• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nyidam Sari

Dalam dokumen KEJAWAANDALAM VIDEO CAMPURSARI (Halaman 52-86)

MODAL DENGKUL, BAGUS ADINE DAN KUSUMANING ATI

A. Nyidam Sari

Lagu nyidam sari diciptakan oleh Andjar Any pada tahun 60-an dan diproduksi dalam bentuk gramafon oleh Lokananta. Andjar Any merupakan tokoh pencipta lagu langgam Jawa. Manthous memproduksi kembali nyidam sari dan lagu tersebut mendulang kesuksesan di pasaran. Manthous mengaransemen nyidam sari mendasarkan pada pengolahan ulang langgam Jawa, yang dinamai sebagai campursari. nyidam sari berdurasi 6:20 menit.

1

https://www.youtube.com/watch?v=tBW -zgZ8lY4 diunduh tanggal 21 April 2015.

2

https://www.youtube.com/watch?v=ARpzOkXmUA0 diunduh tanggal 21 April 2015.

3

https://www.youtube.com/watch?v=3E0IKWysLsMdiunduh tanggal 21 April 2015.

4

https://www.youtube.com/watch?v=Kg3FZ69yg7U diunduh tanggal 21 April 2015.

5

40

a. Nada

Durasi bagian-bagian nyidam sari. 00:00-00:38 introduction

00:38-01:08 verse 1 01:08-01:38 verse 2 01:38-02:08 bridge 02:08-02:38 verse 3

02:38-3:26 interlude (sama dengan bagian introduction tetapi dengan irama double)

03:26-04:07 verse 1 04:07-04:50 verse 2 04:50-05:32 bridge 05:32-06:18 verse 3

Bentuk nyidam sari ialah AABA yang terdiri dari bagian, verse 1, verse 2, bridge, dan verse 3. Bentuk AABA merupakan bentuk yang umum pada musik pop dan langam Jawa. Nyidam sari diawali dengan bagian introduction panjang 8 birama, verse 1 panjang 8 birama, verse 2 panjang 8 birama, bridge 1 panjang 8 birama, dan bridge 2 panjang 8 birama. Keseluruhan bagian nyidam sari menggunakan kerangka akor I IV V yang merupakan kerangka akor utama musik pop. Bagian introduction dan verse memiliki kesamaan progresi akor dan melodi. Sedangkan suasana kontras bridge menghadirkan progresi akor dan melodi berbeda dengan verse. Perbedaan progresi akor verse dan bridge, pada 4 birama pertama verse I.V.,I...,IV.V.,I..., sedangkan pada 4 birama pertama bridge

41 I...,IV...,V...,I... Memasuki bagian interlude tempo mulai melambat karena memasuki perubahan dari irama engkel ke irama rangkap dengan progresi akor dan melodi yang mirip verse. Bagian-bagian selanjutnya merupakan pengulangan bentuk AABA (verse1, verse1, bridge dan diakhiri verse 3) dengan lirik sama.

Gaya aransemen nyidam sari mempertemukan langgam Jawa dan pop. Langgam Jawa menggunakan gamelan dan menyatakan representasi kejawaan pada nyidam sari. Perpaduan langgam Jawa dan pop tersebut mencerminkan perpaduan instrumen dari dua latar belakang berbeda, instrumen pop dan gamelan. Instrumen pop terdiri dari keyboard, sedangkan gamelan terdiri dari sitar, gender, kendang dan saron. Instrumen pop berdasarkan pada sistem nada diatonis, sedangkan gamelan berdasarkan pada laras pelog dan slendro. Namun karakteristik utama nyidam sari bukanlah gamelan tetapi instrumen pop yang menyatakan sistem nada diatonis dan kerangka akor I IV V. Keyboard memberi keuntungan karena menyediakan sampling instrumen tradisional salah satunya adalah seruling. Di sini karakter suara seruling yang diproduksi keyboard tidak membawa melodi dalam sistem nada diatonis tetapi dalam laras pelog dan slendro. Laras Pelog dan slendro merupakan sistem penalaan nada gamelan. Selain itu, keyboard merupakan instrumen yang praktis, ukurannya yang kecil lebih memudahkan dibawa ke mana-mana. Pada nyidam sari gamelan berperan sebagai pengiring membawa akor I IV V. Nyidam sari menggunakan gamelan yang standarisasikan ke dalam sistem nada diatonis. Bonang memberikan nuansa cello dan sitar memberi nuansa cuk, seperti pada keroncong. Kendang merupakan

42 pemimpin ansambel nyidam sari membawa ritme dan perubahan irama dari irama engkel ke irama rangkap pada bagian interlude.

b. Lirik

Nyidam sari berarti mengidamkan sari. Lirik nyidam sari terdiri dari 4 bait. Bait pertama, wanita diandaikan bunga melati dan sebuah jalan. Sementara laki-laki diandaikan sebagai kumbang yang menginginkan sari dan yang akan melewati jalan tersebut.

Umpama sliramu sekar melati Seandainya dirimu bunga melati.

Aku kumbang nyidam sari Aku kumbang mengidamkan sari

bunga.

Umpama sliramu margi, wong manis Seandainya dirimu sebuah jalan,

wanita manis.

Aku kang bakal ngliwati Aku yang akan melewati

Bait kedua, laki-laki mengucapkan sumpah setia yang disaksikan bintang Luku. Laki-laki selalu memegang sumpah tersebut.

Sineksen lintange Luku semana Disaksikan bintang Luku ketika itu

Janji prasetyaning ati Janji setia di hati

Tansah kumantil ing netra, rinasa Selalu melekat di mata, rasanya

Karasa rasaning driya Terasa rasanya batin

Bait ketiga, meski laki-laki harus mengelilingi jagat raya, terhalang gunung dan samudra tetapi wanita tersebut tetap menjadi pujaan hati selamanya.

Midera sajagad raya Mengelilingi jagat raya.

Kalingana wukir lan samodra Terhalang gunung dan samudra

Ora ilang memanise aduh Tidak hilang cantiknya, aduh

Dadi ati salawase Jadi pujaan hati selamanya

Bait keempat, laki-laki menggambarkan kesendiriannya setelah kepergian wanita. Di malam hari laki-laki terbayang-bayang wajah cantik dan akan mencintainya selamanya.

43

Nalikanira ing dalu atiku Ketika di malam hari hatiku

Lam-lamen sira wong ayu Terbayang-bayang wajah cantiknya

Nganti mati ora bakal lali Sampai mati tidak akan lupa

Lha kae, lintange mlaku Lihatlah bintang itu berjalan

c. Visualisasi

Beberapa adegan nyidam sari dibuat berdasarkan lirik lagu. Meski beberapa adegan nyidam sari dibuat berdasarkan lirik lagu, namun antara adegan satu dengan adegan lainnya tidak memiliki keterikatan seperti pada film. Pada umumnya adegan-adegan dalam film disusun berdasarkan sebab akibat. Adegan yang dibuat berdasarkan pada lirik terdapat pada baris “umpama sliramu margi,

wong manis dan aku kang bakal ngliwati”. Pada baris ini Manthous

mengibaratkan wanita impiannya sebagai sebuah jalan dan Manthous akan melewati jalan tersebut. Image 1, memperlihatkan Manthous yang sedang duduk, tangan kirinya ditaruh di atas lutut menunjukkan kewibawaan seorang laki-laki ketika berbicara dengan wanita atau orang yang posisi dipandang lebih lemah. Ia terlihat menantikan kedatangan seseorang dengan ekspresi wajah datar dan tidak memancarkan kesedihan. Sementara image 2, memperlihatkan wanita impian Manthous tengah berdiri dan tersenyum. Pada video nyidam sari wanita dihadirkan hanya sekilas dan berperan sebagai pajangan. Lirik lagu “aku kang bakal ngliwati” menanamkan signified pada image 1 bahwa Manthous akan berusaha mendapatkan wanita impiannya.

44 Gambar 1.1. Manthous dan aktor wanita

Visualisasi nyidam sari menghadirkan tiga tanda dominan dan untuk dapat membaca tiga tanda tersebut diperlukan pengetahuan kultural—berkaitan dengan ide-ide ketradisionalan atau kedaerahan yang berasal dari masyarakat Jawa. Tanda 1 mengarah pada signifier perlengkapan pakaian yang meliputi blangkon, beskap, celana pendek dan jarik yang dikenakan Manthous. Perlengkapan pakaian membawa signified berhubungan dengan pakaian tradisional Jawa yang berasal dari Yogyakarta yang dikenakan laki-laki. Tanda 2 mengarah pada signifer perlengkapan pakaian yang meliputi kebaya dan jarik. Perlengkapan pakaian membawa signified tentang pakaian tradisional Jawa yang biasanya dikenakan wanita. Tanda 3 membawa signifier yang menampilkan rumah joglo dan berbagai macam perabotan yang sebagian besar berbahan kayu. Signifier rumah joglo dengan segera mengklaim barangkali berbagai macam perabotan di dalamnya adalah khas Jawa. Rumah joglo membawa signified tentang rumah tradisional Jawa. Signifier taman yang dipenuhi pohon dan bunga. Tanda 4 menunjuk pada taman yang merupakan bagian yang menyatu dengan rumah joglo. Taman

45 membawa signified yang berhubungan dengan suasana pedesaan yang masih alami di Jawa.

Gambar 1.2. Rumah joglo dan taman

B. Wuyung

Wuyung diciptakan oleh Ismanto sekitar tahun 60-an6, Ismanto dan Anjar

Any dapat dihubungkan dengan tokoh pencipta lagu keroncong dan langgam Jawa pada periode tahun 60-an. Manthous memproduksi kembali wuyung dengan aransemen berdasarkan pengolahan ulang langgam Jawa.

a. Nada

Durasi bagian-bagian wuyung. 00:00-00:33 Introduction 00:33-01:07 verse 1 01:07-01:47 verse 2 01:47-02:35 bridge 02:35-03:15 verse 3 6 http://www.kompasiana.com/pakcah/laraning-lara-beginikah-jatuh-cinta_5510f5a0813311d138bc727c, diunduh tanggal 10 Januria 2017.

46 03:15-03:47 interlude

03:47-04:35 bridge 04:35-05:19 verse 3

Wuyung menggunakan bentuk AABA terdiri dari bagian verse 1, verse 2, bridge, verse 3. Bentuk AABA merupakan bentuk lagu yang umumnya terdapat pada musik pop dan langgam Jawa. Wuyung dibuka dengan bagian introduction panjang 8 birama, verse 1 pajang 8 birama, verse 2 panjang 8 birama, bridge panjang 8 birama, verse 3 panjang 8 birama. Pada pertengahan verse 1 tempo melambat karena menuju perubahan irama engkel ke irama rangkap. Kerangka akor wuyung yaitu I IV V yang merupakan akor pokok dalam musik pop. Meski Bridge dan verse menggunakan kerangka akor I IV V, namun suasana kontras bagian bridge dihadirkan dengan menahan 4 birama akor V, sedangkan pada 4 birama terakhir verse berisikan akor V, IV dan kembali ke akor I dengan panjang 2 birama. Bridge juga menghadirkan melodi berbeda dari verse. Putaran pertama bentuk AABA diakhiri bagian interlude yang menggunakan progresi akor sama seperti introduction. Bagian-bagian selanjutnya merupakan pengulangan dengan lirik sama, terdiri dari bridge dan ditutup verse 3.

Eksperimentasi wuyung merupakan perpaduan antara musik pop dan

langgam Jawa. Langgam Jawa yang menggunakan gamelan menyatakan

representasi kejawaan pada wuyung. Perpaduan musik pop dan langgam Jawa tersebut melibatkan perpaduan dari dua latar belakang instrumen berbeda, yaitu instrumen pop dan gamelan. Instrumen pop berdasarkan pada sistem nada diatonis, sedangkan gamelan berdasarkan pada laras pelog dan slendro. Instrumen

47 pop terdiri dari keyboard, sedangkan gamelan terdiri dari kendang, saron, sitar, gender dan bonang. Namun karakteristik instrumen dasar pada wuyung bukan gamelan, tetapi instrumen musik pop yang berdasarkan sistem nada diatonis dan menyatakan kerangka akor I IV V. Keyboard menyediakan sampling bunyi instrumen tradisional salah satunya adalah karakter bunyi seruling. Bunyi seruling yang diproduksi keyboard membawa melodi berdasarkan laras slendro dan pelog. Laras Pelog dan slendro merupakan sistem penalaan nada gamelan. Wuyung menggunakan gamelan yang penalaannya distandarisasikan ke dalam sistem nada diatonis. Sitar dan gamelan berperan sebagai iringan yang menyatakan kerangka akor I IV V. Kendang diposisikan sebagai pemimpin pengiring dan berperan membawa ritme dan perubahan dari irama engkel ke irama rangkap.

b. Lirik

Wuyung berati jatuh cinta. Wuyung terdiri dari 4 bait. Bait pertama, menggambarkan suasana hati orang jatuh cinta yang merasa tidak nyaman beraktivitas, tidak nafsu makan, tidak nyaman bepergian dan di rumah bingung.

Laraning lara Sakitnya sakit

Ora kaya wong kang nandang wuyung Tidak seperti orang yang

sedang jatuh cinta

Mangan ora doyang Makan tidak enak

Ra jenak dolan neng omah bingung Bepergian tidak nyaman, di

rumah bingung

Bait kedua, orang jatuh cinta selalu ingin melihat dan bertemu orang yang dicintai. Ia pun memohon belas kasihan kepada kekasihnya, karena tidak hanya penderitaan batin saja yang dialami tetapi juga penderitaan fisik, badan yang kurus.

48

Woting ati duh kusuma ayu Tambatan hati duhai bunga

yang cantik

Apa ra trenyuh Apa tidak kasihan

Sawangen iki awakku sing kuru Lihatlah ini badanku yang

kurus

Bait ketiga, kepada kelapa muda, laki-laki meminta untuk menyegarkan perasaan dan mengobati sakit hatinya. Laki-laki mengungkapkan sakit hati dan penderitaan batin yang disebabkan jatuh cinta, aduh nyawa.

Klapa mudha leganana Kelapa muda legakan

nggonku nandang branta perasaanku yang sedang

kasmaran

Witing pari dimen mari nggonku lara ati Biar sembuh sakit hatiku

Aduh nyawa Aduh nyawa

Bait keempat, laki-laki mengibaratkan wanita pujaannya sebagai bunga yang tidak mempunyai perasaan dan tega tidak membalas cintanya. Kepada tulang janur laki-laki meminta obat untuk menyembuhkan asmaranya.

Duh duh kusuma Duh duh bunga

Ora krasa apa pancen tega Tidak merasa apa memang

tega

Mbok mbalung janur Tulang janur atau lidi

Paring usada mring kang nandang wuyung Berilah obat kepadaku yang lagi kasmaran

c. Visualisasi

Beberapa adegan wuyung dibuat berdasarkan lirik. Meski beberapa adegan wuyung dibuat berdasarkan lirik lagu, namun antara adegan satu dengan adegan lainnya tidak memiliki keterikatan seperti pada film. Sementara adegan-adegan film dibuat berdasarkan sebab akibat. Adegan-adegan yang dibuat berdasarkan lirik terdapat pada baris “mung kudu weruh” dan “woting ati duh kusuma ayu”. Pada baris ini Manthous hanya ingin selalu melihat wajah tambatan hati yang berparas cantik seperti bunga. Image 1, memperlihatkan wanita tambatan hati

49 Manthous. Ia terlihat sedang berdiri di taman. Image 2 memperlihatkan Manthous yang tengah berdiri di depan pintu rumah. Baris lirik lagu “mung kudu weruh” dan “Woting ati” akan berfungsi menanamkan signified pada image 2 bahwa Manthous selalu memikirkan dan menunggu kedatangan tambatan hatinya.

Gambar 1.3. Aktor wanita dan Manthous

Visualisasi wuyung menghadirkan dua tanda dominan dan untuk dapat membaca tiga tanda tersebut diperlukan pengetahuan kultural—berkaitan dengan ide-ide ketradisionalan atau kedaerahan dari masyarakat Jawa. Tanda 1, menunjuk pada signifier perlengkapan pakaian yang meliputi kebaya merah yang dipadukan dengan jarik putih yang dikenakan aktor wanita. Perlengkapan pakaian ini membawa signified tentang pakaian tradisional Jawa yang biasanya dikenakan wanita. Tanda 2 mengarahkan pada signifier perlengkapan pakaian yang meliputi blangkon, sorjan, jarik coklat, keris dan celana pendek yang dikenakan Manthous. Perlengkapan pakaian ini membawa signified yang berkaitan dengan pakaian tradisional Jawa yang berasal dari Yogyakarta yang dikenakan laki-laki.

50 Gambar 1.4. Sepeda dan delman

Tanda 3 menunjukkan signifier seorang laki-laki yang mengendarai sepeda di jalan bersamaan dengan motor dan mobil. Ia menggunakan perlekapan pakaian yang meliputi blangkon, sorjan, jarik dan bercelana pendek. Tanda 4 menunjukkan signifier delman yang tengah membawa penumpang. Kedua tanda ini membawa signified yang berkaitan dengan ide mempertahankan transportasi tradisional sepeda dan delman di tengah hadirnya transportasi modern, motor dan mobil.

C. Jambu Alas a. Nada

Durasi bagian-bagian jambu alas. 00:00-00:20 introduction 00:20-00:43 verse 1 00:43-00:51 interlude 00:51-01:14 verse 2 01:14-01:28 interlude 01:28-01:59 bridge 1

51 01:59-02:07 interlude 02:07-02:21 bridge 2 02:21-02:35 bridge 1 02:35-02:57 verse 1 02:57-03:11 interlude 03:11-03:19 bridge 1

Jambu alas menggunakan bentuk AABB terdiri dari bagian verse 1, verse 2 dan Bridge 1 dan bridge 2. Jambu alas diawali bagian introduction panjang 8 birama, verse 1 panjang 8 birama, verse 2 panjang 8 birama,bridge1 panjang 8 birama dan bridge 2 panjang 4 birama. Sepintas kesan verse 1, verse 2, bridge 1 dan bridge 2 tidak memiliki panjang birama yang sama, karena pada tiap-tiap perpindahan dari verse 1 ke verse 2 disisipi bagian interlude dengan panjang 3 birama dan begitu juga perpindahan dari verse 2 ke bridge disisipi interlude dengan panjang 5 birama. Menyisipkan interlude pendek pada tiap-tiap

perpindahan bagian dimaksudkan untuk memberi kesan suasana baru.

Keseluruhan jambu alas menggunakan kerangka akor musik pop, yaitu I, IV, V dan VII. Bagian introduction dan verse menggunakan progresi akor sama. Bridge memberikan suasana melodi dan progresi akor yang kontras dengan verse. Pada 4 birama pertama verse menggunakan progresi akor VII.I.,I...,VII.I.,VII.IV., sedangkan pada 4 birama pertama bridge menggunakan progresi akor

V...,VII...,V...,VII...,. Putaran pertama AABB diakhiri interlude yang

52

panjang dari verse. Bagian-bagian jambu alas selanjutnya merupakan

pengulangan yang meliputi bridge 2, bridge 1, verse 1 dan bridge 1.

Gaya aransemen jambu alas merupakan perpaduan antara langgam Jawa, dangdut dan pop. Langgam Jawa yang menggunakan gamelan menegaskan representasi kejawaan pada jambu alas. Perpaduan antara langgam Jawa, dangdut dan pop menyatakan perpaduan instrumen dari dua latar belakang berbeda. Instrumen pop meliputi keyboard dan cello keroncong, sedangkan gamelan meliputi kendang, saron dan seruling. Keyboard menyediakan beragam sampling bunyi instrumen dalam sistem nada diatonis, salah satunya adalah bunyi instrumen gesek. Bunyi instrumen gesek, keyboard, saron dan seruling saling sahut-menyahut memainkan melodi dalam laras pelog dan slendro pada seluruh bagian. Pelog dan slendro merupakan karakter utama dalam laras gamelan. Sementara penalaan saron dan seruling distandarisasikan ke dalam sistem nada diatonis. Menstandarisasikan penalaan gamelan ke dalam sistem nada diatonis dimaksudkan untuk memberikan bunyi harmonis dari perpaduan antara instrumen pop dan gamelan. Kendang memberi pola-pola ritme kendang dangdut. Cello keroncong memberikan pola-pola ritme dangdut yang menghentak dan nuansa progresi akor yang menjadi dasar dalam sistem nada diatonis.

b. Lirik

Jambu alas berarti jambu hutan. Jambu alas terdiri dari lima bait. Bait pertama, laki-laki mengingat wanita pujaan hati yang memiliki senyum manis, ramah dan menyenangkan. Laki-laki berkeinginan menjadi suami wanita tersebut. Kelingan manis eseme Teringat manis senyumnya

53 Tresno lan kasih, kasih sayange Cinta dan kasih, kasih sayangnya

Karep atiku klakon dadi bojone Mau hatiku kesampaian menjadi suaminya

Bait kedua, laki-laki mengungkapkan bahwa wanita pujaan hatinya telah punya calon suami. Meski telah punya calon suami tetapi laki-laki tetap mencintai wanita tersebut dan bakal bersedih bila tidak kesampaian menjadi suaminya.

Sayange wes duwe bojo Sayangnya sudah punya suami nanging aku, aku wes kadhung tresna Tapi aku, aku sudah terlanjur cinta Nelangsa rasa ning ati Sedih rasa di hati

Yen aku ra kelakon melu duweni Kalau aku tidak kesampaian ikut memiliki

Bait ketiga, jambu hutan kulitnya hijau. Laki-laki memikirkan wanita yang telah punya calon suami. Wanita diibaratkan sebagai gula dan laki-laki sebagai semut. Tetapi kalau belum menjadi janda, laki-laki tidak akan merebut wanita tersebut.

Jambu alas kulite ijo Jambu hutan kulitnya hijau

sing digagas wis duwe bojo Yang dipikirkan sudah punya suami Ada gula ada semut Ada gula ada semut

durung randha aja direbut Belum janda jangan direbut

Bait keempat, wanita telah bersumpah bila tidak menikah dengan calon suaminya tidak akan mencari pengganti laki-laki lain. Ia juga bersumpah untuk sehidup semati mencintai calon suaminya dalam kondisi senang dan sedih.

Sumpah ning batin Sumpah di hati

Yen kula bli dadi kawin Kalau saya (wanita) tidak jadi kawin Tekad ning ati ora bakal luruh ganti Niat di hati tidak akan mencari pengganti Sumpah wis janji Sumpah sudah berjanji

arep sehidup semati akan sehidup semati Seneng lan sedih Senang dan sedih bareng-bareng dilakoni bersama-sama dijalani

Bait kelima, jambu hutan rasanya manis. Meski wanita akan menikah tetapi laki-laki tetap akan menunggu sampai wanita menjadi janda.

54 Jambu alas nduk, manis rasane Jambu hutan dik, manis rasanya

Snajan tilas tak enteni randhane Meskipun bekas aku tunggu jandanya

c. Visualisasi

Beberapa adegan jambu alas dibuat berdasarkan lirik lagu. Meski beberapa adegan jambu alas dibuat berdasarkan lirik lagu, namun antara adegan satu dengan adegan lainnya tidak memiliki keterikatan seperti pada film. Pada umumnya adegan-adegan dalam film disusun berdasarkan sebab akibat. Adegan yang yang dibuat berdasarkan lirik terdapat pada baris “jambu alas nduk, manis rasane” dan “snajan tilas tak enteni randhane”. Pada baris ini Didi Kempot mengatakan bahwa jambu hutan manis rasanya dan meskipun wanita sudah menikah, Didi Kempot tetap akan menunggu hingga wanita menjadi janda. Image 1 memperlihatkan Didi Kempot yang berdiri sembari bernyanyi. Sementara image 2 memperlihatkan sebatas bagian wajah dan kepala wanita yang ditaksir Didi Kempot. Ia terlihat tersenyum dan matanya menatap ke arah atas. Baris lirik “jambu alas nduk, manis rasane” dan “snajan tilas tak enteni randhane” menanamkan signified pada image bahwa meskipun wanita yang ditaksir Didi Kempot telah menikah, namun ia tetap berharap dapat memiliki wanita tersebut.

55 Visualisasi jambu alas menghadirkan tanda-tanda yang berlawanan dan untuk dapat membaca tiga tanda tersebut diperlukan pengetahuan kultural— berkaitan dengan ide-ide ketradisionalan atau kedaerahan yang berasal dari masyarakat Jawa dan mengarah pada ide-ide modern. Tanda 1 mengarah pada signifier perlengkapan pakaian yang meliputi blangkon, beskap, celana pendek dan jarik yang dikenakan Didi Kempot. Perlengkapan pakaian membawa signified berhubungan dengan pakaian tradisional yang berasal dari Jawa Tengah yang biasanya dikenakan laki-laki. Tanda 2 mengarah pada signifier perlengkapan pakaian dengan mode terkini yang dikenakan aktor wanita. Perlengkapan pakaian membawa signified tentang pakaian modern yang biasanya dikenakan wanita. Ia tampil lebih trendi dan modis seperti penyanyi dangdut dan pop yang mengikuti model-model pakaian terkini. Tanda 3 membawa signifier yang menampilkan rumah arsitektur modern dan taman. Namun tanda 1 akan mengambil tanda 3 dan menjadi tanda 3 menjadi bagian dari tanda 1. Atau perlengkapan pakaian Jawa akan menanamkan kesan kejawaan terhadap rumah arsitektur modern dan taman. Tanda 3 membawa signified suasana urban dan perkotaan di mana orang Jawa bermukim.

56 Tanda 4 memperlihatkan signifier dua tokoh laki-laki yang bergoyang dan berputar mengikuti irama dan melodi yang menghentak. Mereka mengenakan pakaian tradisional Jawa, namun dengan mode pakaian yang lebih sederhana dibanding Didi Kempot. Mereka ditampilkan hanya sekilas, berperan sebagai aktor dan penyanyi pembantu yang memberi penekanan pada lirik lagu. Saat baris “jambu alas nduk, manis rasane” dan “snajan tilas tak enteni randhane”, kedua aktor laki-laki bernyanyi bersama memberi penekanan pada manis rasane, namun visualisasi berganti dengan cepat menampilkan aktor wanita. Tanda 4

Dalam dokumen KEJAWAANDALAM VIDEO CAMPURSARI (Halaman 52-86)

Dokumen terkait