7) Pengambilan kesimpulan.
3.9
Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian
3.9.1 Validitas SoalBerdasarkan perhitungan dengan rumus korelasi product moment maka diperoleh soal-soal yang valid dan tidak valid. Hasil perhitungan validitas soal uji coba dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.3 Validitas Soal
Kriteria No Soal Keterangan
Valid 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8 Dipakai
Tidak Valid 5 Tidak dipakai
3.9.2 Reliabilitas
Setelah dilakukan perhitungan dengan rumus Alpha terhadap hasil uji coba tes diperoleh r11 = 0,581 > rtabel = 0,329 sehingga dapat disimpulkan bahwa tes tersebut reliabel.
3.9.3 Taraf Kesukaran Butir Soal
Setelah dilakukan analisis taraf kesukaran pada soal uji coba dalam penelitian ini, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
Tabel 3.4 Taraf Kesukaran Butir Soal
No Kriteria No Soal
1. Mudah 3, 7, 8
2. Sedang 1, 4
3.9.4 Analisis Daya Pembeda
Berdasarkan hasil uji coba diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Tabel 3.5 Analisis Daya Pembeda
No Kriteria No Soal
1. Signifikan 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8 2. Tidak Signifikan 5
3.9.5 Penentuan Instrumen
Soal uji coba yang dipilih untuk tes komunikasi matematis adalah soal nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil Penelitian
4.1.1.Hasil Analisis Data Nilai Tes Evaluasi 4.1.1.1. Analisis Deskriptif
Tes kemampuan komunikasi matematik dengan jumlah soal tujuh butir, dan semuanya adalah berbentuk uraian yang diberikan setelah proses pembelajaran materi pokok Lingkaran selesai. Tes diikuti oleh 96 siswa yang terdiri dari 32 siswa kelas VIIIB (kelas eksperimen 1), 32 siswa kelas VIIIC (kelas eksperimen 2) dan 32 siswa kelas VIII E (kontrol kontrol). Hasil analisis deskriptif hasil belajar materi pokok Lingkaran dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Analisis Deskriptif Data hasil Belajar Statistik
Deskriptif
Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2 Kelas Kontrol Banyak Siswa 32 32 32 Nilai Tertinggi 96 94 94 Nilai Terendah 50 60 50 Rentang 46 34 44 Rata-rata 78,06 80,09 70,6 Varians 85,42 49,70 97,47 Simpangan Baku 9,24 7,05 9,87 64
4.1.1.2. Analisis Ketuntasan Belajar
Berdasarkan analisis ketuntasan belajar terhadap ketiga kelas sampel diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4.2 Rangkuman Analisis Ketuntasan Belajar
Variabel Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen II Kelas kontrol Rata-rata 78,06 80,09 70,6 N Tuntas 28 31 16 N 32 32 32 Ketuntasan Klasikal (%) 87,5% 96,88% 50%
4.1.1.2.1. Analisis Ketuntasan Belajar Kelas Eksperimen I
Dari tabel di atas memperlihatkan bahwa hasil tes kemampuan komunikasi matematik siswa untuk kelas eksperimen I telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal yang ditetapkan yaitu sebesar 85%. Ketuntasan belajar klasikal pada kelas eksperimen I ini sebesar 87,5%. Artinya, 87,5% dari siswa kelas ini telah mendapat nilai ≥ 70.
4.1.1.2.2. Analisis Ketuntasan Belajar Kelas Eksperimen II
Dari tabel di atas memperlihatkan bahwa hasil tes kemampuan komunikasi matematik siswa untuk kelas eksperimen II telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal yang ditetapkan yaitu sebesar 85%. Ketuntasan belajar klasikal pada kelas
eksperimen II ini sebesar 96,88%. Artinya, 96,88% dari siswa kelas ini telah mendapat nilai ≥ 70.
4.1.1.2.3. Analisis Ketuntasan Belajar Kelas Kontrol
Dari tabel 4.2 memperlihatkan bahwa hasil tes kemampuan komunikasi matematik siswa untuk kelas kontrol belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal klasikal. Tercapainya tujuan pembelajaran atau dikatakan tuntas belajar jika nilai tes siswa minimal 70 dan keberhasilan kelas yang dilihat dari jumlah siswa yang mendapat nilai tes ≥ 70 paling sedikit 85% dari jumlah siswa kelas tersebut belum dicapai oleh kelas kontrol karena ketuntasan klasikal pada kelas kontrol ini baru mencapai 50%.
Kegiatan pembelajaran disebut efektif jika ketuntasan belajar pada tiap kelas sampel telah memenuhi KKM. Untuk menunjukkannya, dilakukan uji proporsi untuk untuk masing-masing kelas sampel. Hipotesis yang digunakan sebagai berikut.
HO : π = 85% (proporsi siswa yang tuntas belajar telah mencapai 85% berarti
model pembelajaran tersebut efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik).
HO : π < 85% (proporsi siswa yang tuntas belajar kurang dari 85% berarti model
pembelajaran tersebut kurang efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik).
4.1.1.2.4. Uji Proporsi pada Kelas Eksperimen I
Sedangkan Ztabel untuk taraf kesalahan 5% adalah Ztabel = Z(0,5-α) adalah 1,64, sehingga -
Ztabel =-1,64. Kesimpulan Zhitung = 0,3961 >- Ztabel =-1,64 maka H0 diterima. Jadi
proporsi siswa yang tuntas belajar pada kelas eksperimen I telah mencapai 85%. Berarti model pembelajaran Explicit Instruction efektif terhadap kemampuan komunikasi matematika.
4.1.1.2.5. Uji Proporsi pada Kelas Eksperimen II
Berdasarkan perhitungan dengan rumus 3.9 diperoleh Zhitung =0,8911.
Sedangkan Ztabel untuk taraf kesalahan 5% adalah Ztabel = Z(0,5-α) adalah 1,64, sehingga -
Ztabel =-1,64. Kesimpulan Zhitung = 0,8911 >- Ztabel =-1,64 maka H0 diterima. Jadi
proporsi siswa yang tuntas belajar pada kelas Eksperimen II telah mencapai 85%. Berarti pembelajaran dengan model pembelajaran Picture and Picture efektif terhadap kemampuan komunikasi matematika.
4.1.1.2.6. Uji Proporsi pada Kelas Kontrol
Berdasarkan perhitungan dengan rumus 3.9 diperoleh Zhitung = -4,5547.
Sedangkan Ztabel untuk taraf kesalahan 5% adalah Ztabel = Z(0,5-α) adalah 1,64, sehingga -
Ztabel =-1,64. Kesimpulan Zhitung = -4,5547 <- Ztabel =-1,64 maka H0 ditolak. Jadi proporsi
peserta didik yang tuntas belajar pada kelas kontrol belum mencapai 85%. Berarti pembelajaran ekspositori tidak efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa pada materi pokok Lingkaran. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 35.
4.1.1.3. Uji Normalitas Nilai Evaluasi
Sebelum menguji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data. Uji normalitas dilakukan untuk menentukan statistik yang digunakan dalam pengujian hipotesis.
Hasil perhitungan hasil tes kemampuan komunikasi matematik kelas eksperimen I ( Explicit Instruction) adalah rata-rata 78,06 ; simpangan baku 9,24; nilai tertinggi = 96; nilai terendah= 50; banyak kelas = 6 dan panjang kelas interval = 8,diperoleh
hitung
2 = 5,9563 banyaknya data = 32, dk untuk distribusi Chi-kuadra dengan taraf
signifikan α = 5% diperoleh 2tabel = 7,81; dengan demikian 2hitung < 2tabel. Jadi, H0
diterima sehingga siswa kelas eksperimen I berdistribusi normal.
Hasil perhitungan hasil tes kemampuan komunikasi matematik kelas eksperimen II ( Picture and Picture) adalah rata-rata 80,09; simpangan baku 7,05; nilai tertinggi = 94; nilai terendah=60; banyak kelas = 6 dan panjang kelas interval = 6, diperoleh
hitung
2 = 1,8066; banyaknya data = 32, dk untuk distribusi Chi-kuadrat dengan taraf
signifikan α = 5% diperoleh 2tabel = 7,81; dengan demikian 2hitung < 2tabel. Jadi, H0
diterima sehingga siswa kelas eksperimen II berdistribusi normal.
Hasil perhitungan hasil tes kemampuan komunikasi matematik kelas kontrol adalah rata-rata 70,6; simpangan baku 9,19; nilai tertinggi = 94; nilai terendah=50; banyak kelas = 6 dan panjang kelas interval = 7; diperoleh 2hitung = 5,0992; banyaknya
tabel 2 = 7,81; dengan demikian hitung 2 < tabel 2 . Jadi, H
0 diterima sehingga siswa kelas
kontrol berdistribusi normal. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 36.
4.1.1.4. Uji Homogenitas Nilai Evaluasi
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah ketiga kelompok sampel mempunyai varians yang sama atau tidak. Pada penelitian ini uji homogenitasnya dihitung dengan uji Bartlett. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut :
Ho: 2 3 2 2 2 1 sedangkan untuk
Ha: paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku.
Hasil perhitungan dengan menggunakan Uji Bartlett menunjukkan bahwa
hitung
x2
= 2,7752 kemudian dikonsultasikan untuk α = 5% dengan dk = k-1 = 3-1 = 2
diperoleh
x
2tabel = 5,99. TernyataF
hitung < Ftabel sehingga hipotesis Ho diterima yangberarti bahwa sampelnya mempunyai varians yang homogen. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 37.
4.1.1.5. Uji Hipotesis Nilai Evaluasi
4.1.2.5.1. Uji Analisis Varians (One Way Anava)
Uji anava digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata yang signifikan dari data yang dihasilkan. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut. Ho : = 2 3
Tabel 4.3 Tabel Hasil Pehitungan Anava Sumber
Variasi
dk JK KT Fhitung Ftabel Kesimpulan
Rata-rata 1 558150,00 558150,00 10,9393 3,094 Ftabel < Fhitung Antar kelompok 2 1601,69 800,84 Dalam kelompok 93 6808,31 73,21
Dari distribusi F dengan dk pembilang 2 dan dk penyebut 94 dan peluang 0,95 (jadi α=0,05) didapat Ftabel = 3,094 ternyata bahwa Fhitung = 10,9393> 3,094; jadi
hipotesis Ho ditolak dalam taraf nyata 0,05. Ketiga macam pembelajaran itu menyebabkan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik siswa berbeda secara nyata. Karena Ho ditolak berarti terdapat perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik antara ketiga kelompok sampel yang diuji, sehingga harus dilakukan uji lanjut. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 38.
4.1.2.5.2. Uji Lanjut
Berikut ini adalah tabel uji lanjut dengan menggunakan uji LSD. Tabel 4.5 Tabel Hasil Pehitungan Uji Lanjut
Kelas Rata-rata LSD 2 1 x x x1 x3 x2 x3 ket Kontrol 70,6 4,24 7,18 Signifikan Eksp. I 78,06 9,21 Signifikan Eksp. II 80,09 2,03 signifikan Tidak
Kriteria pengujiannya adalah berbeda signifikan dengan bila
2 1
LSD x
xi j jika xi xj berarti kelompok ke- memang lebih tinggi dari kelompok ke- .
Dari tabel di atas diperoleh:
1. rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik siswa yang menggunakan model pembelajaran Explicit Instruction berbeda secara signifikan dengan rata- rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik siswa kelas kontrol, karena selisih rata-rata tesnya yang lebih besar dari nilai LSD,
2. rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik siswa yang menggunakan model pembelajaran Picture and Picture berbeda secara signifikan dengan rata- rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik siswa kelas kontrol, karena selisih rata-rata tesnya yang lebih besar dari nilai LSD, dan
3. rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik siswa yang menggunakan model pembelajaran Explicit Instruction tidak berbeda secara signifikan dengan rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Picture and Picture, karena selisih rata-rata tesnya yang kurang dari dari nilai LSD, dan dari hasil tes kemampuan komunikasi di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Explicit Instruction lebih baik dari pembelajaran ekspositori karena rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematika menggunakan model pembelajaran Explicit Instruction
sebesar 78,06 lebih tinggi daripada rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematika pada pembelajaran ekspositori sebesar 70,6.
2. Pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Picture and Picture lebih baik dari pembelajaran ekspositori karena rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematika menggunakan model pembelajaran Picture and Picture sebesar 80,09 lebih tinggi daripada rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematika pada pembelajaran ekspositori sebesar 70,6.
3. Pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Picture and Picture sama baiknya dengan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Explicit Instruction.
Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 39.
4.2.
Pembahasan
Penelitian ini menggunakan dua kelas eksperimen yang masing-masing diberi perlakuan berbeda. Kelas eksperimen I dengan penerapan model pembelajaran Explicit Instruction, dan kelas eksperimen II dengan penerapan model pembelajaran Picture and Picture. Dari uji normalitas dan homogenitas diperoleh hasil bahwa sampel yang digunakan berditribusi normal dan memiliki varians yang homogen. Perhitungan selengkapnya tentang uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 3 dan untuk uji homogenitas pada lampiran 4. Selain itu, kedua kelas eksperimen mendapatkan pembelajaran yang sama sebelum perlakuan, seperti siswa belajar dengan kurikulum yang sama, diajar oleh guru yang sama, penyebaran siswa merata pada tiap kelas yang artinya tidak ada kelas unggulan, dan di setiap kelas terdapat siswa yang pandai, sedang, dan kurang pandai dengan proporsi seimbang.
Waktu pembelajaran dalam penelitian ini untuk masing-masing kelas eksperimen adalah 3 x pertemuan (120 jam pelajaran). Materi pokok yang dipakai untuk penelitian ini adalah Lingkaran. Setelah mendapatkan pembelajaran dengan modelnya masing-masing, dilakukan tes untuk mengetahui sejauh mana kemampuan komunikasi matematik pada siswa yang menjadi sampel penelitian tersebut. Soal tes yang digunakan ini telah diujicobakan sebelumnya pada kelas uji coba dan telah dipilih soal-soal yang memenuhi syarat soal yang baik. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 8.
Rangkuman hasil analisis tes kemampuan komunikasi matematik siswa adalah sebagai berikut.
4.2.1. Keefektifan Model Pembelajaran Explicit Instruction
Setelah dilakukan analisis hasil tes kemampuan komunikasi matematik, model pembelajaran Explicit Instruction efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa untuk pembelajaran pada materi pokok lingkaran. Nilai tes kemampuan komunikasi matematik di kelas eksperimen I ini telah mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar 87,5%. Setelah diuji menggunakan uji proporsi pihak kiri, diperoleh nilai dari Zhitung = 0,3961 >- Ztabel =-1,64 yang berarti H0 diterima. Oleh karena itu,
model pembelajaran ini efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa. Meskipun pada kelas eksperimen I yang dikenai pembelajaran dengan model pembelajaran Explicit Instruction, pembelajaran di kelas ini berlangsung berlangsung dengan presentase awal keaktifan siswa dalam merespon pembelajaran kurang baik yaitu sebesar 51.35 %. Namun Presentase ini meningkat pada kegiatan belajar mengajar di pertemuan kedua yaitu sebesar 63.84% hingga pada pertemuan terakhir meningkat menjadi 69.2%. Walaupun guru berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran, namun
memang seharusnya guru tetap aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pemberian motivasi untuk siswa harus tetap di lakukan oleh guru agar siswa semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
4.2.2. Keefektifan Model Pembelajaran Picture and Picture
Hasil analisis hasil tes kemampuan komunikasi matematik menunjukkan bahwa model pembelajaran Picture and Picture efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa untuk pembelajaran pada materi pokok lingkaran. Nilai tes kemampuan komunikasi matematik di kelas eksperimen I ini telah mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar 96,88%. Setelah diuji menggunakan uji proporsi pihak kiri, diperoleh nilai dari Zhitung = 0,8911 >- Ztabel =-1,64 yang berarti H0 diterima. Oleh karena
itu, model pembelajaran ini efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa. Pada pembelajaran kelas eksperimen II ini kegiatan pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan kelas eksperimen I. Respon siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran baik. Hal ini mungkin terjadi karena siswa selalu dilibatkan dalam setiap fase kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran Picture and Picture yang masih baru dikenal oleh siswa menjadikan siswa tertarik untuk selalu mengikuti setiap petunjuk yang diberikan oleh guru. Pada observasi awal, siswa di kelas dengan penerapan model pembelajaran
Picture and Picture, mempunya kinerja keaktifan siswa sebesar 70.54%. Kemudian meningkat hingga mencapai 79.02% pada pertemuan kedua dan 83.93% pada pertemuan terakhir. Siswa di kelas ini terlihat paling antusias dan aktif mengikuti kegiatan pembelajaran daripada kelas sampel yang lain. Hasil perhitungan kinerja aktivitas siswa dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 40.
4.2.3. Perbedaan Rata-rata Hasil Tes Kemampuan Komunikasi Matematik
Adanya perbedaan rata-rata kemampuan komunikasi matematik antara kelas eksperimen I, kelas eksperimen II dan kelas kontrol terlihat pada saat dilakukan analisis varians. Dari hasil analisis varians diperoleh sebesar 10,9393 , sedangkan nilai -nya sebesar 3,094 . Ternyata 10,9393 > 3,094 sehingga dapat disimpulakan adanya perbedaan rata-rata kemampuan komunikasi matematik antara ketiga kelas sampel tersebut. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 39. Jika ada perbedaan rata-rata kemampuan komunikasi matematik antara ketiga kelas sampel tersebut, maka timbul pertanyaan diantara ketiga kelas tersebut, kelas mana yang paling baik?. Pertanyaan ini akan terjawab dengan uji LSD.
Uji LSD digunakan untuk menentukan model pembelajaran mana yang terbaik di antara ketiga model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini. Prosedurnya adalah mencari selisih rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik pada tiap dua kelas sampel, kemudian membandingkan dengan nilai LSD yang diperoleh dari hasil perhitungan sebesar 4,24. Jika selisihnya lebih tinggi dari nilai LSD, maka bedanya signifikan dan yang rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi matematik lebih besar berarti model pembelajarannya lebih baik.
Setelah dilakukan uji LSD, ada perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik siswa di kelas kontrol dengan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II, sedangkan untuk kelas Eksperimen I dan kelas Ekspeimen II tidak ada perbedaan rata-rata yang signifikan di kedua kelas tersebut. Jadi, kedua model pembelajaran di atas sama-sama efektif diterapkan untuk pembelajaran pada materi
pokok Lingkaran. Hal ini dikuatkan dengan hasil analisis ketuntasan belajarnya yang telah memenuhi KKM yang ditentukan.
Pembelajaran dengan model pembelajaran Explicit Instruction dan model pembelajaran Picture and Picture efektif terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa karena:
(1) pada pembelajaran dengan model pembelajaran Explicit Instruction dan model pembelajaran Picture and Picture, keaktifan siswa dalam belajar lebih besar jika dibandingkan dengan keaktifan siswa pada pembelajaran ekspositori,
(2) pada pembelajaran dengan model Explicit Instruction, partisipasi siswa dalam menjawab pertanyaan dalam diskusi kelas terlihat aktif secara individual maupun kelompok. Mereka bertanggungjawab tehadap tugas dan soal-soal yang diberikan oleh guru. Siswa dituntut meningkatkan kreatifitasnya terutama dalam kegiatan menyelesaikan soal-soal kemampuan komunikasi matematik dan berpartisipasi aktif dalam memaparkan jawaban mereka di depan kelas.
(3) pada pembelajaran dengan model Explicit Instruction dan model pembelajaran
Picture and Picture terlihat tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas dan lembar diskusi. Hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang menjawab benar tentang materi yang ditanyakan oleh guru serta soal-soal yang dibahas dalam diskusi siswa. (4) pada pembelajaran dengan model Picture and Picture hasilnya lebih baik
dibandingkan dengan model pembelajaran Explicit Instruction. Siswa pada model pembelajaran Picture and Picture lebih terlihat aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini mungkin dikarenakan guru memperlihatkan gambar-gambar
yang berkaitan dengan materi dan siswa harus menyusunnya dengan benar sehingga siswa terlihat lebih antusias.
Kesimpulan secara umum dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut.
1) Penerapan model pembelajaran Explicit Instruction efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Karangkobar pada materi pokok Lingkaran.
2) Penerapan model pembelajaran Picture and Picture efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Karangkobar pada materi pokok Lingkaran.
3) Dari hasil analisis perbedaan rata-rata diperoleh :
a. ada perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik antara siswa dengan penerapan model pembelajaran Explicit Instruction dengan siswa pada kelas kontrol.
b. ada perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik antara siswa dengan penerapan model pembelajaran Picture and Picture dengan siswa pada kelas kontrol.
c. tidak ada perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik antara siswa dengan penerapan model pembelajaran Explicit Instruction dan siswa dengan penerapan model pembelajaran Picture and Picture.
Menurut Suryabrata (2003: 22), salah satu faktor yang mempengaruhi ketepatan suatu hipotesis adalah taraf kebenaran dan taraf ketepatan dari landasan teori yang digunakan dalam penelitian. Dasar teori yang kurang sehat (sound) akan melahirkan hipotesis yang prediksinya kurang tepat, dan sebalikya. Dalam penelitian ini, setelah dilakukan analisis ternyata hipotesis ketiga tidak dipenuhi. Salah satu faktor yang
mempengaruhi kurang tepatnya hipotesis ketiga ini mungkin adalah kurang kuatnya landasan teori yang digunakan peneliti dalam melakukan penellitian ini.
Kesimpulan ini dapat digeneralisaasikan untuk populasi karena hipotesisnya telah diuji menggunakan prosedur pengujian yang sah dan bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, alangkah baiknya guru menerapkan model pembelajaran ini dalam kegiatan pembelajaran terutama pada materi pokok lingkaran.
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5.1
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dalam pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Penerapan model pembelajaran Explicit Instruction efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Karangkobar pada Materi Pokok Lingkaran.
2. Penerapan model pembelajaran Picture and Picture efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Karangkobar pada Materi Pokok Lingkaran.
3. Dari hasil analisis perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi siwa maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
a. ada perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik antara siswa dengan penerapan model pembelajaran Explicit Instruction
dengan siswa pada kelas kontrol.
b. ada perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik antara siswa dengan penerapan model pembelajaran Picture and Picture
dengan siswa pada kelas kontrol.
c. tidak ada perbedaan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematik antara siswa dengan penerapan model pembelajaran Explicit
Instruction dan siswa dengan penerapan model pembelajaran Picture and Picture.
5.2
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka penyusun memberikan saran- saran dengan harapan dapat bermanfaat dalam upaya meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematik siswa. Saran yang dapat penyusun sumbangkan untuk pembaca dan peneliti selanjutnya adalah sebagai berikut.
1. Dalam melakukan penelitian, perkuatlah landasan teori yang mendasari penelitian tersebut karena hal ini berkaitan dengan ketepatan hipotesis yang akan disusun. Dasar teori yang kurang sehat (sound) akan melahirkan hipotesis yang prediksinya kurang tepat, dan sebalikya.
2. Pergunakan media-media pembelajaran yang menarik dan inovatif dalam kegiatan pembelajaran karena hal ini akan menjadikan siswa antusias mengikuti setiap fase kegiatan pembelajaran sehingga akan mengoptimalkan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan dkk. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. Prestasi Pustaka: Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Asikin. 2001. Komunikasi Matematika dalam RME. Makalah Seminar. Disajikan dalam Seminar Nasional Realistic Mathematics Education (RME) di Universitas Sanata Darma Yogyakaryta, 14-15 November 2001.
Azwar, Saifudin. 2007. Metode Penelitian. (Ed. I). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Brenner, Marry E. 1998. Development Mathematical Comunication in Problem Solving Groups by Language Minority Students. Bilingual Research Journal, 22:2,3, & 4 Spring, Summer, & fall 1998. Hal: 103-128.
Catharina, Tri Ani dkk. 2004. Psikologi Belajar. Semarang : UPT MKK UNNES. Clark, Karen K, dkk. 2005. Strategies for Building Mathematical Communication in the
Middle School Classroom: Modeled in Professional Development, Implemented in the Classroom.Current Issues in The Middle level education (2005) 11(2), 1- 12.
Djarwanto dan Pangestu Subagyo. 2005. Statistika Induktif. Yogyakarta: BPFE. Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Kurikulum 2004. Jakarta. Depdiknas
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Depdiknas.
Hulukati, Evi. 2006. Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Melalui Model Pembelajaran Generatif. Koleksi Skripsi, Tesis dan Disertasi Perpustakaan UPI. Terdapat dalam