• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Pendidikan Religius

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka (Halaman 27-33)

nilai pendidikan etika terselubung di seluruh permukaan cerita. Artinya, pembaca harus memahami keseluruhan cerita untuk dapat menemukan petuah pengarang tentang nilai moral atau etika.

3) Nilai Pendidikan Religius

Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah keberadaan sastra itu sendiri (Nurgiyantoro, 2005: 326). Nilai religius merupakan sudut yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta alam dan seisinya. Sesuatu yang berbau religius dapat berarti segala sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup. Manusia dalam kehidupan ini membutuhkan pegangan, dan pegangan yang paling bermakna adalah agama. Setiap agama unsur pokok yang selalu ada adalah masalah akidah, ibadah, dan akhlak. Akidah merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan keyakinan. Ibadah berkaitan erat dengan perilaku dan perbuatan manusia yang dutujukan kepada Tuhan. Unsur pokok yang terakhir yakni akhlak, berkaitan erat dengan moral manusia di dunia, termasuk tentang perilaku dan sikap manusia itu di dalam kahidupan bermasyarakat.

Karya sastra sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia tentunya tidak luput dari masalah agama. Mengingat bahwa setiap manusia seperti juga seorang pengarang karya sastra, membutuhkan agama sebagai pegangan hidupnya, seringkali bahkan selalu, karya sastra banyak dipengaruhi oleh unsur agama atau religi. Semi (1993: 22) mengatakan bahwa agama merupakan dorongan penciptaan sastra, sebagai sumber ilham, dan sekaligus pula sering membuat sastra bermuara kepadanya. Nilai religius merupakan sudut yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta alam dan seisinya. Sesuatu yang berbau religius dapat berarti segala sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Mangunwijaya (1995: 54) menyatakan bahwa religius adalah konsep keagamaan yang menyebabkan manusia bersikap religius. Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama dalam argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang kebesaran Tuhan dalam arti mutlak dan kebesaran manusia dalam arti relatif selaku makhluk. Berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan tidak akan terlepas dari apa yang

commit to user

35

dikenal manusia dengan agama. Agama merupakan pegangan hidup bagi manusia. Apapun yang ingin dilakukan manusia akan selalu kembali kepada derajatnya yang tidak lebih merupakan hamba Tuhan.

Dojosantosa (1999: 15) berpendapat bahwa dalam religius iman tumbuh dan berkembang melalui pengalaman demi pengalaman, tahap demi tahap acap kali tergantung pada tingkat perkembangan kesadaran manusia itu sendiri. Tugas utama manusia ialah mendewasakan imannya, yakni dengan terbuka terhadap kehadiran Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah keterbukaan vertikal dan horizontal. Keterbukaan vertikal dimaksudkan pada keterbukaan hati manusia terhadap eksistensi Allah sebagai dasar dan tujuan hidup manusia. Adapun hubungan horisontal adalah hubungan manusia dengan manusia. Hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan ditandai dengan adanya doa melalui agama yang dianut dan menyakini ajaran-ajaran agama tersebut. Hubungan horisontal antara manusia dengan manusia dapat terjalin dalam hubungan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial masyarakat. Orang yang menjalankan perintah agama dengan sungguh-sungguh akan berusaha menjauhi larangan dan menjalankan perintah agama. Dalam hal ini, moral seseorang yang beragama akan berbeda dengan moral orang yang tidak beragama. Oleh karena ada perasaan takut terhadap siksaan Allah di kemudian hari, orang yang beragama akan membatasi perbuatannya yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sastra tumbuh dari jiwa pengarangnya, karena tidak mungkin sastra memiliki dunianya sendiri tanpa sedikitpun dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup pengarangnya. Dengan demikian, jelas bahwa keberadaan unsur religius di dalam sebuah karya sastra adalah sesuatu yang secara otomatis hadir bersamaan dengan adanya karya sastra itu sendiri. Bertolak dari pendapat-pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa sastra dan agama, atau sastra dengan unsur religius adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat terutama karena sastra banyak berangkat dari pengalaman-penglaman religi pengarangnya. Dengan demikian, pada awal segala sastra tersebut adalah religius.

commit to user

36 4) Nilai Pendidikan Estetika

Salah satu fungsi sastra adalah fungsi estetika atau fungsi keindahan. Semi (1993: 56) menyatakan bahwa fungsi estetika sastra adalah penampilan karya sastra yang dapat memberi kenikmatan dan keindahan bagi pembacanya. Membaca karya sastra seringkali membuat tercengang pembaca karena mendapati untaian bahasa yang indah, bahkan untuk melukiskan sebuah kecelakaan yang tragis pun seorang pengarang sanggup menceritakannya dengan sangat manis dan mendalam maknanya.

Mujiyanto (1988: 132) berpendapat bahwa membaca karya sastra merupakan suatu kegiatan yang sarat dengan keindahan. Dengan membaca karya sastra, pembaca akan menemukan gaya bahasa yang indah, keberadaan diksi-diksi yang indah, irama dan nada yang indah, peristiwa yang indah, dan lain-lainnya termasuk peristiwa-peristiwa di dalam cerita yang dipulasnya dengan keindahan. Seorang pengarang dapat berkomunikasi dengan masyarakat menggunakan bahasa yang sesuai dengan alatnya, yaitu media tulis. Pengarang menggunakan media tulis sebagai alatnya, maka gaya bahasa yang dipergunakan adalah gaya bahasa dalam kalimat. Gaya bahasa adalah cara pengungkapan pikiran seseorang melalui bahasa secara khas yang dapat memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa penulis bahasa (Keraf, 2002: 13).

Dengan bahasa manusia dapat menuangkan ide-ide, pengetahuan, mengajak, menolak, menyampaikan pesan, memahami orang lain, dan sebagainya. Komunikasi dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan atau tindakan serangkaian unsur-unsur yang mengandung maksud dan tujuan (Tarigan, 1993: 8). Keestetisan karya sastra dapat dirasakan apabila karya itu mampu menghidupkan atau memperbarui pengetahuan pembaca, menuntunnya melihat berbagai kenyataan kehidupan, dan memberikan orientasi baru terhadap hal yang dimiliki. Selain itu, karya sastra tersebut mampu membangkitkan aspirasi pembaca untuk berpikir, berbuat lebih banyak, dan berkarya lebih baik bagi penyempurnaan kehidupan. Lebih lanjut, karya sastra juga mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, dan politik masa lalu yang berkaitan dengan peristiwa masa kini dan masa depan.

commit to user

37 4. Hakikat Materi Ajar

Pendidikan menurut Hamid (2007: 23) mempunyai dua konsep yang tidak dapat dipisahkan, yaitu belajar dan mengajar. Belajar menunjuk pada apa yang dilakukan seseorang sebagai penerima pelajaran (peserta didik), sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh seorang guru sebagai pengajar. Kegiatan belajar-mengajar ini di dalamnya terdapat beberapa unsur, salah satunya adalah adanya materi ajar.

a. Pengertian Materi Ajar

Widodo (2008: 40) berpendapat bahwa materi ajar yang baik harus dirancang dan ditulis sesuai kaidah instruksional, ini diperlukan karena materi ajar akan digunakan pendidik untuk membantu tugas mereka dalam proses belajar-mengajar. Hal ini senada dengan pendapat Winkel (1996: 261) bahwa materi ajar adalah suatu alat yang digunakan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan instruksional. Materi ajar diharapkan mampu membangkitkan motivasi belajar siswa. Lebih lanjut Winkel menjelaskan bahwa materi ajar bukan hanya mencakup data, kejadian dan relasi antara data, melainkan juga oleh pengolahan siswa.

Menurut Inoe (2008), materi ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Materi yang dimaksud itu berupa materi tertulis, maupun materi yang tidak tertulis. Materi ajar bertujuan untuk membantu siswa dalam mempelajari sesuatu. Guru dapat menyediakan berbagai jenis pilihan materi ajar agar lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran. Selain itu juga agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. Siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis, sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu dengan menggunakan materi ajar.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa materi ajar merupakan dasar atau pokok yang ada dalam proses belajar -mengajar. Materi ini akan disampaikan oleh guru/ pendidik ke peserta didik pada saat proses

commit to user

38

pembelajaran untuk mencapai tujuan intruksional dan dapat membangkitkan motivasi siswa.

b. Dasar Pemilihan Materi Ajar

Dalam pembelajaran sastra, guru/ pendidik terkadang menemui kesulitan dalam memilih dan memilah materi ajar yang sesuai dengan karakteristik siswanya. Oleh karena itu, seorang guru perlu memahami dasar-dasar pemilihan bahan atau materi ajar. Menurut Winkel (1996: 297), dasar pemilihan bahan atau materi ajar tersebut antara lain:

1) Materi atau bahan ajar harus relevan terhadap tujuan instruksional yang harus dicapai, yaitu dari segi isi maupun jenis perilaku yang dituntut siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

2) Materi atau bahan ajar harus sesuai dengan taraf kesulitannya dengan kemampuan siswa untuk menerima dan mengolah bahan itu.

3) Materi atau bahan ajar harus dapat menunjang motivasi siswa, antara lain karena relevan dengan pengalaman hidup sehari-hari siswa, sejauh hal itu mungkin.

4) Materi atau bahan ajar harus membantu untuk melibatkan diri secara aktif, baik dengan berpikir sendiri maupun dengan melakukan berbagai kegiatan.

5) Materi atau bahan ajar harus sesuai dengan prosedur didaktis yang diikuti. Misalnya, materi pelajaran akan lain bila guru menggunkan bentuk ceramah, dibandingkan dengan pelajaran bentuk diskusi kelompok.

6) Materi atau bahan pelajaran harus sesuai dengan media pelajaran yang tersedia.

Menurut Semi (2002: 13) bahwa dasar pemilihan bahan atau materi pelajaran sastra adalah sebagai berikut:

1) Bahan atau materi tersebut valid untuk mencapai tujuan pengajaran sastra.

commit to user

39

2) Bahan atau materi tersebut harus bermakna dan bermanfaat jika ditinjau dari kebutuhan peserta didik (kebutuhan pengembangan insting etis dan estetis, imajinasi, dan daya kritis).

3) Bahan atau materi tersebut harus menarik supaya dapat merangsang minat peserta didik.

4) Bahan atau materi tersebut berada dalam batas keterbacaan dan intelektual peserta didik. Artinya bahan tersebut dapat dipahami, ditanggapi, dan diproses peserta didik sehingga mereka merasa pengajaran sastra merupakan pengajaran yang menarik, bukan pengajaran yang berat.

5) Bahan atau materi berupa bacaan haruslah berupa karya sastra yang utuh, bukan sinopsisnya saja, karena karya sinopsis itu hanya berupa problem kehidupan tanpa diboboti nila-nilai estetika yang menjadi pokok atau inti karya sastra.

Rahmanto (1988: 27) juga menyebutkan aspek yang tidak boleh dilupakan dalam memilih bahan ajar sastra. Ketiga aspek tersebut adalah bahasa, latar belakang kebudayaan siswa dan kematangan jiwa (psikologi) siswa.

1) Bahasa

Penguasaan bahasa setiap peserta didik berbeda-beda. Pada hakikatnya, penguasaan bahasa ini tumbuh dan berkembang melalui tahapan-tahapan yang jelas. Berkaitan dengan pengajaran sastra, guru perlu mengetahui terlebih dahulu penguasaan bahasa anak didiknya, baru kemudian memilih bahan ajar yang sesuai. Selain itu, guru juga harus mampu mengembangkan penguasaan bahasa anak didiknya. Pemilihan materi ajar dalam hal kebahasaan ini dikatakan tepat jika pemilihan bahan tersebut didasarkan pada wawasan yang ilmiah. 2) Latar Belakang Budaya

Karya sastra yang diajarkan di kelas hendaknya dipilih yang sesuai dengan latar belakangnya siswa, dikenal dan akrab atau berasal dari lingkungan di sekitar siswa. Latar belakang budaya ini meliputi hampeir semua faktor kehidupan manusia dan lingkungannya, seperti geografi,

commit to user

40

sejarah, tipografi, iklim, mitologi, legenda, pekerjaan, kepercayaan, cara pikir, nilai-nilai masyarakat, moral, etika, dan sebagainya. Di samping itu, dalam memilih bahan ajar ini hendaknya memunculkan sesuatu yang erat hubungannya dengan kehidupan siswa agar siswa mampu untuk menghadirkan hal-hal yang tergambar dalam karya sastra tersebut secara nyata. Hal yang penting juga dalam pemilihan bahan ajar yang sesuai dengan latar belakang budaya ini adalah materi tentang kearifan budaya lokal. Budaya lokal tidak boleh terlupakan karena itu merupakan akar budaya bangsa, serta cerminan keadaan sosial dan budaya yang ada di sekitar siswa.

3) Psikologi (kematangan jiwa) siswa

Keadaan psikologi siswa sangat berpengaruh pada proses kegiatan belajarnya. Perkembangan psikologi ini didasarkan pada usia anak tersebut. Dalam pemilihan bahan ajar, guru hendaknya memperhatikan aspek ini karena berpengaruh terhadap minat dan keengganan siswa. Tahapan-tahapan dalam perkembangan psikologi siswa juga sangat berpengaruh terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan masalah yang dihadapi.

5. Hakikat Pembelajaran Apresiasi Sastra di SMA

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka (Halaman 27-33)

Dokumen terkait