• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pembiayaan

2.1.1. Pengertian Pembiayaan

Yang dimaksud dengan pembiayaan, berdasarkan Pasal 1 butir 25 UU No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:

a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk Mudharabah dan Musyarakah, b. Transaksi Sewa-Menyewa dalam bentuk Ijarah atau sewa belidalam

bentuk Ijarah Mutahiyah bit Tamlik,

c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang Murabahah,Salam,dan Istishna

d. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang Qadh, dan

e. Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk Ijarah untuk transaksi multijasa.

Pengertian lain dari pembiayaan, berdasarkan Pasal 1 butir 12 UU No.10 Tahun 1998 jo. UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, adalah

“Penyedia uang yang tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil”.24 2.1.2. Tujuan dan Fungsi Pembiayaan

Pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah berfungsi membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dalam meningkatkan usahanya.

24 Faturrahman Djamil.Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah.(Jakarta: Sinar Grafika, 2012). Hal 64-65

(2)

Masyarakat merupakan individu, pengusaha, lembaga, badan usaha, dan lain-lain yang membutuhkan dana.

Secara perinci pembiayaan memiliki fungsi antara lain:

a. Pembiayaan dapat meningkatkan arus tukar-menukar barang dan jasa. Pembiayaan dapat meningkatkan arus tukar barang, hal ini seandainya belum tersedia uang sebagai alat pembayaran, maka pembiayaan akan membantu melancarkan lalu lintas pertukaran barang dan jasa.

b. Pembiayaan merupakan alat yang dipakai untuk memanfaatkan idle fund. Bank dapat mempertemukan pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana. Pembiayaan merupakan salah satu cara untuk mengatasi gap antara yang memiliki dana dan pihak yang membutuhkan dana. Bank dapat memanfaatkan dana yang idle untuk disalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Dana yang berasal dari golongan yang kelebihan dana, apabila disalurkan kepada pihak yang membutuhkan dana, maka akan efektif, karena dana tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan dana.

c. Pembiayaan sebagai alat pengendali harga. Ekspandi pembiayaan akan mendorong meningkatnya jumlah uang yang beredar, dan peningkatan peredaran uang akan mendorong kenaikan harga.

Sebaliknya, pembatasan pembiayaan, akan berpengaruh pada jumlah uang yang beredar, dan keterbatasan uang yang beredar dimasyarakat memiliki dampak pada penurunan harga.

d. Pembiayaan dapat mengaktifkan dan meningkatkan manfaat ekonomi yang ada. Pembiayaan mudharabah danmusyarakah yang diberikan oleh bank syariah memiliki dampak pada kenaikan makro-ekonomi.

Mitra (pengusaha), setelah mendapatkan pembiayaan dari bank syariah, akan memproduksi barang, mengolah bahan baku menjadi

(3)

barang jadi, meningkatkan volume perdagangan, dan melaksanakan kegiatan ekonomi lainnya. 25

2.1.3. Jenis-jenis dan Produk Pembiayaan

Pembiayaan dalam perbankan Syariah menurut Al- Harran (1999) dapat dibagi tiga:

a. Return Being Financing, yaitu bentuk pembiayaan yang secara kormesial menguntungkan, ketika pemilik modal mau menanggung risiko kerugian dan nasabah juga memberikan keuntungan.

b. Return Free Financing, yaitu bentuk pembiayaan yang tidak untuk mencari keuntungan yang lebih ditujukan kepada orang yang membutuhkan (poor), sehingga tidak ada keuntungan yang dapat diberikan.

c. Charity financing, yaitu bentuk pembiayaan yang memang diberikan kepada orang miskin dan membutuhkan, sehingga tidak ada klaim terhadap pokok dan keuntungan.26

Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi menjadi dual hal berikut:

a. Pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan maupun investasi.

b. Pembiayaan konsumtif, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan.27

Pembiayaan dilihat dari jangka waktunya, terdiri dari:

25Opcit.Perbankan Syariah. Hal 108-109

26 Opcit.Akad dan Produk Bank Syariah. Hal 122

27Opcit.Bank Syariah dari Teori ke Praktek. Hal 91

(4)

a. Pembiayaan jangka pendek (short term financing), yaitu pembiayaan yang berjangka waktu maksimal 1 tahun.

b. Pembiayaan jangka menengah (medium term financing), yaitu pembiayaan yang berjangka waktu 1-3 tahun.

c. Pembiayaan jangka panjang (long term financing), yaitu pembiayaan yang berjangka waktu lebih dari 3 tahun.

Pembiayaan dilihat dari penggunaannya, terdiri dari:

a. Pembiayaan Modal Kerja, yaitu pembiayaan jangka pendek dan menengah yang digunakan untuk kebutuhan modal kerja bagi kelancaran kegiatan usaha.

b. Pembiayaan investasi, yaitu pembiayaan jangka menengah dan panjang untuk melakukan investasi.

c. Pembiayaan multiguna, yaitu pembiayaan jangka pendek dan menengah bagi perorangan untuk memenuhi berbagai kebutuhan.28 Sedangkan pembiayaan di Bank Syariah terbagi atas beberapa jenis akadnya. Secara garis besar pembiayaan syariah yang disalurkan kepada nasabah tersebut terbagi ke dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu:

a. Pembiayaan dengan Prinsip jual-beli, yang terdiri dari :murabahah, salam dan istishna.

b. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil, yang terdiri dari :mudharabah dan musyarakah.

c. Pembiayaan dengan prinsip sewa, yang terdiri dari : ijarah dan ijarah muntahia bit tamlik (IMBT)

d. Pembiayaan dengan akad pelengkap, yang terdiri dari qard, hawalah, kafalah, rahn dan wakalah.29

28Yusak Laksmana. Panduan Praktis Account Officer Bank Syariah Memahami Praktik Proses Pembiayaan di Bank Syari’ah. (Jakarta: PT. Alex Media Komputindo, 2009). Hal 22-23

29Opcit.Dasar-dasar Pemasaran Bank Syariah. Hal 43

(5)

2.2. Pembiayaan Bagi Hasil

Konsep bagi hasil yang digambarkan dalam buku Fiqih pada umumnya diasumsikan bahwa para pihak yang bekerja sama bermaksud untuk memulai atau mendirikan suatu usaha patungan (joint venture) ketika semua mitra usaha turut berpartisipasi sejak awal beroperasi dan tetap menjadi mitra usaha sampai berakhir pada waktu semua aset dilikuidasi.30

2.2.1. Pembiayaan Mudharabah

2.2.1.1. Pengertian Pembiayaan Mudharabah

Pembiayaan Mudharabah merupakan akad pembiayaan antara bank syariah sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib untuk melaksanakan kegiatan usaha, dimana bank syariah memberikan modal sebanyak 100% dan nasabah menjalankan usahanya. Hasil usaha atas pembiayaan mudharabah akan dibagi antara bank syariah dan nasabah dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati pada saat akad. Dalam pembiayaan mudharabah, terdapat dua pihak yang melaksanakan perjanjian kerja sama yaitu:

a. Bank syariah, Bank yang menyediakan dana untuk membiayai proyek atau usaha yang memerlukan pembiayaan. Bank syariah menyediakan dana 100% disebut dengan shahibul maal.

b. Nasabah/Pengusaha, Nasabah memerlukan modal dan menjalankan proyek yang dibiayai 100% oleh bank syariah dalam mudharabah disebut dengan mudharib.31

Apabila terjadi kerugian karena proses normal dari usaha, dan bukan karena kelalaian atau kecurangan pengelola, kerudian ditanggung sepenuhnya oleh pemilik modal, sedangkan pengelola kehilangan tenaga dan keahlian

30 Opcit. Akad dan Produk Bank Syariah .Hal 48

31 Opcit. Perbankan Syariah. Hal 168-169

(6)

yang telah dicurahkannya. Apabila terjadi kerugian karena kelalaian dan kecurangan pengelola, maka pengelola bertanggung jawab sepenuhnya.

Pengelola tidak ikut menyertakan modal, tetapi menyertakan tenaga dan keahliannya, dan juga tidak meminta gaji atau upah dalam menjalankan usahanya. Pemilik dana hanya menyediakan modal dan tidak dibenarkan untuk ikut campur dalam manajemen usaha yang dibiayainya. Kesediaan pemilik dana untuk menanggung risiko apabila terjadi kerugian menjadi dasar untuk mendapat bagian dari keuntungan. Bagan mudharabah dapat dilihat dibawah ini32

Gambar 2.1.Skema Pembiayaan Mudharabah

32Opcit. Akad dan Produk Bank Syariah. Hal 61

(7)

2.2.1.2. Landasan Syariah Mudharabah

Adapun dalil dari Al-Qur‟an antara lain surat Al-Muzammil (73) ayat 20 sebagai berikut :































































































































































“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka dia memberi keringanan kepadamu, Karena itu Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling

(8)

besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.33

Sedangkan dalil dari Hadist antara lain:

Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah, “bahwa Rasulullah menyerahkan kepada bangsa Yahudi Khaibar kebun kurma dan lading daerah Khibar, agar mereka menggarapnya dengan biaya mereka sendiri, dengan perjanjian, Rasulullah mendapatkan separuh hasil panennya.” (HR.

Muslim).34

2.2.1.3. Jenis-jenis Mudharabah a. Mudharabah Mutlaqah

Mudharabah Mutlaqah merupakan akad perjanjian antara dua pihak yaitu shahibul maal dan mudharib, yang mana Shahibul maal menyerahkan sepenuhnya atas dana yang diinvestasikan kepada mudharib untuk mengelola usahanya sesuai dengan prinsip syariah.

Shahibul maal tidak memberikan batasan jenis usaha, waktu yang diperlukan.35

b. Mudharabah Muqayaddah

Mudharabah muqayaddah atau disebut juga dengan istilah resticed mudharabah/specified mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah mutlaqah. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usaha.36

33 Al-Qur‟an Surat Al-Muzammil Ayat 20

34Opcit.Perbankan Syariah

35 Sumar‟in. Konsep Kelembagaan Bank Syariah.( Yogyakarta: Graha Ilmu,2012). Hal 81

36Opcit.Bank Syariah dari teori ke praktek.Hal 97

(9)

Namun demikian dalam praktik perbankan syariah modern, kini dikenal dua bentuk mudharabah muqayaddah, yakni yang on balance- sheet dan yang off balance-sheet. Dalam mudharabah muqayadah on balance sheet, aliran dana terjadi dari suatu nasabah investor ke sekelompok pelaksana usaha dalam beberapa sector terbatas, misalnya pertanian, manufaktur, dan jasa. Nasabah investor lainnya mungkin mensyaratkan hanya boleh dipakai untuk pembiayaan sector pertambangan, property, dan pertanian. Selain berdasarkan sector, nasabah investor dapat saja mensyaratkan berdasarkan jenis akad yang digunakan, misalnya hanya boleh digunakan berdasarkan akad penjualan cicilan saja, atau penyewaan cicilan saja, atau kerja sama usaha saja. Skema ini disebut on balance sheet karena dicatat dalam neraca bank.

Dalam mudharabah muqayaddah off balance sheet, aliran dana berasal dari satu nasabah investor kepada satu nasbah pembiayaan (yang dalam bank konvensional disebut debitur). Disini bank syariah bertindak sebagai arranger saja. Pencatatan transaksinya di bank syariah dilakukan secara off balance sheet. Sedangkan bagi hasilnya hanya melibatkan nasabah investor dan pelaksana usaha saja. Besar bagi hasil tergantung kesepakatan antara nasabah investor dan nasabah pembiayaan. Bank hanya memperoleh arranger fee. Skema ini disebut off balance-sheet karena transaksi ini tidak dicatat dalam neraca bank, tetapi hanya dicatat dalam rekening administrative saja.37

37Opcit .Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan.Hal 212-213

(10)

Gambar 2.2 Bentuk-bentuk Mudharabah di Bank Syariah

2.2.1.4. Rukun dan Syarat Mudharabah

Rukun dari akad mudharabah yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa, yaitu:

a. Pelaku akad, yaitu shahibul mal (pemodal) adalah pihak yang memiliki modal tetapi tidak bias berbisnis, dan mudharib (pengelola) adalah pihak yang pandai berbisnis, tetapi tidak memiliki modal;

b. Objek akad, yaitu modal (mal), kerja (dharabah), dan keuntungan (ribh); dan

c. Shighat, yaitu Ijab dan Qabul.

Sementara itu, syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi dalam mudharabah terdiri dari syarat modal dan keuntungan. Syarat modal yaitu:

a. Modal harus berupa uang;

b. Modal harus jelas dan diketahui jumlahnya;

c. Modal harus tunai bukan utang; dan

d. Modal harus diserahkan kepada mitra kerja.

Mudharabah

Mutlaqah (URIA :UnrestrictedInvestme

nt Account) Muqayaddah (RIA : Restriced Investment Account)

On-Balance Sheet Off-Balance Sheet

(11)

Sementara itu, syarat keuntungan, yaitu keuntungan harus jelas ukurannya; dan keuntungan harus dengan pembagian yang disepakati kedua belah pihak.

Beberapa syarat pokok mudharabah menurut Usmani (1999) antara lain sebagai berikut:

a. Usaha mudharabah. Shahibul mal boleh menentukan usaha apa yang akan dilakukan oleh mudharib, dan mudharib harus menginvestasikan modal ke dalam usaha tersebut saja. Mudharabah seperti ini disebut mudharabah muqayadah (mudharabah terikat). Akan tetapi, apabila shahibul mal memberikan kebebasan kepada mudharib untuk melakukan usaha apa saja yang dimaui oleh mudharib, maka kepada mudharib harus diberi otoritas untuk menginvestasikan modal ke dalam usaha yang dirasa cocok. Mudharabah seperti ini disebut mudharabah mutlaqah (mudharabah tidak terikat).

b. Pembagian Keuntungan. Untuk validitas mudharabah diperlukan bahwa para pihak sepakat, pada awal kontrak, pada proporsi tertentu dari keuntungan nyata yang menjadi bagian masing-masing. Tidak ada proporsi tertentu yang ditetapkan oleh Syariah, melainkan diberi kebebasan bagi mereka dengan kesepakatan bersama. Mereka dapat membagi keuntungan dengan proporsi yang sama. Mereka juga dapat membagi keuntungan dengan proporsi berbeda untuk mudharib dan shahibul maal. Namun demikian, mereka tidak boleh mengalokasikan keuntungan secara lumsum untuk siapa saja dan mereka juga tidak boleh mengalokasikan keuntungan dengan tingkat presentase tertentu dari modal.

c. Penghentian mudharabah. Kontrak mudharabah dapat dihentikan kapan saja oleh salah satu pihak dengan syarat member tahu pihak lain terlebih dahulu. Jika semua aset dalam bentuk cair/tunai pada saat usaha dihentikan, dan usaha telah menghasilkan keuntungan maka

(12)

keuntungan dibagi sesuai kesepakatan terdahulu. Jika aset belum bentuk cair/tunai, kepada mudharib harus diberi waktu untuk melikuidasi aset agar keuntungan atau kerugian dapat diketahui dan dihitung.

Terdapat perbedaan pendapat diantara para ahli Fikih apakah kontrak mudharabah boleh dilakukan untuk periode waktu tertentu dan kemudian kontrak berakhir secara otomatis. Hanafi dan Hambali berpendapat boleh dilakukan, seperti satu tahun, enam bulan, dan seterusnya. Sebaliknya, madzhab Syafi‟I dan Maliki berpendapat tidak boleh. Namun demikian, perbedaannya hanya pada batas waktu maksimum. Sementara itu, tidak terdapat opini mengenai batas waktu minimum dalam Fikih Islam, tetapi dari ketentuan umum batas waktu tidak boleh ditentukan, dan setiap pihak boleh menghentikan kontrak kapan saja mereka inginkan.

Dari penjelasan diatas, syarat minimum akad mudharabah menurut fikih dapat dirangkum seperti pada Tabel berikut:

Tabel 2.1 38

Persyaratan Minimum Akad Mudharabah Menurut Fikih

NO KATEGORI PERSYARATAN

1 Persyaratan Dalam Akad

1.1 1.2 1.3

1.4

1.5

Syarat Syarat Rukun

Rukun

Rukun

Menggunakan Judul/Kata „Mudharabah‟

Menyebutkan hari dan tanggal akad dilakukan Menyebutkan pihak yang bertransaksi dan/atau yang mewakilinya

Menetapkan Bank Sebagai pemilik dana atau shahibul maal dan nasabah sebagai pengelola atau mudharib

Mencantumkan nisbah bagi hasil yang

38Opcit.Akad dan Produk Bank Syariah. Hal 62-66

(13)

1.6

1.7

1.8

1.9

1.10

1.11 1.12

Syarat

Syarat

Kesepakatan

Kesepakatan

Kesepakatan

Kesepakatan Kesepakatan

disepakati bagi masing-masing pihak.

Menetapkan jenis usaha yang akan dilakukan nasabah

Menyebutkan bahwa kerugian ditanggung oleh bank apabila tidak disebabkan pelanggaran akad dan bertindak melebihi kapasitas.

Menetapkan sanksi bagi nasabah apabila lalai membayar bagi hasil pada waktunya

Menetapkan kesepakatan apabila terjadi force majeur.

Menetapkan jaminan dari pihak ketiga apabila diperlukan

Menetapkan saksi-saksi apabila diperlukan.

Menetapkan Badan Arbitrase Syariah sebagai tempat penyelesaian apabila terjadi sengketa.

2 Persyaratan Transfer Dana

2.1

2.2

Syarat Turunan

Syarat Turunan

Dilakukan bank dengan mengkredit kepada rekening nasabah

Tanda terima oleh nasabah adalah tanda terima uang

3 Persyaratan Perhitungan Keuntungan

3.1 Kesepakatan Menggunakan real transactionary cost atau real cost yang ditetapkan alco masing-masing

2.2.1.5. Manfaat dan Risiko Mudharabah

Secara spesifik terdapat bentuk musyarakah yang populer dalam produk perbankan syariah yaitu mudharabah. Mudharabah adalah bentuk

(14)

kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahibul al- maal mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk bank ini menegaskan kerja dalam paduan kontribusi 100% modal kas dari shahibul al-maal dan keahlian dari mudharib.

Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil shahibul al-maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung jawab untuk setiap kerugian yang terjadi akibat kelalaian. Sedangkan sebagai wakil shahibul al-maal dia diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba optimal.39

2.2.2. Pembiayaan Musyarakah

2.2.2.1. Pengertian Pembiayaan Musyarakah

Musyarakah merupakan akad bagi hasil ketika dua atau lebih pengusaha pemilik dana/modal bekerja sama sebagai mitra usaha, membiayai investasi usaha baru atau yang sudah berjalan. Mitra usaha pemilik modal berhak ikut serta dalam manajemen perusahaan, tetapi itu tidak merupakan keharusan. Para pihak dapat membagi pekerjaan mengelola usaha sesuai kesepakatan dan mereka juga dapat meminta gaji/upah untuk tenaga dan keahlian yang mereka curahkan untuk perusahaan tersebut.

Proporsi keuntungan dibagi diantara mereka menurut kesepakatan yang ditentukan sebelumnya dalam akad sesuai dengan proporsi modal yang disertakan atau dapat pula berbeda dari proporsi modal yang mereka sertakan.

Sementara itu, kerugian, apabila terjadi, akan ditanggung bersama sesuai dengan proporsi penyertaan modal masing-masing. Dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Musyarakah keuntungan dibagi berdasarkan

39 Opcit.Bank Islam:Analisis Fiqh dan Keuangan. Hal 93

(15)

kesepakatan para pihak sedangkan kerugian ditanggung bersama sesuai dengan proporsi penyertaan modal masing-masing pihak.

SKEMA MUSYARAKAH

Gambar 2.3 Skema Musyarakah

Musyarakah pada umumnya merupakan perjanjian yang berjalan terus sepanjang usaha yang dibiayai bersama terus beroperasi. Meskipun demikian, perjanjian Musyarakah dapat diakhiri dengan atau tanpa menutup usaha. Apabila usaha ditutup dan dilikuidasi, maka masing- masing mitra usaha mendapatkan hasil likuidasi asset sesuai nisbah penyertaannya. Apabila usaha terus berjalan, maka mitra usaha yang ingin mengakhiri perjanjian dapat menjual sahamnya ke mitra usaha lain dengan harga yang disepakati bersama.

(16)

2.2.2.2. Landasan Syariah Musyarakah

Adapun dalil dari Al-Qur‟an antara lain surat Al-Shad ayat 24 sebagai berikut:40



































































“Daud berkata: "Sesungguhnya dia Telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya.

dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.”

Selain dari Al-Qur‟an, ada juga dari hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Baihaqi, dan Al Hukum bahwa Rasullah SAW. Bersabda :

“Rahmat Allah SWT tercurahkan atas dua pihak yang sedang berkongsi selama mereka tidak melakukan penghianatan manakala berhianat maka bisnisnya akan tercela dan keberkatanmu akan sirna dari padanya”

40 Al-Qur‟an

(17)

2.2.2.3. Jenis-Jenis Musyarakah

Secara umum, Musyarakah terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

a. Musyarakah permanen adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. Maksud dari musyarakah permanen adalah syirkah uqud yang terbagi manjadi empat jenis, yaitu:

1. Inan, yaitu Usaha bersama (kongsi) dimana modal dan keahlian yang diberikan tidak sama.

2. Mufawadhah, yaitu Usaha bersama dimana modal dan keahlian yang diberikan sama jumlah dan kualitasnya.

3. Abdan, yaitu usaha bersama dimana modal yang diberikan adalah keahlian/tenaga.

4. Wujuh, yaitu usaha bersama dimana modal yang diberikan adalah nama baik.

b. Musyarakah Menurun (Musyarakah Mutanaqisha) adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana entitas akan dialihkan secara bertahap kepada mitra sehingga bagian dana entitas akan menurun dan pada akhir masa akad mitra akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut.

2.2.2.4. Rukun dan Syarat Musyarakah

Dibawah ini adalah beberapa rukun dan syarat dalam pembiayaan musyarakah yang dimuat dalam fatwa DSN No. 8 tentang Musyarakah.

a. Pernyataan Ijab dan Qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal berikut:

1. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad).

2. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.

3. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.

(18)

b. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum, dan memperhatikan hal-hal berikut:

1. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan.

2. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil.

3. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal.

4. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.

5. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri.

c. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)

1. Modal yang diberikan harus uang tunai, emas, perak atau yang lainnya sama. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti barang-barang, property, dan sebagainya. Jika modal berbentuk aset, harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan, menyumbangkan, atau menghadiahkan, modal musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar kesepakatan.

Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan.

2. Kerja. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah, akan tetapi kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan

(19)

kerja lebih dari yang lainnya, dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan tambahan bagi dirinya. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. Kedudukan masing-masing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.

3. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian musyarakah. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proposional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan diawal yang ditetapkan bagi seorang mitra. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau presentase itu diberikan kepadanya. System pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad.

4. Kerugian, harus dibagi diantara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal.

d. Biaya Operasional dan Persengkatan

1. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama.

2. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.41

2.2.2.5. Hal yang membatalkan Musyarakah

Perkara yang membatalkan Syirkah terbagi atas dua hal.Ada perkara yang membatalkan Syirkah secara umum dan ada pula yang membatalkan sebagian yang lainnya.

a. Pembatalan secara umum

41 Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 08 Tentang Musyarakah

(20)

1. Pembatalan ari salah seorang yang bersekutu 2. Meinggalnya salah seorang syarik

3. Salah seorang syarik murtad 4. Gila

b. Pembatalan secara khusus 1. Harta syirkah rusak

2. Tidak ada kesamaan modal bagi syirkah mufawidhah.42

2.3. Dana Pihak Ketiga (DPK)

2.3.1. Pengertian Dana Pihak Ketiga

Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan sumber dana perbankan syariah yang berasal dari masyarakat, baik yang dilakukan perorangan ataupun badan usaha. Dana dari masyarakat ini merupakan dana yang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan kegiatan operasional perbankan syariah.43

DPK adalah dana yang dipercayakan masyarakat (diluar Bank) kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana. DPK adalah kewajiban bank kepada penduduk dan bukan penduduk yang biasanya disebut dengan nasabah bank, dalam rupiah dan valuta asing. DPK diperoleh dari proses penghimpunan dana (funding) oleh bank, besar kecilnya DPK menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhaap bank tersebut. DPK merupakan sumber dana utama yang diibaratkan sebagai aliran darah dalam tubuh manusia. Jika DPK turun angkanya maka dapat menimbulkan kegiatan operasional bank tersebut menurun.44

42Rachmat Syafe‟I, FiqihMuamalah, (Bandung: Pustaka Setia,2004).Hal 201

43Ahmad Sibawekhin, Hubungan Pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan Tingkat Profitabilitas Bank Syariah, (Skripsi : IAIN Syekh Nurjati Fak. Syariah dan Ekonomi Islam, 2009).

Hal 15

44Eddy Rinaldy,Membaca Neraca Bank,(Jakarta: Indonesia Legal Center Publising,2008).Hal10

(21)

2.3.2. Sumber Dana Pihak Ketiga 2.3.2.1. Giro

Simpanan giro merupakan simpanan yang berasal dari masyarakat atau dana pihak ketiga yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan sarana penarikannya berupa cek dan bilyet giro atau sarana lainnya.45

Selanjutnya, pengertian Bilyet Giro (BG) adalah surat perintah dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut untuk memindahbukukan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank yang sama atau bank lainnya.46

Dalam Bank Syariah Instrumen Giro dibagi kedalam dua macam, yaitu:

a. Giro Wadiah, yaitu giro yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki. Dalam konsep wadiah yad al-dhamanah, pihak yang menerima titipan boleh menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Hal ini berarti bahwa wadiah yad dhamanah mempunyai implikasi hukum yang sama dengan qardh, yakni nasabah bertindak sebagai pihak yang meminjamkan uang dan bank bertindak sebagai pihak yang dipinjami. Dengan demikian, pemilik dana dan bank boleh saling menjanjikan untuk memberikan imbalan atas penggunaan atau pemanfaatan dana atau barang titipan tersebut.

Dalam kaitannya dengan produk giro, Bank Syariah menerapkan prinsip wadiah yad dhamanah, yakni nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Syariah untuk

45Ismail. Akuntansi Bank Teori dan Aplikasi dalam Rupiah. (Jakarta: Kencana,2010). Hal 28

46Kasmir.Manjemen Perbankan. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012) Hal 59

(22)

menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi yang disertai hak untuk mengelola dana titipan dengan tanpa mempunyai kewajiban memberikan bagi hasil dari keuntungan pengelolaan dana tersebut. Namun demikian, Bank Syariah diperkenankan memberikan insentif berupa bonus dengan catatan tidak diisyaratkan sebelumnya.

Dari pemaparan diatas, dapat dinyatakan beberapa ketentuan umum Giro Wadiah sebagai berikut:

1. Dana wadiah dapat digunakan oleh bank untuk kegiatan komersial dengan syarat bank harus menjamin pembayaran kembali nominal dana wadiah tersebut.

2. Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana menjadi hak milik atau ditanggung bank, sedang pemilik dana tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian, Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai suatu intensif untuk menarik dana masyarakat tapi tidak boleh diperjanjikan dimuka.

3. Pemilik dana wadiah dapat menarik kembali dananya sewaktu- waktu (on call), baik sebagian ataupun seluruhnya.47

b. Giro Mudharabah, yaitu giro yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Merupakan transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.48

47Opcit. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Hal 351-352

48Opcit.Konsep Kelembagaan Bank Syariah. Hal 78-79

(23)

Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi adalah mismanage ment (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.

Dalam mengelola harta mudharabah, bank menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Di samping itu, bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, PPh bagi hasil giro mudharabah dibebankan langsung ke rekening giro mudharabah pada saat perhitungan bagi hasil.49

2.3.2.2. Tabungan

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Tujuan masyarakat menabung di bank antara lain:

a. Nasabah merasa aman menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan di bank.

b. Nasabah dapat menarik tabungannya dengan mudah karena bank memberikan kemudahan dalam hal penarikan, misalnya adanya mesin ATM yang tersebar dimana-mana, adanya ATM bersama

49Opcit. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Hal 354

(24)

yang memudahkan nasabah untuk menarik tabungannya di mesin ATM bank lain.

c. Untuk penghematan, supaya seluruh penghasilannya tidak digunakan untuk belanja.50

Adapun yang dimaksud dengan tabungan syariah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan adalah tabungan yang berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.

a. Tabungan Wadiah, merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan wadiah, bank syariah menggunakan akad wadiah yad-adh-dhamanah. Dalam ha ini, nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan atau memanfaatkan dana atau barang tersebut. Sebagai konsekuensinya, bank bertangggung jawab terhadap keutuhan harta titipan tersebut serta menengembalikannya kapan saja pemiliknya menghendaki.

Disisi lain, bank juga berhak sepenuhnya atas keuntungan dari hasi penggunaan atau pemanfaatan dana atau barang tersebut.

Mengingat wadiah yad dhamanah ini mempunyai implikasi hukum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan bank tidak boleh saling menjanjikan untuk membagihasilkan

50Opcit.Akuntansi Bank Teori dan Aplikasi dalam Rupiah. Hal 48

(25)

keuntungan harta tersebut. Namun demikian, bank diperkenankan memberikan bonus kepada pemilik harta titipan selama tidak diisyaratkan di muka. Dengan kata lain, pemberian bonus merupakan kebijakan Bank Syariah semata yang bersifat sukarela.

b. Tabungan Mudharabah, adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah, yang perbedaan utama diantara keduanya terletak pada ada atau tidaknya persyaratan yang diberikan pemilik dana kepada bank dalam mengelola hartanya. Dalam hal ini, Bank syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib, mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain.

Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan membagihasilkan kepada dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi adalah mis management (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.51

2.3.2.3. Deposito

Deposito, menurut Undang-undang No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan adalah simpanan berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara

51Opcit. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Hal 357-360

(26)

nasabah penyimpan dengan bank.Penarikan deposito sesuai dengan perjanjian antara bank dan pemegang deposito berdasarkan jangka waktu yang disepakati.52

a. Jenis-jenis deposito

1. Deposito Berjangka, adalah simpanan berjangka yang diterbitkan atas nama, tidak dapat dijualbelikan, dan penarikannya disesuaikan dengan jangka waktu tertentu.

Jangka waktu deposito ini bervariasi antara lain:

 Deposito jangka waktu 1 bulan

 Deposito jangka waktu 3 bulan

 Deposito jangka waktu 6 bulan

 Deposito jangka waktu 12 bulan

 Deposito jangka waktu 24 bulan

2. Sertifikat Deposito, merupakan jenis simpanan dana dari masyarakat yang penarikannya sesuai jangka waktu tertentu, dan dapat diperjualbelikan. Menurut undang-undang perbanka no.10 tahun 1998 sertifikat deposito adalah simpanan dalam bentuk deposito yang sertifikat bukti penyimpanannya dapat dipindahtangankan. Pemilik sertifikat deposito dapat menjualnya apabila membutuhkan dana segera. Sifat sertifikat deposito adalah atas unjuk, sehingga sertifikat deposito dapat diperjualbelikan.

3. Deposito On Call (DOC), merupakan jenis deposito yang penarikannya harus dengan pemberitahuan sebelumnya. Bank dapat mencairkan Deposit On Call setelah mendapat informasi dari nasabah, pada umumnya 2 hari sebelum

52Opcit.Akuntansi Bank Teori dan Aplikasi dalam Rupiah. Hal 66

(27)

pencairan. Jangka waktu Deposit On Call sangat pendek, yaitu antara 7 hari s.d 30 hari.53

b. Deposito Syariah

Adapun yang dimaksud dengan Deposito Syariah adalah Deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah.Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional MUI telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah.

Dalam hal ini, Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul maal (pemilik dana). Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, Bank Syariah dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak ketiga.

Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak pemilik dana, terdapat 2 (dua) bentuk mudharabah yakni Mudharabah Mutlaqah (Unirestricted Investment Account, URIA) dan Mudharabah Muqayyadah (Restricted Investment Account, RIA).

1. Mudharabah Mutlaqah (Unrestricted Investment Account, URIA)

Dalam Deposito Mudharabah Mutlaqah (URIA), pemilik dana tidak memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada Bank Syariah dalam mengelola investasinya, baik yang berkaitan dengan tempat, cara maupun objek investasinya. Dengan kata lain, Bank Syariah mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya dalam mengiventasikan dana

53Opcit. Akuntansi Bank. Hal 66-83

(28)

URIA ini ke berbagai sector bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan.

2. Mudharabah Muqayyadah (Restricted Investment Account, RIA)

Berbeda halnya dengan deposito Mudharabah Mutlaqah (URIA), dalam deposito Mudharabah Muqayyadah (RIA), pemilik dana memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada Bank Syariah dalam mengelola investasinya, baik yang berkaitan dengan tempat, cara, maupun objek investasinya. Dengan kata lain, Bank Syariah tidak mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya dalam menginvestasikan dana RIA ini ke berbagai sector bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan.54

2.4. Non Performing Financing (NPF)/Pembiayaan Bermasalah 2.4.1. Pengertian Non Performing Financing

Dalam berbagai peraturan yang diterbitkan Bank Indonesia tidak dijumpai pengertian dari “pembiayaan bermasalah”. Begitu juga istilah Non Performing Financings (NPFs) untuk fasilitas pembiayaan maupun istilah Non Perforrming Loan (NPL) untuk fasilitas kredit tidak dijumpai dalam peraturan-peraturan yang diterbutkan Bank Indonesia. Namun dalam setiap statistic Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh Direktorat Perbankan Syariah Indonesia dapat dijumpai Istilah Non Performing Financings (NPFs) yang diartikan sebagai “Pembiayaan Non Lancar mulai dari kurang lancer sampai dengan macet”.

Pembiayaan bermasalah tersebut, dari segi produktivitasnya (performance-nya) yaitu dalam kaitannya dengan kemampuannya

54Opcit. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Hal 363-367

(29)

menghasilkan pendapatan bagi bank, sudah berkurang/menurun dan bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Bahkan dari segi bank, sudah tentu mengurangi pendapatan, memperbesar biaya pencadangan, yaitu PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif), sedangkan dari segi nasional, mengurangi dari kontribusinya terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang kualitasnya berada dalam golongan kurang lancar, diragukan, dan macet.

2.4.2. Sebab-Sebab Non Performing Financing

Secara umum pembiayaan bermasalah disebabkan oleh faktor-faktor intern dan faktor-faktor ekstern.Factor Intern adalah faktor yang ada di dalam perusahaan sendiri, dan factor utama yang paling dominan adalah faktor manajerial. Timbulnya kesulitan-kesulitan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh factor manajerial dapat dilihati beberapa hal, seperti kelemahan dalam kebijakan pembelian dan penjualan, lemahnya pengawasan biaya dan pengeluaran, kebijakan piutang yang kurang tepat, penempatan yang berlebihan pada aktiva tetap, dan permodalan yang tidak cukup. Factor Ekstern adalah factor-faktor yang berada diluar kekuasaan manajemen perusahaan, seperti bencana alam, peperangan, perubahan dalam kondisi perekonomian dan perdagangan, perubahan-perubahan teknologi, dan lain-lain.55

a. Faktor Intern (berasal dari pihak bank)

1. Kurang baiknya pemahaman atas bisnis nasabah.

2. Kurang dilakukan evaluasi keuangan nasabah.

3. Kesalahan setting fasilitas pembiayaan (berpeluang melakukan side streaming).

55Opcit.Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah. Hal 73

(30)

4. Perhitungan modal kerja tidak didasarkan kepada bisnis usaha nasabah.

5. Proyeksi penjualan terlalu optimis.

6. Proyeksi penjualan tidak menghitungkan kebiasaan bisnis dan kurang memperhitungkan aspek kompetitor.

7. Aspek jaminan tidak diperhitungkan aspek marketable.

8. Lemahnya supervise dan monitoring.

9. Terjadinya erosi mental : kondisi ini dipengaruhi timbal balik antara nasabah dengan pejabar bank sehingga mengakibatkan proses pemberian pembiayaan tidak didasarkan pada praktik perbankan yang sehat.

b. Faktor Ekstern (berasal dari pihak luar)

1. Karakter nasabah tidak amanah (tidak jujur dalam memberikan informasi dan laporan tentang kegiatannya).

2. Melakukan sidestreaming penggunaan dana.

3. Kemampuan pengelolaan nasabah tidak memadai sehingga kalah dalam persaingan usaha.

4. Usaha yang dijalankan relative baru.

5. Bidang usaha nasabah terlalu jenuh.

6. Tidak mampu menanggulangi masalah/kurang menguasai bisnis.

7. Meninggalnya key person.

8. Perselisihan sesama direksi.

9. Terjadinya bencana alam.

10. Adanya kebijakan pemerintah: peraturan suatu produk atau sektor ekonomi atau industri dapat berdampak positif maupun

(31)

negatif bagi perusahaan yang berkaitan dengan industri tersebut.56

Pada pembiayaan mudharabah, bilamana kerugian dikarenakan risiko karakter buruk dari nasabah (character risk), misalnya nasabah lalai dan/atau melanggar persyaratan-persyaratan perjanjian mudharabah maka pemilik dana (shahibul maal/bank) tidak perlu menanggung kerugian seperti ini. Para fuqaha berpendapat bahwa pada prinsipnya tidak perlu dan tidak boleh mensyaratkan agunan sebagai jaminan.Sebagaimana dalam akad syirkah lainnya. Jelas hal ini dalam konteksnya adalah bussines risk.

Jika nasabah (mudharib) melakukan keteledoran, kelalaian, dan kecerobohan dalam merawat dan menjaga dana maka mudharib harus menanggung kerugian mudharabah sebesar bagian kelalaiannya sebagai sanksi dan tanggung jawabnya.57

2.4.3. Penyelamatan dan Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah

Penyelamatan pembiayaan adalah istilah teknis yang biasa dipergunakan dikalangan perbankan terhadap upaya dan langkah-langkah yang dilakukan bank dalam usaha mengatasi permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh debitur yang masih memiliki prospek yang baik, namun mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau kewajiban-kewajiban lainnya, agar debitur dapat memenuhi kembali kewajibannya.

Dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi bank yang melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip syariah, terdapat beberapa ketentuan Bank Indonesia yang memberikan pengertian restrukturasi pembiayaan, yaitu:

56Opcit.Transaksi Bank Syariah. Hal 102-103

57Ibid. transaksi bank syariah. Hal 107-108

(32)

a. Peraturan Bank Indonesia No.10/18/PBI/2008 tentang Restrukturisasi Pembiayaan bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, sebagai berikut.

Restrukturisasi Pembiayaan adalah upaya yang dilakukan Bank dalam rangka membantu nasabah agar dapat menyelesaikan kewajibannya, antara lain melalui:

1. Penjadwalan kembali (rescheduling), yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban nasabah atau jangka waktuya;

2. Persyaratan kembali (reconditioning), yaitu perubahan sebagian atau seluruh persyaratan Pembiayaan, antara lain perubahan jadwal pembayaran, jumlah angsuran, jangka waktu dan/atau pemberian potongan sepanjang tidak menambah sisa kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank;

3. Penataan kembali (restructuring), yaitu perubahan persyaratan pembiayaan tidak terbatas pada rescheduling atau reconditioning, antara lain meliputi:

a) Penambahan dana fasilitas pembiayaan Bank;

b) Konversi akad pembiayaan;

c) Konversi pembiayaan menjadi surat berharga syariah berjangak waktu menengah;

d) Konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah.

b. Peraturan Bank Indonesia No.8/12/PBI/2006 Tanggal 10 Juli 2006 tentang Laporan Berkala Bank Umum, Penjelasan Pasal 2 ayat (4) huruf g:

“Restrukturisasi Pembiayaan adalah upaya perbaikan yang dilakukan bank dalam kegiatan pembiayaan, piutang, dan atau ijarah terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya.”

(33)

c. PBI No. 8/21/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, Pasal 1 butir 31:

“Restrukturisasi Pembiayaan adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan Penyediaan Dana terhadap nasabah yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya dengan mengikuti ketentuan yang berlaku yaitu fatwa Dewan Syariah Nasional dan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi bank syariah”.

Dari berbagai ketentuan Bank Indonesia diatas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan tujuannya, penyelamatan pembiayaan merupakan upaya dan langkah-langkah restrukturisasi yang dilakukan bank dengan mengikuti ketentuan yang berlaku agar pembiayaan non lancar (golongan kurang lancar, diragukan dan macet) dapat menjadi atau secara bertahap menjadi golongan lancar kembali.58

2.5. Kerangka Pemikiran

Pembiayaaan merupakan aktivitas bank syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip syariah. Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Pemilik dana percaya kepada penerima dana, bahwa dana dalam bentuk pembiayaan yang diberikan pasti akan terbayar.59

Pembiayaan juga dapat diartikan sebagai pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. Baik dilakukan sendiri atau lembaga. Dengan kata lain,

58Ibid. Hal 82-84

59Opcit.Perbankan Syariah. Hal 105

(34)

pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan.60

Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti bank syariah kepada nasabah.

Pembiayaan secara luas seperti financing atau pembelanjaan yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan oleh orang lain.

Menurut M.Syafi‟I Antonio menjelaskan bahwa pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank yaitu pemberian fasilitas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.61

Pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada nasabah akan mendapat balas jasa berupa bagi hasil, margin keuntungan, dan pendapatan sewa, tergantung pada akad pembiayaan yang telah diperjanjikan antara bank syariah dan mitra usaha (nasabah).62

Pembiayaan dalam bentuk aktiva produktif yaitu pembiayaan bagi hasil.

Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil meliputi pembiayaan mudharabah dan Pembiayaan Musyarakah.63

Pembiayaan mudharabah merupakan akad pembiayaan antara bank syariah sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib untuk melaksanakan kegiatan usaha, dimana bank syariah memberikan modal sebanyak 100% dan nasabah menjalankan usahanya. Hasil usaha atas pembiayaan mudharabah akan dibagi antara bank syariah dan nasabah dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati pada saat akad.64 Sedangkan

60 Veithzal Rivai, dan Arifin. Islamic Banking: Sebuah teori, konsep, dan aplikasi. Ed.1 Cet.1 (Jakarta:

Bumi Aksara, 2010). Hal 681

61Opcit.Bank Syariah dari Teori ke Praktek. Hal 160

62Opcit.Perbankan Syariah. Hal 110

63Opcit. Manajemen Dana Bank Syariah. Hal 188

64Ibid. Hal 168

(35)

Musyarakah yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungaan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.65

Berbagai macam jenis pembiayaan ditawarkan bank syariah untuk memenuhi kebutuhan para nasabahnya. Sumber dana pembiayaan tersebut diperoleh dari berbagai macam sumber. Sumber yang pertama dari modal bank itu sendiri yang sering disebut sebagai dana pihak pertama. Kemudian sumber dana yang kedua berasal dari pinjaman kepada bank lain atau kepada bank Indonesia yang sering disebut sebagai dana pihak kedua. Kemudian yang terakhir dan merupakan sumber dana pembiayaan yang paling besar diperoleh dari himpunan dana masyarakat atau disebut dengan Dana Pihak Ketiga (DPK).66

Apabila dana yang berhasil dikumpulkan oleh bank lebih besar dari pada pembiayaan yang dilakukan, maka biaya dana yang harus dibayar oleh bank semakin besar. Dengan demikian, maka tingkat bagi hasil yang dibagikan kepada masyarakat menjadi semakin kecil. Demikian juga sebaliknya, jika kebutuhan dana pembiayaan lebih tinggi daripada dana masyarakat yang dikumpulkan maka bank akan mengalami kekurangan dana.67

Pembiayaan merupakan kegiatan perbankan syariah yang sangat penting dan menjadi penunjang kelangsungan hidup bank syariah jika dikelola dengan baik. Pengelolaan pembiayaan yang tidak baik akan banyak menimbulkan masalah bahkan akan menyebabkan ambruknya bank syariah.68

65Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 8 tentang Musyarakah

66 Windi Widia. Pengaruh Dana Pihak Ketiga Terhadap Pembiayaan dan Imlikasinya Terhadap Laba Bank Syariah Penelitian Pada Perbankan Syariah Di Indonesia. (Jurnal : Universitas Komputer Indonesia, 2012) Hal 1

67Opcit. Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah. Hal 112-113

68Opcit.Transaksi Bank Syariah. Hal 99

(36)

Kualitas pembiayaan ditetapkan menjadi 5 (lima) golongan, yaitu Lancar, Dalam Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet. Yang dikategorikan pembiayaan bermasalah adalah kualitas pembiayaan yang masuk golongan Kurang Lancar, hingga golongan Macet, disebut juga dengan Pembiayaan tidak berprestasi (Non Performance Financing/NPF).69Pembiayaan bermasalah tersebut, dari segi produktivitasnya (performance-nya) yaitu dalam kaitannya dengan kemampuannya menghasilkan pendapatan bagi bank, sudah berkurang/menurun dan bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Bahkan dari segi bank, sudah tentu mengurangi pendapata, memperbesar biaya pencadangan, yaitu PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif), sedangkan dari segi nasonal, mengurangi kontribusinya terhadap pembangunan dari pertumbuhan ekonomi.70

Berdasarkan kerangka berpikir diatas, maka penulis dapat membuat kerangka pemikiran sebagai berikut:

Gambar 2.4 Kerangka Berpikir

69Ibid. Hal 105

70 Faturrahman Djamil. Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah. (Jakarta: Sinar Grafika, 2012). Hal 66

Dana Pihak Ketiga (DPK) (X1)

Non Performing Financing (NPF)

(X2)

Pembiayaan Bagi Hasil

(Y)

(37)

2.6. Penelitian yang Relevan

Penelitian terdahulu yaitu penelitian mengenai studi kasus yang sama yang telah dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya. Diantaranya sebagai berikut :

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Nama Peneliti

dan Tahun Judul Hasil

Dita Andraeny 2011

Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga, Tingkat Bagi Hasil, dan Non Performing Financing (NPF) terhadap volume pembiayaan berbasis bagi hasil pada Perbankan Syariah.

Dana Pihak Ketiga

berpengaruh signifikan terhadap volume pembiayaan berbasis bagi hasil pada perbankan syariah di Indonesia. Tingkat bagi hasil berpengaruh signifikan terhadap volume pembiayaan berbasis bagi hasil pada perbankan syariah di Indonesia. Non Performing Financing (NPF) tidak berpengaruh signifikan terhadap volume pembiayaan berbasis bagi hasil pada perbankan syariah di Indonesia.

Dina Mardianingsih

2013

Pengaruh Dana Pihak Ketiga Terhadap Pembiayaan Mudharabah Pada Bank

Terdapat pengaruh positif dana pihak ketiga terhadap pembiayaan mudharabah ini

(38)

Umum Syariah (PT Bank Muamalat Indonesia dan PT Bank Syariah Mandiri).

berarti semakin tinggi dana pihak ketiga yang dihimpun maka akan semakin tinggi pembiayaan mudharabah yang disalurkan. Hasil perhitungan uji kolerasi pengaruh dana pihak ketiga, diperoleh r=0,848 (korelasi positif). Koefisien determinasi sebesar 71,91% ini

berarti pembiayaan

mudharabah akan berubah 71,91% karena DPK, sedangkan sisanya sebesar 28,09% dipengaruhi oleh faktor lain.

Aristantia Radis Agista

2015

Analisis Pengaruh DPK, CAR, NPF, dan ROA terhadap pembiayaan di PT Bank Muamalat Indonesia Periode 2007-2013.

Bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,0000000427 dengan nilai probabilitas t hitung 0,000. Ini berarti bila terjadi kenaikan DPK 1% akan diikuti dengan kenaikan pembiayaan sebesar 0,00000427%. Non Performing Financing (NPF) tidak

(39)

memiliki pengaruh terhadap pembiayaan, dengan nilai probabilitas t hitung yang lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05.

Nugroho Heri Pramono

2013

Optimalisasi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Pada Bank Syariah Di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa hipotesis pertama berdasarkan uji simultan (bersama-sama) diketahui bahwa hipotesis pertama diterima atau dapat disimpulkan variabel independen deposito mudharabah, spread bagi hasil, dan tingkat bagi hasil secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan berbasis bagi hasil. Berdasarkan uji parsial (individu) diketahui bahwa hipotesis kedua diterima atau dapat disimpulkan variabel independen deposito mudharabah berpengaruh positif signifikan terhadap pembiayaan berbasis bagi

(40)

hasil.

Windi Widia 2012

Pengaruh Dana Pihak Ketiga Terhadap Pembiayaan dan Implikasinya Terhadap Laba Bank Syariah.

Dapat disimpulkan bahwa pada perhitungan koefisien jalur.

Berdasarkan hasil output SPSS diperoleh nilai R atau koefisien korelasi Product Momet sebesar 0,887. Berdasarkan tabel interprestsi korelasi, koefisien korelasi sebesar 0,887 termasuk kedalam korelasi yang tinggi. Hubungan

antara DPK dengan

pembiayaan ketika laba tidak berubah adalah sebesar 0,887 dengan arah positif. Dengan pengaruh yang signifikan bahwa faktor DPK menjadi indikator dalam meningkatkan Pembiayaan. Dengan DPK yang tinggi, sehingga hal ini menjadikan kecenderungan untuk dapat meningkatkan pembiayaan.

Berdasarkan hasil dari penelitian-penelitian diatas yang telah diteliti sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa keseluruhan berpendapat bahwa Dana Pihak Ketiga Berpengaruh Signifikan Positif terhadap Pembiayaan dengan DPK yang tinggi dapat meningkatkan pembiayaan. Dan Non Performing

(41)

Financing Berpengaruh negatif terhadap pembiayaan. Untuk itu yang membedakan dari penelitian sebelumnya penulis akan meneliti bagaimana perkembangan DPK dan NPF pada Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah dan pengaruhnya terhadap Pembiayaan Mudharabah dalam periode 2012 sampai dengan 2016 dan memberikan bukti empirik penelitian tersebut untuk memperkuat dan menyempurnakan dari hasil penelitian sebelumnya.

2.7. Hipotesis Penelitian

Dari pembahasan diatas, hipotesis penelitian yang akan penulis uji adalah:

H1 = DPK berpengaruh Positif terhadap Pembiayaan Bagi Hasil H2 = NPF berpengaruh Negatif terhadap Pembiayaan Bagi Hasil

H3 = secara bersama DPK dan NPF mempunyai pengaruh signifikan terhadap Pembiayaan Bagi Hasil.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa semakin besar DPK yang dihimpun bank syariah makan semakin besar pula dana yang dialokasikan untuk pembiayaan, maka Pembiayaanpun meningkat. Semakin besar angka NPF berarti semakin banyak biaya dan cadangan piutang tak tertagih yang harus dikeluarkan, maka bank akan menaikkan pembiayaan dan kualitas pembiayaan bank akan mengalami sedikit pemburukan. Sehingga secara simultan, DPK dan NPF memiliki pengaruh terhadap pembiayaan berbasis Bagi Hasil.

Referensi

Dokumen terkait

Beaty (1998 : 147) menyebutkan bahwa keterampilan sosial atau disebut juga prosocial behavior (perilaku prososial) mencakup perilaku-perilaku seperti : a) empati yang di

Dua tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1913, Niels Bohr menyempurnakan model atom Rutherford, secara umum, atom tersusun dari inti atom yang berisi proton,

Banyak cara yang digunakan untuk mengurangi jumlah angka kesakitan dan kematian penyakit demam berdarah salah satunya pengendalian vektor penyakit tersebut dengan cara

Paradigma Civic Education ala civitas internasional dan center for Civic Education juga menitikberatkan pada pengembangan civic virtue dan civic culture (Budimansyah dan

penelitian yang di lakukan oleh Prasetyo dan Padmantyo (2012; 62) menyatakan bahwa produktivitas dipengaruhi secara signifikan oleh pengalaman kerja, motivasi

Tujuan dari jalan dan lari adalah menempuh suatu jarak tertentu (tanpa rintangan atau melewati rintangan) secepat mungkin. Nomor Jalan dan Lari.. Berjalan adalah bergerak

1.1 Login 1.2 pembayaran zakat 1.3 pembayaran infaq 1.4 validasi zakat 1.5 validasi infaq 1.6 validasi penyaluran ZIS 1.7 laporan penerimaan zakat 1.8 laporan pengeluaran zakat