Dalam PER-24/PJ/2012 menerbitkan ketentuan baru. Ketentuan baru tersebut menyebutkan bahwa apabila PKP membuat Faktur Pajak dengan menggunakan Nomor Seri Faktur Pajak Ganda dalam tahun pajak yang sama, maka Faktur Pajak tersebut dapat dikatakan sebagai Faktur Pajak Tidak Lengkap. Akan tetapi apabila Nomor Seri Faktur Pajak yang diminta tidak digunakan, PKP harus melapor kepada KPP tempat PKP dikukuhkan bersamaan dengan Surat Pemberitahuan Masa PPN Masa Pajak Desember. Ketika PKP menyampaikan Surat Pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak Yang Tidak Digunakan ke Petugas TPT. Petugas TPT akan memberikan BPS.
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 36 Berikut ini merupakan bentuk formulir Pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak yang Tidak Digunakan :
Form 3.6 Pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak Yang Tidak Digunakan
F. Saat PKP Pindah Tempat Kegiatan Usaha
Apabila kegiatan usaha PKP berpindah tempat ke luar wilayah Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP tersebut dikukuhkan. PKP diharuskan mengajukan kembali permohonan kode aktivasi dan password. Pengajuan permohonan tersebut disampaikan ke KPP yang membawahi tempat kegiatan usaha PKP yang baru. Dalam pengajuan permohonan tersebut jangan lupa untuk menunjukan pemberitahuan kode aktivasi yang asli dari KPP sebelumnya. PKP tetap dapat menggunakan Nomor Seri Faktur Pajak yang belum digunakan.
Nomor : ... ...,...
Hal : Pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak Yang Tidak Digunakan Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak...
...
Dengan ini, saya: Nama : ...
Jabatan : ...
Nama PKP : ...
NPWP : ...
Alamat : ...
menyampaikan Nomor Seri Faktur Pajak yang tidak digunakan pada tahun ..., yaitu : 1. ...
2. ...
3. ... dst. 4. ... sampai dengan ...
5. ... sampai dengan ...dst. Pemberitahuan ini kami sampaikan untuk memenuhi ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-.../PJ/2012. Nomor Seri tersebut di atas belum pernah dipergunakan untuk menerbitkan Faktur Pajak. Demikian disampaikan, atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih. Pemohon (...)
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 37 Gambar 3.2 Saat PKP Pindah Kegiatan Usaha ke Luar Wilayah KPP
G. Ketentuan Untuk Faktur Penjualan
Bagaimana dengan Faktur Penjualan? Pada peraturan sebelumnya
(PER-13/PJ/2010) & peraturan yang terbaru (PER-24/PJ/2012) tidak ada perbedaan. Untuk Faktur penjualan yang digunakan sama dengan Faktur Pajak seperti yang telah di atur. Berikut ini adalah contoh format faktur penjualan:
Faktur Penjualan Nomor Faktur : Kode Pelanggan : Nama Pelanggan : Total Faktur: Tanggal Pelunasan :
Form 3.2. Contoh Faktur Penjualan
Kode Barang Nama Barang Jumlah Harga Total
PKP Pindah ke Luar
Kode Aktivasi dan Password
Mengajukan kembali permohonan kode aktivasi dan password + menunjukan asli pemberitahuan kode aktivasi yang diberikan oleh KPP sebelumnya
No Seri Faktur Pajak
Tetap dapat menggunakan No Seri Faktur Pajak yang belum digunakan
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 38 Berikut ini adalah contoh Faktur Penjualan yang berfungsi sebagai Faktur Pajak:
FAKTUR PENJUALAN/ FAKTUR PAJAK Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak:
Pengusaha Kena Pajak Nama:
Alamat: No Faktur:
NPWP: Tgl.Jth Tempo:
Pembeli Barang Kena Pajak/Penerima Jasa Kena Pajak Nama:
Alamat: Kode:
NPWP: Sales:
No. Urut Nama Barang Kena Pajak / Jasa Kena Pajak Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termin
Valas Rp
Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termin Dikurangi potongan harga
Dikurangi uang muka yang telah diterima Dasar Pengenaan Pajak
PPN = 10% x Dasar Pengenaan Pajak Total
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
Tarif DPP PPnBM ...% ...% ...% ...% Rp... Rp... Rp... Rp... Rp... Rp... Rp... Rp... ...tgl... ... Nama Jumlah Rp...
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 39
H. Ketentuan Faktur Pajak Pengganti
Perubahan mengenai ketentuan Faktur Pajak Pengganti adalah sebagai berikut :
Tabel 3.2 Perbedaan PER-13/PJ/2010 dan PER-24/PJ/2012 terkait dengan Faktur Pajak Pengganti/Pembatalan
PER-13/PJ/2010 PER-24/PJ/2012
Penerbitan Faktur Pajak Pengganti dapat dilakukan jika SPT Masa PPN (dimana FP Pengganti tersebut
dilaporkan) belum dilakukan
pemeriksaan & PPN dalam Faktur Pajak tersebut belum dibebankan sebagai biaya.
PKP boleh menerbitkan Faktur Pajak Pengganti atas Faktur Pajak yang rusak, salah pengisian & penulisan serta Faktur Pajak atas pembatalan
transaksi penyerahan BKP/JKP
selama Faktur Pajak tersebut masih dapat dilakukan pembetulan.
Faktur Pajak yang diganti/dibatalkan
sepanjang belum dilakukan
pemeriksaan.
Pembetulan SPT Masa PPN (dimana FP Pengganti tersebut dilaporkan) dapat dilakukan selama belum
dilakukan pemeriksaan, belum
dilakukan pemeriksaan bukti
permulaan yang bersifat terbuka dan
PKP belum menerima surat
pemberitahuan hasil verifikasi.
Pembeli BKP/JKP yang sudah
melakukan pengkreditan atas PM dari
PPN yang Faktur Pajak nya
diganti/dibatalkan maka harus
dilakukan pembetulan SPT masa PPN pada masa pajak untuk Faktur Pajak yang diganti/dibatalkan selama belum dilakukan pemeriksaan
Jika PM atas Faktur Pajak yang diganti/dibatalkan oleh PKP sudah dikreditkan, maka harus melakukan pembetulan SPT masa PPN pada masa pajak atas Faktur Pajak yang
diganti/dibatalkan tersebut
dilaporkan. Dan selama belum
dilakukan pemeriksaan, belum
dilakukan pemeriksaan bukti
permulaan yang bersifat terbuka &
PKP belum menerima surat
pemberitahuan hasil verifikasi.
Penjelasan:
Jika kita perhatikan antara PER-13/PJ/2010 dan PER-24/PJ/2012 terdapat penambahan kata-kata yaitu:
1) Pada PER-13/PJ/2010, PKP dapat menerbitkan Faktur Pajak Pengganti/dibatalkan asalkan belum ada pemeriksaan dan PPN dalam Faktur Pajak tersebut belum dibebankan sebagai biaya. Itu artinya jika sudah dilakukan pemeriksaan dan PPN tersebut sudah dijadikan biaya, maka tidak bisa diterbitkan Faktur Pajak Pengganti/Pembatalan.
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 40 2) Pada PER-24/PJ/2012, Penerbitan Faktur Pajak Pengganti dapat
dilakukan, sepanjang Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (dimana Faktur Pajak yang diganti tersebut dilaporkan) masih dapat dilakukan pembetulan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
3) Pada PER-24/PJ/2012, SPT Masa PPN (dimana Faktur Pajak yang diganti tersebut dilaporkan) dapat dilakukan Pembetulan jika belum ada pemeriksaan, belum dilakukan pemeriksaan bukti permulaan yang bersifat terbuka dan PKP belum menerima surat pemberitahuan hasil verifikasi. Artinya, jika setelah adanya pemeriksaan, adanya pemeriksaan bukti permulaan yang bersifat terbuka dan PKP sudah menerima surat pemberitahuan hasil verifikasi, maka PKP tidak dapat menerbitkan Faktur Pajak Pengganti/Pembatalan. Selain itu, dalam PER-24/PJ/2012 untuk nomor seri Faktur Pajak Pengganti ada ketentuan baru yaitu:
a) Pada PER-24/PJ/2012, untuk Nomor Seri Faktur Pajak Pengganti tetap menggunakan Nomor Seri Faktur Pajak yang sama dengan Nomor Seri Faktur Pajak yang diganti.
Contoh:
Faktur Pajak yang diganti Kode dan Nomor Seri Tanggal
: 010.900.13.00000010 : 011.900.13.00000010 : 15 Juli 2013
Gambar 3.2 Contoh Faktur Pajak Pengganti (Berdasarkan PER-24/PJ/2012)
b) Sedangkan di PER-13/PJ/2010, nomor urut Faktur Pajak Pengganti berdasarkan Nomor Seri Faktur Pajak terakhir yang belum digunakan.
Contoh:
Faktur Pajak yang diganti Kode dan Nomor Seri Tanggal
: 010.000.11.00000018 : 011.000.11.00000030 : 12 Februari 2012
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 41
I. Sanksi administrasi
Bagi PKP yang menerbitkan Faktur Pajak lewat dari batas waktu yang ditentukan, maka dikenakan sanksi administrasi berdasarkan Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Pasal 14 ayat (4) yaitu denda 2% dari DPP. PKP yang menerbitkan Faktur Pajak lewat dari 3 bulan, maka dianggap tidak Menerbitkan Faktur Pajak & Pajak Masukan-nya tidak dapat dikreditkan. Tidak ada perubahan antara peraturan baru dan lama yang membahas tentang sanksi administrasi ini.
Contoh 1 (Bagi PKP yang menerbitkan Faktur Pajak lewat dari batas waktu yang ditentukan):
PT A melakukan penjualan sebagai berikut:
DPP : Rp 12.000.000
Saat penyerahan : 10 April 2013
Saat pembayaran : 10 Mei 2013
Saat penerbitan Faktur Pajak :11 April 2013 (Terlambat) Dengan begitu PT A terlambat menerbitkan Faktur Pajak. Sehingga PT A dikenakan sanksi administrasi yaitu denda 2% x Rp 12.000.000 (DPP) = Rp 240.000. Seharusnya PT A menerbitkan Faktur Pajak paling lambat tanggal 10 April 2013.
Contoh 2 (Bagi PKP yang menerbitkan Faktur Pajak lebih dari 3 bulan): PT Y menjual BKP kepada PT Z sebagai berikut:
DPP : Rp 20.000.000
Saat penyerahan : 30 Juli 2013
Saat penerbitan Faktur Pajak : 1 November 2013 Maka, PT Y sebagai penjual terlambat menerbitkan Faktur Pajak selama 4 bulan. Sehingga PT Y dianggap tidak menerbitkan Faktur Pajak. Kemudian PT Z sebagai pembeli, tidak bisa mengkreditkan Pajak Masukan atas pembelian Barang Kena Pajak (BKP) tersebut.
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 42
J. Sanksi Untuk Faktur Pajak Tidak Lengkap
Pada peraturan sebelumnya yaitu PER-13/PJ/2010, tidak ada istilah Faktur Pajak Tidak Lengkap Tetapi yang ada hanya Faktur Pajak Cacat. Atas Faktur Pajak Tidak Lengkap tersebut, PKP dikenakan sanksi administrasi berdasarkan Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Pasal 14 ayat (4) yaitu denda 2% dari Dasar Pengenaan Pajak.
Faktur Pajak Cacat (Istilah pada peraturan PER-13/PJ/2010) dan Faktur Pajak Tidak Lengkap (Pada Peraturan PER-24/PJ/2012) tidak dijelaskan secara spesifik di Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan. Namun, pada Pasal 14 ayat (1) huruf e Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan disebutkan:
Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak yang tidak mengisi Faktur Pajak secara lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, selain:
1. identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya;atau
2. identitas pembeli serta nama dan tandatangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b dan huruf g Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, dalam hal penyerahan dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak pedagang eceran;
Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan bahwa PKP yang tidak mengisi Faktur Pajak secara lengkap ini disebut sebagai Faktur Pajak Tidak Lengkap. Untuk BKP/JKP yang menerima Faktur Pajak Tidak Lengkap, maka Pajak Masukan-nya tidak dapat dikreditkan.
Contoh Faktur Pajak Tidak Lengkap:
PT B menerbitkan Faktur Pajak kepada PT C atas pembelian BKP sebesar Rp 23.000.000 (belum termasuk PPN). Kemudian setelah diteliti, PT B salah mengisi nomor seri pada Faktur Pajak tersebut. Sehingga:
- PT B dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% x Rp 23.000.000 (DPP) = Rp 460.000.
- PT C sebagai pembeli tidak dapat mengkreditkan PM atas pembelian BKP tersebut (berdasarkan Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Pasal 14 ayat 4).
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 43
K. Faktur Pajak Untuk PKP Pedagang Eceran Dan Faktur Pajak Khusus
Untuk PKP Toko Retail
Mengacu pada Peraturan PER-13/PJ/2010, Faktur Pajak untuk PKP Pedagang Eceran, Faktur Pajak-nya dipersamakan dengan Faktur Pajak yang diatur dalam peraturan tersebut. Tetapi, hanya diatur sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 saja. Setelah itu terbit peraturan baru yaitu PER–58/PJ/2010 & SE-137/PJ/2010 tentang Bentuk dan Ukuran Formulir Serta Tata Cara Pengisian Keterangan Pada Faktur Pajak Bagi Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran. Kemudian, DJP menerbitkan PMK-84/PMK.03/2012 yang membahas tentang pengertian PKP Pedagang Eceran. Peraturan PMK-84/PMK.03/2012 ini masih berlaku sampai dengan tanggal 31 Maret 2013.
Berdasarkan PER-58/PJ/2010 Pasal 1 ayat (1) dan PMK-84/PMK.03/2012 Pasal 4 ayat (2) dan (3) yang dimaksud dengan PKP Pedagang Eceran (PKP PE) adalah PKP yang kegiatan usahanya melakukan penyerahan BKP/Pemberian JKP dengan cara:
a) Melalui suatu tempat penjualan eceran atau langsung mendatangi tempat penjualannya. Contoh: toko/kios.
b) Dengan cara penjualan eceran langsung kepada konsumen. Penjualan ini tidak ada penawaran tertulis, pemesanan (order), atau kontrak. c) Transaksi jual beli dilakukan langsung secara tunai antara penjual
dan pembeli/ pembeli langsung membawa BKP yang dibeli.
Pengertian PKP Pedagang Eceran ini sama dengan yang disebutkan PER-24/PJ/2012 Pasal 1 ayat (7). Penyerahan BKP/Pemberian JKP tersebut merupakan ketentuan yang kumulatif, artinya poin a hingga c harus terpenuhi oleh PKP. Dalam peraturan ini pengertian tentang PKP Pedagang Eceran sama dengan definisi yang diatur di PER-58/PJ/2010 dan juga PMK-84/PMK.03/2012. Sedangkan penjelasan tentang Faktur Pajak Khusus Toko Retail diatur tersendiri berdasarkan PMK-76/PMK.03/2010. Yang dimaksud dengan Toko Retail pada Pasal 1 ayat (3) adalah:
Toko Retail adalah toko yang menjual BKP di dalam Daerah Pabean dan telah menjadi PKP, serta berpartisipasi dalam skema pengembalian PPN kepada orang pribadi, yang ditunjuk oleh DJP.
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 44 Toko Retail yang menyerahkan Barang Bawaan harus menerbitkan
Faktur Pajak Khusus untuk orang pribadi dengan menggunakan format, berdasarkan lampiran I PMK-76/PMK.03/2010 sebagai berikut:
Form 3.4 Faktur Pajak Khusus CONTOH FAKTUR PAJAK KHUSUS FAKTUR PAJAK KHUSUS/TAX INVOICE
XXX-XX-XX-00000001... (1) (Tanggal/Date dd-mm-yy) (2)
PENGUSAHA KENA PAJAK : ... (3) TAXABLE PERSON FOR VAT PURPOSES
NPWP : ... (4)
TAXPAYER IDENTITY NUMBER
ALAMAT : ... (5) ADDRESS NAMA : ... (6) TOURIST NAME NOMOR PASPOR : ... (7) Passport No. ALAMAT : ... (8) ADDRESS
Total Pembayaran/Total Paid PPN/VAT (10/110) 45.000.000 ...(9)
4.090.909 ...(10) Telah dilayani oleh : / You have been attended by Esra Maheri ... (11)
Pernyataan Toko Retail/ Toko Retail's Declaration Saya menyatakan bahwa turis telah melakukan pembelian barang dan berhak untuk meminta pengembalian restitusi Pajak Pertambahan Nilai (/declared that tourist has purchased the goods and is entitled to claim for a refund)
Pernyataan Turis/ Tourist's Declaration Dengan ini saya menyatakan bahwa saya memenuhi kriteria dan persyaratan untuk mengajukan permohonan pengembalian PPN sesuai dengan skema restitusi PPN turis asing. Saya menyatakan bahwa saya memahami kriteria dan persyaratan yang telah diberitahukan kepada saya. Saya akan mengizinkan DJP untuk melakukan pemeriksaan dokumen dan barang bawaan saya.
( I hereby declare that I meet the eligibility criteria and will comply with the conditions and requirements for claiming VAT refund under the tourist refund scheme. I confirm that I fully understand the eligibility criteria, conditions and requirements which have been made known to me. I will allow DGT to inspect my good)
Mengajukan pengembalian /apply for refund ... (12)
tanda tangan turis Tanda tangan Penjual dan Stempel /tourist
signature /Toko Retail's Signature & Stamp
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 45 Untuk Kode Dan Nomor Seri Faktur Pajak dengan menggunakan kode transaksi 06 dan dimulai dari 00000001. Faktur Pajak Khusus atas pembelian Barang Bawaan tersebut harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Kolom “NPWP” diisi dengan nomor paspor orang pribadi sesuai yang tercantum dalam paspornya.
2) Kolom “alamat pembeli” diisi dengan alamat lengkap orang pribadi sesuai yang tercantum dalam paspornya.
Faktur Pajak khusus dapat berfungsi sebagai surat permohonan pengembalian PPN dengan mencantumkan tanda pada kolom permohonan pengembalian PPN yang dicantumkan tanda tangan orang pribadi dan kasir Toko Retail yang diberi stempel Toko Retail.
Observation & Research of Taxation – http://www.ortax.org 46
Ketentuan Peralihan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Pembuatan dan Tata Cara Pembetulan atau Penggantian Faktur Pajak, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-13/PJ/2010 Tentang Bentuk, Ukuran, Prosedur Pemberitahuan dalam Rangka Pembuatan, Tata Cara Pengisian Keterangan, Tata Cara Pembetulan atau Penggantian, dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak sebagaimana telah diubah dengan PER-65/PJ/2010 Tetap berlaku sampai dengan berlakunya PER-24/PJ/2012 yaitu 1 April 2013.
PER-24/PJ/2012, silahkan menghubungi tim kami…
Gd.Pemuda 2nd Floor Jl. Pemuda Raya No.66 Jakarta 13220
Email : [email protected]
Tel : +62 21 47865713 atau +62 21 4788 1443 Fax : +62 21 4788 1350
All materials or explanations (not restricted to the following presentation slides) (collectively “Material”) have been and are prepared in general terms only. The Material is intended as a general guide and shall not be construed as any advice, opinion or recommendation given by Ortax.
In addition, the Material is limited by the time available and by the information made available to us. You should not consider the Material as being comprehensive as we may not become aware of all facts or information. Accordingly, Ortax is not in a position to and will not make any representation as to the accuracy, completeness or sufficiency of the Material for your purposes.
The application of the content of the Material to specific situations will depend on the particular situations involved. Professional advice should be sought before the application of the Material to any particular circumstances and the Materials shall not in any event substitute for such professional advice.
You will rely on the contents of the Material at your own risk. While all reasonable care has been taken in the preparation of the Material, all duties and liabilities (including without limitation, those arising from negligence or otherwise) to all parties including you are specifically disclaimed.