“Bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang bathil..”[al-Baqarah:185]
Frasa awal ayat ini menjelaskan bahwa, al-Quran al-Karim telah diturunkan Allah swt di bulan Ramadlan pada Lailatul Qadar. Al-Quran telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi..”[al-Dukhaan [44]:3]
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadar].” [al-Qadr [97]:1]
Ali Al-Shabuniy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “lail mubaarakah”
(malam yang diberikahi) adalah malam yang sangat agung dan mulia, yaitu Lailatul Qadar di bulan yang penuh berkah (bulan Ramadlan)17. Ibnu Jaziy menyatakan,”…al-Quran telah diturunkan pada Lailatul Qadar18.”
Imam Qurthubiy berkata, …”Lailatul Qadar disebut sebagai malam yang penuh keberkahan, sebab, pada malam itu Allah swt menurunkan kepada hambaNya al-Quran al-Karim yang di dalamnya berisi keberkahan, kebaikan dan pahala..”19
Imam Ibnu Katsir menyatakan,”Allah swt telah memulyakan bulan Ramadlan diantara bulan-bulan yang lain. Ini bisa dimengerti karena bulan Ramadlan telah dipilih Allah swt untuk menurunkan al-Quran al-Adzim.20
Dalam riwayat-riwayat dituturkan bahwa, Ramadlan adalah bulan dimana Allah swt menurunkan kitab-kitabNya kepada para Nabi. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu al-Asqa’ bahwa Rasulullah saw berkata, “Shuhuf Ibraahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadlan. Sedangkan Taurat diturunkan pada malam keenam bulan Ramadlan; Injil diturunkan pada malam ketiga belas, dan al-Quran diturunkan pada malam keempat belas bulan Ramadlan.”[HR. Imam Ahmad]
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah disebutkan,”Sesungguhnya Zabur diturunkan pada malam kedua belas di bulan Ramadlan. Sedangkan Injil diturunkan pada malam kedelapan belas Ramadlan.”[HR.
Ibnu Mardawaih]
Yang dimaksud dengan al-Quran di sini adalah al-Quran yang diturunkan secara lengkap dari Lauh Mahfudz ke langit dunia (Baitul ‘Izzah). Setelah itu, al-Quran diturunkan dari langit bumi kepada Nabi Mohammad saw secara berangsur-angsur.21
Al-Hafidz Suyuthi mengatakan, “Berkaitan dengan firman Allah swt surat al-Baqarah : 185 dan al-Dukhaan :4, ada tiga pendapat berbeda mengenai cara
17 Ali Al-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasir, juz III, hal.170.
18 ibid, hal. 170
19 Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, juz 16, hal.126.
20 Imam Ibnu Katsir, Tafsiir Ibnu Katsiir: al-Baqarah [2]: 185]
21 Lihat Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, dan Tafsir Jalalain.
Mayoritas mufassir memilih pendapat yang menyatakan bahwa al-Quran diturunkan secara lengkap dari Lauh Mahfudz ke langit dunia pada Lailatul Qadar di bulan Ramadlan. Setelah itu diturunkan kepada Mohammad saw secara berangsur-angsur. Walhasil, al-Quran yang dimaksud dalam surat al-Baqarah ayat 185 adalah al-Quran yang diturunkan secara lengkap, bukan permulaan ayat yang diturunkan kepada Nabi Mohammad saw.
diturunkannya al-Quran dari Lauh al-Mahfudz. Pendapat pertama –dan ini adalah pendapat yang paling shahih—menyatakan bahwa Quran diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke langit dunia secara lengkap. Peristiwa ini terjadi pada malam Lailatul Qadar (bulan Ramadlan). Setelah itu, al-Quran diturunkan dari langit dunia kepada umat manusia secara berangsur-angsur selama 20 tahun, 23 tahun, atau 25 tahun sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw setelah beliau diutus oleh Allah swt…..”22
Ayat ini juga menjelaskan fungsi al-Quran sebagai hudaan li al-naas (petunjuk bagi manusia), bayyinaat min al-huda (penjelas), dan al-furqan (pemisah atau pembeda).
Imam Qurthubiy mengatakan, “Tafsir dari firman Allah swt, “hudaan li al-naas wa bayyinaat min al-hudaa wa al-furqaan” adalah sebagai berikut. “Hudaa” dibaca nashab karena ia berkedudukan sebagai haal dari al-Quraan. Susunan kalimat semacam ini bermakna,”haadiyan lahum” [petunjuk kepada mereka]. Sedangkan “wa bayyinaat” berkedudukan sebagai “‘athaf ‘alaih”. Arti ‘al-hudaa” sendiri adalah “al-irsyaad wa al-bayaan” [petunjuk dan penjelasan]. Maknanya adalah, al-Quran dengan keseluruhannya, baik ayat-ayat muhkaam, mutasyaabihaat, nasikh dan mansukh jika dikaji dan diteliti secara mendalam akan menghasilkan hukum halal dan haram, nasehat-nasehat serta hukum-hukum yang penuh hikmah”. Adapun “al-furqaan”
bermakna “maa farraqa bain al-haq wa al-baathil” {semua hal yang bisa memisahkan antara yang haq dengan yang bathil].23
Imam Thabariy menjelaskan bahwa ‘hudan li al-naas” bermakna “rasyaadan li al-naas ilaa sabiil al-haq wa qashd al-manhaj”[petunjuk kepada umat manusia menuju jalan kebenaran dan metode yang lurus]. Adapun makna dari “bayyinaat min al-hudaa” adalah “waadlihaat min al-al-hudaa” [petunjuk-petunjuk yang sangat jelas];
artinya bagian dari petunjuk yang menjelaskan tentang hudud Allah, faraaidlNya, serta halal dan haramNya. Sedangkan al-furqan berarti “al-fashl bain al-haq wa al-baathil”
[pemisah antara kebenaran dan kebathilan]. Makna ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dari Suddiy,”Maksud dari firman Allah swt, “wa bayyinaat min al-hudaa wa al-furqaan” adalah “bayyinaat min al-halaal wa al-haraam” [penjelasan yang menjelaskan halal dan haram].24
Al-Hafidz al-Suyuthi dalam tafsir Jalalain menjelaskan bahwa “al-hudaa”
bermakna “petunjuk yang dapat menghindarkan seseorang dari kesesatan”.
Sedangkan “bayyinaat min al-hudaa” bemakna, “ayat-ayat yang sangat jelas serta hukum-hukum yang menunjukkan seseorang kepada jalan yang benar’. Al-Furqaan sendiri bermakna “pemisah antara kebenaran dan kebathilan”25.
Menukil pendapat Ibnu ‘Abbas, Fairuz Abadiy menyatakan,”Yang dimaksud dengan firman Allah swt “hudaan li al-naas” adalah al-Quran itu itu berfungsi memberi petunjuk kepada manusia dari kesesatan. Sedangkan frasa “wa bayyinaat min al-hudaa” bermakna perkara-perkara agama yang sangat jelas dan tidak samar.”
22 al-Hafidz al-Suyuthi, al-Itqaan fi ‘Uluum al-Quran, hal 39. Al-Hafidz al-Suyuthi mengetengahkan hadits-hadits yang mendukung pendapat ini, yakni hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim, Baihaqiy, al-Nasaaiy dan lain-lain dari jalur Manshuur, dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu ‘Abbas. Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa, al-Quran telah diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke langit dunia (baitul ‘Izzah) pada Lailatul Qadar di bulan Ramadlan.
23 Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, surat al-baqarah:185.
24 Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, surat al-Baqarah : 185.
25 Al-Hafidz al-Suyuthiy, Tafsir Jalalain, surat al-baqarah:185.
Adapun “frasa al-furqan” berarti halal dan haram, hukum-hukum dan hudud, serta semua hal yang menghindarkan seseorang dari syubhat (kesamaran).”26
Ayat di atas telah menggambarkan betapa Allah swt telah memulyakan dan mengagungkan bulan Ramadlan di atas bulan-bulan yang lain. Sebab, di bulan itu Allah swt menurunkan al-Quran yang berisikan petunjuk, penjelasan serta pemisah antara yang haq dan bathil. Tidak hanya itu saja, al-Quran adalah sumber segala sumber hukum bagi kaum muslim yang tidak boleh diingkari dan diacuhkan. Dalam masalah ini Imam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Barangsiapa tidak mau membaca al-Quran berarti ia mengacuhkannya dan barangsiapa membaca al-Quran namun tidak menghayati maknanya, maka berarti ia juga mengacuhkannya. Barangsiapa yang membaca al-Quran dan telah menghayati maknanya akan tetapi ia tidak mau mengamalkan isinya, maka ia pun berarti mengacuhkannya”. Selanjutnya Imam Ibnu Taimiyyah menyitir sebuah ayat:
“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku! Sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini suatu yang diacuhkan.”[al-Furqan:3027]
Al-Quran Sebagai Manhajul Hayah (Metode Hidup)
Pada dasarnya al-Quran adalah manhajul hayah bagi kaum muslim. Pedoman hidup yang menjelaskan seluruh aspek kehidupan, sekaligus sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Atas dasar itu, setiap muslim diperintahkan untuk selalu berjalan sesuai dengan al-Quran. Siapa saja yang berjalan sesuai dengan al-Quran tentu mereka akan mendapatkan petunjuk, penjelas, sekaligus akan diberi “furqan”
(kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah).
Bila semesta pembicaraan ini diperluas pada konteks negara dan masyarakat, kita dapat menyimpulkan bahwa, masyarakat dan negara manapun akan mendapatkan petunjuk, penjelas dan furqan bila mereka mau mengadopsi dan hidup sejalan dengan Quran. Sebaliknya, jika sebuah negara dan masyarakatnya jauh dari tuntunan al-Quran maka mereka tidak akan pernah mendapatkan petunjuk, penjelas dan furqan.
Padahal, siapa saja yang mendapatkan petunjuk dari Allah swt, maka mereka akan dikaruniai keberkahan, kemudahan, dan juga kesejahteraan hidup.
Namun demikian, Al-Quran hanya akan tinggal huruf yang tertera di atas kertas belaka dan tidak pernah menjadi petunjuk bagi umat manusia, jika ia tidak dibaca, dipelajari, dipahami maknanya dan diamalkan dalam realitas kehidupan.
Benar, seseorang tidak akan mungkin bisa menangkap makna-makna yang terkandung di dalam al-Quran bila dirinya tidak atau belum mampu membaca al-Quran.
Sebab, bagaimana mungkin ia bisa memahami makna-makna yang terkandung di dalam al-Quran, sedangkan membacanya saja tidak mampu?
Seseorang yang sudah bisa membaca al-Quran namun tidak memahami arti bacaannya, dirinya juga tidak mungkin bisa menangkap isi al-Quran. Orang yang bisa membaca dan memahami makna al-Quran juga tidak akan pernah mendapatkan keberkahan dan petunjuk, jika ia tidak mau mengamalkan kandungannya.
Untuk itu, aktivitas membaca, mempelajari, memahami maknanya serta mengamalkan kandungan makna al-Quran merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang yang ingin mendapatkan petunjuk, penjelas, dan furqan.
26 Fairuz Abadiy, Tanwiir al-Maqbaas min Tafsiir Ibn ‘Abbas’, hal.20
27 Ali Al-Shabuniy, al-Tibyaan fi ‘Uluum al-Quran