I. PENDAHULUAN
1.1Latar belakang
Daging sapi merupakan salah satu komoditas pangan yang selama ini memberikan andil terhadap pemenuhan gizi masyarakat. Protein hewani sangat dibutuhkan dalam menopang pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Seiring meningkatnya perkembangan jumlah penduduk dan perbaikan taraf hidup penduduk di Indonesia maka permintaan produk-produk untuk pemenuhan gizi pun semakin meningkat, begitu pula dengan permintaan akan bahan pangan seperti permintaan protein hewani.
Peningkatan permintaan daging sapi di Indonesia dari tahun ketahun dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan pengetahuan penduduk terhadap pentingnya protein hewani, sehingga pola konsumsi juga berubah. Semula lebih banyak penduduk Indonesia mengkonsumsi karbohidrat namun saat ini sudah banyak yang mengkonsumsi daging, telur dan susu. Upaya pemenuhi kebutuhan protein dari ayam sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri akan tetapi susu dan daging sapi masih perlu impor.
distribusi/transportasi sapi dari sentra produksi ke konsumen, baik menyangkut persoalan transportasi kapal antar pulau maupun transportasi darat ikut memicu kenaikan harga daging sapi.
Badan Pusat Statistik Tahun 2015 menunjukan harga daging sapi di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2015 harga daging sapi mengalami kenaikan sebesar 12,12% dari tahun sebelumnya. Kenaikan harga daging sapi nasional 2011-2015 dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan harga daging sapi nasional tahun 2011-2015
Tahun Harga (Rp/Kg) Kenaikan (%)
2011 65,903
-2012 72,709 10,32
2013 86,963 20,42
2014 93,044 6,99
2015 104,326 12,12
Sumber: BPS, 2015 (Data diolah)
Data tersebut menunjukan bahwa harga daging sapi mengalami peningkatan yang cukup tinggi dengan kenaikan rata-rata sebesar 10% setiap tahunnya. Seiring dengan terus meningkatnya harga daging sapi, pendataan sapi potong Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah populasi sapi potong di Indonesia. Data populasi sapi potong nasional tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar 1.
Sumber: BPS, 2016 (Data diolah)
Data tersebut menunjukan bahwa populasi sapi potong tahun 2013 cenderung menurun dari tahun sebelumnya yakni menjadi 12,68 juta ekor. Sementara di tahun 2014-2015 kembali terjadi peningkatan jumlah populasi sapi potong. Hal ini dikarenakan pada tahun 2014-2015 izin impor sapi jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Tingginya izin impor yang diberikan bertujuan untuk memenuhi stok daging di awal tahun 2016 (Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemdag, 2015).
Seiring meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan daging sapi potong pun terus
mengalami peningkatan setiap tahun. Hal tersebut akan membawa dampak negatif
terhadap kemampuan produksi dan perkembangan populasinya. Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, Apfindo (Asosiasi Produsen Daging dan Feedloter Indonesia) serta Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada tahun 2014 dapat diketahui bahwa total produksi daging sapi tidak mampu mencukupi total konsumsi daging sapi. Data produksi, konsumsi dan selisih daging sapi potong nasional tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Produksi, konsumsi dan selisih daging sapi nasional tahun 2011-2015
Tahun Produksi (kg) Konsumsi (kg) Selisih (kg)
2011 485,335,000 450,726,000 34,608,999 Sumber: BPS dan Ditjen PKH, 2016 (Data diolah)
pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat. Upaya yang selama ini sudah dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan mengimpor sapi potong hidup dan daging sapi dari luar negeri serta terus melakukan peningkatkan produksi daging sapi dalam negeri.
Ditjen Peternakan 2015 menyatakan bahwa terdapat 10 provinsi yang menjadi sentra produksi daging sapi di Indonesia. Data tersebut menunjukan bahwa urutan pertama ditempati oleh Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Barat, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan urutan terakhir ditempati oleh Provinsi Lampung. Sentra produksi daging sapi nasional tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar 2.
Sumber: Ditjen Peternakan, 2015 (Data diolah)
Lampung karena memiliki populasi ternak sapi tertinggi. Data produksi daging sapi (kg) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Produksi daging sapi (kg) menurut Kabupaten/Kota Provinsi Lampung Tahun 2015
No Kabupaten/Kota Sapi Potong Persentase (%)
1 Lampung Barat 313,653 2.54
Sumber: BPS Provinsi Lampung, 2015 (Data diolah)
Data tersebut menunjukan bahwa tahun 2015 Kabupaten Lampung Tengah merupakan kabupaten yang memiliki produksi daging sapi terbesar. Produksi daging sapi yang tinggi di Kabupaten Lampung Tengah mencapai 2.432.987 kg atau senilai 19,72% dari seluruh produksi daging sapi di Provinsi Lampung. Produksi daging sapi di Kabupaten Lampung Tengah didukung dengan adanya peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot.
komersial/feedlot Kabupaten Lampung Tengah dan sekaligus menjadi produsen daging sapi potong adalah PT GGLC, PT Elders Indonesia, PT Santosa Agrindo, Peternakan Sapi H. Mat Aji serta KASA.
Tingginya produksi daging sapi di Kabupaten Lampung Tengah juga tidak lepas dari dukungan rumah potong hewan (RPH). Rumah potong hewan (RPH) memiliki peran penting dalam menyediakan produk daging sapi yang halal dan aman. Baik itu RPH milik perseorangan, pemerintah, swasta maupun milik perusahaan asing (PMA). Meskipun memiliki skala usaha tergolong sedikit, RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot turut memenuhi kebutuhan daging sapi di wilayah Lampung dengan memasok daging sapi ke beberapa wilayah di Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Tulang Bawang, Kota Metro dan Kota Bandar Lampung.
Sebagian pedagang besar dan kecil dari berbagai wilayah di Lampung melakukan kegiatan pemotongan sapi potong di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot. Kegiatan pemotongan sapi potong dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari biaya produksi. Adapun salah satu tujuan dari penggunaan biaya adalah untuk meningkatkan nilai tambah daging sapi. Dalam proses peningkatan nilai tambah daging sapi, terkadang terdapat ketidaktepatan penaksiran berat sapi hidup dengan output yang dihasilkan sehingga akan mempengaruhi besarnya marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi.
berbedaan terhadap marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi pada peternakan rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan analisis “Marjin Pemasaran dan Nilai Tambah Daging Sapi pada Peternakan Sapi Rakyat dan Peternakan Sapi Komersial/Feedlot Rumah Potong Hewan (RPH) PT Elders Indonesia Lampung Feedlot”.
1.2Perumusan masalah
Tingginya produksi daging sapi Kabupaten Lampung Tengah tidak terlepas dari dukungan peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung 2015 menyatakan bahwa tujuan produksi daging sapi yang dilakukan peternakan sapi rakyat (skala rumah tangga 1–3 ekor per rumah tangga) bukan untuk memproduksi daging melainkan sebagai sumber tenaga dan tabungan. Budidaya dan penyediaan pakan pada peternakan sapi rakyat pada umumnya dilakukan secara tradisional. Peternakan sapi rakyat di Kabupaten Lampung Tengah memiliki populasi sapi potong sebanyak 169.030 ekor, sedangkan peternakan sapi komersial/feedlot memiliki populasi sapi potong sebanyak 36.956 ekor. Data persentase populasi sapi potong berdasarkan peternakan sapi rakyat dan komersial Kabupaten Lampung Tengah tahun 2014-2015 dapat dilihat pada Gambar 3.
peternakan sapi rakyat tidak didukung dengan persentase karkas yang dihasilkan. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian berdasarkan survei karkas sapi dan kerbau tahun 2012 menyatakan bahwa peternakan sapi rakyat yang umumnya memiliki jenis sapi peranakan ongol (PO) dan sapi bali, hanya mampu menghasilkan karkas sebesar 30% dari bobot hidup. Persentase yang kecil tersebut dalam kenyataannya masih diminati oleh pedagang kecil untuk dilakukan proses pemotongan dan dijual dipasar tradisional setempat.
Gambar 3. Diagram populasi sapi potong
Selain peternakan sapi rakyat, peternakan sapi komersial/feedlot juga menjadi penyumbang produksi daging sapi di Kabupaten Lampung Tengah. Sama halnya dengan peternakan sapi rakyat, pedagang kecil juga dapat membeli sapi potong hidup pada peternakan sapi komersial/feedlot. Pedagang kecil yang ingin membeli sapi potong hidup pada peternakan komersial/feedlot harus melalui pedagang besar yang sudah bekerjasama dengan pihak perusahaan atau peternakan sapi komersial/feedlot.
Meskipun demikian, menurut Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung 2015 menyatakan bahwa jumlah populasi sapi potong pada peternakan sapi komersial/feedlot lebih sedikit dibandingkan dengan peternakan sapi rakyat, namun menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian berdasarkan survei karkas sapi dan kerbau tahun 2012 menyatakan bahwa peternakan sapi komersial/feedlot dengan jenis sapi Brahman X memiliki persentase karkas yang lebih besar dibandingkan dengan peternakan sapi rakyat yakni sebesar 45-52%. Dengan kondisi populasi yang sedikit, karkas sapi yang tinggi dan biaya pemeliharaan besar, maka sapi potong hidup pada peternakan sapi komersial/feedlot cenderung lebih mahal dibandikan dengan peternakan sapi rakyat.
melalui pedagang besar selanjutnya akan dibawa ke RPH yang sudah bekerjasama dengan peternakan komersial/feedlot tersebut. RPH yang bekerjasama dengan peternakan sapi komersial adalah RPH milik swasta dan perusahaan milik asing (PMA). Data rata-rata produksi daging sapi menurut RPH Lampung Tengah tahun 2014-2015 dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Rata-rata produksi daging sapi menurut RPH Lampung Tengah tahun 2014-2015
No Nama RPH Alamat Kepemilikan Status Kapasitas Produksi dalam satuan ribu (Kg/Per Tahun)
Presentase (%) 1 RPH Edward Kec. Terbanggi Besar Swasta Beroperasi 806.400 37,01 2 RPH Elders Kec. Gunung Sugih PMA Beroperasi 465.000 21,34 3 RPH GGLC Kec. Terbanggi Besar PMA Beroperasi 100.800 4,63 4 RPH Kab Lam-Teng Kec. Terbanggi Besar Pemerintah Tidak Beroperasi 0 0 5 RPH Santosa Agrindo Kec. Anak Tuha PMA Beroperasi 806.400 37,01
Total 2.178.600 100.00
Sumber: BPS Provinsi Lampung, 2015 (Data diolah)
Sebagian pedagang besar dan kecil dari berbagai wilayah di Lampung melakukan kegiatan pemotongan sapi potong di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot. RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot merupakan salah satu RPH perusahaan milik asing. RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot berlokasi di Jalan Lintas Sumatera Highway KM 52 Terbanggi Subing Gunung Sugih Lampung Tengah. Tahun 2015 RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot hanya memproduksi rata-rata 465.000 kg pertahun atau hanya sebesar 21,34% dari produksi daging sapi di Kabupaten Lampung Tengah.
Indonesia Lampung Feedlot turut memenuhi kebutuhan daging sapi di wilayah Lampung dengan memasok daging sapi ke beberapa wilayah di Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Tulang Bawang, Kota Metro dan Kota Bandar Lampung.
Kegiatan usaha pemotongan sapi potong merupakan usaha yang menjanjikan. Hal ini dikarenakan permintaan daging sapi setiap tahun terus mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah penduduk dan selera masyarakat. Nilai tambah kegiatan pemotongan sapi potong memiliki nilai tambah yang besar, hal ini menjadi pemicu persaingan antara pedagang besar dan kecil dalam memperoleh bahan baku berupa sapi potong hidup baik dari peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot dan pemasarannya.
Berdasarkan hal tersebut perlu diketahui ada atau tidaknya berbedaan terhadap marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot. Perumusan masalah dalam marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot adalah sebagai berikut:
1. Berapakah marjin pemasaran daging sapi pada saluran pemasaran peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot?
3. Apakah terdapat perbedaan marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot?
1.3 Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalis marjin pemasaran daging sapi pada saluran pemasaran peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot
2. Menganalisis nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot
3. a. Mengetahui perbedaan efisiensi marjin pemasaran daging sapi pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot
b. Mengetahui perbedaan nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot
1.4Kegunaan penelitian
1. Masyarakat dan pelaku kegiatan peternakan sapi, sebagai bahan masukan dalam melaksanakan kegiatan ekonomi.
3. Bagi penulis, sebagai sarana penambah wawasan mengenai marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi.
1.5 Ruang lingkup penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini membahas mengenai marjin pemasaran pada saluran pemasaran daging sapi yang terdiri dari pedagang besar dan pedagang kecil serta konsumen yang berasal dari peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot RPH PT Elders Lampung Feedlot
II. TINJUAUAN PUSTAKA
2.1 Daging sapi
Soeparno (1998) menyatakan bahwa daging sapi mempunyai warna merah, memiliki jumlah mioglobin pada veal sekitar 1 sampai 3 mg setiap gram ototnya, 4 sampai 10 mg untuk setiap gram beef dan 16 sampai 20 mg untuk setiap gram
beef yang lebih tua. Otot merah mengandung serabut merah. Daging sapi kurang empuk jika dibandingkan dengan keempukan daging domba atau babi. Hal ini disebabkan karena daging sapi mempunyai perototan yang lebih besar dan struktur yang lebih kasar. Veal mempunyai flavor yang lebih ringan daripada beef. Flavor dan aroma daging sapi yang dimasak hampir sama atau identik dengan daging domba atau babi.
2.2 Analisis margin pemasaran
Nurmalina (2011) menyatakan bahwa pemasaran merujuk pada sesuatu yang bersifat nyata dan abstrak (tangible and intangangible items). Secara konsep, pemasaran adalah sebuah proses dalam merencanakan dan melaksanakan konsepsi, harga, promosi dan distribusi dari gagasan-gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang dapat memberikan kepuasan tujuan individu dan organisasi. Levens (2010) menyatakan bahwa fungsi pemasaran dapat dikelompokan dalam tiga katagori yaitu:
1. Fungsi pertukaran, merupakan aktivitas-aktivitas untuk mempromosikan dan mentransfer kepemilikan. Contoh aktivitasnya antara lain penjualan, pembelian, harga, iklan, promosi penjualan, dan public relation.
2. Fungsi fisik, merupakan aktivitas untuk mengalirkan barang dari perusahaan (manufaktur) kepada konsumen. Contoh aktivitasnya antara lain perakitan, transportasi dan penanganan, pergudangan, pengolahan dan pengemasan, standarisasi dan grading.
3. Fungsi fasilitasi, merupakan aktivitas pendampingan dalam proses eksekusi fungsi pertukaran dan fungsi fisik. Contoh aktivitasnya antara lain pembiayaan dan pengambilan resiko, informasi pemasaran dan penelitian serta janji layanan.
banyak. Besarnya angka marjin pemasaran dapat menyebabkan bagian harga yang diterima oleh petani produsen semakin kecil dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen langsung petani, sehingga saluran pemasaran yang terjadi atau semakin panjang dapat dikatakan tidak efisien.
Asmarantaka (2013) menyatakan bahwa analisis marjin pemasaran dipergunakan untuk menganalisis sistem pemasaran perspektif makro, yaitu menganalisis pemasaran produk mulai dari petani produsen sampai ditangan konsumen akhir. Perbedaan marjin setiap sistem dapat disebabkan oleh perbedaan perlakuan atau penanganan produk sehingga terdapat perbedaan biaya dan kepuasan konsumen akhir. Selain itu, marjin pemasaran juga dapat dipergunakan untuk mengkaji sebaran harga yang dibayar konsumen akhir sampai kepada petani (farm-retail price spread). Dari perspektif mikro atau perusahaan tertentu, marjin pemasaran merupakan selisih harga jual dengan harga beli atau biaya-biaya dan keuntungan dari perusahaan tersebut akibat adanya aktvitas bisnis yang dilakukan perusahaan.
Marjin pemasaran (dari perspektif makro atau sistem pemasaran) menggambarkan kondisi pasar ditingkat lembaga-lembaga yang berbeda minimal ada dua tingkat pasar yaitu pasar ditingkat petani dan pasar ditingkat konsumen akhir. Asumsinya struktur pasar disetiap tingkat adalah pasar kompetitif (pasar persaingan sempurna). Sehingga kurva supply dan demand disetiap tingkat pasar mempunyai
slope yang sama dan jumlah transaksi disetiap tingkat pasar juga sama.
1. Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga ditingkat petani (Pf) dengan harga ditingkat konsumen akhir (Pr), yaitu MT = Pr – Pf. Pengertian ini hanya perbedaan harga tidak membuat perbedaan dengan quantity di pasar. Quantity
di petani dengan konsumen harus setara (equivalent), apabila produk tersebut sampai mengalami proses pengolahan. Pengertian ini merupakan pengertian statis.
2. Marjin pemasaran merupakan harga dari kumpulan jasa-jasa pemasaran, sebagai akibat adanya aktivitas produktif atau konsep nilai tambah (value added). Pengertian ini lebih tepat karena memberikan pengertian semua proses bisnis dari aliran pemasaran mulai dari petani produsen primer sampai ke tangan retailer atau konsumen akhir. Marjin pemasaran merupakan harga dari semua nilai guna, nilai tambah dan aktivitas fungsi penanganan yang dilakukan oleh perusahaan (lembaga pemasaran) dalam pemasaran produk agribisnis (pertanian). Konsumen membayar dua bentuk harga untuk pangan (agribisnis) yaitu harga produk dan harga marjin pemasaran. Harga yang dibayar oleh konsumen merupakan pembayaran untuk produk agribisnis dan atribut-atribut yang melekat pada produk tersebut. Misal pengemasan, distribusi dan fasilitas lainnya.
3. Nilai dari marjin pemasaran adalah value marketing margin = Pr – Pf. Sebagai balas jasa terhadap input-input pemasaran dapat berupa upah, bunga, sewa dan keuntungan atau dari aspek balas jasa terhadap kelembagaan pemasaran yaitu pedagang eceran, grosir, pengolah, pabrikan dan pengumpul. 4. Marjin pemasaran dapat diukur secara absolute dan persentase dari harga
(persentase) harga ditingkat konsumen akhir atau eksportir merupakan tujuan akhir sistem pemasaran yang dapat diamati adalah 100 persen (100%) dan harga ditingkat-tingkat lembaga lainnya dinyatakan dalam persentase relatif terhadap harga konsumen akhir tersebut. Secara teori marjin pemasaran dapat berubah atau tetap apabila volume produk dalam sistem pemasaran meningkat. Marjin pemasaran merupakan harga atau nilai dari kumpulan jasa-jasa pemasaran yaitu pengumpulan, pengolahan, transportasi dan penjualan eceran. Marjin antar produk berbeda karena fungsi atau jasa pemasaran yang dilakukan juga berbeda dan kepuasan konsumen juga berbeda.
2.3 Analisis nilai tambah
Hayami dkk (1987) menyatakan bahwa analisis nilai tambah pengolahan produk pertanian dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu melalui perhitungan nilai tambah per kilogram bahan baku untuk satu kali pengolahan yang menghasilkan produk tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tambah untuk pengolahan dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor teknis dan faktor pasar. Faktor teknis yang berpengaruh adalah kapasitas produksi, jumlah bahan baku yang digunakan dan tenaga kerja. Sedangkan faktor pasar yang berpengaruh ialah harga output, upah kerja, harga bahan baku, dan nilai input lain selain bahan baku dan tenaga kerja. Nilai input lain adalah nilai dari semua korbanan selain bahan baku dan tenaga kerja yang digunakan selama proses pengolahan berlangsung. Nilai ini mencakup biaya modal dan gaji pegawai tak langsung.
pengelola. Analisis nilai tambah hayami memperkirakan perubahan bahan baku setelah mendapatkan perlakuan. Analisis nilai tambah hayami mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dari metode hayami yaitu:
1. dapat diketahui besarnya nilai tambah dan output
2. dapat diketahui besarnya balas jasa terhadap pemilik faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja, modal, sumbangan input lain dan keuntungan
3. prinsip nilai tambah menurut Hayami dapat digunakan untuk subsistem lain selain pengolahan, seperti analisis nilai tambah pemasaran
Kelemahan dari metode Hayami yaitu:
1. pendekatan rata-rata tidak tepat jika diterapkan pada unit usaha yang menghasilkan banyak produk dari satu jenis bahan baku
2. tidak dapat menjelaskan nilai output produk sampingan
3. sulit menentukan pembanding yang dapat digunakan untuk menyatakan apakah balas jasa terhadap pemilik faktor produksi sudah layak atau belum
2.4 Efisiensi pemasaran
Asmarantaka (2013) menyatakan bahwa secara normatif, pemasaran yang efisien adalah struktur organisasi pasar persaingan sempurna. Tetapi struktur pasar ini secara realita tidak dapat ditemukan. Ukuran efesiensi adalah kepuasan dari konsumen, produsen maupun lembaga-lembaga yang terlibat dalam mengalirkan barang/jasa mulai dari petai sampai konsumen akhir.
1) menciptakan atau meningkatkan nilai tambah yang tinggi terhadap produk agribisnis
2) menghasilkan keuntungan bagi setiap lembaga pemasaran (perusahaan) yang terlibat sesuai dengan biaya yang dikeluarkan
3) biaya dan keuntungan yang terjadi relatif sesuai dengan fungsi-fungsi atau aktivitas bisnis yang meningkatkan kepuasan konsumen akhir
4) memberikan bagian yang diterima petani produsen (farmer’s share) yang relatif akan merangsang petani berproduksi ditingkat usahatani
Dengan demikian, proses pemasaran agribisnis yang efisien adalah yang memberikan kontribusi (share) yang adil, mulai dari petani, perusahaan, lembaga-lembaga pemasaran sesuai dengan biaya yang dikeluarkan dan kepuasan konsumen. Secara fakta di lapangan, pasar yang efisien adalah pasar yang kompetitif dengan indikator antara lain harus ada alternatif bagi konsumen maupun produsen (ada pilihan yang tersedia), ada insentif bagi pelaku-pelaku pasar untuk masuk pasar atau industri serta pangsa pasar relatif menyebar tidak terpusat pada satu atau beberapa perusahaan.
pemasaran yang efisien akan melibatkan pihak-pihak ketiga diluar pembeli dan penjual seperti kebijakan atau pengawasan pemerintah, lembaga-lembaga penelitian, penyuluhan dan keuangan serta perbaikan infrastruktur dan struktur pemasaran tersebut.
2.5 Kajian penelitian terdahulu
Hasil penelitian Butarbutar dkk (2014) mengenai analisis keuntungan pedagang pengecer daging sapi di pasar tradisional Kota Manado. Besarnya biaya operasional yang dikorbankan pedagang pengecer dalam aktivitas pemasaran daging sapi serta apakah aktivitas pedagang pengecer daging sapi memberikan keuntungan jika dibandingkan dengan tingkat suku bunga bank. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui berapa besar penggunaan biaya operasional pedagang pengecer dan berapa besar keuntungan yang diterima pedagang pengecer di pasar tradisional Kota Manado. Model analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif dan analisis matematika serta konsep rentabilitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa usaha pedagang pengecer daging sapi di pasar tradisional Kota Manado mampu memberikan keuntungan. Usaha ini secara keseluruhan mampu mencapai nilai rentabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berlaku.
Hasil penelitian Habibi dkk (2015) mengenai komparasi margin pemasaran dan nilai tambah ubi kayu antara petani non mitra dan petani mitra. Pola pemasaran usahatani ubikayu dapat dilakukan melalui pola kemitraan dan non kemitraan, yang
perlu dibandingkan perolehan keuntungannnya. Analisis nilai tambah digunakan
mitra lebih tinggi daripada kemitraan, farmer share dan nilai tambah lebih besar pada usahatani kemitraan.
Hasil penelitian Ishak dkk (2012) mengenai analisis nilai tambah, keuntungan dan titik impas pengolahan hasil rengginang ubi kayu (renggining) skala rumah tangga di Kota Bengkulu. Kegiatan produktif pengolahan renggining memerlukan berbagai input produksi seperti ubi kayu, bahan penunjang dan tenaga kerja. Kegiatan ini akan meningkatkan daya guna dari faktor produksi sehingga meningkatkan nilai tambah produk ubi kayu. Besarnya nilai tambah, tingkat keuntungan, dan titik impas dalam pengolahan renggining skala rumah tangga di Kota Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai tambah, tingkat keuntungan, dan titik impas dalam pengolahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah keuntungan dianalisis dengan R-C ratio, sedangkan analisis titik impas (BEP) dihitung untuk mengetahui BEP produksi dan BEP biaya serta analisis nilai tambah menggunakan metode hayami.
Hasil penelitian Sorga (2014) mengenai analisis komparasi nilai tambah dalam berbagai produk olahan kedelai pada industri rumah tangga di Kota Medan.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui proses pengolahan kedelai menjadi
tahu, pengolahan kedelai menjadi tempe, dan pengolahan kedelai menjadi susu
kedelai di daerah penelitian, (2) untuk menganalisis besarnya nilai tambah yang
diperoleh dari pengolahan kedelai menjadi tahu, pengolahan kedelai menjadi tempe,
dan pengolahan kedelai menjadi susu kedelai di daerah penelitian, dan (3) untuk
menganalisis perbandingan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan kedelai
menjadi tahu, pengolahan kedelai menjadi tempe, dan pengolahan kedelai menjadi
susu kedelai di daerah penelitian. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif,
untuk menghitung nilai tambah digunakan metode hayami, dan untuk
membandingkan nilai tambah digunakan metode friedman.
2.6 Kerangka pemikiran
potong antara PT Elders Indonesia Lampung Feedlot denga pedagang kecil. Selanjutnya sapi potong PT Elders Indonesia Lampung Feedlot akan dipotong di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot dan dijual pada pasar tradisional.
Selama proses perubahan sapi potong menjadi daging sapi terjadi fungsi pemasaran yaitu fungsi pertukaran dan fasilitasi pada tingkat pedagang besar. Fungsi pemasaran yang terjadi pada tingkat pedagang kecil yaitu fungsi pertukaran, fisik dan fasilitasi. Hal ini dikarena fungsi fisik yaitu perubahan sapi potong menjadi daging sapi terjadi pada tingkat pedagang kecil.
Adapun kelebihan pada peternakan sapi rakyat adalah adalah harga sapi potong hidup yang rendah karena peternakan sapi rakyat merupakan pekerjaan sampingan dan melakukan kegiatan pemeliharaan secara sederhana dengan menjadikan sapi potong sebagai tabungan atau hewan untuk dipekerjakan di lahan pertanian. Karena dibudidayakan dengan cara sederhana dan tanpa memperhatikan makanan dan kebutuhan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh sapi potong, maka sapi potong hidup pada peternakan rakyat memiliki persentase karkas yang rendah yakni hanya sebesar 30%. Persentase yang rendah inilah yang menjadi kekurangan dari peternakan sapi rakyat. Meskipun demikian, pembeli sapi potong hidup di peternakan sapi rakyat masih diminati. Menurut pendapat pedagang kecil selaku pembeli menyatakan bahwa keuntungan tetap dapat diperoleh karena rendahnya persentase karkas dapat ditutupi dengan harga beli sapi potong yang rendah.
komersial dibudidayakan dengan memperhatikan makanan dan kebutuhan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan sapi potong, sehingga biaya pemeliharaan pada peternakan sapi komersial/feedlot lebih tinggi daripada peternakan sapi rakyat. Dengan kondisi tersebut, peternakan sapi komersial/feedlot menawarkan harga sapi potong yang lebih tinggi daripada sapi potong peternakan sapi rakyat. Berlawanan dengan pendapat pedagang kecil selaku pembeli sapi potong hidup pada peternakan sapi rakyat, pedagang kecil selaku pembeli sapi potong hidup di peternakan sapi komersial/feedlot akan memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diharapkan pada persentase karkas yang tinggi meskipun harga sapi potong hidupnya cenderung mahal.
III. METODE PELAKSANAAN
3.1 Konsep dasar dan batasan operasional
Konsep dasar dan batasan operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.
1. Peternakan sapi rakyat adalah usaha peternakan rakyat yang dilakukan oleh rakyat antara lain petani disamping usahataninya.
2. Peternakan sapi komersial/feedlot adalah usaha peternakan sapi yang umumnya dilakukan oleh peternak yang memiliki modal besar serta menerapkan teknologi modern.
3. Rumah Potong Hewan (RPH) PT Elders Indonesia Lampung Feedlot adalah Rumah potong hewan yang dimiliki oleh PT Elders Indonesia Lampung Feedlot.
4. Rumah Potong Hewan (RPH) sederhana adalah Rumah Potong Hewan (RPH) yang dimiliki oleh perseorangan biasanya seorang pedagang kecil atau seorang jagal.
5. Pedagang besar adalah seseorang atau kelompok yang melakukan kegiatan jual beli sapi potong langsung dari PT Elders Indonesia Lampung Feedlot. 6. Pedagang kecil adalah seseorang atau kelompok yang melakukan kegiatan
rakyat dan melalui pedagang besar dari peternakan sapi komersial. Jenis sappi yang diperjualbelikan adalah sapi betina yang sudah tidak produktif dan sudah digemukan oleh petani/produsen sapi potong.
7. Konsumen adalah bagian terakhir dalam saluran pemasaran. Konsumen dibagi menjadi dua yaitu konsumen rumah tangga, konsumen rumah makan, usaha pembuatan bakso serta penyelenggara acara seperti resepsi pernikahan, khitanan, syukuran dan lain-lain.
8. Fungsi pemasaran adalah aktivitas yang dijalankan dalam usaha pemotongan sapi potong menjadi daging sapi dari peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial hingga sampai ke tangan konsumen akhir. Fungsi pemasaran terdiri dari fungsi pertukaran, fisik dan fasilitasi. Fungsi pertukaran meliputi kegiatan jual beli sapi potong ataupun daging sapi, tulang, kepala, babat, usus, kulit, hati, buntut, lemak dan kaki. Fungsi fisik meliputi kegiatan pengangkutan daging sapi dari rph ke pasar, pemotongan sapi potong menjadi daging sapi tujuan untuk memperoleh nilai tambah (value added). Fungsi fasilitasi meliputi kegiatan-kegiatan yang dapat membantu sistem pemasaran sapi potong dan daging sapi, fungsi fasilitasi terdiri dari informasi pasar mengenai perkembangan harga sapi dan daging sapi serta pembiayaan.
10. Biaya produksi proses pemotongan sapi potong pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot terdiri dari nilai bahan baku (karkas), penyusutan pisau, penyusutan asahan, penyusutan kampak, penyusutan terpal, penyusutan mobil pickup, biaya tenaga kerja, biaya operasional dan biaya listrik dan air.
11. Biaya tenaga kerja adalah biaya upah tenaga kerja A, B dan C serta biaya makan rokok tenaga kerja pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot.
12. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan oleh pedagang besar dan kecil mencakup biaya pulsa untuk berkomunikasi dan bahan bakar minyak untuk mobil pickup yang digunakan untuk berbelanjan sapi potong, mengangkut sapi potong hidup atau karkas sapi.
13. Biaya listrik dan air pada peternakan sapi rakyat adalah biaya yang dikeluarkan selama proses pemotongan sapi potong di RPH sederhana sampai kegiatan pemasaran di lapak pasar. Sedangkan biaya listrik dan air pada peternakan sapi komersial/feedlot adalah biaya yang dikeluarkan selama kegiatan pemasaran di lapak pasar.
15. Harga pokok produksi daging sapi (kg) pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial terdiri dari biaya bahan baku (karkas), biaya tenaga kerja, biaya penyusutan, biaya operasional dan biaya listrik dan air.
16. Marjin pemasaran daging sapi adalah selisih harga yang dibayarkan pembeli daging sapi dengan harga yang di terima oleh penjual sapi potong hidup.
17. Nilai tambah adalah proses pemotongan sapi potong melalui perhitungan nilai tambah perkilogram sapi potong hidup untuk satu kali pemotongan yang menghasilkan daging sapi, tulang, kepala, kulit, kaki dan jeroan.
18. Harga input lain pada nilai tambah tingkat pedagang kecil peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot terdiri dari biaya penyusutan pisau, penyusutan asahan, penyusutan kampak, penyusutan timbangan duduk, penyusutan timbangan gantung, biaya listrik dan air, biaya pembelian kantong plastik.
3.2 Lokasi penelitian, waktu penelitian dan pengambilan sample
Penelitian mengenai analisis margin pemasaran dan nilai tambah daging sapi dilaksanakan di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot Jalan Lintas Sumatera Highway KM 52 Terbanggi Subing Gunung Sugih Lampung Tengah pada Bulan November 2016. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa:
1. Kabupaten Lampung Tengah sentra produksi daging sapi di Provinsi Lampung.
Edward, RPH GGLC dan RPH Santosa Agrindo. Meskipun jumlah produksi daging di RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot masih tergolong sedikit dibandingkan RPH lain di Kabupaten Lampung Tengah, namun RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot turut memenuhi kebutuhan daging sapi di wilayah Lampung dengan memasok daging sapi ke beberapa wilayah di Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Tulang Bawang, Kota Metro dan Kota Bandar Lampung.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan snowball. Sugiyono (2001) menyatakan bahwa snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil namun kemudian jumlah sampel menjadi semakin banyak.
Snowball sampling merupakan salah satu metode dalam pengambilan sample dari suatu populasi. Snowball sampling ini adalah termasuk dalam teknik non-probability sampling (sample dengan probabilitas yang tidak sama). Metode pengambilan sample seperti ini khusus digunakan untuk data-data yang bersifat komunitas dari subjektif responden/sample.
Alasan melakukan metode pengambilan sampel ini karena populasi saluran pemasaran daging sapi dari peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot bersifat mengelompok. Dengan kata lain, snowball sampling
merupakan metode pengambilan sampel dengan secara berantai (multi level). Berikut saluran pemasaran peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot:
2. Peternakan sapi komersial/feedlot terdiri dari pedagang besar sebanyak 5 orang, pedagang kecil sebanyak 10 orang dan konsumen sebanyak 10 orang.
3.3 Metode pengumpulan data
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei dan pengamatan langsung. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan wawancara dengan responden melalui penggunaan kuisioner (pertanyaan). Data sekunder diperoleh dari perusahaan terkait laporan, publikasi dan pustaka lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.4 Metode analisis data
Metode pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode tabulasi dan komputerisasi. Data yang diperoleh disederhanakan dalam bentuk tabulasi yang selanjutnya akan diolah secara komputerisasi dengan program excel dan diinterpretasikan secara deskriptif terkait marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi. Analisis margin pemasaran dan nilai tambah pedagang kecil daging sapi pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
1. Analisis marjin pemasaran
Sutarno (2014) meyatakan bahwa secara matematis besarnya angka marjin pemasaran dapat dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut:
MP = Pr – Pf atau MP = ∑Bi + ∑Ki Keterangan:
MP = Marjin Pemasaran
Pr = Harga di tingkat pengeceran Pf = Harga ditingkat petani
2. Analisis nilai tambah
Hayami dkk (1987) menyatakan bahwa besarnya nilai tambah daging sapi dapat dihitung dengan menggunakan metode hayami. Prosedur perhitungan nilai tambah dengan metode hayami dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Prosedur perhitungan nilai tambah dengan metode hayami Output, Input, Harga
Output (kg/ekor) A
Input (kg/ekor) B
Tenaga kerja (HOK/ekor) C
Faktor konversi D=A/B
Koefisien tenaga kerja E=C/B
Harga output (Rp/kg) F
Upah rata-rata (RP/HOK) G
Penerimaan dan keuntungan
Harga bahan baku (Rp/kg) H
Harga input lain (Rp/kg) I
Nilai Output (Rp/kg) J=D*F
Nilai tambah (Rp/kg) K=J-H-I
Rasio nilai tambah (%) L=K/J*100
Pendapatan tenaga kerja (Rp/kg/HOK) M=E*G
Pangsa tenaga kerja (%) N=M/K*100
Keuntungan (Rp/kg) O=K-M
Tingkat keuntungan (%) P=O/K*100
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran umum perusahaan a. Lokasi dan tata letak perusahaan
PT Elders Indonesia terletak di KM 52 Jl. Trans Sumatera, Desa Terbanggi Subing, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah. Jarak dari jalan raya ke peternakan hanya 100 m yang menjadikan lokasi ini sangat strategis. Hal ini dikarenakan dapat memudahkan transportasi dalam penerimaan sapi impor dari pelabuhan Bakauheni, pengiriman produk ternak hidup maupun karkas, dan distribusi bahan baku serta kegiatan lainnya.
Peternakan ini dekat dengan pemukiman penduduk. Batas sebelah utara Desa Tulung Itik, sebelah timur berbatasan dengan Desa Terbanggi Subing, sebelah selatan Desa Gunung Sari, dan sebelah barat Desa Terbanggi Agung. Secara geografis PT Elders Indonesia terletak di 104035’-105050’ Bujur Timur dan 40 30’-4015’ Lintang Selatan dengan suhu 280 C sampai 300 C, kelembaban udara sekitar 76%, kecepatan angin 2 km/jam, dan curah hujan berkisar 50% atau 425 mm.
b. Sejarah dan perkembangan perusahaan
Bandung. Feedlot PT Elders Indonesia yang berada di Cikalong dipindahkan pada tahun 2005 ke Lampung Tengah dengan menyewa 3 kandang selama 3 tahun di PT Indojaya yang sebelumnya dimiliki oleh pihak Malaysia. Masa-masa krisis moneter yang dialami oleh PT Indojaya menyebabkan perusahaan tersebut memutuskan untuk menjual semua asetnya pada tahun 2008 kepada PT. Elders Indonesia yang pada saat itu juga PT. Indojaya resmi berganti nama menjadi PT Elders Indonesia.
PT. Elders Indonesia juga mempunyai rumah pemotongan hewan (RPH) yang berlokasi di tempat yang sama. RPH PT EI berdiri sejak tahun 2009 dengan jumlah kapasitas produksi berupa daging sapi sebanyak 1.000-1.400 kg perhari atau 5-7 ekor perhari. Pemotongan sapi dilakukan pada malam hari sehingga pemasaran daging dapat dilakukan pada pagi hari. Konsumen yang biasa melakukan pemotongan di RPH PT. Elders Indonesia berasal dari Bandar Lampung, Bandar Jaya, Kota Gajah, Natar dan Kota Metro.
Jumlah populasi awal ternak sapi yang dipelihara di feedlot PT Elders Indonesia saat awal berdiri yaitu 3.000 ekor dengan jenis ternak yang dipelihara yaitu Bull, Steer, Heifer, dan Cow. Bangsa sapi yang dipelihara di dalam PT. Elders Indonesia yaitu Brahman cross (BX). Seiring perkembangannya, pada saat ini tepatnya November 2016 populasi sapi yang yang dipelihara di feedlot PT Elders Indonesia mencapai 6.817 ekor dengan jenis ternak yang dipelihara yaitu Bull, Steer, Heifer, dan Cow.
c. Tujuan perusahaan
untuk memperoleh yang terbaik dari Elders sebagai perusahaan dalam memberikan manfaat kepada Indonesia dan peningkatan industri pedesaan di negara ini, dan saling mendukung peserta lokal, staff, dan masyarakat.
PT Elders Indonesia terdaftar sebagai anggota Asosiasi Produsen Daging Feedlot Indonesia (APFINDO) yang berfokus pada bidang perdagangan sapi potong. Kegiatan usaha PT Elders Indonesia adalah menggemukan sapi potong dengan maksud dan tujuan yaitu:
1. penggemukan sapi bakalan dengan bobot awal berkisar 270 - 350 kg dengan pemeliharaan selama 100 - 120 hari dan pertambahan bobot badan yang diinginkan minimal 1,5 kg/hari/ekor
2. menyediakan daging yang berkualitas baik untuk kebutuhan daging dalam negeri dan ekspor di masa yang akan datang
3. menyerap bahan baku pakan yang diproduksi oleh petani dan memanfaatkan limbah yang dihasilkan oleh industri lokal
4. menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat di sekitar perusahaan. d. Struktur organisasi
Struktur organisasi disusun dengan tujuan untuk membedakan hak dan kewajiban pegawai sesuai dengan fungsinya masing-masing disamping itu juga untuk membangun kordinasi yang baik antara pimpinan dan karyawan. PT Elders Indonesia dipimpin langsung oleh Presiden Direktur asal Australia dibawah itu terdapat manager feedlot sebagai pimpinan asal Indonesia, dan manager feedlot membawahi livestock supervisor, feedmill supervisor, maintenance supervisor,
4.2 Identitas responden
Identitas responden dapat diketahui dengan berbagai hal yang berhubungan dengan keadaan responden. Keadaan responden terdiri dari umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pengalaman usaha. Berikut disajikan informasi yang berhubungan dengan keadaan identitas reponden, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pengalaman usaha.
a. Umur responden
Umur responden dapat mempengaruhi pada kegiatan usaha dan produktivitas kerja. Umur produktif seseorang berkisar dari 25-45 tahun. Berdasarkan hasil penelitian dilapangan diperoleh data responden yang berkaitan dengan umur. Umur responden yang terdiri dari pedagang besar dan kecil berbeda-beda antara 30-52 tahun. Penelitian ini mengklasifikasikan umur responden berdasarkan kelompok umur 10 tahun. Tingkat umur pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Tingkat umur pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot
No Golongan umur (th) Jumlah Persentase (%)
1 25-35 2 13
2 36-45 7 47
3 46-55 6 40
Jumlah 15 100
Sumber: Data primer (diolah), 2016
produktif dibawah 50 tahun. Sehingga dalam menjalankan usaha pemasaran sapi/daging sapi responden memiliki produktifitas yang tinggi.
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin responden dapat mempengaruhi jumlah jam kerja dalam menjalankan usaha. Pekerja berjenis kelamin laki-laki akan bekerja selama 6-10 jam perhari. Berdasarkan data penelitian dilapangan diperoleh data responden yang berkaitan dengan jenis kelamin. Jenis kelamin responden yang terdiri dari pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot adalah 100% laki-laki. Sehingga dalam menjalankan usaha pemasaran sapi/daging sapi responden memiliki jumlah jam kerja lebih dari 6 jam perhari.
c. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan yang ditempuh oleh responden dapat mempengaruhi kreatifitas, daya serap dan mengikuti perkembangan teknologi yang lebih maju. Rendahnya pendidikan responden akan berpengaruh terhadap kemampuan memahami berbagai hal yang berkaitan dengan teknologi, terutama terkait kesadaran dan ketersediaan pedagang besar dan keci dalam menerima inovasi baru. Tingkat pendidikan pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Tingkat pendidikan pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat
Sumber: Data primer (diolah), 2016
d. Pengalaman usaha
Pengalama usaha menentukan keberhasilan usaha. Lamanya pengalaman yang dimiliki akan memahami berbagai hal yang berkaitan dengan sapi/daging sapi. Dengan pengalaman yang dimiliki diharapkan mampu mengelola dan meningkatkan hasil usaha dengan berbagai cara. Usaha pemasaran sapi/daging sapi yang dilakukan pedagang besar dan kecil melalui RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot baru berjalan selama 8 tahun. Sebelum melalui RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot, beberapa pedagang besar dan kecil sudah melakukan usaha pemasaran sapi/daging sapi di RPH lain di Kabupaten Lampung Tengah.
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan diperoleh data responden yang berkaitan dengan pengalaman usaha. Pengalaman usaha responden pedagang besar dan kecil berbeda-beda antara 1-8 tahun. Penelitian ini mengklasifikasikan pengalaman usaha responden berdasarkan kelompok umur 3 tahun. Pengalaman usaha pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Pengalaman usaha pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot
1 1 s/d 3 5 33
2 4 s/d 6 6 40
3 7 s/d 9 4 27
Jumlah 15 100
Sumber: Data primer (diolah), 2016
Tabel tersebut menunjukan bahwa 40% pengalaman usaha responden berada antara 4 s/d 6 tahun. Berdasarkan data tersebut menunjukan bahwa pengalaman usaha pedagang besar dan kecil pada peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot mampu mengelola dan meningkatkan hasil usaha dengan berbagai cara. Khususnya memperbaiki kelemahan-kelemahan yang telah ditemui dimasa lalu.
4.3 Marjin pemasaran daging sapi
Margin pemasaran merupakan selisih harga antara yang dibayarkan konsumen daging dengan harga yang diterima produsen atau peternak sapi potong. Perbedaan marjin setiap sistem dapat disebabkan oleh perbedaan perlakuan atau penanganan produk sehingga terdapat perbedaan biaya. Marjin pemasaran daging sapi pada penelitian ini dilakukan pada dua peternakan sapi, yaitu peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot.
a. Marjin pemasaran daging sapi pada peternakan sapi rakyat
Marjin pemasaran daging sapi dihitung mulai dari peternak sapi potong, pedagang kecil dan konsumen untuk peternakan sapi rakyat. Hasil analisis marjin pemasaran, harga, distribusi marjin, share harga dan rasio keuntungan dan biaya dalam pemasaran daging sapi pada peternakan sapi rakyat dapat dilihat pada tabel 9.
No Lembaga pemasaran dankomponen marjin Harga (Rp)
1 Harga jual peternak sapi 40.000,00 - 38,46
-2 Pedagang kecil - - 79,53 0,26
- Harga pokok produksi 82.709,45 - -
-- Biaya pemasaran (Rp/kg) 188,49 - -
-- Total Biaya 10.123.824,84 - -
-- Harga beli (Rp/kg) 40.000,00 - -
-- Harga jual (Rp/kg) 104.000,00 - -
-- Volume penjualan daging 122,40 - -
-- Keuntungan (Rp/kg) 21.102,06 - -
-- Marjin 21.290,55 100,00 -
-3 Konsumen - - -
-Harga beli 104.000,00 - -
-Total 21.290,55 - -
-Sumber: Lampiran 8 (data diolah), 2016
Tabel 9 menunjukan bahwa total marjin pada peternakan sapi rakyat adalah sebesar Rp 21.290,55,-. Asmarantaka (2013) menyatakan bahwa marjin pemasaran merupakan harga dari semua nilai guna, nilai tambah dan aktivitas fungsi penanganan yang dilakukan oleh perusahaan (lembaga pemasaran) dalam pemasaran produk agribisnis (pertanian). Konsumen membayar dua bentuk harga untuk daging sapi yaitu harga produk dan harga marjin pemasaran. Harga yang dibayar oleh konsumen merupakan pembayaran untuk daging sapi dan atribut-atribut yang melekat pada daging sapi, misal biaya perubahan dari sapi potong menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi serta biaya pemasaran daging sapi tersebut.
produk utama. Selain produk utama (main product), proses pemotongan sapi potong menjadi karkas juga menghasilkan produk gabungan (join product). Input dan output proses pemotongan sapi potong dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Input dan output proses pemotongan sapi potong
Input Output
Main product Join product
Sapi potong → karkas sapi Daging sapi 1 Tulang 2 Kepala
Tabel 9 menunjukan bahwa distribusi marjin yang diterima oleh pedagang kecil pada peternakan sapi rakyat adalah sebesar 100%. Hal ini dikarenakan pendeknya saluran pemasaran pada peternakan sapi rakyat, yaitu dari peternak ke pedagang kecil. Total keuntungan yang diterima oleh pedagang kecil adalah sebesar Rp 21.102,06,- per kg.
Rasio keuntungan dan biaya pada Tabel 9 menunjukan bahwa rasio keuntungan dan biaya sebesar 0,26 pada tingkat pedagang kecil. Hal ini dikarenakan biaya pemasaran dan produksi ditanggung oleh pedagang kecil. Data tersebut menunjukkan bahwa peternak sapi potong rata-rata menerima harga sebesar Rp 40.000,00,- perkg atau bagian harga yang diterima petani adalah 38,46% dari harga di tingkat konsumen akhir. Hal ini menunjukan harga yang diterima peternak sapi potong rasional sehingga peternak tidak dirugikan. Biaya pemasaran ditanggung oleh pedagang kecil sebesar Rp 188,49,- per kg daging sapi. Biaya pemasaran yang ditanggung oleh pedagan kecil meliputi biaya penyusutan timbangan duduk, penyusutan timbangan gantung, biaya tenaga kerja, biaya sewa lapak, biaya retribusi pasar dan biaya kantong plastik.
dalam saluran pemasaran peternakan sapi rakyat hanya pedagang kecil. Sehingga, yang memperoleh margin keuntungan hanya pedagang kecil.
Penjelasan-penjelasan tersebut menunjukan bahwa pemasaran daging sapi pada peternakan sapi rakyat adalah efisien karena beberapa alasan sebagai berikut: 1) menciptakan atau meningkatkan nilai tambah yang tinggi dari sapi potong
menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi
2) menghasilkan keuntungan bagi setiap lembaga pemasaran (pedagang kecil) yang terlibat sesuai dengan biaya yang dikeluarkan
3)biaya dan keuntungan yang terjadi relatif sesuai dengan fungsi-fungsi atau aktivitas bisnis yang meningkatkan kepuasan konsumen akhir
Tabel 9 menunjukan bahwa bagian yang tidak merata diterima petani (farmer’s share) yakni sebesar 38,46% dibandingkan dengan pedagang kecil sebesar 79,53%. Meskipun demikian, farmer’s share yang diterima petani dan pedagang kecil adalah sesuai dengan biaya yang dikeluarkan, Sehingga petani sapi rakyat tetap melakukan budidaya sapi potong. Hal ini dikarenakan beternak sapi yang dilakukan oleh masyarakat merupakan pekerjaan sampingan. Kegiatan pemeliharaan sapi rakyat dilakukan secara sederhana dengan menjadikan sapi potong sebagai tabungan atau hewan untuk dipekerjakan di lahan pertanian.
biaya dalam pemasaran daging sapi pada peternakan sapi komersial/feedlot dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Marjin harga, distribusi marjin, share harga dan rasio keuntungan dan biaya dalam pemasaran daging sapi pada peternakan sapi
komersial/feedlot
No Lembaga pemasaran dankomponen marjin Harga (Rp)
Marjin tersebut diperoleh dari rata-rata harga jual daging sapi ditingkat konsumen sebesar Rp 104.000,00,- dikurangi dengan harga pokok produksi daging sapi sebesar Rp 83.117,97,-. Sehingga total marjin pada peternakan sapi komersial/feedlot adalah sebesar Rp 21.572,03,-.
Asmarantaka (2013) menyatakan bahwa marjin pemasaran merupakan harga dari semua nilai guna, nilai tambah dan aktivitas fungsi penanganan yang dilakukan oleh perusahaan (lembaga pemasaran) dalam pemasaran produk agribisnis (pertanian). Konsumen membayar dua bentuk harga untuk daging sapi yaitu harga produk dan harga marjin pemasaran. Harga yang dibayar oleh konsumen merupakan pembayaran untuk daging sapi dan atribut-atribut yang melekat pada daging sapi, misal biaya perubahan dari sapi potong menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi serta biaya pemasaran daging sapi tersebut.
Harga pokok produksi digunakan karena adanya perubahan fisik dari sapi potong menjadi karkas dan kemudian menjadi daging sapi. Selama proses perubahan tersebut, pedagang kecil menanggung biaya produksi. Biaya produksi yang ditanggung oleh pedagang kecil terdiri dari biaya bahan baku berupa karkas, biaya upah tenaga kerja, biaya makan dan rokok tenaga kerja, biaya penyusutan alat pemotongan dan biaya operasional berupa transportasi. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi marjin pemasaran maka semakin rendah harga yang akan diterima oleh produsen.
dikarenakan pedagang besar tidak menanggung biaya produksi dan hanya menanggung biaya operasional. Sedangkan pedagang kecil menanggung biaya produksi dan biaya pemasaran yang jumlahnya jauh lebih besar daripada pedagang besar.
Rasio keuntungan dan biaya pada Tabel 11 menunjukan bahwa rasio keuntungan dan biaya terendah adalah pada tingkat pedagang besar yaitu sebesar 0,02. Hal ini dikarenakan pedagang besar menanggung biaya operasional. Rasio keuntungan dan biaya tertinggi adalah pada tingkat pedagang kecil yaitu sebesar 0,25. Hal ini dikarenakan pedagang kecil menanggung biaya produksi, biaya operasional dan biaya pemasaran. Tabel 11 menunjukkan bahwa produsen sapi potong rata-rata menerima harga sebesar Rp 41.300,00,- perkg atau bagian harga yang diterima petani adalah 41,44% dari harga di tingkat konsumen akhir. Hal ini menunjukan harga yang diterima peternak sapi potong rasional sehingga produsen sapi potong tidak dirugikan.
Penjelasan-penjelasan tersebut menunjukan bahwa pemasaran daging sapi pada peternakan sapi komersial/feedlot adalah efisien karena beberapa alasan sebagai berikut:
1) menciptakan atau meningkatkan nilai tambah yang tinggi dari sapi potong menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi
2) menghasilkan keuntungan bagi setiap lembaga pemasaran (pedagang kecil) yang terlibat sesuai dengan biaya yang dikeluarkan
3) biaya dan keuntungan yang terjadi relatif sesuai dengan fungsi-fungsi atau aktivitas bisnis yang meningkatkan kepuasan konsumen akhir
Tabel 11 menunjukan bahwa bagian yang tidak merata diterima produsen (farmer’s share) yakni hanya sebesar 41,44% dibandingkan dengan pedagang besar sebesar 98,29% dan pedagang kecil sebesar 79,98%. Namun pada kenyataannya peternakan sapi komersial/feedlot masih menjadi salah satu usaha yang menguntungkan dan banyak diminati oleh pengusaha-pengusaha di Indonesia khusunya Kabupaten Lampung Tengah. Hal ini dikarenakan penentuan keuntungan pada peternakan sapi komersial/feedlot terletak pada average daily gain (ADG) atau konsumsi rata-rata sapi perhari untuk menghasilkan keuntungan rata-rata harian di kalikan ribuan ekor sapi pada peternakan sapi komersial/feedlot, dan bukan pada farmer’s share
produsen berdasarkan mergin pemasaran.
4.4 Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil
penelitian ini dilakukan pada dua peternakan sapi, yaitu peternakan sapi rakyat dan peternakan sapi komersial/feedlot.
a. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi rakyat
Nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi rakyat hanya dihitung pada tingkat pedagang kecil. Hal ini dikarenakan perubahan fisik dari sapi potong hidup menjadi karkas dan kemudian menjadi daging sapi hanya tejadi pada tingkat pedagang kecil. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi rakyat dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12 menunjukan perhitungan nilai tambah yang diperoleh dari data penjualan pedagang kecil selama tiga bulan terakhir terhitung mulai dari Bulan September-November 2016. Data tersebut menunjukan bahwa hasil produksi/output daging sapi membutuhkan bahan baku karkas sapi sebesar 163,20 kg per ekor. Bahan baku berupa karkas sapi sebesar 163,20 kg digunakan untuk menghasilkan daging sapi sebanyak 122,40 kg, dengan harga karkas sapi rata-rata sebesar Rp 59.002,17,-/kg dan harga jual daging sapi rata-rata sebesar Rp 104.000,-.
Tabel 12. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi
Harga output (Rp/kg) 104,000.00
Upah rata-rata (RP/HOK) 49,166.67 berarti bahwa setiap 1 kg karkas dibutuhkan tenaga kerja sebesar 0,02 HOK. Harga input lain yang dikeluarkan untuk proses pemotongan daging sapi adalah sebesar Rp 144,27,- per kg. Hal ini menunjukan bahwa biaya input lain jauh lebih kecil dari pada biaya input pokok yang digunakan pada proses pemotongan sapi potong. Biaya input lain jenis penggunaannya adalah untuk biaya listrik, air, dan sewa lapak, retribusi pasar serta biaya pengemasan berupa kantong plastik.
78.000,- per kg daging sapi. Nilai tambah diperoleh dengan mengurangkan nilai output dengan harga input lain dan harga bahan baku sebesar Rp 18.853,56-. Hal ini menunjukan bahwa setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi akan menciptakan nilai tambah sebesar Rp 18.853,56- per kg daging sapi. Rasio nilai tambah merupakan perbandingan antara nilai tambah dengan nilai produk. Rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 24,17 %. Hal ini menunjukan bahwa dalam setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi memberikan nilai tambah sebesar 24,17 % dari nilai produk.
Besar pendapatan tenaga kerja yang diterima untuk setiap kilogram daging sapi adalah sebesar Rp 1.205,07-. Pangsa tenaga kerja diperoleh dari persentase antara upah tenaga kerja terhadap nilai tambah. Bagian tenaga kerja pada proses pemotongan daging sapi menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi pada peternakan sapi rakyat adalah sebesar 6,39% dari output yang dihasilkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh dari proses pemotongan daging sapi menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi ini adalah Rp 17.648,49,- per kg dengan persentase tingkat keuntungan sebesar 93,61% dari nilai output.
b. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi komersial/feedlot
Tabel 13 menunjukan bahwa perhitungan nilai tambah diperoleh dari data penjualan pedagang kecil selama tiga bulan terakhir terhitung mulai dari Bulan September-November 2016. Data tersebut menunjukan bahwa hasil produksi/output daging sapi membutuhkan bahan baku karkas sapi sebesar 213 kg. Bahan baku berupa karkas sapi sebesar 213,00 kg digunakan untuk menghasilkan daging sapi sebanyak 160,00 kg, dengan harga karkas sapi rata-rata sebesar Rp 60.441,28,-/kg dan harga jual daging sapi rata-rata sebesar Rp 104.000,-.
Tabel 13. Nilai tambah daging sapi tingkat pedagang kecil pada peternakan sapi komersial/feedlot
Harga output (Rp/kg) 104,000.00
Upah rata-rata (RP/HOK) 41,666.67
faktor konversi yang diperoleh maka akan semakin besar nilai tambah yang diciptakan dari suatu produk.
Didalam proses pemotongan daging sapi menjadi karkas kemudian menjadi daging sapi keseluruhannya menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi menggunakan tenaga kerja sebanyak empat orang dengan upah rata-rata Rp 41.666,67,-/orang. Masing-masing tenaga kerja dalam kegiatan produksi memiliki spesifikasi pekerjaan yang berbeda. Tenaga kerja A bertugas sebagai leader, tenaga kerja B bertugas sebagai pemotong daging dari tulang, memecahkan kepala dan membantu semua pekerjaan TK C dan TK D, tenaga kerja C bertugas sebagai pemotong daging/jeroan dll menjadi potongan kecil-kecil dan tenaga kerja D bertugas sebagai tukang asah pisau, menyiapkan meja sebelum dijual, mencuci jeroan dan pekerjaan kecil lainnya.
Tabel 13 menunjukan bahwa koefisien tenaga kerja sebesar 0,02. Hal tersebut berarti bahwa setiap 1 kg karkas dibutuhkan tenaga kerja sebesar 0,02 HOK. Harga input lain yang dikeluarkan untuk proses pemotongan daging sapi adalah sebesar Rp 110,37 per kg. Hal ini menunjukan bahwa biaya input lain jauh lebih kecil dari pada biaya input pokok yang digunakan pada proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi. Biaya input lain jenis penggunaannya adalah untuk biaya listrik, air, dan biaya pemasaran seperti penyusutan timbangan duduk dan timbangan gantung sewa lapak, retribusi pasar serta biaya pengemasan berupa kantong plastik.
sapi adalah sebesar Rp 78.122,07-. Hal tersebut menunjukan bahwa setiap 1 kg karkas akan menghasilkan nilai output sebesar Rp 78.122,07- per kg. Nilai tambah diperoleh dengan mengurangkan nilai output dengan harga input lain dan harga bahan baku sebesar Rp 17.570,42,-. Hal ini menunjukan bahwa setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi akan menciptakan nilai tambah sebesar Rp 17.570,42- per kg. Rasio nilai tambah merupakan perbandingan antara nilai tambah dengan nilai produk. Rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 22,49 %. Hal ini menunjukan bahwa dalam setiap 1 kg karkas sapi yang di potong menjadi daging sapi memberikan nilai tambah sebesar 22,49 % dari nilai produk.
Besar pendapatan tenaga kerja yang diterima untuk setiap kilogram daging sapi adalah sebesar Rp 782,47,-. Pangsa tenaga kerja diperoleh dari persentase antara upah tenaga kerja terhadap nilai tambah. Bagian tenaga kerja pada proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi pada peternakan sapi komersial adalah sebesar 4,45% dari output yang dihasilkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh dari proses pengolahan karkas sapi menjadi daging sapi ini adalah Rp 16.787,94,-per kg dengan 16.787,94,-persentase tingkat keuntungan sebesar 95,55% dari nilai output.
4.5 Perbedaan marjin pemasaran dan nilai tambah daging sapi a. Perbedaan marjin pemasaran daging sapi
pedagang kecil lebih besar daripada pedagang besar. Bagi produsen, pemasaran efisien apabila bagian pendapatan yang diperoleh bernilai layak dan sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Sedangkan bagi konsumen, efisiensi pemasaran dapat diukur dari tingkat kepuasan konsumen atas kegiatan pemasaran dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produk yang berada dalam kisaran harga murah.
Total marjin pada peternakan sapi komersial/feedlot sebesar Rp 21.572,03,- lebih besar dibandingkan dengan total marjin pada peternakan sapi rakyat sebesar Rp21.290,55,- atau selisih sebesar Rp 281,48,-. Hal ini karenakan saluran pemasaran pada peternakan sapi rakyat lebih pendek daripada saluran pemasaran pada peternakan sapi komersial/feedlot, yakni dari peternak sapi rakyat langsung kepada pedagang kecil. Sedangkan pada peternakan sapi komersial/feedlot, pedagang kecil harus melewati pedagang besar terlebih dahulu sebelum membeli sapi dari produsen sapi potong.
pedagang kecil pada peternakan sapi komersial/feedlot. Hal ini dikarenakan tidak adanya campur tangan pedagang besar pada peternakan sapi rakyat dan saluran pemasaran yang lebih pendek daripada peternakan sapi komersial/feedlot. Sehingga perdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa marjin pemasaran daging sapi pada peternakan sapi rakyat lebih efisien dibandingkan dengan peternakan sapi komersial/feedlot.
b. Perbedaan nilai tambah daging sapi
Nilai tambah pada peternakan sapi rakyat lebih tinggi daripada peternakan sapi komersial/feedlot yakni sebesar Rp 18.853,56-. Hal ini dikarenakan banyak faktor antara lain, pada peternakan sapi rakyat rata-rata biaya retribusi pasar hanya sebesar Rp 2.000,- sedangkan pada peternakan sapi komersial rata-rata biaya retribusi pasar sebesar Rp 5.500,-. Besarnya biaya retribusi pasar pada peternakan sapi komersial dikarenakan adanya biaya retribusi pasar di Pasar Pasir Gintung Kota Bandar Lampung tepatnya pada lokasi pasar Bp. Agus Surdama sebesar Rp 37.000,-, sementara biaya retribusi pasar lainnya hanya sebesar Rp. 2.000,-. Biaya retribusi pasar ini selanjutnya akan mempengaruhi besar kecilnya harga input lain.
Sedangkan tenaga kerja pada peternakan sapi komersial/feedlot melaksanakan proses pengolahan karkas menjadi daging sapi, hal ini dikarenakan proses pemotongan sapi potong sudah dilakukan oleh pihak RPH PT Elders Indonesia Lampung Feedlot.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Total marjin pada peternakan sapi komersial/feedlot sebesar Rp 21.572,03,-dan total marjin pada peternakan sapi rakyat sebesar Rp21.290,55,-.
2. Nilai tambah pada peternakan sapi rakyat adalah sebesar Rp 18.853,56,-dan nilai tambah pada peternakan sapi komersial/feedlot yakni sebesar Rp 17.570,42,-.
3. a.Marjin pemasaran daging sapi pada peternakan sapi rakyat lebih efisien dibandingkan dengan margin pemasaran daging sapi pada peternakan sapi komersial/feedlot
b. Nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi rakyat lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tambah daging sapi pada peternakan sapi komersial/feedlot
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka saran yang dapat diberikan adalah:
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Usman. 2014. Pengertian dan Fungsi Pemasaran. 26 November 2016. http://www.pengertianpakar.com/2014/12/pengertian-dan-fungsi-pemasaran. html
Asmarantaka, Ratna Winandi. 2013. Pemasaran Agribisnis (Agrimarketing). IPB Press. Bogor.
Aziz, A.M. 1993. Strategi Operasional Pengembangan Agroindustri Sapi Potong. Prosiding Agroindustri Sapi Potong. CIDES. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2014. Konsumsi Rata-Rata per Kapita Seminggu Beberapa Macam Bahan Makanan Penting, 2007-2014. BPS. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2014. Populasi Ternak (Sapi) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2014. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
Badan Pusat Statistik. 2014. Produksi Daging, Telur, Susu dan Kulit di Provinsi Lampung , 2004 – 2014. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
Badan Pusat Statistik. 2015. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2010, 2014, dan 2015. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
Badan Pusat Statistik. 2015. Populasi Sapi Potong Menurut Provinsi. BPS. Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi Daging Sapi Menurut Provinsi. BPS. Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi Daging Ternak Menurut Kabupaten/Kota dan
Jenis Ternak di Provinsi Lampung, 2015. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
Butarbutar dkk. 2014. Analisis Keuntungan Pedagang Pengecer Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Manado. Jurnal Zootek 1 (34) Halaman: 48-61.
Gittinger, J. Price. 1986. Analisis Ekonomi Proyek Pertanian. UI-Press. Jakarta. Habibi dkk. 2015. Komparasi Margin Pemasaran dan Nilai Tambah Ubi Kayu
Antara Petani Non Mitra dengan Petani Mitra. Jurnal AgriSains ISSN 2442-5982 1(1) Halaman: 60-73.