• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

3. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah error term mendekati distribusi normal. Jika asumsi ini tidak terpenuhi, prosedur pengujian menggunakan statistik t menjadi tidak sah. Uji yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan uji Jarque-Bera. Uji ini didasarkan pada error penduga least

square. Prosedur pengujiannya adalah sebagai berikut :

(i). H0 : Error Term terdistribusi normal

H1 : Error Term tidak terdistribusi dengan normal

(ii). Daerah kritis penolakan H0 adalah Jarque Bera (J-B) > χdf-22 atau probabilitas < α.

3. 4. Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian, pengujian hipotesis dapat dilakukan secara keseluruhan dan secara individu.

1. Pengujian Koefisien Regresi secara Keseluruhan dan Serentak

Untuk menguji parameter regresi secara keseluruhan dalam mempengaruhi variabel terikat dapat dilakukan dengan uji F. Hipotesis yang digunakan dalam uji ini adalah sebagai berikut :

H0 : β1 = β2 = β3 = ... = βk = 0 H1 : paling tidak ada satu βk ≠ 0 Statistik uji : Fhitung = R2/(k-1) (1-R2)/(n-k) dimana : R2 : koefisien determinasi k : jumlah parameter n : jumlah observasi

Apabila : Fhitung > Ftabel, (k-1)(n-k) maka tolak H0 Fhitung < Ftabel, (k-1)(n-k) maka terima H0

Jika H0 ditolak berarti secara bersama-sama variabel eksogen dalam model

berpengaruh terhadap variabel endogen. Uji yang dilakukan dalam penelitian ini untuk menguji parameter regresi secara keseluruhan yaitu dengan melihat nilai probabilitas F-statistik. Apabila nilai probabilitas F-statistik lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan (α) maka variabel bebas secara serentak berpengaruh secara signifikan terhadap persamaan yang digunakan.

43

Pengujian koefisien regresi secara individu dilakukan untuk mengetahui apakah parameter dari masing-masing peubah secara individu berpengaruh nyata atau signifikan terhadap peubah tak bebas. Hipotesis yang digunakan :

H0 : βi = 0 , i = 1, 2, 3,..., i H1 : βi ≠ 0 Statistik uji : thitung = βi Sei ) dimana :

Sei ) : standar deviasi untuk parameter ke-i βi : koefisien regresi atau parameter k : jumlah parameter

n : jumlah observasi

Apabila : thitung > ttabel, (k-1)(n-k) maka tolak H0 thitung < ttabel, (k-1)(n-k) maka terima H0

Jika H0 ditolak, maka variabel eksogen dalam model berpengaruh nyata

atau signifikan terhadap variabel endogen. Uji yang dilakukan dalam penelitian ini untuk menguji parameter regresi secara individu yaitu dengan melihat nilai probabilitas t-statistik. Apabila nilai probabilitas t-statistik lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan (α) maka variabel bebas secara individu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat dalam model.

Nilai neraca perdagangan Indonesia mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Nilai neraca ini tergantung dari kinerja ekspor dan impor baik dalam komoditi migas maupun non migas. Dari tahun 1990, nilai neraca perdagangan Indonesia terus mengalami peningkatan. Perubahan nilai neraca pedagangan Indonesia dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut.

0.00 1,000.00 2,000.00 3,000.00 4,000.00 5,000.00 6,000.00 7,000.00 8,000.00 9,000.00 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 tahun milia r U S $

Sumber: International Financial Statistics (2007)

Gambar 4.1. Grafik Neraca Perdagangan Indonesia Tahun 1990-2005

Grafik di atas menunjukkan dari tahun 1990-1997, nilai neraca perdagangan Indonesia terus mengalami kenaikan walaupun tidak terlalu signifikan. Pada periode tahun tersebut, nilai neraca perdagangan tertinggi dicapai pada tahun 1992 sebesar 2.629 miliar US$. Pada tahun 1993 nilai neraca perdagangan Indonesia

45

mengalami penurunan dari 2629 miliar US$ menjadi 1577 miliar US$. Namun menginjak tahun 1994 nilai neraca perdagangan Indonesia mulai memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan. Membaiknya nilai neraca perdagangan membawa dampak positif bagi peekonomian Indonesia.

Memasuki akhir tahun 1997 Indonesia mengalami krisis moneter yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Dengan terdepresiasinya nilai berimplikasi pada neraca perdagangan Indonesia. Nilai tukar yang melemah terhadap dollar Amerika justru mampu meningkatkan daya saing produk domestik. Sehingga mampu memperbaiki kinerja ekspor yang pada akhirnya nilai neraca perdagangan Indonesia akan membaik. Namun di satu sisi, terdepresiasinya nilai tukar rupiah membawa dampak negatif bagi perekonomian Indonesia.

Pada akhir tahun 1997, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus melemah sampai level Rp 4.650/US$ sedangkan nilai neraca perdagangan Indonesia mencapai nilai 2979 miliar US$. Krisis yang masih berlangsung sampai tahun 1998 menyebabkan nilai rupiah terus merosot sampai level Rp 8.025/US$. Melemahnya nilai rupiah berimplikasi pada neraca perdagangan Indonesia. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada nilai neraca perdagangan Indonesia yaitu sebesar 3536,28 miliar US$. Sampai pada pasca krisis, volatilitas nilai tukar terus mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia.

4.2. Gambaran Umum GDP Riil Indonesia

Sama halnya dengan neraca perdagangan Indonesia, nilai GDP ril Indonesia terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Nilai GDP riil Indonesia dari tahun 1990-1997 terus mengalami peningkatan karena pada sat itu kondisi perekonomian Indonesia masih stabil. Menginjak pada tahun 1997, nilai GDP riil Indonesia mulai mengalami penurunan.

0.00 500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00 3,000.00 3,500.00 4,000.00 4,500.00 5,000.00 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 tahun ju ta R p

Sumber: International Financial Statistics (2007)

Gambar 4.2. Grafik GDP Riil Indonesia Tahun 1990—2005

Adanya krisis moneter yang terjadi di hampir seluruh Negara Asia membawa pengaruh terhadap perekonomian Indonesia termasuk pendapatan nasional Indonesia. Pada akhir tahun 1997 nilai GDP riil Indonesia sebesar Rp3.277,97 juta dan pada akhir tahun 1998 nilai GDP riil Indonesia menurun cukup signifikan menjadi sebesar Rp 2.747,97. Mulai meredanya krisis ekonomi pada akhir tahun 1998 membawa dampak baik bagi perekonomian Indonesia,

47

dimana pendapatan nasional Indonesia mulai meningkat. Pada tahun berikutnya nilai GDP riil Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal tersebut mengindikasikan kinerja perekonomian Indonesia yang mulai membaik.

4.3. Gambaran Umum Jumlah Uang Beredar di Indonesia

Jumlah uang beredar merupakan salah satu instrumen dalam kebijakan moneter. Pertumbuhan jumlah uang beredar yang rendah akan menurunkan tingkat inflasi dan defisit transaksi berjalan secara signifikan, akan tetapi hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Oleh karena itu, pengendalian jumlah uang beredar perlu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap mengendalikan tingkat inflasi dan neraca pembayaran. Perkembangan jumlah uang yang beredar di Indonesia dapat dilihat dari Gambar 4.3 berikut.

0.00 50,000.00 100,000.00 150,000.00 200,000.00 250,000.00 300,000.00 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 tahun milia r R p

Sumber : Bank Indonesia (2007)

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa peningkatan cukup signifikan pada jumlah uang yang beredar di Indonesia terjadi pada tahun 1997 atau pada saat terjadi krisis moneter. Besarnya jumlah uang beredar pada tahun 1996 sebesar Rp 63.565 miliar dan pada tahun 1997 meningkat menjadi Rp 98.270,29 miliar. Peningkatan ini terjadi bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mengingat pada masa tersebut kondisi perekonomian Indonesia kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia. Namun seperti penjelasan di atas dengan adanya peningkatan jumlah uang yang beredar justru tidak akan menurunkan tingkat inflasi.

4.4. Gambaran Umum Tingkat Suku Bunga SBI

Sebagai negara kecil dengan sistem perekonomian terbuka, kinerja perekonomian Indonesia tidak terlepas dari faktor-faktor eksternal terutama kinerja dan arah pembangunan ekonomi dari negara lain. Negara yang paling dominan dalm mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia adalah Amerika Serikat. Kebijakan Amerika Serikat dalam peningkatan suku bunga Fed, mempengaruhi suku bunga di Indonesia. Peningkatan suku bunga yang cukup signifikan terjadi pada saat terjadi krisis yaitu pada tahun 1997 yang mencapai 20% bahkan pada tahun 1998 tingkat suku bunga SBI mencapai level 38,44%.

Kenaikan ini terjadi karena adanya ekspektasi inflasi yang cukup tinggi serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Pasca krisis moneter, BI selaku otoritas moneter mulai menurunkan tingkat suku bunga, Penurunan tingkat suku bunga ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi

49

makroekonomi yang mulai stabil yang tercermin pada perkembangan nilai tukar, tingkat inflasi, dan kondisi moneter.

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 tahun p e rsen

Sumber : Bank Indonesia (2007)

Gambar 4.4. Grafik Perkembangan Tingkat Suku Bunga SBI Tahun 1990-2005

4.5. Gambaran Umum Nilai Tukar Rupiah

Salah satu faktor yang mempengaruhi aliran barang, jasa, dan modal antara Indonesia dengan luar negeri adalah nilai tukar rupiah terhadap nilai mata uang asing. Mengingat pentingnya peranan nilai tukar rupiah, pengendalian nilai tukar rupiah perlu dilakukan agar dapat berperan secara optimal dalam mendukung perekonomian Indonesia. Sistem nilai tukar yang dianut Indonesia sejak 15 November 1978 sampai dengan 13 Agustus 1997 adalah sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating). Dalam sistem ini, nilai tukar rupiah ditentukan oleh mekanisme pasar disertai pengendalian oleh otoritas moneter.

Pengendalian ini bertujuan agar nilai tukar rupiah tidak terlalu fluktuatif, sebab nilai tukar yang terlalu fluktuatif akan berdampak negatif terhadap aliran barang, jasa, dan modal. Pada tahun 1990-1997 nilai tukar rupiah berkisar pada level yang stabil. Pada akhir 1997, krisis moneter melanda Indonesia yang bermula dari jatuhnya nilai mata uang Bath Thailand. Nilai tukar rupiah mulai mengalami goncangan dan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia seperti tingkat inflasi yang tinggi, tingkat pengangguran yang tinggi, serta tingkat prtumbuhan ekonomi yang rendah. Untuk itu perlu dilakukan pemulihan ekonomi, salah satunya melakukan perubahan dalam sistem nilai tukar dari sistem nilai tukar mengambang terkendali menjadi sistem nilai tukar mengambang bebas murni sehingga nilai tukar rupiah ditentukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar.

0.00 2,000.00 4,000.00 6,000.00 8,000.00 10,000.00 12,000.00 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 tahun Rp /U S $

Sumber: Bank Indonesia (2007)

Gambar 4.5. Grafik Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika Tahun 1990-2005

V. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NERACA

Dokumen terkait