HASIL DAN PEMBAHASAN
Rendemen 3 Nomor Harapan Temulawak
Pada ketiga lokasi penelitian hasil rendemen tertinggi dihasilkan oleh nomor harapan temulawak B yaitu 16,03% di Ganjar Resik, 13,21% di Kragilan, dan 14,94% di Cipenjo (Gambar 5). Nomor harapan temulawak A menghasilkan rendemen tertinggi dari lokasi Cipenjo, yaitu 13,21%. Rendemen sebesar 13,37% merupakan rendemen tertinggi yang dihasilkan oleh nomor harapan temulawak C dari lokasi Ganjar Resik.
Selain faktor pelarut dan lamanya proses maserasi, optimalisasi ekstraksi secara maserasi ini dipengaruhi oleh ketebalan dinding sel dan membran sel dari ke tiga nomor harapan tanaman temulawak. Hal tersebut dikarenakan dalam maserasi adalah merendam bahan tanaman dalam pelarut tertentu, hal itu menyebabkan terjadi pemecahan dinding sel dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam
Nomor harapan temulawak: 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Ganjar Resik Kragilan Cipenjo
Lokasi penelitian R e nde m e n ( % ) A B C
21
dan di luar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut etanol yang digunakan. Hal inilah yang menentukan besar kecilnya rendemen yang dihasilkan dalam suatu proses ekstraksi secara maserasi. Jadi ketebalan dinding sel dan membran sel merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam ekstraksi secara maserasi, dan faktor genetik dari ketiga nomor harapan temulawak tersebut yang akan menentukan ketebalan dinding sel dan membran sel.
Kandungan Xanthorrhizol dan Kurkuminoid 3 Nomor Harapan Temulawak Bioaktif utama dalam temulawak adalah kandungan xantorhizol dan kurkuminoid, sehingga dalam penelitian ini metabolit sekunder yang diukur adalah kedua senyawa tersebut, dengan hasil produktivitas xantorhizol dan kurkuminoid terlihat pada Gambar 2 dan 3. Produktivitas metabolit xantorhizol dan kurkuminoid merupakan perkalian biomassa temulawak dengan kadar xantorhizol dan kurkuminoid.
Ketiga nomor harapan temulawak memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menghasilkan bioaktif xantorhizol dan kurkuminoid. Lokasi penanaman mempunyai pengaruh berbeda terhadap produksi bioaktif temulawak. Produktivitas xantorhizol dan kurkuminoid tertinggi dihasilkan oleh nomor harapan temulawak A di lokasi Cipenjo, yaitu 0,1568 gram xantorhizol dan 0,0564 gram kurkuminoid per tanaman temulawak.
Produksi metabolit sekunder pada suatu tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya; genetik, nutrisi, enzim, umur tanaman, dan interaksi antara lingkungan baik biotik maupun abiotik. Masing-masing memiliki suatu mekanisme biokimiawi komplek tertentu yang menyebabkan ketiga nomor harapan temulawak memproduksi bioaktif xantorhizol dan kurkuminoid berbeda baik yang ditanam di Ganjar Resik, Kragilan, ataupun Cipenjo.
Akumulasi metabolit sekunder tergantung pada musim dan tahap perkembangan tanaman (Mothes 1955; dalam Seigler 1998). Umur panen sangat mempengaruhi hasil produksi bioaktif xantorhizol dan kurkuminoid temulawak, sehingga dalam penelitian ini untuk mengurangi pengaruh umur tanaman maka tanaman dipanen pada umur 9 bulan setelah tanam.
Nomor harapan temulawak: 0.00 0.02 0.04 0.06 0.08 0.10 0.12 0.14 0.16 0.18 0.20
Ganjar Resik Kragilan Cipenjo
Lokasi penelitian Pr oduk ti vi ta s xant o rh iz ol (g / t a n a m a n )
A
B
C
Gambar 6 Produktivitas xantorhizol pada uji multilokasi 3 nomor harapan temulawak Nomor harapan temulawak: 0.00 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07
Ganjar Resik Kragilan Cipenjo
Lokasi penelitian Pr odukt iv it a s k u rk um inoid (g / ta n a m a n )
A
B
C
Gambar 6 Produktivitas kurkuminoid pada uji multilokasi 3 nomor harapan temulawak
Kondisi curah hujan di lokasi penelitian menurut Setiyono et al. (2006) adalah 5500-6500 mm/thn untuk Kragilan, 2500-3000 mm/thn untuk Ganjar Resik, dan 223,97 mm/tahun untuk Cipenjo. Waterman & Mole (1989; dalam Seigler 1998) menyatakan bahwa kuantitatif dan kualitatif yang bervariasi dari metabolit sekunder pada tanaman dapat terjadi sebagai respon dari cekaman yang ditimbulkan oleh lingkungannya. Curah hujan di Cipenjo lebih rendah dan kondisi tanah lebih liat
23
dibandingkan Kragilan dan Ganjar Resik. Hal ini diduga merupakan salah satu kondisi cekaman yang memungkinkan terjadinya induksi dalam produksi xantorhizol dan kurkuminoid yang tinggi di lokasi Cipenjo. Meskipun induksi xantorhizol dan kurkuminoid dipengaruhi juga oleh faktor genetik ketiga nomor harapan temulawak tersebut. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Khaerana (2007) yang menunjukkan bahwa cekaman kekeringan menyebabkan meningkatnya kandungan metabolit jenis atsiri dalam temulawak.
Produksi suatu bioaktif dalam tanaman dapat terjadi melalui proses metabolisme yang normal maupun tidak normal. Metabolisme normal dapat terjadi melalui peningkatan metabolit primer sebagai prekursor untuk metabolit sekunder, dalam hal ini xantorhizol dan kurkuminoid. Metabolit primer akan tinggi jika terdapat CO2 sebagai sumber karbon untuk fotosintesis yang melimpah dalam suatu lingkungan di tempat tanaman itu tumbuh. Menurut Setiyono et al. (2006) suhu di lokasi Cipenjo (28-34 ºC) lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi Ganjar Resik dan Kragilan. Molekul CO2 ini merupakan salah satu molekul yang dapat meningkatkan suhu udara, hal ini berarti di Cipenjo lebih banyak terdapat CO2 dibandingkan 2 lokasi lainnya. Sedangkan produksi bioaktif melalui metabolisme yang tidak normal merupakan mekanisme biokimia tertentu, misalnya cekaman lingkungan, yang menyebabkan meningkatnya produksi bioaktif tertentu dalam suatu tanaman.
Produktivias kurkuminoid (Gambar 6) di lokasi Kragilan tidak berbeda jauh dengan lokasi Cipenjo terhadap nomor harapan temulawakA, yaitu 0,0546 gram dan 0,0564 gram per tanaman. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh cekaman unsur hara, terutama unsur N tanah di Kragilan yang sangat rendah (0,09%) dibadingakan 2 lokasi lainnya (Setiyono et al. 2006). Ketersedian N yang rendah dalam lingkungan merupakan aktivator gen-gen transkripsi yang berkaitan dengan metabolisme fenolik (Penuelas & Estiarte 1998), dalam hal ini kurkuminoid dalam temulawak. Sedangkan stimulasi enzim terutama dalam produksi metabolit terpenoid, dalam hal ini xantorhizol dari tanaman temulawak, tidak dipengaruhi oleh ketersedian N tanah yang rendah (Penuelas & Estiarte 1998).
Antioksidan dan Toksisitas 3 Nomor Harapan Temulawak
Pada Tabel 7 memperlihatkan hasil bioaktivitas dari 3 nomor harapan temulawak yang ditanam pada 3 lokasi penanaman, adapun bioaktivitas yang diukur adalah antioksidan dengan data dalam IC50 dan toksisitas dengan data dalam LC50 (data lengkap pada Lampiran 4).
Nilai IC50 rendah menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi (Perhitungan IC50 inhibisi DPPH pada Lampiran 5). Terlihat bahwa nomor harapan A memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi di ketiga lokasi penelitian, yang tertinggi adalah nomor harapan A yang ditanam di Cipenjo dengan IC50
sebesar 65,09 ppm. Nomor harapan B yang ditanam di Cipenjo menghasilkan aktivitas antioksidan yang rendah dengan IC50 sebesar 242,67 ppm.
Nilai LC50 rendah menunjukkan toksisitas yang tinggi (Contoh analisis probit pada Lampiran 3). Nomor harapan A baik yang ditanam di Ganjar Resik, Kragilan, dan Cipenjo memberikan nilai toksisitas yang tinggi, dengan nilai LC50
berturut-turut adalah 63,60 ppm, 77,81 ppm, dan 69.05 ppm. Jadi temulawak nomor harapan A ini memiliki hasil yang konsisten diketiga lokasi penelitian. Namun nilai toksisitas tertinggi dimiliki oleh nomor harapan C yang ditanam di Ganjar Resik, dengan LC50 sebesar 51.30 ppm.
Tabel 7 Bioaktivitas antioksidan dan toksisitas 3 nomor harapan temulawak Lokasi Penelitian
Bioaktivitas
Nomor harapan
temulawak Ganjar Resik Kragilan Cipenjo
A 104,41bc 87,54ab 65,09a IC50 (ppm) B 204,72f 156,76de 242,67g C 106,89bc 175,61ef 133,52cd A 63,60ab 77,81bcd 69,05abc LC50 (ppm) B 172,20f 90,22cde 114,69e C 51,30a 180,72f 103,07de
Keterangan: Huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan bahwa secara statistik perlakuan berbeda nyata pada α: 0.05 dengan uji Duncan.
25
Hal ini terjadi karena sampel temulawak yang digunakan dalam bentuk ekstrak kasar yang memungkinkan bioaktif selain xantorhizol dan kurkuminoid juga terekstrak, dan masing-masing bioaktif tersebut memiliki nilai toksisitas.
Bioaktivitas dari suatu ekstrak tumbuhan obat akan berbanding lurus dengan kandungan bioaktif dari ekstrak tersebut. Temulawak nomor harapan A memiliki kandungan bioaktif xantorhizol dan kurkuminoid tinggi, dan bioaktivitas antioksidan dan toksisitas dari ekstrak nomor harapan temulawak A juga tinggi. Sehingga sesuai bahwa xantorhizol dan kurkuminoid memiliki bioaktivitas sebagai antioksidan dan toksisitas.
Kurkuminoid temulawak merupakan bioaktif yang berperan dalam aktivitas antioksidan, hal ini telah ditunjukkan oleh beberapa peneliti mengenai peranan kurkuminoid temulawak sebagai antioksidan. Beberapa efikasi xanthorrhizol menunjukkan bahwa xanthorrhizol merupakan bioaktif temulawak yang memiliki aktivitas toksisitas. Namun dimungkinkan tidak hanya 2 bioaktif ini yang berperan dalam aktivitas antioksidan dan toksisitas karena yang digunakan merupakan ekstrak kasar yang mana banyak bioaktif selain xanthorrhizol dan kurkuminoid juga terekstrak.