BAB III : METODOLOGI PEMAHAMAN TERHADAP AL-QUR’AN
C. Aspek Pemaknaan [Hermeneutik]
2. Nuansa Pemahaman
Maksud dari nuansa pemahaman di sini adalah ruang dominan sebagai sudut pandang dari sebuah karya. Dalam konteks ini, setiap teks dapat hadir dengan nuansa yang berbeda-beda. Adakalanya teks tersebut terbangun dalam nuansa atau laun [warna] teologis, sosial kemasyarakatan, kebahasaan, psikologis, sufistik, falsafi, ‘ilmi, atau fiqhi. Nuansa teks dalam rubrik adalah sebagai berikut :
a. Nuansa Teologis
Sebuah teks dapat dikatakan bernuansa teologis jika bangunan teks tersebut mengedepankan sistem keyakinan ketuhanan sebagai variabel tema yang penting. Hal ini dilakukan dengan cara mengungkap pandangan al-Qur’an mengenai sistem keyakinan dan teologi melalui pelacakan tema-tema pokok beserta konteksnya. Tema pokok berkaitan dengan sistem keyakinan dan teologi semisal hubungan manusia dengan Tuhannya, kekuasaan Tuhan, konsep seputar iman, taqwa, kafir, , persoalan eskatologi, konsepsi tauhid, dan rukun iman.84
Terdapat beberapa judul dalam yang sekalipun tidak secara langsung berbicara tentang tema keimanan, kekafiran misalnya,
tetapi dalam teks tersebut menuansakan persoalan teologis. Judul-judul tersebut adalah:
1) Hidup Di Dunia Hanya Sehari Saja.
Teks ini diawali dengan menyodorkan sebuah ayat tentang ungkapan kesan orang-orang di akhirat berkenaan dengan kehidupan mereka di dunia dalam Q.S. [20]: 104. Pada saat manusia saling berbisik tentang keberadaan mereka yang hanya sepuluh hari saja di dunia. Sementara orang yang paling lurus di antara mereka mengatakan bahwa persinggahan di dunia hanyalah sehari saja. Nuansa teologis didapatkan pada saat digambarkan keadaan orang kafir dan mukmin di akhirat dengan merujuk ayat tersebut.
Selepas ayat ini, tidak didapati penjelasan maksud dari ayat yang disajikan dengan mengungkap sisi ayat ini misalnya dengan ayat sebelum dan sesudahnya atau dengan mengetengahkan penafsiran ulama tafsir sehingga tergambar di benak pembaca tentang penyebab dikatakannya hidup di dunia hanya sehari saja. Respon terhadap ayat ini hanya dikatakan betapa bahagianya hidup yang singkat tersebut ketika dihabiskan bersama Rasul dan orang-orang ahli kebenaran. Untuk mendukung penjelasan singkat ini, pembaca disodori dengan sebuah ayat lain dalam Q.S. al-' [7]:157 tentang orang-orang yang mengikuti
Rasul dan beriman kepadanya adalah termasuk orang-orang yang beruntung.
Orang-orang tersebut dikategorikan sebagai orang-orang yang bertaqwa. Ketaqwaan menjadikan perbuatan manusia berkualitas tinggi dan berbuah di dunia dan akhirat. Perjuangan untuk bersabar dalam ketaqwaan sebagai jalan yang diridhoi oleh Allah akan memperoleh derajat yang tinggi dan memiliki kualitas moral yang tinggi pula. Perjuangan ini juga butuh pengendapan dan pembiasaan ilmu, iman dan amal saleh. Penjelasan tentang ketaqwaan ini pun memberikan warna teologis dalam teks ini. 2) Melawan Arus Deras Materialisme dan Atheisme.
Judul ini masuk dalam kategori teks yang bernuansa teologis oleh karena dalam judul ini membahas tentang sebuah keyakinan [ ] Islam yang dilawankan dengan yang tak bertuhan juga yang menuhankan materi.
Teks ini menjelaskan bahwa materialis berpijak pada prinsip bahwa alam raya ada dengan sendirinya dan bersifat kekal sehingga manusia hanyalah akibat adanya alam raya. Hidup dan mati tidak memiliki suatu tanggungjawab sehingga manusia berhak menciptakan alur kehidupan yang dilakukan dengan membuat aturan-aturan yang disepakati di antara mereka tanpa merujuk pada hukum-hukum Allah Tuhan semesta alam, aturan universal yang telah ditetapkan oleh Allah atas umat manusia. Sebaliknya,
menurut teks ini, manusia yang patuh dengan peraturan-peraturan Allah akan merasakan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan. Semua itu berpangkal pada jiwa manusia. Rasa terlindungi dan terjaga membawa jiwa manusia kepada ketenangan.
Penyebab terbelenggunya manusia pada kehidupan materialis adalah kecintaan kepada dunia dan harta benda. Ini sudah menjadi sebuah pola hidup manusia modern. Solusi penting untuk menghindarinya adalah tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam yang sempurna sehingga keindahan zaman modern tidak menjadi sebuah malapetaka.
3) Mukjizat-mukjizat Nabi Isa.
Meski judul teks ini dikhususkan pada mukjizat Nabi Isa, tetapi pembahasan di dalamnya diarahkan untuk mengingatkan manusia akan keagungan Allah. Diutusnya para nabi, termasuk nabi Isa dengan mukjizat yang telah diberikan diharapkan dapat membawa manusia ke jalan yang lurus.
Secara individu maupun kolektif, manusia berpotensi melakukan penyimpangan-penyimpangan yang juga pernah terjadi pada umat terdahulu. Jalan keluar terhadap penyimpangan ini sama seperti jalan keluar yang terdahulu, tetap mengagungkan Allah melalui tanda kebesaran-Nya dan melaziminya. Di sinilah tampak nuansa teologis dalam teks ini.
4) Menghindari Pola Hidup Sekuler.
Meski teks ini menyinggung tentang sekuler, namun isi teks tidak jauh dari pembahasan yang beraroma teologis, hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, juga berkisar tentang keimanan. Pembahasan berawal dari jalan hidup sekuler yang mewabah ke seluruh penjuru dunia ketika manusia terkungkung dengan peraturan-peraturan agama dan mencoba keluar dari kungkungan tersebut dengan menambah dan mengurangi isi agama seperti penyimpangan yang dilakukan oleh manusia sebelum datangnya Islam yang dicontohkan dengan ayat dalam Q.S. al-Baqarah [2] : 75 dan 79, juga Q.S. ' ‘ [3] : 187. Idealnya, manusia yang mengamalkan ajaran agama dengan benar dan lurus akan mendapat curahan petunjuk dan rahmat dari Allah yang dapat dicirikan dengan ketenangan, ketentraman, kebahagiaan dalam jiwanya.
Sekularisasi dibarengi dengan adanya revolusi ilmu dan teknologi disusul dengan revolusi industri dan budaya. Kecenderungan manusia untuk mencintai dunia yang amat sangat mengakibatkan manusia tidak lagi mengetahui tujuan kehidupan. Tujuan tersebut adalah melihat tanda-tanda keagungan Allah dan bersyukur kepada-Nya. Orang-orang yang mengabaikan tuntunan Allah dan acuh-tak acuh dengannya, tidak menjalankan perintah- Nya, suka melanggar larangan-Nya maka mereka akan menjadi manusia yang menempuh jalan kehinaan, tidak lagi suka mendekat
kepada Allah Tuhan Yang Maha Suci bahkan mereka lebih suka meyakini bahwa Allah itu tidak ada alias atheis. Ketika manusia sedang berbondong-bondong menuju kehidupan sekuler dapat dipastikan kejiwaan manusia sedang terjangkiti penyakit kesombongan dan kedurhakaan kepada Allah dan pasti akan memunculkan kesengsaraan dan penderitaan jiwa. Walaupun manusia bergelimang dengan ilmu dan teknologi, bergelimang dengan harta benda dan gemerlapnya suasana namun jiwanya akan semakin susah.
Kebalikan dari mereka yang mengabaikan tuntunan Allah adalah orang yang tumbuh dengan pemahaman dan amalan-amalan yang benar dan lurus, rajin mendidik diri dengan al-Qur’an dan Sunnah. Mereka akan menemukan ilmu dan teknologi sebagai nikmat-nikmat Allah di kehidupan dunia ini sebab ilmu Allah itu sangat luas tak terbatas. Demikian ringkasan dari teks yang dapat menggambarkan nuansa teologisnya.
5) Cara Jitu Menghindari Bujuk Rayu Setan.
Teks ini tidak jauh berbeda dengan teks sebelumnya yang tidak jauh pula dari pembahasan mengenai hati dan keimanannya sebagai wilayah teologis. Ada beberapa sebab yang menjadikan setan masuk ke dalam manusia dan merasa nyaman membersamai manusia untuk berbuat kerusakan sebagaimana Q.S. asy-Syu’ara’ [26] : 221-223. Dosa, atau kekotoran hati adalah pangkal
kedatangan setan ke dalam hati manusia. Ibarat tempat sampah dipenuhi dengan lalat, bakteri dan penyakit, demikian pula setan sangat menyenangi hati orang-orang yang suka berbuat dosa, mengkufuri nikmat dan rahmat dari Allah. Setan sangat mahir membuat kebingungan dalam diri manusia. Kegelapan setan menjadikan manusia terhalangi atau tersesatkan dari mengikuti jalan-jalan petunjuk yang benar.
Cara atau tips seperti dalam judul ini yang dihadiahkan bagi pembaca untuk menghindari godaan setan sebagai “sunnatullah” adalah meningkatkan daya tahan dalam memegang petunjuk Allah. Sebagai contoh sebatang besi yang satu terlindungi oleh minyak dan yang lain tidak terlindungi bahkan masuk ke dalam cairan garam, pasti akan rapuh dan rusak. Demikian pula hati manusia yang terlindungi dengan iman akan menjadi hati yang kuat dan tangguh. Sebaliknya hati yang tidak terlindungi dengan iman atau bahkan ada di lingkungan yang rusak pasti akan menjadi lemah dan rusak.
6) Nabi Ibrahim Anak Seorang Penyembah Berhala.
Berbeda dengan teks lain yang menyinggung tentang keimanan, teks ini lebih cenderung berbicara persoalan ketauhidan sebagai persoalan teologis. Mengacu pada judul tentang seorang Nabi yang dijuluki sebagai bapak tauhid, sebagai nabi yang ditugasi untuk mengakhiri kemusyrikan di tengah masyarakatnya
dan menuntun mereka pada jalan tauhid, meski beliau sendiri adalah anak seorang penyembah berhala bahkan produsen berhala.
Bukan sebuah ketauhidan ketika apapun dijadikan sebagai tuhan, baik dalam bentuk berhala maupun bentuk lain, bahkan malaikat sekalipun. Penyimpangan dalam bentuk apapun telah dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai penoda ketauhidan. Untuk meluruskan penyimpangan tersebut diutuslah nabi bagi ummatnya, termasuk nabi Ibrahim sebagai panutan yang sangat luar biasa hebatnya dengan segala resiko yang diterimanya dari masyarakatnya namun diselamatkan oleh Allah.
Pelajaran dari penjelasan ketauhidan nabi Ibrahim diungkapkan bahwa menjadi seorang pioneer kebenaran di setiap zaman, waktu, tempat dan suasana bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai orang yang mempercayai al-Qur’an di tengah-tengah budaya yang selainnya adalah orang-orang yang dianugerahi keteguhan iman. 7) Indahnya Hidup Sesuai Aturan Allah.
Teks ini diawali dengan sebuah hadis sebagai pengantar pembahasan tentang kehidupan manusia di dunia beserta kehendak bebasnya. Penjelasan disertai dengan hadis :
Dari Ali r.a. berkata; Rasul s.a.w. bersabda ; “Jibril mendatangiku dan berkata : Ya Muhammad, hiduplah sesukamu karena engkau akan mati, cintailah siapa yang kamu mau karena engkau akan meninggalkannya, beramallah sesukamu karena engkau akan dibalas dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin pada dan ‘izzahnya pada kemandiriannya.
Selanjutnya dijelaskan penghargaan Islam terhadap kebebasan manusia adalah sebuah penghargaan yang sebenarnya. Kebebasan berpendapat, berekspresi dan segala kebebasan dalam standar aturan yang benar. Sebuah kebebasan yang tidak boleh melanggar kebebasan dan hak orang lain. Manusia diberi kebebasan untuk menempuh kehidupannya dengan cara-masing-masing namun ada prinsip yang harus dibangun dan disadari bahwa kehidupan dunia penuh keterbatasan, tidak abadi. Kehidupan dunia berakhir dengan kematian. Keimanan pada adanya hari akhir seyogyanya menjadikan manusia mengikuti petunjuk dan aturan Allah. Dari sini pembahasan teologisnya terlihat.
8) Cara Mencintai al-Islam dan al-Qur’an
Judul ini masuk dalam tulisan yang bernuansa teologis oleh karena isi yang dibangun berkenaan dengan pokok keimanan yakni mengimani kitab suci yang dibawa oleh Muhammad s.a.w. Allah menghendaki keselamatan bagi siapa saja yang mengimani, mempercayai dan mengamalkannya. Nilai-nilai kebenaran yang ada dalam al-Qur’an lebih mulia dari sekedar nilai-nilai materi yang telah Allah sebarkan di muka bumi.
Walaupun manusia tidak mau meyakini kebenaran al-Qur’an, namun Allah, malaikat-malaikat-Nya dan orang-orang yang saleh yang berbakti kepada-Nya meyakini kebenarannya. Manusia boleh memilih apakah akan mengimani atau mengkafiri firman Allah
dalam kitab suci al-Qur’an namun masing-masing dengan segala konsekuensinya.
9) Tidak Faham Al-Qur’an, Pasti Menyesal.
Tidak jauh berbeda dengan point kedelapan tentang keimanan terhadap wahyu yang diberikan kepada Rasul terakhir sehingga nuansa teks bersifat teologis. Dalam teks ini banyak menghadirkan ayat-ayat dengan sedikit penjelasan. Ayat pertama yang dihadirkan adalah Q.S. at- [81] : 24-29 , kemudian Q.S. al-Isra’[17]: 15 dan 111. Selepas ayat-ayat tersebut, disusul dengan ayat-ayat lain dengan sedikit penjelasan di antaranya yang berbunyi “Allah menjelaskan kepada kita akan asal-muasal diri kita dan perjalanan kita di muka bumi serta akhir dari perjalanan diri kita di dunia ini juga kemana kita akan pergi”.
Perjalanan di muka bumi adalah pertanggungjawaban yang harus dipertanggungjawabkan karenanya harus sesuai dengan petunjuk yang telah digariskan. Di samping itu juga memerlukan adanya kehati-hatian, sebab ujian, cobaan dan tipuan setan selalu menghadang. Ada orang atau sekelompok orang, menurut isi dari penjelasan teks, yang merasa berbuat yang terbaik menurut pikiran, hati dan kehendak serta ilmu yang ada pada mereka, padahal mereka telah berbuat sesuatu yang paling merugikan diri mereka di dunia dan di akhirat.
Banyak manusia dimata manusia awam telah menghasilkan karya-karya besar, revolusioner, monumental, mengglobal namun banyak dari mereka yang tidak mau beriman kepada Allah dan tidak mengamalkan al-Qur’an. Penjelasan ini kemudian dilengkapi dengan Q.S. asy-" [42]:45, Q.S. al-' [7]:51, Q.S. al-
8 [45]: 34.
10) Bertasbih, Sifat Universal Jagat Raya.
Judul satu ini termasuk kategori nuansa teologis sebab isi dari teks ini berkaitan dengan kekuasaan Tuhan. Allah menciptakan akal, indra dan hati tidaklah tanpa kehendak khusus di dalamnya. Semuanya itu digunakan melihat tanda-tanda keagungan Allah, untuk bertasbih dan bersyukur dengan nikmat-Nya. Hal tersebut menjadi tugas segenap makhluk untuk menyibukkan diri melihat tanda-tanda keagungan Allah bahkan ini menjadi kewajiban manusia untuk melakukannya.
Usaha manusia untuk cinta bertasbih dan bersujud kepada Allah membutuhkan kesungguhan. Ini disebabkan adanya “makhluk-makhluk” jahat yang siap memangsa manusia dan membelokkan dari jalan yang lurus. Dalam teks ini, makhluk yang dimaksud adalah setan, dapat dilihat dari ayat yang dipaparkan setelah penjelasan tersebut. Ayat dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 169 juga Q.S. an-Nisa’[4]: 117 menyebut kata setan di dalamnya. Hanya saja satu ayat yang juga dicantumkan setelah kedua ayat
tersebut tidak terdapat kata setan, akan tetapi menyebut tentang kata , ini didapati dalam Q.S. al- [59]: 19.
Bertasbih kepada Allah, seperti dalam sub judul teks ini, sebagai obat kesusahan dan kegelisahan jiwa. Manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk jiwanya berupa iman dan amal saleh untuk dapat terhindar dari makhluk makhluk yang siap memangsa seperti dijelaskan di atas. Sangat berbahaya ketika manusia telah melalaikan syariat Allah dan membuat syariat sendiri, apalagi melalaikan Allah. Sudah dapat dipastikan ketika hal ini terjadi, manusia menjemput kesesatan yang mengungkung jiwa dan siap meluncur ke dalam jurang kesusahan dan kekalutan jiwa sebagai penyebab pertikaian, perseteruan, kekacauan, dan bahkan peperangan besar di antara umat manusia. Di sinilah mengapa bertasbih, bersujud, ta’at mengagungkan Allah sepanjang kehidupan dunia menjadi pesan penting dalam bagian akhir teks ini.
11) Menggapai Perlindungan Allah Yang Paripurna.
Paragraf pertama dari teks ini diawali dengan pernyataan bahwa terjadinya banyak musibah, bencana yang datang silih berganti menunjukkan tidak ada perlindungan yang hakiki kecuali perlindungan Allah. Pada saat manusia dilanda kegelisahan, kegalauan, keputusasaan, saat itu hamba yang taat akan mendapatkan hikmah. Dalam keadaan terjepitpun, Allah berkenan
memasukkan hikmah perlindungan dan keamanan yang paripurna pada hamba yang bertaqwa.
Apa yang diucapkan oleh manusia ketika tertimpa musibah dengan ucapan “Inna wa inna ilaihi ”, dikatakan dalam teks sebagai insting mulut jiwa, bisikan hati yang diridhoi oleh Allah dan membutuhkan adanya latihan untuk mencapai kesucian jiwa. Di antara beberapa hal yang menjadi jalan untuk mendapat jalan dan keselamatan adalah; pertama, mengikuti petunjuk al-Qur’an, kedua; beramal saleh sesuai petunjuk Allah, ketiga; suka berderma karena mencari ridho Allah, keempat; hidup dengan memelihara iman, kelima; membela kebenaran Allah di tengah-tengah masyarakat, keenam; menghayati nilai-nilai kebenaran Islam dan mengamalkannya, ketujuh; mengimani firman Allah dan mengadakan perbaikan diri, dan yang terakhir, kedelapan ; belajar menjadi kekasih Allah.
b. Nuansa Psikologis
Pengertian nuansa psikologis adalah suatu nuansa tafsir yang analisisnya menekankan pada dimensi psikologi manusia. Ruang lingkup psikologi modern terbatas pada tiga dimensi, yaitu fisik- biologi, kejiwaan, dan sosio-kultural, maka ruang lingkup psikologi
Islami di samping tiga hal tersebut juga mencakup dimensi kerohanian dan dimensi spiritual. 85
1) Jika Hati Menjadi Keras.
Teks ini mencoba menyentuh sisi terdalam dari manusia yakni hati, sebab itu termasuk bernuansa psikologis. Hati adalah tempat dianugerahinya keimanan yang akan mengantarkan pada sebuah ketundukan [ ] pada ketentuan-ketentuan Allah. Hati yang telah dianugerahi dengan keberserahan diri akan tercermin lewat ketaqwaan, sementara hati yang membatu sudah pasti berada dalam kesesatan. Pernyataan ini dikuatkan dengan menyitir ayat Q.S. az- Zumar [39]:22.
Kejernihan hati, dijelaskan dalam teks ini, tidaklah bergaransi. Penyebab keruhnya hati adalah godaan setan. Akibat tergoda, manusia menurutkan hawa nafsu yang menodai hati menjadi lambat laun mengeras dan membatu. “Hati yang sakit”, demikian istilah dalam teks ini, tidak mempan dengan nasehat dan peringatan yang baik, ibarat badan yang sakit tidak dapat merasakan makanan yang lezat.
Solusi yang ditawarkan oleh teks ini di bagian akhir adalah mengembalikan kesucian hati dengan mematikan hawa nafsu
duniawi dan menghidupkan hati dengan berkelana mengarungi makna dan ayat-ayat-Nya.
Sebagai penutup teks, pembaca dihadiahi dengan kalimat yang mengesankan hubungan personal yang bersifat vertikal antara hati manusia dengan Tuhannya dalam kalimat berikut :
Hati bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Hati pun bisa kotor dan berdebu sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Hati bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Hati pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.
2) Ketika Jilbab Hanya Sebagai Aksesoris.
Teks ini mengangkat judul dari fenomena yang ada di masyarakat tentang cara berjilbab. Ini dapat dilihat pada kalimat pengantar pada paragraf pertama;
Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini dengan jilbabnya, terangkat ke atas hingga memperlihatkan bagian tubuhnya. 6 min , jika contoh yang dilukiskan itu sudah menjadi gambaran dari muslimah-muslimah sekarang ini. Niatnya memang baik, menutup aurat yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah. Hanya saja, seringkali aurat yang ditutup tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dituntunkan oleh Islam. Satu contoh di atas kemudian diikuti dengan contoh lain yang tidak jauh berbeda. Setelah mengungkap contoh fakta tersebut, pembaca diarahkan untuk membaca ayat tentang perintah berjilbab. Ayat yang dikutip adalah Q.S. an-6 [24]: 31, juga Q.S. al-' [33]: 59;
ِء َ/ِ,َو َIِ0 َََو َIِMاَوْزN ْ ُ 6 ِ$ ا َ 65َأ َ5 ْنَأ َ,ْدَأ َIَِذ ِ ِ$ ِEَM ْ ِ ِ ََْ َ ِ,ْ ُ5 َ ِِ ْOُ ْا
ً ِ َر اًر ُQَR ُ ا َن َآَو َ ْ5َذْOُ5 Eَ1 َ ْ1َ&ْ.ُ5
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sebagai keterangan dari ayat yang ditampilkan, jilbab didefinisikan sebagai jilbab yang sejenis baju panjang yang lapang dan dapat menutup kepala hingga dada. Jika mengenakan jilbab yang mini dimana umumnya jilbab diikatkan ke leher, maka berarti tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan dalam ayat. Bukan berarti Islam melarang tampil modis, demikian dijelaskan, akan tetapi pakaian dan terutama jilbab haruslah sesuai dengan unsur syar’i.
Ada pesan yang lebih ditonjolkan dengan mengulas persoalan jilbab dalam teks ini yang dapat dilihat dari sub judulnya yakni jilbab sebagai cermin menjaga hati. Inilah mengapa penulis mengkategorikan judul ini bernuansa psikologis karena meskipun mengangkat fenomena masyarakat namun hal tersebut hanya sebagai pengantar untuk membahas tentang sisi kerohanian manusia yakni tentang menjaga hati. Selain contoh kasus pada paragraf awal, teks ini kembali menghadirkan fenomena lain yang tidak asing di masyarakat tentang bagaimana perilaku wanita
berjilbab yang dianggap tidak mencerminkan perilaku yang baik, padahal dengan mengenakan jilbab diharapkan dapat merubah perilaku dan sikap menjadi lebih baik, menjadikannya sebagai alat menjaga hati dan perilaku.
3) Bunuh Diri Jalan Haram Mengakhiri Frustasi.
Sebagai prolog teks ini mengetengahkan fakta yang terjadi di Solo tentang adanya bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang yang ternyata penyebabnya adalah penyakit yang tak kunjung sembuh. Setelah itu diungkap fakta-fakta lain tentang bunuh diri yang dikaitkan dengan keputusasaan dan dalil tentang tidak diperbolehkannya putus asa. Dalil yang diambil adalah Q.S. al- [15]: 56, Q.S.) [12]: 87, Q.S.az-Zumar [39]: 53, dan satu ayat tentang larangan membunuh diri sendiri dalam Q.S. an-Nisa’[4]: 29. Selain ayat-ayat tersebut, disebutkan pula dua buah hadis berikut ; َل َ ضر َةَ&ْ5َ&ُه َِا ْ َ : ص ِWا ُلْ ُ َر َل َ : ِر َ, ِ1 َ ُ َ1 ُ َ/ْQَ, َ َXَ4َ1 ٍ َ$َM ْ ِ ىدَ&َ0 ْ َ ِ َ5 ِ1 ُ 6 ُ/َ1 ُ َ/ْQَ, َ َXَ4َ1 Z ُ /َ3َ0 ْ َ َو ،اً ََا َ ِْ1 اً َ=ُ اً ِ َ\ َ ِْ1 ىدَ&َXَ5 َ* َ َM ُ> /َ3َXَ5 ِ> اً ِ َ\ َ* َ َM ِر َ, ِ1 ِ1 َ ِ ُ]Mَ َXَ5 ِ>ِ َ5 ِ1 ُ ُ0َ ْ5ِ َ3َ1 ،ٍةَ ْ5ِ َ3ِ ُ َ/ْQَ, َ َXَ ْ َ َو ،اً ََا َ ِْ1 اً َ=ُ اً ََا َ ِْ1 اً َ=ُ اً ِ َ\ َ* َ َM ِر َ, . ^ / ا و ى_ &X ا و * / و ىر =$ ا
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda, “Barangsiapa menerjunkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka dia di neraka jahannam menerjunkan diri di dalamnya, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa meminum racun untuk bunuh diri, maka dia meminum racun di tangannya itu di neraka jahannam, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa
bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata tajam itu di melukainya di neraka jahannam, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya”. [H.R. & , Muslim, , dan Nasa’i] َل َ ضر َةَ&ْ5َ&ُه َِا ْ َ : ص ِWا ُلْ ُ َر َل َ : ،ِر ا ِ1 َ ُ4ُْ=َ5 ُ َ/ْQَ, ُ`ُْ=َ5 ىِ_ ا ِر ا ِ1 ُ*ِ3َXْ4َ5 ُ*ِ3َXْ4َ5 ىِ_ ا َو ،ِر ا ِ1 ُ َ/ْQَ, ُ ُ.ْaَ5 ُ َ/ْQَ, ُ ُ.ْaَ5 ىِ_ ا َو . ىر =$ ا
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Rasulullah s.a.w bersabda;