• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. NILAI ANAK PEREMPUAN

IV.3. Nilai Psikologi Anak

IV.3.1.Anak perempuan dan anak laki-laki sebagai pembawa kebahagiaan Anak adalah karunia atau berkat yang diberikan oleh Tuhan. Dengan hadirnya anak maka lengkaplah kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Orangtua tidak akan merasa kesepian dan rumah akan semakin ramai dengan suara anak-anak. Orangtua memiliki suatu kepuasan bathin bila telah memiliki anak-anak. Para informan mengakui bila mereka tidak memiliki anak, maka suasana rumah tidak akan meriah tetapi hening seperti tak berpenghuni.

“Na lõ ndarono ba nomo ba hulõ lõ niha-niha ba nomo da’õ he naso niha satua. Naso ndraono so na’atõ sifawude ma tarongo li wa’igi ndraono” (Kutipan wawancara dengan Ina Eka/Rawati Gulõ).

Artinya:

“Bila tidak ada anak-anak dirumah, maka rumah tersebut seperti tak berpenghuni walaupun ada orangtua (orang dewasa). Bila ada anak-anak maka ada yang bermain-main dan kita akan mendengar canda tawa mereka”.

Anak laki-laki membawa suatu kelegaan dalam keluarga. Orangtua tidak akan merasa was-was dan pusing lagi dengan urusan penerus keturunan barulah mereka berkeinginan untuk memiliki anak perempuan. Anak adalah berkat dari

Tuhan, walaupun kelahiran anak tidak sesuai dengan jenis kelamin yang diharapkan harus diterima dan disyukuri.

Ama Etika Hia (Kalebi Hia) tidak memiliki anak perempuan dan memiliki empat orang anak laki-laki. Dia dan isterinya tidak terlalu khawatir karena tidak memiliki anak perempuan. Pekerjaan memasak, menyuci piring dan kain, menyapu rumah dan sebagainya harus dilakukan oleh anak laki-laki. Dapat diketahui bahwa orangtua lebih resah bila belum memiliki anak laki-laki dibanding belum memiliki anak perempuan.

Ibu adalah yang paling berperan dalam proses pengasuhan anak. Ia merawat dan memberi perhatian kepada anak dari sejak kecil hingga besar. Pada saat anak sudah cukup umur untuk ditinggalkan maka si ibu akan mencoba untuk bekerja di sawah atau di kebun. Anak akan diasuh oleh kakek neneknya bila masih hidup. Bila si anak (bayi) memiliki kakak yang telah berada di usia sekolah maka sang kakaklah yang akan merawatnya. Anak akan ikut dibawa oleh ibunya ke sawah bila tidak ada yang dapat diharapkan untuk menjaganya. Anak akan ditinggalkan di pondok, dan bila anak tersebut menangis barulah ibunya datang dan menenangkannya. Hal ini menyebabkan sang ibu tidak dapat bekerja dengan tenang dan efektif.

Anak dapat mengecewakan orangtua bila tidak dapat memenuhi harapan-harapan yang diberikan kepadanya. Adanya keinginan orangtua untuk menyekolahkan anaknya tetapi si anak tidak peduli terhadap pendidikannya. Anak juga dapat membuat orangtua kesal dan marah bila anak (anak laki-laki) tidak mau ikut bekerja. Anak lebih memilih untuk bermain-main atau bercerita di kedai bersama teman sebayanya. Ia hanya akan datang ke rumah untuk makan, mandi

dan tidur serta tidak peduli dengan keadaan di rumahnya. Menurut para informan, anak laki-laki lebih diutamakan untuk sekolah tetapi bila anak laki-laki sudah tidak dapat diharapkan lagi barulah anak perempuan memiliki kesempatan untuk dapat disekolahkan.

Orangtua memiliki beban moral terhadap anak perempuannya. Anak perempuan selalu dijaga dan tetap diawasi. Hal ini membuat anak perempuan tidak bebas berpergian kemana saja. Orangtua tidak menginginkan terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap anaknya, misalnya hamil di luar nikah. Hamil di luar nikah merupakan aib bagi keluarga dan mencoreng nama baik orangtua. Orangtua akan merasa sangat malu bila anak perempuannya mengalami hal tersebut.

Mahar untuk anak perempuan yang telah hamil di luar nikah berbeda dengan mahar anak perempuan yang masih perawan. Mahar akan dikurangi bagi yang telah hamil diluar nikah, mahar ini disebut bõwõ si lõ usõ-usõ. Mahar untuk

anak perempuan pada tingkatan yang kesepuluh bagian ayanina adalah 10 x 4

alisi babi (nilainya sama dengan dua setengah pon emas) akan hilang setengah pon atau tinggal menjadi dua pon emas saja. Selain itu, babi yang digunakan

untuk pesta tinggal 2 x 4 alisi babi dan untuk tarawatõ hanya 4 alisi babi.

Perempuan yang telah hamil di luar nikah bila diantar ke rumah suaminya (acara famasao) tidak akan ditandu dan diantar pada waktu malam hari. Hal ini merupakan hukuman bagi orangtua dan anak perempuan tersebut. Anak perempuan yang dapat menikah secara baik-baik (tidak hamil di luar nikah) membuat orangtua bahagia. Orangtua juga telah memenuhi tanggungjawabnya untuk merawat dan menjaga anaknya.

Penelitian di Indonesia menurut Darroch menunjukkan bahwa nilai-nilai non ekonomi dari anak adalah sangat penting dan aspek ini perlu diperhatikan (Singarimbun,1996:67). Oleh karena itu, nilai sosial dan psikologi anak perlu diperhatikan. Nilai sosial anak sangat berpengaruh terhadap nilai psikologis anak. Anak laki-laki dianggap sebagai penerus keturunan sehingga orangtua tidak akan pernah merasa tenang bila belum memiliki anak laki-laki. Akibatnya, jumlah anak akan semakin banyak dan biaya yang diperlukan semakin besar. Orangtua akan merasa puas bila penerus keturunannya telah ada sehingga anak yang paling sering diangkat untuk dijadikan/dianggap anak kandung adalah anak laki-laki.

IV.3.2.Anak sebagai tumpuan harapan orangtua dan tempat bernaung di hari tua

Anak merupakan tumpuan harapan orangtua di masa yang akan datang. Anak diharapkan dapat membalas jasa-jasa orang tuanya bila sudah tua dan sakit-sakitan. Pada masa ini sangat diharapkan uluran tangan dari anak-anak terhadap orangtua.

Anak sebagai penerus keturunan diharapkan dapat menjadi pengganti orangtua. Ia diajarkan untuk selalu berbudi pekerti yang baik dan sopan. Kadangkala tingkah anak-anak membuat orangtua kesal dan jengkel bila kerjaan si anak hanya duduk dan santai-santai saja. Anak yang berhasil selalu membuat bangga orang tuanya.

Anak Ama Etika Hia telah kuliah dan telah bekerja di Jakarta. Anak-anak yang lainnya kemudian mengikuti jejak kakaknya ke Jakarta. Mereka dibiayai dan dikuliahkan oleh anak yang sulung sehingga,Ama Etika tidak lagi memiliki beban

untuk membiayai anak-anaknya. Ia sangat senang dan bangga bila semua anaknya dapat menyandang gelar sarjana.

Anak perempuan juga dapat membantu pendidikan adik-adiknya. Masajati Hia hanya sekolah sampai kelas 2 SD. Ia berhenti sekolah karena tidak ada yang membantu orang tuanya dan menjaga adik-adiknya yang masih kecil. Sejak saat itu, ia sudah mulai membiasakan diri untuk bekerja di sawah atau di kebun. Adik-adiknya yang berjumlah empat orang telah lulus SLTA bahkan ada yang lulus D2 (Universitas Terbuka). Ia sepertinya sudah pasrah terhadap apa yang dijalaninya selama ini. Hal ini tersirat dari hasil wawancara yang dilakukan penulis dengannya:

“Hewisa wolau nasa, na lõ tahalõwõigõ ba haniha nasa sobambaya. Wara labiarkõ manõ simane da’õ, ya’e waebua biaya soguna da’a ba ya’e gõi biaya sekola. Fatua abõlõ ita ba tahalõwõiõ manõ”.

Artinya:

“Mau bagaimana lagi, kalau tidak dikerjakan siapa yang diharapkan untuk mengerjakannya. Hal itu tidak mungkin dibiarkan saja karena besarnya biaya hidup/kebutuhan dan biaya sekolah (untuk adik-adiknya). Selagi kita masih kuat, ya dikerjakan saja”.

Anak laki-laki sangat diharapkan sebagai tempat bernaung di hari tua. Anak bertanggung jawab untuk merawat orang tuanya. Anak perempuan yang belum menikah akan ikut menjaga dan merawat orang tuanya. Anak perempuan yang telah menikah tidak ikut merawat karena ia berada di rumah suaminya. Ia hanya akan datang sesekali untuk menjenguk orang tuanya.

Orangtua yang telah lanjut usia akan tinggal di rumah anaknya laki-laki yang sulung. Bila anak sulungnya berdomisili di tempat lain, maka ia akan tinggal di rumah anaknya yang masih tinggal di Desa Sisobambowo. Suatu waktu,

orangtua akan diajak tinggal di rumah anaknya yang lain. Orangtua ikut mengasuh cucunya yang masih kecil karena anaknya sibuk bekerja, ia ikut bertanggungjawab untuk mengasuh cucunya.

Keadaan ini disebabkan oleh garis keturunan patrilineal pada masyarakat Nias. Anak laki-laki adalah penerus keturunan dan anak perempuan sebagai pengembang hubungan keluarga. Anak perempuan akan keluar dari keluarga bila telah menikah sehingga anak laki-laki yang diharapkan sebagai tempat bernaung dihari tua.

Dokumen terkait