• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SITUASI ENERGI JERMAN DAN NORD STREAM

2.2 Nord Stream

Nord Stream adalah proyek pipa gas yang beroperasi dari Rusia menuju Eropa

dengan melintasi Laut Baltik dan negara-negara transit di sekitarnya sebagai jalur ekspor. Jalur pipa gas Nord Stream memastikan keandalan pasokan gas Rusia langsung menuju Eropa (Gazprom, t.thn.). Pipa gas dengan panjang 1,224 kilometer dapat

menampung kapasitas sebesar 55 bcm (Billion cubic meter) gas alam per tahun (27,5 bcm per line) (AG N. S., 2013). Nord Stream AG merupakan sebuah proyek besar yang berbasis di Zug, Swiss. Nord Stream AG adalah konsorsium internasional dari kumpulan sumber gas alam utama dengan lima perusahaan yang didirikan pada bulan Desember 2005 dengan nama lama NEGP (North European Gas Pipeline) untuk tujuan perencanaan, konstruksi dan operasi selanjutnya dari sistem pipa gas alam melalui Laut Baltik. Para pemegang saham konsorsium Nord Stream adalah perusahaan Rusia OAO

Gazprom dengan kepemilikan saham 51 persen dan empat perusahaan Eropa yaitu

Wintershall Holding GmbH dengan kepemilikan saham 15,5 persen, E.ON Ruhrgas

AG dengan 15,5 persen, N.V. Nederlandse Gasunie sebesar 9 persen, dan ENGIE

France sebesar 9 persen (AG N. S., 2013). Nord Stream AG berhasil membangun dua

pipa Nord Stream yaitu Nord Stream dan Nord Stream II. Nord Stream AG menunjukkan bahwa transportasi gas alam bawah laut melalui jalur Laut Baltik adalah solusi terbaik untuk memenuhi permintaan gas alam Eropa.

Sedangkan Nord Stream II merupakan proyek lanjutan yang telah direncanakan oleh Rusia dan para stakeholders untuk menambah jumlah kuantitas gas alam yang di ekspor. Nord Stream II akan mengikuti rute yang sama seperti rute yang telah dibuat dari proyek Nord Stream I sebelumnya. Proyek ini sepenuhnya di biayai oleh para

shareholders nya dan tidak menerima sama sekali dana bantuan dari publik maupun

negara anggota Uni Eropa. Saat ini, Nord Stream II masih berada dalam status under

construction yang artinya masih dalam tahap pembangunan dari Rusia menuju Jerman

beroperasional pada awal tahun 2020 melalui pipa gas untuk melipatgandakan jumlah gas alam hingga total 110 miliar meter kubik per tahunnya (Stevens, Jordan, 2019).

Kedua proyek besar ini seringkali disebut sebagai Proyek Pipa Gas Nord Stream. Secara keseluruhan, proyek Nord Stream merupakan infrastruktur dari Ekspor cadangan gas alam terbesar yaitu Rusia. Dengan adanya proyek ini Rusia dapat mengirimkan gas alamnya menuju negara-negara transit atau negara tujuan secara langsung yaitu Jerman. Proyek Nord Stream menjadi sebuah pertanda bahwa Rusia memegang posisi penting sebagai suplier utama dari kebutuhan energi gas alam Jerman dan negara-negara di Eropa Barat.

2.2.1 PERKEMBANGAN NORD STREAM

Seiring berjalannya Nord Stream sejak tahun 2006, Perusahaan nasional Gazprom banyak memenuhi kebutuhan energi dari negara-negara konsumennya dengan harga yang bersaing. Wilayahnya yang strategis juga membuat Rusia menjadi pertimbangan utama suplier energi ke negara-negara konsumen. Namun, dari sekian banyak keuntungan ekspor-impor yang dilakukan Rusia dengan negara-negara di sekitarnya termasuk Uni Eropa, tidak jarang ada yang melihat hal ini sebagai strategi Rusia untuk mendapatkan leverage gain terhadap negara-negara konsumennya dengan meningkatkan ketergantungan energi terhadap Rusia. Kontroversi politik dari proyek tersebut berasal dari fakta bahwa proyek ini memungkinkan pasokan gas langsung dari Rusia ke Eropa Barat melewati semua negara transit. Negara-negara transit, terutama Belarus, Ukraina, Polandia dan Slovakia, biasanya hanya bergantung pada Rusia untuk impor gas mereka. Ketakutan mereka adalah bahwa Rusia dapat menggunakan

ketergantungan ini untuk mencoba mempengaruhi politik di negara-negara ini (Stefan Lochner and David Bothe, 2007).

Dalam bisnis energi gas alamnya, perusahaan energi nasional rusia, Gazprom banyak melakukan suplai ke berbagai negara melalui banyak proyek pipa gas yang salah satunya adalah Nord Stream. Beberapa diantara proyek pipa gas Rusia adalah

TurkStream Pipeline Project dengan Turki yang dibuat pada tahun 2013 (Koseoglu,

2018) dan Siberian Pipeline untuk China yang dibuat pada tahun 2004 (News, 2017). Menurut Gazprom, pada akhir Februari mereka memasok gas alam dalam jumlah yang besar ke Eropa dalam setiap harinya sebesar 655,2 juta meter kubik. Hal tersebut dikarenakan cuaca dingin yang terlalu ekstrem (Zubacheva, Ksenia, 2018). Gazprom memasok gas sebanyak 193,9 miliar meter kubik ke luar negeri, meningkat 8,1 persen pada tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016. Sekarang mereka menikmati pangsa terbesar sepanjang masa di pasar energi Eropa sebesar 34,7 persen (Poussenkova, 2010). Pengimpor utama Gas alam dari perusahaan raksasa Gazprom adalah Jerman. Pada tahun 2017, Jerman mengimpor 53,4 miliar meter kubik. Negara-negara lain seperti Austria, Denmark, Belanda, Hongaria, Republik Ceko, Latvia, Lituania, dan Estonia juga telah meningkatkan impor gas Rusia selama satu tahun terakhir (Zubacheva, Ksenia, 2018). Pada tahun 2018, total ekspor Gas alam Rusia kepada negara-negara di Eropa meningkat hingga 200,8 miliar kubik meter. Negara-negara di Eropa Barat diakumulasikan mengimpor kebutuhan total gas sebesar 81 persen sedangkan Eropa Tengah mengambil bagian sebesar 19 persen (Export, 2006-2019). Pasar Eropa Barat termasuk Turki mengkonsumsi ekspor Gas alam dari Rusia.

Importer terbesar dari gas alam Rusia pada tahun 2018 berdasarkan tabel dari situs resmi Gazprom adalah Jerman, Turki, Italia, Inggris dan Perancis.

Gambar 2.1. Konsumen gas alam Rusia (Gazprom Statistic, nd)

Meskipun saat ini Italia, Inggris dan Polandia mulai menurunkan pesanan gas alam mereka kepada Rusia karena tuntutan dari Uni Eropa mengenai diversifikasi Energi. (Zubacheva, Ksenia, 2018). Dalam hal ekspor-impor energi gas alam, Rusia banyak dipercaya oleh negara-negara di Eropa dan sekitarnya sebab harga yang dipasarkan oleh Rusia termasuk harga yang murah dengan kualitas yang bersaing. Dibandingkan dengan harga dari Qatar maupun Amerika Serikat (Toporkokv, 2019). Menurut pakar di pusat keuangan internasional Rusia, Roman Blinov, pengembangan proyek Nord

Stream I dan II akan memungkinkan Rusia menjangkau lebih banyak konsumen dan

mengirimkan lebih besar jumlah gas alam. Banyak negara Barat yang mungkin bisa bertahan tanpa gas alam dari Rusia, akan tetapi banyak juga negara dari Eropa yang akan terus memilih gas alam dari Rusia sebab Gazprom memberikan pilihan terbaik dalam rasio harga hingga kualitas (Zubacheva, Ksenia, 2018).

Dokumen terkait