• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODOLOGI PEMAHAMAN TERHADAP AL-QUR’AN

C. Aspek Pemaknaan [Hermeneutik]

3. Pendekatan

Pendekatan dimaknai sebagai titik pijak keberangkatan dari proses tafsir. Dengan pendekatan tafsir yang sama bisa melahirkan corak tafsir yang berbeda. Ada dua pendekatan: [1] berorientasi pada teks dalam dirinya yang kemudian disebut pendekatan teksual, dan [2] berorientasi pada konteks pembaca (penafsir), yang kemudian disebut pendekatan kontekstual.87

a. Pendekatan tekstual: teks al-Qur’an sebagai pusat.

Praktik tafsir lebih berorientasi pada teks dalam dirinya. Kontekstualitas suatu teks lebih dilihat sebagai posisi suatu wacana dalam konteks internalnya. Pandangan yang mengemuka dalam konteks ini bahwa dalam memahami suatu wacana atau teks, seseorang harus melacak konteks penggunaannya pada masa di mana teks itu muncul.

Pengertian kontekstualitas dalam pendekatan tekstual cenderung bersifat kearaban. Analisis tafsir yang menggunakan pendekatan tekstual ini cenderung bergerak dari refleksi [teks] ke praksis

[konteks], itupun praksis yang menjadi muaranya lebih bersifat kearaban sehingga pengalaman lokal [sejarah dan budaya] seorang penafsir tidak menempati posisi yang signifikan.88

b. Pendekatan kontekstual: realitas kehidupan sebagai medan keberangkatan penafsiran.

Orientasi dalam pendekatan ini terletak pada pembaca [penafsir] teks al-Qur’an. Latar belakang sosial historis di mana teks muncul dan diproduksi menjadi point penting dalam pendekatan ini. Namun yang lebih penting adalah ketika ditarik ke dalam konteks pembaca [penafsir] di mana ia hidup dan berada, dengan pengalaman budaya, sejarah dan sosialnya. Karena itu, sifat gerakannya dari bawah ke atas: dari praksis [konteks] menuju refleksi [teks].89

Berdasarkan dua pembedaan tersebut, teks-teks dalam rubrik

memiliki pendekatan tekstual. Meski menampilkan fenomena atau realitas sosio historis sebagai pembahasan untuk disarikan jawaban atas problemnya, tetapi fenomena tersebut hanya sebagai contoh yang dimasukkan dalam teks. Dengan kata lain, konteks tersebut berada dalam kungkungan teks.

Setelah mengadakan penelusuran terhadap aspek hermeneutika dalam teks-teks rubrik , berikut gambaran aspek tersebut dalam tabel.

88 Ibid. hlm.248 89 Ibid.hlm.249.

Tabel II

Aspek Hermeneutika Teks-teks dalam Rubrik

Metode

Riwayat Nuansa

pemahaman

1. Teologis Hidup di Dunia Hanya

Sehari Saja

21 Januari 2010 Melawan Arus Deras

Materialisme dan Atheisme

29 Januari 2010 Mukjizat-mukjizat Nabi Isa 3 Februari 2010 Menghindari Pola Hidup

Sekuler

17 Februari 2010 Cara Jitu menghindari

Bujuk Rayu Setan

24 Maret 2010 Nabi Ibrahim Anak Seorang

Penyembah Berhala

19 April 2010 Indahnya Hidup Sesuai

Aturan Allah

12 Mei 2010 Cara Mencintai al-Islam dan

al-Qur’an

14 Juni 2010 Tidak Faham al-Qur’an

Pasti Menyesal

16 Juni 2010 Bertasbih Sifat Universal

Jagat Raya

19 Juni 2010 Menggapai Perlindungan

Allah Yang Paripurna

28 Juni 2010 2. Psikologis Jika Hati Menjadi Keras 11 Januari 2010

Ketika Jilbab Hanya Sebagai Aksesoris

14 Januari 2010 Bunuh Diri Jalan Haram

Mengakhiri Frustasi

6 Januari 2010 Dengki Akhlak Yang

Berduri

21 Januari 2010 Menjadi Muslim Anti

Dengki

25 Januari 2010 Salah Kaprah Kaum Adam

dan Hawa Memaknai Cinta

8 Februari 2010 Bonek Sebuah Potensi Salah

Ekspresi

26 Januari 2010 Konsep Cerdas dalam

Perspektif Islam

9 Maret 2010 Menumbuhkan Perilaku

Sopan Santun dan Lembut Hati

6 April 2010

Ujian Kesabaran Ibarat Menanti Hujan Reda

9 April 2010 Anak Adam Yang Lucu dan

Selalu Disayang Allah

12 April 2010 Bercahaya Tanpa Skin Care

Massage

25 Mei 2010 Jangan Tergesa dalam

Berproses Sunnatullah

Manfaatkan Ramadan Dengan Maksimal

2 Agustus 2010 Jangan Sombong Karena

Sombong Dilaknat Allah

13 Agustus 2010

Jangan Berdusta 14 Agustus 2010

Tunaikanlah Amanat Jangan Berkhianat

22 Agustus 2010 Sekolah Jujur 30 Hari 30 Agustus 2010 Ketika Ketupat Telah Habis 21 September 2010 3. Sosial

Kemasyarakatan

Tarikh Proses Larangan Miras

2 Februari 2010 Mengemis, Kok Enak! 10 Februari 2010 Muslimah-muslimah

Pendakwah Agama Allah, Adakah Sosok Itu Kini?

25 Februari 2010

Empat amanah Istimewa 3 Maret 2010 Perlunya Manusia Yang

Berpribadi Adil

12 Maret 2010 Memberikan Nilai Sebagai

Cermin 19 Maret 2010 Menjadi Saksi Mengamalkan Islam Sebenarnya 29 Maret 2010 Bermimpi Memiliki Universitas MTA 21 April 2010 Islam Sangat Memuliakan

Kaum Wanita

27 April 2010 Menyembuhkan Hobi Suka

Membuat Sulit Orang Lain

20 Mei 2010 Bahaya Sangat Besar dari

Budaya Korupsi

27 Mei 2010 Sejarah Panjang Perjuangan

Palestina

3 Juni 2010 Tontonan Penghancur Moral

Bangsa

23 Juni 2010 Cara Jitu Mengusir Setan

dari Rumah

24 Juni 2010 Kerjasama MUI dan Polisi

dalam Mencegah Kejahatan

29 Juni 2010 Mustahilnya TEITT 16 Juli 2010 Menyantuni Perjuangan

Dakwah Islam

28 September 2010

Pendekatan

D. Aspek Struktural Teks .

Telah diketahui pada pembahasan sebelumnya tentang metodologi pemahaman terhadap al-Qur’an dalam teks rubrik melalui aspek luar berupa sistematika, bentuk penyajian, gaya bahasa penulisan, bentuk penulisan, dan aspek dalam berupa metode, nuansa pemahaman dan pendekatan. Pada bagian ini akan dipaparkan struktur skematis teks . Struktur skematis atau superstruktur dalam pendekatan analisis wacana adalah penggambaran bentuk umum dari suatu teks. Bentuk umum disusun dengan sejumlah kategori atau pembagian umum seperti pendahuluan, isi, kesimpulan, penutup dan sebagainya. 90

Struktur skematis teks meliputi tiga bagian yakni paparan pembuka, isi dan penutup. Pada struktur pertama, paparan pembuka, teks

berisi beberapa komponen sebagai berikut ;

*+ Ayat al-Qur’an. Prolog ayat al-Qur’an dapat ditemukan pada satu judul yakni Manfaatkan Ramadan Secara Maksimal. Ayat yang dikutip untuk menyapa pembaca adalah Q.S. al-Baqarah [2]: 183.

,+ Hadis. Selain ayat, terdapat satu judul yang menjadikan hadis sebagai pembuka teks yakni judul Indahnya Hidup Sesuai Aturan Allah. Hadis tersebut berbunyi :

Imam dalam kitab 8 ` al-Awsat, Abu Nu`’aim di dalam kitab al- dan juga al- di dalam kitab Mustadrak meriwayatkan, dari Ali r.a, ia berkata : telah bersabda 5

s.a.w : “Jibril mendatangiku dan berkata : Ya Muhammad, hiduplah

sesukamu karena engkau akan mati, cintailah siapa yang kamu mau karena engkau akan meninggalkannya, beramallah sesukamu karena engkau akan dibalas dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang muk`min pada lail dan ‘izzahnya pada kemandiriannya “

-+ Fenomena atau peristiwa aktual masyarakat dan dialog keseharian. Fenomena sebagai pembuka teks terdapat dalam judul-judul berikut ;

a. Bunuh Diri Jalan Haram Mengakhiri Frustasi, kalimat pembukanya adalah;

Kasus terjun bebas dari lokasi parkir lantai 4 di Solo Grand Mall (SGM) masih terus diselidiki aparat kepolisian. Namun korban diduga nekat mengakhiri hidupnya lantaran penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh.[Solopos, 04 Januari 2010].

b. Ketika Jilbab Hanya Sebagai Aksesoris, dengan paragraf pembuka sebagai berikut;

Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini dengan jilbabnya, terangkat ke atas hingga memperlihatkan bagian tubuhnya.

c. Bonek; Sebuah Potensi Salah Ekspresi, diawali dengan kalimat ; Pada tanggal 23 Januari 2010, sekitar 4000 bonek yang berangkat dari Surabaya ke Bandung via Solo melakukan tindakan anarkhi berupa pelemparan batu dan penganiayaan terhadap sejumlah orang. Selain itu tim yang akrab dengan tindakan hooliganisme ini juga melakukan tindakan kriminal penjarahan, pemukulan terhadap wartawan Antara, Hasan Sakri Ghozali, anggota Brimob, Briptu Marsito, perusakan stasiun Purwosari Solo dan stasiun lainnya, perusakan rumah warga, serta tindakan-tindakan tidak terpuji lainnya.

d. Tarikh: Proses Larangan Miras, judul ini dibuka dengan kalimat dialog langsung di masyarakat, berikut dialog tersebut ;

“Kalaulah pabrik miras ditutup maka akan banyak pengangguran dan hilangnya mata pencaharian rakyat. Dan jika perusahaan ditutup maka akan hilanglah perolehan pajak kepada negara dan pemerintah setempat, maka yang rugi adalah kita semua.”

“Kan yang minum bukan orang muslim, Indonesia negara heterogen maka menjunjung tinggi keberagaman.”

“Kan itu diatur undang-undang, tidak bisa sembarang menjual atau mengkonsumsinya.”

e. Mengemis, Kok Enak?, judul ini merupakan kalimat keseharian yang diawali dengan kalimat keseharian pula sebagai kutipan berikut;

Pada suatu Ahad yang panas…”Mas, tahu yang sering nungguin kita habis kajian itu ternyata bukan orang miskin lho. Di daerahnya punya sawah,rumah dan hidup kecukupan. Konon sehari bisa 50rb bersih. Dan sip-nya lagi mereka punya koordinator yang menjaga dan siap mengkoordinir grup yang seperti ini, jadi tidak perlu takut bermaratonan dengan bp/ibu satpol pp.”

f. Menjadi Saksi mengamalkan Islam Sebenarnya. Judul ini juga diawali dengan kalimat langsung;

“Mas, tetangga saya itu suka bohong padahal dia ngaji disana..maka ojo ikut-ikutan ngaji”

“Lihatlah perilaku keluarga itu..setiap hari cekcok melulu..padahal kalo Ahad pagi ya ngajinya disitu…”

Dua kalimat diatas adalah contoh negatif, bagaimana masyarakat akan selalu menilai terhadap apa yang dilakukan orang-orang yang sudah mengaji. Hal yang harus difahami adalah seseorang yang sudah mengaji (mengkaji islam) belumlah menjadi jaminan untuk menjadi baik. Dan apalagi orang yang tidak mau mengkaji. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi baik tetapi tidak tahu bagaimana jalan-jalan lurus yang telah diberikan Allah?

g. Ketika Ketupat Telah Habis. Prolog dalam judul ini adalah fenomena yang biasa terjadi menjelang lebaran;

Riak petasan atau kembang api di langit, pesta pora manusia di pusat belanja, kemacetan para pemudik di jalan menuju tanah air telah berlalu. Kupat, roti dan segala aneka makanan telah habis, Sementara masjid mulai sepi kembali ke kondisi ’semula’. Jumlah shaff mengempis dan peserta kegiatan-kegiatan amal ibadah mulai menurun tergerus aktifitas keseharian yang mulai kembali

menyibukkan. Kembali fokus bersibuk-ria seperti sebelum Ramadan tiba, katanya.

.+ Komponen keempat sebagai pembuka teks adalah kalimat pembuka yang pada umumnya dipakai dalam ceramah atau khutbah di masyarakat. Kalimat ini sangat dominan dipakai dalam teks terlebih pada teks-teks yang bernuansa teologis.91 Contoh kalimat tersebut adalah ;

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh pengikut beliau. Alhamdulillah, Allah telah menunjuki dan memahamkan kita akan jalan lurus. Jalan hidup yang dirahmati oleh Allah Tuhan semesta Alam.

Pada struktur kedua, paparan isi, teks berisi penjelasan dari ayat-ayat al-Qur’an yang dimunculkan. Dalam beberapa judul, ayat-ayat ini mendominasi isi teks sehingga yang ditemukan bukan penjelasan terhadap ayat namun sebaliknya. Judul-judul berikut memuat banyak ayat-ayat al- Qur’an dengan sedikit penjelasan; Bahaya Besar Dari Budaya Korupsi, Cara Mencintai al-Islam dan al-Qur’an, Jangan Sombong Karena Sombong Dilaknat Allah, Tidak Faham al-Qur’an Pasti Menyesal, Jangan Berdusta, Tunaikanlah Amanat Jangan Berkhianat.

91 Kalimat pembuka seperti contoh didapati dalam judul-judul; Hidup Di Dunia Hanya Sehari Saja, Melawan Arus Deras Materialisme dan Atheisme, Mukjizat-mukjizat Nabi Isa, Menghindari Pola Hidup Sekuler, Cara Jitu Menghindari Bujuk Rayu Setan,Cara Mencintai al- Islam dan al-Qur’an, Bertasbih Sifat Universal Jagat Raya, Menggapai Perlindungan Allah Yang Paripurna. Judul-judul tersebut masuk dalam kategori nuansa teologis. Sedangkan judul bernuansa

sosiologis yang menggunakan kalimat pembuka yang senada adalah ; Menyembuhkan Hobi Suka

membuat Sulit Orang Lain, Bahaya Sangat BesarDari Budaya Korupsi, Cara jitu mengusir Setan Dari Rumah, Kerjasama MUI dan Polisi Dalam Mencegah Kejahatan, Mustahilnya TEITT.

Pada kesempatan lain, bagian isi teks memberikan contoh kasus fenomena, problem, atau isu yang ada di tengah masyarakat dewasa ini. Seperti dalam judul Tontonan Penghancur Moral Bangsa disinggung tentang pornografi. Kritik terhadap bank-bank modern terdapat dalam judul Mustahilnya TEITT. Kasus Century dijadikan contoh dalam judul Konsep Cerdas Dalam Perspektif Islam.

Pada struktur terakhir, penutup, teks mengakhiri pembahasan dengan beberapa cara;

1. Penutup berupa ayat al-Qur’an, seperti dalam judul Ujian Kesabaran Ibarat Menanti Hujan Reda, Jangan Tergesa Dalam Berproses Sunnatullah, dan judul Ketika Ketupat Telah Habis.

2. Penutup berupa hadis, seperti dalam judul Menjadi Muslim Anti Dengki, Tarikh Proses Larangan Miras.

3. Kalimat bernada persuasif, dapat ditemukan dalam banyak judul seperti; Ketika Jilbab Hanya Menjadi Aksesoris, Melawan Arus Deras Materialisme, Cara Jitu menghindari Bujuk Rayu Setan, Menjadi Saksi Mengamalkan Islam Sebenarnya, Bertasbih Sifat Universal Jagat Raya, Jangan Sombong Karena Sombong Dilaknat Allah, Sekolah Jujur 30 Hari, Menyantuni Perjuangan Dakwah Islam. Satu contoh kalimat bernada persuasif sebagai kalimat penutup seperti dalam judul Cara Jitu menghindari Bujuk Rayu setan;

Ambillah kata kunci, tinggalkan dosa, jauhi semua hal yang dapat merangsang untuk berbuat dosa!!!, dan mari berbondong-bondong mengaji di kajian-kajian al-Qur’an dan Sunnah serta bersama-sama diamalkan. Di sana malaikat akan datang dan mengokohkan

keimanan kita, maka kita akan kuat dan tabah menghadapi godaan dan bujuk rayu saitan.

4. Kalimat penutup berupa do’a, dapat ditemukan dalam judul Dengki Akhlak Yang Berduri, Mukjiza-mukjizat Nabi Isa, Empat Amanah Istimewa, Menumbuhkan Perilaku Sopan Santun dan Lembut Hati, Bahaya Sangat Besar Dari Budaya Korupsi, Cara Mencintai al-Islam dan al-Qur’an, Tontonan Penghancur Moral Bangsa, Cara Jitu Mengusir Setan Dari Rumah, Mustahilnya TEITT. Contoh kalimat penutup berupa doa seperti dalam judul Tontonan Penghancur Moral Bangsa;

“Ya Allah kuatkan hati dan bantulah kami melawan perusak- perusak akhlak Islam. Sehingga tontonan maksiat tidak menjadi tuntunan. Jaga diri dan keluargamu dengan kesungguhan yang sangat jika anda tidak ingin kecewa.

5. Kalimat penutup berisi solusi, seperti dalam judul Muslimah-muslimah Pendakwah Agama Allah, Adakah Sosok Itu Kini?

Ini jika konteksnya sudah berkeluarga, bagi yang belum berkeluarga, para wanita muslimah tetap bisa ambil peran dalam mendukung perjuangan dakwah Islam. Misalnya berdakwah di lingkungan sekitar seperti di sekolah, kampus, tempat kerja atau lingkungan sekitar lainnya. Tak hanya itu, para wanita muslimah juga bisa berdakwah dengan memanfaatkan bidang-bidang yang dikuasainya.

6. Pertanyaan retoris, seperti dalam judul Indahnya Hidup Sesuai Aturan Allah;

Masihkan anda ingin hidup seenaknya ?

Pura-pura merasa tidak akan mati karena berumur panjang?

Sengaja tidak mau mengetahui aturan hidup yang sudah jelas? Dan pura-pura tidak ada Allah dan tidak ada kehidupan setelah mati?

Gambaran aspek struktural teks dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel III

Aspek Struktural Teks dalam Rubrik

Struktur Komponen

Pembuka Ayat-ayat al-Qur’an

Hadis

Fenomena atau Peristiwa aktual Kalimat pembuka ceramah

Isi Penjelasan

Dominasi Ayat-ayat al-Qur’an Dominasi Hadis

Penutup Ayat al-Qur’an

Hadis Kalimat Persuasif Do’a Solusi Pertanyaan retoris E. Problem Metodologi.

Setelah mengadakan penelusuran terhadap metodologi penulisan rubrik baik yang berkaitan dengan aspek teknis penulisan maupun aspek pemaknaan dan juga aspek struktural teks, pada bagian ini akan diuraikan persoalan-persoalan berkaitan dengan hal-hal tersebut sebagai sebuah analisis metodologis.

Pada aspek teknis penulisan berkaitan dengan sistematika penyajian, sebagaimana telah dikategorikan sebelumnya, bahwa rubrik Tausiyah menyajikan teks-teksnya secara tematis. Setiap tema yang ditentukan, di dalamnya terkumpul ayat-ayat al-Qur’an yang dikaitkan dengan tema. Hanya saja, merujuk kepada definisi tematik yang dikenalkan oleh al-Farma , teks- teks dalam rubrik belum menyajikan kajiannya secara tematik komprehensif oleh karena ayat yang dikaji tidak bersifat spesifik dan

mengerucut, bahkan dapat dikatakan jauh dari kriteria tematik sebagaimana yang ditetapkan oleh al- . Sistematika penyajian tematik dalam rubrik sangatlah sederhana, hanya menampilkan ayat-ayat sebagai pelengkap tema yang ditentukan sehingga ayat-ayat dari berbagai yang dikutip terkesan hanya sebagai legitimasi terhadap penjelasan tema. Selain itu, ayat-ayat yang dikutip terkadang keluar dari tema yang dibangun di bagian awal tulisan. Satu contoh seperti saat menampilkan tema tentang kesombongan dalam judul Jangan Sombong Nanti Dilaknat Allah.92Ayat-ayat yang dikaji mula-mula adalah ayat tentang kesombongan iblis saat diperintahkan bersujud pada Adam. Ayat yang dihadirkan adalah Q.S. al- Baqarah [2]: 34, Q.S. al-A’ra [7]: 11-13, Q.S. S d [38]: 71-78, kemudian beralih pada ayat lain pada Q.S.al-Mu’min [40]: 60. Dari pengutipan ayat tersebut berpindah pada ayat-ayat tentang sombong dengan kosakata yang berbeda seperti dalam Q.S. Luqman [31]: 18 dan Q.S. al-Isra >*1?@ -1. Setelah dihadirkan sejumlah ayat-ayat tanpa diberikan penjelasan yang memadai, lantas dihadirkan sejumlah hadis juga tanpa penjelasan terhadapnya. Pada akhir tulisan, dikutip ayat yang sama sekali tidak berkaitan dengan kesombongan yakni pada Q.S.al- [49]: 13.

Problem selanjutnya adalah pada aspek pemaknaan. Dalam metode pemahaman yang dikategorikan pada bagian sebelumnya, rubrik Tausiyah menggunakan ayat-ayat dan hadis-hadis sebagai penjelasan terhadap tema

yang disampaikan kepada pembaca. Dalam sejarah dan perkembangan tafsir, tafsir secara tradisional dimulai pada masa sahabat.93 Metode penafsiran sahabat adalah metode tafsir bi ar- % artinya para sahabat hanya sekedar meriwayatkan tafsir-tafsir dari Rasul s.a.w. dan sesama para sahabat sendiri. Sumber penafsiran mereka adalah al-Qur’an, qira’ah, hadis Nabi, ijtihad dan keterangan ahli Kitab.94 Penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan Sunnah, al-Qur’an dengan riwayat sahabat Nabi dan tabi’in termasuk kategori tafsir bi al-ma’su + bi al-ma’su ialah keterangan- keterangan dan perincian-perincian yang ada dalam sebagian ayat-ayat al- Qur’an sendiri dan apa yang dinukilkan [dikutip] dari hadis-hadis Rasul dan dari sahabat.95

Berdasar pada prinsip al-! yufassiru ba uhu ba’d % #

7 mengumpulkan ayat-ayat yang menyangkut sebuah topik dan merujuk-silangkan [cross referensing] satu kepada lainnya untuk memperoleh keterangan mengenai sesuatu yang hanya disebutkan secara ringkas dengan bantuan berbagai ayat atau untuk memperoleh kejelasan tentang sesuatu yang mujmal, untuk menghubungkan sesuatu yang nampak dengan keterangan yang tidak muqayyad, yang umum dengan yang khusus.96 Di samping merujukkan ayat pada ayat-ayat lain, dalam metode ini

93 Nur Kholis, Pengantar Studi al-Qur’an dan al-Hadis [Yogyakarta: Teras, 2008], hlm.

138.

94 Abdul Mustaqim, Madzahibut Tafsir; Peta metodologi Penafsiran al-Qur’an Periode Klasik Hingga Kontemporer [Yogyakarta: Nun Pustaka, 2003], hlm. 38.

95 Mahmud Basuni Faudah, Tafsir-tafsir al-Qur’an; Perkenalan dengan Metodologi Tafsir,

terj. Mochtar Zoeni [Bandung: Penerbit Pustaka, 1987], hlm. 24.

$ : 6 $ 7 +

7 7 $ $ mujmal [penjelasan atas hal-hal

yang bersifat global], penjelasan atas hal-hal yang bersifat musykil, dan fungsi lainnya adalah takhsish [pengkhususan]. 97

Rubrik dalam metodenya menganut model penafsiran periode klasik, yakni mencukupkan penjelasan ayat dari ayat lain atau hadis. Persoalannya bukan pada pemakaian model ini, tetapi pada aplikasi dari pemilihan model ini sebagai model yang diingini. Jika memang rubrik ini menginginkan metode tafsir riwayat yang hanya merujuksilangkan satu ayat dengan ayat-ayat lain atau dengan hadis Nabi, setidaknya model ini diterapkan dengan sistematis. Sayangnya, penerapan yang sistematis sesuai dengan “aturan main” metode riwayat ini tidak didapati dalam rubrik

+ " $ B# # $ $ %

7 7 : $ 7 $ 7

7 +

C # terkait relevansi metodologi pemahaman terhadap al- Qur’an dengan masa kini. Para sahabat menggunakan metode tersebut di antaranya karena kebutuhan mereka tercukupi dengan metode tersebut. Problem yang mereka hadapi dapat terjawab dengan penggunaan metode tersebut. Problem yang dihadapi umat Islam pada kenyataannya berkembang sejalan dengan perkembangan dan perubahan zaman. Problem ini menuntut

untuk dicarikan solusinya oleh umat Islam sendiri. Satu sisi rubrik $ $ : $ 7 # % 7 + ' % # $ $ 7 7 # $ # $ D + C # $ 7 + " $ 7 7 $ C 7 7 % 7 7 $ $: $ 7 # 7# + 7 $ % $ $ E $ : $ 7 7 + C 7 $ @32

*+ Mengandung kesatuan dan keutuhan.

Eksistensi tiap satuan unsur dalam sesuatu yang bernilai estetik sangatlah penting. Pasalnya, nilai estetik yang muncul dari sesuatu tersebut bergantung pada hubungan timbal balik unsur-unsur pendukungnya. Sesuatu dikatakan indah bila unsur-unsurnya terlihat saling menopang menjadi satu kesatuan utuh. Prinsip ini sejajar dengan proses berpikir jernih yang menimbang segala sesuatunya secara objektif, matang dan logis.

98 Wahyu Wibowo, 6 Langkah Jitu AgarTulisan Anda Makin Hidup dan Enak Dibaca

2. Mengandung satu pikiran utama yang jelas.

Dalam dunia tulis menulis, tema yang jelas akan tercermin dalam satu pikiran utama. Ibarat pintu gerbang, pikiran utama ini akan membawa pembaca pada keseluruhan tulisan. Dengan menyuguhkan satu pikiran utama yang jelas berarti juga menghargai pembaca. Menghargai pembaca berarti penulis memberdayakan daya empatinya. Daya empati ini disebut einfuhlung, yakni bagaimana seorang penulis memproyeksikan dirinya sendiri dalam subjek tulisannya.

3. Mengandung prinsip perkembangan.

Sejumlah unsur yang membangun sesuatu yang bernilai estetik idealnya mencerminkan sebuah mata rantai sebab akibat yang jalin menjalin. Di dalamnya terdapat perbedaan dan pertentangan yang halus. Berdasarkan prinsip keindahan tulisan di atas, jika dicermati, rubrik

kurang mengindahkan prinsip tersebut. Misalnya ketika mengetengahkan judul Jika Hati Menjadi Keras.99 Pada paragraf setelah pengutipan ayat, penjelasan masih singkron dengan paragraf sebelumnya yakni tentang kondisi orang muslim yang menerima ajaran Islam dengan sepenuh hati. Kondisi tersebut digambarkan dengan adanya ketentraman hati, tidak ada kekhawatiran, tidak merasa minder. Dari sini penjelasan beralih pada penjelasan tentang ulah setan yang mengotori hati manusia sehingga penjelasan ini membuat unsur sebelumnya seolah terputus. Setelah

pembahasan tentang hati yang ternodai, objek pembahasan di bagian-bagian akhir tidak lagi tentang manusia dan hatinya, tetapi beralih pada pembahasan tentang Allah dan hamba-Nya sehingga pembaca direpotkan untuk mencari satu pikiran utama yang jelas dengan alur yang sistematis.

BAB IV

KONSTRUKSI WACANA DALAM RUBRIK '("'(" )''("'(" )')')' DI MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN

Dokumen terkait