• Tidak ada hasil yang ditemukan

Non Performing Financing (NPF)/Pembiayaan Bermasalah 1. Pengertian Non Performing Financing

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 28-33)

2. Sertifikat Deposito, merupakan jenis simpanan dana dari masyarakat yang penarikannya sesuai jangka waktu tertentu,

2.4. Non Performing Financing (NPF)/Pembiayaan Bermasalah 1. Pengertian Non Performing Financing

Dalam berbagai peraturan yang diterbitkan Bank Indonesia tidak dijumpai pengertian dari “pembiayaan bermasalah”. Begitu juga istilah Non Performing Financings (NPFs) untuk fasilitas pembiayaan maupun istilah Non Perforrming Loan (NPL) untuk fasilitas kredit tidak dijumpai dalam peraturan-peraturan yang diterbutkan Bank Indonesia. Namun dalam setiap statistic Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh Direktorat Perbankan Syariah Indonesia dapat dijumpai Istilah Non Performing Financings (NPFs) yang diartikan sebagai “Pembiayaan Non Lancar mulai dari kurang lancer sampai dengan macet”.

Pembiayaan bermasalah tersebut, dari segi produktivitasnya (performance-nya) yaitu dalam kaitannya dengan kemampuannya

54Opcit. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Hal 363-367

menghasilkan pendapatan bagi bank, sudah berkurang/menurun dan bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Bahkan dari segi bank, sudah tentu mengurangi pendapatan, memperbesar biaya pencadangan, yaitu PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif), sedangkan dari segi nasional, mengurangi dari kontribusinya terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang kualitasnya berada dalam golongan kurang lancar, diragukan, dan macet.

2.4.2. Sebab-Sebab Non Performing Financing

Secara umum pembiayaan bermasalah disebabkan oleh faktor-faktor intern dan faktor-faktor ekstern.Factor Intern adalah faktor yang ada di dalam perusahaan sendiri, dan factor utama yang paling dominan adalah faktor manajerial. Timbulnya kesulitan-kesulitan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh factor manajerial dapat dilihati beberapa hal, seperti kelemahan dalam kebijakan pembelian dan penjualan, lemahnya pengawasan biaya dan pengeluaran, kebijakan piutang yang kurang tepat, penempatan yang berlebihan pada aktiva tetap, dan permodalan yang tidak cukup. Factor Ekstern adalah factor-faktor yang berada diluar kekuasaan manajemen perusahaan, seperti bencana alam, peperangan, perubahan dalam kondisi perekonomian dan perdagangan, perubahan-perubahan teknologi, dan lain-lain.55

a. Faktor Intern (berasal dari pihak bank)

1. Kurang baiknya pemahaman atas bisnis nasabah.

2. Kurang dilakukan evaluasi keuangan nasabah.

3. Kesalahan setting fasilitas pembiayaan (berpeluang melakukan side streaming).

55Opcit.Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah. Hal 73

4. Perhitungan modal kerja tidak didasarkan kepada bisnis usaha nasabah.

5. Proyeksi penjualan terlalu optimis.

6. Proyeksi penjualan tidak menghitungkan kebiasaan bisnis dan kurang memperhitungkan aspek kompetitor.

7. Aspek jaminan tidak diperhitungkan aspek marketable.

8. Lemahnya supervise dan monitoring.

9. Terjadinya erosi mental : kondisi ini dipengaruhi timbal balik antara nasabah dengan pejabar bank sehingga mengakibatkan proses pemberian pembiayaan tidak didasarkan pada praktik perbankan yang sehat.

b. Faktor Ekstern (berasal dari pihak luar)

1. Karakter nasabah tidak amanah (tidak jujur dalam memberikan informasi dan laporan tentang kegiatannya).

2. Melakukan sidestreaming penggunaan dana.

3. Kemampuan pengelolaan nasabah tidak memadai sehingga kalah dalam persaingan usaha.

4. Usaha yang dijalankan relative baru.

5. Bidang usaha nasabah terlalu jenuh.

6. Tidak mampu menanggulangi masalah/kurang menguasai bisnis.

7. Meninggalnya key person.

8. Perselisihan sesama direksi.

9. Terjadinya bencana alam.

10. Adanya kebijakan pemerintah: peraturan suatu produk atau sektor ekonomi atau industri dapat berdampak positif maupun

negatif bagi perusahaan yang berkaitan dengan industri tersebut.56

Pada pembiayaan mudharabah, bilamana kerugian dikarenakan risiko karakter buruk dari nasabah (character risk), misalnya nasabah lalai dan/atau melanggar persyaratan-persyaratan perjanjian mudharabah maka pemilik dana (shahibul maal/bank) tidak perlu menanggung kerugian seperti ini. Para fuqaha berpendapat bahwa pada prinsipnya tidak perlu dan tidak boleh mensyaratkan agunan sebagai jaminan.Sebagaimana dalam akad syirkah lainnya. Jelas hal ini dalam konteksnya adalah bussines risk.

Jika nasabah (mudharib) melakukan keteledoran, kelalaian, dan kecerobohan dalam merawat dan menjaga dana maka mudharib harus menanggung kerugian mudharabah sebesar bagian kelalaiannya sebagai sanksi dan tanggung jawabnya.57

2.4.3. Penyelamatan dan Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah

Penyelamatan pembiayaan adalah istilah teknis yang biasa dipergunakan dikalangan perbankan terhadap upaya dan langkah-langkah yang dilakukan bank dalam usaha mengatasi permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh debitur yang masih memiliki prospek yang baik, namun mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau kewajiban-kewajiban lainnya, agar debitur dapat memenuhi kembali kewajibannya.

Dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi bank yang melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip syariah, terdapat beberapa ketentuan Bank Indonesia yang memberikan pengertian restrukturasi pembiayaan, yaitu:

56Opcit.Transaksi Bank Syariah. Hal 102-103

57Ibid. transaksi bank syariah. Hal 107-108

a. Peraturan Bank Indonesia No.10/18/PBI/2008 tentang Restrukturisasi Pembiayaan bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, sebagai berikut.

Restrukturisasi Pembiayaan adalah upaya yang dilakukan Bank dalam rangka membantu nasabah agar dapat menyelesaikan kewajibannya, antara lain melalui:

1. Penjadwalan kembali (rescheduling), yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban nasabah atau jangka waktuya;

2. Persyaratan kembali (reconditioning), yaitu perubahan sebagian atau seluruh persyaratan Pembiayaan, antara lain perubahan jadwal pembayaran, jumlah angsuran, jangka waktu dan/atau pemberian potongan sepanjang tidak menambah sisa kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank;

3. Penataan kembali (restructuring), yaitu perubahan persyaratan pembiayaan tidak terbatas pada rescheduling atau reconditioning, antara lain meliputi:

a) Penambahan dana fasilitas pembiayaan Bank;

b) Konversi akad pembiayaan;

c) Konversi pembiayaan menjadi surat berharga syariah berjangak waktu menengah;

d) Konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah.

b. Peraturan Bank Indonesia No.8/12/PBI/2006 Tanggal 10 Juli 2006 tentang Laporan Berkala Bank Umum, Penjelasan Pasal 2 ayat (4) huruf g:

“Restrukturisasi Pembiayaan adalah upaya perbaikan yang dilakukan bank dalam kegiatan pembiayaan, piutang, dan atau ijarah terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya.”

c. PBI No. 8/21/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, Pasal 1 butir 31:

“Restrukturisasi Pembiayaan adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan Penyediaan Dana terhadap nasabah yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya dengan mengikuti ketentuan yang berlaku yaitu fatwa Dewan Syariah Nasional dan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi bank syariah”.

Dari berbagai ketentuan Bank Indonesia diatas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan tujuannya, penyelamatan pembiayaan merupakan upaya dan langkah-langkah restrukturisasi yang dilakukan bank dengan mengikuti ketentuan yang berlaku agar pembiayaan non lancar (golongan kurang lancar, diragukan dan macet) dapat menjadi atau secara bertahap menjadi golongan lancar kembali.58

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 28-33)

Dokumen terkait