REKAPITULASI PENERBITAN SBN PER SEMESTER, 2005-2009
F. Kewajiban Penjaminan
VI.16 dan Grafik VI.17
3. Non-Bank
Minat investor terhadap SBN semakin meningkat seiring dengan membaiknya perekonomian Indonesia. Institusi seperti asuransi dan dana pensiun terutama life insurance, memerlukan penempatan dana kelolaannya pada instrumen yang stabil, bebas risiko, dan mampu memenuhi asset against liabilities matching. Dalam kondisi perekonomian yang membaik, pertumbuhan aset institusi seperti dana pensiun dan asuransi akan menunjukkan kecenderungan yang searah perkembangan kondisi perekonomian. Di masa lalu dalam ketiadaan instrumen, asuransi dan dana pensiun akan cenderung menempatkan dana kelolaannya pada instrumen tabungan terutama dalam bentuk deposito. Seiring dengan makin kayanya instrumen, pemahaman pada investasi yang makin baik, dan transaksi pasar sekunder yang makin likuid yang diimbangi dengan infrastruktur peraturan yang mendukung, telah mendorong asuransi dan dana pensiun untuk menempatkan dana kelolaannya pada SBN. Dari data yang ada, hingga akhir 2009, sekitar 26 persen dana kelolaan dari industri dana pensiun ditempatkan pada SBN. Sementara untuk asuransi pada waktu yang sama sekitar 28 persen dialokasikan penempatannya pada SBN. Asuransi dan dana pensiun telah menjadikan SBN sebagai tempat penempatan sesuai profil liabilitiesnya dengan jumlah kepemilikan SBN bertenor panjang (lebih dari 10 tahun). Data akhir Mei 2010 menunjukkan, asuransi dan dana pensiun menempatkan masing-masing sebesar Rp51,78 triliun (67 persen) dan Rp18,05 triliun (48 persen) pada instrumen jangka panjang.
Kelompok industri reksadana, asuransi dan dana pensiun menunjukkan minat yang besar terhadap SBN. Berdasarkan data per Desember 2009, total dana yang diinvestasikan kelompok industri reksadana, asuransi, dan dana pensiun dalam bentuk SBN masing-masing sebesar Rp35,2 triliun (35 persen), Rp78,3 triliun (28 persen), dan Rp28,5 triliun (26 persen) dari total aset yang dimiliki.
Industri reksadana dan investor perseorangan yang termasuk ke dalam kelompok industri lain-lain menunjukkan persentase pertumbuhan yang paling tinggi yaitu 574,42 persen. Kenaikan yang signifikan ini berasal dari penerbitan ORI yang dilakukan Pemerintah sejak tahun 2006. Jumlah investor perseorangan dan unit penyertaan yang berbasis obligasi negara dalam industri reksadana juga akan terus bertambah seiring dengan penerbitan ORI yang akan terus dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan basis investor di dalam negeri. Berbeda dengan kelompok industri asuransi dan dana pensiun, kelompok industri lain-lain lebih banyak berinvestasi pada SBN yang bertenor pendek.
Rating Indonesia yang secara bertahap meningkat dalam enam tahun terakhir telah mendorong investor asing masuk ke Indonesia. Bahkan kelompok industri asing menjadi yang paling dominan meskipun pada awal penerbitan SBN tahun 2002, jumlah kepemilikan Asing atas SBN hanya sebesar Rp1,91 triliun atau 0,48 persen saja, yang secara bertahap terus menunjukkan peningkatan hingga lebih dari 20 persen dari total outstanding yang diperdagangkan pada pertengahan tahun 2008. Pada saat terjadi krisis global bulan Oktober 2008, investor asing menarik dananya di SBN secara bertahap hingga mencapai titik terendahnya pada kuartal pertama 2009. Efek dari krisis global tersebut tidak berlangsung lama karena kuatnya fundamental perekonomian domestik dan masih cukup menariknya
yield yang diberikan. Memasuki kuartal kedua 2009, investor asing kembali masuk ke pasar
modal dan membeli SBN. Berdasarkan data kepemilikan SBN Domestik bulan Mei 2010, jumlah kepemilikan investor asing atas SBN mencapai Rp144,09 triliun atau 23,63 persen dari total jumlah SBN tradable.
Meningkatnya jumlah SBN yang dipegang investor asing perlu dicermati dengan seksama, karena sebagian besar investor domestik masih bertindak mengikuti langkah-langkah yang dilakukan investor asing, misalnya jika investor asing melepas SBN, investor domestik pun akan ikut melepas SBN. Hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh kepada kestabilan harga SBN domestik di pasar sekunder. Berkaitan dengan semakin meningkatnya porsi kepemilikan SBN domestik oleh investor asing, maka Pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan basis investor di dalam negeri dan salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerbitkan SBN Ritel sejak tahun 2006.
BOX VI.7
Deklarasi Paris tentang Aid Effectiveness 2005,
Accra Agenda for Action (AAA) 2008 dan Jakarta Commitment 2009 Sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Harmonisasi pada High Level Forum (HLF) I di Roma pada tahun 2003, lebih dari 120 negara dan 30 organisasi internasional telah mendeklarasikan 5 (lima) prinsip peningkatan Aid Effectiveness, pada HLF II di Paris 2005. Kelima prinsip tersebut dikenal menjadi Deklarasi Paris 2005, terdiri dari: (1) ownership; (2) harmonization, (3) alignment, (4) mutual accountability, dan (5) development result.
Evaluasi atas pelaksanaan lima prinsip dimaksud, menunjukkan bahwa Deklarasi Paris, telah memberikan pengaruh nyata dalam: a) mendorong negara berkembang melakukan perubahan dalam pengelolaan keuangan negara, dan b) mendorong negara maju untuk meningkatkan koordinasinya. Namun perubahan tersebut terjadi relatif lambat dan tanpa aksi konkrit, sehingga komitmen untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan aid effectiveness akan sulit terpenuhi. Dalam rangka menjawab tantangan ke depan guna meningkatan akselerasi pelaksanaan 5 (lima) prinsip Aid Effectiveness, ketika kegiatan HLF III di Accra 2008, telah disepakati untuk memfokuskan upaya pada:
1. Peningkatan country ownership sebagai kunci utama, antara lain melalui:
a. Komitmen negara berkembang dengan dukungan aktor pembangunan (Parlemen; Pemerintah Daerah; Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk (i) meningkatkan kapasitasnya guna memimpin penetapan kebijakan dan tujuan pembangunan nasional, (ii) memonitor pelaksanaan pembangunan nasional yang mencakup peningkatan kesejahteraan dengan pengentasan kemiskinan, HAM, isu gender, lingkungan, serta ikut serta menciptakan perdamaian, guna mempercepat pencapaian MDG’s.
b. Komitmen negara donor untuk meningkatkan kapasitasnya guna merespon kebutuhan negara berkembang, mengadopsi pendekatan demand driven guna meningkatkan ownership untuk mendukung (i) penetapan prioritas dan pencapaian tujuan pembangunan, (ii) peningkatan kapasitas aktor pembangunan, (iii) penguatan kelembagaan melalui partisipasi di dalam proses penetapan kebijakan pembangunan, (iv) peningkatan penggunaan sistem lokal (alignment), dan lain-lain.
2. Pembangunan hubungan kemitraan yang sejajar melalui :
a. Komitmen negara donor dan negara berkembang untuk mengurangi aid fragmentation dengan memperbaiki duplikasi dan efektifitas divison of labour among donor (harmonization) tanpa berpengaruh pada pengurangan alokasi bantuan.
b. Komitmen negara donor dan negara berkembang untuk meningkatkan value for money atas aid melalui pengurangan tied aid dengan cara antara lain penggunaan sistem pelelangan lokal sepanjang transparan dan memberi kesempatan bagi perusahaan lokal dan regional untuk ikut bersaing.
c. Negara donor dan negara berkembang sepakat untuk bekerjasama dengan aktor pembangunan serta meningkatkan peran global fund dalam mendukung kebijakan dan penguatan kelembagaan di sektor pembangunan yang berhubungan dengan isu-isu lingkungan.
3. Mewujudkan prinsip akuntabilitas untuk pembangunan yang berorientasi pada hasil sebagai road map peningkatan aid effectiveness melalui :
a. Komitmen negara berkembang dan donor bahwa kegiatan pembangunan akan membawa dampak positif terhadap standar hidup sesuai yang diharapkan masyarakat; b. Negara berkembang dan donor akan saling transparan dan akuntabel, memonitor dan evaluasi atas pencapaian komitmen yang ditetapkan dalam (5) lima prinsip Aid Effectiveness dalam Deklarasi Paris 2005.
Sejalan dengan semangat Deklarasi Paris 2005, dan sebagai amanat Accra Agenda for Action (AAA) 2008, pada tanggal 12 Januari 2008 Pemerintah RI dengan 25 mitra pembangunan, telah menandatangani the Jakarta Commitment: Road Map of Aid Development Effectiveness. Sekalipun merupakan suatu Memorandum of Understanding yang sifatnya morally binding, the Jakarta Commitment telah memberikan dampak positip terhadap perubahan sikap negara donor dalam pengadaan pinjaman dan bantuan luar negeri. Tantangan terbesar dari pelaksanaan dan pencapaian target yang tertuang di dalam the Jakarta Commitment datang dari perubahan paradigma manajemen pembangunan. Dalam konteks terkini, foreign aid seringkali hanya dipahami secara sempit dalam perannya sebagai pengisi kekurangan sumber daya keuangan. Sementara itu, dalam perspektif yang lebih luas, foreign aid adalah transfer sumber daya beserta intangible aspects lainnya yang dapat berperan untuk merubah existing resources di negara penerima menjadi sumber daya baru yang memang berkesesuaian dengan tujuan pembangunan. Di samping itu, foreign aid dapat dipandang sebagai pelengkap penguatan institusi yang menjadi tumpuan pencapaian
tujuan-6.3.2.3.4 Pembiayaan Alat Utama Sistem Persenjataan Melalui Pinjaman
Pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI dan Alut POLRI selain dibiayai dengan rupiah murni APBN, juga dibiayai dengan pinjaman luar negeri. Oleh karena pinjaman lunak pada umumnya terbatas untuk kegiatan di luar sektor pertahanan dan keamanan (infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan lain-lain), maka sumber pembiayaan pengadaan Alutsista dan Alut POLRI didapatkan melalui Fasilitas Kredit Ekspor (FKE) dan pinjaman komersial.
Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006, pembiayaan alutsista dan alut POLRI diutamakan dengan memanfaatkan FKE resmi yang disediakan oleh lembaga penjamin kredit ekspor dari negara-negara yang tergabung dalam
Organization for Economic Cooperation and Development’s (OECD’s) Arrangement.
Pinjaman dimaksud mengandung subsidi dari negara yang bersangkutan guna mendukung kegiatan ekspornya. Dalam skema FKE resmi, negara-negara pengekspor memberikan kompensasi kepada bank pemberi kredit atas perbedaan interest rate yang diberikan kepada negara importirnya/peminjam dan interest rate yang berlaku di pasar. Dengan demikian, pinjaman kepada negara importirnya memiliki biaya (cost of borrowing) yang relatif lebih murah dibandingkan pinjaman komersial di pasar keuangan.
Namun, dalam hal tidak diperolehnya sumber pembiayaan dari FKE resmi, maka pengadaan Alutsista dapat dibiayai dengan pinjaman komersial. Pinjaman komersial berasal dari bank komersial terkemuka dan bertaraf internasional. Faktor yang menyebabkan tidak diperolehnya pembiayaan melalui FKE resmi adalah bahwa tidak semua negara terdaftar dalam keanggotaan OECD’s Arrangement dan konsensus OECD’s Arrangement, FKE resmi tidak boleh diberikan untuk pembelian peralatan militer yang bersifat lethal/combatant (seperti rudal, peluru, dan sejenisnya).
Dari sisi biaya, FKE resmi dan pinjaman komersial mempunyai cost of borrowing yang relatif lebih mahal dibandingkan sumber pembiayaan multilateral dan bilateral. Oleh karena itu, Pemerintah hanya memanfaatkan pinjaman tersebut untuk membiayai pengadaan Alutsista dan Alut POLRI yang menjadi prioritas utama. Sebagai alternatif pembiayaan selain dari FKE resmi dan pinjaman komersial, telah diupayakan sumber pembiayaan yang berasal dari dalam negeri, yaitu pinjaman dalam negeri dari bank-bank BUMN sesuai kebijaksanaan Pemerintah yang diatur dalam dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2008. Sumber pembiayaan ini disamping diharapkan dapat meningkatkan mutu serta kapasitas produk Alutsista dan Alut POLRI di dalam negeri, juga diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas dalam pengelolaan utang serta mengurangi risiko mata uang utang Pemerintah.
6.3.2.3.5 Akselerasi Pembayaran Pinjaman IDA
Salah satu instrumen pinjaman dari World Bank yang dimanfaatkan oleh Pemerintah adalah
International Development Association (IDA) Credit. IDA Credit (pinjaman IDA) merupakan
pinjaman dengan concessional terms yang ditujukan khususnya bagi negara dengan Gross
National Product (GNP) per capita rendah (Low Income Country). Dalam portofolio utang
Pemerintah per akhir Juni 2010, terdapat pinjaman IDA sebesar USD2,19 miliar atau sekitar 1,1persen dari total outstanding utang Pemerintah.
tujuan pembangunan yang pada gilirannya memungkinkan pembaharuan strategi pembangunan serta menumbuhkan inovasi yang relevan dan dapat diterapkan dalam konteks lokal.
Sejak tahun 2008 Indonesia sudah tidak lagi mendapat pinjaman IDA karena telah digolongkan ke dalam Middle Income Country dan hanya berhak memperoleh pinjaman
International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) dengan semi-concessional terms. Dalam loan agreement pinjaman IDA yang ditandatangani sesudah tahun 1987
terdapat klausul bahwa World Bank mempunyai hak untuk meminta dilakukannya akselerasi pelunasan pinjaman IDA kepada debitur apabila GNP per capita-nya telah melebihi threshold USD1.135 selama tiga tahun berturut-turut (threshold tahun 2010) serta memenuhi kriteria sebagai debitur IBRD. Indonesia dalam hal ini telah memenuhi kondisi dimaksud sejak tahun 2009.
Terkait dengan ketentuan dalam loan agreement tersebut, terdapat dua pilihan akselerasi pinjaman IDA yang dapat dilakukan debitur, yakni (1) Principal option yang mengubah tenor pinjaman menjadi lebih pendek dengan meningkatkan pembayaran pokok dua kali lipat pembayaran dengan skedul normal; atau (2) Interest option yang mengubah ketentuan suku bunga pinjaman, dimana debitur melakukan tambahan pembayaran beban bunga agar Net Present Value (NPV) dari cashflow pembayaran pokok dan bunga pada skedul opsi ini sama dengan NPV skedul Principle option. Dari jumlah pinjaman IDA yang dimiliki Pemerintah, sekitar USD1,51 milar (69 persen) memiliki ketentuan dilakukannya akselerasi dimaksud.
Dengan adanya akselerasi dimaksud, diharapkan akan meningkatkan ketersediaan dana pinjaman IDA yang dapat dipinjamkan World Bank kepada negara miskin dan negara berkembang yang membutuhkan.
6.4 Risiko Fiskal
6.4.1 Analisis Sensitivitas
6.4.1.1 Sensitivitas Defisit APBN terhadap Perubahan Asumsi
Ekonomi Makro
Dalam penyusunan APBN, indikator-indikator ekonomi makro yang digunakan sebagai dasar penyusunan adalah pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan, nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia
Crude Oil Price/ICP), dan lifting minyak. Indikator-indikator tersebut merupakan asumsi
dasar yang menjadi acuan penghitungan besaran-besaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam APBN. Apabila realisasi variabel-variabel tersebut berbeda dengan asumsinya, maka besaran-besaran pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam APBN juga akan berubah. Oleh karena itu, variasi-variasi ketidakpastian dari indikator ekonomi makro merupakan faktor risiko yang akan memengaruhi APBN.
Tabel VI.12 menunjukkan selisih antara perkiraan awal besaran asumsi makro yang
digunakan dalam penyusunan APBN dan realisasinya untuk tahun 2005-2009. Selisih tersebut mengakibatkan terjadinya perbedaan antara target defisit dengan realisasinya. Apabila realisasi defisit melebihi target defisit yang ditetapkan dalam APBN maka hal tersebut merupakan risiko fiskal yang harus dicarikan sumber pembiayaannya.
Risiko fiskal akibat variasi asumsi ekonomi makro dapat digambarkan dalam bentuk analisis sensitivitas parsial terhadap angka baseline defisit dalam APBN. Analisis sensitivitas parsial
digunakan untuk melihat dampak perubahan atas satu variabel asumsi ekonomi makro, dengan mengasumsikan variabel asumsi ekonomi makro yang lain tidak berubah (ceteris
paribus).
Pertumbuhan ekonomi memengaruhi besaran APBN, baik pada sisi pendapatan maupun belanja negara. Pada sisi pendapatan negara, pertumbuhan ekonomi antara lain memengaruhi penerimaan pajak, terutama PPh dan PPN. Pada sisi belanja negara, pertumbuhan ekonomi antara lain memengaruhi besaran nilai dana perimbangan dalam anggaran transfer ke daerah sebagai akibat perubahan pada penerimaan pajak. Pada tahun anggaran 2011, apabila pencapaian pertumbuhan ekonomi lebih rendah 1 persen dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp4,4 triliun sampai dengan Rp4,9 triliun.
Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memiliki dampak pada semua sisi APBN, baik pendapatan, belanja, maupun pembiayaan. Pada sisi pendapatan negara, depresiasi nilai tukar rupiah antara lain akan memengaruhi penerimaan minyak dan gas bumi (migas) dalam denominasi dolar Amerika Serikat serta PPh migas dan PPN. Pada sisi belanja negara, yang akan terpengaruh antara lain (1) belanja dalam mata uang asing; (2) pembayaran bunga utang luar negeri; (3) subsidi BBM dan listrik; dan (4) transfer ke daerah dalam bentuk dana bagi hasil migas. Sedangkan pada sisi pembiayaan, yang akan terkena dampaknya adalah (1) pinjaman luar negeri baik pinjaman program maupun pinjaman proyek; (2) pembayaran cicilan pokok utang luar negeri; dan (3) privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan yang dilakukan dalam mata uang asing. Pada tahun anggaran 2011, apabila nilai tukar rupiah rata-rata per tahun terdepresiasi sebesar Rp100,0 dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp0,38 triliun sampai dengan Rp0,42 triliun. Tingkat suku bunga yang digunakan sebagai asumsi penyusunan APBN adalah tingkat suku bunga SBI 3 bulan. Perubahan tingkat suku bunga SBI 3 bulan diperkirakan hanya akan berdampak pada sisi belanja. Dalam hal ini, peningkatan tingkat suku bunga SBI 3 bulan akan berakibat pada peningkatan pembayaran bunga utang domestik. Pada tahun anggaran 2011, apabila tingkat suku bunga SBI 3 bulan lebih tinggi 0,25 persen dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp0,3 triliun sampai dengan Rp0,5 triliun.
Uraian 2005 2006 2007 2008 2009 2010**
Pertumbuhan ekonomi (%) 0,2 -0,32 0 -0,2 0,2 0
Inflasi (%) 11,6 -1,4 0,6 4,9 -1,7 -0,3
Tingkat suku bunga SBI 3 bulan (%) 2,6 -0,3 0 1,8 0,1 0,1
Nilai tukar (Rp/USD) 12,85 -237 90 591,1 -92 -7
ICP (USD/barel) 27 ,8 -0,2 9,7 1,8 0,6 -2
Produksi miny ak (juta barel per hari) -0,1 -0,04 -0,05 0 -0,08 -0,006
positif m en u n ju kka n depr esia si.
TABEL VI.12
* A n g ka positif m en u n ju kka n r ea lisa si lebih tin g g i da r ipa da a su m si a n g g a r a n . Un tu k n ila i t u ka r , a n g ka ** Mer u pa ka n selisih a n ta r a A PBN-P 2 0 1 0 da n r ea lisa si s.d. A kh ir Ju n i 2 0 1 0
Su m ber : Kem en ter ia n Keu a n g a n .