• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Nyeri 1. Pengertian nyeri 1.Pengertian nyeri

Nyeri adalah sensasi subyektif rasa tidak nyaman yang biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri dapat bersifat proktektif, yaitu menyebabkan individu menjauh dari stimulus yang berbahaya (Corwin, 2007). Nyeri bersifat individu dan ambang nyeri pada setiap orang berbeda-beda (Roach, 2004).

Nyeri adalah gejala penyakit yang paling sering terjadi. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dan karena itu berusaha untuk bebas darinya (Mutschler, 1991).

2. Mekanisme nyeri

Menurut DiPiro et al., (2008) proses penghantaran nyeri terdiri atas empat tahap, yaitu stimulasi, transmisi, persepsi nyeri, dan modulasi.

a. Stimulasi

Sensasi nyeri dimulai dengan pembesaran reseptor nyeri akibat rangsangan mekanis, panas dan kimia. Adanya rangsangan tersebut akan menyebabkan lepasnya bradikinin, K+, prostalglandin, histamin, leukotrien, serotonin, dan substansi P. Aktivasi reseptor menimbulkan aksi potensial yang ditransmisikan

sepanjang serabut saraf afren menuju sumsum tulang belakang (DiPiro et al., 2008)

a. Transmisi

Transmisi rangsang nyeri terjadi di serabut afren Aδ dan C. Serabut saraf afren tersebut merangsang serabut nyeri di berbagai lamina spinal cord’s dorsal horn melepaskan berbagai neurotransmitter termasuk glutamate, substansi P, dan kalsitonin (DiPiro et al., 2008)

b. Presepsi nyeri

Presepsi nyeri adalah titik utama transmisi impuls nyeri. Otak akan mengartikansinyal nyeri dengan batas tertentu, sedangkan fungsi kognitif dan tingkah laku akan memodifikasi nyeri sehingga tidak menjadi lebih parah (DiPiro

et al., 2008) c. Modulasi

Modulasi nyeri melalui sejumlah proses yang kompleks. Diketahui bahwa sistem opiate endogen terdiri dari berbagai neurotransmitter (seperti µ, δ, dan k) yang ditemukan dalam system saraf pusat (DiPiro et al., 2008)

3. Jenis nyeri

DiPiro., (2008) menggolongkan nyeri menjadi dua bagian, yaitu : a. Nyeri akut

Nyeri akut dapat menjadi proses peringatan fisiologis individu dari adanya penyakit dan kondisi berbahaya. Secara umum nyeri akut terjadi akibat pembedahan, penyakit akut, trauma, aktivitas dan prosedur medis.

a. Nyeri kronik

Pada kondisi normal, nyeri akut dapat menghilang dengan cepat karena adanya proses penyembuhan dengan mengurangi produksi rangsangan nyeri. Namun, dalam beberapa kasus, nyeri tetap terjadi selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, yang mengarah ke keasaan nyeri kronis dengan karakteristik berbeda dengan nyeri akut.

B. Analgetika

Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakitterdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar danreaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini (Anief, 2000)

Menurut Roach (2004), obat yang digunakan dalam mengatasi nyeri terdiri dari dua kelompok yaitu analgetik non-narkotik dan analgetik narkotik.

1. Analgetik non-narkotik

Obat-obat ini meringankan rasa nyeri tanpa menurunkan kesadaran dan tidak menyebabkan ketergantungan seperti penggunaan analgetik narkotik.Analgetik narkotik terdiri dari senyawa golongan salisilat, non-salisilat (seperti asetaminofen) dan obat antiinflamasi non steroid. Obat ini digunakan untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang (Roach, 2004).

Mekanisme kerja analgesik adalah menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada SSP yang mengkatalis biosintesis prostaglandin,

seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti bradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion-ion kalium dan hidrogen, yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanik atau kimiawi (Siswandono dan Soekarjdo, 2000). Mekanisme ini dapat dilihat pada gambar 1.

Trauma/luka pada sel

Gangguan pada membran sel

Fofolipid dihambat kortikosteroid

Asam arakhidonat

Dihambat obat AINS Hidroperoksid Endoperoksid

PGG2/PGH

Leukotrien PGE2, PGF2, PGD2 Prostasiklin

Tromboksan A2 (Gambar 1) Biosintesis Prostaglandin (Wilmana, 1995)

Setiap obat menghambat siklo-oksigenase dengan cara yang berbeda. (Wilmana, 1995).

Enzim Fosfolipase

Enzim siklooksigenase Enzim lipoksigenase

2. Analgetik narkotik

Analgetik narkotik disebut juga opioid, yaitu zat yang bekerja pada reseptor opioid khas di sistem saraf pusat, hingga persepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri berkurang (Tjay dan Rahardja, 2002).

Tjay dan Rahardja (2002), mengatakan bahwa rasa nyeri dapat dilawan dengan (1) merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer oleh analgetik perifer atau anastetika lokal, (2) merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anastetika lokal, (3) blokade dari pusat nyeri dalam sistem saraf sentral dengan analgetik sentral (narkotika) atau dengan anastetika umum.

C. Asetosal

(Gambar 2.) Struktur kimia asetosal (Helmenstine, 2010)

Asetosal (asam asetil salisilat) merupakan ester salisilat dari asam, berbentuk kristal putih seperti batang atau jarum dan berbau. Sedikit larut dalam air, sangat larut dalam alkohol. Nilai pKa dari asetosal adalah 3,5. Termasuk dalam golongan analgesik non-narkotik. Indikasi asetosal adalah sebagai pereda nyeri, sakit kepala, nyeri ringan lain yang berhubungan dengan adanya inflamasi, nyeri ringan sampai sedang setelah operasi, melahirkan, sakit gigi, dismenorea.

Asetosal stabil pada penyimpanan pH rendah (2-3) dan pada suhu 2-15°C (Dinkes, 2010).

Asetosal bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin pada jalur sikloosigenase. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi.Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase

(COX).Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda (Tjay dan Rahardja, 2002).

D. Iler (Coleus atropurpureus L. Benth)

1. Keterangan botani

Tanaman iler berdasarkan taksonomi termasuk dalam, Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikoti Sub Kelas: Asteridae

Ordo: Lamiales Famili: Lamiaceae Genus: Coleus

Spesies: Coleus atropurpureus L. Benth

Tumbuhan ini dikenal masyarakat Indonesia dengan nama daerah yaitu: si gresing (Batak), adang-adang (Palembang), plado (Sumba), jawer kotok (Sunda), kentangan (Jawa), ati-ati, saru-saru (Bugis), majana (Madura) (Dalimartha, 2008). 2. Morfologi tanaman

Ciri-ciri umum: Tumbuhan iler memiliki batang herba, tegak atau berbaring pada pangkalnya dan merayap tinggi berkisar 30-150 cm. Daun tunggal, helaian daun berbentuk hati, pangkal membulat atau melekuk menyerupai benuk jantung dan setiap tepiannya dihiasi oleh lekuk-lekuk tipis yang bersambungan dan didukung tangkai daun dengan panjang tangkai 3-4 cm yang memiliki warna beraneka ragam dan ujung meruncing dan tulang daun menyirip berupa alur. Batang bersegi empat dengan alur yang agak dalam pada masing-masing sisinya,

berambut, percabangan banyak, berwarna ungu kemerahan. Permukaan daun agak mengkilap dan berambut halus panjang dengan panjang 7-11 cm, lebar 3-6 cm berwarna ungu kecoklatan sampai ungu kehitaman.Bunga berbentuk untaian bunga bersusun, muncul pada pucuk tangkai batang berwarna putih, merah dan ungu.

Tumbuhan iler memiliki aroma bau yang khas dan rasa yang agak pahit, sifatnya dingin. Jika seluruh bagian diremas akan mengeluarkan bau yang harum. Untuk memperbanyak tanaman ini dilakukan dengan cara setek batang dan biji (Yuniarti, 2008).

3. Ekologi

Tumbuhan iler tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut dan merupakan tanaman semusim termasuk kategori tumbuhan basah yang batangnya mudah patah.Umumnya tumbuhan ini ditemukan di tempat lembab dan terbuka seperti pematang sawah, tepi jalan pedesaan di kebun-kebun sebagai tanaman liar atau tanaman obat (Yuniarti, 2008).

4. Kandungan kimia

Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa di dalam daun iler terdapat berbagai macam senyawa yang berkhasiat, diantaranya adalah dijumpai berbagai macam senyawa flavonoid. Hasil penapisan fitokimia terhadap infusa daun iler menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin dan polifenol (Amitjitresmu, 1995).

Tumbuhan iler memiliki sifat kimiawi harum, berasa agak pahit, dingin, memiliki kandungan kimia sebagai berikut : daun dan batang mengandung minyak atsiri, fenol, tannin, lemak, phytosterol, kalsium oksalat, dan peptik. Komposisi kandungan kimia yang bermanfaat antara lain juga alkaloid, etil salisilat, metal eugenol, timol karvakrol, mineral (Dalimartha, 2008).

Dari uji pendahuluan yang dilakukan oleh Saragih (2011) menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun tumbuhan iler mengandung senyawa flavonoida. 5. Khasiat dan kegunaan

Tumbuhan iler diduga mempunyai aktifitas antibakteri, sebagai obat hepatitis dan menurunkan demam, batuk dan influenza. Selain itu daun tumbuhan iler ini juga berkhasiat untuk penetralisir racun (antitoksik), menghambat pertumbuhan bakteri (antiseptik), mempercepat pematangan bisul, pembunuh cacing (vermisida), wasir, peluruh haid (emenagog), membuyarkan gumpalan darah, gangguan pencernaan makanan (despepsi), radang paru, gigitan ular berbisa dan serangga (Dalimartha, 2008).

E. Infusa

Infusa adalah hasil proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam (Departemen Kesehatan RI, 1986).

Pembuatan infusa dengan mencampur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya, dipanaskan di atas tangas air selama

15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90o sambil sekali-sekali diaduk.Serkai selagi panas melalui kain flannel, ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infusa yang dikehendaki (Departemen Kesehatan RI, 1995).

Dokumen terkait