gambaran tentang posisi seniman perempuan dan kompleksitas perso- alan yang melingkupinya.
Banyak hal menarik untuk dibaca dari naskah komik tentang Arah- maiani yang dimuat oleh seniman komik Arie Dyanto berdasarkan hasil wawancara editor buku tersebut—Adi Wicaksono et.al.—dan diberi judul “Kebudayaan itu Berkelamin” (Dyanto, 2003: 165-176) [Lihat Gambar 1 dan Gambar 2].
Gambar 1
Demikian petikannya:
“Aku berasal dari kelas menengah kota, terdidik, dan keluarga muslim taat. Keluargaku memahami agama secara kritis. Pemahaman kritis itu berseberangan dengan konsep agama puritan yang selalu menempat- kan perempuan dalam posisi subordinat.
Ketika kecil aku bercita-cita menjadi nabi. Waktu kecil aku suka sekali berpakaian laki-laki. Teman mainku sering meledekku, “…pasti pe- rempuan gak bisa…”, tetapi malah itu menjadi tantangan buatku. Tetapi begitu semakin dewasa ketegangan bahwa perempuan dewasa harus mengikuti norma semakin ketat, dan sampai sekarang pun kete- gangan itu masih terasa.
Perempuan harus kawin! Norma itu melekat kuat di masyarakat, dan itu konflik spesifik pada perempuan usia 30-an. Aku selalu ingin men- jadi diriku sendiri, aku sebenarnya tidak ingin membuat lingkungan- ku resah, tetapi aku juga harus selalu jujur pada diriku sendiri. Apapun resikonya!
Dan aku tahu ketika memutuskan ikatan dengan norma kultur itu, maka aku akan sendirian. Dan itu berat.
Lalu aku masuk seni rupa, meskipun orang tuaku tidak setuju, tetapi itu sudah menjadi jalanku. Di akademi seni rupa pun, aku merasakan kultur patriarkis, dosennya mayoritas laki-laki. Aku pikir ini adalah cermin dari masyarakatku.
Aku juga merasakan di ruang kuliah pun ada diskriminasi halus, “Ah…mana ada sih seniman perempuan yang berhasil…”, itu yang membuatku berambisi untuk mengubah pendapat itu. Mungkin kare- na itu orang mengatakan bahwa aku ini perempuan yang ambisius… Tetapi aku juga sadar, akan sulit menemukan orang-orang yang bisa kuajak komunikasi. Untuk itulah aku menulis, mengeluarkan apa yang mendesak, yang ada dalam perasaanku. Kemudian aku juga menemu- kan berbicara dengan orang asing, orang jalanan ngomongnya lebih
enak, lebih bebas. Itu mungkin karena mereka nggakmriyayi, lebih
egaliter. Sedang pada kelasku lebih banyak aturan yang tidak transpa- ran dan tidak bisa dipertanyakan secara terbuka.
Pada level kelas menengah, wacana perubahan itu lebih cepat tercerap, tetapi di level bawah lebih cepat mengakomodir. Karena mereka lebih dinamis, “perasaan aman kelas menengah mapan” tidak ada pada mereka. Jadi mereka lebih bersifatnothing to loose.
Permasalahan gender, atau katakanlah penyejajaran posisi, baru bisa dilakukan dengan beberapa syarat: pembongkaran dominasi laki-laki terhadap perempuan, keterbukaan politik, dan tentu saja perubahan politik.
Aku pikir untuk mensosialisasikan ide-ide perubahan itu harus dim- ulai dari kelas bawah. Kelas menengah, seperti apa yang aku katakan tadi, terlampau konservatif untuk melakukan perubahan. Dan itu bukan terjadi begitu saja. Sesuatu harus dilakukan!
Persoalan gender dan agama itu terletak antara lain pada monopoli penafsiran oleh sedikit orang (yang kebanyakan laki-laki). Untuk melakukan pembongkaran diperlukan usaha untuk melakukan de- sakralisasi, tidak saja melalui seni tetapi juga lewat pendekatan sosial. Kebanyakan pemikir perempuan berasal dari kelas menengah yang di Indonesia secara kelas masih bermasalah. Kelas menengah punya kekuatan untuk bergerak, untuk melakukan mobilisasi, tetapi kelas menengah juga menciptakan hierarki baru, dan ini bisa berasal dari tinggalan masa lalu cuma dalam bentuk berbeda. Jadi, disamping melakukan penyadaran ke kelas lain, mereka seharusnya melakukan juga penyadaran pada kelas mereka sendiri. Katakanlah sebagai cara untuk mengurangi arogansi kelas itu.
Tetapi proses penyadaran, atau kalau aku sebut juga penelanjangan diri, pada kelas menengah jauh lebih sulit, sehingga itu mungkin menyebabkan mereka melakukan penelanjangan pada kelas lain. Se- bagai seniman, aku menggunakan seniku dengan melihat sasaran yang ingin aku tuju: pada kelas menengah aku akan banyak menggunaan teori, sedang kelas yang lain aku menggunakan cara berbeda. Dalam proses pembuatan karya aku lebih cenderung melihat persoalan secara riil dan manusiawi. Tetapi aku tetap menjaga kesadaranku bah- wa aku seorang perempuan, karena bagaimanapun kebudayaan itu “berkelamin”.
Secara umum aku mengembangkan sebuahmode of communication,
aku tidak hanya berpikir secara logis dan rasional saja. Aku mengisti- lahkan komunikasi itu sebagai “hawa”. Tetapi bagaimana membuat hawa menjadi hidup di tengah atmosfir yang telah tercemar oleh pembu- sukan politik, bahasa yang maskulin, dan lain-lain, adalah dengan cara melihat persoalan gender bukan semata-mata masalah maskulin-femi- nin, tetapi lebih melihat pada aspek-aspek energi yang terkandung didalamnya.
Istilah “energi” menurutku bisa menetralisir beban-beban yang sifat- nya bias gender. Kalau kita mampu mengaturnya maka terjadilah kese-
imbangan. Dalam konteks berkarya dengan tema bias gender aku tetap lebih memilih untuk “menggedor”, tetapi memang sering terjadi ketidaksinkronan antara karya dengan penonton. Itu berarti aku harus lebih memahami lagi dengan siapa aku berkomunikasi.
Meskipun ada banyak tema dalam karya-karyaku tetapi ia tetap memi- liki benang merah, yaitu hubungan antara pihak yang lemah dan yang kuat. Tetapi aku sadar bahwa akan berhadapan dengan sebuah mesin
besar yang bernama kapitalisme, yang mampu memproduksiimage,
simbol, dan pencitraan yang lain.
Lewat karya-karyaku aku ingin memaknai tubuh perempuan. Sebuah subjek yang telah dimanipulasi dan dieksploitasi oleh kebudayaan dan kapitalisme. Aku ingin membuat koreksi. Dan koreksi itu aku mulai dari titik bahwa selama ini tubuh perempuan telah menjadi komoditi. Aku pikir setiap orang boleh memaknai tubuhnya sendiri-sendiri, seperti halnya laki-laki memaknai dirinya sebagai kekuasaan. Sedang- kan pada tubuh perempuan ia tidak pernah memaknai, tetapi selalu dimaknai. Itu yang ingin aku rebut kembali.
Tetapi aku dalam berkarya menolak upaya pendiktean dari luar. Tubuh perempuan(ku) bukan sesuatu yang untuk dijarah dan diperkosa!”
Arahmaiani menunjukkan dirinya sebagai seniman yang rajin dan tekun mengolah pengalaman pribadi yang lahir dari identitas keperempu- anannya, kegelisahannya memandang relasi perempuan-tradisi-norma masyarakat-agama-kapitalisme sebagai bahan bakar abadi bagi pencip- taan karya-karyanya.
Pada Juni 1999, di auditorium CCF Bandung, Arahmaiani menam- pilkan instalasi danperformance berjudul “Dayang Sumbi Menolak Status Quo”. Bagi Arahmaiani, Dayang Sumbi adalah simbol profil perempuan khas zaman Orde Baru yang pasif, terlalu banyak berkorban dan menanggung beban—hidup terasing, kawin dengan anjing, melahirkan anak yang kemudian membunuh bapaknya dan jatuh cinta padanya, membuat Dayang Sumbi harus menarik diri kembali—dan masih tetap tidak pernah dianggap sebagai figur sentral dalam cerita besar Sangkuri- ang Sakti. Gugatan terhadap posisi perempuan dalam konsepmadon
sebagai bagian darimo limodalam budaya Jawa juga diungkapkannya dalam karya berjudul “Aku Tak Ingin Menjadi Bagian dari Legenda- mu”. Berikut ini adalah semacam jawaban Arahmaiani yang sedikit ter- ungkap dalam komik yang saya sebut diatas.
“Aku berhadapan dengan ekstase kapitalisme, dan seni harus ber- hadapan dengan itu semua. Aku juga menggunakan medium-medium
yang mereka pakai—semacam subversi simbol—untuk memberi con- toh. Selain itu aku juga berhadapan dengan sebuah persepsi, terutama yang berasal dari agama Islam, bahwa “tubuh perempuan itu bersa- lah!” Aku ingin sebuah keseimbangan antara wilayah material dan spiritual; antara tubuh material dan tubuh spiritual. Karya “Dayang
Sumbi MenolakStatus Quo” adalah caraku untuk mengkonkretkan
sesuatu yang abstrak supaya tidak tinggal menjadi abstraksi. Ada dua lapis makna di sana, yang pertama memperlihatkan; lapisan kedua, respon dengan segala kompleksitasnya.
Dalam karya ini aku ingin mengatakan kapitalisme adalah agama kon- temporer. Orang berusaha mempertahankan dengan jiwa, mereka mau berjihad membentuk tentara untuk menjaganya, dan ia juga mena- warkan surga dan kebahagiaan. Dalam sistem ini, sekali lagi, perem- puan hanya untuk dieksploitasi. Pada konsep agama yang formalis dan skriptualis, seolah-olah tidak ada tempat bagi kesenian yang kritis. K alaupun mereka ada, mereka harus menggunakan cara-cara khusus. Cara-cara khusus itu adalah dengan membongkar agama pada tingkat tekstualnya, dan bukan pada tingkat prakteknya.
Ketika tidak mungkin aku melawan suatu sistem yang besar sekaligus, kapitalisme misalnya. Yang aku butuhkan adalah sebuah landasan yang kemudian mampu mengartikulasikan ide-ideku sehingga bentuk akhirnya tetap terbaca. Pada situasi politik yang berubah sekarang ini, seniman juga harus mendefinisikan kembali dirinya karena masyarakat dan individu lainnya telah atau tengah berubah. Akhirnya seniku ada- lah kehidupan. Aku ingin melebarkan kanvasku pada kehidupan itu sendiri.”
Arahmaiani lahir tahun 1961. Ia bisa dikatakan kenyang pengala- man berkarya di zaman Orde Baru yang serba menekan, juga telah menyaksikan bagaimana tragedi demi tragedi terjadi demi sesuatu yang dinamakan perubahan. Saya rasa pengalaman ini membuatnya tidak pernah berhenti bertanya dan menggugat apa saja.
Pertengahan 2004 lalu Arahmaiani meluncurkan buku kumpulan puisi “Roh Terasing”. Pada puisi “Cita –Cita” kita lihat bagaimana ke- beraniannya bertanya ini kembali ditunjukkan:
Waktu kecil aku ditanya Cita-citaku apa
Kubilang mau jadi nabi Bapak bilang: tidak bisa
Anak perempuan boleh meraih cita-cita Mencari ilmu ke Roma atau Cina Mendapat gelar terhormat
Kemuliaan
Tapi bukan sebagai nabi Itu hanya untuk anak lelaki Sesudah dewasa aku ditanya Kapan akan berkeluarga
Dan aku bilang: kapan-kapan saja Sebab keinginanku untuk jadi nabi Dan boleh mendapat wahyu Belum juga sirna
Kalaupun aku harus punya laki-laki Mestilah ia seseorang yang
Ingin jadi Tuhan
Pada bagian selanjutnya, saya ingin menunjukkan intensitas peng- olahan identitas seniman perempuan dari generasi yang berbeda de- ngan generasi Arahmaiani, yang menunjukkan dirinya dalam bentuk yang lain, dengan isu dan juga bahasa yang samasekali berbeda.
Feminitas dan Budaya Anak Muda
Pameran dengan tajuk “Youth of Today” yang dipamerkan di Ruang Mes 56 Yogyakarta, sebuah ruang alternatif untuk fotografi kontempo- rer, Agustus 2004 lalu, bagi saya menarik karena darinya bisa dilihat suatu gambaran ruang lingkup anak muda Indonesia zaman sekarang. Atau bisa juga dibaca sebagai bagaimana remaja perempuan masa kini berdialog dengan konteks sosial-politik yang melingkupi keseharian- nya, apa problem-problemnya, dan hal-hal apa saja yang dianggap pen- ting atau trendi menurut mereka. Sebagian besar dari peserta pameran lahir tahun 1980-an. Artinya mereka memasuki perguruan tinggi pada tahun 2000 atau 2001. Reformasi sudah lama lewat. Gaung gerakan mahasiswa yang dulu pernah begitu kencang terasa diantara ruang-ru- ang kuliah dan kota Yogyakarta—dan jadi penanda penting keduduk- an kaum muda Indonesia—hanya pada beberapa tahun sebelumnya (1997-1998), mungkin kini hanya mereka baca dari guntingan kliping koran, buku-buku, atau mendengar cerita-cerita orang. Pameran ini sendiri diikuti oleh 7 orang perempuan muda: Dessy Sahara Angelina (Ina), Amriana (Amri), Yuli Andari Merdikaningtyas (Andari), Reska Andini (Reska), Margaretta (Rere), Made Primaswari (Prima), dan Anas- tasia Dessy (Anas).
Dari semua peserta residensi dan pameran tersebut, hanya Amri yang mempunyai pendidikan formal fotografi (ISI Yogyakarta), semen- tara yang lain tidak pernah mendapat pendidikan formal maupun non
formal dalam bidang fotografi. Pada tahap ini memang soal kamera jenis apa yang digunakan dan persoalan kemahiran teknis fotografi tidak jadi masalah besar, karena yang penting adalah bagaimana sebuah kamera dipergunakan untuk merepresentasikan dan membaca dirinya sendiri. Dan memang persoalan inilah yang menjadi fokus pada awal pelaksana- an residensi dan pameran tersebut, karena meskipun hampir semua peserta sudah pernah memegang kamerapocket, tetap saja mereka mera- sa tidak yakin apakah dirinya benar-benar mampu memotret dan meng- hasilkan sesuatu yang layak disebut “karya seni”. Fotografi disini akhirnya diterjemahkan secara bebas. Poin pentingnya adalah justru bagaimana ia digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang praktis— dan akhirnya ideologis, bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan diskursus seni kontemporer.
Andari bahkan boleh dibilang baru pertama kali memegang ka- mera digital, bukan kamerapocket seperti biasanya, yang itupun jarang- jarang dilakukan, paling kalau ada momen penting dalam keluarga: pesta, ulang tahun, wisuda, atau piknik. Sehingga ketika pertama kali berkesem- patan memegang kamera digital, dengan segala kemudahannya, ia seperti mendapat semacam guncangan karena semua menjadi tampak menarik untuk dipotret. Dan kemungkinan untuk memotret kesehariannya pun menjadi terbuka lebar. Sebagai latihan memotret, Andari memotret gantungan celana dalam, bra, handuk, gayung dan aneka perlengkapan mandi yang berjajar rapi di kamar mandi, poster-poster di kamarnya, deretan buku di rak kayu, yang ada di rumah kos yang ditempati bersa- ma 40 teman perempuannya yang lain.
Jika melihat karya Rere—kolase dari foto dan guntingan majalah yang menggambarkan pemain band—dan karya Riska—video mengenai kehidupan sehari-hari sebuah kelompok band indie dan kumpulan foto pentas band indie yang pernah disaksikannya—misalnya, maka bisa di- pastikan bahwa tampaknya dunia yang dominan dari mereka adalah dunia musik. Yogyakarta sendiri saat ini dikenal sebagai kota dengan band-band indie yang banyak jumlahnya. Di kota ini juga mempunyai beberapa media alternatif bikinan anak muda yang menempatkan musik sebagai materi penting dari isi media mereka, misalnya Outmagz, Square, atau Shine.
Jika dulu istilah media alternatif atau media independen identik dengan pers mahasiswa, saat ini bagi sebagian anak muda lain, peran itu telah banyak digantikan denganzine.Zine punya sejarah panjang sendiri di Amerika sana. Tapi secara singkat ia adalah majalah beroplah kecil,
yang oleh pembuatnya dibuat dengan teknik potong dan tempel, lalu difotokopi atau dicetak, dan didistribusikan sendiri. Isinya luar biasa bermacam-macam mulai dari puisi, umpatan dan gugatan pribadi, cer- pen, komik, ulasan musik atau kondisi sosial-ekonomi-politik di sekeli- lingnya. Dengan metode pembuatannya seperti itu, zine berada dianta- ra media personal dan umum. Ada sangat banyak media alternatif seperti ini bertebaran di kota-kota Indonesia. Berikut ini adalah sebagian nama mereka: Daging Tumbuh, Combro, Terompet Rakyat, Suara Hati, Ven- ceremos, Anarkisme, Beni, Menolak Tunduk, dsb. Nama-nama terse- but sebagian saya dapat dari koleksi perpustakaan tempat saya bekerja, dan sekarang semua orang bahkan bisa mendapatkan katalog lengkap zine pada suatu situs yang khusus mendedikasikan dirinya untuk ma- syarakat pembaca zine di Indonesia yaitu www.penitipink.blogspot.com. Zine ini kadang jadi media untuk mempromosikan band-band lokal di kota masing-masing, informasigig-gig terbaru di kotanya, atau info tentang barang-barang baru yang dijual distro-distro lokal. Pokoknya segala yang berkaitan dengan budaya anak muda sekarang. Ada pertautan erat antara musik dan anak muda, antara musik dan dunia seni visual. Banyak perupa yang sekaligus jadi pemain band, perupa yang menge- lola sebuah band, atau perupa yang melibatkan diri dalam proses industri musik. Tengoklah para aktivis Ruang Rupa, sebuah ruang alternatif untuk seni visual di Jakarta, dan dapat ditemui seniman yang mempunyai peker- jaan lain sebagai manajer sebuah band, vokalis band, atau mengelola rumah produksi pembuat video klip. Riska sendiri adalah pemimpin redaksi Square. Rere adalah vokalis grup band Plastic Dolls. Anas dan Prima adalah editor majalah musik Shine. Dengan latar belakang atmos- fer seperti inilah mereka hidup.
Tema mengenai romantika dan percintaan masih menjadi titik sentral bahasan majalah-majalah remaja perempuan—baik lokal maupun lisensi—yang beredar di Indonesia: tips mengetahui isi hati cowok, tips memperkuatinner beauty cewek, tips menjadi cewek favorit di sekolah, kuis ‘apakah kamu benar-benar suka si dia?’, dsb. Topik pembicaraan utama, diselingi aneka topik tentang tugas dosen-kerjaan di rumah yang numpuk, dalam acaragirl talk di kamar entah siapa, bersama teman- teman lain. Dan karya berdua Anas & Prima—cerita foto mengenai kisah cinta seorang robot hitam dengan boneka cantik—bagi saya seperti menyuarakan cita-cita romantika para remaja perempuan seperti biasa dibaca pada majalah remaja perempuan:a happy ending love story, pahlawan baik hati dengan puteri jelita, robot Black Robin dan Barbie Ariel (Lihat
Gambar 3). Meski sampai disini, rasanya perlu membuat studi yang bisa lebih jauh mengungkapkan apakah anak muda sekarang masih menginginkan bentuk hubungan laki-laki-perempuan yang seperti itu. Tapi dari pembacaan film-film remaja yang sekarang beredar di rental- rental VCD/DVD dapat dengan mudah dilihat bahwa dongeng Cin- derella yang merindukan pangeran tampan—tentu dengan sentuhan yang lebih kontemporer— banyak ditemui. Beberapa film terbaru dengan tema diatas adalahPrince & Me,Cinderella Story, Confession of a Teenage D rama Queen.
Sementara proyek-proyek fotografi lain yang akan saya bicara- kan berikut ini mengungkapkan sisi-sisi feminitas yang lain, yang merupa- kan kunci untuk melihat bagaimana perempuan zaman sekarang membi- carakan tubuh dan seksualitasnya sendiri.
Mata saya tertuju pada seri foto seorang perempuan yang tampak sedang berusaha memasang selembar pembalut di kemaluannya. Foto- foto itu dipasang di tembok, yang penuh dengan coretan-coretan tulis- an yang ditulis dengan cat piloks berbunyi: “She contaminates”, “Does my vagina scare u enough?”, “Growing up sucks”, “Justification of
power would be forever his if I let him to!”, “Just pics of my pussy, dats all”. Ini karya Ina, dan tokoh yang ada dalam seri foto itu dirinya sendiri (Lihat Gambar 4).
Gambar 4
Salah seorang teman laki-laki yang kebetulan sama-sama berdiri melihat foto itu di samping saya berbisik, “Aduh, aku ngeri lihat foto- foto ini. Rasanya langsungthenggitu di pikiranku.” Sementara seorang teman yang sehari-harinya berprofesi sebagai fotografer di Jakarta lang- sung berkomentar, “Ih, jorok! Siapa sih ini yang motret?” Di telinga saya, ungkapan kekagetan dan kejijikan yang keluar dari teman-teman laki-laki—yang menurut saya berpikiran bebas dan terbuka—itu cukup mengagetkan. Saya tidak menduga bahwa ternyata ekspresi yang terbuka mengenai menstruasi—hal alamiah yang dialami setiap perempuan—
rupanya masih menjadi sesuatu yang tidak cukup nyaman untuk didengar atau dilihat. Awalnya saya berpikir bahwa mungkin ucapan yang keluar dari kelompok laki-laki—yang tidak mengalami sendiri pengalaman menstruasi—akan berbeda dari reaksi kelompok perempuan yang me- lihat karya ini. Tapi ternyata reaksi kaum perempuan pun berbeda-beda. Meski ada yang menganggap karya Ina ini sebagai reaksi kejujuran pe- rempuan, tapi saya juga menjumpai sebagian perempuan peserta pa- meran ini yang berpendapat bahwa karya ini membuat mereka malu, dan merasa bahwa seharusnya hal-hal seperti itu—vagina, menstruasi- —tidak sepantasnya dipamerkan secara luas seperti ini.
Proyek mempertanyakan tubuh yang lain juga ada pada karya Amri dan Andari. Amri mengajak melihat persoalan tubuh perempuan gendut versus tubuh perempuan kurus sebagai konstruksi ideal kecanti-
kan seperti yang selalu ada dalam iklan di majalah dan televisi (Lihat Gambar 5). Dan meski tidak sejelas Ina dan Amri, bagi saya proyek memotret buku agenda yang dilakukan Andari merefleksikan tubuh perempuan dalam versi lain: tubuh perempuan yang terjadwal rapi dan ketat.Jam 5: bangun, jam 5.30: mencuci baju, jam 7.30: berangkat kuliah, jam 16: ketemuan sama Mas N ino, jam 20.30: harus sudah sampai kos, nonton
A F I!!(Lihat Gambar 6).
Gambar 6
Kebiasaan menuliskan pengalaman harian, di buku harian atau di buku agenda yang selanjutnya lebih populer disebut denganorganizer
bukan hanya simbol manusia modern yang menginginkan pengaturan kehidupan yang serba rapi, terjadwal, efisien, tapi juga bisa dimaknai sebagai penulisan sejarah personal yang emotif. Dalam esai pendek yang ditulis Andari dan dipasang di samping seri foto buku agendanya, ia menceritakan kembali pengalaman teman-temannya mengenai buku agenda yang dimiliki mereka: “Seorang teman bercerita padaku bahwa jika tiba saatnya untuk menulis di buku harian, ia akan mengingat kembali apa saja yang sudah kulakukan seharian. Bila ia sedang kesal, ia akan tuliskan semuanya dalam diari. Beberapa waktu setelah menulis, bila ia baca kembali buku itu, ia bisa tersenyum sendiri. Sementara teman lain
bernama Wikan menuliskan kisah keseharian pada lembar-lembar khusus berwarna merah muda yang ada pada organisernya. Lembar-lembar merah muda ini adalah bagian yang tak boleh dijamah siapapun. ‘Semua campur aduk dalam organiserku. Ada jadwal kuliah, jadwalmarching