• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nomor Urut Kode Wilayah No. Nama Desa dan

Dalam dokumen Mencatat Jejak Pengetahuan dalam Praktik (Halaman 25-42)

Kecamatan

No. Nama Desa Kecamatan

No. Nama Desa dan Kecamatan 01. Nunuk,Lelea 06. Sekar Mulya,

Gabuswetan

11. Sukamelang, Kroya 02. Kalensari,Widasari 07. Sukra Wetan, Sukra 12. Malangsari,

Bangodua 03. Segeran Kidul, Jutinyuat 08. Jengkok,

Kerrtasemaya

13. Sliyeglor,Sliyeg 04. Cangkingan, Kedokan

Bunder

09. Mulyasari, Bangodua 05. Jenguk, Gabuswetan 10. Sidamulya,Bongas

Dengan menggunakan nomor urut wilayah dan penyilang, War misalnya, mencantumkan: F8 02-01-05-B2.

F8 mengacu ke Filial kedelapan, 02 kode wilayah Kalensari-Widasari, 01 nomor urutnya sebagai penyilang pertama di Kalensari, 05 untuk nomor urut persilangan, dan B2 untuk nomor segregasi hasil persilangan. Mitro yang berasal dari Kalensari-Widasari dengan kode yang sama (02) memperoleh nomor urut 02 sebagai penyilang kedua.

Kode-kode lain berkaitan dengan nomor urut persilangan, nomor atau huruf menandai segregasi diserahkan pada masing-masing penyilang karena merekalah yang paling tahu apa yang disilangkan, dan segregasi dari penampilan tanaman macam apakah yang dipilih dalam proses seleksinya. Mengapa hanya pembedaan wilayah dan penyilang dalam bentuk kode (wilayah dan penyilang) itu yang disepakati? Nampaknya hal itu terkait dengan tujuan untuk menghindarkan kerancuan atas hasil-hasil seleksi yang berbeda dari persilangan tetua yang sama. Menarik pula kiranya disimak bahwa pada tahun 2008 dengan terlaksananya SLPT di enam kecamatan yang baru, kode-kode itu pun tersebar bersama dengan benih-benih yang dibawa para koordinator wilayah: Dar untuk wilayah barat, dan Mitro untuk wilayah timur (lihat halaman 203 untuk label benih Dar di Anjatan dan Sukra). Sekalipun Dar tidak mencantumkan kode penyilang (01 bagi dirinya) dan ada pula label tanpa kode wilayah, ‘kode-kode’ dan bukan ‘nama’ itulah yang menjadi sebutan penyilang di enam kecamatan. Sebutan pun beragam dengan urutan yang tidak selalu seragam, dan tidak pula dengan kelengkapan yang sama.

“Kami menanam F5 30 B2,” ujar seorang penyilang di Gadingan sekalipun ia tidak menyebutkan kode wilayah dan penyilangnya. Atau, penyilang di Anjatan berujar bahwa kini di lahan kelompoknya ditanam: “F6 16 06.” Angka 06 yang mengacu ke kode wilayah (Gabus Wetan) itu disebutkannya terakhir dan tidak di depan. “Kami menanam benih dari Dar: F6 06 01 P... Dari Mitro: IM 02 02 50 B BM,” demikian ujar Abi dari Sukra.

Mengingat bahwa kesepakatan itu baru tercapai di tahun 2007 dan baru digunakan di tahun 2008 melalui SLPT di enam kecamatan, interpretasi dan pemahaman para penyilang baru dari

enam SLPT itu pun bervariasi. Abi dari Sukra, misalnya, menginterpretasikan kode 02-02 (kode wilayah dan penyilang) itu sebagai angka-angka yang menunjukkan tanggal penyilangan, sekalipun secara benar ia mengatakan bahwa kode huruf IM mengacu pada Indramayu. “...IM berarti Indramayu. 02 itu berarti ketika dibuat itu benih itu disilangkan dengan itu tanggal 2 bulan 2. Nah di sini tahun berapa.” Untuk nama wilayah, diacunya pada singkatan dua huruf konsonan seperti KL. “...Kalo KL-nya itu Kalensari. Jadi, padi itu ditanamnya di Kalensari, lab-nya,” ujar Abi sambil menyebutkan pula singkatan huruf yang sama untuk desanya: KL yang berarti Karang Layung. Penjelasan Abi itu menunjukkan bahwa kodifikasi itu masih dalam upaya penyebarluasan, dan berlangsunglah interpretasi masing-masing individu dalam upaya menjadikannya bagian dari skema pengetahuan mereka.

Kesamaan dan keragaman, dinamika dan pemantaban, itulah yang terjadi dalam kegiatan melakukan tekstualisasi dengan menggunakan simbol angka dan huruf untuk nama-nama kultivar baru yang dihasilkan petani penyilang. Tekstualisasi itu tidak hanya ditujukan untuk mengidentifikasi tanaman, tetapi juga penyilang dan tempat persilangan dalam rangka menunjukkan identitas masing-masing penyilang dan hasil karyanya. Dengan beragamnya karakteristik tanaman yang dihasilkan dari penanaman bastar dalam setiap filial, bagaimanakah para penyilang itu mendokumentasikannya?

Mencatat Morfologi dan Penampilan Tanaman

Pada waktu Haji Roni mengunjungi Kecamatan Sukra di musim kemarau 2008, ia menanyakan hal pengamatan mingguan yang dilakukan oleh peserta tentang pertumbuhan tanaman, dan sejauhmanakah pencatatan dilaksanakan. Abi yang ikut memandu SLPT menjelaskan bahwa pengamatan dan pencatatan secara rinci oleh peserta tentang karakteristik pertumbuhan tanaman belum dilakukan. Haji Roni menjelaskan bahwa pengamatan dan pencatatan setiap minggu itu penting. Sambil menggambarkan denah lahan di secarik kertas, Haji Roni menganjurkan agar di masing-masing kotak diletakkan ajir (batang bambu atau kayu) yang ditancapkan secara diagonal sebagai ‘wakil’ pengamatan. Lalu, hasil pengamatan pada rumpun padi di dekat ajir itu ditulis: apa nama varietas atau kode persilangannya, jumlah anakan, umur, tinggi tanaman, dan lain-lain. Berdasarkan pengamatan mingguan itu apa hasilnya? “Deskripsi varietas,” ujar Haji Roni. Masing-masing varietas akan berbeda karakteristiknya. Justru tujuan dari pemuliaan itu—yang disebut Haji Roni sebagai breeding objective—didasarkan pada “deskripsi varietas”.

Deskripsi varietas yang ditulis oleh War sebagai “Sekripsi Varietas” untuk judul dokumentasinya, merupakan materi penting dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Karakteristik tanaman yang dihasilkan dari suatu persilangan dan seleksi selama sekian musim itu perlu diterakan secara rinci dalam dokumentasi itu. Namun, pencatatan tentang karakteristik pertumbuhan tanaman merupakan suatu praktik yang relatif baru bagi petani. Kebiasaan mengamati pertumbuhan tanaman secara cermat dan berkala belum terbangun. Tanpa arahan dan permintaan secara khusus agar melakukan pencatatan, petani pun tidak melakukannya seperti para peserta SLPT di Anjatan.

Pada suatu sesi pelatihan di awal bulan Agustus 2008, sepulang peserta dari lahan kelompok dan mendiskusikan sejumlah hal, Oki, sang pemandu, mencatat di papan tulis sederetan istilah yang ternyata berupa hal-hal yang perlu dicatat oleh peserta berkenaan dengan karakteristik penampilan tanaman. Terdapat 16 butir karakteristik di samping umur tanaman, yakni:

1. Tinggi tanaman. 9. Kerebahan. 2. Anakan produktif. 10. Tekstur nasi. 3. Posisi daun. 11. Rata-rata hasil. 4. Warna daun. 12. Potensi hasil. 5. Posisi daun bendera. 13. Warna kaki. 6. Bentuk gabah. 14. Warna batang.

7. Jumlah biji per malai 15. Ketahanan hama penyakit. 8. Kerontokan 16. Anjuran tanam.

Ketika peserta mengetahui bahwa mereka harus mencatat keenambelas butir karakteristik itu, bukan hanya untuk tinggi tanaman, jumlah anakan, dan banyaknya bulir dalam malai padi, sejumlah peserta mengeluh perihal tidak diberitahukannya hal itu terlebih dahulu sebelum mereka melakukan pengamatan di lahan. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun peserta yang melakukan pencatatan berbagai hal itu saat di sawah.

Mengamati secara rinci berbagai karakteristik sekaligus mencatatnya merupakan hal baru yang mereka pelajari, sekalipun hal-hal itu terekam pula dalam ingatan mereka saat berada di sawah. Pada saat melakukan diskusi kelompok untuk mencatat ke-16 butir karakteristik itulah, masing-masing petani mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah diamati, kemudian mendiskusikan, dan mencurahkannya dalam wujud tulisan. Saling bertanya, saling mengingat, saling bertukar informasi, itulah yang terjadi. Saat setiap kelompok diminta melakukan presentasi, berhasil terisilah seluruh butir itu kecuali butir terakhir: anjuran tanaman yang dikosongkan oleh semua kelompok.

Petani yang semula pergi ke sawah tanpa membawa alat tulis apa pun, kini dituntut untuk merekam hasil pengamatannya selama di sawah. Bagaimanakah hal itu dilakukan petani? Itulah praktik yang perlu disiasati. Bagaimanakah mendokumentasikan hasil pencatatan setiba di rumah? Menuliskan hasil pengamatan yang semula tidak merupakan bagian dari budaya cocok tanam padi itu pun berkembang secara beragam di antara sejumlah penyilang sekalipun terdapat kesamaan dalam butir-butir karakteristik yang sepatutnya diperhatikan dan dicatat. Terdapat pula dinamika dalam proses pengembangan dokumentasi itu oleh masing-masing penyilang.

War, misalnya, menyiapkan secara seksama dan cermat dokumentasi tentang karakteristik penampilan tanaman hasil persilangan dan seleksi dengan tujuan untuk mendaftarkan hasil akhir dari proses seleksinya itu suatu ketika nanti. Untuk itu, ia semula menyiapkan satu lembar kertas berukuran A4 untuk dibawa ke sawah dan diisi saat melakukan pengamatan. Dalam lembaran untuk setiap musim tanam (misalnya lembar Data Hasil Seleksi Musim Tanam Gadu 2008) itu dicantumkannya kolom-kolom untuk:

No. Data Persilangan No. Diambil Umur ss Tinggi Cocok organik

Ternyata, lembaran kertas A4 itu menjadi lusuh dan robek di bagian lipatan, tidak tahan lama. Oleh karena itu, War menggantikan lembaran kertas A4 itu dengan guntingan kertas yang disiapkannya berukuran ¼ dari kertas A4. Ukuran kertas yang lebih kecil memudahkannya untuk membawa kertas itu ke sawah dan menuliskan catatan sambil melakukan pengamatan. Dalam kertas berbentuk ‘notes’ itu ditulisnya data tentang:

No. urut persilangan Kode segregasi Umur (U) Tinggi (T)

Untuk mengukur tinggi tanaman War juga menggunakan tongkat yang diberi ukuran centimeter. Data dari “notes” itulah yang kemudian dipindahkannya ke formulir data hasil seleksi yang disiapkannya di komputer. Dalam formulir itu tercantum isian-isian kolom-kolom tentang:

No. Data persilangan No. Seleksi Umur ss hari Tinggi tanaman Panjang malai Kecocokan organik

Selain data hasil seleksi untuk masing-masing persilangan, War juga menyiapkan dokumen tentang karakteristik berdasarkan morfologi tanaman yang lengkap dengan mengacu pada buku Deskripsi Varietas Padi yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, 2006. Dalam lembar data yang diberinya judul Sekripsi Varietas, ada tambahan dan pengurangan dari rincian karateristik dalam buku Deskripsi Varietas Padi itu. Misalnya:

Untuk kategori Warna lidah daun dan Warna helai daun dalam buku, War hanya menuliskan Warna daun. Dalam dokumen yang disiapkannya, War menambahkan tiga butir karakteristik yang tidak ada dalam buku, yakni: Panjang daun bendera, Lebar daun bendera, dan Warna beras. Untuk Ketahanan terhadap Penyakit dan Cekaman lingkungan seperti tertera dalam buku, War mencantumkan Ketahanan terhadap Hama dan Penyakit.

Gambar 9.13 War membandingkan deskripsi varietas padi Balitpa dan deskripsi varietas padi hasil karyanya.(Foto oleh Tim Bisa Dewek)

Apa yang dilakukan War menunjukkan bahwa sekalipun kegiatan pemuliaan tanaman itu telah ditekuninya semenjak tahun 2002, perubahan dan pengembangan dilakukan dalam hal mencari cara yang lebih mendukung sesuai dengan kondisi yang dihadapi, dan dalam mencapai tujuan yang diinginkan, yakni menghasilkan varietas baru dengan data yang rinci dan lengkap tentang karakteristik morfologinya. Dalam hal inilah, terdapat keragaman di antara sejumlah penyilang seperti yang kami simak dari sejumlah kasus petani-pemulia tanaman.

Mitro juga melakukan proses yang hampir serupa, akan tetapi perbedaannya terletak pada urut-urutan pencatatan. Jika War membawa catatan langsung ke lahan, Mitro tidak membawa catatan dalam kertas terpisah. Ia hanya memilah berdasarkan ciri-ciri dari galur tertentu dengan sebuah tali rapia. Mitro mencatat perkembangan morfologi di rumah sesudah selesai memilah-memilah galur-galur tersebut. Sewaktu Ardhianto mengikuti Mitro menyeleksi di lahan praktiknya, ia menunjukkan beberapa detail morfologi yang jarang sekali dicatat oleh petani-pemulia tanamantanaman lain. Ciri morfologis itu adalah jantung gabah, yaitu sebuah ciri di dalam bulir padi yang bisa berwarna putih ataupun merah. Jumlah penambahan kriteria morfologi dalam menyeleksi ini tentunya dipengaruhi oleh praktik seleksi petani yang memungkinkan munculnya diversitas morfologi dari masing-masing segregasi genetik yang muncul dari satu persilangan.

Praktik pencatatan yang berbeda juga ditunjukkan oleh Yus. Ia tidak melakukan pencatatan morfologi dari masing-masing galur yang telah diseleksinya. Sejauh ini ia masih menggunakan ingatan dalam mengidentifikasi perbedaan-perbedaan morfologis sebagaimana

lazimnya dilakukan petani dalam mengamati dan mengingat karakteristik pertumbuhan padi varietas tertentu. Hal itu jelas berbeda dari praktik yang dilakukan oleh War atau Mitro yang telah mengembangkan sistem pencatatan atas hasil pengamatan empiris mereka tentang ciri morfologis suatu galur hasil persilangan. Walau demikian, tidak berarti bahwa Yus tidak menggunakan leksikon-leksikon yang digunakan sesama petani-pemulia tanamandalam melihat bagian-bagian morfologi padi. Kembali merujuk pada tulisan Ellen (2004), Yus merupakan kasus yang menunjukkan keengganannya untuk menekstualisasi pengetahuan empirisnya mengenai karakteristik penampilan tanaman padi. Perbedaan motivasi individual, misalnya keinginan mendaftarkan hasil pemuliaan dan mencari keragaman dalam seleksi, atau sebaliknya, keinginan memperoleh hasil yang cepat ‘merata’ untuk kepentingan produksi memengaruhi perbedaan dalam praktik tekstualisasi pengetahuan antara Mitro/War dengan Yus.

Penyiapan dokumen karakteristik tanaman hasil persilangan itu juga secara serius disiapkan oleh Dar, terutama terkait dengan salah satu hasil persilangan yang pada musim gaduh (kemarau) 2008 telah mencapai F12 dan telah ditanam secara luas. Penanaman secara luas itu dilaksanakan di hamparan sawah di Kecamatan Anjatan, tidak di lokasinya sendiri, Kecamatan Gabus Wetan (Lihat Ansori, Bab 10). Kini, Rangbo, nama yang diberikan pada hasil persilangan itu telah mencapai F12 dan telah ditanam oleh sekitar 28 petani. Dar pun menyiapkan dokumen pencatatan karakteristik benih hasil persilangannya itu untuk diisi oleh sang penyeleksi: Oki. Ia pun menyiapkan dokumen untuk mencatat nama-nama penyeleksi dan penanam benih Rangbo itu. Dokumen pertama dinamainya: Pemuliaan Tanaman Padi, sedangkan dokumen terakhir diberinya judul: Uji Coba Adaptasi Tanah 20 Wilayah Hasil Persilangan F12 Rangbo 2009. Sekalipun butir-butir karakteristik yang dicantumkan dalam dokumen Pemuliaan Tanaman Padi itu tidak berbeda jauh dari War, terdapat perbedaan dalam hal penataan halaman depan (cover), pencantuman data penyilang dan persilangan, serta sejumlah butir karakteristik. Untuk data penyilang dan persilangan dicantumkannya:

Kolom-kolom yang tertera terdiri dari: No. Ciri-ciri padi, Hari, Cm, Jumlah, dan Gram, sedangkan untuk butir-butir karakteristik sama dengan yang terdapat dalam dokumen War tanpa Panjang daun bendera dan Lebar daun bendera, dan Warna helai daun (Balitpa 2006), tetapi dengan tambahan: Jumlah gabah per malai, dan Panjang Malai. Di bagian bawah lembar dokumen itu dicantumkan nama penyilang, kolom tanda tangan, tanggal kelahiran, dan foto diri sendiri (Dar). Pemasangan foto diri itu dilandasi keinginan untuk meneguhkan dirinya sebagai penyilang dari benih yang terdokumentasikan itu (lihat gambar 9.14). Dalam dokumen yang diberinya judul: Uji Coba Adaptasi Tanah 20 Wilayah Hasil Persilangan Rangbo itu termuat data tentang: Nama petani (penanam hasil persilangan); Alamat

Nama Alamat/Blok.

Persilangan: ♀♀♀♀ ... x ...♂♂♂♂ Bastar: ... Butir.

No. Kode:

□□

Wilayah

□□

Penyilang

□□

Menyilang

(kelompok tani, blok, desa, kecamatan); Kg; Luas (ha); Tanggal; MT; Hasil (ton); Tanda Tangan. Di bagian bawah lembar dokumentasi tertera di bagian kanan: Nama Penyilang, dan di bagian kiri: Mengetahui, KCD Kecamatan Gabus Wetan. Itulah inisiatif dan kreativitas Dar dan sejumlah penyilang sebagai contoh dari praktik-praktik penekstualisasian data tentang persilangan dan hasil pengamatan tentang karakteristik pertumbuhan tanaman, bahkan juga catatan tentang persebaran benih yang dihasilkan dari persilangan.

Gambar 9.14 Lembar pencatatan pemuliaan tanaman padi Dar (Foto oleh Winarto, 2008) Hal serupa ditemukan pada Arifin, yang hasil persilangannya tersebar di tempat lain. Berbeda dengan beberapa pemulia tanaman di atas, Arifin tidak hanya menanam persilangan di lahan praktiknya sendiri. Tanaman yang telah dikembangkan, misalnya Bongong, juga ditanam oleh petani-petani lain yang ada di sekitar desanya, bahkan juga sampai ke luar batas desa, kecamatan, dan kabupaten melalui sistem tukar-menukar benih atau sistem pembelian benih yang lazim berlaku di kalangan petani. Merespon perkembangan ini ia berinisiatif untuk mencatat perkembangan yang ada di berbagai tempat tersebut. Akan tetapi, ia tidak membuat daftar isian untuk petani-petani yang juga menanam hasil persilangannya. Pencatatan dilakukan oleh Arifin sendiri. Di wilayah yang sama dengan Arifin, petani-pemulia lain yang melakukan pencatatan adalah Kamad. Berbeda dengan Arifin, Kamad

hanya mencatat perkembangan seleksi yang dilakukannya sendiri. Ia menuliskan beberapa ciri morfologis yang mendetail dalam diagram genealogi dari hasil persilangan yang dilakukannya. (lihat Gambar 9.15)

Gambar 9.15 Daftar Morfologi yang ditulis Kamad, (Sumber: Ardhianto, 2008)

Satu hal yang juga menjadi pemikiran petani-pemulia tanaman adalah mencatat asal-usul persilangan benih yang dilakukannya.

Menggambar Diagram Genealogi Persilangan Benih

Mencatat asal-usul (genealogi) persilangan yang dilakukan masing-masing merupakan salah satu wujud ketrampilan petani-pemulia dalam menekstualisasi pengetahuan empirisnya. Menggambar dan menuliskan aktivitas mereka sendiri dalam menyilangkan benih, serta menyeleksinya dari generasi ke generasi, menuntut suatu kemampuan untuk mengingat, mengodifikasi, dan mengabstraksikan praktik-praktik yang dilakukan selama beberapa musim berturut-turut. Berlangsunglah suatu integrasi sejumlah kemampuan kognitif yang menuntut daya ingat, pengamatan empiris yang ditekstualisasikan melalui simbol-simbol, serta daya analisis dan abstraksi. Merujuk kepada Ellen (2004), tahap perkembangan menekstualisasikan pengetahuan empiris berimplikasi terhadap kemampuan seseorang untuk memilih dan menggunakan informasi, melakukan komparasi, dan menganalisis hubungan-hubungan dari seperangkat gejala. Hal itulah yang nampak dialami sejumlah petani-pemulia yang mampu secara khusus membuat diagram silsilah (genealogi) persilangan yang dilakukannya.

Petani-pemulia tanaman menyadari pentingnya dimensi waktu dari perkembangan seleksi hasil persilangan. Mencatat tanggal semai, tanam, dan panen pada setiap generasi (F) hasil seleksi dalam diagram genealogi pun dilakukan sejumlah petani-pemulia tanaman. Hal itu signifikan bagi upaya mereka memahami situasi agroekosistem pada setiap tahapan generasi. Selain itu, mereka juga menggunakan kode-kode dalam bagan-bagan kotak yang merepresentasikan salah satu galur perpecahan genetika. Namun, tidak semua petani-pemulia melakukan hal itu, dan tidak semua yang menggambarkan silsilah benih persilangannya melakukan hal yang sama. Diagram genealogi itu merupakan hasil karya masing-masing petani-pemulia yang dilandasi oleh kreativitas dan daya abstraksinya. Oleh karena itu, variasi diagram genealogi pun dijumpai dari satu petani ke petani yang lain.

Dokumentasi genealogi yang dilakukan seorang petani-pemulia tanaman, Kamad, menunjukkan kemampuannya menghubungkan berbagai unsur dalam skema pengetahuannya yang dituangkan dalam sebuah catatan di selembar karton. Catatan itu meliputi ciri-ciri nama benih tetua induk dan jantan dari varietas persilangan yang telah dikembangkannya, morfologi tanaman, kodifikasi atas persilangan, dan sekaligus juga silsilahnya. Semuanya itu dituangkan oleh Kamad dalam sebuah karton besar. Untuk beberapa segregasi yang unggul dari hasil persilangannya, dituliskan secara rinci ciri-ciri morfologinya. Lihat gambar 9.16 untuk genealogi benih yang dinamai Gading Surya.

Dalam gambar 9.16 itu terlihat cara Kamad menjelaskan keseluruhan detail perkembangan pemuliaan tanaman dalam bentuk diagram lengkap dengan morfologi tiap segregasi yang muncul di tahap F2 dan F3. Dengan mengacu pada satu buah diagram itu, Kamad dapat menceritakan secara lisan dan lengkap berbagai catatan sebelumnya dalam mendeskripsikan ciri morfologi setiap segregasi. Melalui cara itu pula, Kamad mampu mengingat dan mengaktifkan pengetahuan/pengalamannya mengenai perkembangan tanaman dalam setiap generasi. Diungkapnya salah satu contoh kasus dari manfaat yang dipetiknya dalam memahami perpecahan genetik dan asal usul benih Gading Surya dengan menunjukkan alur terciptanya segregasi.

Hal berbeda dipraktikkan oleh War dalam meggambarkan genealogi hasil seleksinya, yakni dalam memilih media pencatatan dan bentuk catatan yang dilakukan. Penekstualisasian data itu dilakukan War dalam catatan yang terpisah. Ia hanya menyebutkan nomor dari persilangan yang tercatat pada buku daftar persilangan tanpa mencantumkan detail morfologi dalam bagan genealogi benih yang dibuatnya. Kode atau nomor persilangan itu disimpannya dalam catatan lain, yakni catatan kodifikasi persilangan yang disertai pula dengan data mengenai morfologi dari varietas persilangan tersebut. Detail morfologi ditulisnya pula di buku yang berbeda. Praktik yang dilakukan ini menunjukkan kemampuan baru dari petani-pemulia tanaman, yaitu melakukan abstraksi dan menghubungkan praktik-praktik seleksi serta pengamatan di lahan dengan beragam kategori yang tertulis di berbagai catatan. Catatan menjadi salah satu perangkat yang semakin penting bagi petani-pemulia dalam mengubah hasil pengamatan di tataran empirik menjadi kode-kode dan tulisan di tataran simbolik. Kasus diagram genealogi yang dikembangkan oleh Kamad dan War menunjukkan variasi dalam hal merepresentasikan data empirik dalam teks. Kasus Kamad menunjukkan upaya petani-pemulia untuk mengintegrasikan keseluruhan pengalaman empiris petani-pemuliaan tanaman dalam selembar catatan di karton. War, sebaliknya, melakukan pencatatan secara terpisah, tetapi konsisten dengan kodifikasi persilangan yang telah diciptakan dan disimpannya secara tekstual dalam buku catatannya. Lihat gambar 9.17.

Gambar 9.17. Genealogi Persilangan War (Foto oleh Tim Bisa Dewek)

Seperti halnya War, Arifin mencatat sejarah persilangan yang dilakukannya dalam sebuah buku tulis. Ia juga tidak mencatat detail morfologi dalam genealogi tanaman yang digambarnya, begitu pula dengan waktu kegiatan pemuliaan tanaman yang dilakukan. Akan tetapi, terdapat rujukan pada catatan tertentu atas seleksi hasil persilangan di generasi tertentu. Misalnya, untuk F5 Bongong terdapat catatan tersendiri yang ditemukan dalam kumpulan dokumentasi yang dilakukan Arifin (lihat gambar 9.18). Serupa dengan War, ada bagian-bagian yang tidak terintegrasikan dalam genealogi. Tesktualisasi atas pengetahuan yang masih tertanam dalam ingatannya, dicantumkan dalam dokumentasi lain, tidak di dalam diagram genealogi seperti yang dilakukan Kamad.

Gambar 9.18 Genealogi Persilangan Arifin (Foto oleh Ardhianto, 2008)

Hal menarik dari dokumentasi Arifin adalah pencantuman nama penyeleksi pada kode-kode galur hasil segregasi. Perbedaan antara seleksi secara individual dan secara kolektif tercermin dalam perbedaan genealogi yang dihasilkan. Dalam lingkup kelompoknya, proses seleksi dilakukan lebih dari satu orang untuk satu buah hasil persilangan yang diciptakan seseorang. Oleh karena itu, identitas penyeleksinya dapat dijumpai dalam genealogi yang diciptakan Arifin. Pencatatan genealogi benih tidak hanya menunjukkan sejarah perkembangan perpecahan genetika suatu hasil persilangan, tetapi juga konteks dari praktik

Dalam dokumen Mencatat Jejak Pengetahuan dalam Praktik (Halaman 25-42)

Dokumen terkait