• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PROYEK NORD STREAM RUSIA TERHADAP KEAMANAN ENERGI JERMAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PROYEK NORD STREAM RUSIA TERHADAP KEAMANAN ENERGI JERMAN"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PROYEK NORD STREAM RUSIA

TERHADAP KEAMANAN ENERGI JERMAN

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh:

Okiya Ayuni Priansa 106216003

FAKULTAS KOMUNIKASI DAN DIPLOMASI

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

UNIVERSITAS PERTAMINA

2019

(2)

P enga ruh Proye k No rd St re am t erh ada p K ea mana n Ene rgi Je rma n . Okiya Ayuni P ria nsa . 10 6216003

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

ABSTRAK

Energi merupakan sebuah aspek vital bagi suatu negara. Hal tersebut dikarenakan energi dapat mempengaruhi aspek-aspek lain di bidang perekonomian, politik dan sosial suatu negara dalam

mencapai kesejahteraan masyarakatnya. Proyek Nord Stream merupakan sebuah kesempatan

bagi Eropa, khususnya Jerman untuk mendapatkan akses cadangan gas terbesar di dunia yaitu Rusia. Posisi Jerman dengan kebutuhan terhadap energi gas alam yang tinggi dan adanya tekanan diversifikasi energi dari Uni Eropa membuat Jerman berada pada kondisi yang sulit

dimana proyek Nord Stream dianggap sebagai proyek yang kontroversial bagi pihak-pihak

sekitarnya. Proyek ini memberikan banyak keuntungan dan manfaat bagi Jerman itu sendiri.

Fakta bahwa perdebatan mengenai proyek Nord Stream yang di tentang Eropa namun

dilakukan secara berlanjut oleh Jerman karena Jerman merupakan jantung perekonomian Eropa membuat hal ini menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Penelitian ini akan berfokus kepada

pengaruh yang di dapat dari adanya proyek Nord Stream terhadap keamanan energi Jerman

ditinjau menggunakan konsep 4As (Availability, Accessibility, Affordability dan Acceptability)

sebagai landasan utama analisa penulis. Kajian ini akan di teliti menggunakan metode kualitatif dengan menginterpretasi data yang diambil dari berbagai sumber literasi.

(9)

ABSTRACT

Energy is a vital aspect for a state which relates to other aspects in the field of Economy, Politics and Social Affairs in any country that reaches the welfare of its people. The Nord Stream project is an opportunity for Europe, specifically Germany, to get access to the world's largest gas reserve, Russia. The position of Germany with high demand for natural gas energy and the pressure of energy diversification from the European Union makes Germany be on the difficult conditions in which the Nord Stream project is considered a controversial project for adjacent parties. While this project provides many advantages for Germany itself. The fact that the debate about the Nord Stream project is contented by the Europe but is carried out continuously by Germany because Germany is the heart of the European economy makes this issue interesting to explore further. This research will discuss the challenges associated with the Nord Stream project on German energy security reviewed using the concept of 4as

(Availability, Accessibility, Affordability and Acceptability) as the main foundation of the author's research. This study will be examined using qualitative methods by interpreting data taken from various literacy sources.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah Swt. Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya lah penulis dapat menyelesaikan sebuah mahakarya berupa penulisan Skripsi sebagai syarat kelulusan perkuliahan dengan tepat waktu.

Berikut penulis mempersembahkan sebuah skripsi dengan judul “Analisis Proyek Nord Stream Rusia terhadap Keamanan Energi Jerman” yang menurut penulis dapat memberikan sumbangsih penulisan kepada dunia akademik di Universita Pertamina baik di bidang energi maupun di ranah hubungan internasional. Penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi para angkatan selanjutnya untuk dilanjutkan lebih dalam lagi dimana isu energi akan terus berkembang dan menjadi bagian penting dari kehidupan kita sebagai aktor hubungan internasional.

Saya mempersembahkan skripsi ini dengan penuh rasa syukur dan terima kasih terhadap orang-orang yang memiliki peranan besar dalam mendukung berjalannya proses skripsi ini hingga selesai. Rasa terima kasih ini saya tujukan kepada :

1. Allah SWT. yang telah memberikan kesehatan dan kelancaran

pemikiran dalam mengerjakan tugas akhir ini.

2. Ibu saya, wanita terkuat di jagad raya yang mendidik saya menjadi

seperti sekarang ini. Tanpa doa-doanya mungkin saya tidak akan mendapatkan kelancaran dalam menyelesaikan tugas akhir. Juga kepada Ayah yang senantiasa mengingatkan dan menjaga saya selama masa perkuliahan.

3. Yth. Mba Frieska Haridha, M.A. selaku pembimbing saya yang

senantiasa menuntun dan menjadi teman diskusi paling baik untuk kesuksesan tugas akhir ini.

4. Yth. Bapak Dr. Indra Kusumawardhana M, Hub. Int, selaku Ketua

Program Studi Hubungan Internasional

(11)

pengerjaan Giovani, Randy, Meidiana, Yundira, Farhan, Alfan, dan teman-teman sepermbimbingan Mba Frieska Haridha.

6. Kepada Verlix Evanda sebagai support system yang menemani dan

menenangkan saya dalam proses pengerjaan tugas akhir yang menguras pikiran, tenaga dan emosi. Terima kasih selalu ada di samping saya.

7. Yang tersayang, Billy Luckito dan Puti Calina yang selalu menghibur

penulis di kala waktu-waktu kritis proses penulisan tugas akhir ini.

8. Kepada seluruh pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Terima kasih banyak.

Jakarta, 7 Desember 2019

Okiya Ayuni Priansa NIM 106216003

(12)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK ………...………….………… iii

KATA PENGANTAR ………...……… v

DAFTAR ISI ………..……..………..…vii

DAFTAR GAMBAR ……… ix

DAFTAR SINGKATAN ………...………...… x

BAB I PENDAHULUAN ………1

1.1 Latar Belakang Masalah ………...…1

1.1.1 Rumusan Masalah Penelitian ………..…… 6

1.1.2 Batasan Masalah ……….…… 6

1.2Tinjauan Pustaka ……… 7

1.3Kerangka Pemikiran ……….. 13

1.3.1 Konsep Keamanan ……….………...……… 14

1.3.2 Keamanan Energi : Konsep 4As ………..… 18

A) Availability ………..………....… 21

B) Accesibility ………..……….... 22

C) Affordability ………..…………..…… 24

D) Acceptability ………..………….…… 25

(13)

1.4Metodologi ………..….. 29

1.5Tujuan dan Manfaat ………..…… 29

1.6Sistematika Penulisan ……… 30

BAB II SITUASI ENERGI JERMAN DAN NORD STREAM ……… 32

2.1 Situasi Energi Jerman ………32

2.1.1 Ancaman terhadap Keamanan Energi Jerman ………...…. 35

2.2 Nord Stream ………...… 36

2.2.1 Perkembangan Nord Stream ………..… 38

BAB III ANALISIS KEAMANAN ENERGI JERMAN ………..………… 41

3.1 Suplai Energi Gas Alam ke Jerman ………..….41

3.2 Pandangan Jerman terhadap Nord Stream ………..……. 45

3.3 Analisis 4As ……… 51

3.3.1 Availability ………52

3.3.2 Accesibility ………62

3.3.3 Affordability ………..…71

3.3.4 Acceptability ……….74

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ………... 84

4.1 Kesimpulan ………...… 84

4.2 Saran ………..…………85

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Konsumen gas alam Rusia ... 40

Gambar 3.1 Jenis sumber daya energi yang digunakan Jerman ... 49

Gambar 3.2 Faktor yang mempengaruhi Jerman dalam mempertahankan Nord Stream... 50

Gambar 3.3 Konsumsi energi Jerman tahun 1998-2018………..51

Gambar 3.4 Jumlah gas alam terbukti di dunia...56

Gambar 3.5 Sumber cadangan gas alam ... 59

(15)

DAFTAR SINGKATAN

Singkatan Arti Keterangan

DEN Dewan Energi Nasional

IEA International Energy Agency

As Availability, Accesibility, Affordability, Acceptability

APERC Asean asific Energy Research Centre

Bcm Billion Cubic Meters

NEGP North European Gas Pipeline

UE Uni Eropa

LNG Liquefied natural gas

BMWi Bundesministerium für Wirtschaft und Energie

Bcf Billion cubic feet

AGEB Agency on Basis of the Working Group on Energy Balance

BP British Petroleum

Tcf Trilion Cubic Feet

ZEE Zona Ekonomi Ekslusif

USD United Stats Dollar

MMBtu Million Metric British Thermal Unit

(16)
(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Isu energi menjadi isu yang hangat diperbincangkan pada abad ke 21 seiring

meningkatnya permintaan pasar. Hal ini disebabkan karena negara-negara mulai

mengalihkan fokusnya kepada isu non-tradisional mengingat perang ideologi tidak lagi

relevan dilakukan. Energi merupakan kebutuhan pokok untuk kegiatan sehari-hari baik

dalam ruang lingkup kecil rumah tangga maupun ruang lingkup besar industri. Energi

dianggap sebagai sebuah kebutuhan vital bagi semua kalangan untuk menjalankan

aktivitas jangka pendek maupun jangka Panjang. Ketersediaan energi menjadi sebuah

fokus utama bagi negara. Kekhawatiran pasokan energi mulai diperhatikan

negara-negara sebagai sebuah sumber kehidupan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga

nasionalnya. Mulai dari ketersediaan pasokan hingga perencanaan eksplorasi cadangan

yang harus dipersiapkan untuk jangka panjang. kekhawatiran tersebut muncul karena

negara merasa bahwa pemenuhan kebutuhan energi tidak hanya dilakukan untuk

memenuhi kebutuhan saat ini, namun juga di masa yang akan mendatang. Hal tersebut

membutuhkan banyak biaya, perencanaan dan strategi yang didukung oleh

perkembangan teknologi dalam mencari, mengeksplorasi, mengelola hingga

memproduksi sumber energi untuk pembangunan dalam negeri dan meningkatkan

(18)

Secara geografis, negara-negara di dunia terbagi atas negara berkembang dan

negara maju dimana negara-negara maju di bagian utara memiliki kandungan sumber

daya alam yang lebih sedikit daripada negara-negara berkembang di bagian selatan.

Oleh karena itu, mulai bermunculan isu-isu mengenai eksplorasi dan produksi serta

kerja sama energi untuk sama-sama memenuhi kebutuhan dan memperluas keuntungan

dari bisnis energi dan pembangunan berkelanjutan negara pemilik sumber daya alam.

Keamanan energi sendiri masih merupakan sebuah contested concept yang

pada interpretasinya bagi setiap aktor bisa dilihat dari perspektif yang berbeda.

Menurut Dewan Energi Nasional (DEN) keamanan energi adalah suatu kondisi

terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang

terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap

lingkungan hidup (Agustiawan, 2014).Dalam keamanan energi terdapat empat aspek,

pertama adalah ketersediaan, yaitu kemampuan untuk memberikan jaminan

pasokan energi (security of energy supply), kedua aksesibilitas, yaitu kemampuan

untuk mendapatkan akses terhadap energi (infrastructure availability), yang ketiga

adalah daya beli, yaitu kemampuan untuk menjangkau harga energi serta dalam

pengimplementasiannya harus menjaga lingkungan hidup. Kemudian terdapat definisi

dari lembaga energi internasional yaitu International Energy Agency (IEA) yang

mendefinisikan kemanan energi sebagai ketersediaan sumber energi yang tidak

terputus dengan harga yang terjangkau (IEA, Energy Security, 2019). Keamanan energi

juga membutuhkan perencanaan jangka panjang sekaligus tindakan jangka pendek.

(19)

energi. Tidak mengherankan, keamanan energi dipahami sebagai sesuatu yang berbeda

di konteks yang berbeda (Dyer dan Trombetta, 2013). Pada konteks pasokan energi

dalam negeri, keamanan energi jangka pendek berfokus kepada kemampuan

pengelolaan energi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai kepada aksi tanggap

terhadap perubahan dalam keseimbangan permintaan dan penawaran dalam negeri

seperti kebutuhan industri yang mengikuti arus perekonomian global. Sedangkan untuk

jangka panjang adalah ketersediaan pasokan cadangan serta bisnis energi yang dapat

dilakukan dengan negara lain yang memiliki permintaan terhadap sumber energi untuk

melakukan investasi. Menurut Luft dan Korin, definisi keamanan energi

masing-masing negara berkaitan dengan situasi dan kondisi di negara tersebut dan bagaimana

mereka memandang kerentanan mereka terhadap gangguan pasokan energi (Korin,

2009).

Ketersediaan sumber energi minyak yang semakin langka memberikan

pengaruh kepada perekonomian global yang bergerak ke arah perekonomian energi.

Energi fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas alam memiliki peran yang sangat

penting sebagai sebuah komoditas yang diperdagangkan karena pengembangan energi

baru terbarukan yang memiliki prosedural yang kompleks dan memakan waktu lama

serta biaya dan pengembangan teknologi yang tinggi sehingga membuat negara-negara

melakukan aktivitas bisnis energi untuk pemenuhan terhadap kebutuhan energi yang

menjadi sebuah strategi untuk mewujudkan keamanan nasional. Aktivitas bisnis energi

dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan energi dan pada aktor lain yang

(20)

mana hal tersebut menjadi sebuah strategi yang dilakukan masing-masing pihak untuk

mendapatkan pemenuhan energi dan keuntungan perekonomian. Sama halnya seperti

yang dilakukan oleh Rusia yang menciptakan proyek transnasional pengembangan

energi yaitu Nord Stream I dan II untuk mendistribusikan hasil sumber energi gasnya

ke negara-negara di Eropa.

Rusia dikenal sebagai pemegang cadangan gas alam terbesar di dunia yang

sudah terbukti dengan 1.688 triliun kaki kubik kedalaman cadangan gas alam, dua kali

lipat lebih besar daripada cadangan terbesar berikutnya yang berada di Iran, menurut

Badan Informasi Energi Departemen Energi Amerika Serikat, pada 1 Januari 2013

(security, n.d.). Menurut data dari Organisasi Global Security Energy, jumlah cadangan

gas alam di rusia mencapai 47 triliun meter kubik, 26% dari total gas alam di dunia.

Mayoritas cadangan ini terletak di Siberia dan ladang lain yang terletak di Yamburg,

Urengoy, dan Medvezh'ye menyumbang lebih dari 40% dari total cadangan Rusia,

sementara simpanan signifikan lainnya terletak di Rusia utara (Security, n.d). Dengan

posisi Rusia sebagai pemegang cadangan gas alam terbesar di dunia, Jerman melihat

hal ini sebagai sebuah kesempatan untuk mengakses sumber daya alam dalam

memenuhi kebutuhan nasionalnya. Adanya kerjasama proyek transnasional ini melihat

bahwa Jerman membutuhkan sumber daya energi gas alam dan Rusia dapat

meningkatkan perekonomiannya dalam bisnis energi dengan Jerman sehingga,

kerjasama yang dilakukan akan memenuhi masing-masing kepentingan nasionalnya.

Proyek Nord Stream II merupakan sebuah proyek transnasional lanjutan dari

(21)

yang mengirimkan sumber energi gas alam Rusia-Jerman melalui Laut Baltik dari

Teluk Portovaya dekat Vyborg (Rusia) ke Lubmin dekat Greifswald (Jerman) dengan

Panjang 1.224 kilometer yang memiliki total kapasitas 55 bcm gas alam per tahunnya

dengan shareholders oleh lima perusahaan energi yaitu OAO Gazprom (Rusia, 51 %),

PEG Infrastruktur AG (anak perusahaan PEGI / E.ON,Jerman, 15,5%), BASF SE /

Wintershall Holding GmbH (Jerman, 15,5%), N.V. Nederlandse Gasunie (Belanda,

9%), dan ENGIE (Prancis, 9%) (AG N. S., 2017) . Sedangkan Nord Stream II adalah

pipa gas yang memungkinkan Jerman untuk secara efektif melipat gandakan jumlah

gas yang diimpornya dari Rusia. Pada 2017, Jerman menggunakan rekor 53 miliar

meter kubik gas Rusia, yang meliputi sekitar 40 persen dari total konsumsi gas Jerman.

Sistem pengiriman Nord Stream II dirancang untuk mengangkut gas hingga 55 miliar

meter kubik (1,942 triliun kaki kubik) per tahun (Janjevic, 2018).

Namun, proyek ini dianggap sebagai permasalahan bagi institusi yang memiliki

wewenang supranasional yaitu Uni Eropa sebab dengan keberadaan Nord Stream I dan

II Rusia dianggap akan menjadi suplier gas alam tunggal ke Uni Eropa yang mana hal

tersebut dilihat sebagai sebuah leverage gain bagi Rusia terhadap Uni Eropa, terutama

Jerman sebagai konsumen terbesarnya. Selain itu, keberadaan proyek Nord Stream II

juga dianggap tidak sesuai dengan prinsip diversifikasi energi yang sedang

dikembangkan di Uni Eropa. Namun, hal tersebut berbalik dengan keinginan Jerman

yang meneruskan proyek Nord Stream hingga pembangunan berkelanjutan Nord

Stream II. Oleh karena itu, penulis memiliki ketertarikan untuk menelusuri sikap Jerman yang terus mengupayakan berjalannya Proyek Nord Stream dan Nord Stream

(22)

II. Penelitian ini akan berfokus kepada pengaruh dari proyek Nord Stream kepada

keamanan energi Jerman yang ditinjau melalui aspek 4As.

Keamanan energi The Four As atau 4As (Availibility, Affordability, Accesibility

dan Acceptability) merupakan langkah awal dari adanya studi keamanan energi. Dua

dari empat 4As yaitu Availibility dan Affordability merupakan dua fitur yang menonjol

yang ada pada studi keamanan klasik (Deese, 1979). Sampai saat ini, definisi tersebut

tetap menjadi definisi acuan dari International Energy Agency (IEA) yaitu keamanan

energi adalah tidak terganggunya ketersediaan sumber energi pada harga yang

terjangkau (IEA, Energy Security, 2014).

1.1.1 Rumusan Masalah Penelitian

Dilihat dari latar belakang penelitian, maka dapat disimpulkan sebuah pertanyaan dari

penelitian ini yaitu Bagaimana Analisis keberadaan Proyek Nord Stream Rusia

terhadap Keamanan Energi Jerman bila ditinjau dari Aspek Keamanan Energi 4As?

1.1.2 Batasan Masalah

Penulis akan menganalisa penelitian dimana permasalahan yang diidentifikasi adalah

pengaruh proyek Nord Stream secara keseluruhan baik Nord Stream I maupun Nord

Stream II. Dimulai dari jalannya Nord Stream I di tahun 2016 hingga pengembangan Nord Stream II saat ini. Penulis menggunakan empat aspek keamanan energi yaitu Availability, Accesibility, Affordability, dan Acceptability.

(23)

1.2Tinjauan Pustaka

Energi merupakan sumber daya alam yang langka. Terlebih bagi negara-negara

dengan geografis yang tidak berada pada titik-titik letak sumber daya alam yang

strategis membuat mereka harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan

energi dalam negeri. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, pesatnya kemajuan

teknologi dan perkembangan perekonomian membuat kebutuhan akan energi menjadi

meningkat. International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa keseluruhan

permintaan energi akan meningkat 45% pada tahun 2030 dan bahan bakar

konvensional akan tetap pada 80% jumlah bahan bakar seperti batu bara, minyak dan

gas (Agency, 2008). Dengan estimasi persentase yang dikeluarkan IEA, peningkatan

permintaan energi akan mengubah adanya distribusi energi dalam 20 tahun kedepan.

Hal tersebut akan membuat negara-negara di kawasan barat dan Eropa berkompetisi

dengan negara-negara seperti Cina, Rusia dan India dalam hal sumber daya alam yang

menjadi komoditas strategis.

Dengan tingginya tingkat peningkatan terhadap energi untuk memenuhi kebutuhan,

banyak negara memiliki strategi dan kebijakan untuk mengurangi gas emisi karbon

akibat eksplorasi dan produksi termasuk salah satunya yang menjadi fokus dalam

penelitian ini adalah Kawasan Uni Eropa dengan Jerman sebagai objek kajian. Uni

Eropa telah bersedia untuk mengurangi gas emisi karbon nya sebesar 20% pada tahun

(24)

54% dari seluruh kebutuhan energinya sehingga membuat Uni Eropa menjadi kawasan

importir bahan bakar fosil terbesar. Jerman merupakan salah satu negara yang maju

namun tidak memiliki kekayaan sumber minyak dan juga tidak mempunyai perusahaan

pertambangan minyak. Namun Jermanlah yang menjadi pelopor dalam transformasi

sistem energi terbarui dan masyarakat Jerman memiliki kesadaran yang tinggi terhadap

isu pemanasan global dan perubahan iklim (Jacobsson 2006, 265-271).

Dalam tulisan Mischa Bechberger di Renewable energy policy in Germany:

pioneering and exemplary regulations memberikan informasi bahwa salah satu negara anggota Uni Eropa yaitu Jerman merupakan negara dengan importir gas alam terbesar.

Jerman kembali menggunakan energi konvensional sebab Jerman mengalami

hambatan-hambatan dan tantangan untuk mengembangkan energi baru terbarukannya.

Setelah dua dekade mengembangkan adanya energi baru terbarukan termasuk nuklir

dan angin yang tidak optimal dan kemunculan adanya regulasi yang dikeluarkan Uni

Eropa untuk diterapkan kepada semua negara anggotanya juga membuat Jerman pada

akhirnya memilih untuk tetap melakukan opsional impor gas alam.

Dengan adanya hambatan yang besar serta tidak optimalnya pemanfaatan sumber

daya energi baru terbarukan membuat Jerman harus memiliki pemasok suplai dari luar

untuk memenuhi kebutuhan energinya. Untuk mengatur pemasokan energi dalam

rangka memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, pembuatan kebijakan diperlukan

agar impor energi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan aturan yang ditetapkan

oleh Uni eropa untuk diterapkan oleh negara-negara anggotanya. Agenda mengenai

(25)

tahun 2000 diiringi dengan kekhawatiran akan adanya perubahan iklim yang dapat

mempengaruhi lingkungan. Jerman memiliki langkah-langkah untuk mencapai

pemenuhan ketersediaan energi dalam negeri. Jerman sangat tergantung pada impor

minyak dan yang jumlahnya mendominasi konsumsi domestik (Duffield, 2009).

Kemudian ketergantungan energi Jerman juga meningkat kepada impor gas alam. Pada

pertengahan tahun 2000, Jerman mengimpor sekitar 37% gas alam yang berasal dari

Rusia, 36% dari Norwegia dan 19% dari Belanda (EIA, 2006). Konsumi gas alam

meningkat siring berjalannya waktu, percepatan teknologi, peningkatan penduduk dan

pertumbuhan perekonomian sehingga dapat diprediksi bahwa bagian impor dari Rusia

memungkinkan untuk meningkat sebesar 70% di tahun 2020 (Kemfert dan Mu¨ller,

2007). Pernyataan ini dapat menjadi landasan bahwa Nord Stream sebagai proyek pipa

gas menjadi sebuah prediksi yang dinyatakan para scholars bahwa peningkatan impor

gas alam dari Rusia terhitung sejak pertengahan tahun 2000 hingga 2020 terbukti

dengan adanya proyek Nord Stream dan Nord Stream II dengan Gazprom, perusahaan

energi nasional Rusia sebagai pemrakarsanya.

Dampak dari perencanaan pengembangan energi jangka panjang yang paling

penting adalah mengenai ketergantungan Uni eropa dan Jerman yang semakin besar

terhadap impor energi, terutama pada impor gas alam dari Rusia. Permasalahan ini

ditandai oleh Komisi Uni Eropa pada saat menerbitkan green paper berjudul Towards

a European Strategy for the Security of Energy Supply (European Commission, 2001).

Dalam green paper tersebut menunjukan bahwa adanya resiko peningkatan

(26)

mengambil sebuah tindakan pembuatan kebijakan energi yang harus diterapkan oleh

semua negara anggotanya termasuk Jerman. Dalam green paper juga disebutkan bahwa

impor gas alam sebesar 41% hanya berasal dari satu negara yaitu Rusia dan bisa

meningkat menjadi 60% seiring dengan meningkatnya konsumsi gas alam (European

Commission, 2001).

Bagi Jerman, Nord Stream merupakan sebuah proyek yang sangat penting. Jerman

merupakan negara anggota Uni Eropa terbesar karena memiliki populasi penduduk

yang tinggi dan merupakan negara dengan kekuatan besar di Eropa karena

perekonomiannya yang pesat. Salah satu landasan penting bagi perekonomian Jerman

adalah stabilitas pasokan energi yang aman. Pilihan gas alam sebagai komoditas energi

utama adalah karena Jerman memiliki perdebatan mengenai permasalahan nuklir

sehingga perkembangannya harus dihentikan. Oleh karena itu gas alam muncul sebagai

alternatif utama yang baik bagi Jerman. Hal tersebut dipermudah dengan letak

geografis yang memungkinkan Rusia sebagai pemilik cadangan gas alam terbesar

berperan sebagai pemasok gas utama ke Jerman melalui jalur laut baltik menggunakan

proyek pipa gas Nord Stream.

Banyak ahli dan pengamat yang melakukan penelitian mengenai proyek tersebut.

Salah satunya adalah Bendik Solum Whist (2008) yang meneliti proyek Nord Stream melalui tulisannya yang berjudul “Nord Stream: Not Just a Pipeline”. Tulisan Whist

ini menganalisis mengenai diskursus yang terjadi di wilayah Laut Baltik akibat dari

adanya pembangunan pipa gas yang membentang dari Rusia hingga Jerman ini. Whist

(27)

dilakukan karena sejak perencanaannya, proyek Nord Stream banyak menuai kritik dari

berbagai pihak. Whist membagi tulisannya menjadi lima bagian yang terdiri dari

pengenalan secara umum mengenai proyek Nord Stream dan empat bagian lainnya

dibagi berdasarkan perspektif-perspektif yang muncul dari diskusi tentang proyek

tersebut. Dalam penjelasan mengenai proyek Nord Stream, Whist menjabarkan

mengenai para pemegang stake holder yang memegang peranan dalam proyek, dasar

hukum, anggaran, dan perkembangan yang terjadi pada masa itu. Selanjutnya, pada

bagian sudut pandang, Whist membaginya menjadi sudut pandang kebutuhan Uni

Eropa terhadap gas, kemungkinan terjadinya perpecahan akibat dari adanya pipa gas

tersebut, isu strategis militer, serta ancaman terhadap lingkungan di sekitar Laut Baltik

yang dilewati oleh Nord Stream. Di akhir, Whist menyimpulkan bahwa alasan

mengapa Nord Stream begitu banyak mendapat “sambutan” terutama bagi Jerman

sebagai konsumen terbesar karena adanya beragam interpretasi tentang pentingnya

Nord Stream baik bagi Jerman itu sendiri maupun bagi Rusia. Peran vital yang dimainkan oleh Nord Stream juga mendorong banyak pihak untuk membahas, meneliti,

dan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dari proyek ini. Berlanjut ke

pembahasan yang lebih spesifik, banyak penelitian yang membahas mengenai proyek

Nord Stream mengambil sudut pandang mengenai bagaimana proyek ini mempengaruhi dinamika yang ada di sekitarnya.

Dibalik manfaat yang didapat dari proyek Nord Stream, dalam jangka panjang

proyek ini akan memberikan dampak kepada Uni Eropa, khususnya pada

(28)

Berdasarkan buku yang ditulis oleh Whist juga menjelaskan tentang bagaimana

konsumsi gas alam di Eropa diproyeksikan akan meningkat pesat sementara produksi

gas alam domestiknya terus menurun. Hal ini akan membuat Eropa mengalami

ketergantungan energi kepada Rusia sebagai pemasok terbesar kebutuhan energi

negara-negara di Eropa. Sulit dikatakan bahwa Eropa mampu untuk mengeksplorasi

sumber alternatif gas alam lainnya yang sesuai dengan kebutuhan dan standar harga

yang dimiliki. Beberapa negara di Eropa merasa rentan terhadap potensi energi Rusia

yang terus-menerus masuk ke dalam pasar eropa. Banyak strategi yang dilakukan untuk

melepas ketergantungan, salah satunya menggunakan prinsip diversifikasi energi yang

di rencanakan oleh Uni Eropa untuk diterapkan seluruh negara anggotanya. Namun

sayangnya, bagi Jerman impor gas alam merupakan sumber utama penggerak roda

perekonomian mereka. Dengan melakukan diversifikasi dan pengurangan gas alam

akan menghambat laju perkembangan perindustrian di Jerman.

Hal ini dilihat lebih dalam kepada jangka panjang yang akan dirasakan oleh

Jerman yaitu ketergantungan dan kerentanan terhadap keamanan energi yang juga

berkorelasi dengan keamanan nasional Jerman. Oleh karena itu, Eropa memandang

bahwa Energi terbarukan menjadi sebuah cara hidup baru untuk mencapai keamanan

nasional suatu negara. Argumen penggunaan energi terbarukan sebagai cara untuk

mengurangi ketergantungan terhadap sumber pasokan energi asing ini telah diterapkan

oleh Uni Eropa dalam rangka melakukan pengurangan ketergantungan terhadap

(29)

Setelah sekitar dua dekade lalai, masalah energi keamanan kembali menjadi agenda

penting dan utama dalam kebijakan di Jerman pada pertengahan tahun 2000-an. Setelah

memperbaharui kebijakan mengenai energi dari Uni Eropa mengenai diversifikasi

eneri karena kekhawatiran mengenai perubahan iklim, Jerman kemudian

mengembangkan energi baru terbarukan. Salah satunya adalah tenaga pembangkit

listrik dari nuklir. Namun, adanya pro dan kontra dalam pengembangan energi nuklir

juga menghambat jalannya perindustrian dan perekonomian dalam negeri yang mau

tidak mau harus kembali menggunakan energi alternatif. Sehingga dalam tulisan ini,

Duffield mencoba untuk menjelaskan munculnya kembali kekhawatiran tentang

perubahan iklim. Duffield memberikan argumennya mengenai ketidakamanan energi

dalam beberapa tahun terakhir. Dalam meninjau hal ini, Duffield melihat dari

langkah-langkah pemerintah dalam mempromosikan keamanan energi Jerman, menganalisis

kebutuhan dan kecukupan energi dan mengidentifikasi potensi konflik dengan tujuan

mengurangi emisi gas rumah kaca. Dimana dalam hal ini, dibutuhkan adanya perhatian

tinggi para pembuat kebijakan.

1.3Kerangka Pemikiran

Keamanan energi memiliki dampak yang dapat memengaruhi aspek-aspek lain di

bidang perekonomian, politik dan sosial suatu negara untuk mencapai kesejahteraan

masyarakatnya. Energi yang ada di dalam suatu negara memiliki keterkaitan untuk

membangun fondasi perekonomian maupun perpolitikan. Melalui konsep keamanan

energi penulis menjembatani empat aspek 4As yang memberikan pengaruh terhadap

(30)

1.3.1 Konsep Keamanan

Keamanan merupakan sebuah konsep yang banyak dikenalkan oleh para

cendekiawan dengan perspektif dan pendalamannya masing-masing. Oleh karena itu,

sampai saat ini, konsep keamanan merupakah salah satu dinamika yang paling kuat

dari politik modern. Konsep keamanan dari studi keamanan memiliki definisi atau arti

yang seringkali menjadi perdebatan. Konsep nya menjadi suatu hal yang ambigu dan

diperebutkan dari berbagai macam ilmu disiplin (Buzan, 1956). Relativitas keamanan

mengenai tentang apa, siapa dari ancaman apa dan untuk siapa masih memiliki

konsekuensi penting untuk memahami hubungan keamanan antara negara, di dalam

negara maupun diantara aktor non-negara. Oleh karena itu, dalam memuat pengertian

dan mengarahkan penelitian dalam studi konsep keamanan dan arti dari keamanan itu

sendiri harus dilakukan spesifikasi dari ilmu disiplin tertentu. Peneliti harus

memandang konsep keamanan untuk dijadikan landasan teori atau konsep penelitian.

Dalam penelitian ini, konsep keamanan di ambil dari studi keamanan mengenai energi

yang dilihat dari aspek 4As, yaitu Availibility, Accesibility, Affordability dan

Acceptability.

Dalam perkembangannya, definisi keamanan terus bertambah dan memiliki

makna yang berbeda sesuai dengan pandangan dari masing-masing konsentrasi ilmu

disiplin. Terdapat pandangan klasik mengenai konsep keamanan menurut tokoh

terkenal dalam Hubungan Internasional seperti Wolfer (1952), Buzan (1991), dan

Baldwin (1997). Selain mereka, banyak juga tokoh yang seringkali memperdebatkan

(31)

Baldwin mendefinisikan bahwa keamanan adalah kemungkinan terkecil sebuah

kerusakan terjadi akibat nilai (Baldwin, 1997). Wolfer mendefinisikan keamanan

melalui pandangan yang berbeda tentang keamanan. Ia berpendapat bahwa negara

sangat bervariasi dalam nilai yang mereka tempatkan pada keamanan dan bahwa

beberapa negara mungkin tidak puas mengamankan diri hanya dengan status quo.

Mereka lebih tertarik untuk memperoleh nilai baru daripada mengamankan

nilai-nilai yang sudah mereka miliki. Dari perspektif ini, Wolfer mengatakan bahwa satu

negara memiliki keamanan lebih dari yang lain (bukan hanya keamanan pada satu

bidang tertentu) tidak berarti bahwa satu negara lebih baik daripada yang lain. Hal

tersebut bergantung kepada besarnya wilayah, banyak sedikitnya masyarakat dan

sumber daya yang dimiliki. Bagi Wolfer, politik internasional bukanlah 'permainan'

dimana semua negara bermain dengan 'aturan' yang sama dan bersaing untuk

'kejuaraan' yang sama.

Perbedaan pendapat pada masa klasik mempertanyakan apakah cara utama

mempelajari keamanan (dari negara, terutama dari ancaman militer eksternal) dalam

hubungan internasional. Namun, seiring berkembangnya zaman dan berakhirnya

perang. Isu-isu konvensional mengenai ideologi lambat laun mengalami transisi

kepada isu non-konvensional yang lebih berkonsentrasi kepada aspek lain dalam

membangun negara di ranah nasional maupun internasional. Dalam pandangan

keamanan tradisional yang menekankan kepada keamanan nasional, negara seringkali

diangkap menyediakan keamanan nasional dengan melakukan pengorbanan terhadap

(32)

mengancam individu (orang-orang yang mengabdi sebagai tentara atau tatanan militer

yang pergi berperang dan masyarakat yang ada di medan perang). Oleh karena itu,

terdapat tantangan dalam menjelaskan kembali konsep keamanan yang bergantung

kepada masing-masing aktor negara mengarahkan kepentingan nya.

Dalam studi keamanan, terdapat gambaran umum mengenai bagaimana cara

kita melihat dan mengarahkan konsentrasi kita untuk mengetahui definisi keamanan.

Menurut Buzan, Waever, dan De Wilde keamanan adalah tentang keberlangsungan

(survival) atau bertahan hidup. Dengan pernyataan “survival in the face of existential threat” yang berarti bahwa ketika suatu isu dianggap mengancam eksistensi suatu

referent object (Bary Buzan, O Weaver, J De Wilde, 1998). Secara historis, energi, khususnya minyak, menjadi penting untuk pertahanan suatu negara sebagai komoditas

militer esensial. Hal ini secara khusus terjadi sejak digunakannya kapal perang dengan

bahan bakar minyak pada 1912 oleh Inggris dibawah kepemimpinan Winston

Churchill. Karena kapal perang yang notabenenya adalah alat perang utama, bahan

bakar kapal perang juga menjadi suatu komoditas strategis yang keberadaannya sangat

penting dan dapat mempengaruhi strategi suatu negara dalam memutuskan hal-hal

yang terjadi pada saat perang. Transisi dari penggunaan batu bara ke minyak bumi,

memberikan Inggris keunggulan dalam hal kecepatan dan ketahanan. Sejak saat itu,

minyak dilihat sebagai suatu hal yang esensial untuk kemenangan suatu negara dalam

perang. Persepsi ini terus mempengaruhi pemikiran-pemikiran strategis sampai pada

Perang Dunia ke II. Bahkan upaya untuk memperoleh kendali dan akses terhadap

(33)

(Klare, 2002). Dalam konteks ini terlihat bahwa referent object dari keamanan energi

adalah negara dan sampai satu titik tertentu, kedaulatan suatu negara. Energi dalam

konteks ini dapat dibingkai sebagai isu keamanan karena ia berpengaruh bagi

keberlangsungan suatu negara.

Selain itu, terdapat juga pembelahan ideologis klasik dalam Hubungan

Internasional, antara dua teori utama besar yaitu realisme dan liberalisme. Secara

analitis, dua teori besar ini tidak cukup untuk menangkap benang merah dari

perdebatan dalam Studi Keamanan. Sementara beberapa realis, seperti Stephen Walt,

terus menekankan kepada pandangan tradisional mereka dengan ancaman militer.

Sedangkan yang lain, seperti Barry Buzan setuju bahwa definisi keamanan yang lebih

luas juga dibutuhkan. Selain itu, dikotomi realis-liberal tidak dapat mencakup kaum

post-modernis, yang merupakan kritikus paling menonjol dari definisi tradisional

mengenai keamanan.

Perbedaan analitis antara tradisionalis dan non-tradisionalis menyebabkan

adanya ketidaksepakatan antara dua subkelompok yang disebut sebagai 'Broadeners'

(Pelebaran keamanan) dan 'Deepening' (Pendalaman keamanan) konsep Keamanan.

(Buzan dan Wilde 1998, Krause dan Williams 1996). The broadeners berpendapat

bahwa definisi militer yang dominan tidak mengakui bahwa ancaman terbesar terhadap

kelangsungan hidup negara mungkin bukan militer, tetapi juga bisa berasal dari

lingkungan, sosial dan ekonomi. Pendalaman, di sisi lain, mengajukan pertanyaan

(34)

baru yang memungkinkan untuk memposisikan objek referensi individu atau

struktural, bisa menjadi lawan dari negara.

Perdebatan ini berkaitan dengan adanya perdebatan mengenai broadening dan

deepening security dalam studi keamanan internasional. Banyak akademisi yang menganggap bahwa perluasan keamanan diperlukan untuk mengkaji kembali definisi

dari konsep keamanan. Seperti memasukan isu-isu baru diluar militer; isu lingkungan,

isu kesehatan dan isu keamanan manusia. Di sisi lain, Stephen Waltz memiliki argumen

dan preferensi untuk membatasi studi keamanan sebagai studi mengenai peperangan

saja (Waltz, 1991). Banyaknya kritikan terhadap preferensi Waltz yang mengatakan

bahwa definisi tersebut tidak mampu merefleksikan kenyataan dan perkembangan

zaman yang terjadi saat ini. Bila ditarik kepada isu keamanan energi, seiring

perkembangan zaman, ancaman terhadap suatu eksistensi atau aktor memang tidak

harus bersifat militer. Oleh karena itu untuk tetap menjaga fokus dalam studi

keamanan, pendefinisian konsep keamanan energi harus tetap berpusat kepada

pertahanan dari ancaman yang ada. Dimana keamanan energi merupakan salah satu

dari banyak isu perluasan konsep keamanan.

1.3.2 Keamanan Energi : Konsep 4As

Penelitian ini akan dimulai dengan analisis mengenai konsep keamanan energi

yang akan ditinjau dari aspek 4As. Konsep keamanan energi bersifat kontekstual dan

dapat memiliki makna yang berbeda dalam konteks yang berbeda pula. Oleh karena

itu, definisi dari keamanan energi bisa bermacam-macam tergantung kepada persepsi

(35)

maknanya pada situasi dan pendapat orang yang berbeda. Terdapat beberapa kejadian

alami seperti perbedaan energi yang dimliki suatu tempat dengan tempat lainnya

sehingga memberikan perbedaan permasalahan mengenai keamanan energi. Kemudian

terdapat juga termin keamanan energi yang bersinggungan dengan kebijakan energi

dimana kebijakan energi dapat mempengaruhi makna dari keamanan energi. Namun

memang masih di pertanyakan apakah variasi dari keadanya definisi akan keamanan

energi akan merujuk kepada suatu definisi yang universal (Chester, 2009).

A good starting point in conceptualizing energy security is the observation in Baldwin’s concept of Security that, “Economic security, environmental security, identity

security, social security and military security are different forms of security not fundamentally different concepts.” (Baldwin,1997).

Hal ini dapat diaplikasikan secara logis terhadap keamanan energi dimana

definisi yang valid mengenai konsep keamanan energi harus berdasarkan oleh konsep

keamanan secara umum. Baldwin mendefinisikan keamanan sebagai kemungkinan

terkecil dari adanya kerusakan yang menyebabkan perubahan nilai dimana keamanan

harus bisa di adopsi kepada situasi yang spesifik. Spesifikasi keamanan harus bisa

menjawab pertanyaan; security for whom? security for which values? from what

threats? Pertanyaan ini jarang ditanyakan secara eksplisit dalam literatur keamanan energi, meskipun pertanyaan serupa seperti apa yang harus dilindungi? dari risiko apa?

dan dengan cara apa? Berdasarkan definisi dari para pemimpin politik Jerman dengan

memperlihatkan kekhawatirannya terhadap peningkatan ketergantungan impor energi

(36)

energi yang dibutuhkan meskipun dengan melalui cara impor (Duffield,2009).

Kemudian di tahun 2006, keamanan energi Jerman menjadi fokus utama sebab adanya

perselisihan antara Rusia dengan Ukraina dimana Rusia memotong suplai gas terhadap

Ukraina dikarenakan kegagalan persetujuan biaya transit sehingga hal tersebut menjadi

sebuah security dilemma bagi Jerman karena suatu saat jika hal serupa terjadi, suplai

gas terbesar mereka yang berasal dari Rusia dapat mengalami nasib yang sama.

Studi keamanan dari sektor energi itu sendiri juga memiliki definisi dan konsep yang bervariasi. Namun, berpusat kepada pengertian “Survival in the Existential of Threat”

atau bertahan dari ancaman yang ada. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan

mendasar yang harus dipahami lebih dulu. Bertahan dari ancaman apa? Kekhawatiran

dari keamanan energi sebagian besar dibentuk oleh adanya pengalaman-pengalaman

disrupsi atau gangguan dan resiko persepsi. Contohnya, keamanan energi pada tahun

1912 di Inggris pada masa kepemimpinan Winston Churchill yang pada saat itu

menggunakan kapal perang dengan bahan bakar minyak. Dengan persepsi bahwa

apabila sumber daya energi minyak terganggu, maka perang tidak akan terlaksana

dengan baik dan Inggris bisa mengalami kekalahan. Jadi persepsi ancaman daripada

keamanan energi itu sendiri adalah dengan terganggunya suplai sumber daya energi

kepada kebutuhan negara. Upaya untuk menjadikan isu energi sebagai perluasan

keamanan dapat dilihat dari sejumlah laporan kebijakan di Inggris, seperti Wicks

Report (2009), National Security Strategy (2010), Energy Security Strategy of Departemen of Energy dan Climate Change (2012), Energy Independence and Security Act (2007) dan National Energy Administration (2008) (Bridge, 2015) yang

(37)

mengangkat isu gangguan pasokan minyak dan gas sebagai resiko prioritas bagi

pemerintah.

Keamanan energi digambarkan dengan Indikator 4As untuk melihat bagaimana

ketersediaan fisiknya, bagaimana kemudahan mendapatkannya, bagaimana

keterjangkauan harganya, serta bagaimana keberadaan dan kualitas energi itu dapat

diterima. Dalam keamanan energi, terdapat empat aspek penting yang dikategorikan

sebagai indikator untuk menentukan apakah suatu negara dapat mencapai keamanan

energinya. Empat aspek tersebut adalah availability, accesibility, affordability dan

acceptability (Jewel, 2014).

A. Availability

Dalam aspek availability atau ketersediaan merupakan sebuah elemen dimana

dalam hal ini adalah sumber energi yang berhubungan dengan letak secara geografis.

Elemen tersebut juga dilihat dari bagaimana suatu negara dapat memiliki ketersediaan

sumber daya alam untuk menyediakan energi dalam skala nasional. Ketersediaan

sumber daya energi tersebut bisa berasal baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Ketersediaan energi sendiri merupakan sebuah konsep multidimensional yang

memasukan beberapa faktor penunjangnya yaitu : 1) Diversifikasi suplier 2)

Keragaman spasial dalam negeri termasuk kedalam distribusi generasi sumber daya

alam terbarukan 3) Diversifikasi energi mix (campuran) seperti penggunaan energi baru

terbarukan dan non-baru terbarukan 4) Keragaman rute transportasi energi, seperti

(38)

dengan definisi keamanan energi. 99 persen dari definisi yang diperiksa oleh Ang et al

(2015) memasukan ketersediaan energi sebagai keamanan energi. Berdasarkan dari

studi yang melakukan survey 104 tulisan dan laporan dari tahun 2011 sampai Juni 2014

mengenai perkembangan keamanan energi, ditemukan bahwa tidak ada konsensus dari

definisi keamanan energi. Penulis Ang mengungkapkan bahwa dari tulisan dan laporan

yang direviewnya, terdapat beberapa pengelompokan kedalam tujuh tema utama dari

keamanan energi yaitu ketersediaan energi (99%), infrastruktur (72%), harga energi

(71%), efek sosial (37%), lingkungan (34%), pemerintahan (25%), dan efisiensi energi

(22%) (BW Ang, WL Choong, 2015). Dari ketujuh tema utama dalam pengelompokan

definisi keamanan energi, semuanya dapat dikaitkan dan dijelaskan melalui konsep

4As.

B. Accesibility

Sumber daya energi yang ada dalam suatu negara harus dapat diakses oleh

pemerintah sebagai pihak yang berwenang menciptakan regulasi dan menentukan

ketentuan pengelolaan dan pengalokasian sumber daya alamnya. Untuk menentukan

keamanan energi suatu negara tidak hanya dilihat dari keberadaannya secara geografis

namun juga apakah kita mampu untuk mengakses sumber daya alam tersebut sehingga

dapat dilakukan produksi lebih lanjut. Apabila terdapat sumber daya energi namun

keberadaannya tidak dapat diakses maka sulit dikatakan bahwa sumber daya tersebut

(39)

Berlandaskan literatur yang di bawakan Ang, aksesibilitas merupakah sebuah

kemudahan akses yang harus didapatkan dalam mengeksplorasi sumber energi.

Keamanan energi dianggap bukan hanya untuk negara secara keseluruhan akan tetapi

juga bagi setiap individu di dalamnya. Hal itu karena energi juga merupakan roda

penggerak perindustrian yang mengembangkan perekonomian masyarakat di suatu

negara untuk kemudian dapat memberikan kesejahteraan. Keamanan energi harus

mempertimbangkan bagaimana menyediakan akses energi yang cukup di setiap lapisan

masyarakat untuk menjamin kesejahteraan mereka (Vlado, 2010). Cara untuk

menyediakan akses energi salah satunya adalah seperti strategi keamanan energi oleh

Komisi Eropa yaitu membangun hubungan dengan beberapa suplier. Khususnya, satu dari lima belas perencanaan strategis komisi Eropa adalah dengan “...Bekerja sama

dengan negara anggota untuk mengembangkan akses kepada suplier alternatif,

termasuk dari rute koridor gas selatan, Mediteranian dan Algeria, dalam rangka mengurangi adanya ketergantungan pada suplier individual atau tunggal.” (Papanikos,

2017).

Kemudian, cara yang dilakukan untuk mendapatkan akses sumber energi

adalah dengan membangun proyek serta infrastruktur yang memadai untuk

mendapatkan akses sumber daya energi seperti minyak, gas dan batu bara.

Menginvestasikan dan memelihara infrastruktur energi merupakan hal vital yang

dilakukan untuk menjaga kestabilan dan mengamankan pasokan energi agar tidak

terputus (BW Ang, WL Choong, 2015). Menurut Ang, berdasarkan karakteristiknya,

(40)

mahal dengan tujuan untuk mencegah kekurangan energi dalam jangka pendek maupun

panjang.

Selain infrastruktur, yang tidak kalah penting adalah jalur pendistribusian.

Aksesibilitas memasukan faktor jalur yang aman dari gangguan untuk memastikan

bahwa akses dari sumber energi menuju negara tujuan aman dari segala gangguan.

Gangguan yang dimaksud adalah berupa ancaman baik dari lingkungan maupun dari

eksternal seperti terorisme dan perizinan perlintasan wilayah akses.

C. Affordability

Affordability atau keterjangkauan juga merupakan aspek perekonomian yang penting sebab dapat memberikan dampak terhadap perekonomian negara yang sedang

berlangsung. Affordability juga dapat dikatakan sebagai biaya investasi di bidang

energi. Mulai dari biaya eksplorasi, produksi dan distribusi hingga biaya yang

dikenakan kepada masyarakat sebagai konsumen energi. Untuk mencapai keamanan

energi tersebut, harga dari energi harus dapat dijangkau oleh semua pihak.

Keterjangkauan harga juga menjadi salah satu faktor penentu keamanan energi.

Umumnya di negara-negara produsen sumber energi terbesar seperti Arab Saudi,

Norwegia, Nigeria, dan Venezuela yang bergantung pada permintaan akan energi yang

tidak terinterupsi dengan harga yang cukup tinggi (Ferman, 2014). Harga energi juga

sangat fluktuatif, terutama karena fluktuasi yang tinggi mengenai harga minyak di

pasar internasional (Smith, 2009). Hal ini termasuk kedalam volatilitas dolar Amerika

(41)

Bahkan jika harga dolar minyak mentah tetap konstan, harga Euro-nya akan sangat

fluktuatif. Ketidakseimbangan pada harga dapat mempengaruhi penjualan energi

secara global. Harga yang stabil penting dalam keberlangsungan keamanan energi.

Namun, disebutkan oleh Gregory pada Jurnal keamanan energinya bahwa yang

terpenting adalah volatilitasnya atau standar deviasi per periode waktu tertentu. Banyak

penelitian juga mengungkapkan bahwa harga energi dapat mempengaruhi keseluruhan

perekonomian. Selain itu, apabila energi sudah memenuhi kedua aspek A sebelumnya

yaitu availability dan accesibility namun berada pada harga yang tidak terjangkau,

maka sulit mengatakan bahwa kondisi keamanan energi dikatakan aman.

D. Acceptability

Acceptability atau penerimaan merupakan sumber energi yang keberadaannya dapat diterima oleh elemen lingkungan (daratan, lautan dan udara) dan elemen sosial

seperti masyarakat. Kebijakan energi banyak mempublikasikan artikel dengan konsep

keamanan energi dalam lima tahun belakangan ini. Publikasi daripada artikel tersebut

menyebutkan Keamanan Energi 4As yang diperkenalkan oleh Asia Pasific Energy

Research Centre (APERC, 2007). Pada tahun 2007, APERC menggunakan kerangka pemikiran klasik yang dikembangkan oleh Baldwin mengenai ketersediaan,

keterjangkauan dengan penerimaan dan dapat diakses menjadi sebuah struktur

penelitian pada laporan keamanan energi di Asia. Laporan tersebut tidak hanya

menjustifikasi penggunaan 4As yang berfondasi dari banyak studi literatur, observasi

empiris ataupun logika berlandasan. Namun juga merepresentasikan konsep generik

(42)

penghafalan dan pola yang sudah terkonsep mengenai 4As yang diambil dari

literatur-literatur keamanan energi (Van Vuuren B Kruyt, 2009). Kruyt juga mengelompokkan

indikator keamanan energi oleh 4As yang disebut sebagai skema klasifikasi.

Energi seringkali digambarkan sebagai kebutuhan mendasar manusia. Seiring

berkembangnya zaman, energi menjadi sangat penting untuk menjaga kesejahteraan

masyarakat. Terlebih pada fungsinya sebagai faktor masyarakat industri modern di

abad ke 21 ini. Namun, energi yang menjadi komoditas utama penggerak industri dan

perekonomian dalam negeri harus mendapatkan penerimaan. Baik dari unsur alam,

lingkungan maupun masyarakat. Dari unsur alam itu sendiri, apakah energi yang

dieksplorasi secara geografis tidak merusak kestabilan ekosistem alam disekitarnya.

Permasalahan alam dan lingkungan saat ini menjadi isu yang mendapat banyak

perhatian karena adanya proyeksi perubahan iklim (Papanikos, 2017). Karena adanya

isu tersebut, penerimaan masyarakat dan pemerintah tertentu terhadap energi

konvensional lambat laun mempengaruhi pergeseran dari penggunaan bahan bakar

fosil untuk menghasilkan energi alternatif, seperti matahari dan angin. Energi bersih,

yang mengurangi pemanasan global dan polusi udara telah menjadi isu yang saat ini

dikhawatirkan. Selain itu, penerimaan juga datang dari kalangan sosial. Masalah ini

berkaitan dengan dampak sosial dari keamanan energi. Hal tersebut dapat

(43)

Oleh karena itu, penggunaan 4As menjadi landasan konsep keamanan yang

kemudian dapat dianalisa terlebih lanjut untuk mengkategorikan keamanan energi

Jerman berdasarkan pengelompokan mnemonik yang sudah terpola. Hal tersebut

menjadi sebuah fondasi bahwa keamanan energi yang ditinjau dari 4As dapat

(44)

1.3.3 Model Analisis

Proyek Nord Stream

Availability

Aspek Keamanan Energi 4As

Accessibility Affordabillity Acceptability

Keamanan Energi Jerman

(45)

1.4Metodologi

Dalam membuat penelitian ini, penulis menggunakan metode Kualitatif dimana

metode ini dapat menghasilkan ilmu pengetahuan melalui pemahaman dan penemuan.

Metode penelitian kualitatif juga diartikan sebagai metode yang berdasarkan pada

filsafat postpositivisme, sedangkan untuk meneliti pada objek alamiah, dimana penulis

adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara

triangulasi (gabungan). Analisis data ini akan bersifat induktif atau kualitatif dan hasil

penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono,2011). Metode

kualitatif dianggap penulis cocok untuk digunakan sebab metode kualitatif

menggunakan teknik pengumpulan data dan strategi analisis yang bergantung pada

pengumpulan dan analisis dari data non-numerik. Cara yang digunakan untuk

melakukan penelitian secara kualitatif adalah dengan menelusuri data dari berbagai

aspek yang berupa data dari rangkaian kalimat daripada data-data yang berupa angka

untuk kemudian di analisis (Bricki, 2007). Dalam mengumpulkan data penulis

melakukan pengumpulan sumber data kualitatif melalui studi literatur yang mengacu

kepada buku, jurnal maupun pedoman hukum yang berlaku. Selain itu juga, penulis

mengumpulkan data melalui Website resmi Nord Stream, Data statistik energi Jerman

dan Rusia serta melalui Portal berita untuk kemudian dianalisa.

1.5Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

(46)

2. Untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai Nord Stream

sebagai proyek transnasional berupa pipa gas yang menghubungkan Rusia

sebagai supplier terbesar di Eropa terhadap negara Jerman yang memberikan

dampak terhadap keamanan Jerman apabila ditinjau dari Aspek keamanan

Energi 4As.

3. Mengenalkan konsep Keamanan Energi yang memiliki pengaruh kuat terhadap

aspek kehidupan negara.

Manfaat Penelitian :

1. Memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan kepada pembaca tentang proyek

Nord Stream dari perspektif Jerman.

2. Memperkaya informasi mengenai konsep keamanan energi dan studi kasusnya.

3. Menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya.

1.6Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran yang mudah dimengerti dan komprehensif

mengenai isi dalam penulisan penelitian ini, secara umum dapat dilihat dari sistematika

penulisan dibawah ini:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini akan menjelaskan latar belakang, rumusan masalah, tinjauan pustaka,

kerangka pemikiran, metodologi, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika

(47)

BAB II SITUASI ENERGI JERMAN DAN NORD STREAM

Menjelaskan Objek kajian mengenai situasi energi di Jerman dan proyek Nord Stream

serta memberikan penjelasan konsep Keamanan Energi secara umum hingga konsep

keamanan energi menurut Jerman.

BAB III ANALISIS PENGARUH PROYEK NORD STREAM TERHADAP KEAMANAN ENERGI JERMAN

Dalam bab tiga, penulis akan menganalisa pengaruh apa saja yang dapat terjadi dalam

keamanan energi Jerman akibat adanya proyek nord stream menggunakan konsep

keamanan energi 4As.

BAB IV KESIMPULAN

Pada bagian penutup akan diisi dengan kesimpulan dari penelitian dan saran yang bisa

membangun baik untuk penulis maupun untuk pembaca sehingga bisa membuka

potensi untuk penelitian berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Pada bagian ini akan dipaparkan tentang sumber-sumber literatur, jurnal, buku

maupun situs-situs resmi kelembagaan yang digunakan dalam pembutan penelitian.

LAMPIRAN

Lampiran akan diisi penulis dengan data-data terlampir dari analisis dan perolehan

(48)

BAB II

KONSEP KEAMANAN ENERGI DAN NORD STREAM

2.1 Situasi Energi Jerman

Setelah Perang Dunia Ke II, Jerman memutuskan untuk memusatkan seluruh

perhatiannya kepada energi dan kemampuan organisasi untuk mengembangkan

perekonomian dan industri (Szabo S. , 2014). Hal itu dikarenakan Jerman merupakan

ekonomi nasional terbesar di Uni Eropa (UE) dan yang terbesar keempat di dunia

setelah Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang (deutschland, 2019). Sebagai jantung

perekonomian Eropa, Jerman memiliki peranan penting dalam membuat perekonomian

Eropa berjalan pesat guna menyejahterakan rakyatnya. Salah satu hal yang dilakukan

adalah dengan memusatkan perhatian kepada perekonomian negara.

Salah satu faktor pendorong perekonomian negara agar tetap maju adalah energi.

Energi berperan penting dalam perekonomian Jerman sebab industri yang dijalani oleh

Jerman digerakan oleh energi. Energi utama yang digunakan oleh Jerman adalah gas

alam. Selain itu, Jerman juga turut serta mengembangkan energi baru terbarukannya

untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Energi baru terbarukan difokuskan untuk

menjadi teknologi utama pembangkit listrik. Namun sektor energi Jerman masih

bergantung pada gas alam karena tingkat konsumsi penggunaan gas alam dalam

industri ada pada angka yang tinggi. Sektor energi Jerman masih tergantung pada

(49)

35% bersumber dari minyak fosil, diikuti berturut-turut dengan gas alam (22%), batu

bara (13%), nuklir (12), batu bara coklat atau lignite (11%), dan energi terbarukan

(7,0%). Sepertiga impor energi Jerman berasal dari Rusia, terutama impor gas alam

(Kemlu, n.d.). Dominannya energi gas alam yang digunakan tidak lepas dari beberapa

faktor yang membuat Jerman tetap mempertahankan suplai energi konvensional

beriringan dengan pengembangan energi baru terbarukan. Pengembangan energi baru

terbarukan yang menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat nya sendiri membuat

Jerman mengambil banyak alternatif untuk tetap mendapatkan suplai energi sambil

mengembangkan energi baru terbarukan. Salah satunya adalah dengan melakukan

impor energi gas alam.

Liquefied natural gas (LNG) atau gas alam cair adalah gas alam yang telah di dinginkan ke dalam suhu -162 derajat celcius ke keadaan cair agar dapat di simpan di

tempat penyimpanan dan ditransportasikan dengan lebih mudah (Rachel Waldholz,

2019). Dalam keadaan cairnya, gas alam memiliki volume enam ratus kali lebih sedikit

daripada yang masih berwujud gas (Rachel Waldholz, 2019). Gas alam dalam keadaan

cair dapat diangkut dengan kapal, truk atau kereta api ke tempat-tempat yang tidak

terjangkau oleh jaringan pipa gas alam tradisional atau dapat digunakan sebagai bahan

bakar langsung. Secara umum, gas pertama kali dicairkan di negara asal kemudian

diangkut melalui kapal dan di gasifikasi kembali di tempat tujuan. Dibandingkan

dengan bahan bakar fosil lainnya, gas alam memancarkan paling sedikit karbon

dioksida ketika dibakar sehingga mendorong banyak negara untuk melihat gas sebagai

(50)

pipa terbesar di dunia pada tahun 2017 dan mengambil lebih dari 90% konsumsinya

dari luar negeri (Rachel Waldholz, 2019). Gas alam merupakan bahan bakar pemanas

yang paling penting dalam kehidupan rumah tangga di Jerman bagi warga negaranya.

Kementerian Ekonomi dan Energi Jerman, Bundesministerium für Wirtschaft und

Energie (BMWi) mengatakan bahwa gas akan memainkan peran yang semakin

meningkat dalam sektor transportasi (BMWi, 2019). Pemerintah mengatakan bahwa

importir gas alam akan berkontribusi dalam mengamankan suplai energi pada harga

yang kompetitif dimana hal tersebut akan membantu menggapai tujuan nasional dan

tujuan perubahan iklim Eropa, sejalan dengan perjanjian Paris (Rachel Waldholz,

2019).

Perekonomian Jerman berkembang pesat karena adanya Industri yang kuat.

Kekuatan perekonomian Jerman bergantung kepada kinerja dan inovasi dari

pengembangan industri. Perekonomian di Jerman pada umumnya berbasis kepada

kendaraan, mesin, kimia dan industri elektronik (Szabo S. F., 2014). Pada Industri

mobil yang terbesar dengan 775.000 pegawai dianggap sebagai contoh untuk makna “Made in Germany” dengan keenam merek kuatnya yakni Volkswagen, BMW,

Daimler, VW Audi dan Porsche serta Opel (Group PSA) dan Ford merupakan barisan

depan dari cabang industrinya di dunia (de, t.thn.). Jerman banyak memproduksi

kendaraan untuk pangsa pasar kelas menengah atas dan kelas atas. Selain itu, dalam

bidang industri kimia yang dipimpin oleh grup perusahaan BASF yang didirikan pada

(51)

elektronik dengan perusahaan Siemens yang memiliki operasional di lebih dari 190

negara merupakan sebuah perusahaan ternama dan terdepan di dunia (de, t.thn.).

Dalam mengembangkannya Jerman melakukan kegiatan ekspor-impor untuk

memenuhi kebutuhan dan mensuplai sebagai bentuk ekspansi bisnis. Pasar global

berperan penting dalam kegiatan ekspor-impor Jerman sebab Jerman telah

menunjukkan kuota ekspor mereka sebesar 60 persen atau lebih telah di hasilkan dari

ke empat cabang industri tersebut (de, t.thn.). Industri Jerman digerakan oleh sumber

energi yang terdiri dari minyak (33,7%), batu bara dan lignit (22,9%), gas alam

(21,8%), nuklir (10,8%), angin dan air (1,5%) dan sumber energi lain (7,9%) (BMWi

d. , t.thn.). Gas alam merupakan salah satu yang terpenting di Jerman. Suplai gas alam

Jerman dapat mempengaruhi level kompetitif dari perekonomian negara yang sangat

penting (Ruszel, 2017). Hal itu dikarenakan aktivitas industri yang tinggi

membutuhkan bahan bakar energi yang murah dan mudah. Energi gas alam

menyediakan banyak kemudahan bagi perindustrian di Jerman. Terlebih ketika

Energiwende mengalami kendala pengembangan sehingga energi baru terbarukan tidak selalu bisa diandalkan dalam kuantitas maupun kualitas nya yang kurang dari 22

persen yang membuat Jerman kembali mengandalkan energi konvensional seperti gas

alam, minyak dan batu bara untuk menggerakan industrinya. Dengan demikian,

menjaga keberlangsungan suplai energi gas alam yang di dapat oleh Jerman merupakan

suatu langkah mengamankan keamanan energi.

2.1.1 Ancaman terhadap Keamanan Energi Jerman

Jerman sebagai jantung perekonomian Eropa memiliki banyak industri yang sudah

(52)

banyak aspek kehidupan ini tentunya membutuhkan energi sebagai bahan bakar

penggeraknya. Sumber daya energi menjadi hal yang vital diperbincangkan, khususnya

di Eropa. Pengembangan energi yang diiringi oleh kebijakan lingkungan menjadi

tantangan bagi Jeman sebagai pelaku utama industri dan perekonomian Uni Eropa. Hal

ini menjadikan posisi Jerman sebagai target utama dari kebijakan Energiwende untuk

mendiversifikasi penggunaan energi. Hal ini berkebalikan dengan situasi Jerman yang

membutuhkan energi gas alam sebagai alternatif utama dalam memenuhi kebutuhan

enegri untuk Industri maupun rumah tangga, khususnya pada musim dingin sebagai

penghangat bagi rumah-rumah di Eropa. Ketersediaan sumber energi menjadi potensi

ancaman apabila tidak dapat dipenuhi untuk menutupi kebutuhan nasional dalam

keperluan industri maupun rumah tangga. Selain ketersediaan, faktor lain seperti harga

juga dapat menjadi ancaman apabila harga yang diberikan oleh suplier berada pada

harga yang mahal. Hal tersebut dapat mempengaruhi belanja negara untuk menutupi

kebutuhan nasional. Pada musim dingin, dimana gas sangat dibutuhkan untuk menjaga

masyarakat Eropa tetap hangat. Harga gas menjadi penting karena menjangkau

masyarakat untuk membeli dalam rangka bertahan hidup menghadapi musim dingin.

2.2 NORD STREAM

Nord Stream adalah proyek pipa gas yang beroperasi dari Rusia menuju Eropa dengan melintasi Laut Baltik dan negara-negara transit di sekitarnya sebagai jalur

ekspor. Jalur pipa gas Nord Stream memastikan keandalan pasokan gas Rusia langsung

(53)

menampung kapasitas sebesar 55 bcm (Billion cubic meter) gas alam per tahun (27,5

bcm per line) (AG N. S., 2013). Nord Stream AG merupakan sebuah proyek besar yang

berbasis di Zug, Swiss. Nord Stream AG adalah konsorsium internasional dari

kumpulan sumber gas alam utama dengan lima perusahaan yang didirikan pada bulan

Desember 2005 dengan nama lama NEGP (North European Gas Pipeline) untuk tujuan

perencanaan, konstruksi dan operasi selanjutnya dari sistem pipa gas alam melalui Laut

Baltik. Para pemegang saham konsorsium Nord Stream adalah perusahaan Rusia OAO

Gazprom dengan kepemilikan saham 51 persen dan empat perusahaan Eropa yaitu Wintershall Holding GmbH dengan kepemilikan saham 15,5 persen, E.ON Ruhrgas AG dengan 15,5 persen, N.V. Nederlandse Gasunie sebesar 9 persen, dan ENGIE France sebesar 9 persen (AG N. S., 2013). Nord Stream AG berhasil membangun dua

pipa Nord Stream yaitu Nord Stream dan Nord Stream II. Nord Stream AG

menunjukkan bahwa transportasi gas alam bawah laut melalui jalur Laut Baltik adalah

solusi terbaik untuk memenuhi permintaan gas alam Eropa.

Sedangkan Nord Stream II merupakan proyek lanjutan yang telah direncanakan

oleh Rusia dan para stakeholders untuk menambah jumlah kuantitas gas alam yang di

ekspor. Nord Stream II akan mengikuti rute yang sama seperti rute yang telah dibuat

dari proyek Nord Stream I sebelumnya. Proyek ini sepenuhnya di biayai oleh para

shareholders nya dan tidak menerima sama sekali dana bantuan dari publik maupun negara anggota Uni Eropa. Saat ini, Nord Stream II masih berada dalam status under

construction yang artinya masih dalam tahap pembangunan dari Rusia menuju Jerman melalui Laut baltik (Stevens, Jordan, 2019). Nord Stream II di proyeksikan akan

Gambar

Gambar 2.1. Konsumen gas alam Rusia (Gazprom Statistic, nd)
Gambar 3.3 Konsumsi energi Jerman tahun 1998-2018 (German Federal Environment
Gambar 3.1. Jenis sumber daya energi yang digunakan Jerman  (ag-energiebilanzen.de)
Gambar 3.2 Faktor yang mempengaruhi Jerman dalam mempertahankan Nord Stream
+6

Referensi

Dokumen terkait

1) Sub DAS Bringin B9 merupakan daerah aliran sungai yang akan bermuara di Laut Jawa, hasil erosi dan sedimentasi yang tinggi di wilayah ini yang menjadi salah

Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data yang diperoleh dari tes

Pada bab ini dipaparkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pandangan tokoh A tentang seks, dosa, dan pernikahan dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami

(1) Benda, bangunan dan lingkungan kehidupan cagar budaya yang terdapat di wilayah Propinsi, dapat diusulkan menjadi KCB apabila memenuhi persyaratan sebagaimana

Annual Report on the Social and Economic Progress of the people of Perak for the year 1938 by Marcus Rex British Resident Perak, Kuala Lumpur, Printed at the Federated Malay

Panti ehabilitasi, walaupun 8ic sudah bosan itu harus dilakukan, kalau Panti ehabilitasi, walaupun 8ic sudah bosan itu harus dilakukan, kalau memang ia mau menghentikan

Dalam penelitian ini membandingkan prediksi kelayakan yang dari masing- masing teknik sehingga diperoleh rekomendasi tingkat layak atau tidak layak untuk

Hal ini dapat di simpulkan bahwa Semakin tinggi temperatur kalsinasi maka semakin tinggi ukuran kristal yang diikuti oleh naiknya ukuran butir berakibat pada menurunkan