TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
2. Nilai Tukar Mata Uang (Kurs) a. Sistem Nilai Tukar
Nilai tukar mata uang atau yang sering disebut dengan kurs adalah harga satu unit mata uang asing dalam mata uang domestik atau dapat juga
dikatakan harga mata uang domestik terhadap mata uang asing (Simorangkir dan Suseno, 2004: 4). Menurut Sukirno, nilai tukar mata uang (kurs) adalah nilai yang menunjukkan jumlah mata uang dalam negeri yang diperlukan untuk mendapat satu unit mata uang asing. Kurs valuta asing adalah nilai pertukaran dari mata uang suatu negara terhadap negara lainnya (Beam, 2003: 390).
Pada setiap negara terdapat suatu sistem kurs valuta asing yang ditentukan oleh kebijakan yang dianut oleh pemerintah masing-masing negara tersebut. Sistem kurs yang dipakai suatu negara, yaitu:
1.) Fixed exchange rate (sistem nilai tukar tetap) yaitu nilai mata uang suatu negara ditetapkan oleh pemerintah atau Bank Sentral.
a.) Pegged to a currency, nilai tukar ditetapkan terhadap mata uang tertentu.
b.) Pegged to a basket of currency, nilai tukar ditetapkan sekelompok mata uang terkuat.
c.) Currency board, nilai tukar ditetapkan oleh dewan mata uang. 2.) Floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang).
a.) Managed floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang terkendali), yaitu Pemerintah atau Bank Sentral akan menjaga supaya nilai tukar berada diantara batas atas dan batas bawah. b.) Free floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang
bebas), yaitu nilai tukar suatu negara diserahkan pada mekanisme pasar (tidak ada intervensi dari pemerintah ataupun Bank Sentral).
b. Teori Nilai Tukar atau Kurs
Ada 4 pendekatan yang dikenal dalam proses pembentukan kurs (Salvatore, 2000: 42-48):
1.) Pendekatan Perdagangan atau Pendekatan Elastisitas Terhadap Pembentukan Kurs
Model ini melihat bahwa nilai tukar atau kurs antara dua mata uang dari dua negara ditentukan oleh besar – kecilnya perdagangan barang dan jasa yang berlangsung diantara kedua negara tersebut. Menurut pendekatan ini kurs ekuilibrium adalah kurs yang akan menyeimbangkan nilai impor dan ekspor dari suatu negara. Jika nilai impor negara tersebut lebih besar ketimbang nilai ekspornya (artinya negara yang bersangkutan mengalami defisit perdagangan), maka kurs mata uangnya akan mengalami peningkatan (artinya mata uangnya mengalami depresiasi atau penurunan nilai tukar), dan hal itu akan berlangsung secara cepat dalam sistem kurs mengambang yang berlaku pada saat ini.
Peningkatan kurs (angka nominalnya) atau penurunan nilai tukar mata uang tersebut akan membuat harga dari berbagai komoditi ekspornya menjadi lebih murah bagi para importir atau pihak asing sedangkan berbagai produk barang dan jasa impor menjadi lebih mahal bagi penduduk domestik. Akibatnya, lambat laun ekspor negara tersebut akan mengalami kenaikan sedangkan impornya akan terus menurun sampai pada akhirnya
nilai perdagangan internasionalnya benar – benar seimbang (impor sama dengan ekspor).
Pendekatan elastisitas tersebut menekankan pentingnya peran perdagangan atau arus pertukaran barang dan jasa dalam pembentukan kurs. Sedangkan arus permodalan internasional juga memainkan peran yang penting, namun bersifat pasif, yakni hanya untuk menutup atau mengimbangi setiap bentuk ketidakseimbangan perdagangan temporer. 2.) Teori Paritas Daya Beli untuk Menjelaskan Proses Pembentukan Kurs
Pendekatan kurs ini lebih relevan diaplikasikan guna mengamati pergerakan kurs dalam jangka panjang ketimbang dalam jangka pendek. Teori ini mempostulasikan atau merumuskan gejala bahwa kurs antara dua mata uang adalah identik dengan rasio dari tingkat dari harga umum dari kedua negara yang bersangkutan. Sebagai contoh, jika harga satu karung gandum di Amerika Serikat adalah $2, sedangkan harga gandum di Inggris adalah £1 per karung, maka kurs yang berlaku antara dolar dan poundsterling adalah R=$2 / £1 = 2. Jadi, berdasarkan hukum satu harga (law of one price), komoditi yang sama seharusnya memiliki harga yang sama pula (dalam kondisi itulah daya beli dari kedua mata uang tadi berada dalam kondisi paritas atau persamaan).
3.) Pendekatan Moneter Terhadap Pembentukan Kurs dan Lonjakan Kurs Pendekatan moneter (Monetary Approach) memberikan penjelasan yang sangat kontras. Pendekatan ini mempostulasikan atau menyatakan bahwa kurs tercipta dalam proses penyamaan atau penyeimbangan stok
atau total permintaan dan penawaran mata uang nasional di masing-masing negara.
Penawaran uang di suatu negara diasumsikan dapat ditetapkan atau diciptakan secara independen oleh otoritas moneter dari negara yang bersangkutan. Namun sebaliknya, permintaan uang sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan riil negara tersebut, atau tingkat harga harga-harga umum yang berlaku serta suku bunga. Semakin tinggi pendapatan riil dan harga-harga yang berlaku di negara tersebut, maka akan semakin besar pula permintaan uang di negara tersebut karena setiap individu dan perusahan memerlukan lebih banyak uang untuk membiayai transaksi hariannya. Di lain pihak, semakin tinggi suku bunga yang ada, maka akan semakin besar biaya oportunities penyimpanan uang (tunai atau simpanan yang tidak menghasilkan bunga) sehingga setiap orang akan memilih asset atau sekuritas yang menghasilkan bunga seperti obligasi atau deposito perbankan. Itu berarti, tingkat permintaan uang memiliki hubungan terbalik dengan besaran atau tingkat bunga.
4.) Pendekatan Keseimbangan Portofolio Terhadap Pembentukan Kurs Pendekatan keseimbangan portofolio (portfolio-balance approach) berbeda dari pendekatan moneter dalam hal diasumsikannya obligasi-obligasi domestik dan luar negeri sebagai substitusi yang tidak sempurna. Perbedaan lainnya dari keseimbangan portofolio ini adalah penekanannya bahwa kurs sesungguhnya terbentuk dalam proses penyamaan dan penyeimbangan stok atau total permintaan dan total penawaran aset-aset
finansial dalam setiap negara. Pendekatan ini juga memperhitungkan arti penting perdagangan (sektor riil) secara eksplisit ke dalam analisisnya. Dengan demikian, pendekatan keseimbangan portofolio dapat dianggap sebagai salah satu versi pendekatan moneter yang lebih realistis dan memuaskan.
Pendekatan keseimbangan portofolio itu merumuskan kesimpulan yang menyatakan kenaikan penawaran uang di negara domestik akan mendorong terjadinya kemerosotan suku bunga di negara yang bersangkutan, sehingga akan membuat para investor menukarkan obligasi domestiknya menjadi mata uang domestik dan obligasi luar negeri. Pembelian secara besar-besaran atas obligasi luar negeri itu dengan sendirinya menimbulkan depresiasi atas mata uang domestik. Selanjutnya, depresiasi itu merangsang peningkatan ekspor negara domestik dan sekaligus menyurutkan impornya. Pada gilirannya hal ini menciptakan surplus perdagangan bagi negara domestik yang segera disusul oleh apresiasi mata uangnya.
c. Perubahan – Perubahan Kurs Valuta Asing
Apabila kurs valuta asing sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar maka kurs tersebut akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan yang terus menerus tersebut akan berlaku disebabkan oleh perubahan yang selalu terjadi keatas permintaan atau penawaran valuta asing.
Oleh karena sifatnya yang selalu mengalami perubahan tersebut, kurs pertukaran yang ditentukan oleh mekanisme pasar dinamakan kurs pertukaran yang berubah bebas atau kurs pertukaran mengambang. Beberapa faktor yang mempunyai pengaruh besar ke- atas perubahan dalam kurs pertukaran adalah (Sukirno, 2002:361-365):
1. Perubahan dalam cita rasa masyarakat.
Perubahan ini akan mempengaruhi permintaan. Apabila penduduk suatu negara semakin lebih menyukai barang-barang dari satu negara lain, maka permintaan ke atas mata uang negara lain tersebut bertambah. Maka perubahan seperti itu mempunyai kecenderungan untuk menaikkan nilai mata uang negara lain tersebut.
2. Perubahan harga dari barang-barang ekspor.
Apabila harga barang-barang ekspor mengalami perubahan maka perubahan ini akan mempengaruhi permintaan ke atas barang ekspor itu. Perubahan ini selanjutnya akan mempengaruhi kurs valuta asing. Kenaikan harga barang-barang ekspor akan mengurangi permintaan ke atas barang tersebut di luar negeri. Maka kenaikan tersebut akan mengurangi penawaran mata uang asing. Kekurangan penawaran ini akan menjatuhkan nilai uang dari negara yang mengalami kenaikan dalam harga-harga barang ekspornya. Apabila harga barang-barang
ekspor mengalami penurunan, maka akibat yang timbul adalah yang sebaliknya.
3. Kenaikan harga-harga umum (Inflasi).
Berlakunya keadaan demikian di suatu negara dapat menurunkan nilai mata uangnya. Di satu pihak kenaikkan harga-harga itu akan menyebabkan penduduk negara itu semakin banyak mengimpor dari negara lain. Oleh karenanya permintaan ke atas valuta asing bertambah. Di lain pihak, ekspor negara itu bertambah mahal dan ini akan mengurangi permintaannya dan selanjutnya akan menurunkan penawaran valuta asing.
4. Perubahan dalam tingkat bunga dan tingkat pengembalian investasi. Disamping dipengaruhi oleh perubahan dalam permintaan dan penawaran ke atas barang-barang yang diperdagangkan diantara berbagai negara, kurs valuta asing dipengaruhi pula oleh aliran modal jangka panjang dan jangka pendek. Tingkat bunga dan tingkat pengembalian investasi sangat mempengaruhi jumlah serta arah aliran modal jangka panjang dan jangka pendek. Tingkat pendapatan investasi yang lebih menarik akan mendorong pemasukan modal ke negara tersebut. Penawaran valuta asing yang bertambah ini akan meninggikan nilai mata uang negara yang menerima modal tersebut. 5. Perkembangan ekonomi
Bentuk dari pengaruh perkembangan ekonomi kepada kurs valuta asing tergantung kepada corak dari perkembangan ekonomi itu.
Apabila ia terutama disebabkan oleh perkembangan sektor ekspor, penawaran ke atas mata uang asing terus menerus bertambah. Dalam keadaan seperti itu perkembangan ekonomi akan meninggikan nilai mata uang. Tetapi apabila sumber perkembangan itu adalah dari perluasan kegiatan ekonomi di luar sektor ekspor, perkembangan itu berkecenderungan akan menurunkan nilai mata uang asing. Akibat yang demikian akan timbul karena pendapatan yang bertambah akan menaikkan impor. Kenaikkan impor ini akan menaikkan permintaan ke atas valuta asing.
d. Kurs Riil
Kurs riil merupakan gabungan angka kurs nominal dan tingkat harga. Untuk mendefinisikan kurs riil secara lebih terinci, maka perlu
memperjelas ukuran tingkat harga yang akan digunakan. Misalnya, Pus
sebagai harga dolar dari sejumlah komoditi baku yang selalu dikonsumsikan setiap minggunya oleh segenap rumah tangga dan
perusahaan Amerika. Begitu pula PG, yakni sebagai harga komoditi yang
setiap minggu selalu dibeli oleh segenap rumah tangga dan perusahaan Jerman. Kemudian dapat didefinisikan secara formal kurs riil dolar/DM,
yang dilambangkan q$/DM, sebagai harga dolar relatif dari komoditi Jerman
terhadap komoditi Amerika. Jadi bisa dikatakan kurs riil itu adalah nilai dolar dari tingkat harga Jerman dibagi dengan tingkat harga Amerika; atau secara simbolis:
q$/DM=
(
E$/DMxPG)
/PUS ... (2.1)Seumpama, komoditi acuan Jerman berharga DM100 (sehingga PG=
DM100 per komoditi acuan Jerman), sedangkan harga komoditi acuan
Amerika berharga $50 (jadi Pus=$50 per komoditi acuan Amerika), dan
kurs nominalnya adalah E$/DM=$0,50 per DM. Maka kurs riil dolar/ DM: ($0,50 per DM) x (DM100 per komoditi Jerman)
=
DM / $
q
($50 per komoditi Amerika)
= ($50 per komoditi Jerman) / ($50 per komoditi Amerika) = 1 komoditi Amerika per komoditi Jerman
Kenaikan kurs riil dolar/DM q$/DM (yang disebut depresiasi riil dolar
terhadap DM akan mengakibatkan penurunan daya beli dolar di wilayah Jerman dila dibandingkan dengan daya belinya di wilayah Amerika. Perubahan daya beli ini terjadi karena harga dolar dari barang-barang
Jerman (E$.DMxPG) mengalami kenaikan relatif terhadap harga dolar dari
barang-barang Amerika (Pus). Dolar dianggap mengalami depresiasi secara
riil terhadap DM bila q$/DM meningkat karena daya beli hipotetis dari
produk-produk Amerika secara keseluruhan terhadap produk Jerman menurun. Barang dan jasa Amerika menjadi lebih murah dibandingkan dengan barang dan jasa Jerman. Adapun apresiasi riil dolar terhadap DM
merupakan penurunan dalam q$/DM. Penurunan ini menunjukkan
daya beli dolar di Jerman (bila dibelanjakan di Jerman) dibandingkan dengan daya belinya di Amerika.
e. Pengaruh perubahan kurs riil terhadap Transaksi berjalan
Sejumlah pembelanjaan domestik juga meliputi pembelian produk impor meskipun tidak sebanyak pembelian atas barang dan jasa produksi domestik. Sementara itu, produk luar negeri yang dikonsumsikan itu lebih condong pada kondisi barang dan jasa dari negara asalnya. Untuk mengetahui perubahan harga relatif output nasional tersebut mempengaruhi transaksi berjalan, harus diketahui pengaruhnya terhadap ekspor. Jika EP*/P meningkat, misalnya secara relatif produk luar negeri menjadi lebih mahal daripada produk domestik; setiap unit output domestik kini hanya dapat membeli lebih sedikit output luar negeri. Konsumen akan menanggapi pergeseran harga ini dengan meningkatkan permintaan mereka terhadap ekspor kita. Reaksi ini selanjutnya meningkatkan ekspor dan cenderung memperbaiki transaksi berjalan domestik.