HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Rp 5.100.000-6.300.000 Non medis
Rp 1.200.000-2.400.000 Rp 2.500.000-3.700.000 Rp 3.800.000-5.000.000 Rp 5.100.000-6.300.000 Kehamilan Medis Primigravida Multigravida Non medis Primigravida Multigravida 25 4 0 1 18 12 10 20 3,33% 83,33% 13,33% 0 3,33% 60 % 40 % 33,33 % 66,67 %
1.2 Tingkat kecemasan ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan medis dalam menghadapi persalinan di kota Pematang Siantar.
Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa 40% responden yang menyatakan mengalami cemas sedang dalam menghadapi persalinan, dan 60% yang menyatakan mengalami cemas berat, dan yang mengalami cemas ringan dan panik tidak ada
Tabel 2. Distribusi frekuensi tingkat kecemasan pada ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan medis dalam menghadapi persalinan di kota Pematang Siantar (n= 30).
1.3. Tingkat kecemasan ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan Non Medis dalam menghadap persalinan di kota Pematang Siantar.
Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa 3,33% responden yang menyatakan mengalami cemas ringan dalam menghadapi persalinan, dan 56,67% responden yang menyatakan mengalami cemas sedang, dan 40% responden yang menyatakan mengalami cemas berat, dan yang mengalami panik adalah tidak ada.
Tabel 3. Distribusi frekuensi tingkat kecemasan pada ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan Non Medis dalam menghadapi persalinan di kota Pematang Siantar. (n=30)
Tingkat Kecemasan Frekuensi (n) Persentasi (%) Ringan ( 20 – 35 ) Sedang ( 36 – 50 ) Berat ( 51 – 65 ) Panik ( 66 – 80 ) 0 12 18 0 0 40 60 0
Tingkat Kecemasan Frekuensi (n) Persentasi (n) Ringan (20 – 35 ) Sedang ( 36 – 50 ) Berat ( 51 – 65 ) Panik ( 66 – 80 ) 1 17 12 0 3,33 % 56,67 % 40 % 0
1.4. Mekanisme Koping ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan Medis dalam menghadapi persalinan di kota Pematang Siantar.
Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa 100% ibu hamil yang berlatar belakang medis mengadopsi koping yang Adaptif.
Tabel 4. Distribusi frekuensi mekanisme koping pada ibu hamil yang berlatar belakang medis dalam menghadapi persalinan (n=30).
Mekanisme Koping Frekuensi (n) Persentasi (%) Adaptif Maladaptif 30 - 100 % 0
1.5Mekanisme Koping ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan Non medis dalam menghadapi persalinan di kota Pematang Siantar.
Hasil peneltitian saya menunjukkan bahwa 96,67% ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan non medis yang mengadopsi koping adaptif, dan 3,33% ibu hamil yang mengadopsi koping maladaptif.
Tabel 5. Distribusi frekuensi mekanisme koping pada ibu hamil yang berlatar belakang non medis dalam menghadapi persalinan (n=30).
Mekanisme Koping Frekuensi (n) Persentasi (%) Adaptif Maladaptif 29 1 96,67 3,33 2. PEMBAHASAN
Berikut ini akan dibahas hal-hal yang terkait penelitian tentang tingkat kecemasan dan koping ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan medis dan non medis dalam menghadapi persalinan di kota Pematang Siantar terhadap 60 orang (30 orang ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan medis dan 30 orang ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan non medis) yang terdapat di dua klinik di Pematang Siantar (Klinik bidan Hapsah dan Klinik bidan Hendrayatni). Jika dilihat berdasarkan data demografi, karakteristik responden beragam. Menurut Arikunto (2006) suatu penelitian yang baik, sebaiknya menggunakan responden yang beragam sehingga bisa mewakili semua unsur yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui mayoritas responden yang berlatar belakang pendidikan medis berusia 28-35 tahun dan responden yang berlatar belakang pendidikan non medis berusia 18-27 tahun, pada umumnya usia ibu hamil berpengaruh terhadap proses kehamilan, pada kesehatan janin dan sampai proses persalinan. Menurut World Health Organisation (WHO) untuk usia yang
dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 hingga 30 tahun. Tapi mengingat kemajuan teknologi saat ini, sampai usia 35 tahun masih boleh untuk hamil sebab tidak semua wanita hamil mengalami resiko tinggi dengan catatan ibu tersebut harus memeriksakan diri secara teratur ke dokter kandungan, menjaga dan memantau kondisi kesehatan tubuh serta kondisi asupan gizinya (Tobing, 2009).
Menurut Seno Adjie kehamilan di usia kurang dari 20 tahun bisa menimbulkan masalah, karena kondisi fisik belum 100% siap. Kehamilan dan persalinan di usia tersebut, meningkatkan angka kematian ibu dan janin 4 – 6 kali lipat dibandingkan wanita yang hamil dan bersalin di usia 20 – 30 tahun. Beberapa risiko yang bisa terjadi pada kehamilan di usia kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin terhambat, bisa jadi secara mentalpun si wanita belum siap ini menyebabkan kesadaran untuk memeriksakan diri dan kandunganya rendah (Hidayathullah, 2011)
Berbeda dengan wanita usia 20 – 30 tahun yang dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Di rentang usia ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima dan rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan dan persalinan (di kutip Choirul, 2011 dalam artikel Republika).
Menurut Hamilton (1995), ibu hamil yang umurnya lebih muda atau belum matur ternyata lebih mudah mengalami gangguan kecemasan dari pada ibu hamil
yang usianya lebih tua atau matur tetapi yang usianya lebih tua atau maturpun dapat juga mengalami gangguan ansietas atau stress (Hawari, 2006).
Kesiapan untuk hamil dan menghadapi persalinan tidak hanya ditentukan oleh usia saja tetapi banyak faktor-faktor lainnya salah satunya riwayat persalinan yang lalu juga dapat menimbulkan kecemasan. Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa 100% riwayat persalinan yang lalu tidak bermasalah. Adapun kriteria dari riwayat persalinan yang lalu yang dapat menimbulkan kecemasan adalah partus lama, ketuban pecah dini, perdarahan, mual/ muntah yang berlebihan (Hiperemesis gravidarum), keguguran, adanya penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi, diabetes dan lain-lain (Nolan, 2010).
Penyakit yang menyertai ibu dalam kehamilan adalah salah satu faktor yang menyebabkan kecemasan. Seseorang yang menderita suatu penyakit akan lebih mudah mengalami kecemasan dibandingkan dengan orang yang tidak sedang menderita sakit (Carpenito, 2001). Jika seorang ibu hamil dengan suatu penyakit yang menyertai kehamilannya, maka ibu tersebut akan lebih cemas lagi, karena kehamilan dan persalinan meskipun dianggap fisiologis namun tetap beresiko terjadi hal-hal yang patologis.
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti dapat bahwa pendidikan yang berlatar belakang medis mayoritas Perawat 21 orang (35%) dan pendidikan yang berlatar belakang non medis mayoritas SMA 14 orang (23,33%). Menurut Notoadmodjo (2003) pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran
pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Raytone (dalam maria, 2005) mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan seseorang berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang datang baik dari dalam maupun dari luar diri seseorang. Seseorang yang mempunyai pendidikan yang tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah atau mereka tidak mempunyai pendidikan. Kecemasan adalah respon yang dapat dipelajari dengan demikian pendidikan yang rendah menjadi faktor penunjang terjadinya kecemasan. Hal ini sesuai dengan pendidikan dan pengetahuan ibu hamil dapat mempengaruhi kecemasan karena kurangnya informasi tentang persalinan baik dari orang terdekat, keluarga ataupun dari berbagai media seperti majalah dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil penelitian yang di dapat oleh peneliti mayoritas pekerjaan yang berlatar belakang pendidikan medis adalah bekerja di Rumah Sakit 15 orang (50%) dan pekerjaan yang berlatar belakang pendidikan non medis adalah sebagai ibu rumah tangga 24orang (80%). Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia dan dalam arti sempit pekerjaan adalah suatu tugas/kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang.
Penghasilan keluarga yaitu pendapatan keluarga dalam satu bulan dimana berdasarkan hasil penelitian diketahui penghasilan keluarga yang berlatar belakang pendidikan medis perbulan adalah Rp 2.500.000-3.700.000 dan penghasilan keluarga yang berlatar belakang pendidikan non medis adalah Rp 1.200.000-2.400.000. Menurut Hamilton (1995) penghasilan keluarga dapat
mempengaruhi kecemasan dalam menghadapi persalinan, hal ini disebabkan karena responden merasa khawatir akan biaya dan takut tidak sanggup bayar persalinannya nanti.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tingkat kecemasan ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan medis mengalami cemas berat 60% (n=18), hal ini sesuai dengan hasil penelitian saya bahwa responden yang saya dapat lebih banyak ibu hamil yang kehamilannya primigravida.
Hal ini sesuai dengan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa ibu hamil yang baru pertama kali mengandung memiliki kecemasan dan kekhawatiran dalam menghadapi persalinan karena ibu tersebut belum mempunyai pengalaman melahirkan. Seorang ibu hamil primigravida dalam menghadapi persalinan sebagian besar selalu mengalami kecemasan. Kecemasan ini terjadi karena berbagai faktor. Kecemasan itu sendiri adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (Depkes RI, 1990).
Menurut Amalia (2009) calon ibu yang mengandung anak pertama biasanya mengalami perasaan cemas dan semakin meningkat saat usia kehamilan makin bertambah dan mendekati proses persalinan. Pada ibu yang multigravida yang pendidikannya medis mengatakan kecemasan mulai berkurang pada kehamilan berikutnya dimana ibu sudah pernah melahirkan sebelumnya tetapi ibu masih
cemas juga apakah persalinan berikutnya ini berjalan lancar atau tidak dan apakah bayinya dapat lahir dengan sehat.
Saat kecemasan dan distress meningkat dalam menghadapi persalinan, ibu hamil akan mengadopsi perilaku atau tehnik tertentu sebagai koping terhadap peristiwa yang sedang terjadi (Handerson, 2005).
Pada penelitian ini mekanisme koping yang diadopsi oleh ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan medis secara umum adalah adaptif. Menurut Lazarus dan Folkman (1984) mekanisme koping adaptif merupakan mekanisme yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. Adapun strategi koping yang digunakan ibu hamil dalam menghadapi kecemasan ini adalah tindakan antisipasi yang artinya membuat perencanaan dan persiapan dalam menghadapi peristiwa yang membuat stress atau cemas, melakukan tindakan menyerang yaitu dengan cara mengambil tindakan positif untuk melawan cemas atau stress, memperoleh kemampuan untuk mengontrol situasi (Handerson, 2005).
Pada ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan non medis mengalami cemas sedang 56,67% hal ini sesuai dengan dengan respondennya lebih banyak ibu hamil yang multigravida dimana berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa ibu hamil yang sudah pernah melahirkan mengatakan kecemasannya mulai berkurang karena ibu tersebut sebelumnya sudah pernah melahirkan dan peneliti juga mendapatkan bahwa responden yang
didapat tidak memilik riwayat persalinan yang bermasalah pada kehamilan sebelumnya.
Menurut Nolan (2010) ibu multipara juga mengalami kecemasan akibat dari permasalahan terhadap kelahiran yang terjadi sebelumnya seperti seorang wanita yang pernah mengalami masalah dalam mendapatkan keturunan akan menjadi sangat cemas mengenai apakah mereka akan mampu mempertahankan kehamilannya kali ini, wanita yang pernah mengalami keguguran akan terus-menerus ketakutan sampai usia kehamilannya melewati tanggal dimana sebelumnya mereka kehilangan bayi serta wanita yang pernah melahirkan seorang bayi yang kemudian meninggal atau mengalami kelainan. Namun, beberapa wanita lainnya tetap tenang dan percaya diri.
Mekanisme koping yang diadopsi oleh ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan non medis sebagian besar adalah adaptif tetapi ada juga mekanisme koping yang diadopsi oleh ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan non medis adalah maladaptif. Menurut penelitian ini sebagian besar ibu hamil masih dapat melakukan strategi koping apabila cemas datang dengan melakukan tindakan antisipasi, tindakan menyerang dan tindakan untuk mengontrol situasi. Tetapi ada juga ibu hamil yang mekanisme kopingnya maladaptif ini berhubungan dengan apabila cemas muncul ibu tersebut mengadopsi koping tindakan menghindar artinya apabila ibu cemas ia mengabaikan nasehat atau menghindari kontak dari orang lain dan tindakan tidak bertindak artinya sama sekali tidak mampu melaksanakan koping (Handerson, 2005).
Disamping itu peneliti juga mendapatkan bahwa ibu mengadopsi koping maladaptif karena ibu tersebut tidak didampingi oleh suami atau orang terdekatnya dimana suami ibu bekerja jauh di luar kota. Menurut Hamilton (1995) seseorang ibu yang mendapatkan dukungan positif dari suami, keluarga dan teman terdekat akam merasa lebih tenang dalam menghadapi persalinan. Menurut penelitian Isyah (2002) tentang dampingan suami dalam menanggulangi kecemasan istri pada trimester ke tiga menunjukkan bahwa dampingan suami yang diberikan pada calon ibu merasa tenang dan memiliki mental yang kuat untuk menghadapi persalinan. Dampingan suami memberikan dampingan informasi sangat berpengaruh pada persepsi istri terhadap proses persalinan.
Hasil penelitian yang diperoleh peneliti adalah tingkat kecemasan yang terjadi pada ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan medis adalah cemas berat dan mekanisme kopingnya adaptif sedangkan tingkat kecemasan yang terjadi pada ibu hamil yang berlatar belakang pendidikan non medis adalah cemas sedang dan mekanisme kopingnya adaptif. Jadi dapat dilihat bahwa ada kesenjangan yang terjadi antara ibu hamil yang berlatar belakang pendidikannya medis dan non medis tetapi mekanisme kopingnya tidak memiliki kesenjangan karena sama-sama adaptif.