• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Pendidikan

3. Nilai Pendidikan Islam

Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ideal, bukan benda kongkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empiris melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi. Nilai-nilai adalah banyaknya isi, kadar, mutu, atau esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia (Toha, 1996: 62).

Sedangkan Pendapat EM. Kaswardi (1993) menyebutkan nilai adalah realitas abstrak yang merupakan prinsip-prinsip yang menjadi pedoman hidup seseorang, Nilai merupakan daya pendorong dalam hidup, yang memberi makna dan pengabsahan pada tindakan seseorang. Nilai mempunyai dua segi intelektual dan emosional, kombinasi kedua dimensi tersebut menentukan sesuatu nilai beserta fungsinya dalam kehidupan. Bila dalam pemberian makna dan pengabsahan terhadap suatu tindakan, unsur emosionalnya kecil sekali, sementara unsur intelektualnya lebih dominan, kombinasi tersebut disebut norma/prinsip. Norma-norma/prinsip-prinsip

seperti keimanan, keadilan persaudaraan dan sebagainya baru menjadi nilai-nilai apabila dilaksanakan dalam pola tingkahlaku dan pola pemikiran suatu kelompok. Sehingga menjadi norma bersifat universal dan absolut, juga menjadi nilai-nilai bersifat khusus dan relatif bagi masing-masing kelompok.

Sedangkan yang dimaksud dengan sistem nilai menurut (M. Arifin 2014 :139) adalah keseluruhan tatanan yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang satu sama lain saling mempengaruhi atau bekerja dalam satu kesatuan, keterpaduan, bulat yang berorientasi kepada nilai. Kutipan M. Arifin dari Sayyid Abu al-A'la al-Maududi yang menyebutkan ciri utama sistem nilai dalam pendidikan Islam, yaitu: Keridha’an Allah merupakan

tujuan utama hidup seorang muslim yang bertakwa, Ditegakkan nilai-nilai Islami berkuasa penuh atas segala aspek kehidupan menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang didasarkan atas norma-norma kebajikan dan jauh dari kejahatan.

Jadi, sistem nilai dalam pendidikan Islam berpusat pada sikap mencari ridha Allah, pengendalian hawa nafsu dan kemampuan berbuat kebajikan serta menjauhi perbuatan jahat. Suatu sistem nilai yang menyeluruh yang tidak hanya terkait dengan kehidupan pribadi dan sosial semata tapi juga memberikan arah untuk berinteraksi dengan Tuhannya.

Secara filosofis, dalam konteks pendidikan Islam, nilai sangat terkait dengan masalah etika, Etika juga sering disebut sebagai filsafat Nilai, yang

31

mengkaji nilai-nilai moral sebagai tolak ukur tindakan dan prilaku manusia dalam berbagai aspek kehidupannya, sumber-sumber etika dan moral bisa merupakan hasil pemikiran, adat istiadat atau tradisi, idiologi dari agama yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw (Al Munawar, 2005 : 3).

Maka dari ulasan di atas membangunkan ghiroh peneliti untuk mencoba memperdalam dan meperluas pengetahuan peneliti dengan meneliti hadis yang membahas tentang belajar dan mengajar Al Qur’an lewat mengetahui nilai – nilai yang penting di dalamnya.

Dengan mencoba mengembangkan ulumul Qur’an dalam tantangan modernitas sebagai wahyu Allah swt yang di turunkan kepada nabi Muhannad saw, yang sampai sekarang di yakini orisinalitasnya, proses diturunkanya yang berbeda dengan kitab Allah yang lain yaitu secara berangsur – angsur, yang di sertai dengan asbabun nuzul. Walaupun pemahamanya lewat pemaknaanya terkadang berbeda antara satu sahabat Nabi dengan sahabat lainya.

Dengan pentingnya memahami isi dan maksud yang ada dalam Al-Qur’an maka manusia harus mendampingi perjalanan hidupnya dengan belajar Al-Qur’an mengajarkanya, dengan otomatis belajar ulumul quran dan disertai ulumul hadis, sehingga manusia bisa tahu semakin sadar manfa’at dan bimbimbingan Al-Qur’an dan Al-hadits.

masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal yang dianggap buruk atau salah (kbbi.web). Nilai cenderung tidak dapat disentuh oleh pancaindera namun gejala-gejala yang dihasilkannya dapat ditangkap, baik itu yang terwujud dalam sesuatu ataupun tingkah laku yang mengandung nilai tersebut. Nilai seringkali dianggap sebagai sesuatu yang penting bagi seseorang dalam kehidupannya, karena nilai sendiri merupakan kepercayaan yang dijadikan pijakan manusia dalam tindakannya. Menyeleksi atau memilih aktivitas berdasarkan nilai yang dipercayainya, sehingga erat kaitannya dengan penghayatan dan apa yang dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh seseorang tersebut.

Sebagian pemikir mengemukakan bahwa ada nilai lahir dari pandangan perorangan yang bersifat individualistik, dan ada juga yang berpendapat bahwa nilai dihasilkan dari pandangan masyarakat yang bersifat kolektif dan bertujuan untuk menuntun manusia secara individu maupun kelompok menuju masyarakat yang bermoral dan dinamis. Shihab (2016: 7) nemaparkan bahwa nilai dapat dibagi menjadi dua, yaitu Nilai Nisbi yang lebih bersifat relatif dan berubah-ubah dan Nilai Mutlak atau langgeng dan tetap.

Jika ditinjau dari aspek filosofis, nilai bersangkut paut dengan masalah etika. Oleh karena itu etika juga disebut sebagai filsafat nilai, yang mengkaji tentang nilai-nilai moral, dan sebagai ukurannya ialah tindakan manusia. Munawwar (2005: 3) berpendapat bahwa:

33

...sumber-sumber kajian ajaran moral itu sendiri bisa jadi hasil dari pemikiran manusia (adat istiadat atau budaya dan ideologi) yang mana dalam perkembangannya dapat mengalami kerapuhan. Sebab memang produk manusia yang bersifat lokal, relatif, dan cenderung berubahubah sesuai situasi dan kondisi. Lain dari itu ajaran moral bisa juga berasal dari Agama yang bersifat mutlak dan universal karena memang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Sementara dalam Islam, semua yang ada di muka bumi ini mengandung nilai-nilai yang telah diberikan Allah SWT terhadap ciptaan-Nya. Baik aspek etika maupun estetika. Mengingat manusia sebagai khalifatullah fil ardh, maka semua nilai tersebut haruslah mengacu pada etika. Jika dicermati tentang tujuan Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini adalah; pertama, “ ‘ibadatullah” baik sebagai individu maupun sosial. Firman Allah SWT. ⧫◆ →◼  ▪◆  ➔◆ 

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(Q.S. Adz-Dzariyat/51: 56)

Kedua, ialah “immarah al-ardh” merawat dan membangun bumi untuk menunjang kebutuhan hidupnya dan sebagai sarana ibadah untuk tujuan hidupnya, yaitu ”sa’adah al-darain” (Mahfudz, 1999, 158). Sebagaimana firman Allah SWT. ⧫ ⧫⧫  ☺◆ ❑➔➔◆ ◼⧫◆ ❑ ⧫⧫⧫◆   ◆❑◆ ◆

◆◆ ⧫ ◼  ⧫ ⬧ ⬧ ⧫  

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berparing dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sis-sia. Maha suci engkau, Maka periharalah Kami dari siksa neraka”. (Q.S. Ali Imron/ 3:191)

Kedua fungsi diatas memang berbeda, akan tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Manusia sebagai makhluk yang berakal, maka ketika orientasi akal hanya kepada kebesaran Allah, adalah suatu pencapaian kemurnian akal, sehingga manusia dapat disebut sebagai Ulul Albab. Mengutip pendapat Shihab (2016: 370) dalam tafsirnya Al Mishbah, yang dimaksud dengan Ulul Albab ialah Orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang merenungkan tentang fenomena alam raya sebagai bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasan Allah swt, bukan orang-orang yang diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut(kebimbangan), yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Untuk menjadi Khalifah Allah di muka bumi yang Ulul Albab, maka manusia harus mampu mencerna dan menghayati nilai-nilai yang ada pada semua ciptaan Allah SWT. Sebagaimana cuplikan pendapat Quraisy Shihab berikut:

…segala sesuatu yang ada dalam semesta ini tidak diciptakan sia-sia, masing-masing tentu mempunyai fungsi dan hikmah tersendiri. Ini merupakan isyarat-isyarat akan kebesaran Allah SWT, semua yang dititahkan-Nya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana dzikir dengan objek pikir yaitu makhluk-makhluk Allah dan fenomena alam (Shihab, 2016: 370).

35

Hakikat nilai dalam islam ialah sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi diri sendiri, sesama manusia dan alam serta senantiasa mendapatkan keridhaan dari Allah swt, yang dapat dijabarkan secara luas dalam konteks keislaman. Dalam tatanan nilai Muhmidayeli (2014: 58) berpendapat bahwa yang berada pada posisi tatanan nilai tertinggi adalah nilai Agama yang berasal dari Tuhan. Karena dengan nilai-nilai ini akan membantu manusia merealisasikan tujuan tertinggi, penyatuan dengan tatanan spiritual. Agar nilai-nilai tersebut berdaya guna, maka harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tentu dengan penuh keikhlasan dan kesadaran. Sehingga sampai pada Insan Kamil yaitu orang yang beriman dan bermoral (etika), yang juga mencakup di dalamnya keluasan ilmu yang dimilikinya dan kedalaman hatinya, sebagaimana tujuan penciptaan manusia oleh Allah swt.

Dari keterangan diatas dapat disimpulankan bahwa, pada dasarnya nilai merupakan akhlak, sedang akhlak itu sendiri merupakan ciri khas Islam untuk moral dan etika. Karena istilah nilai terkait dengan moral dan etika, maka antara moral, etika dan akhlak adalah satu kesatuan kata memiliki makna yang sama.

Dokumen terkait