IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil
Analisis nilai tambah proses pemotongan sapi potong dapat dilakukan dengan melalui perhitungan nilai tambah per kilogram bahan baku berupa karkas untuk satu ekor sapi potong hidup yang menghasilkan daging sapi. Nilai tambah
penelitian ini dilakukan pada dua peternakan sapi, yaitu peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot.
a. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi rakyat
Nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi rakyat hanya dihitung pada tingkat pedagang kecil. Hal ini dikarenakan perubahan fisik dari sapi potong hidup menjadi karkas dan kemudian menjadi daging sapi hanya tejadi pada tingkat pedagang kecil. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi rakyat dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12 menunjukan perhitungan nilai tambah yang diperoleh dari data penjualan pedagang kecil selama tiga bulan terakhir terhitung mulai dari Bulan September- November 2016. Data tersebut menunjukan bahwa hasil produksi/output daging sapi membutuhkan bahan baku karkas sapi sebesar 163,20 kg per ekor. Bahan baku berupa karkas sapi sebesar 163,20 kg digunakan untuk menghasilkan daging sapi sebanyak 122,40 kg, dengan harga karkas sapi rata-rata sebesar Rp 59.002,17,-/kg dan harga jual daging sapi rata-rata sebesar Rp 104.000,-.
Faktor konversi dalam perhitungan nilai tambah ini adalah 0,75 kg, artinya setiap 1 kg karkas sapi akan menghasilkan 0,75 kg daging sapi. Faktor konversi ditentukan oleh jumlah output. Semakin banyak jumlah output yang diperoleh dari input maka faktor konversi yang didapat akan semakin besar, karena semakin besar jumlah faktor konversi yang diperoleh maka akan semakin besar nilai tambah yang diciptakan dari suatu produk.
Tabel 12. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi rakyat
Output, Input, Harga Nilai
Output (kg/ekor) 122.40
Input (kg/ekor) 163.20
Tenaga kerja (HOK/ekor) 4.00
Faktor konversi 0.75
Koefisien tenaga kerja 0.02
Harga output (Rp/kg) 104,000.00
Upah rata-rata (RP/HOK) 49,166.67
Penerimaan dan keuntungan
Harga bahan baku (Rp/kg) 59,002.17
Harga input lain (Rp/kg) 144.27
Nilai Output (Rp/kg) 78,000.00
Nilai tambah (Rp/kg) 18,853.56
Rasio nilai tambah (%) 24.17
Pendapatan tenaga kerja (Rp/kg/HOK) 1,205.07
Pangsa tenaga kerja (%) 6.39
Keuntungan (Rp/kg) 17,648.49
Tingkat keuntungan (%) 93.61
Sumber: Lampiran 10 (data diolah), 2016
Tabel 12 menunjukan bahwa koefisien tenaga kerja sebesar 0,02. Hal tersebut berarti bahwa setiap 1 kg karkas dibutuhkan tenaga kerja sebesar 0,02 HOK. Harga input lain yang dikeluarkan untuk proses pemotongan daging sapi adalah sebesar Rp 144,27,- per kg. Hal ini menunjukan bahwa biaya input lain jauh lebih kecil dari pada biaya input pokok yang digunakan pada proses pemotongan sapi potong. Biaya input lain jenis penggunaannya adalah untuk biaya listrik, air, dan sewa lapak, retribusi pasar serta biaya pengemasan berupa kantong plastik.
Nilai output diperoleh dari perkalian antara faktor konversi dengan harga output sehingga diperoleh nilai output dari proses pemotongan sapi potong menjadi karkas dan kemudian menjadi daging sapi adalah sebesar Rp 78.000,00,-. Hal tersebut menunjukan bahwa setiap 1 kg karkas akan menghasilkan nilai output sebesar Rp
78.000,- per kg daging sapi. Nilai tambah diperoleh dengan mengurangkan nilai output dengan harga input lain dan harga bahan baku sebesar Rp 18.853,56-. Hal ini menunjukan bahwa setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi akan menciptakan nilai tambah sebesar Rp 18.853,56- per kg daging sapi. Rasio nilai tambah merupakan perbandingan antara nilai tambah dengan nilai produk. Rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 24,17 %. Hal ini menunjukan bahwa dalam setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi memberikan nilai tambah sebesar 24,17 % dari nilai produk.
Besar pendapatan tenaga kerja yang diterima untuk setiap kilogram daging sapi adalah sebesar Rp 1.205,07-. Pangsa tenaga kerja diperoleh dari persentase antara upah tenaga kerja terhadap nilai tambah. Bagian tenaga kerja pada proses pemotongan daging sapi menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi pada peternakan sapi rakyat adalah sebesar 6,39% dari output yang dihasilkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh dari proses pemotongan daging sapi menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi ini adalah Rp 17.648,49,- per kg dengan persentase tingkat keuntungan sebesar 93,61% dari nilai output.
b. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi komersial/feedlot
Seperti halnya peternakan sapi rakyat, nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi komersial/feedlot juga hanya dihitung pada tingkat pedagang kecil. Hal ini dikarenakan perubahan fisik dari sapi potong hidup menjadi karkas dan kemudian menjadi daging sapi hanya tejadi pada tingkat pedagang kecil. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi komersial/feedlot dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 menunjukan bahwa perhitungan nilai tambah diperoleh dari data penjualan pedagang kecil selama tiga bulan terakhir terhitung mulai dari Bulan September- November 2016. Data tersebut menunjukan bahwa hasil produksi/output daging sapi membutuhkan bahan baku karkas sapi sebesar 213 kg. Bahan baku berupa karkas sapi sebesar 213,00 kg digunakan untuk menghasilkan daging sapi sebanyak 160,00 kg, dengan harga karkas sapi rata-rata sebesar Rp 60.441,28,-/kg dan harga jual daging sapi rata-rata sebesar Rp 104.000,-.
Tabel 13. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi komersial/feedlot
Output, Input, Harga Nilai
Output (kg/ekor) 160.00
Input (kg/ekor) 213.00
Tenaga kerja (HOK/ekor) 4.00
Faktor konversi 0.75
Koefisien tenaga kerja 0.02
Harga output (Rp/kg) 104,000.00
Upah rata-rata (RP/HOK) 41,666.67
Penerimaan dan keuntungan
Harga bahan baku (Rp/kg) 60,441.28
Harga input lain (Rp/kg) 110.37
Nilai Output (Rp/kg) 78,122.07
Nilai tambah (Rp/kg) 17,570.42
Rasio nilai tambah (%) 22.49
Pendapatan tenaga kerja (Rp/kg/HOK) 782.47
Pangsa tenaga kerja (%) 4.45
Keuntungan (Rp/kg) 16,787.94
Tingkat keuntungan (%) 95.55
Sumber: Lampiran 11 (data diolah), 2016
Faktor konversi dalam perhitungan nilai tambah ini adalah 0,75 kg, artinya setiap 1 kg karkas sapi akan menghasilkan 0,75 kg daging sapi. Faktor konversi ditentukan oleh jumlah output. Semakin banyak jumlah output yang diperoleh dari input maka faktor konversi yang didapat akan semakin besar, karena semakin besar jumlah
faktor konversi yang diperoleh maka akan semakin besar nilai tambah yang diciptakan dari suatu produk.
Didalam proses pemotongan daging sapi menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi keseluruhannya menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi menggunakan tenaga kerja sebanyak empat orang dengan upah rata-rata Rp 41.666,67,-/orang. Masing-masing tenaga kerja dalam kegiatan produksi memiliki spesifikasi pekerjaan yang berbeda. Tenaga kerja A bertugas sebagai leader, tenaga kerja B bertugas sebagai pemotong daging dari tulang, memecahkan kepala dan membantu semua pekerjaan TK C dan TK D, tenaga kerja C bertugas sebagai pemotong daging/jeroan dll menjadi potongan kecil-kecil dan tenaga kerja D bertugas sebagai tukang asah pisau, menyiapkan meja sebelum dijual, mencuci jeroan dan pekerjaan kecil lainnya.
Tabel 13 menunjukan bahwa koefisien tenaga kerja sebesar 0,02. Hal tersebut berarti bahwa setiap 1 kg karkas dibutuhkan tenaga kerja sebesar 0,02 HOK. Harga input lain yang dikeluarkan untuk proses pemotongan daging sapi adalah sebesar Rp 110,37 per kg. Hal ini menunjukan bahwa biaya input lain jauh lebih kecil dari pada biaya input pokok yang digunakan pada proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi. Biaya input lain jenis penggunaannya adalah untuk biaya listrik, air, dan biaya pemasaran seperti penyusutan timbangan duduk dan timbangan gantung sewa lapak, retribusi pasar serta biaya pengemasan berupa kantong plastik.
Nilai output diperoleh dari perkalian antara faktor konversi dengan harga output sehingga diperoleh nilai output dari proses pengolahan karkas sapi menjadi daging
sapi adalah sebesar Rp 78.122,07-. Hal tersebut menunjukan bahwa setiap 1 kg karkas akan menghasilkan nilai output sebesar Rp 78.122,07- per kg. Nilai tambah diperoleh dengan mengurangkan nilai output dengan harga input lain dan harga bahan baku sebesar Rp 17.570,42,-. Hal ini menunjukan bahwa setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi akan menciptakan nilai tambah sebesar Rp 17.570,42- per kg. Rasio nilai tambah merupakan perbandingan antara nilai tambah dengan nilai produk. Rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 22,49 %. Hal ini menunjukan bahwa dalam setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi memberikan nilai tambah sebesar 22,49 % dari nilai produk.
Besar pendapatan tenaga kerja yang diterima untuk setiap kilogram daging sapi adalah sebesar Rp 782,47,-. Pangsa tenaga kerja diperoleh dari persentase antara upah tenaga kerja terhadap nilai tambah. Bagian tenaga kerja pada proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi pada peternakan sapi komersial adalah sebesar 4,45% dari output yang dihasilkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh dari proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi ini adalah Rp 16.787,94,- per kg dengan persentase tingkat keuntungan sebesar 95,55% dari nilai output.
4.5 Perbedaan marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi