• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELISIH ANTARA ASUMSI EKONOMI MAKRO DAN REALISASINYA*

Harga minyak mentah Indonesia (ICP) memengaruhi APBN pada sisi pendapatan dan belanja negara. Pada sisi pendapatan negara, kenaikan ICP antara lain akan mengakibatkan kenaikan pendapatan dari kontrak production sharing (KPS) minyak dan gas dalam bentuk PNBP. Peningkatan harga minyak dunia juga akan meningkatkan pendapatan dari penerimaan PPh migas dan penerimaan migas lainnya. Pada sisi belanja negara, peningkatan ICP antara lain akan meningkatkan belanja subsidi BBM dan dana bagi hasil ke daerah. Pada tahun anggaran 2011, apabila rata-rata ICP lebih tinggi USD1 per barel dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp0,0 triliun sampai dengan negatif Rp0,3 triliun (surplus).

Penurunan lifting minyak domestik juga akan memengaruhi APBN pada sisi pendapatan dan belanja negara. Pada sisi pendapatan, penurunan lifting minyak domestik akan menurunkan PPh migas dan PNBP migas. Sementara pada sisi belanja negara penurunan

lifting minyak domestik akan menurunkan dana bagi hasil ke daerah. Pada tahun anggaran

2011, apabila realisasi lifting minyak domestik lebih rendah 10.000 barel per hari dari yang diasumsikan, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp3,0 triliun sampai dengan Rp3,34 triliun.

Variabel lain yang berpengaruh terhadap besaran defisit adalah volume konsumsi BBM domestik. Peningkatan konsumsi BBM domestik sebesar 0,5 juta kiloliter berpotensi menambah defisit RAPBN 2011 pada kisaran Rp1,14 triliun sampai dengan Rp1,25 triliun. Dari analisis sensitivitas di atas maka besaran risiko fiskal berupa tambahan defisit yang berpotensi muncul dari variasi asumsi-asumsi variabel ekonomi makro yang digunakan untuk menyusun RAPBN 2011 dapat digambarkan dalam Tabel VI.13.

6.4.1.2 Sensitivitas Risiko Fiskal Badan Usaha Milik Negara Akibat

Perubahan Variabel Ekonomi Makro

Risiko fiskal yang bersumber dari BUMN terdiri dari: (i) kontribusi bersih BUMN; (ii) nilai utang bersih BUMN; dan (iii) kebutuhan pembiayaan bruto BUMN. Risiko-risiko tersebut dapat dibedakan sebagai risiko yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Risiko yang

1 Pertumbuhan ekonomi (%) -1 6,3 4,4 s.d. 4,9

2 Tingkat inflasi (%) 0,1 5,3 Tidak langsung

3 Rata-rata nilai Tukar Rupiah (Rp/USD) 100 9.300 0,38 s.d. 0,42

4 Suku bunga SBI-3 bulan (%) 0,25 6,5 0,3 s.d o,5

5 ICP (USD/barel) 1 80 0,0 s.d. 0,3

6 Lifting minyak (ribu barel/hari) -10 970 3,00 s.d. 3,34

7 Konsumsi BBM domestik (juta kiloliter) 0,5 36,8 1,14 s.d. 1,25

*) Defisit RAPBN Tahun 2011 adalah Rp115,7 triliun. Sumber: Kementerian Keuangan.

Satuan Perubahan

Asumsi Potensi Tambahan Defisit (triliun rupiah)

TABEL VI.13

SENSITIVITAS DEFISIT APBN 2011 TERHADAP PERUBAHAN

No. Uraian

2011* Asumsi

bersifat langsung berupa kontribusi bersih BUMN terhadap APBN, dimana setiap perubahan kinerja BUMN dapat mempengaruhi postur besaran APBN. Sedangkan yang bersifat tidak langsung berupa kemampuan BUMN untuk memenuhi seluruh kewajibannya yang diukur dari nilai utang bersih BUMN dan kapasitas untuk mendapatkan sumber-sumber pembiayaan guna mendanai investasi dalam rangka pengembangan usahanya yang diukur dari kebutuhan pembiayaan bruto.

Kontribusi bersih BUMN, merupakan

selisih antara penerimaan negara dari BUMN (seperti pendapatan pajak, pendapatan bukan pajak, dan privatisasi) dibandingkan dengan pengeluaran negara kepada BUMN (seperti penyertaan modal negara, kompensasi PSO/ subsidi, dan pinjaman kepada BUMN). Perkembangan kontribusi bersih BUMN selama periode tahun 2005 sampai dengan 2010 menunjukkan selisih negatif dan berfluktuasi dapat dilihat pada Grafik VI.18.

Nilai utang bersih BUMN, merupakan

total kewajiban BUMN dikurangi dengan ketersediaan kas dan aset lancar. Nilai utang bersih ini tidak berpengaruh langsung ke APBN, tetapi dapat menjadi kewajiban kontinjensi Pemerintah apabila terdapat BUMN yang gagal bayar dalam memenuhi kewajibannya. Perkembangan total utang bersih BUMN tahun 2005-2010 dapat dilihat pada Grafik VI.19.

Kebutuhan pembiayaan bruto BUMN,

merupakan kebutuhan pendanaan untuk mendanai aset akibat sumber-sumber pendanaan yang telah tersedia tidak dapat memenuhi. Untuk itu BUMN perlu menerbitkan surat utang atau pun saham baru. Hal ini juga tidak berpengaruh langsung kepada Pemerintah, kecuali perusahaan memiliki investasi yang wajib dilakukan namun tidak memiliki akses sumber pembiayaan yang memadai seperti program percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik batubara 10.000 MW oleh PT PLN (Persero). Proyek percepatan tersebut membutuhkan dukungan Pemerintah untuk mendapatkan pinjaman dari pihak ketiga. Perkembangan kebutuhan pembiayaan bruto BUMN tahun 2005-2010 dapat dilihat pada Grafik VI.20.

Perubahan besaran risiko fiskal dari BUMN dipengaruhi oleh pergerakan variabel asumsi ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, dan harga minyak. Pergerakan

Sumber: Kementerian Ne gara BUMN (data diolah)

GRAFIK VI.19

PERKEMBANGAN NILAI UTANG BERSIH BUMN, 2005-2009 (triliun rupiah) -250 -200 -150 -100 -50 0 50 100 150 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010

Pajak deviden Privatisasi PSO PMN Pinjaman Kontribusi Bersih BUMN Sumber: Kementerian Keuangan dan Kementerian Negara BUMN (data diolah)

GRAFIK VI.18

PERKEMBANGAN KONTRIBUSI BERSIH BUMN, 2005 – 2010 (triliun rupiah)

Sumber: Kementerian Negara BUMN (data diolah) GRAFIK VI.20

PERKEMBANGAN KEBUTUHAN PEMBIAYAAN BRUTO BUMN (CAPITAL EXPENDITURE), 2005 – 2010

variabel-variabel ekonomi makro tersebut akan menimbulkan dampak pada kinerja keuangan BUMN yang pada akhirnya dapat memengaruhi besaran indikator risiko fiskal dari BUMN.

Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan tersebut Pemerintah telah melakukan pengujian sensitivitas atau macro stress test dengan menggunakan beberapa indikator risiko fiskal yang meliputi: (i) kontribusi bersih BUMN; (ii) nilai utang bersih BUMN; dan (iii) kebutuhan pembiayaan bruto BUMN. Pengujian sensitivitas ini akan memberikan gambaran tentang (i) magnitude risiko dari BUMN yang memengaruhi APBN, (ii) informasi dini risiko fiskal, dan (iii) gambaran risiko sektoral, sehingga dapat diambil tindakan dini dan antisipasi terhadap gejala risiko fiskal.

Sejak tahun 2009 simulasi macro stress test dilakukan dengan menggunakan sampel 22 BUMN dari berbagai sektor dengan kriteria (i) BUMN penghasil laba terbesar, (ii) BUMN penyebab rugi terbesar, (iii) BUMN penerima PSO/subsidi terbesar, dan (iv) BUMN yang mewakili sektor dalam perekonomian Indonesia. Perubahan atas 22 BUMN ini diharapkan dapat mencerminkan perubahan total BUMN yang berjumlah 141 BUMN. Dengan demikian hasilnya diharapkan dapat lebih mewakili eksposur risiko fiskal yang berasal dari BUMN. Model macrostress test risiko fiskal BUMN menyajikan dua hasil utama yaitu analisis skenario dan stress test. Analisis skenario menggambarkan tingkat ketidakpastian indikator risiko fiskal masing-masing BUMN maupun agregasinya pada tiga skenario yakni (i) baseline, (ii) optimistis, dan (iii) pesimistis. Sedangkan stress test menyajikan perubahan relatif atas indikator risiko fiskal BUMN jika terjadi goncangan atau tekanan faktor risiko.

Skenario baseline, menggambarkan kondisi ekonomi makro sesuai dengan asumsi APBN,

seperti pertumbuhan ekonomi tahun 2011 sebesar 6,3 persen, harga ICP USD80 per barel dan nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar Rp9.300. Pada skenario ini, kontribusi bersih BUMN terhadap RAPBN 2011 menunjukkan nilai negatif sebesar Rp65,9 triliun.

Skenario optimistis, variabel-variabel ekonomi makro diasumsikan berada pada posisi

optimal yang paling mungkin terjadi, seperti pertumbuhan ekonomi tahun 2011 sebesar 6,5 persen, harga ICP relatif rendah pada USD60 per barel dan nilai tukar rupiah terhadap dolar diasumsikan pada kisaran Rp9.400. Pada kondisi makro yang kondusif ini, tekanan risiko fiskal dari BUMN akan berkurang yang ditandai dengan kontribusi bersih BUMN terhadap APBN sebesar Rp15,5 triliun.

Skenario pesimistis, menunjukkan kondisi ekonomi makro berada pada posisi buruk yang

paling mungkin terjadi, seperti untuk tahun 2011, pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen, tingginya harga ICP sebesar USD95 per barel dan depresiasi rupiah terhadap dolar yang sangat tinggi hingga mencapai Rp10.000. Pada skenario ini, tekanan risiko fiskal dari BUMN akan meningkat yang ditandai dengan kontribusi bersih BUMN terhadap APBN sebesar negatif Rp115,9 triliun. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap belanja APBN khususnya kenaikan besaran PSO/subsidi yang dibayarkan Pemerintah melalui BUMN. Selain itu, biaya produksi operasional BUMN akan mengalami kenaikan sehingga akan mengurangi kontribusi BUMN terhadap APBN melalui penerimaan pajak dan setoran dividen. Risiko fiskal juga muncul sebagai akibat peningkatan nilai utang bersih BUMN karena sebagian besar biaya operasional dan komposisi utang BUMN dalam bentuk mata uang asing.

Hasil analisis skenario risiko fiskal BUMN agregasi seperti pada Grafik VI.21 dan Tabel

Sumber: Kementerian Keuangan (data diolah)

GRAFIK VI.21