Hasil belajar siswa meningkat
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian
2) Uji Normalitas Posttest Eksperimen
tabel hitung X X2 <
2) Uji Normalitas Posttest Eksperimen
Uji Normalitas dilakukan dengan uji Chi-Kuadrat. Dari hasil pengujian
kelompok eksperimen diperoleh nilai . Perhitungan selengkapnya
pada lampiran. 761 , 6 2hitung = X 070 , 11 = tabel 4
Sedangkan nilai X2 pada taraf signifikansi α =0,05 untuk n=30 dengan kriteria:
hitung X X2 <
hitung X X2 >
tabel berarti data terdistribusi normal
tabel berarti data tidak terdistribusi normal
Untuk lebih jelasnya peneliti sajikan dalam bentuk tabel uji normalitas dibawah ini:
Tabel 4.5 Perhitungan Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen
Data Eksperimen N 30 hitung X2 6,761 tabel X2 11,070
Kesimpulan Terdistribusi Normal
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95%
(
α =0,05)
dengan derajat kebebasan dk =6−1=5, dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar fisika siswa kelompok eksperimen terdistribusi normal, karena memenuhi kriteria.
tabel hitung X X2 <
b. Uji Homogenitas Tes Hasil Belajar
Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini dalah uji Fisher. Kriteria pengujian ini digunakan, yaitu kedua kelompok sampel dinyatakan homogen apabila H0 diterima pada rentang Fhitung≤ Ftabel.
STATISTIK SE(t)2 (pretest) 99,63 SE(t)2 (postest) 93,68 Fhitung 1,063 Ftabel 1,86 Kesimpulan Homogen
Karena Fh< Ft maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima yang berarti varians
kedua kelompok sama atau homogen.
c. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis statistik dalam penelitain ini menggunakan statistik uji-t, data yang digunakan adalah data posttest kelompok eksperimen sebagai nilai hasil belajar. Sebelum dilakukan uji-t, terlebih dahulu menghitung nilai standar deviasi. Dari perhitungan yang dilakukan diperoleh nilai standar deviasi untuk
pretest sebesar 9,98 dan posttest sebesar 9,65.
Setelah mendapatkan nilai standar deviasi, kemudian menghitung nilai dengan menggunakan rumus uji-t. Dari perhitungan yang dilakukan, diperoleh nilai untuk pretest sebesar 4,55 dan posttest sebesar 12,45.
hitung t
hitung t
Untuk lebih jelasnya tentang perhitungan penulis sajikan dalam bentuk tabel dibawah ini:
hitung t
Tabel 4.6 Hasil Uji-t Kelompok Eksperimen
Data Pre Test Post Test
Standar Deviasi 9,98 9,65
hitung
t 4,55 12,45
tabel
t 2,00 2,00
dengan taraf signifikansi α =0,05 dan nilai derajat kebebasannya adalah 58,
maka nilai , yaitu dan sehingga
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar fisika siswa sebelum menggunakan model STM dan sesudah menggunakan model STM.
tabel hitung t
t > 4,55>2,00 12,45>2,00
d. Analisis Data Angket
Untuk mengetahui apakah terdapat respon baik dari siswa terhadap pembelajaran STM, maka disusunlah angket yang berupa skala liker dengan rentang 1 sampai 5. Setelah diperoleh hasil data angket yang diberikan kepada siswa, kemudian data tersebut diolah dalam bentuk tabel deskriptif yang dapat dilihat dalam lampiran.
Adapun respon siswa yang diajar dengan menggunakan model STM pada konsep energi bernuansa nilai, yakni responden yang menjawab dengan skor 40 %. Disini terlihat bahwa indikator yang paling tinggi masuk pada indikator kedua, yaitu tentang respon siswa terhadap pembelajaran STM pada konsep energi bernuansa nilai. Sedangkan indikator yang paling rendah yaitu pada indikator pertama, tentang minat siswa terhadap pembelajaran fisika. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memberikan respon yang baik terhadap penerapan model STM pada konsep energi bernuansa nilai.
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
indikator 1 indikator 2 indikator 3
sangat setuju setuju ragu-ragu tidak setuju sangat tidak setuju
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat dilihat bahwa hasil tes yang dilakukan sebelum pembelajaran (pretest) diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 54,56. Adapun hasil tes setelah pembelajaran (posttest) diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 70,80. Dari hasil analisis tampak terdapat pengaruh penggunaan model STM terhadap hasil belajar fisika pada konsep energi bernuansa nilai.
Kelompok eksperimen ini berada pada distribusi normal, baik dari hasil uji pretest, maupun dari hasil uji posttest nya, hal tersebut terbukti pada hasil uji prasyarat analisis yang menyatakan bahwa X2hitung < X2tabel. Pada taraf
kepercayaan 95% sebesar 11,070.
Berdasarkan hasil uji-t dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh nilai ttabel
= 2,00. hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa thitung > ttabel yaitu
sebesar 4,55 > 2,00 atau 12,45 > 2,00. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa normal gain kedua kelompok berbeda secara signifikan.
f. Pembahasan
Hakikat belajar pada umumnya adalah segala aktivitas dengan melibatkan serangkaian pengalaman langsung. Untuk itu, setiap orang yang belajar harus aktif berbuat untuk mengubah tingkah laku menjadi kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas, karena belajar hanya dapat terjadi jika pengalaman secara langsung tersebut dilalui dengan penemuan atau penyelidikan akan pengetahuan yang ada. Karena pada dasarnya pengetahuan yang didapat dari penginderaan terhadap suatu objek merupakan hasil organisasi secara selektif dari sejumlah fakta, informasi, serta prinsip-prinsip yang dimiliki dan diperoleh dari pengalaman.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini sangat ditekankan kepada siswa untuk mencari tahu tentang masalah yang di hadapi masyarakat sekarang ini terkait perkembangan iptek. Berdasarkan uraian data statistik yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STM berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa pada konsep energi bernuansa nilai, seperti penelitian
pendekatan STM dalam pembelajaran kimia memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil pendekatan yang biasa dilakukan oleh guru.
Pada awal pembelajaran guru memberikan pretest untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum diberikan metode pembelajaran inkuiri terstruktur. Setelah
pretest selesai, guru memberikan apersepsi, serta tujuan dari pembelajaran yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas agar siswa siap menghadapi bahan pelajaran dan mempunyai rasa keingintahuan yang kuat terhadap materi yang akan dibahas.
Kegiatan pendahuluan tersebut diikuti dengan kegiatan inti. Kegiatan inti dalam proses pembelajaran yang dilakukan adalah guru membagi siswa dalam 6 kelompok kecil yang terdiri dari 5 orang siswa kemudian guru membagikan peralatan beserta lembar kerja siswa. Setelah itu secara berkelompok siswa melakukan percobaan sesuai dengan tugas yang ada di lembar kerja, tentunya bimbingan guru. Kemudian masing-masing kelompok mendiskusikan hasil pengamatannya dan mengisi lembar kerja siswa dengan bimbingan guru. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil pengamatannya kemudian dilakukan diskusi atau sharing bersama-sama kelompok lainnya.
Kegiatan penutup dalam pembelajaran ini berupa siswa menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru. Dalam kegiatan ini siswa diberikan kesempatan untuk menanyakan materi yang kurang jelas untuk dipahami, sedangkan guru menyatukan kerangka berpikir siswa dengan menjelaskan bagian-bagian penting. Kegiatan ini dilakukan selama 3 kali pertemuan. Kemudian dilakukan posttest untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat menangkap materi yang telah dipelajari.
Sebelum dilakukan pembelajaran dengan model STM siswa diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di lingkungan sekitar yang berkaitan dengan konsep energi. Demikian siswa lebih bebas beraktivitas selama proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan tes tertulis diawal pembelajaran, yang selanjutnya dilakukan uji kesamaan dua rata-rata pretest diketahui bahwa hasil belajar fisika siswa pada
perbedaan yang signifikan.hal ini menunjukkan bahwa siswa pada kedua kelompok penelitian memiliki pengetahuan yang sama tentang konsep energi.
Penggunaan model STM yang bernuansa nilai pada kelompok eksperimen terlihat adanya pengaruh hasil belajar pada konsep energi. Akan tetapi, penyisipan nilai-nilai religius, intelektual dan praktis pada konsep energi dapat mempengaruhi hasil belajar fisika siswa yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dari hasil nilai rata-rata posstest pada kelompok eksperimen cukup tinggi.
Pada hasil posttest kelas baik kelompok eksperimen terjadi perubahan hasil belajar fisika siswa, sehingga dengan pembelajaran STM siswa akan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran STM menempatkan siswa sebagai subyek belajar yang aktif.
Dari hasil angket yang diberikan diakhir pembelajaran, secara keseluruhan siswa menunjukkan tanggapan yang tinggi terhadap pembelajaran STM pada konsep energi bernuansa nilai, lihat lampiran. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakuakan oleh Ummu Hafidah yang menerangkan bahwa model pembelajaran STM untuk konsep pencemaran lingkungan bernuansa nilai dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Adapun respon siswa yang diajar engan menggunakan model STM pada konsep energi bernuansa nilai religius, yakni yang menjawab dengan skor paling banyak dengan kategori sangat setuju yaitu sebanyak 40 %. Disini terlihat bahwa indikator yang paling tinggi yaitu pada indikator kedua, yaitu penilaian tentang respon siswa terhadap pembelajaran STM pada konsep energi bernuansa nilai, sedangkan paling rendah pada indikator pertama, yaitu penilaian tentang minat siswa terhadap mata pelajaran fisika. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memberikan respon yang positif/baik terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan model STM pada konsep energi yang bernuansa nilai. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata siswa telah menilai bahwa pembelajaran fisika yang bernuansa nilai sangat penting untuk di pelajari dengan harapan meningkatkan keimanan, kecerdasan dan mengembangkan literasi sains dalam kehidupan siswa.
membuktikan dan menggali sendiri masalah yang ada di masyarakat berkenaan dengan konsep energi. Dalam proses pembelajaran dengan model STM, siswa melakukan berbagai kegiatan antara lain mengemukakan masalah perubahan energi dan sumber energi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, berdiskusi untuk mengidentifikasi sumber permasalahan, memberi respon terhadap masalah, aktif melakukan pengamatan terhadap obyek pengamatan secara kelompok, aktif menyusun kesimpulan, dan mengkomunikasikannya. Selain itu siswa mendiskusikan hasil yang dicapai oleh masing-masing kelompok secara klasikal dan menyimpulkan hasil pengamatan.
KESIMPULAN DAN SARAN