiap muslim diwajibkan beriman, dalam artian manusia diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib dirinya, dengan segala usaha dan permohonan kepada Allah. Iman kepada qadha dan qodar mengajarkan kita untuk senantiasa memanjatkan rasa syukur kepada Allah.

Kita ketahui bahwa terkadang takdir yang diberikan Allah kepada hambanya tidak seperti yang diharapkan, akan tetapi Allah maha mengetahui, sehingga apa yang ditakdirkan-Nya pasti baik bagi manusia, yang perlu dilakukan adalah tetap berserah diri kepada Allah dan tetap melakukan ikhtiar-ikhtiar atas segala cita-citanya. Tetapi perlu di garisbawahi bahwa mungkin sesuatu baik menurut kita, tetapi tidak menurut Allah atau bahkan sebaliknya.

c. Iman Kepada sifat-sifat Allah

Orang yang beriman wajib percaya bahwa Allah Swt memiliki semua sifat kesempurnaan bagi keagungan-Nya, dan mustahil memiliki sifat kekurangan, selain itu harus yakin pula bahwa Allah Swt boleh melakukan atau berkehendak segala sesuatu yang bersifat mungkin dan pasti bagi-Nya, seperti Dia yang menciptakan, mematikan, menghidupkan dan sebagainya.

Ini merupakan wujud sifat keyakinan bagi seseorang muslim dan muslimat yang harus di tanamkan dengan kuat pada hati sanubari setiap orang yang beriman. Sifat–sifat mulia yang dimiliki Allah

hendaknya dijadikan acuan bagi manusia untuk terus berusaha memperbaiki dirinya sampai akhir hayat.

2. Pendidikan Budi Pekerti (Akhlak)

Akhlak merupakan salah satu esensi dari Pendidikan Islam dan sebagai perwujudan manusia yang berpendidikan, Makbulloh (2011: 142) dalam bukunya tentang akhlak menerangkan Akhlak adalah suatu sikap yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan, tanpa terlalu banyak pemikiran dan pertimbangan yang terlalu lama. Jika sifat tersebut memunculkan tindakan atau perbuatan yang baik yang terpuji menurut tuntunan aqal dan syariah, maka sifat itu disebut dengan akhlak yang baik. Akan tetapi jika dari sifat tersebut muncul perbuatan yang buruk lagi jahat, maka disebutlah darinya memiliki akhlak yang buruk. Sejalan dengan Makbulloh, Khoiri (2005:15) menjelaskan bahwasanya akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti berbuat baik dan buruk manusia, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, menyatakan tujuan apa yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan melakukan apa yang harus diperbuat.

Dari definisi diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa Akhlak adalah sikap yang tertanam pada diri manusia, diwujudkan dalam perbuatan dan ucapan, entah itu akhlak baik ataupun buruk yang bisa mencerminkan jatidiri seseorang. Baik atau buruk Akhlak seseorang bergantung pada satu organ tubuh yang sangat vital yaitu hati (qalbu).

xxxvii Rosulullah SAW bersabda:

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599). Mengingat begitu pentingnya dalam menjaga hati, maka kita dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir (mengingat) kepada Allah agar hati kita senantiasa terpelihara kebersihannya dan terhindar dari kesia-siaan dan mudah menerima petunjuk dari-Nya untuk berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran Agama Islam.

Secara garis besar Akhlak di klasifikasikan menjadi 2, yakni Akhlak Mahmudah dan Akhlak Madzmumah, Akhlak mahmudah yaitu akhlak yang terpuji atau baik, Rosullulah SAW sebagai suri teladan (uswatul hasanah) telah memberikan contoh-contoh yang baik kepada umatnya, dan yang termasuk ke dalam akhlak Mahmudah antara lain:

a. Istiqomah

Nilai istiqomah yaitu suatu nilai yang selalu memberikan manfaat bagi yang melakukannya. Intisari dari perilaku Istiqomah yaitu melakukan perbuatan Sholih secara teratur dan terus menerus. Sedangkan definisi Istiqomah secara lebih komprehensif adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya (Hambali,1424H: 246).

b. Silaturrahim

Sillaturrahim adalah menjalin tali persaudaraan, baik antar sesama Muslim atau dengan pemeluk agama lain, sebagai wujud dari kerukunan antar sesam umat manusia, menurut islam silaturrahim dapat menambah saudara dan menambah rezeki. Dan hubungan silturrahim ada 3 yakni, Ukhuwah Islamiyah (sesama Muslim), Ukhuwah

Wathaniyah (sesama bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (sesama

manusia). Sesungguhnya, ajaran persaudaraan sudah terkandung dalam nama agama Islam, karena Islam artinya “damai” yaitu damai dengan sesama manusia (Tatapangarsa 1980:123).

c. Pantang Menyerah

Ketika hidup di bumi sebagai wakil Allah atau Khalifatullah fil ardh manusia di tuntut untuk menciptakan suatu kehidupan yang baik dan diberi tugas untuk mendakwahkan Agama Allah. Dalam menjalankan misi-nya ini manusia tidak serta merta diberi keleluasan dan tanpa rintangan, Allah juga menciptakan Syetan yang diberi tugas untuk mengganggu manusia dalam kebaikan. Maka dari itu, dibutuhkan perjuangan dan kerja keras bagi manusia untuk melakukan tuga-tugas yang sudah diberikan oleh Allah, sehingga dapat tercapai cita-cita yang diinginkan. Dan juga harus menyadari bahwa untuk mencapai suatu hal itu membutuhkan proses yang bertahap.

xxxix d. Sabar

Manusia hidup di dunia dalam rangka menjalani takdir yang diberikan Allah ibarat seperti gelombang : turun-naik, lapang-sempit, mudah-susah, lurus-berliku, dsb. Dua warna hidup ini datang silih berganti, perilaku orang yang tak beriman datangnya nikmat membuatt mereka sombong dan datangnya kesusahan membuat mereka frustasi (Qawiy 2001:121), untuk itu sebagai manusia yang bertakwa kepada Allah swt kita harus senantiasa bersabar. Sabar itu ada dua; pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Yang kedua adalah al-shabru al-Nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu.

e. Jujur

Rachmat (2000:77) mengatakan bahwasanya Jujur adalah mengatakan sesuatu apa adanya. Jujur lawannya dusta. Berdusta adalah menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa berperilaku jujur yaitu selalu mengatakan yang sebenarnya memang terjadi sesuai dengan fakta atau bukti otentik dan mengatakan sesuai dengan apa adanya.

f. Berlomba-lomba atau bersegera dalam kebaikan (fastabiqul Khoirot) Allah swt berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 133-135:

      

                                            

133. dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

[229] Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

Dari ayat diatas Allah menganjurkan umat-Nya untuk bersegera melakukan kebaikan, dan melarang untuk berbuat keji. Allah menjelaskan tentang reward atau balasan bagi hamba-Nya yang berbuat kebajikan yaitu surga yang sangat luas.

xli g. Selalu Belajar

Konsep fitrah manusia dari segi fisik-biologik sudah selesai, akan tetapi dari segi intelektual, emosional, dan spiritual belum selesai. Maka manusia harus belajar dengan sunguh-sunggguh, serta harus berikhtiar dan berusaha untuk mengembangkan atau memaksimalkan potensi yang ia miliki agar bisa memperbaharui wawasan dan IPTEK, sehingga mendorong adanya kemajuan.

h. Toleransi

Hidup di Negara yang besar dengan penduduk yang banyak, tentu kita harus menyadari tentang adanya sebuah perbedaan pandangan, perbedaan sendiri dalam Islam disebut dengan Sunnatullah, agar perbedaan itu tidak dinilai menjadi sesuatu yang buruk maka kita perlu menjunjung tinggi sikap toleran (tasamuh) dalam etika hidup bermasyarakat. Berdasar definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:1524) Toleransi memiliki definisi yang cukup luas yaitu bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb). Toleransi dalam konteks ini yaitu upaya yang dilakukan secara masif untuk menghargai atau membolehkan umat agama lain dalam melakukan ibadah menurut cara dan kepercayaan yang mereka yakini, selama itu tidak mengganggu penganut agama lain serta tidak merusak ketertiban umum.

Toleransi menurut para ahli memiliki banyak makna, salah satunya menurut Heiler yang dikutip oleh Djam‟annuri (1998:27) menyatakan toleransi yang diwujudkan dalam kata dan perbuatan harus dijadikan sikap untuk menghadapi pluralisme agama yang dilandasi dengan kesadaran ilmiah dan harus dilakukan dalam hubungan dan kerja sama yang bersahabat dengan antar pemeluk agama.

i. Berprasangka baik pada Allah (Khusnudzon)

Allah memiliki hak prerogative yang tidak dimiliki oleh makhkluk-Nya yaitu Allah berhak atas takdir apapun yang ada di dunia ini yang merupakan hasil dari ciptaan-Nya. Dan Allah juga berhak untuk menerima atau tidak tentang suatu amalan ibadah/ikhtiar yang dilakukan manusia, yang bisa kita lakukan hanya seantiasa berusaha dan berikhtiar dengan disertai do‟a kepada-Nya.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman:

“Aku berada pada sangkaan hamba-Ku, Aku selalu

bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku pada dirinya maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam suatu kaum maka Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik darinya, dan jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku mendekat padanya satu hasta, jika ia mendekat pada-Ku satu hasta maka Aku mendekat padanya satu depa, jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”.

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah selalu bersama kita, bukan berarti kekuasaan Allah terbatas pada hamba-Nya, tentunya kekusasaan Allah jauh melampaui apa yang ada. Hadits ini memotivasi

xliii

kita untuk seantiasa mengingat Allah dalam menjalani setiap aktifitas, dan selalu melaksanakan kebaikan karena sesuai dengan hadits di atas, bahwa Allah tidak akan membalas perbuatan baik hambanya dengan balasan yang sama, akan tetapi Allah akan membalasnya dengan balasan yang lebih dari itu.

Sebagaiman firman-Nya dalam surah an-Nisa' ayat 40:

                

40. Sesungguhnya Allah tidak Menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar[298].

[298] Maksudnya: Allah tidak akan mengurangi pahala orang-orang yang mengerjakan kebajikan walaupun sebesar zarrah, bahkan kalau Dia berbuat baik pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah.

Ayat diatas mengindikasikan bahwa sungguh maha pengasih dan penyayang Allah, karena tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang mau berusaha atau melakukan kebaikan walau sekecil zarrah dengan balasan yang berlipat-lipat, dan apabila hamba-Nya melakukan suatu perbuatan dosa, maka Allah tidak membalas lebih dari apa yang diperbuat hamba-Nya. Allah lebih bangga dan menyukai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha dan bersifat dinamis dalam menjalani hidup daripada seorang hamba yang pasif. Imam Syafi‟i pernah berkata dalam sebuah syair yang sangat dalam maknanya :

“Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan. Seandainya mengalir dia menjadi jernih, jika tidak dia akan keruh menggenang”.

Secara rasional syair tesebut jelas sekali perumpaanya, ketika air hanya diam menggenang pasti akan menjadi sarang nyamuk sehingga menjadi sumber penyakit, hal itu sesuai dengan filosofi hidup yang telah diajarkan dalam Islam untuk selalu berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi untuk menjadi pribadi yang kreatif.

Yang kedua yakni Akhlak Madzmumah Akhlak madzmumah ialah perangai atau tingkah laku yang tercermin pada diri manusia yang cenderung terwujud dalam bentuk yang tidak menyenangkan orang lain serta bisa berdampak kurang baik bagi dirinya sendiri. Berbanding terbalik dengan yang dijelaskan di atas tentang Akhlak Mahmudah. contoh akhhak madzmumah diantaranya: Sombong, mudah marah, curang (menipu, menyuap), iri hati, suka mengeluh terhadap cobaan, mengkufuri nikmat yang sudah Allah swt berikan, berprasangka buruk kepada Allah maupun sesama manusia, ujub, riya‟, dll.

Dalam berhehidupan di masyarakat, orang yang memiliki akhlak madzmumah cenderung dikucilkan dan tidak memiliki banyak kawan, sehingga interaksi sosialnya sangat kurang dan mengurangi fitrahnya sebagai manusia (makhluk sosial).

xlv 3. Nilai-nilai Ibadah

Ibadah bukan hanya sebatas ritual formalitas belaka, tetapi juga harus menjadi sebuah kebutuhan atau sarana bagi seorang hamba untuk mendekat kepada Tuhan-Nya. Nilai ibadah dapat kita ambil penjelasan bahwasanya manusia selalu berinteraksi dengan Tuhannya baik diwaktu lapang maupun dalam kondisi terdesak, tidak hanya itu manusia juga bisa mengamalkan nilai-nilai ibadah dalam kehidupan sehari hari sebagai pegangan dalam bergaul di masyarakat. Orang yang beriman akan selalu memiliki pandangan bahwa setiap usaha/pekerjaan yang dilakukan ada unsur ibadahnya, (Zulkarnaen,2008:28) menjelaskan bahwa dalam islam Nilai ibadah dapat dibagi menjadi dua yakni:

a. Mengamalkan ibadah kepada Allah.

b. Mengamalkan ibadah kepada sesama manusia.

Berdasarkan kajian Pustaka dan kerangka teoritik di atas, maka penulis menjabarkn bahwa yang Mencakup Nilai-nilai Pendidikan islam adalah

1. Aqidah

a. Iman Kepada Allah(Tuhan) 1) Berserah diri kepada Allah 2) Ikhlas

b. Iman Kepada Qodho dan Qodar c. Iman Kepada Sifat-sifat Allah 2. Pendidikan Akhlak (Budi Pekerti)

a. Akhlak Mahmudah (Terpuji) 1) Istiqomah

2) Menjalin Silaturrhaim

3) Pantang Menyerah (Kerja Keras) 4) Sabar

5) Jujur

6) Fastabqul Khoirot 7) Belajar

8) Toleransi

9) Berprasangka Baik (Khusnudzan) b. Akhlak Madzmumah (Tercela)

1) Mencuri 2) Menipu

3) Berprasangka Buruk 4) Menyuap

3. Nilai-nilai Ibadah

a. Ibadah Vertikal Kepada Allah (Habluminallah) b. Ibadah Horizontal kepada sesama manusia. E. PENGERTIAN FILM

1. Pengertian Film

Film atau bisa disebut Sinema, berasal dari kata serapan bahasa Inggris Cinematography yang memiliki arti “gambar”. Sinematografi dapat diartikan sebagai seni dan teknologi dari fotografi yang bergerak.

xlvii

Sinematografi bisa juga diartikan sebagai bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide atau cerita tertentu (Endra I & Laelasari 2011:1).

Negara telah mengatur dalam UU no. 33 tahun 2009 tentang perfilman yang mendefinisikan film adalah sebuah karya seni budaya yang merupakan suatu pranata sosial media komunikasi massa yang dibuat berdasar atas kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara yang dapat dipertunjukkan. Sedangkan menurut Anwar Arifin, film adalah alat komunikasi massa yang memindahkan lambang-lambang komunikasinya dalam bentuk bayangan-bayangan hidup diatas sebuah layar putih (1982:28).

2. Fungsi Film

Diawal kemunculannya film hanya dianggap sebagai hiburan yang lebih sering menonjolkan sisi humor dan sisi erotisme yang memiliki nilai jual untuk dikomersilkan. Seiring kemajuan teknologi dan berkembangnya pola pikir masyarakat, ternyata film juga mempunyai fungsi lebih dari itu. Film dengan kemampuan visualnya yang didukung dengan audio yang khas, sangat efektif sebagai media hiburan yang tidak membosankan. Ia bisa diputar berulangkali pada tempat dan khalayak yang berbeda.

Hal ini sejalan dengan pendapat Onong Uchjana Effendy (2003:226) yang mengungkapkan pendapat. Bahwa fungsi film adalah sebagai media hiburan, pendidikan dan penerangan. Sedangkan menurut

Hafied Cangara, dalam film terkandung berbagai macam fungsi yang antara lain fungsi informatif maupun edukatif, bahkan persuasif (2004:126). Film nasional juga bisa digunakan untuk pengkaderan sekaligus “character building” untuk membentuk generasi yang unggul dan berjiwa nasionalisme tinggi.

Pendapat dari para pakar tersebut seolah ingin menujukkan bahwa fungsi film yang sangat penting dan merupakan sarana yang sangat efektif untuk mendidik, apabila dibuat dengan benar dan sesuai undang-undang serta tidak menyalahi norma-norma yang ada.

3. Unsur-Unsur Film

Film merupakan hasil karya bersama atau hasil kerja kolektif. Dengan kata lain, proses pembuatan film pasti melibatkan kerja sejumlah unsur atau profesi. Unsur-unsur yang dominan di dalam proses pembuatan film antaralain:

a. Produser

Unsur paling utama (tertinggi) dalam suatu tim kerja produksi atau pembuatan film adalah produser. Karena produserlah yang menyandang atau mempersiapkan dana yang dipergunakan untuk pembiayaan produksi film. Produser merupakan pihak yang bertanggungjawab terhadap berbagai hal yang diperlukan dalam proses pembuatan film. Selain dana, ide atau gagasan, produser juga harus menyediakan naskah yang akan difilmkan, serta sejumlah hal lainnya yang diperlukan dalam kaitan proses produksi film.

xlix b. Sutradara

Sutradara merupakan pihak atau orang yang paling bertanggungjawab terhadap proses pembuatan film di luar hal-hal yang berkaitan dengan dana dan properti lainnya. Karena itu biasanya sutradara menempati posisi sebagai “orang penting kedua” di dalam suatu tim kerja produksi film. Di dalam proses pembuatan film, sutradara bertugas mengarahkan seluruh alur dan proses pemindahan suatu cerita atau informasi dari naskah skenario ke dalam aktivitas produksi.

c. Penulis Skenario

Skenario film adalah naskah cerita film yang ditulis dengan berpegang pada standar atau aturan-aturan tertentu. Skenario atau naskah cerita

Dokumen terkait